Menunggu

Category : Cinta

Ini kali pertama saya melintasi Tol Bali Mandara di gelapnya malam. Sendirian dalam kendaraan roda empat, cuss meluncur ke Bandara Ngurah Rai untuk menjemput istri dan Mirah, putri pertama kami yang diajak serta liburan di akhir pekan ke Jakarta.
Sementara waktu baru menunjukkan pukul 20.50an. Masih lama dari perkiraan waktu yang dikabarkan. Jadi santai saja selama di perjalanan.

Ternyata ada gunanya juga saya berkeliling sebentar saat mengantar keberangkatan tempo hari. Jadi tahu tempat parkir mobil terdekat yang sekiranya bisa dicapai saat menjemput nanti. Bukan di parkiran kedatangan domestik yang jauhnya minta ampun dari gate keluar, mana musti melewati banyak tempat kuliner bandara pula, tapi di parkiran samping keberangkatan domestik. Malahan kini sengaja berkeliling lagi agar dapat tempat dekat pintu keluar. Biar lebih dekat lagi. Hehehe…
Sudah sempat di survey tadi.

Kini waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 wita. Saat tulisan ini dibuat pada aplikasi Evernote ponsel Hisense PureShot+, pengganti Samsung Galaxy Note 3 yang rencananya mau dijual via OLX.
Masih sangat lama kelihatannya meski di layar monitor tertera kemungkinan mendarat sekitar pukul 22.55 wita. Sejam lagi. Tapi gak bakalan mungkin.
Karena baru aja istri menelepon, mengatakan bahwa pesawat yang sedianya mereka tumpangi, GA 412 musti delay setengah jam dan diperpanjang, berhubung cuaca di Bali kelihatannya kurang bersahabat.
Memang sih ya, angin di luaran terdengar agak kencang ketimbang biasanya. Malahan sore tadi dirumah sempat hujan sebentar.

Tapi ya ndak apa apa sih.
Jadilah saya Menunggu kini.
Menunggu dua cantik saya hadir kembali mengisi hari yang sempat sepi, dan tertawa lagi bersama dua baby yang lucu dan mungil.
Ndak sabar rasanya.

Sambil menunggu, ndak ada salahnya saya jalan-jalan dulu sambil nongkrong di salah satu gerai kuliner bandara yang rutin jualan kopi instant di manapun mereka berada.

Pijat Refleksi solusi sementara sampai…

Category : tentang KeseHaRian

Pijat, rasa-rasanya sedari awal kenal yang saya sukai hanyalah pijat atau terapi listriknya pak Triyono yang kini tinggal di belakang kantor Fajar itu. Dilakoni sejak tahun 2005 lalu, pijat listrik ini banyak membantu aktifitas utamanya saat jadwal padat atau usai menyelesaikan misi tertentu. Sayang Beliau kini sedang berada dalam kondisi yang tak sehat sehingga memaksa saya untuk berpaling pada jenis pijat yang lain.

Pijat Refleksi. Menyasar pada kaki, setahu saya sih, pertama kali mencoba saat menunggui service kendaraan roda empat di Agung AutoMall jalan Cokroaminoto dan berlanjut pada service berikutnya. Jadi makin suka saat mendapatkan banyak waktu luang saat mengantarkan anak-anak tamasya setaun lalu, atau saat menunggu pesawat pulang di ruang tunggu bandara Manado. Bukan karena manfaat yang dirasakan tapi lebih pada membunuh waktu kosongnya.

Makin kesini, jadi makin tahu kalo pijat refleksi ini gak hanya menyasar telapak kaki dan jari yang sakitnya minta ampun itu. Tapi juga badan, dan sesekali kalo si terapis mau, memijat kening dan batok kepala. Lumayan untuk mengendorkan syaraf yang tegang.

Tapi memang pijat listrik Pak Triyono itu yang paling ampuh. Rasanya sih ya. Karena usai dipijat, badan akan merasa rileks, tidur bisa nyenyak dan makanpun jauh lebih enak.
Ah, kapan ya Pak Triyono itu bisa mijetin lagi ?