Kangen Canda Tawa Anak Anak

Category : tentang Buah Hati

Baru tadi sore. Ya… baru tadi sore, rasa kangen itu terobati.

Baru tadi sore, akhirnya bisa ngumpul lagi bareng anak-anak kesayangan yang selama dua minggu lalu baik anak maupun bapak punya halangan sendiri-sendiri.

Kalo dilihat dari sisi anak, sudah dua minggu lebih dua bayi kami terpapar demam akibat radang dan tumbuh gigi. Enam sekaligus. Ealah…
Padahal sudah Sempat khawatir juga bakalan kena DB, karena tetangga-tetangga sudah pada ngamar duluan. Bahkan si Ara, bayi kecing kami sampai cek darah pula di Nikki Medika penampahan Galungan kemarin. Duh… krodit dah.

Sedangkan kalo dilihat dari sisi Bapaknya ya apalagi kalo bukan kesibukan kerja kantor yang akibat mendesaknya waktu yang diberikan kawan Bappeda pasca kegiatan Musrenbang kemarin, akhirnya disetrap beneran buat menyelesaikan usulan. Padahal kalo tahun tahun lalu, Jalan Lingkungan selalu diberikan porsi waktu paling terakhir.
Tapi lantaran kini sudah menjadi kegiatan Strategis, mau gak mau ya mendapat perhatian besar baik dari pimpinan, masyarakat maupun badan anggaran.
Sudah resikonya sih…

Mirah Intan Mutiara PanDeBaik

Jadi ya, senang sekali hati ini saat bisa ngumpul bareng mereka bertiga, sampe-sampe minta difotoin pas bangun tidur sore tadi.
Gimana ? imut imut kan mereka ?

Menyisihkan Koin, Menabung untuk MiRah dan InTan

2

Category : tentang Buah Hati

Ternyata lumayan banyak juga isi kedua celengan putri kami, MiRah GayatriDewi dan InTan PradnyaniDewi, padahal itu baru mulai dilakukan, sejak awal kelahiran Oktober 2012 lalu.
Memang sih untuk celengan milik MiRah, ada beberapa lembar uang merah yang memang sengaja saya simpan disitu hasil kumpulan koin receh sejak setahun lalu, jadi pas ditambah dengan koin dan uang tabungannya selama enam bulan ini, tak kurang terkumpul sekitar 650ribu plus selembar uang dollar 100an, bekal yang diberikan uwaknya yang kini sudah balik lagi ke Canada.

Sedangkan pada celengan InTan, sebetulnya agak kaget juga pas melihat isi dalemannya. Tak kurang 20an lembar uang merah yang sepertinya kalau tidak salah ingat merupakan uang yang diberi almarhum kakak perempuan saya, saat kelahirannya InTan dahulu. Dan jika ditambah dari hasil pendapatannya saat enam bulanan lalu, bertambah lagi sekitar 5 lembar uang merah dan biru. Cukup banyak…

Aktifitas untuk mulai menabungkan kedua putri kami, MiRah dan InTan memang sudah sejak lama kami pikirkan, mengingat asal muasal ide yang lahir sebenarnya adalah hanya untuk mengumpulkan koin receh hasil kembalian dari berbelanja, parkir dan lain-lain, yang secara khusus pula saya tanamkan pada MiRah, putri pertama kami dan kelak InTan nanti, untuk belajar menyimpan uang tersebut dalam celengannya masing-masing.

Memang sih tak seberapa jika dilihat dari nominal yang dimasukkan, namun jika dilakukan secara rutin, dan dikumpulkan dalam waktu yang lama (biasanya sih enam bulan sekali, isi celengan dibuka), sedikit demi sedikit itu nyatanya memang menjadi bukit… meski bukan berarti sebagai bukit sungguhan yang besar dan tinggi, apalagi bisa membeli lahan di bukit, setidaknya kami bisa mengkonversi bentuk uang receh tadi menjadi satu dua lembar uang merah, yang kemudian biasanya kami tabungkan ke rekening khusus di Bank.

Jika MiRah sudah memilikinya atas bantuan nama Ibunya, InTan sendiri hingga kini masih belum ada, dan mungkin dalam waktu dekat akan kami buatkan pula.

Apa yang kami lakukan diatas sebenarnya hal yang sepele, tapi bukankah biasanya langkah yang besar, dimulai dari hal-hal kecil dan sepele ? Siapa tahu kelak kedua putri kami bisa lebih menghemat uang jajannya nanti untuk ditabungkan atas kesadaran mereka sendiri ?

