Keris sebagai Pengingat Keutamaan Moral dan Spiritual

5

Category : tentang iLMu tamBahan

Informasi berikut merupakan lanjutan dari makalah ‘Sebuah Logika Kultural Tentang Keris’ yang disampaikan dalam diskusi ilmiah ‘Keris dalam Perspektif Keilmuan’ 17-18 November 2009 di ISI Surakarta dan ditulis oleh Tony Rudyansjah seorang Pengajar dan Sekretaris Program Pascarasjana Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Adapun tujuan pengambilan tulisan adalah dalam rangka pembelajaran sebelum pelaksanaan DharmaWecana tentang Keris pada tanggal 15 Agustus 2010 nanti di Museum Keris Neka, Sanggingan Ubud.

* * *

Selama masa ‘pencarian’ keris dengan  khodam (gaib) itu, si pelaku selalu mendapatkan pesan gaib dari leluhurnya. Si pelaku harus bisa membaca dan menangkap makna sejatinya yang tersembunyi di balik berbagai pesan gaib tersebut. Ujian terberat yang dihadapinya dimaksudkan justru untuk bisa mengungkap makna tertinggi dari esensi kehidupan yang rutin  dilakoni si pelaku dengan berbagai rintangan dan hambatan tidak ringan yang menyertainya.

Selama terus melakukan proses melakoni itu, si pelaku berupaya menjaga keberlangsungan komunikasinya dengan leluhur yang memberinya berbagai macam petunjuk untuk melewati ujian berat yang dilakukannya. Perlu ditekankan di sini bahwa selama masa proses pencarian keris itu, banyak dari petunjuk-petunjuk yang diperoleh harus diolah dan diterjemahkan dengan mata batin, yang tujuan sungguhnya dapat disimpulkan untuk melatih kepekaan batin manusia agar dapat memahami berbagai hal tersembunyi di dalam alam kehidupan dan jati diri manusia, sehingga makna terdalamnya dapat diungkapkan dan dimengerti.

Esensi tertinggi dari kenyataan kehidupan adalah keunggulan kualitas moral dan spiritual satu bentuk kehidupan tertentu, termasuk bentuk kehidupan seorang pribadi manusia. Keris dengan khodam-nya dianggap berasal dari satu keutamaan yang merefleksikan keunggulan moral/spiritual satu bentuk kehidupan. Inilah yang dianggap sebagai esensi tertinggi dari kehidupan. Segala sesuatu yang dianggap sangat berharga, seperti keris, adalah tidak lebih daripada itu. la merupakan hanya cerminan dari esensi tersebut.

Esensi (keutamaan) hidup itu acapkah tidak nampak buat orang kebanyakan, karena berada tersembunyi di batik alam semesta ini. Hanya dengan melakukan lelakon yang berat dan ketat, seseorang berhasil menangkap dan memperoleh makna terdalam dari esensi atau keutamaan hidup tersebut. Eling adalah istilah yang seringkali digunakan orang Jawa untuk menggambarkan pemahaman tertinggi yang dicapai mengenai esensi kehidupan setelah seseorang berhasil mempraktekkan satu disiplin olah batin (baca: lelakon) yang penuh dengan berbagai rintangan dan cobaan berat.

Dengan lelakon yang dipraktekkan, seorang pelaku akan berpartisipasi bersama esensi dari kekuatan gaib yang ada di alam semesta. Dan hanya dengan begitu seseorang baru bisa menemukan atau memperoleh keris yang sedang ia cari, sekaligus makna terdalam yang terkandung secara tersembunyi di dalamnya. Pencarian keris itu sendiri sesungguhnya merupakan satu pencarian batin atau jati diri, satu lelakon, satu spiritual journey. Misteri kehidupan di alam semesta baru dapat diungkapkan, setelah si pelakunya berhasil mengolah alam batinnya sendiri secara baik. Pada tahap itulah makro kosmos jadi sama dengan mikro kosmos.


Eling atau sadar akan keutamaan keunggulan kualitas moral dan spiritualitas leluhur

Manakala sedang melakoni, seseorang tidak hanya diingatkan akan keunggulan kualitas moral dan spiritual jati diri manusia yang sesungguhnya merupakan esensi dari kehidupan, ia juga secara langsung diingatkan akan keunggulan kualitas moral dan spiritual leluhurnya yang seringkali mendampinginya dalam proses pencarian olah batin itu. Dalam masa lelakon itulah ia merasa turut berpartisipasi di dalam keunggulan kualitas moral dan spiritual esensi hidup. Tidak hanya turut berpartisipasi, bahkan ia turut mempraktekkan atau memproduksinya di dalam tindakan nyata di dunia sehari-harinya. Pada saat itulah ia menjalin kesinambungan jati dirinya dengan keunggulan kualitas moral dan spiritual para leluhurnya yang hidup di masa lampau. Masa lampau dan masa kini mungkin untuk saling menyatu dan berpadu di dalam lelakon dari orang yang sedang mempraktekkannya.

