Punk Senior the Offspring

3

Category : tentang InSPiRasi

Berbeda dengan White Zombie, grup musik punk yang besar mendahului Green Day ini sangat familiar saya dengar kiprahnya semasa muda. Bryan ‘Dexter’ Holland dan Greg K sedikit beruntung lantaran (lagi-lagi) satu-satunya majalah musik Hai kerap menurunkan tulisan terkait the Offspring bahkan dalam bentuk satu kemasan spesial HaiKlip Punk.

Saya masih ingat, video klip musik yang pertama kali ditampilkan di layar tipi adalah Come Out and Play. Kalo gak salah secara rutin stasiun TVRI menayangkan video klip ini sesaat sebelum Dunia Dalam Berita pukul 10 Wita malam. Maka jadilah saya menjadi pecinta berat TVRI saat itu khusus pada jam tersebut saja.

Smash merupakan album mereka yang pertama saya miliki. Didalamnya masih ada Self Esteem dan Bad Habbit yang gak kalah garang untung disandingkan dengan karya grup band metal masa kini. Album bergambar rangka tengkorak manusia ini menjadi album pembuka menuju album lain yang kemudian rajin saya koleksi.

Menonton tayangan spesial di sebuah layar stasiun televisi swasta rupanya membuat saya makin tergila-gila dengan the Offspring, apalagi ketika menyaksikan versi Live Concert mereka yang kedapatan menyajikan tayangan Headbanging. Sebuah aksi ‘cuci rambut’ yang kemudian kerap saya lakukan setiap kali menonton konser musik metal di seantero Kota Denpasar. Waduh !

The Offspring makin saya gemari hingga masa kuliah dan bekerja. Kalo gak salah musiknya juga makin oke. Album Ixnay On The Hombre merupakan salah satu album yang terkeras yang saya pernah dengar. Kalo kurang yakin dengan pendapat saya, coba dengarkan salah satu track mereka, Mota.

Baru pada album Americana, musik mereka mulai familiar terdengar bagi sebagian besar penyuka musik lainnya. Beberapa tembang macam Pretty Fly (for a White Guy), Why Don’t You Get a Job sampe the Kids Aren’t Allright merupakan bukti dari semua itu.

Lama kemudian saya gak mengikuti perkembangan mereka, sampe ngerasa surprise ketika melihat wajah sang drummer yang begitu familiar Adam ‘Atom’ Willard malah menghiasi barisan personel AVA, Angels and the Airwaves.

Beruntung, YouTube rupanya menyadari kekangenan saya akan video klip musik ‘Come Out and Play’ yang fenomenal itu. Bahkan tidak hanya itu, beberapa video klip musik dari album-album yang pernah saya kenalpun ada disitu. Sungguh ini satu berkah yang tiada terkira. Hidup dan ikut berkembang dalam era kemajuan teknologi informasi rupanya sangat memudahkan segalanya.

The Offspring sebuah band punk Senior.

Mengagumi VelVet ReVoLVeR Mengenang Guns N Roses

2

Category : tentang InSPiRasi

Siapa sih yang gag kenal lengkingan gitar milik SLash pada tembang Sweet Child O’mine ? atau siulan lembut yang mengantarkan tembang Patience di jaman itu ? juga aransemen ulang sebuah karya lama milik Bob Dylan ‘Knockin’on Heavens Door ?

Saya yakin, bagi mereka yang melewatkan masa remajanya di era tahun 1990-an gag bakalan asing dengan nama besar Guns N Roses. Sebuah grup band beraliran rock yang sempat dinobatkan sebagai The Most Dangerous Band in the World lantaran dalam setiap aksi mereka kerap diwarnai dengan kericuhan dan kontroversi.

Sayangnya nama besar mereka kini malah sudah terdengar nyaring lagi, tenggelam dalam ego sang vokalis AXL Rose yang ditinggal pergi rekan sesama personel band satu persatu. Setelah mendepak sang drummer Steven AdLer, hengkangnya Izzy disusul Duff Mc.Kagan, SLash dan Matt Sorum, Guns N Roses bagai kehilangan nyawanya. Kabar paling fenomenal terakhir yang saya dengar adalah ketika grup ini tampil dalam pegelaran akbar Rock in Rio awal tahun 2000-an lalu. Apalagi kalo bukan penampilan pertama mereka bersama sekumpulan personil baru yang (jujur saja, secara pendapat saya pribadi sih) gag bisa menyamai apalagi melampaui kharisma mereka terdahulu.

