Surat Cinta dari MiRah GayatriDewi

1

Category : tentang Buah Hati

Anyway, untuk posting kali ini, masih perlukah saya kisahkan maknanya ?

Surat Cinta dari MiRah GayatriDewi

MiRah PanDeBaik 1

11 Janji dari MiRah GayatriDewi (yang rupanya bo’ong-an… *uhuk)

MiRah PanDeBaik 3

Pindahan ke mybaby.pandebaik.com

1

Category : tentang Buah Hati

Awalnya sih, saya hanya berkeinginan untuk menyimpan beberapa rekaman gambar wajah putri pertama, Pande Putu MiRah GayatriDewi agar bisa lebih mudah diakses lewat dunia maya, baik oleh sanak saudara ataupun kakak sepupunya yang hingga kini masih berada di Canada. Untuk mengakomodir hal tersebut, salah satu alternatif yang dicoba pada pertengahan tahun 2008 lalu adalah pembuatan halaman blog di web server gratisan milik wordpress.com dengan mengambil alamat di pandebaby.wordpress.com

mybaby-pandebaik-1

Pelan tapi pasti, halaman ini kemudian memuat satu persatu rekaman lensa yang diambil dengan menggunakan kamera digital Kodak jadul, perangkat ponsel Nokia 6275i dan N73 hingga tablet Android Galaxy Tab 7+, Galaxy Note 10.1 dan iPhone 4 CDMA. Beberapa diantaranya bahkan langsung diUpload dari aplikasi WordPress for Android, lengkap dengan narasi ala kadarnya. Makin berkembang jauh seiring kehadiran putri kami yang kedua, Pande Made Intan PradnyaniDewi.

Ide untuk melakukan migrasi ke subdomain milik sendiri baru tercetus pada bulan Maret tahun 2013 lalu, setelah menyaksikan sisa space hosting yang cukup banyak pada CPanel serta tingkat kunjungan yang sudah mulai menurun. Ide ini kemudian ditindaklanjuti dengan memintakan bantuan pembuatannya pada kakak kandung di Canada dan mengambil alamat di mybaby.pandebaik.com

Jadi, bagi kawan-kawan yang ingin tahu bagaimana perkembangan fisik kedua putri kami, bisa main ke halaman ‘born to be my baby’ it’s about my baby, Pande Putu Mirah GayatriDewi and Pande Made Intan PradnyaniDewi. Periode Maret 2008 untuk putri pertama kami, dan periode Oktober 2012 untuk putri kedua.

PanDe Baik mybaby

Maka dengan migrasinya halaman rekam lensa kedua putri kami, halaman blog gratisan pandebaby.wordpress.com akan segera kami hapus dari dunia maya. Terima Kasih sudah melakukan kunjungannya selama ini dan semoga dihalaman baru nanti, rekam gambar MiRah dan Intan bisa jauh lebih eksis lagi. Salam dunia maya.

Mimpi yang Aneh…

1

Category : tentang KHayaLan

Mimpi adalah bunga tidur… Biasanya merupakan sebuah kisah pendek, atau rangkaian beberapa kejadian yang jika disatukan menjadi sebuah cerita, memang benar-benar sulit dijelaskan dan diterima logika dan akal sehat. Yah namanya juga mimpi…

Tapi mimpi kali jujur saja menjadi mimpi yang cukup unik…

Karena di mimpi kali ini, saya sedang berusaha untuk menjelaskan bagaimana cara membaca peta, kepada dua orang bule yang bertanya dan ingin tahu, Kintamani itu ada disebelah mana. Sialnya, kedua bule maupun disekitar kami tidak ditemukan satupun peta offline map dalam bentuk cetak yang kemudian memaksa saya untuk membuka tablet GalTab 7 inchi dan mengakses aplikasi Google Maps, lengkap dengan mengaktifkan fitur GPS nya.