Keris, dengan demikian, mengandung nilai yang tinggi karena ia memungkinkan manusia menjalin solidaritas moral yang jauh melampui hambatan batas-batas ruang dan waktu. Keris dengan berbagai lelakon yang wajib dilaksanakan, juga pada saat keris itu sendiri sudah dimiliki  seseorang, memungkinkan terwujudnya satu komunitas moral yang mampu menembus hambatan batas-batas ruang dan waktu. Di sinilah terletak nilai tak terhingga dari keris yang ada dalam khasanah kebudayaan kita.

Nilai-nilai Keris sebagai sebuah Pusaka berkekuatan Gaib

1

Category : tentang iLMu tamBahan

Informasi berikut merupakan makalah ‘Sebuah Logika Kultural Tentang Keris’ yang disampaikan dalam diskusi ilmiah ‘Keris dalam Perspektif Keilmuan’ 17-18 November 2009 di ISI Surakarta dan ditulis oleh Tony Rudyansjah seorang Pengajar dan Sekretaris Program Pascarasjana Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Adapun tujuan pengambilan tulisan adalah dalam rangka pembelajaran sebelum pelaksanaan DharmaWecana tentang Keris pada tanggal 15 Agustus 2010 nanti di Museum Keris Neka, Sanggingan Ubud.

* * *

Keris biasanya ditanggapi sebagai suatu benda yang bernilai tinggi atau pusaka, bukan karena tinggi harga jualnya dan bukan juga karena kehalusan dan keindahan bentuk fisiknya semata, melainkan lebih karena diyakini orang mengandung ‘isi kekuatan gaib’ yang berada di dalamnya. Isi atau kekuatan gaib yang berada di dalam keris seringkali disebut dengan istilah ‘khodam’. Khodam atau kekuatan gaib itu bisa muncul dalam penampakannya dalam wujud yang menakutkan, seperti ular atau harimau, dan bisa juga muncul dalam wujud yang memberikan suasana kedamaian, seperti cahaya kemilau kebiruan yang menenangkan jiwa.

Kekuatan gaib dari satu keris berhubungan dengan tokoh yang diyakini pernah ada di masa lampau dalam sejarah satu masyarakat. Kekuatan gaib itu ditanggapi seringkali justru berasal dari kekuatan spiritual yang dimiliki oleh tokoh ‘sejarah’ itu, yang kemudian bertransmigrasi (pindah) ke keris itu pada saat tokoh tersebut meninggal. Bisa juga pada saat tokoh itu sudah tidak layak lagi menjadi wadah dari kekuatan gaib tersebut karena sang tokoh sudah kehilangan keunggulan kualitas moral dan spiritualnya.


Kekuatan gaib atau khodam itu bisa datang kepada seseorang yang sudah pada taraf memiliki kemampuan mampu melakukan tapa brata. Khodam bisa datang kepada tokoh tersebut sekaligus kepada barang-barang yang dimilikinya, seperti keris ataupun tombak pusaka. Yang menarik untuk dicatat adalah keyakinan bahwa tokoh sejarah yang berkaitan dengan khodam yang ada dalam satu keris biasanya berhubungan secara tradisi dan sejarah dengan keluarga yang sekarang memiliki atau memperoleh keris tersebut.

Orang yang menemukan ataupun memperoleh sebuah keris yang mengandung khodam biasanya mengalami dulu berbagai cobaan, rintangan dan tes yang sangat berat. Bukanlah sesuatu yang jarang terjadi bahwa mereka harus mengatasi dulu berbagai penderitaan dan rintangan manakala berhadapan dengan berbagai makhluk gaib yang menjaga keris itu. Tersirat dalam keyakinan itu bahwa berbagai rintangan, cobaan dalam proses memperoleh keris itu merupakan satu ujian yang harus dilalui untuk membuktikan keunggulan kualitas moral dan spiritual si penemu keris itu. Bagi seseorang yang telah melewati ujian tersebut, maka ia seolah-olah akan diberi petunjuk cara menemukan keris. Bahkan kedatangannya ke tempat di mana keris itu berada seolah-olah sudah lama dinantikan.

Sebelum menemukan keris yang mengandung khodam, seseorang biasanya harus melakukan berbagai pantangan-pantangan tertentu. Si pelaku bahkan tidak jarang jatuh sakit. Hanya dengan terus menerus melakukan lelakon yang benar, ia baru bisa berangsur? angsur sembuh dan sehat kembali. Selama masa itu, ia banyak memperoleh ‘petunjuk? petunjuk’ yang harus diolah dan diterjemahkannya dengan mata batinnya, tujuannya dapat disimpulkan untuk melatih kepekaan batin manusia agar dapat memahami hal-hal tersembunyi di dalam alam kehidupan dan jati diri manusia, sehingga makna terdalamnya dapat diungkapkan dan dimengerti pelakunya.

Dari ilustrasi di atas, proses lelakon yang harus ditempuh seseorang untuk memperoleh sebuah keris, justru tergambarkan dengan jelas bahwa keris dianggap bernilai tinggi, karena adanya pengorbanan besar yang harus dilakukan oleh si penemunya sebelum mendapatkan keris itu. Di aspek inilah pemahaman antropologis bahwa suatu benda dianggap bernilai justru karena adanya pertukaran pengorbanan yang terjadi menjadi sangat relevan. Semakin tinggi pengorbanan yang dilakukan semakin tinggi nilai keris itu. Orang yang menemukan keris yang mengandung khodam (isi) adalah orang-orang yang sudah banyak mengalami pahit getir kehidupan. Buat orang-orang seperti itu, kehidupan materiil tidak menjadi penting lagi.