Satu dekade pun terlewatkan, satu persatu karya mereka dalam empat album pertama, Appetite For Destruction, Lies, Use Your Illusions I-II dan Spaghetti Incident masih suka saya dengarkan. Terkadang tersirat rasa kangen menyaksikan penampilan mereka terdahulu masih dalam format awal. Bisa dikatakan, impian saya tersebut sangat mustahil bisa terwujud.

Berkat inisiatif tiga nama besar mantan personil inti Guns N Roses, SLash, Duff Mc.Kagan dan Matt Sorum yang kemudian berusaha membentuk kembali impian sekian banyak penggemar musik mereka bersama Dave Kushner dari band punk Wasted Youth dan Scott Weiland dari Stone Temple Pilots, dalam sebuah wadah bertajuk VelVet ReVoLVeR. Band yang dilahirkan pada tahun 2004 ini bisa jadi merupakan kelanjutan dari jam session dua diantara tiga nama tadi saat masih bersama Neurotic Outsiders yang digawangi pula oleh Steve Jones-nya Sex Pistols dan John Taylor-nya Duran-Duran.

VelVet ReVoLVeR sempat melahirkan beberapa karya apik seperti SLither yang mengantarkan mereka sebagai salah satu pemenang Grammy Award 2005 dan juga Come On Come In yang sempat menjadi salah satu list soundtrack film Fantastic Four. Saya pribadi mendapatkan beberapa musik videonya dari portal ternama YouTube, salah satunya menyajikan tembang lama milik Guns N Roses, Patience.

Tampaknya kekangenan saya sudah mulai sedikit terobati ketika saya mendapati live concert mereka dari portal video yang sama, membawakan beberapa reportoar lama milik band besar Guns N Roses seperti it’s so Easy, Mr. BrownStone dan lainnya. Sayangnya, tahun 2008, pasca VelVet ReVoLVeR merilis album kedua mereka Libertad, harus merelakan sang vokalis Scott Weiland kembali pulang pada kampung halamannya di Stone Temple Pilots.

Kabarnya kini, sang bassist Duff Mc.Kagan sedang mengerjakan side project bersama Loaded, SLash asyik dengan solo albumnya dan Matt Sorum sedang menjalani Tour bersama MotorHead.

Berburu Video Musik lawas via YouTube

9

Category : tentang KeseHaRian

Kemajuan Teknologi bak pisau bermata dua. Sama-sama tajam, bergantung dari sisi mana orang menggunakannya. Seperti halnya FaceBook, disatu sisi sebagian orang yang mengatasnamakan agama menganggapnya haram untuk diakses, disisi lain orang banyak memetik manfaat sebagai sarana berbagi dan berteman. Demikian pula dengan YouTube.

Portal video terbesar ini sebenarnya jika dilihat dari sisi positif, dapat digunakan untuk berbagi kisah bagi sanak saudara yang berada jauh ribuan kilometer diseberang benua. Video MiRah GayatriDewi putri kami misalnya. Jika dicari dengan menggunakan kata kunci namanya, tak kurang dari 30-an video dapat dilihat dan ditonton untuk mengetahui tumbuh kembangnya sedari lahir hingga usia dua setengah tahun ini. Tak percaya ? coba saja. :p

Saya pribadi sejak mengenal koneksi StarOne Unlimited, sepuasnya tanpa kuota dan penurunan kecepatan, lebih banyak menghabiskan jatah hanya untuk mengunduh music videos ketimbang menontonnya langsung. Ini lantaran dari segi kecepatan koneksi yang saya gunakan tidak mampu melakukan streaming (proses menjalankan video) tanpa jeda seperti halnya Telkomsel Flash, Speedy ataupun Smart. Itu sebabnya rata-rata volume data yang saya habiskan setiap bulannya selalu diatas angka 4,5 GB.

