Empat Tahun MiRah GayatriDewi

4

Category : tentang Buah Hati

Selamat Ulang tahun ya Nak, jangan marah-marah melulu sama Nenek, Kakek, Ibu dan Bapakmu…

Sifat keras hati MiRah putri kecil kami bisa jadi menurun dari Ibunya yang sudah aku ketahui jauh sebelum kami menikah. Cara tidurnyapun sama, lelap dengan kelopak mata sedikit terbuka. Jarang tersadar saat hujan deras dan guntur sekalipun seperti sabtu malam kemarin. Meski begitu, jika sudah sayang ho ho ho… jangan ditanya lagi lah.

Sedang Hobi Marahnya Mirah bisa jadi menurun dari sifatku yang uniknya, cepat marah tapi cepat pula redanya. Gag lama dan semoga saja gag nyusahin orang. He…

Gag terasa memang. 4 Tahun, 105 cm dan 20 Kg. Itulah MiRah sekarang.

Di usianya kini, tingkah lakunya sudah makin centil dan penuh aksi. Ini merupakan salah satu efek terbesar dari TeleviSHIT yang secara rutin menayangkan konser musik penuh dengan anak-anak remaja yang gag hobi sekolah, lebih milih cangkrukan di depan panggung ketimbang belajar. Plus SHITnetron remaja yang secara cerita sudah dapat ditebak, tapi menjual wajah-wajah ngganteng dan ngcantik itu meski tokoh yang diperankannya itu sebagai pembantu rumah tangga yang miskin sejahtera.

Tapi itulah tipikal anak remaja jaman sekarang. Kami hanya bisa berharap MiRah tak akan tumbuh seekstrem Genk CMP Cewek Macho Performance, yang ngetop seantero Indonesia gara-gara video penganiayaannya itu. Berharap ia akan tumbuh sederhana dan cerdas. Itu saja.

MiRah lebih suka menyendiri saat berada di keramaian. Ini pula yang terus kami dorong dan tanamkan untuknya agar lebih giat lagi bergaul dan berteman. Akan tetapi jika ia sudah menemukan teman baru, tangannya takkan henti menggenggam dan mengajaknya bermain. Persis Bapaknya kalo lagi punya Gadget Baru. :p

Ngomong-ngomong soal Gadget, diantara yang kami miliki, MiRah ternyata penyuka Android juga. Gara-garanya sederhana. Karena di ponsel Android ini ia bisa bermain banyak games yang memang diperuntukkan bagi usianya. Itu sebabnya, jika kami sudah berada di rumah, ponsel lebih kerap dipinta pasca belajar dan membuat pe-er. Itupun masih harus kami batasi agar tidak kebablasan menatap layar kecil penuh warna.

Selain bermain Games lewat layar ponsel, MiRah juga keranjingan mewarnai, menggunting dan menempel. Beberapa buku yang kami belikan rata-rata sudah mulai dipenuhi dengan hasil karyanya. Diantara itu hanya satu dua saja yang masih kosong. Yaitu buku belajar membaca b-a ba b-i bi :p

Sudah setahun ini pula MiRah berada di bangku PlayGroup. Rutinitas tiga kali seminggu yang ia lakoni sejak pertengahan tahun 2011 lalu. Tahun ini kami masih pikir-pikir untuk langsung menaikkannya ke TK Besar lantaran postur tubuhnya atau naik satu tingkat di TK Kecil lantaran umurnya. Tergantung saran Gurunya nanti saja deh…
MiRah sudah besar, mulai tumbuh dalam dunianya.

Selamat Ulang Tahun ya nak… Semoga Sehat dan nantikan kelahiran adikmu kelak…

18 Maret 2012…

> — Video terkait : Ulang Tahun MiRah GayatriDewi — <

Berbagi Dokumentasi Video MiRah GayatriDewi

Category : tentang Buah Hati

Iseng mengunggah Video MiRah GayatriDewi menari saat Hari Raya Galungan, 6 Juli 2011 lalu dengan menggunakan ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 Android, XL Unlimited ke portal berbagi Video YouTube rupanya membutuhkan waktu 15 Menit untuk durasi sepanjang 1.01 menit dan ukuran file 5,78 MB. Lumayan Cepat saya kira.

Video yang menyajikan aksi spontanitas MiRah GayatriDewi untuk merentangkan tangannya menari, malam sebelum persembahyangan dimulai menjadikannya video yang ke-34 yang berhasil di-Unggah selama setahun terakhir ini. Tidak banyak memang, namun masing-masing Dokumentasi Video merupakan yang terbaik yang pernah saya miliki.

Ingin tahu Video apa saja yang dibintangi Gadis kecil kelahiran 18 Maret 2008 ini ? berikut daftarnya.