Dalam proses lelakon atau tapa brata yang dilakukannya, si pelaku mengorbankan berbagai kenikmatan  lahiriah/badaniah yang biasanya dapat dilakukannya dalam rangka memperoleh keris yang mengandung khodam. Pengorbanan seperti itu memang dapat dipahami apabila keris dianggap bernilai sangat tinggi, namun pertanyaan selanjutnya adalah untuk apakah pengorbanan tersebut?

Tunggu di tulisan berikutnya.

Mengenai SEJARAH Bhisama Warga Pande

12

Category : tentang iLMu tamBahan

Tulisan berikut sebenarnya bukanlah sebuah cerita, pengalaman atau bahkan pengetahuan yang sepatutnya dibagi dengan harapan akan memiliki kegunaan bagi yang membacanya, namun hanyalah sebuah uneg-uneg pertanyaan yang kerap hadir dipikiran saya apabila berbicara tentang 6 (enam) Bhisama Warga Pande yang telah dikenal oleh sebagian besar Semeton Warga Pande.

Adapun, apa yang menjadi pertanyaan saya ini hanyalah sebagai sebuah tambahan pembelajaran rencana Dharmawacana di Museum Seni ‘Keris’ Neka Sanggingan Ubud. Harapannya sederhana saja, barangkali kelak ada yang mampu menjawabnya (bahkan jika bisa sebelum tanggal 15 Agustus nanti) dan memberikan pencerahan bagi seluruh Warga Pande.

Terkait BHISAMA WARGA PANDE, kalo tidak salah tempo hari semeton tiang Putu Yadnya (id FB: Pande Bali) sempat memposting 6 (enam) Bhisama Warga Pande di Group Warga Pande Bali, namun ada hal-hal yang mengganjal pikiran saya sejak awal.

Sejauh mana kita (sebagai seorang Warga Pande) mampu memahami apa itu (pengertian) dari Bhisama itu sendiri.

Dari Mbah Google, yang saya dapat hanyalah

Bhisama itu adalah satu Keputusan yang memiliki nilai sakral, yang apabila dilanggar akan mendatangkan bencana.”

Itu kalo berbicara soal Bhisama yang dikeluarkan oleh Maha Resi (Empu) yang sangat suci di masa lampau.

Sebaliknya,

Bhisama juga dapat diartikan sebagai Keputusan atau Kebijakan (kalo tetangga sebelah menyebutnya sebagai Fatwa) yang dikeluarkan oleh PHDI Pusat berdasarkan hasil sabha pandhita (pertemuan pendeta hindu).”

Bhisama yang ini rupanya masih bisa diubah oleh yang mengeluarkan bhisama itu sendiri.

Nah, terkait 6 (enam) Bhisama yang dimiliki oleh Warga Pande, yang mana saja digolongkan sebagai Bhisama sakral (yang MUTLAK dipatuhi) dan yang mana digolongkan sebagai Bhisama masa kini (yang dapat berubah sesuai perkembangan jaman) ?

Satu lagi, pernah gak terpikirkan bahwa ‘dari mana asal muasal atau dimana ditemukannya dokumen ataupun hal-hal yang terkait keberadaan keenam Bhisama tersebut ? apakah dari lontar atau prasasti yang ditemukan di situs atau pura tertentu, atau malah merupakan hasil perenungan atau kesepakatan saja ?

Mohon Pencerahannya.

Suksema.

*Ohya, demi mengharapkan tanggapan yang jauh lebih luas, sayapun telah menuliskan hal yang sama dalam sebuah topik diskusi pada Group Warga Pande di situs jejaring sosial FaceBook.

Kriteria Pemilihan Keris Koleksi Neka Art Museum

Category : tentang iLMu tamBahan

Tulisan berikut diambil dari Makalah Diskusi Ilmiah ‘Keris dalam Perspektif Permuseuman’ oleh Pande Wayan Suteja Neka yang diselenggarakan di Surakarta 17-18 November 2009 lalu. Adapun tujuan diturunkannya tulisan berikut adalah sebagai tambahan pembelajaran Rencana DharmaWacana tentang Keris dan Bhisama Pande di Museum ‘Keris’ Neka Sanggingan Ubud Gianyar pada tanggal 15 Agustus 2010 nanti.