Jika dahulu saya pernah menuliskan beberapa video musik yang saya unduh melalui portal YouTube yaitu System of a Down, Sepultura dan animasi Pixar, kali ini saya bergerak lebih jauh lagi pada musisi atau group band ternama yang beken di era tahun 80 dan 90-an. Guns N Roses, Metallica, Queen, Rolling Stones, Velvet Revolver, Phil Collins, Rancid, Sex Pistols, Oasis, Kiss hingga yang berbau lokal seperti God Bless, KLa Project dan tentu saja Iwan Fals. Kelak, hasil pengunduhan inipun akan saya kisahkan dalam blog ini pula, untuk mengingat bahwa mereka pernah memberikan warna tersendiri pada dunia musik.

Untuk dapat mengunduhnya dengan baik, dibutuhkan aplikasi tambahan seperti YouTube Downloader yang dipadukan dengan Internet Download Manager untuk menambah kecepatan pengunduhan. Hasilnya lumayan. Setelah format file yang didapat diubah menjadi format mpg atau mpeg ataupun dat, format standar sebuah file vcd, semua video musik itu saya kumpulkan dalam sebuah keping dvd yang mampu menampung sekitar 200-an file video. Untuk kemudian ditonton di layar televisi sebagai teman berdendang saat senggang. Hehehe…

Meskipun YouTube lebih kerap dikatakan dan dikenal sebagai portal video porno yang tak layak ditonton oleh kalangan remaja dan anak-anak, seperti yang saya katakan diatas, kembali lagi pada tujuan orang mengaksesnya. Jika sejauh ini YouTube malah mampu membawa saya kemasa lalu, saat dimana kami begitu bahagia dengan hari-hari yang kami lewati, kenapa tidak ?

Gunakanlah YouTube dan seisi dunia maya lainnya dengan bijak.

Bergoyang KeOng Racun ala Sinta and Jojo

11

Category : tentang KeseHaRian

Apa yang terbayang di benak ketika mendengar ‘Keong Racun’ ? binatang ?

he… kira-kira begitulah yang saya pikirkan pertama kali ketika membaca headline di portal berita terkini dunia maya. Species baru-kah ? atau barangkali penemuan langka di negeri ini ? Membaca lebih jauh rupanya saya kecele dua ratus persen.

KeOng Racun kabarnya menjadi trending topic (topik teratas) pada jejaring sosial FaceBook dan microblogging Twitter beberapa hari lalu sampai-sampai mengundang banyak pertanyaan dari dunia luar, seakan penasaran dengan istilah ‘KeOng Racun’.

Rupanya yang dimaksud dengan KeOng Racun adalah sebuah video disebuah portal video YouTube yang menyajikan dua cewe’abegeh imut (yang kini rupanya sudah berstatus mahasiswi), bernyanyi lipsync dangdut koplo berjudul ‘KeOng Racun’ khas dugem plus tambahan gaya yang asoy buat dinikmati. Gak ada bosen-bosennya ngliatin’ kata seorang rekan kantor.

Jika diliat dari aksi kedua abegeh ini rupanya tidak jauh berbeda dengan dua abegeh negara tetangga yang sudah terlebih dahulu menyajikan aksi yang sama dan diunggah pula pada portal video YouTube. MoyMoy PalaBoy, dua abegeh cowok beda penampilan (satunya berambut satunya tidak :p) tampil jauh lebih kreatif dan ekspresif (puih istilahnya…) ketimbang KeOng Racun, hanya saja sayangnya mereka tampil pada era  yang berbeda, hingga tidak menjadi trending topic kendati secara kuantitas viewer malah berkali lipat lebih banyak.

Kehebohan KeOng Racun tampaknya (seperti biasa) diikuti pula oleh para plagiator yang nebeng beken baik dengan meniru aksi menggemaskan Sinta and Jojo atau malahan ada juga yang jauh lebih panas penampilannya.

Apa yang dilakukan oleh Sinta and Jojo dengan KeOng Racun mereka, mengingatkan saya pula dengan ‘Rocker’, film komedi yang dibintangi si gembul Jack Black. Kalo gak salah ingat, band baru si gaek Jack Black tampil dengan gaya ‘nude-telanjang-nya dalam sebuah video musik yang dapat dilihat secara langsung lewat portal YouTube. Keunikannya inilah kemudian mengantarkan seorang produser mengontak band ADD –Attention Defisit Disorder- tersebut.