Pertama, menjelaskan cara membaca peta yaitu menempatkan arah utara disisi atas dan mereka bisa bertanya lebih dulu pada penduduk di sekitar, mana arah utaranya…,*ini pasti gara”kebiasaan bikin peta jalan di AutoCad. Hehehe…

Kedua, menjelaskan bagaimana memposisikan diri mereka terhadap peta dan lokasi berdiri dengan melihat arah pantai (kebetulan posisi mimpi saat itu sedang berada di pinggir pantai). Lalu mengatakan pula bahwa peta semacam ini bisa mereka peroleh di sekitar tempat ini, dengan harga 10rb rupiah atau lebih. (bener gag sih ?)
‘first, you can hold the maps like this posisition, with the North at the upperside… You can ask the people around you, where’s the North at… An then, you can buy a copy offline map like this, about ten thousand or more around this place…’ :p
*gila, sampe kata”nya meski grammarnya gag bener, tapi saya masih bisa ingat dengan baik apa yang dikatakan dalam mimpi…

Entah ada hubungannya atau tidak, ceritanya sih saya waktu itu lagi mendampingi MiRah putri kecil kami dalam kegiatan semacam outbond yang dilakukan di seputaran Hotel berkelas wisata, bersama kawan-kawan masa SD *padahal sejatinya masa sekolah SMA, dimana beberapa diantaranya membawa serta putri mereka pula.

Masih ingat benar, saya berada di tengah-tengah kawan yang lagi ramai dengan aksi salah satu kakak kelas saya masa kuliah, Made Desu Subrata yang sedang memamerkan kemampuannya dalam menyembunyikan kehadiran motor Yamaha Byson kebanggaannya, hilang dari pelacakan cctv (yang terdengar hanya suaranya) namun sesungguhnya bisa dilihat secara nyata dan langsung. Bayangkan bagaimana edannya alur cerita mimpi kali ini…

Akan tetapi nama dan wajah teman yang bisa saya ingat adalah Donny, sepupu sekaligus teman sebangku masa SMP, Pak Tua atau Wayan Wiriana dan Alit Wisnawa, dua tandem kawan masa sma dimana ketiganya merupakan tim OSIS yang memang saat itu ikut serta mensukseskan kegiatan outBond. Dan tak lupa ada Iddi Harinasutha, kawan masa sma yang pula mengingatkan saya untuk mencari MiRah saat panggilan guru yang memimta kami untuk berkumpul…

Mimpi yang unik namun aneh tentu saja bathin saya. Mengingat mimpi yang biasanya menghampiri tidak selengkap kini, banyak kejadian namun terangkai menjadi satu, meski alurnya jadi agak aneh…
Bisa lengkap dengan kemampuan mengingat seadanya saya tuliskan gara-gara suara Istri yang membangunkan tidur saya dan mengingatkan untuk membuat susu untuk InTan, putri kedua kami, dan langsung coba dituangkan pada Tablet GalTab (lagi-lagi… :p) agar tidak terlupakan begitu saja…

Entah apakah ini gara-garanya tadi sepulang kencan dengan MiRah, saya sempat menjanjikannya untuk bermalam di Hotel bersama adik dan ibunya, hanya untuk merasakan sarapan pagi sushi / daging ikan mentah yang disajikan kepada para penginapnya, juga aksi para koki (chef) yang mengolah makanannya, langsung didepan mata… Akan tetapi bisa juga ini gara” Video yang diunggah oleh Van Der Spek ke jejaring YouTube, lalu dibikin tandingannya oleh Polda Bali yang pula mengisahkan polisi menjelaskan peta pada beberapa bule yang bertanya ?

Ah, buat apa juga kita bahas terlalu jauh… Toh ini hanyalah sebuah mimpi… Sebuah bunga tidur yang aneh tentu saja…

Tahun keLima MiRah GayatriDewi

Category : tentang Buah Hati

Gag terasa, MiRah GayatriDewi putri pertama kami sudah menginjak Tahun keLima usianya. ditengah wajahnya yang makin terlihat cantik *uhuk dan tembem *uhuk (lagi), MiRah sudah mulai menampakkan ego dan rasa cemburunya pada kehadiran buah hati kami yang kedua, InTan PradnyaniDewi. Baik dari pemberian baju sehari-hari, asesoris hingga perlakuan. *sigh, susahnya memiliki dua buah hati dengan usia yang tak terlalu jauh bedanya.

Namun informasi sementara yang kami terima sih, sifat utama Mirah yang memang demikian adanya. Ini setelah kami berkali-kali bertanya dan bertanya, terutama berkaitan dengan Hari Lahir dan Jam kelahirannya. Yang meski memiliki hari lahir yang sama dengan sang adik, namun secara sifat dasar ternyata berbeda. ah, banyak hal yang rupanya masih perlu kami pelajari lagi.

