Samsung Galaxy A5 (2017) atau Asus Zenfone 3/Max ?

3

Category : tentang TeKnoLoGi

Postingan berikut sebenarnya hanya menjawab pertanyaan rekan saya yang berprofesi sebagai dosen STP Nusa Dua, Made Wirautama pemilik blog imadewira, dilontarkan di group Whatsapp Bali Blogger Senin malam kemarin.

Pilih mana, Samsung Galaxy A5 (2017) atau Asus Zenfone 3 552 / Max 520 ?

Samsung Galaxy A series setau saya masuk golongan ponsel premiumnya Samsung, sedang J kalo ndak salah, masuk yang golongan terjangkau. Oleh sebab itu rata rata jualan Samsung A adalah ketahanannya terhadap debu dan air.
Dengan internal storage 32 GB dan bedaran RAM 3 GB, bagi saya pribadi sudah cukup mengingat secara aktifitas jarang menggunakan games atau aplikasi dengan kebutuhan sumber daya yang besar.
Apalagi slot eksternal card yang terpisah dengan slot Dual Sim. Artinya bisa nambah kapasitas buat belasan filem berdurasi panjang tanpa mengganggu fungsi sim 1 yang biasanya saya gunakan utk internetan (bisa diganti jika ndak berkenan dengan operator tertentu), dan sim 2 untuk disematkan nomor ponsel permanen.
Cuma ya karena kebutuhan saya saat ini adalah daya Besar. Jadi jelas jika pilihannya A5 ya langsung dicoret dari daftar…

Dibandingkan dengan Asus yang 552 (Zenfone 3) atau yang 520 (Zenfone 3 Max), yang membuat saya kurang suka jika dilihat diatas kertas dari halaman compare di gsmarena adalah keberadaan slot eksternal card yang menjadi satu dengan slot sim card 2. Jadi ya fungsinya jadi agak terbatas.
Kalian sebagai calon pengguna harus bisa memilih, mau nyimpen belasan filem tapi kartu sim card ya pake nomor permanen cuma musti puas dengan paket internet yang ada atau sebaliknya, storage terbatas tapi kartu sim bisa leluasa.
Tapi semoga saja infonya salah… jadi bisa di cek dulu secara fisik di gerai ponsel terdekat.

Lainnya sih sama saja saya lihat, cuma Zenfone baik 3 maupun Max lebih luas jaringannya. Jadi kalo mau melali ke Taiwan, India atau Brazil, Asus masih mampu dibawa ketimbang Samsung.

Kalo diminta milih diantara kedua Asus, saya tentu pilih yang Max, secara kapasitas batere lebih besar. Ya kembali pada kebutuhan utama lah…
Tapi kalo boleh milih diluar itu ya yang seri Max 3s. Ponsel milik Asus yang dirilis resmi di India dengan kapasitas baterenya yang memuaskan.
Di lapak online macam Tokopedia, ada yang jual kok, saya lihat.
Pengalaman pake Samsung Galaxy A9 Pro, sudah gak worry lagi soal batere habis di siang/sore hari. Charge kini hanya malam sekali saja. Pagi sampe malam berikutnya ya tinggal pakai.

Sayangnya lagi, dibanding Samsung A5, kedua seri Asus ndak punya sertipikat daya tahan air dan debu. Jadi kalo nyemplung ndak sengaja ya musti kering benar sebelum dinyalakan lagi.

Kira-kira begitu…

Asus Zenfone Max 3s, Terjangkau dan Tahan Lama

Category : tentang TeKnoLoGi

Puas dengan kinerja Samsung Galaxy A9 Pro tempo hari dalam hal ketahanan batere yang mampu digelar seharian online tanpa perlu bingung cari colokan atau tanpa ribet bawa serta Power Bank, rasanya jadi pengen mencoba alternatif lain, dengan kemampuan kurang lebih setara untuk pertimbangan utama ini, namun dengan harga yang lebih terjangkau. dan kalo bisa sih ya, tanpa mengurangi kemampuan kinerja ponsel dalam operasionalnya sehari-hari dalam mendukung pekerjaan atau hiburan dan sosial media.
Beruntung saya bertemu kawan lama yang menyodorkan Asus Zenfone Max 3s, ponsel bertenaga yang kelihatannya dipasarkan bukan untuk pasar lokalan sini.