Kira-kira Sinta and Jojo ini bakalan mengalami hal yang serupa gak ya ?

Keseimbangan Iwan Fals meretas Tahun 2010

4

Category : tentang InSPiRasi

Dari 12 (dua belas) lagu yang ditawarkan Iwan Fals dari album terbarunya Keseimbangan, ada 3 (tiga) yang sudah familiar saya dengar. Tiga lagu ini kalau tidak salah pernah didendangkan saat Iwan tampil di layar televisi swasta. ‘Suhu’, ‘Aku Menyayangimu’ dan ‘Kuda Coklatku’. Sayangnya saya agak kurang sreg dengan aransemen musik yang mengiringi ‘Suhu’. Kurang nyambung menurut saya. Bisa jadi lantaran saya lebih suka apabila ‘Suhu’ hanya diiringi dengan gitar bolongnya mas Iwan saja seperti yang dahulu ditayangkan. Selain tiga yang sudah familiar ada tiga lagu lagi yang saya suka saat pertama kali mendengarnya. ‘Ayolah Mulai’, ‘Sepakbola’ dan ‘Jendral Tua’.

Keseimbangan merupakan album terbaru milik Iwan Fals yang dirilis pada pertengahan tahun 2010 ini. Kalo tidak salah ingat ini adalah album yang ke-27, atau bahkan lebih ? satu jumlah yang fantastis untuk ukuran Artis Indonesia juga kalau disandingkan di tingkat dunia. Jumlah album tersebut belum termasuk dengan (kalau tidak salah) 5 album kolaborasi dengan musisi lain seperti Kantata, Swami dan Dalbo. Juga belum termasuk dengan album mini yang hanya menghadirkan satu dua lagu baru dan sisanya diramaikan oleh musisi lain, seperti Terminal, Lagu Pemanjat atau Mata Hati. Dalam versi media kasetnya saya sendiri memiliki sekitar 20-an buah yang masih tersimpan dalam kondisi baik saat ini.

Seperti yang pernah saya ceritakan dalam tiga tulisan tentang Iwan Fals, masa vakum pasca album Orang Gila (1994) hingga penampilan pertama mas Iwan dengan wajah baru (2002), saya sudah mulai jarang menyelami karya-karyanya jauh lebih dalam. Hanya mendengarkannya sepintas begitu saja. Dari satu album yang dirilis paling hanya satu dua lagu saja yang saya suka dan kerap nikmati. Ini jelas satu kebiasaan yang jelas jauh berbeda dengan saat mas Iwan dalam keadaan jaya di tahun 1990-an. Adapun yang album yang menjadi favorit saya hingga kini adalah Cikal (1991) dan Hijau (1993).

Iwan Fals memang sosok yang pantas untuk dikagumi. Terlepas dari karyanya yang terkenal kerap memicu kontroversial. Beberapa teman yang saya jumpai di situs jejaring sosial FaceBook bahkan dengan terang-terangan menyatakan bahwa mereka memang menyukai sosok musisi Indonesia satu ini. Seorang Iwan Fals tampil dengan penuh kesederhanaan dan kharisma yang bersahaja, berteriak lantang dalam nyanyiannya yang multi tema, sedikit mengingatkan saya pada sosok Phil Collins si pelantun tembang Everyday yang easy listening itu.

Ohya, bagi yang mengaku penggemar sejatinya, tiga hari terakhir saya ada menemukan alamat blog PlayList Indo yang menyediakan 4 (empat) buah album lama milik mas Iwan Fals loh. Saya sendiri malah gak punya versi kasetnya. Album Canda dalam Nada (1979), Canda dalam Ronda (1979), Perjalanan (1980) dan 3 Bulan (1981). Kebetulan salah satu tembangnya ‘Perjalanan’ pernah pula dilantunkan mas Iwan di sebuah stasiun televisi swasta saat Lebaran tahun 2008 kalo gak salah. Bagi yang mau mengunduhnya siapkan saja koneksi yang memadai. Total ukuran filenya 95,2 MB untuk keempat album tersebut. Hehehe…