  1. Video Pertama MiRah GayatriDewi (18 Maret 2008)
  2. Ulang Tahun ke-2 MiRah GayatriDewi (18 Maret 2010)
  3. MiRah GayatriDewi di RS Sanglah (26 September 2008)
  4. MiRah GayatriDewi di RS Sanglah (27 September 2008)
  5. MiRah GayatriDewi bersembahyang Manis Galungan (2010)
  6. MiRah GayatriDewi Bersepeda (1)
  7. MiRah GayatriDewi Bersepeda (2)
  8. MiRah GayatriDewi Bersepeda BerTiGa (1)
  9. MiRah GayatriDewi Bersepeda BerTiGa (2)
  10. MiRah GayatriDewi bermain HP (1)
  11. MiRah GayatriDewi bermain HP (2)
  12. MiRah GayatriDewi bermain HP (3)
  13. MiRah GayatriDewi bermain HP (4)
  14. MiRah GayatriDewi bermain HP (5)
  15. MiRah GayatriDewi bermain HP (6)
  16. MiRah GayatriDewi bermain HP (7)
  17. MiRah GayatriDewi bermain HP (8)
  18. MiRah GayatriDewi bermain di Banjar
  19. MiRah GayatriDewi bermain di Mini Market Karya Sari
  20. MiRah GayatriDewi bermain di Teras
  21. MiRah GayatriDewi bermain di ALun-ALun
  22. MiRah GayatriDewi menyanyi Don Dap Dape
  23. MiRah GayatriDewi bermain Ulang Tahun bersama MeLa dan Bagas
  24. MiRah GayatriDewi bermain Kereta Api
  25. MiRah GayatriDewi bermain GiTaR
  26. MiRah GayatriDewi Menari
  27. MiRah GayatriDewi di Pantai (1)
  28. MiRah GayatriDewi di Pantai (2)
  29. MiRah GayatriDewi BeNGonG
  30. MiRah GayatriDewi Ma’em Sendiri
  31. MiRah GayatriDewi BerHitung
  32. MiRah GayatriDewi MeNyapu Halaman
  33. PiDato Pertama MiRah Gayatri Dewi (1 Juni 2011)
  34. MiRah GayatriDewi Menari @Galungan 2011
  35. MiRah GayatriDewi menyanyikan ‘Bintang Kecil’ @ULtah GusMantra, KFC Gatsu :

Hari Pertama Sekolah MiRah GayatriDewi

7

Category : tentang Buah Hati

Rasanya baru kemarin MiRah GayatriDewi, putri kecil kami lahir. Eh, hari ini (11 Jul lalu-Red) ia sudah memasuki hari sekolahnya yang pertama. PlayGroup.

Rencana MiRah untuk ikut serta dalam tahap sekolahan PlayGroup yang secara kebetulan berlokasi di Banjar Taensiat lingkungan rumah, sebetulnya sudah lama kami pikirkan bersama. Tujuannya Cuma satu. Agar MiRah bisa bergaul dan bersosialisasi dengan anak seusianya lebih dini. Mengingat lingkungan rumah tak lagi ramah untuk mau menyapanya.

Maka, sedari satu dua bulan sebelumnya, pelan-pelan MiRah kami tanamkan bahan ajaran awal terkait Angka dan Huruf. Meski terkadang mengalami kesulitan dalam memperkenalkan semua itu, MiRah terpantau cukup mampu untuk mengenali karakter Angka dan menuliskannya satu persatu meski harus diberikan sedikit ‘Clue atau petunjuk terlebih dahulu. Seperti angka 7 yang menyerupai sosok putrinya Mr.Crab, pemilik restoran Crabby Patty-nya Sponge BoB, atau angka 8 yang merupakan dua telor bertumpuk.

Untuk Hari Pertama MiRah bersekolah, ia diantar langsung oleh Ibunya yang memang secara khusus memohon ijin kantor, untuk absen setengah hari. Padahal sedari awal MiRah sudah tegas mengatakan bahwa ia akan diantar Kakek Neneknya dengan berjalan kaki.

Ketidaksabaran MiRah akan hari pertama sekolahnya ini sudah tampak sejak sehari sebelumnya. Ia selalu bertanya bagaimana sekolah itu, apa yang harus dibawa dan apa yang diberikan. Namun, sejelas apapun kami menerangkannya, hanya satu kesimpulan yang dia dapat, bahwa di sekolah akan diberi makanan dan susu. Hehehe…

Pukul 5.30 pagi MiRah terjaga dari tidur tanpa dibangunkan. Kalimat pertama yang terlontar adalah “sekolah yuk Pak…” dengan nada yang keras. Walah… ni anak semangat 45 rupanya. Maka usai mandipun MiRah dengan segera meminta untuk dikenakan baju seragam yang seupa anak TK namun tanpa Badge untuk membedakannya.

Sebelum berangkat, MiRah saya sempatkan untuk berpose sebentar dengan menggunakan seragam barunya. Cantik bukan ?