* * *

Di dalam kegiatan pemilihan karya-karya keris di Neka Art Museum, Pande Wayan Suteja Neka dibantu seorang kurator keris KRHT Sukoyo Hadi Nagoro. Disamping itu untuk pemilihannya sendiri didasari oleh beberapa aspek penting (dibedakan menurut keris tangguh/sepuh dengan Kamardikan) antara lain :

A.  Pemilihan Keris tangguh sepuh/tua

Aspek Fisik Keris yang berkaitan dengan :

  1. Kondisi keris yang masih utuh (kerusakan kurang dan 5%) dan original bahwa karya tersebut belum pernah di perbaharui (disethek)
  2. Bahan, bilah keris dan kelengkapannya dibuat dan bahan pilihan misalnya bagian hulu, warangka dan kelengkapannya dibuat dari bahan kayu berserat pilihan, dari gading yang utuh dan berwarna cerah atau logam pilihan seperti emas dan perak. Bilah kerisnya dibuat dan bahan besi, baja pilihan (karangkijang, pulosani, mangangkang) serta pamornya dibuat dari bahan nikel berkualitas bagus atau bahan batu meteorit
  3. Pamor, gambaran motif pamor pada permukaan bilah kerisnya sesuai dengan motif pamor yang baku (tidak nerjang landep, tidak kandas wojo, tidak putus motifnya). Pancaran warna pamornya tampak terang dan merata (ndeling, Bali)
  4. Garap/teknis, bilah keris dan kelengkapannya dibuat dengan detail garap yang memenuhi kaidah-kaidah baku dalam dunia perkerisan (pakem). Pola garapnya lungit (rumit), detail, bersih dan memiliki greget (kesan spirit hidup)
  5. Ukuran bilah sesuai dengan standar bilah yang baku. Ukuran keris telah ditentukan berdasarkan perhitungan-perhituangan yang khusus yang telah dibakukan. (Perhitungan keris terkadang tidak matematis namun lebih menekankan gaya/tangguh serta disesuaikan pada sifat dan anatomis pemiliknya)

Aspek Non Fisik Keris yang berkaitan dengan :

  1. Wangun dalam bahasa Bali kekuwub, yaitu nilai keselarasan, keindahan, keharmonisan dan keluwesan dari kerisnya
  2. Greget, merupakan suatu kesan yang membangkitkan emosi positif pemilik/seseorang yang mengamati karya seni termasuk keris
  3. Wingit, kesan wibawa dari sebuah keris yang berpengaruh positif terhadap pemiliknya/orang lain
  4. Guwoya, kesan perbawa (aura) dari keris itu sendiri
  5. Teknik pembuatan, keris yang dibuat dengan teknologi yang tinggi, unik dan spesifik merupakan salah satu kriteria yang menentukan, misalnya keris pijetan, keris dengan berbagai ragam motif pamor, kerumitan garap, tinatah emas dll

Aspek Historis Keris yang berkaitan dengan :

  1. Memiliki data sejarah yang jelas untuk memberikan kemudahan dalam proses pendataan dan edukasinya
  2. Tangguh, bahwa keris yang dipilih memiliki kriteria tangguh dan gaya yang jelas. Bahwa keris tersebut mewakili kriteria tangguh/gaya tertentu sehingga dapat memberikan kemudahan pendugaan asal dan umur keris tersebut dibuat
  3. Sepuh, bahwa keris tersebut benar-benar dibuat dari zaman dahulu dan bukan merupakan keris yang diproses menjadi terkesan tua

B.  Pemilihan Keris Kamardikan/keris buatan baru

Aspek Fisik Keris yang berkaitan dengan :

  1. Keris dibuat secara teknis (garap) dengan kualitas bentuk, ketelitian dan kehalusan yang baik
  2. Apabila berupa keris putran (tiruan) sesuai dengan pakem yang berlaku dan apabila merupakan keris kreasi baru, harus memiliki dasar konsep yang jelas
  3. Keris, baik bilah, hulu, warangka dan kelengkapanya dibuat dari bahan pilihan yang berkualitas bagus.

Aspek Non Fisik Keris yang berkaitan dengan :

  1. Karya keris baik bilah, hulu, warangka dan kelengkapannya memiliki identitas pembuat yang jelas
  2. Merupakan keris-keris berprestasi dalam kegiatan kompetisi atau festival keris dalam tingkat daerah atau tingkat nasional
  3. Merupakan keris hasil penelitian dan pengkajian keilmuan

Koleksi Keris di Neka Art Museum

11

Category : tentang iLMu tamBahan

Tulisan berikut diambil dari Makalah Diskusi Ilmiah ‘Keris dalam Perspektif Permuseuman’ oleh Pande Wayan Suteja Neka yang diselenggarakan di Surakarta 17-18 November 2009 lalu. Adapun tujuan diturunkannya tulisan berikut adalah sebagai tambahan pembelajaran Rencana DharmaWacana tentang Keris dan Bhisama Pande di Museum ‘Keris’ Neka Sanggingan Ubud Gianyar pada tanggal 15 Agustus 2010 nanti.

* * *

Koleksi keris bersejarah (tangguh/sepuh/tua)

Perjalanan sejarah keris di Bali yang diduga telah ada semenjak zaman Bali Kuna dengan bukti diketemukanya Prasasti Sukawana A1, berangka tahun 804 caka atau 882 M. Manuskrip kuno `Pande Bang Tawang’ yang menjelaskan bahwa pada masa Prabu Airlangga di Jawa Timur terdapat seorang Empu dari Jawa yang menuju Bali dan mengembangkan ilmu seni tempa di tempat barunya (Bali). Prasasti Bulian A (caka 1103 atau 1181 M) yang diterbitkan atas nama Sri Maharaja Jaya Pangus, tersimpan di Desa Bulian Singaraja dimana didalam prasasti tersebut telah disebutkan kata ‘Keris’ dan Prasasti Tamblingan yang berisi tentang pemanggilan Warga Pande Bali kuno yang mengungsi.