Teman si kecil MiRah GayatRiDewi

Category : tentang Buah Hati

Pertengahan bulan ini, putri kami MiRah GayatRiDewi genap berumur 8 bulan kalender. Yang diwujudkan dengan perkembangan fisiknya jadi makin bulet juga kelucuan tingkah lakunya seakan tak pernah bosan mengisi hari-hari kami selaku orang tuanya.

Terakhir, si MiRah udah bisa duduk sendiri dari aktivitas bangun tidurnya. Caranya dengan merebahkan badannya kesamping kiri trus bangun dan duduk. Walopun blom bisa berlama-lama tapi beneran, kami surprais dibuat olehnya.

Tak hanya itu, kalo setelah upacara 3 bulanannya kemaren, si kecil MiRah sudah mulai menunjukkan kenakalannya dengan memonyongkan bibirnya seperti bibir bebek, kini ia mulai belajar menjulurkan lidahnya kalo lagi bersua dengan orang yang disukainya. Ohya, si kecil manja banget kalo sudah berhadapan dengan kakek neneknya juga si Bapak. He… tinggallah sang IbuNDa yang merayu-rayu si kecil agar mau berlama-lama dengannya saat BunDa pulang makan siang dari kantor.

Putri kami sejak dilahirkan hingga kini menjalani waktu-waktu bobonya dengan kami kedua orangtuanya. Jadilah springbed pesanan khusus 180×230 cm itu dibagi rata agar si kecil tak ditindih oleh badan Bapaknya yang tambah Ndut saja belakangan ini.

Teman bobonya pertama, Putu Pingu. Boneka Pinguin kecil ini dibeli saat si kecil berusia 1 bulan, saat yang sama Ibunya dirawat di RS Sanglah lantaran mengidap Demam Berdarah. Jadi pengobat kangen kami saat jauh, yang kemudian dititipkan pada Kakek Neneknya saat mau pulang dari menjenguk kami.

Teman mainnya yang kedua Ni Made BeKu (Bebek Kuning), plus 3 anaknya yang kecil dan lucu. Dibeli di Hero Gatsu, sebagai teman mainnya si kecil saat mandi.

Teman mainnya yang ketiga sekaligus digulat saat bermain ditempat tidur, NYoman PinkY, boneka beruang merah jambu ini hadiah dari Kakeknya diusia sikecil menginjak 6 bulan kemaren. Dibeli di Matahari Sudirman kalo ndak salah. Besarnya sepadan dengan badan si Mirah. Lebih besar dikit malah. Walo awalnya MiRah agak takut dengan bodi si PinkY yang besar dan membawa Jantung Hati ditangannya, tampaknya topi si PinkY-lah yang menarik perhatian MiRah. Terakhir PinkY sudah mahir menemani si kecil MiRah bergulat dan membiarkan wajahnya digigit (padahal blom punya gigi), saking gregetannya si MiRah.

Teman keempat sekaligus terakhir yang MiRah dapatkan adalah si KetuT Odock. Dalam dimensi badan yang seperempatnya Pinky. Jadi gampang dipeluk oleh MiRah. Ini kado dari salah seorang teman KuLiah, yang memang masih ingat kalo sapaan akrab Bapaknya ini adalah Dok –yang berasal dari PanDe KoDok- He…. Tak heran kalo boneka yang diberikan pada si kecil ini adalah berwujud KoDok, lengkap dengan matanya yang besar dan peyutnya yang Ndut. Mirip Bapaknya MiRah. He…

Diantara keempat teman si MiRah, paling cuman si Pinky dan Odock aja yang setia berada ditempat tidur, tepatnya berada dekat Bapak, sehingga makin menyempitkan ruang tidur si Bapak yang badannya udah segede gajah. Huahahaha….

Apa yang bisa kuberikan pada putriku kelak ?

4

Category : tentang Buah Hati

Makin beranjak usia putri kami, sedikit membawa kekhawatiran kami akan tumbuh kembangnya dari segi kecerdasan berpikir dan berperilaku. Apakah kami selaku orang tua akan mampu mendidik dan memberikan tauladan padanya kelak ?

Ditengah kesibukan kami berdua selaku ayah ibunya untuk bekerja dan berusaha memenuhi bekal finansial keluarga kecil ini, barangkali kekhawatiran kami itu takkan besar apabila kami berdua masih sempat menemaninya dalam setiap waktu yang ia perlukan dari kedua orang tuanya. Lantas bagaimana jika kami tak mampu luangkan waktu sekali dua ?

