Anak Anak sejauh ini

1

Category : tentang Buah Hati

Lahir bulan Maret tahun 2008 silam, Mirah putri pertama kami kini sudah menginjak usia delapan tahun. Sudah kelas 3 SD. Perawakannya tinggi jika dibanding anak seusianya. Mengambil porsi bapaknya. Boros di kain. Hehehe… Menari tak lagi menjadi hobi, sudah bergeser ke mainan Slime yang ndak jelas maksudnya itu. Sayang memang, tapi kelihatannya ia sudah mulai bosan akan rutinitas hariannya. Biarlah ia mengambil nafas dan beristirahat sejenak.

Sementara Intan, putri kedua kami lahir Oktober tahun 2012 lalu, kini sudah menginjak usia 4 tahun. Setidaknya apa yang ia cita-citakan hampir setiap hari terkait tiup lilin, potong kue, dan hiasan Frozen sudah terlaksana meski dalam edisi hemat. Kami mencoba memasukkannya di pendidikan PG saat tahun ajaran baru kemarin. Untuk mengenalkan ia pada dunia sosial, serta belajar berinteraksi dengan orang dewasa lainnya. Meski badannya mengambil porsi sang Ibu, pipi chubby dan kelakuan asalnya itu tetap saja mengambil porsi Bapaknya. Anak gado gado kalo menurut kami.

Tak lupa dengan si Bungsu Ara, hadir ke dunia bulan Februari tahun 2015, lama di rumah sakit untuk menyembuhkan sakit yang ia derita dari dalam kandungan. Cerita sedih tentu saja. Kini ia sudah berusia satu tahun delapan bulan. Baru saja bisa berjalan tanpa pegangan, kalo ndak salah sekitar sebulan terakhir ini. Selain itu ia baru bisa mengucap beberapa kata. Yang paling fasih sih memanggil ‘Bapak’ atau yang serupa, meminta ‘jajak’. Sementara saat memanggil ‘Bu’ dan ‘Nik’, suaranya terdengar agak kedalam, tidak selepas dua kata sebelumnya. Ia juga masih belajar mengatakan nama sang kakak. Sangat membahagiakan jadinya.

Anak Anak Sejauh Ini

Tiga putri kecil menghiasi keseharian kami.
Cerita yang bisa dibagi, selayaknya dongeng dan novel yang mengisahkan tiga gadis bersaudara seperti Kwak Kwik Kwek, 961-169-691, atau Three Stooges. Semacam itulah. He…

Mungkin lantaran usia yang tak terpaut jauh, antara Intan dan Ara lebih kerap nyambung dalam tawa dan canda ketimbang dengan si Sulung Mirah, yang sepertinya menjadi ‘musuh bersama’. Ara akan reflek mencubit sang kakak saat ia didekati dalam situasi apapun. Demikian halnya Intan, pasti menjadi ramai dan ribut saling menyalahkan saat mereka berdua berdekatan.

Riuhnya rumah sudah menjadi hal yang biasa. Kalo kata senior saya yang kini sudah masuk masa pensiun di Bima sana, semua adalah berkah Tuhan kepada hamba-Nya. dan memang belum lengkap rasanya jika tembok rumah belum ada coretan anak dalam bentuk apapun. Sebagaimana yang Beliau ungkap saat kami baru menikah dan belum dikaruniai anak.

Anak anak adalah kebanggaan dan kegembiraan.
Semua beban seakan sirna dalam sekejap saat mendapati senyum manis mereka dan rengek manja yang seandainya saja si orang tua tak sabaran, bakalan memberi cap sebaliknya, cerewet dan merepotkan.
Sementara kami, berusaha menikmatinya sebagai bagian dari apa yang sudah dikaruniai oleh-Nya.

Anak Anak

Category : tentang Buah Hati

Terkadang kami sebagai orang tua muda dari 3 putri kecil yang masih berada dalam usia tumbuh kembang, merasa heran. Dari manakah asal energi yang mereka miliki sejak pagi hingga malam menjelang.
Aktif. Sangat aktif.

Diantara ketiganya, Intan putri tengah kami baru saja masuk usia yang perlu pengawasan ketat baik pengempunya maupun kakek nininya saat kami tinggal bekerja. Rasa rasanya tak ada kamus capek yang ia rasakan kecuali saat tidur siang dan malamnya. Kami sampai kewalahan menimpali setiap aktifitasnya.