Sulitnya menjadi seorang Single Parent

12

Category : tentang Buah Hati, tentang Opini

Jika anak rewel, bisa jadi kesalahan ada pada si pengasuh. Setidaknya pemikiran itu sempat terlintas dibenak saya beberapa waktu lalu. Tepatnya ketika dipaksa menjadi seorang Single Parent dalam waktu dua setengah hari, liburan panjang namun disibukkan oleh kewajiban adat.

MiRah, putri kecil kami mendadak menjadi anak yang menyebalkan. Saya pribadi sempat merasa kecewa lantaran tidak sempat menegur sapa tetamu yang datang di perkawinan sepupu saya Jumat lalu. Dan kekesalan itu dengan terpaksa saya pendam dan biarkan mengingat penyebabnya merupakan seorang anak berusia tiga tahun.

Bisa jadi ada banyak hal yang ia rasakan yang tidak mampu saya rasakan disaat yang sama. Well, kami memiliki pemikiran, pemahaman dan juga tujuan hidup yang sudah sangat jelas berbeda. Dan disinilah baru saya menyadari betapa sulitnya menjadi seorang single parent.

“Ini baru satu” tegur seorang rekan kerja kantor yang kini telah memiliki tiga putra. Ya, teguran yang makin menampar saya untuk segera menyadari bahwa apa yang saya alami, belumlah apa-apa. Apalagi ini hanya untuk dua setengah hari. Itupun tidak termasuk tidur malam dimana MiRah menginap bareng kakek neneknya.

Perilaku MiRah hari jumat lalu seakan menyadarkan saya, pada kemungkinan-kemungkinan yang mampu terjadi pada tumbuh kembang anak nantinya. Salah satunya jika saya melampiaskan marah secara terang-terangan, bisa jadi kelak, saya menjadi seorang Bapak yang tidak pernah mampu memberikan kasih sayang yang cukup untuk seorang anak.

Jika anak rewel, bisa jadi kesalahan ada pada si pengasuh. Ini pengalaman pertama saya menghadapi MiRah ditengah situasi krodit seorang diri. Mengurusi makan, penampilan serta berusaha menjaganya selama berlangsung upacara pernikahan merupakan satu mimpi buruk yang belum pernah terpikirkan. Ini terjadi baru beberapa jam, bagaimana dengan mereka yang telah menjadi seorang Single Parent dalam waktu yang sangat lama ?

MiRah memiliki gejala Batuk hari itu. Bisa jadi disebabkan oleh faktor cuaca dan angin malam sehari dua sebelumnya. Bisa juga lantaran keteledoran saya memberikan kentang kering (istilahnya untuk snack kentang goreng yang berisi cup saos didalamnya) plus sebungkus Chitato sebelumnya, yang saya pikir itulah yang disebutnya sebagai Kentang Kering. Dan Batuk merupakan sakit terburuk yang untuk MiRah yang saya tahu sejauh ini.

Batuk dapat menyebabkan kondisi dan daya tahan tubuhnya menurun, setidaknya itu yang terlintas pertama. Belum lagi Batuk mampu menurunkan nafsu makan MiRah yang biasanya selalu lahap meski hanya berlaukkan setengah telur mata sapi. Batuk tentu sangat mengganggu baginya saat situasi yang tak ia sukai.

Jika anak rewel, bisa jadi kesalahan ada pada si pengasuh. Well, saya kena batunya kali ini.

I MISS U MIRAH

5

Category : tentang Buah Hati

Sejak pemberlakuan Absensi Sidik Jari Januari lalu praktis waktu yang saya miliki untuk bisa bermain bersama MiRah GayatriDewi, putri kecil kami setiap harinya sangatlah terbatas. Dua hari libur dalam seminggu lantas dengan maksimal kami gunakan untuk menebus Lima Hari kerja yang telah berlalu. Itu baru untuk MiRah, belum yang lain.

Kadang kami merasa bahwa pemberlakuan Absensi Sidik Jari di PemKab Badung, tempat kami berdua bekerja terlalu ketat bahkan tidak adil. Apalagi bagi mereka yang benar-benar bekerja dibandingkan dengan mereka yang hanya menerapkan Pasal 73. Ngantor absen pagi pukul 7, lantas pulang kelayapan entah kemana, lalu absen sore pukul 3. Dan itu, sama sekali tidak ada teguran, hukuman, toleransi ataupun penghargaan.

Pagi, ketika kami bersiap berangkat kerja, ada perasaan bersalah yang saya rasakan pada MiRah, putri kecil kami. Pun pada kedua orang tua yang kami tinggalkan untuk mengajknya bermain seharian. Demikian pula saat kami pulang, hanya sempat beberapa jam untuk bisa bersamanya. Bersyukur bahwa MiRah masih bisa disayang oleh Keluarganya sendiri, lantas bagaimana ketika kedua kakek neneknya sudah tidak mampu lagi ?