Menitipkannya pada kakek neneknya, mungkin satu hal yang teraman yang bisa kami lakukan, hanya saja dengan tenaga dan perhatian mereka yang tak intens, barangkali bisa jadi putri kami, bakalan didudukkan didepan layar televisi agar mau diam dari tangisnya dan tak repot untuk mengasuhnya.

Namun mengingat pada beragam tayangan televisi belakangan ini, dipenuhi dengan aksi kekerasan, tindak kriminal, hantu-hantuan, ngomongin orang lewat info gosip, hingga sinetron dengan jalan cerita yang tak jelas, dibuat-buat dan tak masuk akal, sampai acara audisi menjadi artis karbitan dalam tempo singkat dengan mengandalkan sms dukungan dan juga lawakan tak lucu dari para host-nya, apakah kami berdua siap melepaskan putri kami begitu saja pada acara televisi lokal kita yang sucks dan cenderung memamerkan kemewahan dibanding realitanya ?

Andai saja tayangan televisi ini lebih banyak pada tema pendidikan, bagaimana caranya agar anak didik kita mampu maju dan bersaing sehat dalam kesehariannya nanti bukannya malah bersaing dengan cibiran satu sama lainnya plus ejekan tak punya ini itu yang identik dengan kemewahan sebagai satu ukuran.

Andaikan saja tontonan televisi lebih banyak mengungkap seberapa besar kekayaan bangsa ini dan seberapa jauh tugas dan pe-er generasi mendatang minimal mampu mengelolanya agar masa dpan tak lantas jadi semakin kacau oleh banyaknya birokrat dengan birokrasi uang pelicinnya, mengoyak hati nurani rakyatnya yang selama ini sudah lelah mempercayainya.

Andaikan saja para pemilik modal dunia pertelevisian bangsa ini mampu memberikan tayangan positif dan menjunjung adat budaya dan norma dengan baik, sehingga apa yang diharapkan oleh generasi muda saat ini tak sebobrok apa yang terjadi hari ini, dan cenderung nikmat untuk dilanjutkan lagi, toh tak ada yang protes dan membantah.

Andaikan saja semua kedangkalan ide yang ditampilkan setiap jamnya oleh banyaknya tivi swasta negeri ini bisa tergantikan dengan pesan positif, mungkin aku takkan ragu melepaskan putriku pada siapapun pengasuhnya serta takkan pernah khawatir untuk menjelaskan kepadanya perihal masa depannya kelak.

Mirah dan limpahan kadonya

6

Category : tentang Buah Hati

Malem minggu usai upacara putri kami Mirah, sang Ibu menyempatkan diri untuk membuka kado pemberian ‘toh esok libur alasannya. Dibuka satu persatu dengan hati-hati, lantaran ada banyak pesanan dari nenek-neneknya, agar kertas kadonya jangan dirusak, biar bisa dipake lagi (hmm.. jurus hemat ditengah melambungnya harga).

Pendapat ipar tentang keberadaan anak perempuan dalam satu keluarga kecil, benar-benar membuat semarak isi rumah, lantaran anak perempuan kata dia lebih bisa diperindah ketimbang anak laki. Ini dilihat dari asesoris yang dikenakan si anak perempuan lebih bervariasi ketimbang anak laki. Ada benarnya juga tuh ternyata.

Isi daripada kado-kado tadi beragam, dari perlengkapan mandi, makan, bepergian, popok, hingga baju-baju mungil nan cantik. Tapi yang membuat geleng-geleng kepala, ya banyaknya itu lho, bejibun.. ‘Emang dasarnya putri kami membawa rejekinya sendiri…

Setelah disortir, baik menurut pendapat kami berdua maupun kakek neneknya, akhirnya diputuskan untuk mengambil sebagian saja, mengingat dari jumlah dan ukurannya sudah cukup untuk putri kami sementara ini. Dengan pertimbangan, agar jangan sampai sebagian lagi tadi akhirnya tak terpakai akibat pertumbuhan tubuh putri kami atau waktu kadaluwarsa yang tertera pada kemasannya.

Mengingat antusias pemberian kado ini diberikan pada putri kami, tak ada salahnya apabila kami selaku orangtuanya membagikannya kembali sebagian tadi kepada bayi-bayi lain, yang secara kebetulan beberapa rekan kantor maupun dirumah baru saja me milikinya. Mungkin saja mereka lebih pantas mendapatkannya mengingat harga per itemnya lumayan besar bila dibandingkan dengan pendapatan mereka.

Yah, siapa tau putri kami kelak nanti juga belajar berbagi pada sesamanya, jika diberikan rejeki lebih oleh-Nya.