Sang adik, dalam usia 5 bulanan ini, baru bisa sebatas meminta diambil oleh Bapaknya, jika sudah dilihat baik sepulang kerja ataupun melintas begitu saja. Sementara si kakak, lebih banyak memperhatikan dan kalem, entah karena kenyang akan dimarah atau mungkin paham dengan situasinya kini.

PanDe Baik 3

Hanya ketika mereka bergabung saja, mulai nampak kenakalannya masing masing. Dari minta digendong shama shama *dengan logat huruf S yang kental, atau saling menimpali obrolan kesana kemari dengan si Bapak yang siap mengasuh melalui lantunan merdunya Gus Teja atau filem kartun di layar ponsel hasil download seharian.

Baru saat mereka tidur lah, dunia terasa lebih damai dan tenang. Tapi mereka, Anak Anak… tetap saja kami rindukan tawa candanya.

MiRah dan Sepeda Barunya

Category : tentang Buah Hati

Dibandingkan saudara sebayanya, Mirah putri pertama kami tergolong lambat untuk bisa belajar naik sepeda roda dua lantaran di usianya yang menginjak 7 tahun, ia belum jua mampu melakukannya.

Namun jika dibandingkan dengan sang Bapak, kelihatannya Mirah akan jauh lebih maju dan berhasil mengingat si Bapak baru bisa mengayuh sepeda roda dua saat ia duduk di bangku SD kelas 5. Tepatnya saat jalan Gatot Subroto Timur mulai dibangun, karena disitulah saya belajar bersama sepupu saat menginap dirumahnya yang berdekatan jalan tersebut.

Bukan pada Hari Ulang Tahunnya, sepeda baru itu kami belikan. Tapi justru pada hari ulang tahun Bapaknyalah baru terkabul ide tersebut lantaran baru teringat dalam pikiran. Maka sebuah sepeda lipat dengan tulisan Pasific di kelir pink sekujur badan sepeda, kini mulai ia pelajari dari ujung rumah ke ujung halaman.

MiRah dan Sepeda Baru 3

Hanya berselang tiga hari, iapun mulai mampu mengayuh pedal sepedanya meski dengan formasi kaki yang terlipat jauh keatas, sedikit menyulitkan menurut pandangan saya. Namun begitu tampaknya Mirah jadi makin mahir saat diajak mengujicobakannya di areal parkir timur lapangan Puputan Badung, maka tidak heran jika ia kini begitu bangga dan tidak meringis lagi saat satu persatu luka goresan menghampiri kakinya yang panjang.

Selamat Ulang Tahun ke-7 Cantikku MiRah

Category : tentang Buah Hati

Gak ada perayaan khusus dengan mengundang sanak saudara ataupun teman bermain dan sekolahnya…
Gak ada agenda khusus pula yang dipersiapkan untuk melewatkan malam yang berbahagia namun tanpa kehadiran sang Ibu hari ini…
Hanya satu kue ulang tahun dan seloyang pizza ayam menghiasi meja ruang tengah, sepulang dari Rumah Sakit Sanglah yang bisa diberikan untuk Cantik Sulungku, MiRah GayatriDewi, sesuai permintaan dan janji…

Selamat Ulang Tahun yang ke-7 MiRah sayangku, semoga apa yang menjadi harapan kami untukmu bisa terwujud dengan baik Nak…
Dan Maafkan kami, hanya hal sederhana ini saja yang dapat kami lakukan untukmu, berharap adik kecilmu segera bisa bergabung dalam aktifitas kita Nak…

MiRah 01

MiRah 02

MiRah 03

MiRah 04

MiRah 05

18 Maret 2015, dari Bapak Ibu yang menyayangimu

Teriakan dan Corat Coret

Category : tentang Buah Hati

Intan tampak kaget ketika neneknya menegur gara-gara ia mencorat coret tembok kamar tidur dengan pensil warna, kali kesekian yang nenek ingatkan padanya.

Entah karena ada sang bapak didekatnya yang tampak asyik nyariin barang di Lazada via ponsel, ia langsung berkeringat¬† dan ngos-ngosan. Bibir dan mimik wajahnya berubah seketika. Sambil sesegukan, ia membisikkan kata ‘ibu’ dengan sedih.

Tak berselang lama setelah dihibur sang bapak, ia kembali riang seperti biasanya. Kali ini main sambil teriak teriak kegirangan lantaran dicandai Mirah, kakaknya. Rumah jadi lebih bising dari biasanya.