Ulang Tahun MiRah yang keLima kali ini, tak lagi dirayakan dengan Kue Ulang Tahun seperti tahun-tahun sebelumnya. Ini lantaran MiRah meminta agar kue diganti dengan Puding kesukaannya yang kebetulan bisa didapatkan dari toko kue milik Holland dengan harga yang jauh relatif lebih murah. Itu sebabnya, jumlah Puding yang kami ambil ada tiga paket, selain untuk kami nikmati, pula diberikan kepada anak-anak yang ada di sekitar keluarga kami. Demikian halnya dengan lilin, ditancapkan pada segelas kue Rainbow Cake dan sesi ulang tahun diakhiri dengan makan bersama keluarga di gerai cepat saji Mc.Donalds persimpangan Jalan Nangka, dengan mengandalkan enam kupon bazaar gratisan milik ibunya. *uhuk

ulang tahun MiRah GayatriDewi

so, Happy Birthday MiRah, we Love You…

Semoga MiRah gag marah-marah lagi, bisa hormat pada orang tua dan kakek nenek, pinter ngempu adik dan rajin pula di sekolah ya… MMMUUUAAAHHH…

Kehilangan Semangat Menulis

2

Category : tentang Buah Hati, tentang DiRi SenDiri

Pasca dirawat inapnya putri pertama kami beberapa waktu lalu, kami sempat dilanda kekhawatiran bahwa sakit Demam Berdarah yang diidapnya bakalan balik kembali, saat panas badan MiRah kembali naik menjadi 38,8 derajat Minggu dini hari berikutnya. Maka tanpa menunggu panjang lebar, kamipun meluncur kembali ke RS Bhakti Rahayu, tempat dimana Askes Keluarga berlaku untuk memeriksakannya dan memastikan penyebabnya. Masih sama dengan yang lalu, Radang tenggorokan.
Kami memutuskan untuk Siaga Satu bagi Mirah. Itu sebabnya, status sekolah dan les baca langsung kami putuskan demi memberi jatah istirahat yang cukup baginya. Sambil berharap bahwa apa yang kami khawatirkan tak terjadi.

Namun Selasa pagi lagi-lagi panasnya Naik. Ini tentu membuat kami makin kebingungan untuk memutuskan, apakah MiRah harus di Cek lab mengingat ini hari keempat siklus panas seperti saat ia dinyatakan positif DB beberapa waktu lalu, ataukah kami putar haluan ke dokter THT ? syukur, usai mandi, panas badannya kembali normal. Kamipun sedikit menarik kesimpulan sementara bahwa ini disebabkan oleh faktor cuaca dan radang.

Sementara itu, putri kedua kami dilanda batuk pilek. Sepertinya ini tularan dari kakaknya yang lebih dulu mengalami sakit seperti itu. Jadi kasihan mengingat usianya yang baru hitungan bulan, harus mengalami sakit yang lumayan menyita nafsu mimiknya.

Namun tak hanya itu, akupun akhirnya kena juga giliran ditularkan meski hanya batuk pilek saja. Ah, sudah biasa… Inilah yang namanya sakit keluarga.

Di luar itu, tak ada kabar baik yang bisa dibagi dari LPSE Badung. Meski kini kami sedang berusaha untuk melakukan sosialisasi pelaksanaan Perka LKPP No.8 Tahun 2012 tentang Pelaporan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang dilakukan lewat aplikasi Monev Online, dan Perka LKPP No.13 Tahun 2012 tentang Pengumuman Rencana Umum Pengadaan, nampaknya pihak pimpinan kurang berkenan. Ada saja hal yang mampu membuatnya untuk menjatuhkan mental. Ini tentu bagai buah simalakama. Jika tak dilaksanakan, Pengadaan Barang/Jasa di Badung, akan sangat bergantung pada langkah kami, sebaliknya Jika dilaksanakan, pimpinan tak sependapat. Fiuh…

Akhirnya, semua alasan pembenaran tadi jadi lengkap untuk mendukung hilangnya semangat menulis yang selama ini dibanggakan. Entah sampai kapan ini akan berlangsung.