Menatapnya saat tidur sungguh merupakan satu periode yang merindukan. Rindu akan tawa candanya yang nyaring dan renyah, Rindu akan kejahilannya yang tak kunjung padam, Rindu akan pijatan tangannya meng-Creambath kepala bak pegawai salon kelas wahid. Rindu pula pada masa kecilnya yang dahulu begitu saya puja.

Anak merupakan segalanya. Setidaknya itu yang kami berdua rasakan hingga saat ini. Saat kami berdua berangkat atau pulang kantor, hampir sepanjang perjalanan, jika topik kami bukan soal pekerjaan kantor, bisa dipastikan topik lainnya adalah MiRah dan kelakuannya. Dari kenakalannya yang membuat kami gemas, ocehannya yang kadang membuat kami kewalahan, hingga rencana-rencana kami kedepan untuk masa sekolahnya.

Moo, panggilan kesayangannya pada boneka Piglet yang saya belikan sepulang kuliah dahulu, kini hanya bisa tergeletak sendirian tanpa teman. Biasanya Moo selalu menemani hari-harinya kemanapun ia pergi. Namun sejak MiRah terjangkit batuk tanpa henti, Moo berusaha kami jauhkan dari MiRah. Mungkin, jika Moo bisa bicara, iapun akan merasakan hal yang sama.

MiRah, MiRah dan MiRah. Kecintaan kami pada buah hati yang lucu ini kerap menjadi buah bibir rekan kerja maupun teman yang dijumpai. Begitu bersua, mereka selalu menanyakan, ‘Bagaimana kabarnya MiRah ? kok gag diajak ?’. namanya begitu familiar mereka kenal, satu hal yang barangkali jarang terjadi. Mengingat nama putri kecil kami.

Entah mengapa hari ini saya begitu melankolis padanya. I MISS U MIRAH…

Selamat Ulang Tahun yang ke-3 MiRah GayatriDewi

2

Category : tentang Buah Hati

Tumben tulisan ini terlambat saya buat. Penyebab utama adalah kesibukan kerja seperti yang sudah pernah saya sampaikan tempo hari. Bisa dikatakan efek kejenuhan akibat padatnya jadwal masih berpengaruh hingga jumat malam. Tidur jadi lebih awal.

Kendati begitu, Jumat Malam jadi terasa spesial lantaran kami pada akhirnya bisa jua merayakan Ulang Tahun MiRah GayatriDewi, putri kecil kami yang kini telah berusia 3 tahun. Ulang tahun yang sederhana, namun sangat bermakna bagi kami. Tidak ada kerabat yang diundang, hanya kami berlima. Ayah Ibunya serta Kakek Neneknya.

Terkait Ulang Tahun, sudah sejak lama MiRah antusias menantinya. Bahkan ia mampu mengingat bahwa hari Ulang Tahunnya kali ini jatuh pada hari Jumat. Itu sebabnya perayaan Ulang Tahun Mirah maju sejam lebih awal. Hehehe…

Seperti biasa, MiRah tidak terlalu peduli dengan adanya kado dari kami. Karena baginya, sebuah kue tart lengkap dengan lilin saja sudah lebih dari cukup. Bisa menyanyikan lagu ‘Selamat Ulang Tahun ‘Tiup Lilin dan juga ‘Potong Kue saja, ia sudah senang bukan main. Apalagi ditambah dengan foto bersama dengan posenya yang ceria. Entah apakah nanti saat beranjak besar ia akan berubah keinginannya.

Lantaran kesibukan kerja pula, aktifitas sebagai Jumperpun harus terbengkalai hingga melewatkan hampir sepuluh BadGe FourSQuare saat event SXSW digelar di Austin kemarin. Pun demikian halnya dengan Review ponsel berbasis Android 2.2 Froyo, Samsung Galaxy ACE S5830 yang baru mulai esok pagi bisa saya tayangkan kembali.

Jadi, untuk sementara waktu ya “Selamat Ulang Tahun dulu deh untuk MiRah GayatriDewi, Malaikat kecil kami yang ke-3 tahun. Semoga bisa menjadi anak yang berbhakti pada kedua orang tuanya, kakek neneknya dan tentu saja lingkungannya. Salam penuh cinta dari Ibu dan Bang Thoyib… eh Bapak maksudnya. :p

MiRah yang suka Marah

1

Category : tentang Buah Hati

Kadang saya merasa menyesal ketika satu ketika secara tak sadar menghardik MiRah, apalagi melihat ia langsung terdiam dan menangis mencari ibunya. Itu saya lakukan saat MiRah mulai terlihat tak terkontrol memarahi neneknya tanpa satu alasan yang jelas. Jujur saja, saya merasa begitu lantaran termasuk jarang melakukannya, separah apapun kondisinya. Mungkin karena MiRah merupakan putri yang kami dambakan selama dua tahun awal perkawinan.