Pada saat Bali madya (Bali disebut sebagai negara pada pasal Majapahit abad 14) semakin banyak ditemukan catatan dari manuskrip yang menjelaskan keberadaan keris di Bali misalnya: manuskrip Brahma Pande Tatwa,  Prasasti Pande Tusan, Tatasan dan Putidahi, manuskrip kaprajuritan ring wilatikta dll. Di samping itu dalam catatan-catatan kuno pada masa Bali madya, di puri-puri yang ada di Bali saat itu sudah banyak membuat keris-keris pusaka.

Melihat perjalanan keris di Bali inilah yang melatarbelakangi koleksi keris Neka Art Museum untuk lebih menekankan pada keris-keris gaya Bali, namun demikian juga di lengkapi keris-keris Jawa, Madura dan Lombok. Keris-keris koleksi bersejarah di Neka Art Museum antara lain keris Ki Baju Rante dari Puri Karangasem, keris Ki Gagak Petak, keris Putut luk 7, keris Kolomisani, keris pedang Ki Nagaraja (keempat bilah keris ini dari Puri Buleleng), keris Ki Blanguyang dari Puri Gianyar, keris Ki Pijetan dari kerajaan Pejeng, Gianyar dan lain-lain.

Di samping didukung dengan keris-keris Bali bersejarah, Neka Art Museum juga dilengkapi dengan keris-keris Bali yang mewakili masa dan gaya dari berbagai daerah di Bali. Koleksi keris Bali tangguh tua kini mencapai 18 keris pusaka bersejarah dan 63 keris tangguh sepuh/tua.

Keris-keris tersebut diperoleh dari beberapa kolektor di Bali dan dari luar Bali seperti  Wayan Tika (Banjar Pande, Bangli) yang rela melepas lebih dari 30 buah kerisnya untuk dikoleksi di Neka Art Museum, Wayan Roia, Wayan Ritug (Batuan, Sukawati, Gianyar), Hengki Joyopurnomo (Jakarta) dll.

Koleksi keris Kamardikan

Perkembangan dunia keris era Indonesia Merdeka semakin semarak dan didukung cukup banyaknya kegiatan-kegiatan dalam bidang perkerisan seperti pameran, sarasehan dan seminar, eksperimentasi, pengembangan penggunaan alat, dll yang kemudian banyak melahirkan karya-karya keris yang berbobot. Kembali semaraknya dunia perkerisan dewasa ini membawa dampak positif terhadap produktifitas pembuatan keris di berbagai daerah Nusantara.

Latar belakang inilah yang membuat Neka Art Museum menggelorakan keris Kamardikan, membuka pintu untuk mengoleksi keris-keris Kamardikan yang memiliki kualitas dan prestasi yang baik. Beberapa karya keris Kamardikan yang dikoleksi di Neka Art Museum antara lain dari Bali seperti Pande Ketut Mudra, Pande Ketut Sandi, dan yang lainnya sedangkan dari luar Bali seperti Empu legendaris Djeno Harumbrojo (Yogyakarta), KRHT Sukoyo Hadi Nagoro (Surabaya), KRT Hartonodiningrat (Surabaya), KRT Subandi Suponingrat (Solo), KRT Junus Kartiko Adinegoro (Jakarta), M Jamil, Suffian, Misradin, Bunali, Abdul Hadi, Basiriansah, Zubaidi (Madura), RT Arum Fanam Notopuro, A. Lutfi (Malang) dan yang lainnya.

Saat ini Neka Art Museum memiliki koleksi sebanyak 191 keris tangguh Kamardikan pilihan dan 4 buah keris Kamardikan berprestasi. Di samping itu juga terdapat beberapa keris yang merupakan hibah dan pemillik/penggarapnya. A.A Bagus Ngurah Agung, SH.,MM. (Penglingsir Puri Gede Karangasem), A.A Ngurah Parwata Panji (Puri Kanginan, Buleleng), Jero Mangku Ketut Sandi (Tatasan, Denpasar), KRT Ali Rahmat Diningrat (Jakarta), KRHT Sukoyo Hadi Nagoro (Surabaya) dan Ibnu Pratomo (Bandung) menyerahkan keris basil penelitiannya yang dibuat dengan 750.000 lipatan pamor dan juga menyerahkan contoh kepingan batu meteorit.