3 Bulanan Putu Mirah

1

Category : Cinta, tentang Buah Hati

Usai juga rentetan upacara ‘Nelu Bulanin’ putri pertama kami, tanggal 1 Juli lalu, yang telah kami persiapkan sedari sebulan sebelumnya. Upacara yang sedianya dilangsungkan pada pukul 1 siang, rupanya harus dimulai 2 jam lebih awal, berhubung undangan dari keluarga Istri sudah nyampe rumah diikuti rombongan kantor subdin Bina Program BMAIR.

Upacara yang diramaikan dan dihadiri oleh hampir seluruh keluarga dan teman yang diundang (absen hanya 3 undangan saja), berlangsung lancar tanpa hambatan, walaupun sempat was-was dengan cuaca yang tak bersahabat sejak pagi, hingga Istripun memutuskan untuk mesesangi di Penunggun Karang dan saya sendiri di Prapen, memohon sinar-Nya untuk upacara putri kami ini. Syukurlah, apa yang kami harapkan bisa terwujudkan hingga akhir acara yang menurunkan hujan gerimis malam harinya.

mirah-upacara-01.jpg

Yang patut disyukuri lagi, adalah bantuan dari sanak saudara yang diberikan sebelum upacara berlangsung (tercatat pada kami) maupun yang datangnya hari itu (tentunya luput dari perhatian, siapa yang membawa tadi). Dari lauk untuk hidangan (terutama sate yang jumlahnya hingga 800 tusuk) dan juga ayam serta lawar tentunya. Sampai ke cemilan jajan, yang jumlahnya mencapai angka seribu biji. Membuat di akhir acara, kami membagikannya kembali untuk saudara-saudara yang membantu sedari upacara dipersiapkan hingga selesai. Belum lagi sesangi babi guling yang juga ditambahkan satu lagi oleh kakeknya yang mendapat rejeki menjelang upacara putri kami. Itu semua tergolong ‘wah’ bagi kami, yang tadinya mengharapkan upacara kecil dan sederhana, agar nantinya putri kami tak merasa terbebani pada semua itu.

Upacara yang didukung penuh pula oleh mertua kami hingga sore, sembari menunggu saudara dari pihak Istri yang datang usai upacara, bahkan memberikan banyak bantuan dari beras dan telor hasil di kampung Canggu, dan juga air mineral yang hingga akhir acara masih bertumpuk dengan bantuan yang datang dari saudara terdekat. Sungguh, putri kami membawa rejekinya sendiri rupanya.

mirah-upacara-02.jpg

Tak cukup hanya itu, yang paling membuat haru tentunya perhatian dari atasan instansi tempat kami bekerja, yang langsung menitipkan bantuan tunai lewat seorang rekan kantor, walaupun Beliau tidak kami undang-beri tahu- berhubung lingkup acara yang kecil dan sederhana, cukuplah mengundang seorang Kepala Dinas -atasan tertinggi pada instansi- saat kami menikah tempo hari. Disamping khawatir mengganggu kesibukan Beliau ditengah pemberitaan temuan bpk dan juga trotoar rusak di media cetak.

Yang paling mengesankan bagi kami adalah antusiasme sanak saudara yang berkenan meluangkan waktunya untuk hadir menyaksikan upacara tiga bulanan putri kami ini, di hari kerja dengan sepenuh hati dan keikhlasannya membantu baik tenaga hingga perhatiannya, jauh lebih besar dari yang kami duga sebelumnya.

mirah-upacara-03.jpg

Akhirnya, lewat juga semua kecemasan yang kami rasakan sejak sebulan lalu, termasuk perihal biaya upacara yang nyatanya tak sebesar yang kami sediakan untuk itu. Sambil berharap, semoga saja tiga bulan lagi, kami bisa memenuhi upacara putri kami yaitu Otonan, tentu dengan persiapan finansial dan juga tenaga yang tak kalah banyaknya. Semoga saja putri kami tak menyia-nyiakan apa yang telah kami berikan untuknya sejak lahir, agar bisa menjadi jauh lebih baik dari kami, berguna bagi keluarga kecil ini, kakek neneknya dan tentu sanak saudara kami terlebih dahulu, sebelum ia berguna bagi orang lain. ya Tu Mirah ?

Mirah dan Ratusan Dokumentasinya

Category : tentang Buah Hati

Lahir dan besar dijaman teknologi maju, punya sejuta kelebihan dibanding kalo lahir di masa televisi layarnya masih item putih. Yang namanya dokumentasi jadi jauh lebih gampang, artinya ya gak bakalan susah lagi nyari-nyari foto masa kecil dahulu atau mengingat-ngingat ‘aku dulu ngapain aja ya ? He..