Belakangan ia kerap meminta satu hal dengan suara dan nada yang keras. Jikapun tidak dengan segera dituruti, kami akan mendapatkan bentakan yang tidak kalah kerasnya. Kalo itu ditujukan pada saya pribadi sih gag terlalu masalah, karena seketika itu juga ia bisa saya tenangkan. Tapi tidak segampang itu kalo yang diperlakukan begitu adalah Neneknya. Kadang jika si nenek sudah kadung mangkel, MiRah suka balik dimarah, dan bisa ditebak bagaimana kelanjutannya.

Melihat situasinya yang tidak kondusif dari hari ke hari :p , saya bersama Istri tidak tinggal diam. Kami secara bergantian memberikan nasehat dan pesan secara hati-hati dan intensif pada MiRah ketika suasana hatinya sedang senang. Biasanya kami berikan pula contoh ‘penyelewengan perilaku yang kerap ia lakukan pada beberapa tokoh kartun atau dongeng yang ia kenal. Dari ‘bawang putih’ yang penurut atau ‘bawang merah’ yang diusir akibat kelakuannya, hingga perumpamaan ‘ibu guru di sekolah.

Di usianya yang menjelang tiga tahun, MiRah tumbuh demikian pesat. Tubuhnya meninggi, makin lama makin mirip Bapaknya, sedang kecantikannya malah mirip ibunya saat kecil. Saya jadi khawatir sendiri. Bukan apa-apa, hanya karena khawatir MiRah akan mengalami kesulitan yang sama seperti yang saya alami saat usia pertumbuhan. Sulit mencari ukuran yang pas di tubuh terutama kaki. Memang sih, jaman sudah maju sedemikian jauh, namun tetap saja saya merasa khawatir.

Sejauh ini MiRah mau-mau saja dekat dengan Bapaknya, walaupun ia cenderung lebih dekat pada Nenek dan ibunya. Beberapa kali MiRah saya ajak jalan berdua, baik berkendara roda dua ataupun roda empat, ia anteng-anteng saja kok. Sepanjang perjalanan ia biasanya bersenandung lagu anak, atau sekedar bertanya tentang apa yang ia lihat. Tidak jarang obrolannya ngelantur kemana-mana, membuat suasana makin heboh, penuh tawa dan canda kami.

Sayangnya MiRah tak punya teman bermain dirumah, padahal ada banyak anak yang seusianya disekitar kami. Kondisi lingkungan yang sudah kadung ‘bermusuhan  dan iri hati hanya karena hal-hal kecil, tipikal masalah yang berlarut-larut dalam sebuah keluarga besar, membuat para orang tua mereka mendidik anaknya untuk tidak bertegur sapa dengan MiRah. Hal yang jujur saja dahulu pernah pula saya alami sejak kecil dan tetap berlangsung hingga kini.

Itu sebabnya MiRah lebih kerap saya ajak bermain di luar rumah. Arena mainan Tiara Dewata, lapangan Puputan, mini market di jalan Pulau Saelus, Mc Donalds atau Taman Kanak-Kanak terdekat yang memiliki fasilitas Playground menjadi daftar kunjungan wajib kami setiap minggunya. Dengan harapan, ia dapat berinteraksi dengan dunia luar yang mampu memberikan aura positif lebih jauh ketimbang aura negatif yang ada di rumah.

Bisa jadi ini pula yang menjadikan tumbuh kembang MiRah gampang marah ketika satu permintaannya tak dituruti dengan segera. Apa boleh buat ?

Libatkan Anak pada Hal Positif dalam Hidup

3

Category : tentang Buah Hati

meLuangkan waktu bersama MiRah GayatriDewi rupanya tidak melulu harus dihabiskan untuk berjalan-jalan atau bermain, tapi juga berusaha untuk mengajarkan 3 hal pokok yang kini sudah jarang kita dengar. Bagaimana meminta tolong, mengucapkan Terima Kasih dan tersenyum.

Anak-anak bagaikan selembar kertas kosong yang siap ditulisi atau dijejali apa saja, apabila hal positif yang kita ajarkan pada mereka, hal positif pula yang kelak mereka serap dan tebarkan pada lingkungannya. Demikian pula sebaliknya.

Meskipun di usianya yang sudah menginjak dua setengah tahun, MiRah masih merasa takut untuk merminta tolong pada lingkungannya. Ia tampaknya lebih nyaman apabila orang tualah yang memberikan tanggapan pertama atas hal-hal yang ia pinta atau tak mengerti. Demikian pula dengan ucapan Terima Kasih. Tak semua ia sampaikan secara keras dan spontan, ada juga ia katakan ketika orang yang bersangkutan mulai beranjak menjauh. Sama halnya dengan tersenyum.