InTan_1

Saya masih ingat saat dipetuahi pak Soetomo, rekan kerja sesama PNS dari Kota Bima, Lombok yang menjadi teman sekamar saat pelatihan tentang Jalan di Kuta, tahun 2006 lalu. Kalo gag salah diblog ini masih ada ceritanya. Waktu itu saya baru saja menikah dan belum dikaruniai anak. Berencana Program tapi tetap gag berhasil.

Beliau sempat mengingatkan saya bahwa ‘Rumah takkan lebih baik tanpa teriakan dan corat coret anak kecil’.

Saat itu karena belum paham maksudnya, saya sih simpel aja menjawabnya. Walaupun belum di karuniai anak, tapi kami memiliki belasan keponakan yang siap memberikan hal tersebut.

Beda, sangat berbeda, ungkap Beliau kembali. Dan mungkin baru kali ini saya paham maksudnya.

Mendengar Teriakan sejak Mirah dan Intan lahir atau saat mereka bertengkar, sudah menjadi hal yang biasa kini. Dan saya memang benar benar menikmatinya sambil tersenyum. Sangat jarang semua itu melahirkan bentakan, hanya ada elusan sayang sambil menghibur salah satunya, serta memberi nasehat pada yang lain. Begitu pula dengan corat coret.

Gag di Tembok, buku hingga pipi dan punggung sering menjadi sasaran kejahilan dan aktifitas keduanya saat mereka sudah memegang pensil ataupun crayon. Pokoknya semua kini menjadi tambah berwarna dan bagi saya -lagi lagi- sedap dipandang. Meskipun pendapat berbeda datang dari Ibu dan neneknya yang lebih senang dengan tembok yang bersih dan rapi.

Mereka berdua kini lagi nakal-nakalnya. Entah bagaimana jadinya kalo yang ketiga lahir dan besar nanti. Tambah ramai tentu saja. He…

Liburan Panjang edisi Januari

Category : tentang KeseHaRian

Hujan deras mengguyur Kota Denpasar Selasa pagi 20 Januari 2015 sejak dini hari tadi, membatalkan semua rencana yang sudah kami susun rapi sejak kemarin. Efeknya, Mirah putri pertama kami memilih untuk tetap berada di balik selimutnya meski waktu sudah menunjukkan pukul tujuh kosong sembilan. Sementara Intan putri kedua kami, meskipun sejak pagi sudah mandi dan wangi, iapun memilih leyeh leyeh bersama Bapaknya di tempat tidur sambil mimik susu.

Liburan Panjang edisi Januari

Empat hari sejak sabtu kemarin semua PNS *kalo tidak salah* mendapatkan edaran cuti bersama dalam rangka kaitannya dengan Rahinan gumi Siwaratri yang jatuh pada hari senin kemarin. Selasa jadi ikutan libur karena ada anggapan bakalan begadang pada hari Senin malamnya sehingga Selasa masih dapat beristirahat dengan baik.
Namun bagi kami, liburan panjang macam begini tentu gag akan dilalui begitu saja tanpa rencana. Meski sudah ada yang bisa berjalan, namun khusus hari ini semuanya buyar.

Olahraga bersama

Ini kali pertama saya bisa melakukan olahraga bersama anak-anak. Tujuannya sih sederhana, mengajak anak-anak refreshing di sore hari, meninggalkan semua rutinitas harian yang dilakoni nenek dan ibu mereka, sehingga dengan hilangnya kami dari rumah, mereka (nenek dan ibunya Mirah dan Intan) bisa meluangkan waktunya untuk beristirahat.
Rutenya hanya mengitari alun-alun Kota Denpasar sambil menengok puluhan ikan dan kolam tengah. Atau Lapangan Renon yang luasnya dua kali lipat, sambil nyariin siomay atau jagung bakar. Untuk yang terakhir ini, sayangnya belum kesampaian.

Melupakan Tugas

Sebenarnya liburan ini awalnya saya rencanakan untuk menghandle kerjaan yang terbengkalai, menarasikan 9 buku sejarah Puspem Badung yang dirangkum dari semua Notulen Rapat oleh Tim Koordinasi Pembangunan Puspem saat itu. Namun belum usai buku keempat, rasa bosan melanda hingga akhirnya saya memilih untuk bersantai bersama anak-anak, yang secara bergiliran mengganggu kerjaan saya dan pada akhirnya si Bapak pun terpengaruh. Ya sudahlah… kasian juga mereka dicuekin sejak awal kemarin.