DharmaWacana Yowana Paramartha Semeton Pande

9

Category : tentang iLMu tamBahan

* * *

SUSUNAN PANITIA DHARMA WACANA , Museum Neka, 15 Agustus 2010

Ketua : Yande Putrawan @Yande Putrawan ( 081237533999)
Sekretaris : Pande Putu Yadnya @Pande Bali ( 0817556999 )
Bendahara : Gek Tu Cipluk ( 089685554595 )
Yulita Pandewi ( 081805508222 )

Sie – sie :

1. Sie Dokumentasi : Geni Geni & Ari Susanta
2. Sie Konsumsi :
3. Sie Acara :
4. Sie Humas + Publikasi : Dego Suryantara ( 081558703288 )
Blijunk Adi Susanta (0857374122262)
5. Sie Transportasi : Pande Gus D. ( 087861847294)

Koordinator Wilayah :
1. Koor. Wil. Badung : Pande Jaucher ( 081558801687 )
2. Koor. Wil. Tabanan : Gek Tu “Cipluk” ( 089685554595/ 08179704600 )
3. Koor. Wil. Gianyar : Gede Funday (085237473173 )
4. Koor. Wil. Kodya Denpasar : Pande Gus Hardy ( 081239404011/ 081936254442 )
5. Koor. Wil. Klungkung : Arik Denok
6. Koor. Wil. Bangli : Komang Suarsana
7. Koor. Wil. Buleleng : Pande Juni Artawan 087861397071
8. Koor. Wil. Negara : Dego Suryantara ( 081558703288 )
9. Koor. Wil. Karangasem : Dego Suryantara ( 081558703288 )

Bagi Semeton yang ingin mendaftar, silakan hub koordinator di wilayah masing masing….

Pendaftaran juga bisa di lakukan di Museum Neka sebelum acara di mulai…

NB : Untuk Wilayah Denpasar Barat dan sekitarnya bisa juga daftar ke Mymart.

Pande Wayan Suteja Neka, Terinspirasi Sang Leluhur

10

Category : tentang InSPiRasi

Tulisan oleh KA Wirawan / Maza Yudha yang dimuat dalam majalah Keris  Volume 18 Tahun 2010. Mengisahkan tentang profil seorang Pande Wayan Suteja Neka dalam konteks kelahiran Museum Keris Sanggingan Ubud. Sekedar informasi bahwa Beliau ini pada tanggal 15 Agustus 2010 nanti akan memberikan DharmaWecana tentang Keris di tempat yang sama.

* * *

Semula Suteja Neka hanya dikenal sebagai pemerhati seni rupa, kolektor lukisan, kemudian mendirikan museum yang ia beri nama Museum Seni Neka. Namun, di ulang tahun ke-25 museum itu, 2006, tiba-tiba hati Suteja Neka tergerak untuk memberi warna lain pada museumnya. Neka yang sejak kecil memang sudah akrab dengan keris lantas terpikir untuk memberi tempat bagi sejumlah keris miliknya di museum yang terletak di Sanggingan, Ubud, Bali itu. Jadilah keris menempati tempat khusus di museumnya.

Kecintaan Pande Wayan Suteja Neka memang tidak muncul begitu saja. la memiliki darah pande turun temurun. Leluhurnya bernama Ki Pande Sesana Tamanbali, seorang empu kerajaan. Eyang buyut Neka bernama Pande Pan Nedeng, seorang empu keris dari Kerajaan Peliatan-Ubud, semasa Raja Peliatan ke-3, Ida Dewa Agung Djelantik (1823-1845). Setelah Pande Pan Nedeng meninggal, keahlian membuat keris dilanjutkan oleh anaknya, Pande Made Sedeng. Pande Wayan Suteja Neka adalah turunan ke lima dari Pande Pan Nedeng. Sedangkan Pande Wayan Neka, ayah kandung Pande Wayan Suteja Neka dikenal sebagai pematung kondang. Karya sang ayah, antara lain membuat patung garuda setinggi 3 meter untuk New York World Fair, Amerika (1964), dan Expo’70 Osaka di Osaka, Jepang (1970). Sang ayah menerima anugerah seni Wija Kusuma dari Pemerintah Daerah Kabupaten Gianyar dan penghargaan seni Dharma Kusuma dari Pemerintah Daerah Propinsi Bali (1995).

Dengan latar belakang seperti itu, tidak mengherankan kalau Pande Wayan Suteja Neka yang semula adalah kolektor lukisan sekaligus pemerhati seni rupa itu kemudian juga dikenal sebagai kolektor keris. Sebilah keris pusaka, warisan leluhurnya, bernama Ki Sesana  sebuah Keris dengan Dapur Sabuk Inten, rincikan kembang kacang, jenggot, lambe gajah rangkap, jalen, sogokan dua, kruwingan, gusen, greneng lengkap, pamor beras wutah berada di tangannya. Keris ini menggunakan ganja wilut, sogokan sampai setengah bilah menggunakan rincikan khusus (tinggil) pada depan ganja. Konon keris ini dibuat dan diperuntukkan bagi orang-orang khusus pada jamannya.

Pada 1970, Pande Wayan Suteja Neka untuk pertama kalinya membeli dua bilah keris. Kedua bilah kepis dengan perlambang Singa Barong Luk 11 dan keris yang bersimbul Nagasasra Luk 13. Keris Nagasasra Luk 13 itu kemudian ditatah emas pada ahli kinatah emas, Nugroho Priyo Waskito di Yogyakarta. Sekarang keris Nagasasra Luk 13 dengan kinatah emas itu terpajang di Museum Seni Neka.