Hidup itu harus tetap maju kedepan, jadi apapun masalahnya semoga saja kelak bisa diatasi. Sementara itu, biarlah besok tulisan-tulisan lama saja yang akan muncul di halaman ini. Sembari menanti semangat untuk menulis muncul kembali…

Merasakan Keramahan RS Wangaya

2

Category : tentang Buah Hati

Keputusan untuk memilih RS Wangaya sebagai tempat Rawat Inap saat MiRah putri kedua kami positif Demam Berdarah kemarin, bisa dikatakan tanpa rencana. Mengingat sebenarnya MiRah memiliki akses Asuransi Prudential yang siap memberikan pelayanan Klaim lebih baik ketimbang Askes PNS yang kami miliki.

Tapi Ngomong-ngomong soal penggunaan Askes, ini gara-gara celetukan seorang Rekan Kantor yang memang berusaha untuk memanfaatkan kemudahan Askes kantor semaksimal mungkin meski gejala sakit hanya soal Batuk dan Pilek. Makanya, pas melarikan MiRah, minggu 3 Februari lalu, pikiran pertama langsung tertuju ke Askes, padahal di RS yang sama, berlaku pula kartu PruMed nya Prudential…

Ah sudahlah, semua sudah terlanjur terjadi. Maka kini yang ada adalah menjalani masa perawatan di Sal Praja Amertha-nya RS Wangaya, tepatnya di Kamar 105.

Keramahan Wangaya 1

Ada beberapa perbedaan yang saya rasakan saat menjalani masa-masa menunggui pasien disini. Pertama, soal kenyamanan Pasien dimana di RS Wangaya, tidak ditemukan pedagang yang sliwar sliwer menjajakan dagangannya, hinga masuk tanpa ijin untuk menawarkan kepada para penunggu kamar. Memang ini kadang memudahkan penunggu pasien untuk berburu makanan ketimbang berjalan jauh seperti situasi yang pernah dialami saat 9 hari berada di RS Sanglah 5 tahun lalu. Namun saat persoalan Kedua, terkait dengan pencarian Obat Askes, maka jalan yang dahulu saya ambil adalah mengunci pintu kamar pasien, dan menitipkannya ke Perawat agar pedagang tidak bisa seenaknya membuka pintu kamar saat ditinggal pergi. Lha, kenapa musti pergi ?

Ini terkait dengan perbedaan kedua, yaitu akses pencarian Obat kategori Askes, dimana saat berada di RS Sanglah, penunggu pasien lah yang diharapkan aktif mencarinya ke apotik DPHO di sebelah Utara kampus Fakultas Hukum, atau di sisi Barat areal RS dekat kantin. Padahal kamar yang kami tempati saat itu tergolong kelas VIP, yang berisikan satu pasien dan bed tambahan bagi Penunggu. Sama dengan RS Wangaya. Namun disini, penunggu Pasien, tidak dikenai aturan tersebut sehingga saya lebih mudah untuk meninggalkan neneknya MiRah sendirian menunggui cucunya sedari pagi, pergantian jaga, hingga siang/sore harinya.

Jadi ceritanya, semua obat selama masih ada dan bisa didapatkan di Apotik DPHO areal RS, pebcarian diHandle oleh petugas Askes/Perawat, sehingga penunggu Pasien hanya akan menerima bill hijau sebagai tanda bukti.

Ketiga, terkait Pelayanan dari Tim Perawat, yang memang secara khusus memberikan Service (dalam arti Positif loh ya) kepada para Pasien dan Penunggunya lewat jasa yang Terbaik. Sehingga bisa dikatakan kami sangat excited dengan Keramahan RS Wangaya kali ini.

Namun, selama 5 hari berada di RS Wangaya, barangkali satu-satunya hal yang paling khawatir dirasakan adalah…

Terkait Lokasi Kamar Rawat Inap yang berada cukup dekat dengan Kamar Mayat. Okelah, memang selama itu saya pribadi seakan dipaksa untuk selalu berpikir positif sehingga mampu merasakan aman untuk menjaga MiRah sejak sore hingga pagi menjelang. Tapi yang namanya perasaan khawatir toh tetap ada. Khawatir terjadi apa-apa dengan putri kami, apalagi kalo sampai ia tahu tentang keberadaan Kamar Mayat tersebut. *kebanyakan nonton film Horror dia, maka itu hingga waktu kepulangan, saya berusaha tidak menyampaikan hal tersebut agar tidak menurunkan mentalnya. Cukup Bapaknya saja yang ketar ketir :p

Suka dan Duka itu Beda Tipis

4

Category : tentang Buah Hati

Selasa Pagi, 5 Februari lalu sebenarnya menjadi hari yang bahagia bagi kami, tepatnya upacara 3 bulanan putri kedua, Intan PradnyaniDewi, dengan mengundang sanak saudara dan juga teman dekat ikut hadir menyaksikan prosesi sejak awal.