Dilihat secara visual, penampilan Asus Zenfone Max 3s ini bisa dikatakan cukup menawan. Bahan metal pada bodi, benar-benar menyiratkan kekhasan Asus sejauh ini. Hanya terpaut 1 mm saja untuk urusan ketebalan bila disandingkan dengan ponsel Samsung Galaxy A9 Pro yang saya gunakan saat ini. Sementara baik spek dan lainnya diatas kertas bisa dikatakan setara.

Hadir dengan layar yang lebih kecil ketimbang A9 Pro, Asus Zenfone Max 3s ini sempat menghadirkan dugaan akan daya tahan batere yang lebih baik. Namun lantaran keterbatasan waktu yang diberikan pemilik ponsel untuk bisa mengoprek lebih jauh, sampai hari ini tampaknya saya belum beruntung membuktikannya. Meski demikian perlu diapreasiasi lantaran sepanjang pemakaian, sisa prosentase pasca penggunaan panjang masih setara dengan A9 Pro.

Penggunaan jenis prosesor Mediatek 1,5 GHz OctaCore tampaknya menjadi salah satu penyebab harga jual yang sedemikian terjangkau. Namun ketika dipadu dengan memory RAM 3 GB dan Internal Storage 32 GB, secara awam saya cukup puas dengan kinerjanya. Mengingat ponsel Android bisa dikatakan sangat jarang menyisakan RAM tak terpakai meski saat berada dalam kondisi standby sekalipun. Beberapa aplikasi yang didaulat secara multitasking, saat dibuka kembali, tidak lagi mengulang startup screen laiknya ponsel sejenis di kisaran harga yang sama. Untuk hasil benchmarking menggunakan Antutu, Zenfone Max 3s berhasil menggapai angka 40ribuan poin. Edan…

Sebagaimana ponsel seri lainnya yang mengusung nama besar Asus, Zenfone Max 3s tentu saja telah siap digunakan dengan mengadopsi User Interface Zen 3.0 yang kata kawan saya, @BlogDokter pengguna setia Asus, merupakan antarmuka terlengkap dan ringkas sejauh ini. Sementara sistem operasi sudah menggunakan Android rilis terbaru yaitu versi 7.0 Nougat yang artinya jika kalian termasuk yang beruntung bisa menggenggam ponsel berkekuatan daya batere 5000 mAh ini, ya ndak usah khawatir akan pembaharuan sistem operasi lagi satu dua tahun mendatang.

Urusan kamera, Asus Zenfone Max 3s sudah dibekali resolusi 13 MP untuk bagian punggung dan dilengkapi dengan dual Flash, sedang urusan selfie, kalian akan mendapati lensa 8 MP di sisi depan ponsel. Lumayan bukan ?

Secara resminya, ponsel ini keknya ndak bakalan kalian temukan di pasar lokal. Karena untuk Indonesia, Asus merilis seri Zenfone 3 Max dengan 2 varian yang sama-sama dibekali dengan kapasitas batere sekitar 4100 mAh. Sementara ponsel satu ini rilis di India Februari lalu.
Sehingga satu-satunya opsi yang ada adalah onlineshop dengan harga jual sekitaran 3 jutaan, bergaransi Distributor.

Apakah ponsel ini cukup worthed untuk dibawa pulang ? Ya bergantung pada kenekatan kalian aja mengingat ni ponsel tergolong gak resmi kalo dipake harian di Indonesia.
Namun sebagaimana ponsel lawas saya era pdaphone berbasis Windows Mobile tahun 2005/2006 yang saat itu tergolong kasus yang sama, woles aja ketika kalian paham pola penggunaannya. Karena toh ketersediaan bahasa Inggris internasional sudah ada secara default ketika terjadi proses Hard Reset pada ponsel sewaktu-waktu.