Di Museum Seni Neka terdapat beberapa keris tua karya empu masa lalu. Patut dicatat, para kolektor keris memang tak keberatan melepas koleksi kerisnya, karena akan dilestarikan dalam pengembangan koleksi Museum Seni Neka. Keris-keris garapan empu masa lalu dan empu masa kini itu dikoleksi dan dipajang di Museum Seni Neka, dengan harapan dapat dijadikan pernbanding dan dorongan pada penggarap keris masa kini lainnya.

Kiprah Pande Wayan Suteja Neka dalam dunia pakerisan di Bali memang pantas dicatat. Sejak ia menjadi kolektor keris dan memajang keris dalam ruangan khusus di Museum Seni Neka, dunia pakerisan di Bali seperti mendapat udara segar. Kalau dulu keris hanya dipandang sebagai peiengkap upacara, sekarang lebih dari itu. Keris berubah menjadi benda seni, sekaligus benda budaya yang diagungkan. Bahkan orang-orang yang dulunya hanya menyukai keris kuno mulai tertarik dengan keris baru (kamardikan), setelah melihat koleksi keris kamardikan di Museum Neka. Suteja Neka tidak takut memajang nama empu keris masa kini, walaupun empu itu masih tergoiong muda. Yang terpenting hasil garapannya bagus dan layak dipajang.

Ketidakfanatikan Neka terhadap keris kuno menjadikannya kolektor yang disegani. Tanpa ia sadari, dengan membuka diri untuk keris kamardikan, ia membangkitkan kembali dunia pakerisan di Bali.

Karena tidak memandang sebelah mata terhadap keris baru, nama Suteja Neka yang baru menggeluti keris sejak beberapa tahun belakang ini ‘meroket’. Ia dengan cepat dikenal dalam dunia pakerisan di Bali. Kiprahnya disambut hangat. Bukan saja karena keberaniannya mendirikan museum keris, melainkan juga karena ketulusannya untuk memberi tempat pada keris-keris kamardikan, yang notabene menghargai empu-empu muda.

Pengakuan atas kiprahnya dalam dunia pakerisan bisa dibuktikan dengan terpilihnya Neka sebagai salah satu juri dari tiga dewan juri dalam Kamardikaan Award 2008 yang diselenggarakan Panji Nusantara di Bentara Budaya Jakarta. Selain itu, untuk memberikan pemahaman yang benar tentang keris, Pande Wayan Suteja Neka mendatangkan Empu KRT Subandi Soponingrat dari Solo. Empu ini diminta memaparkan proses pembuatan keris dan juga cara perawatannya di hadapan warga Pande Peliatan Ubud. Disamping itu, Suteja Neka juga kerap menyelenggarakan sarasehan tentang keris, sebagai bukti kalau ia benar­-benar ingin melestarikan keris. Tak heran kalau Suteja Neka juga kerap diundang untuk berbagai kegiatan yang berkaitan dengan dunia Pakeris­an, misalnya dialog keris di Duta Fine Art Gallery, Kemang Jakarta, yang diselenggarakan SNKI, di­hadiri penulis buku The world of Javanese Keris dari East West Center Honolulu, Hawai, Garett dan istrinya Bronwen Solyom.

Keris dan Budaya Masyarakat Bali

7

Category : tentang iLMu tamBahan

Informasi berikut saya ambil dari tulisan milik Suryono Suryodirdjo yang dimuat dalam majalah Keris Volume 18 Tahun 2010 ‘Ketika Keris Bali Masih Sakral’. Adapun tujuan pengambilan tulisan adalah dalam rangka pembelajaran sebelum pelaksanaan DharmaWecana tentang Keris pada tanggal 15 Agustus 2010 nanti di Museum Keris Neka, Sanggingan Ubud.

* * *

Mengamati sebilah keris, seperti membaca kumpulan cerita dan mantra doa. Tidak hanya di Jawa, tapi juga di wilayah Indonesia lainnya – bahkan di negeri tetangga seperti Malaysia. Bagi masyarakat Bali, keris adalah sebuah simbol kekuatan leluhur dan alam semesta. Kendati ada sebagian kecil masyarakat Bali yang sudah memulai memperdagangkan keris seperti yang terjadi di Pulau Jawa, namun rata-rata mereka masih menjunjung tinggi makna dan nilai sebilah keris.

Apalagi untuk keris pusaka warisan leluhur, orang Bali sangat mengeramatkannya. Umumnya, mereka memesan keris untuk keperluan upacara dan ritual keagamaan. Misalnya saja, untuk menghadiri upacara pernikahan, upacara mecaru, pangayu-ayu, ngusaba atau piodalan di Pura. Bahkan di sejumlah Pura tertentu, para pemedek (umat) diwajibkan nyungklit sebilah keris.