Sebuah majalah pernah menyatakan bahwa pikiran Anak-anak bagaikan sebuah mesin sedot berkekuatan besar, apa yang diperbuat oleh lingkungannya, apa yang ia lihat, itulah yang ia tiru dan lakukan. Maka untuk melahirkan putra putri yang baik, minimal berbuatlah hal positif dan belajarlah untuk sabar ketika melakukannya. Jika sudah demikian, mau tidak mau kita pun akan belajar kembali hal-hal yang barangkali dahulu pernah dilupakan untuk ditularkan pada anak-anak saat ini.

Membantu orang tua membersihkan rumah, mengangkat jemuran hingga mencuci piring barangkali kini sudah lebih diarahkan pada seorang pembantu rumah tangga. Tidak demikian halnya dengan kami yang tidak mampu menggaji tenaga kerja tambahan. Maka bisa ditebak, apa yang kami lakukan setiap harinya, MiRahpun kerap menirunya. Ia kini tanpa diminta sudah bisa mencuci tangan sendiri meski harus dibantu untuk naik mencapai keran air, mencuci piring plastik yang ia gunakan untuk makan meski tidak sebersih harapan kami, atau berinisiatif sendiri ikut turun membantu dengan segala keterbatasan yang ia miliki.

MiRah GayatriDewi adalah sebuah anugerah bagi kami, anugerah terindah bagi saya pribadi tentu saja. Meski ia kerap bermusuhan dengan bapaknya ketika tidur malam, namun sepanjang hari adalah saat-saat menakjubkan yang bersyukur bisa saya lewati dan nikmati.

Berusaha untuk selalu melibatkannya dalam setiap hal positif dalam hidup, membuat keinginan untuk terus belajar makin besar saja. Semoga kelak MiRahpun bisa berbuat demikian pada lingkungannya.

Ajarkan Anak untuk Menabung

8

Category : tentang Buah Hati

Tidak ada salahnya untuk mengajarkan anak untuk melakukan kegiatan atau hal-hal positif. Menolong teman, berbagi, mengucapkan terima kasih atau tersenyum adalah hal-hal terbaik yang dapat mereka pelajari secara mudah di usia pertumbuhan, meski terkadang satu saat mereka lupa untuk melakukan. Sudah tugas kedua orang tua untuk mengingatkannya. Harapannya tentu saja, agar ia dapat diterima dilingkungannya dengan baik dan dapat memberikan semangat pada diri serta teman-temannya untuk berbuat hal yang sama. MiRah GayatriDewi putri kecil kami pun tak luput dari harapan itu.

Harus dimaklumi bahwa anak-anak di usia tertentu akan menunjukkan sifat egois mereka. tak jauh berbeda dengan orang-orang dewasa namun masih dapat dikendalikan. Semasih mampu, maka ajarkan pada mereka sejak dini. Hal-hal kecil yang barangkali bisa berguna kelak ketika mereka beranjak remaja.

Menabung hanyalah salah satu wujudnya. Tidaklah bijak apabila sebagai orang tua hanya bisa memberikan materi yang putra putri kita inginkan, namun tidak mengajarkan mereka untuk menyimpannya. Mulailah dengan nilai terkecil dahulu. Sisihkan recehan dan uang kembalian dan berikan pada si kecil. Ajarkan ia untuk mulai menyimpan dan lihat hasilnya. MiRah GayatriDewi hanyalah satu contoh dari sekian banyak yang berhasil.

Kini apabila ia mendapatkan uang dari kakek neneknya ataupun saudara kami, dengan riangnya ia pinta saya untuk mengeluarkan celengan (yang tidak berbentuk celeng/babi) dan berusaha memasukkan semampunya. Untuk uang logam, barangkali ia takkan pernah kesulitan, tidak demikian dengan uang kertas. Awalnya saya hanya mengajarinya untuk melipat kecil uang tersebut agar mudah dimasukkan, kini meski agak belepotan dalam melipat, ia sudah mampu memasukkannya sendiri.

Tidak ada target yang saya berikan, apabila saya memiliki uang kembalianpun ketimbang habis untuk parkir kendaraan, saya memilih untuk ‘disumbangkan’ pada MiRah, dan ia dengan sigap mengisi celengan kedua yang kini dimiliki. Adalah celengan plastik berbentuk kucing berwarna hijau, telah resmi dibuka isinya saat otonannya kemarin. Isinya lumayan, sekitar 170.000 untuk sebuah celengan kecil yang dibeli di toko 5ribuan. Kini, celengan yang dimiliki MiRah sudah jauh lebih baik. Berbentuk Tweety dan sedikit lebih leluasa volumenya. Pada penutupnya terdapat gembok kecil yang kami katakan, bahwa kuncinya akan diberikan ketika ia tak bisa lagi mengisi celengan dengan uang karena saking penuhnya. MiRahpun menyanggupi.

Dengan mengajarkan MiRah untuk menabung, secara otomatis memacu kami untuk belajar menyisihkan sedikit pendapatan kami sebagai seorang abdi negara agar kelak kami bisa mewujudkan impian-impian kecil kami di masa yang akan datang. Begitupun dengan MiRah.