MANY THANKS to YouTube for the MUSIC Videos

5

Category : tentang TeKnoLoGi

Bukan satu kebetulan apabila dua bulan terakhir saya anteng browsing di sebuah portal penyedia video kelas dunia YouTube, tapi lagi-lagi bukan untuk mencari video panasnya Miyabi atau Maria Ozawa yang kabarnya bentar lagi bakalan ikutan maen filmnya si Raditya ‘Kambing Jantan’, namun lebih mengarah kepada hobi Musik. Musik itu universal kata orang, segala umur bisa menikmati musik, demikian halnya saya… dan atas bantuan YouTube, saya bisa memuaskan dahaga yang selama ini saya rasakan.

Lahir dan besar serta melewati masa muda disaat MTv belum familiar tampil dilayar televisi rumah, membuat saya terkadang begitu penasaran dengan yang namanya klip video sebuah grup band atau penyanyi yang sedang trend. Bisa dikatakan satu keajaiban apabila sebuah stasiun televisi Nasional sekelas TVRI secara rutin menayangkan klip video musik The Offspring ‘Come Out and Play’ sesaat sebelum siaran berita pukul 10 malam. Ada yang masih ingat ? Atau ada rasa cemburu ketika seorang teman sekolah yang sempat main ke Surabaya untuk persiapan masa kuliahnya bercerita tentang saluran MTv yang kerap menayangkan video klip musik grup band favorit kami kala itu, Guns N Roses.

Maka sudah sewajarnyalah saya mengucapkan banyak Terima Kasih kepada YouTube dan tentunya si pencipta dunia maya plus koneksi internet Starone Unlimited plus aplikasi Download Accelator yang sangat berperan pada kemudahan yang kini saya dapatkan. Tak hanya The Offspring, video klip musik jadul macam Sex Pistols atau Paul hardcastle pun bisa saya dapatkan dengan mudah. Grup band rock macam Kiss hingga ke karya Genjer-genjer yang dianggap kontroversial pada jaman Orde Baru pun bisa saya temukan disini. Tak ketinggalan Mantram Gayatri yang saya cari-cari selama ini, setiap pagi ditayangkan di layar televisi oleh stasiun lokal BaliTV, kini sudah berkumandang selalu menemani tidur si kecil MiRah.
Many YouTube
Sayapun memulai waktu luang saya pasca perkuliahan dengan mengunduh (download) video bertema tertentu. Katakanlah artis jadul lokal Titiek Sandora dan Muchsin Alatas saya koleksi untuk kemudian dirangkum kedalam bentuk cakram vcd, saya persembahkan untuk Ibunda yang memfavoritkan mereka. Untuk si kecil MiRah, saya carikan video lagu anak jadul angkatannya Enno Lerian, Melissa, Joshua atau Suzan dan Ria Enes, ketimbang saya memberikan lagu-lagu Cinta remaja untuk ditontonnya dilayar televisi.

Saya sendiri hunting lebih banyak video klip musik mereka yang saya kenal baik pada jaman 70-80an, masa sekolah seperti InDecent ObSession atau Atlantic Star, hingga perkuliahan yang dahulu malah membuat saya alergi mendengarkannya, katakanlah seperti Firehouse, Phil Collins atau Toto. Maklum, selera musik waktu itu masih berkisar antara genre Punk dan Thrash metal. Hehehe…

YouTube demikian pula Teknologi yang makin berkembang, memang benar seperti pisau bermata dua. Tergantung pada diri kita sendiri memilihnya, apakah memanfaatkannya untuk mencari hal yang baik atau buruk. Untuk itulah saya mengharapkan ya jangan sampe lantaran perilaku segelintir orang lantas bangsa ini memfatwakan haram portal YouTube. Buktinya saya, he… gak salah kan ?