Upacara piodalan Tumpak Landep misalnya, jelas-jelas suatu upacara penghormatan masyarakat Bali terhadap benda pusaka yang terbuat dari besi – terutama keris. Inilah upacara untuk menghormati Sang Hyang Pasupati, yang turun ke bumi dan memberikan kekuatan dan perlindungan kepada umat manusia dalam bentuk senjata logam. Upacara ini diselenggarakan dua kali dalam setahun yang selalu jatuh pada Wuku Landep. Dalam penanggalan Bali, Wuku Landep akan ditemui dua kali dalam satu tahun penanggalan Masehi yang didasarkan pada perputaran matahari. Upacara piodalan Tumpak Landep selalu diadakan pada Sabtu Kliwon di Wuku Landhep, yang diyakini sebagai waktu bagi Sang Hyang Pasupati menyebarkan berkah kekuatan ke mayapada.

Tari Ngunying atau Ngurek yang sakral adalah contoh lain tentang keakraban masyarakat Bali dengan pusaka yang ber­nama keris. Tarian keris yang terkesan mengiriskan hati ini – karena para penari menusuk-nusukkan keris ke tubuhnya- kabarnya dimulai pada jaman kejayaan kerajaan. Konon sang raja ingin membuat pesta yang tujuannya untuk menunjukkan rasa syukur kepada Sang Pencipta dan sekaligus menyenangkan hati para prajuritnya. Setelah dilakukan sejumlah upacara, kemudian memasuki tahap hiburan – mulai dari sabung ayam, hingga tari-tarian yang menunjukkan kedigdayaan para prajurit Kesiman. Maka dari tradisi ini muncullah Tari Ngunying atau Tari Ngurek yang sangat kesohor itu.

(foto saya ambil dari sini)

Tari Ngurek atau Ngunying di Kesiman Denpasar Timur ini hingga kini masih dilestarikan oleh masyarakat Bali. Di Pura Pengerebongan Kesiman misalnya, tradisi menari setengah trance dengan menggunakan keris, pada zamannya hanya dilakukan oleh para pemangku. Namun kini orang yang melakukan Ngurek tak lagi dibedakan statusnya – bisa pemangku, penyungsung pura, anggota krama desa, tokoh masyarakat,  laki-laki dan perempuan. Tapi suasananya tetap, yaitu mereka melakukannya dalam keadaan kerauhan atau trance. Kendati keris yang terhunus itu ditancapkan dengan keris di tubuh, tidak setitikpun darah keluar.

Kini Tari Ngurek atau Ngunying bisa dijumpai di sejumlah daerah di Bali. Tradisi ini umumnya berkaitan erat dengan ritual keagamaan. Bahkan, di sejumlah desa adat di Bali tradisi ini wajib dilangsungkan. Tari Ngunying yang paling unik agaknya yang diadakan di Sanur, karena para penarinya adalah masyarakat sekitarnya. Semuanya membawa keris. Menarik, karena jumlah penarinya cenderung bersifat massal. Penyelenggaraan tari ini dilakukan dua kali dalam setahun – sebagai ujung dari rangkaian upacara keagamaan.

Tidak hanya saat pujawali di Pura, Tari Ngurek juga ter­dapat dalam prosesi ngerebong di Pura Petilan Kesiman. Dalam upacara itu, jumlah orang yang ngayah ngurek sangat banyak ketika prosesi itu berlangsung. Bedanya, dalam upacara dewa yadnya ngeramen, Ngurek dilakukan oleh para pemangku dan penyungsung pura. Dalam upacara ngerebong, Ngurek dilakukan oleh sembarang orang. Siapa saja bisa ikut Tari Ngunying, asalkan memang mereka betul-betul dalam kondisi kerauhan.

Penggunaan keris dalam kehidupan masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu, hingga kini memang masih sangat melekat. Salah satu contoh, ketika ada keluarga atau seseorang akan mendirikan rumah, maka sebelum mulai peletakan batu pertama, harus dilakukan suatu ritual yang antara lain menggunakan keris sebagai sarana utamanya. Keris harus ditusukkan ke bumi, dimana bangunan rumah akan didirikan.

Dalam penyembelihan binatang misalnya, sebelum dipotong dengan pisau atau golok, maka hewan itu harus ditusuk atau ditikam dengan sebilah keris. Masih sangat banyak hal-hal dalam sendi-sendi kehidupan warga Bali yang tak bisa dipisahkan dengan keris. Seputar perkawinan misalnya, tentu saja selalu menggunakan keris. Bahkan ketika mempelai pria berhalangan karena sakit, sementara hari resepsi pernikahan sudah ditetapkan, maka sebilah keris bisa dianggap mewakili sang mempelai lelaki.

Itulah antara lain pandangan masyarakat Bali saat ini dalam menempatkan keris sebagai simbolisasi berkah kekuatan dari Sang Pencipta. Namun tentu saja, tetap ada sekelompok kecil warga – umumnya para pedagang – yang juga memperjualbelikan keris. Di sejumlah art shop dan galeri di Bali tersedia keris-keris yang dijajakan, namun itu hanya keris-keris souvenir yang dibuat secara kodian atau masif – itupun didatangkan dari Jawa atau Madura. Keris-keris ini umumnya ditujukan bagi para wisatawan asing yang ingin membeli cinderamata dari Bali. Jadi tak bisa dipungkiri, bahwa masyarakat Bali jelas secara umum lebih dekat dengan keris ketimbang masyarakat lain di Indonesia.