Upacara yang dimulai pada pukul 10 pagi itu, berjalan sesuai harapan. Setidaknya cuaca masih cukup panas dan bersahabat, meski dari daftar undangan rupanya gag semua bisa datang memenuhi harapan. Alasannya tentu saja terbentur upacara lain yang lebih penting.

Selama lima hari lamanya, saya dan keluarga berusaha mencicil sedikit demi sedikit pekerjaan yang berkaitan, agar tidak kewalahan saat H-1, yang biasanya kondisi jauh lebih krodit akibat persiapan banyak hal. Dan semua itu dapat ditebus dengan kepuasan, hingga akhir acara yang mencapai pukul 9 malam. Ini karena beberapa kerabat datang sepulang kerja bersama anak dan istri mereka.

Suka Duka 1

Usai semuanya, kami membuat rencana kecil untuk makan malam bersama esoknya, sambil menuntaskan kewajiban pembayaran di beberapa tempat.

Suka dan Duka itu Beda Tipis.

Sehari setelah upacara 3 Bulanan InTan PradnyaniDewi, putri pertama kami, MiRah GayatriDewi positif dinyatakan mengidap Demam Berdarah. Kesimpulan ini diambil, setelah ia melakukan cek Darah lengkap di RS Wangaya, Rabu pagi pukul 8 wita.

Hal ini tentu mengagetkan banyak saudara termasuk keluarga kami namun entah karena sudah insting, saya pribadi malah bersyukur bahwa apa yang diduga sejak awal memang benar. Bukan mensyukuri bahwa MiRah terjangkit DB, namun lebih Bersyukur bahwa kondisinya sudah terpantau sejak awal. Jadi kami tidak banyak menduga-duga lagi, mengingat MiRah sudah mengalami panas demam sejak hari Sabtu, 2 Februari lalu. Khawatir dengan perkembangannya, sayapun ngotot untuk Cek Lab secepatnya.

Gag terasa memang, sudah hampir lima tahun lalu berlalu, saat Ibunya MiRah mengalami sakit yang sama dan berada di RS Sanglah selama 9 hari. Itu sebabnya kali ini, rasa khawatir lumayan bisa ditekan, meski masih merasa was-was jika kelak MiRah gag mau minum banyak seperti ibunya dahulu.

Maka dengan melewati banyak pertimbangan, sayapun kembali mengulang masa-masa dimana sendirian menjaga MiRah di malam hari hingga pagi menjelang. Ini diambil, lantaran sang Ibu harus mengeloni putri kedua kami, dan Kakek Neneknya kami minta untuk beristirahat penuh di rumah.

Dibanding kasus terdahulu, kini saya jauh lebih banyak bersyukur lantaran sudah ditemani oleh banyak teknologi yang memudahkan. Diantaranya ya keberadaan TabletPC Android, yang mampu menemani waktu luang saya saat menunggui MiRah demi beraktifitas lebih jauh dan lebih berguna ketimbang dahulu. Maka berpindahlah semua pekerjaan kantor, blogging hingga browsing ke ruang tunggu disebelah kamar MiRah, dan menyelesaikannya satu per satu.

Suka Duka 2

Salah satu hal tersulit yang saya alami saat menunggui MiRah sedari Rabu malam adalah, berusaha membangunkannya setiap jam secara berkala, untuk memintanya minum air putih sedikit demi sedikit, menjaga darah didalam tubuhnya tetap dapat berjalan lancar. Selain itu, kondisi ini memaksa saya untuk bangun tersadar setiap kali alarm berbunyi, hingga mengganggu siklus tidur malam yang biasanya dilakoni. Tapi biarlah, toh demi kesehatan anak, apa sih yang tidak dilakukan ?

Perkembangan Trombosit hasil periksa darahnya pun menjadi satu beban tersendiri bagi saya pribadi. Dari angka 126 saat cek lab pertama kali, turun menjadi 102 di hari kedua opname, dan menurun jadi 77, yang kemudian menjadi titik terendah penurunan. Trombosit kembali naik menjadi 85 dan 113 pada hari Minggu kemarin.