Ketawa ngakak bersama Detroit Metal City

6

Category : tentang InSPiRasi

Ada beberapa cara yang saya lakoni untuk melemaskan urat syaraf dan pikiran pra ujian baik tahap kelayakan Tesis maupun tahap Tesis terakhir kmaren. Salah satunya adalah menonton film. Kalo pada hari-hari biasa, film yang saya tonton itu lebih banyak bertema serius ato malah yang cenderung memunculkan libido hehehe… kali ini saya mencoba film yang bertema ringan. Kebetulan tempo hari nemu satu film besutan Jepang di Warnet Suli yang adegan awalnya saya rasa ga’terlalu berat untuk dicerna…

Detroit Metal City. Sumpah… Saya ga’tau kalo film ini malahan bertema komedi. Jauh dari pikiran saya yang menyangka kalo film ini merupakan cerita pendek layaknya film-film remaja Korea. Yang ada malahan saya ketawa ngakak dan akhirnya berubah jadi cekikikan setelah ditegur Istri, itu setelah si kecil MiRah nangis terkejut akibat ketawa lepas saya tempo hari. Beneran kok, gila banget ni film…

Ceritanya berkisah tentang seorang remaja Jepang pedesaan bernama Negishi yang merantau ke kota melanjutkan sekolah sekaligus impiannya menjadi remaja yang gaul dan trendy. Dengan bekal kemampuan sebagai musisi gitar bolong ia bertekad menjadi seorang musisi profesional yang mengusung tema ‘No Music – No Dream’. Apa daya, yang terwujud malahan berbeda dari harapan. Hehehe…

Kendati sang remaja Negishi tetap berada pada jalur musik, namun aliran yang ia capai tidak sesuai dengan keinginannya. Death Metal sebuah aliran varian dari Heavy Metal, yang berkisal tentang kematian, setan, neraka dst. He… -mencomot translate pengantar film-

D M C

Melahirkan seorang tokoh musisi yang berpengaruh dengan julukan ‘Krauser’, seorang vokalis sekaligus pimpinan grup band DMC –Detroit Metal City, sang remaja Negishi dengan terpaksa menjalani dua peran yang berbeda dalam hidupnya. Dalam keseharian ia tetap seorang remaja yang mengagungkan trend sebaliknya diatas panggung ia menjelma menjadi setan yang siap mencabik-cabik pemujanya.

Yang membuat saya tertawa ngakak adalah saat ia bersua dengan gadis cantik seorang teman lamanya dan mengajaknya kencan diwaktu yang sama dengan jadwal manggung grup band DMC. Jadilah si remaja bolak balik “tempat kerja” yang ia akui pada si gadis menuju café tempat mereka berkencan. Makin memperparah keadaan, kata-kata yang ia ucapkan jadi ketuker-tuker, apa yang harusnya ia katakan didepan para pemujanya malah terlontar didepan si gadis. Lengkap deh…

Bisa dikatakan secara keseluruhan ni film konyol banget. Jadi mengingatkan saya pada masa lalu, tepatnya masa muda. Dimana saat itu lagi suka dengan musik headbanging –kontes cuci rambut- memuja grup musik cadas macamnya Obituary, Napalm Death, Dimmu Borgir dan tentu saja Sepultura. Sebaliknya disisi lain saya juga seorang penyuka Kenny G dan lagu oldies lainnya. Hwahahaha…

Satsugai !!! Satsugai !!!

Beat The Bastard by The Exploited

2

Category : tentang InSPiRasi

Saat suasana hati sedang kalut, apalagi kalo sesuatu yang aku yakini itu baik ternyata tak bernilai dimata orang lain, bahkan saat diri ini merasakan marah yang amat sangat akan sesuatu hal, dibandingkan ngamuk gak karuan atau menghantam orang disebelah, mungkin bakalan jadi jauh lebih baik jika mendengarkan musik Punk kayak gini.

The Exploited, aku kenal grup musik ini dari seorang rekan yang kebetulan fans berat aliran musik punk, hingga berpengaruh pada gaya penampilan juga perilakunya. Ohya, kluaran musiknya emang gak jauh beda dengan grup-grup punk lainnya, hanya saja yang bikin aku suka, adalah beat tempo yang dibawakan. Mendentam dan cepat. Dijamin asyik kalo didengarkan dengan volume tinggi.

Beat The Bastard, salah satu karya Punk yang seringkali menjadi inspirasi bagi diriku pribadi, sangat berguna buat mengubah suasana hati yang kalut menjadi ceria kembali. Paling gak setelah mendengarkannya dua tiga kali, semua beban seperti terlampiaskan saat lirik lagu ini dinyanyikan dengan penuh semangat pula.