Jalan-Jalan

Belum puas dengan sekedar ngempu anak-anak, saya memilih outing keluar rumah bersama keluarga. Baik yang skala kecil maupun besar. Tapi ya gag jauh-jauh sih, masih seputaran Denpasar dan sekitarnya. Makanya tempo hari sempat minta saran kawan seantero sosial media, buat mengetahui tempat makan favorit mereka biar bisa kami kunjungi. Rata-rata masih sejalan sih.
Akibatnya persoalan duit jadi sedikit boros, untuk makan, jajan hingga merembet ke hal-hal yang agak serius, persiapan kelahiran turunan ketiga. Dari beli rak bajunya, pakaian harian hingga bantal gulingnya. Biar gag rebutan dengan dua kakaknya nanti.

Belanja Online

Malas nyariin Tongsis ke tempat jualannya di seputaran Gatot Subroto Barat hasil hunting di OLX mantan Toko Bagus, atau kartu perdana Tri yang katanya bisa dobel pulsa, saya memilih Lazada untuk tempat belanja Online yang walopun sedikit mahal *meskipun sudah dapat diskon* tapi disitu barangnya bisa beragam, bisa lihat gambar fisiknya, dan yang terpenting ya Diantar ke rumah. Jadi ya bisa sambil leyeh leyeh nungguinnya seminggu kedepan.
Ini sudah transaksi keenam kalo gag salah dengan Lazada. Kali ini saya lagi iseng nyariin Tongsis yang pake Bluetooth hasil pendalaman saya dengan seorang kawan di akun Whatsapp, juga kantong pouch kecil untuk diselipkan di pinggang saat malas membawa tas hanya untuk menyimpan barang-barang ukuran mini macam flash disk atau penganan *eh
Selengkapnya nanti deh saya cerita lagi

Melupakan BPK

Hari senin kemarin sedianya BPK bakalan turun di Pemkab Badung, kaitan pemeriksaan kegiatan tahun 2014. Tapi lantaran libur panjang begini, semua seakan terlupakan. Dan sayapun memang lagi belajar untuk EGP ‘Emang Gue Pikirin’, mengingat semua kerjaan itu sebenarnya sudah bikin pusing selama dua tahun ini dan memilih untuk melupakannya demi kesehatan. Telepon semua di AirPlane mode-kan dan mengkoneksikannya dengan Wifi Rumah biar bisa internetan. Tapi sekalinya diaktifkan, telepon dari dua anggota Dewan langsung masuk dan merangsek minta tambahan jatah ruas jalan lingkungan. Weleh…

Liburan Panjang sudah hampir usai. Kira-kira kapan lagi yah ada yang beginian ?

Menunggui Mirah Pulang Sekolah

Category : tentang Buah Hati

Suasananya ramai. Anak-anak lalu lalang berlarian kesana kemari tanpa arah yang jelas. Dari yang berbaju batik sampai endek biru campur aduk jadi satu. Tapi wajah Mirah, putri pertama kami tak tampak disitu.

Waktu yang berjalan sebetulnya belum menunjukkan jam pulang, jadi sepertinya masih sempat menyeruput segelas kopi di kantin belakang sekolah. Wajah Mirah tak jua kujumpai dibeberapa meja makan yang ada didepan kantin.

Empat gadis cilik yang kutanyai rupanya teman sekelas Mirah. Dan dari merekalah aku mengetahui jika ia masih berada di lantai atas, di dalam kelas. Ya sudah, kuhabiskan saja kopiku dulu.

Mata pun menerawang jauh ke arah barat. Lorong yang dahulu menghubungkan area SD 1-2 Saraswati dengan SLUB kini sudah jauh lebih terang benderang warnanya. Gerbang barat pun kini tampak lebih dekat dari perkiraan. Gedung yang ada di kiri kanannya pun sudah berganti rupa. Yang dahulunya merupakan bangunan bertingkat kini hanya berlantai satu dan sebaliknya. Lumayan bikin pangling bagi mereka yang merupakan alumnus sini.

Halaman bermain disebelah pelinggih yang dahulu sering kami tongkrongi, kini sudah dipagari. Semua berpindah ke halaman utama yang kini telah diperkeras tanpa pohon. Beralih fungsi menjadi lapangan upacara bendera, area olahraga dan aktifitas kurikuler. Jadi lebih lapang tentu saja.