Entah apa yang menyebabkan Trombosit pada tubuh MiRah bisa bertahan sedemikian besarnya, namun bisa jadi salah satu faktornya adalah rutinitas Minum yang kami terapkan sejak awal panas badan terdeteksi, Sabtu awal Februari lalu. Meski volumenya tidak banyak dalam sekali minum, namun kuantitasnya bisa lebih sering diberikan. Efek negatifnya adalah si Penunggu, jadi minim istirahat, lantaran setiap setengah hingga satu jam harus membangunkan si Pasien.

Masalahnya adalah jika saat menunggui Istri, motivasi kami sangat tinggi untuk segera sembuh dan pulang lantaran MiRah saat itu baru berusia 1 bulanan, kini si pasien yang berusia anak-anak tergolong agak susah untuk dipaksa minum apalagi saat tidur malam. Maka tantangan untuk bisa hingga MiRah kembali ceria, menjadi kesan tersendiri bagi saya. Dan seperti halnya pengalaman terdahulu, kini cukup Air Putih saja yang saya berikan sejak MiRah dalam kondisi panas badan, positif DB hingga kepulangannya. Kebetulan MiRah tidak suka dengan Jus Jambu dan Pocari Sweat yang berasa masam, apalagi Angkak… Maka jadilah si penunggu yang mendapat durian runtuh, minum jus jambu dan pocari hampir setiap hari sampe enegh. Hehehe…

Suka dan Duka itu memang Beda Tipis. Namun bersyukur, keduanya bisa dilalui dengan Baik dan kini, kami sudah bisa bersiap untuk menghadapi tantangan berikutnya.

Antara Intan Pradnyanidewi dengan Mirah Gayatridewi

3

Category : tentang Buah Hati

Jika dibandingkan dengan masa-masa kecil putri pertama kami Mirah gayatridewi, barangkali kelahiran putri kedua kami kali ini terasa sedikit lebih berat, apalagi kalau bukan lantaran kesibukan yang makin padat dan kadang kala membuat jenuh pikiran juga fisik. Namun untuk urusan ngemong, tetaplah jadi nomor satu.

Jika dibandingkan lagi dengan publikasi cerita ataupun foto dengan kelahiran putri pertama kami, keberadaan Intan terasa sedikit terlupakan, bisa jadi banyak orang tua yang merasa demikian sama seperti yang saya rasakan. Namun tetap, gambar dan foto kami ambil secara berkala, hanya seperti ungkapan diatas tadi bahwa kejenuhan tidak bisa dibendung, aksi publish di blog pun jadi makin terhambat oleh mood.

Intan putri kedua kami katanya lebih mirip wajah bapaknya waktu kecil, demikian halnya dengan marah-marahnya *uhuk

Namun karena ini putri kedua, sayapun tetap berharap secara wajah bisa secantik kakaknya atau minimal mengambil wajah ‘bali’ ibunya, bukan boros wajah Bapaknya. Agar kelak ia tak malu jika dikatakan mirip Bapak, namun tetap secantik ibu. :p

Dibandingkan dengan saat merawat Mirah kecil, kini saya tak lagi ragu dan bingung saat harus menggendong, meninabobokan, atau menggantikan popoknya lantaran semua itu akan terasa secara alami seiring berjalannya waktu. Malah terkadang saya lebih suka meminta Intan untuk saya gendong, utamanya agar ibu, kakek dan neneknya bisa lebih bebas beraktifitas, efeknya aktifitas sendiri malah lebih cenderung terabaikan.

Agar Intan tertidur dalam gendongan, tembang bali ‘gending rare’ Putri Cening Ayu menjadi favorit saya untuk dilantunkan. Sambil tersenyum, saya tak lupa mengelus kepala kecilnya agar ia tahu bahwa saya begitu menyayanginya. Yang kalo sampe ketahuan Mirah kakaknya, saya bakalan kena pukul dan jewer lantaran lebih suka menggendong adik ketimbang dirinya.

Ya, MiRah sudah mulai cemburuan dengan si adik. Dengan berat tubuhnya yang kini mencapai 24 Kg, ukuran tinggi badan malah sudah setara sepupunya yang tingkat SD. Sayapun merasa untuk putri kedua kami Intan, memiliki postur yang sama. Mengambil genetik saya.