Jadi, beruntunglah si kecil Mirah lahir dan besar di era kamera digital udah dijual murah begitu pula ponsel yang memiliki tambahan kamerapun udah jauh mumpuni dibanding lima tahun lalu.

Ini pula yang menyebabkan ia lantas memiliki ratusan bentuk dokumentasi dari foto hingga video yang secara mudah pula bisa di konversi kedalam format vcd sehingga kakek neneknya mampu lepas kangen saat jauh dari si kecil.

mirah-videos.jpg

Untuk foto tinggal dikumpulin trus di slideshow pake software Canopus Imaginate yang didukung pula dengan berbagai macam efek plus musik pengiring dari file mp3 koleksi pribadi. Sedangkan video hasil besutan Nokia N73 formatnya dalam bentuk mp4 yang kemudian tinggal di konversi ke file mpeg dengan bantuan program Total Video Converter.

Berkat bantuan kedua program tadi itulah maka semua arsip dokumentasi yang ada bisa ditonton bareng oleh siapapun tanpa harus mendisplaynya kembali lewat layar pc.

Mirah udah nambah tinggi oi

Category : tentang Buah Hati

Gak terasa usia buah hati kami sudah mencapai 3 bulan kalender….

Gak terasa pula si kecil kini ternyata udah nambah panjang aja badannya tentu jauh lebih berat timbangannya

mirah.jpg

Terakhir ditimbang saat imunisasi terakhir akhir bulan kmaren, beratnya sudah mencapai 5,7 Kg dan terakhir diukur panjang (tinggi) badannya udah 64 cm. wah wah wah… Bakalan was-was ni anak jangan-jangan gambil postur Bapaknya. J

Mirah dan Bapaknya

Category : tentang Buah Hati

Kata orang sih si kecil Mirah mirip banget dengan bapaknya waktu kecil.

yang mana Mirah – yang mana Bapaknya. Hayoooo…

anakbapak.jpg

Kehadiran Buah Hati

Category : tentang Buah Hati

Satu tujuan utama bagi mereka yang memutuskan untuk menikah tanpa gelar MBA (Married By Accident-hamil duluan) tentu saja kehadiran buah hati, yang diharapkan dapat memberikan Cinta dan Kasih Sayang yang jauh lebih besar antara dua makhluk Tuhan yang berbeda.

Itu benar adanya kok.

Ketika si kecil hadir, itu artinya status Bapak-Ibu pun akan melekat pada diri yang dahulunya masih menyandang sebutan Pemuda-Gadis. Tentu dari segi psikologispun diharapkan telah siap untuk menjadi orang tua yang baik bagi si kecil kelak.

Seseorang pernah berkata saat tersadar melihat anaknya tumbuh dewasa dan menikah ‘oh, seandainya aku bisa berbalik ke masa lalu dan meluangkan sedikit kesibukan kerja hanya untuk bermain dengan anakku’ penyesalan yang tiada guna…

kehadiran-si-kecil.jpg

Jadi nikmatilah kehadiran si kecil dengan penuh suka cita dan bahagia serta selalu berusaha memberikan waktu barang sebentar, untuk menengok perkembangan si kecil, karena jika semua itu sudah berlalu, waktu takkan bisa diputar balik lagi. Dan Kenangan akan masa kecil si buah hatipun takkan pernah dimiliki.

NB : selamat atas kehadiran si kecilnya, Bli Nengah Sumerta– Pakar politiknya BBC, semoga ditengah kesibukannya membakar syahwat eh sori, membakar semangat rekan lain, Bli Nengah masih sempat meninabobokan si kecil…

“Ken ken asane ngelah nak cenik, Dok ?”

6

Category : tentang Buah Hati

Kalimat diatas, bukanlah satu pertanyaan seorang pasien pada dokternya, namun sapaan akrab saat seorang teman lama, sua disatu kesempatan ngumpul bareng para reka Blogger sabtu sore kmaren. Yup. Satu-satunya teman lama ya Bli Wayan Gendo, aktivis te o pe yang sempat masuk penjara gara-gara membakar gambar es be ye.

Dia bertanya hal itu mungkin lantaran hingga hari ini si Gendo masih melajang, jadi wajar saja kliatannya emoh untuk segera punya anak yang kata dia “sing jeg encehin gen terus ?” terjemahannya : kan dikencingin aja tiap hari ?-

Hahaha… disitulah enaknya Bli Wayan.

si-kecil-untuk-pertanyaan-gndo.jpg

Makanya cepetan nikah Bli, biar tau betapa nikmatnya hidup dengan adanya Anak-Istri, walopun harga-harga pada naek terus.