Memahami Anak secara Fleksibel

4

Category : tentang Buah Hati, tentang Opini

Waktu merupakan salah satu hal terpenting yang jarang saya miliki untuk menemani MiRah sehari-hari. Kendati hanya memanfaatkan lima hari kerja dalam satu minggu untuk rutinitas pekerjaan, terkadang saat-saat berada dirumah, rentang pertemuan kami hanya sebentar. Mungkin itu sebabnya ketika akhir pekan saya pribadi selalu berusaha memberikan perhatian pada putri kecil kami ini.

Dalam usianya yang kini telah menginjak usia dua setengah tahun, kenakalan dan bandelnya MiRah GayatriDewi sebagai seorang anak kecil sudah mulai terlihat. Bahkan tidak jarang aksinya dalam keseharian kerap mendapatkan komplain baik dari sepupu kami yang kebetulan anak-anak mereka merupakan teman main MiRah atau malah dari kakek neneknya yang merupakan pengasuh utama MiRah sejak bayi. Setiap kami pulang kerja hampir selalu ada laporan khusus yang disampaikan terkait aktifitas MiRah yang memecahkan kesabaran mereka.

Memahami anak di masa kini saya pikir tidak bisa dengan menerapkan satu pola tertentu seperti halnya jaman dulu ketika tempat-tempat bermain belum banyak ditemukan diseantero kota. Setidaknya begitu pemahaman saya ketika membaca beberapa majalah yang menuliskan perihal perilaku anak. Faktor Lingkungan merupakan salah satu hal yang paling mempengaruhi tingkah laku mereka.

Menerapkan pola keras pada anak memang hampir selalu dianggap manjur oleh sebagian besar orang tua untuk mendidik anak secara disiplin. Melarang ini itu, membentak bahkan tidak jarang menghukum sang anak ketika ia melakukan kesalahan. Padahal secara usia bisa jadi anak-anak malah belum tahu mana hal yang benar dan baik dilakukan, mana pula hal yang barangkali tidak dianjurkan. Kendatipun kemudian mereka dimarahi, barangkali kata-kata yang disampaikan belum mampu dipahami dengan baik. Jangan-jangan malah menimbulkan trauma atau dendam secara diam-diam.

Membebaskan pola perilaku anak juga bukan satu hal yang bijak. Alangkah baiknya kebebasan itu tetap berada pada batas atau jalur yang barangkali tetap dipegang teguh oleh orang tua dalam mengawasi anak-anaknya. Memberikan pengertian secara halus sebenarnya tidak susah kok. Biasanya si anak yang memang belum paham dengan aktifitasnya ya bakalan menurut ketika diberitahu.

Dalam memahami perilaku anak terkadang orang tua dan juga pengasuh dituntut mau tidak mau agar mampu menjadi seorang anak kecil ditengah tuntutan kedewasaan dalam berhadapan dengan lingkungan dan pekerjaan. Tidak ada salahnya membagi dua pikiran dan perilaku, membedakan mana yang sebaiknya digunakan saat bekerja mana pula yang diambil saat berhadapan dengan seorang anak. Berusaha menjadi seorang anak kecil sesungguhnya tidak susah, hanya saja orang kadang cenderung kehabisan kesabaran lantaran waktu yang sempit sedangkan si anak bertingkah seperti seorang penguji disertasi. Rasa ingin tahu mereka inilah yang kadang sangat besar.

Pernah berhadapan dengan seorang anak yang hobinya bertanya ? Bisa dikatakan MiRah sudah sampai pada tahap tersebut. Ini apa pak ? itu apa pak ? bapaknya mana ? ibunya mana ? niniknya mana ? gak dimarah dia pak ? kok dia gitu pak ? dan seterusnya. Jika sang pengasuh tidak mampu memahami keingintahuan anak dalam usia dan tahap ini, bukan tidak mungkin amarah dan kata-kata bernada tinggi langsung terlontar saat itu juga.

Dalam usaha ini saya pribadi hampir selalu menyempatkan diri membaca majalah-majalah yang diperuntukkan bagi orang tua seperti Parents Guide yang biasanya menyajikan informasi perkembangan dan perilaku anak sesuai jenjang usia, AyahBunda yang sedari kecil memang saya gemari, atau syukur-syukur satu dua artikel tentang anak di beberapa tabloid atau buku yang saya temukan di ruang tunggu praktek dokter, rumah saudara hingga koran disela jam kantor. Kalopun menarik, mudah dipahami dan berguna untuk saya pribadi dalam usaha saya memahami MiRah kelak, artikel atau majalah tersebut segera saya pinta atau beli. Selanjutnya dikumpulkan dalam sebuah map khusus sehingga dapat dibaca kembali saat senggang.