Banyak kisah yang sebetulnya ingin saya ceritakan disini. Tentang Intan putri kedua kami yang punya kebiasaan menggeliat kalo lagi tidur di kasur namun terdiam saat berada di gendongan, atau tentang Mirah yang hari minggu lalu sempat tampil menjadi Janger dalam salah satu sesi pentas budaya. Namun tetap yang namanya mood menulis, hilang seketika saat kedua putri kami ini berada dekat di mata.

I Love You Two…

MiRah GayatriDewi in Act Juli 2012

Category : tentang Buah Hati

Rasanya sudah lama saya gag posting fotonya MiRah GayatriDewi putri saya nih… kira-kira sudah sebesar apa yah ia sekarang ? yuk intip beberapa…

Foto diatas ceritanya lagi pose dulu sebelum beraktifitas. Dari kanan atas itu adalah aksinya MiRah sesaat sebelum otonannya, trus ada aksi pas rahinan Hari Raya Galungan, lanjut aksi mejeng di Alun-alun Kota Denpasar saat kegiatan ‘Mengenal Lingkungan’ dari TK Lokasari, sekolah tempatnya beraktifitas dan terakhir, ada aksi bergaya sebelum melakukan Senam Paud di acara Ulang Tahun TK Lokasari beberapa waktu lalu.

Trus sesi foto kedua, diambil saat rahinan Pagerwesi yang jatuh pada tanggal 20 Juni 2012 lalu, dari kanan atas tampak MiRah lagi keasyikkan bermain ‘menaklukkan’ Putri Malu yang banyak tersebar di sekitaran pura Lingga Bhuwana Puspem Badung, kemudian kanan bawah menyempatkan berpose di pintu masuk sisi barat Pura, kiri bawah merupakan pose jahilnya di areal pura dan kiri atas saat menjadi mangku cilik di pura Ibu Pande Tonja.

Nah, sesi terakhir, foto diambil saat kami melakukan olah raga pagi di kawasan Puspem Badung, areal perkantoran saya dan istri, bersama keluarga pada Sabtu 23 Juni 2012. Tampak di Kanan atas ada MiRah yang mejeng di patung bundaran Utara, trus bareng Kakek didepan Kantor Bupati Badung, ada juga yang didepan kantor Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Badung tempat saya bernaung dan terakhir bersama semua didepan papan nama kawasan Puspem Badung.

Nah, segitu dulu. Kalopun lain kali ada lagi tentu bakalan saya posting lagi disini…

Aditya Ananta, akhirnya pulang juga

Category : tentang Buah Hati, tentang KeseHaRian

Waktu sudah menunjukkan pukul 14.17 wita saat kami menginjakkan kaki di pelataran parkiran bandara, sulitnya mencari areal parkir bagi dua kendaraan yang kami bawa lumayan menguras waktu. Sedikit tergesa mata mencari layar monitor yang biasanya ada di seputaran balok kayu langit langit bandara, memeriksa jadwal kedatangan pesawat dari Taipei yang rupanya telah berstatus mendarat.

MiRah dan Prasta tampak sudah tak sabar lagi untuk bersua kedua sepupunya kali ini.

Waktu berlalu setengah jam lamanya tanpa kepastian kedatangan kakak kandung yang delapan tahun sudah terpisah jarak. Nomor ponsel yang sejak tadi berusaha dihubungi hanya menyisakan suara mailbox, dan pesan whatsapp yang sejak jumat kemarin selalu berdenting tak lagi menyajikan notifikasi baru. MiRah dan Prasta makin tak sabar dan mulai bertanya banyak hal.

Dengan membawa empat koper besar plus mengajak serta dua putra mereka tentu bukan urusan mudah, pikirku sejauh ini. Setidaknya semua barang bakalan dibagasikan yang tentu bakalan membutuhkan banyak waktu menunggu pasca pendaratan pesawat. Sedikitnya tiga kali untuk berusaha meyakinkan kembali tampilan layar monitor akan kabar penerbangan yang digunakannya kali ini.

Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Aditya, yang dulu masih bersosok batita dan sempat mewarnai tawa canda kami awal tahun 2004 berjalan meragu seakan belum yakin dengan kunjungan keduanya ini. Ia tampak lebih kurus dari foto-foto yang pernah dikirimkan oleh orangtuanya. Tak banyak senyum atau tawa lepas yang ia tebarkan layaknya sang adik, Ananta.