Toilet bau dan kotor yang dahulu menjadi cerita seram dan berhantu bagi siapapun di masa lampau, kini sudah berubah menjadi sebuah perpustakaan milik yayasan. Rasanya sih sudah gag ada lagi sisi seramnya, apalagi disebelahnya terdapat kantin milik tetangga, SD 2 Saraswati plus usaha fotocopy.

Ruang kesenian yang dahulu ada di belakang kelaspun kini telah berpindah ke sisi paling timur, tepatnya di sebelah area pelinggih. Suara gambelan pun bertalu berpadu dengan riuh teriakan anak-anak yang mulai tampak berbaris rapi di lantai bawah.

Mirah menjadi Sekretaris Kelas, kata Ibu Murni, wali kelasnya. Mih, bisa apa ya si Mirah nanti mengingat jenjang yang baru menginjak kelas 1 SD ? Karakter yang kalem, tambah si Ibu Guru. Wah… apa gag salah tuh ? Hehehe…

Aku melangkah ke lantai bawah, menuju tempat lowong di pinggiran lantai lalu mulai menulis. Waktu menunggu begini memang paling enak untuk menuangkan ide.
Yah… sebagaimana yang kalian baca sedari tadi.

Ternyata sudah punya Anak SD

Category : tentang Buah Hati

Pande Putu Mirah Gayatridewi… panggilannya Gek Mirah. Lahir 18 Maret 2008 sehingga kini umurnya sekitar 6 tahun… Anaknya rame di rumah, sepi di sekolah. Suka marah-marah dengan nada bicara keras kalo sudah gag sesuai keinginannya. Tapi langsung berubah lembut pas ada maunya. Anak-anak emang gitu kali ya ?

Pagi ini Gek Mirah saya antarkan ke (bakal) sekolahnya, SD 1 Saraswati untuk pembagian kelas dan pengenalan lingkungan bersama teman. Ia tampak tabah di dalam kelas dan terlihat sekali menikmatinya. Meski masih malu-malu.

SD 1 Saraswati menjadi pilihan terakhirnya, setelah yakin bahwa si Bapak merupakan alumni sekolah ini di tahun 1990 dahulu. Masa jadul. Masa dimana sekolah ini masih terdiri dari 6 (enam) kelas memanjang satu lantai, dan toilet bau dan jorok di pojok barat daya, dengan jalur menuju kantin SLUB disebelah kanannya.

Awalnya Gek Mirah meminta disekolahkan di SD 2 Saraswati. Sekolah yang lokasinya tepat berhadapan dengan sekolahnya kini. Ia meminta lantaran sebagian besar teman TK nya di Lokasari berada di situ. Tapi entah mengapa pilihan itu berubah saat kami mengantarkannya untuk melakukan pendaftaran. Mungkin sudah jodohnya atau bisa jadi ingin ikut Bapaknya :p

Mendapatkan nomor urut 17, Gek Mirah menempati kelas 1 B yang berada di gedung Utara lantai 2 bersama 32 kawan lainnya. Terdapat 15 kawan perempuan didalamnya, satu jumlah yang cukup seimbang dengan kawan laki-laki yang ada. Bandingkan dengan jaman saya dulu dimana kawan perempuan masih terbatas jumlahnya.

Pola pembelajaran anak SD saat ini saya lihat mirip dengan pola Diklat PIM IV yang baru minggu lalu dilalui. Menggunakan penataan meja bundar ala ILC yang kalau tidak salah, soal tempat duduk pun bakalan di rolling secara periodik. Jadi gag ada istilah duduk di depan/belakang sepanjang tahun ajaran. Tujuannya jelas, untuk lebih mengenal kawan secara keseluruhan dan menciptakan kekompakan selama masa belajar, disamping mengedepankan suasana diskusi dalam belajar.

Wih… ternyata sudah punya anak SD yah… gag nyangka. Padahal masih kebayang-bayang dengan suasana pacaran, pernikahan dan kelahirannya. Eh, kini ia sudah duduk di bangku coklat.

Gek Mirah… Gek Mirah… belajar yang benar ya nak. Selama kamu menikmati sekolahmu, kami akan selalu mendukung. Kalopun nanti sudah mulai membosankan, berarti saatnya Liburan. Jadi jangan khawatir…

Yuk ah… Bapak mau kenalan dulu dengan orang tua kawanmu lainnya…