Sungguh senang ketika anak merasa betah dengan keberadaan orang tua meski yang namanya waktu masih tetap berasa kurang kendati liburan lebaran yang hampir lima hari lamanya tempo hari itu terlewati. Bukankah indah ketika dunia yang dilakoni dapat begitu berwarna dengan senyum dan tawa canda si kecil setiap saat ?

meLuangkan Waktu berdua bersama MiRah

2

Category : tentang Buah Hati

Salah satu kendala yang ditemui oleh banyak Bapak di hampir seluruh belahan dunia adalah waktu yang dapat dilewatkan secara intim bersama si kecil. Siapapun Anda, apapun pekerjaan yang sedang digeluti, dan sesibuk apapun itu. Kurang lebih demikian yang pernah saya baca di sebuah majalah. Itu sebabnya, anak ketika kecil hingga beranjak remaja lebih banyak dekat dengan ibu ketimbang bapak.

Tidak ingin seperti itu, saya pribadi mencoba untuk meluangkan lebih banyak waktu dari sekian yang saya miliki, untuk memantau perkembangan si kecil hingga ikut terlibat merawat dan menjaganya. Untuk dapat mewujudkan hal tersebut, banyak hal yang harus saya pelajari.

Mendengar penuturan satu dua rekan kerja yang secara kebetulan baru dikabulkan oleh Tuhan memiliki satu putri hingga hari ini, banyak hal lucu dan ngangenin yang dapat saya nikmati. Seorang teman yang lebih banyak ditinggal jauh istrinya untuk bekerja di belahan benua lain, menjadi lebih tegar dan sabar ketika dituntut menjadi seorang single parents. Berbeda lagi dengan rekan kerja lain yang “iri” dengan rekan tadi, ingin sekali bisa lebih sukses saat mengajak putrinya jalan-jalan berdua saja.

Berdua, ya hanya berdua saja. Hal ini pula yang menyebabkan saya ingin mencoba untuk dilakukan bersama MiRah GayatriDewi putri kecil kami, terutama ketika istri wajib ikut serta dalam proses prajabatan cpns beberapa waktu lalu yang mengharuskan para calon menginap di asrama selama tiga minggu lamanya. Di saat seperti inilah kemudian tercetus ide untuk mengajak MiRah sekedar ikut Bapaknya kemana perlu.

Saya mengawali proses kedekatan ini dengan mengajak MiRah naik motor berdua di sekeliling rumah, meningkat lebih jauh dengan menyeberang jalan dan balik lagi. Pertama kali saya memutuskan untuk mencoba rute yang lebih jauh, saya mengajaknya disekitar lingkungan rumah, rute yang dahulu kerap saya lintasi saat belajar naik sepeda di masa kecil.

Dari membeli majalah bekas di jalan Kedondong, deposit uang pulsa di jalan Bisma, mencetak beberapa lembar foto di jalan Kamboja hingga menyusuri jalan Suli saat kembali pulang. MiRah saya dudukkan di atas tangki motor Tiger, dan pinggangnya saya belitkan selendang tebal untuk menjaga keseimbangannya.

Setelah beberapa kali MiRah mulai tampak menikmatinya dengan santai, kadar kedekatan kami, mulai ditingkatkan sedikit demi sedikit. Kali ini MiRah saya ajak mengantarkan banten, membeli lauk saat hujan atau mengambil rute yang lebih panjang  dengan kendaraan roda empat. MiRah saya dudukkan di kursi depan, disamping saya tentu dengan kewajiban memasang sabuk pengaman. Sepanjang perjalanan, kami saling menimpali satu sama lain, menyanyi bersama lagu-lagu kegemarannya hingga menjelaskan pemandangan sepanjang jalan.

Bersamanya memang memberikan satu kesan yang berbeda, ada rasa bangga ketika saya berhasil mengajaknya bermain berdua di satu mini market daerah Sesetan tepatnya ujung timur jalan Saelus. Mengajarkannya bermain ayunan dan perosotan hingga berani bermain dengan sendirinya, makin membuat saya ketagihan untuk membimbing lebih jauh.

Bersyukur dalam hal makan dan minum, MiRah tidak banyak permintaan. Air putih dalam dot yang selalu setia menemani atau sebotol freshtea sebagai tanda keberhasilan kami bermain berdua sudah lebih dari cukup, meski terkadang MiRah meminta beberapa jajanan yang tak lama akan ia limpahkan pada bapaknya, hanya karena tidak sesuai dengan harapannya. Bukankah mata anak selalu tertarik pada satu hal yang tumben ia lihat ?

meLuangkan waktu bersama MiRah, kini malah menjadi satu agenda rutin yang saya lakukan hampir setiap sore. Saat dimana MiRah selesai mandi sambil menunggu ibu atau neneknya selesai mandi adalah saat dan tugas saya sebagai bapak untuk menjaga MiRah. Jika sudah begini, ia takkan segan meminta ‘naik motor yuk Pak ?