Ada rasa haru yang menghampiri saat melihat kakak kandung bersama istrinya bisa sampai dengan selamat tanpa kurang satu apa, jika sudah begini rasanya sudah tak masalah lagi jika saat pulang nanti bakalan bersua kemacetan di sepanjang jalan menuju patung Dewa Ruci. Satu hal yang tadinya sempat kami khawatirkan mengingat pada jam jam seperti ini, lalu lintas biasanya jauh lebih padat daripada siang tadi.

Seperti yang sudah kami perkirakan sebelumnya bahwa bahasa adalah satu satunya kendala yang kelak bakalan menjadi masalah besar untuk bisa berkomunikasi dengan dua ponakanku ini. Lantaran Ananta, ia lahir dan besar di Ottawa Canada, belum pernah pulang ke Bali sejauh ini. Sedang sang kakak, Aditya pernah mampir sebentar dan mengenyam sedikit bahasa ibu yang lantas dilupakan bagaimana cara menyampaikannya. Namun bersyukur ia masih bisa mengerti dengan apa yang kami katakan.

Rasanya sudah tak sabar melihat pengalaman baru yang kelak akan mereka dapatkan nanti. 🙂

MiRah GayatriDewi dan Masuk Koran Tokoh

4

Category : tentang Buah Hati, tentang TeKnoLoGi

Kek… Ninik… Gek iyah Masuk Koran…!!!

Teriakannya yang kencang laksana petir tiba-tiba terdengar lantang di sore hari, sesaat setelah kedatangan kami dari kantor hari Senin lalu. MiRah GayatriDewi, putri kecil kami mendadak girang begitu melihat tiga foto dalam pose sama namun berbeda cerita di halaman belakang Koran Tokoh Edisi 16 April 2012. Ini kali kedua foto dirinya tampil di halaman media cetak lokal setelah edisi Bali Tribune beberapa waktu lalu.

Wajar saja ia heboh sebegitunya sambil bertanya ‘apa Gek iyah mau jadi Artis Pak ?’ gara-gara melihat foto Ayu Ting Ting di media Radar Bali beberapa hari terakhir. Satu cita-cita masa kecil MiRah yang barangkali kelak bakalan berubah seiring pertumbuhannya.

Namun Yang membuat hari Senin sore itu jadi semakin heboh adalah telepon dari beberapa famili kami yang menanyakan ‘mengapa bisa foto MiRah tampil di Tokoh ?’ sampe ‘mengapa menggunakan foto yang rambutnya berantakan ?’ hehehe…

Jujur saja saya pribadi tidak ada merencanakan hal-hal kayak gini secara khusus atau disengaja, mengingat salah satu kewajiban dalam menjalankan tugas sebagai seorang penulis yang dimintakan tolong oleh salah satu Redaktur Koran Tokoh demi mengisi kolom Tekno setiap minggunya ya memenuhi jumlah stok tulisan yang tentu layak tayang di media tersebut. Namun dalam beberapa kasus tulisan, memang agak susah untuk mencari ilustrasi sebagai pelengkap (kasihan pihak editor dan tata layoutnya :p ) atau bukti bahwa isi dari tulisan itu bisa dipertanggungjawabkan.

Contoh sederhana ya tulisan ‘Berimajinasi dengan Photo Frame’ itu. Mau tidak mau agar pihak editor bisa memahami maksud dan isi tulisan secara cepat, jika bisa ya hanya dengan melihat ilustrasinya saja. Maka dalam pengiriman draft tulisan tersebut sayapun menyertakan beberapa sample yang pernah saya lakukan dengan memanfaatkan MiRah sebagai si obyek foto.

Dengan penggunaan manipulasi foto sebagai ilustrasi sebuah tulisan, sebenarnya sudah bisa ditebak bahwa antara isi tulisan dengan obyek foto dalam ilustrasi sebenarnya tidak ada kaitannya sama sekali. Hanya kalo dilihat dari maksud penyajian fotonya barangkali ya dijamin nyambung. Hehehe…

Tapi siapa juga yang peduli dengan nyambung tidaknya isi tulisan dengan obyek foto jika yang melihat itu mengenal siapa MiRah, demikian halnya dengan putri kami yang centil itu. Yang ia tahu hanya ‘saya masuk koran loh…’ hehehe…