Scoop dan Penyesuaian Kurs Dollar Google

3

Category : tentang TeKnoLoGi

Tadinya cuma iseng, pengen nyenengin ortu dengan berlangganan Intisari, kesayangan Beliau sejak masa muda dulu, di aplikasi Scoop. Gegara aplikasi S-Lime bawaan Samsung Tab A 2016 10 inchi, ndak memberikan keleluasaan pengunduhan terhadap buku yang sama, padahal di perangkat Samsung A9 Pro yang saya pegang nyaris semua sajian bisa dinikmati.

Langkah pertama tentu membeli Google Voucher di Indomaret Gatsu, kamis dini hari. Lalu input di perangkat baru gres milik ortu dan bersiap hunting Intisari yang bisa dibeli seharga 15.000 IDR per edisinya. Saat pembayaran dilakukan, Scoop memberikan opsi pilihan berlangganan 6 bulan kedepan, dihitung tambahan ppn 10% sehingga total yang harus dibayarkan adalah 99.000 IDR.
Namun berkali-kali mencoba sebelum deal pembayaran, opsi perubahan muncul pemotongan 129.000 IDR untuk pilihan diatas.
Lantaran bingung dan penasaran, maka diambilah keputusan Pembelian.

Ternyata benar, top up Google Voucher yang diisi sebesar 150.000 IDR hanya menyisakan nominal 21.000 IDR. Lalu untuk apa perbedaan pemotongan nilai yang selisihnya mencapai 22.000 IDR tadi ?

Saya mencoba menanyakan hal ini melalui alamat email customercare Scoop sesuai petunjuk yang ada, mendapati alasan bahwa pemotongan diatas adalah untuk pembayaran Intisari 7 Edisi, dengan rincian 1 Edisi yang diunduh, dan 6 Edisi yang rencananya bakalan berlangganan mulai bulan depan. Yang kalo ditotal sebenarnya berjumlah 105.000 IDR tanpa ppn 10%, atau 115.500 IDR dengan ppn untuk 7 Edisi, atau 114.000 IDR untuk ppn 6 Edisi berlangganan dan 1 Edisi unduhan.

Lalu kenapa dipotong sebesar 129.000 IDR ? Apakah itu terkait opsi Premium Scoop yang bisa dipilih kategorinya ? Ternyata tidak.
Memang benar untuk pembelian Intisari 7 Edisi, 1 Edisi Unduhan dan persiapan 6 Edisi berlangganan berikutnya. Lalu cara hitungnya bagaimana ?

Info dari Customer Carenya sih, perbedaan pemotongan terjadi akibat penyesuaian Kurs Dollar yang dilakukan oleh Google. Masalahnya adalah penyesuaian yang mana ?
Apakah nilai 99.000 IDR untuk berlangganan Intisari 6 Edisi kedepan menjadi 129.000 IDR kah yang dimaksudkan ? Atau pembelian 7 Edisi diatas tadi ?

Yang paling memungkinkan adalah sebenarnya pembelian Intisari 2 Edisi dan paket berlangganan Intisari 6 Edisi plus ppn 10%, dimana angka 30.000 IDR ditambah 99.000 IDR menjadikannya lebih masuk akal. Cuma masalahnya, Intisari yang diunduh atau dibeli itu baru 1 Edisi saja. Makanya jadi mentah lagi.

Seakan tak percaya dengan alasan pembelian buku di media Scoop ini menyesuaikan kurs dollar Google, saya kembali melakukan pembelian majalah T-Plus yang juga senilai 15.000 IDR, yang ternyata hanya terpotong dengan nilai yang sama tanpa ada tambahan ppn.
Lalu penyesuaian tadi berlakunya dimana ?

Tapi yah, terlepas dari Nilai pembelian yang hanya sebesar 1 lembar uang merah dan 1 lembar uang hijau, ini pelajaran berharga dari Scoop. Bahwa sebenarnya tinggal menunggu lampu hijau dari aplikasi S-Lime miliknya Samsung saja untuk bisa mengakses Intisari secara gratis, free tanpa pembelian lagi ataupun pengenaan ppn 10%.
Memang ndak seberapa, tapi kalo dikalikan ratusan pengguna lainnya ? Lumayan juga yang terkumpul dari situ.

dan untuk Scoop ?
Ini kali terakhir saya bertransaksi.
Mungkin ada yang mengalami hal serupa ?

S Lime, Solusi Murah Baca Media Digital

Category : tentang TeKnoLoGi

Salah satu aktifitas yang makin saya gemari ketika berkenalan dengan perangkat Android adalah membaca.
Minimal majalah. Atau koran.

Namun aktifitas ini setidaknya membutuhkan upaya yang tak mudah. Mengingat rasa rasanya kecuali halaman detik, gak ada tuh yang rela memberikan bacaan gratis bagi para pembaca di dunia maya, bahkan untuk informasi ecek ecek sekalipun. Kalopun ada, biasanya ya ilegal. Macam hunting di halaman penyedia Torrents.

S Lime PanDe Baik 1

Nah ceritanya saya menemukan aplikasi ciamik di perangkat Samsung Galaxy E5 kemarin. Yang dibeli atas permintaan ipar, dan E5 menjadi rekomend untuk yang bersangkutan. Ponsel menengah dengan harga terjangkau.
Adalah S Lime, nama aplikasi tersebut. Sebuah aplikasi yang memang berfungsi sebagai media baca bagi para loyalis Samsung, yang sayangnya hanya berlaku bagi perangkat Galaxy series tertentu saja, sesuai promo yang disampaikan pada halaman web Samsung Lime.

Tadinya sih berharap banyak bahwa aplikasi dimaksud bisa dinikmati di perangkat Samsung Galaxy Note 3 saya punya. Sayang, Note 3 maupun Note 3 Neo gak termasuk dalam daftar promo dari S Lime.
Namun bersyukur bahwa dalam salah satu daftar tersebut tercantum tabletpc Galaxy Tab 3V yang kebetulan tempo hari dibeli untuk konsumsi putri kami pertama.
Maka eksperimen pun bisa dilanjutkan. (berhubung E5 sudah dibawa pemiliknya)

Aplikasi S Lime yang saya uji dalam perangkat tabletpc ini setidaknya membutuhkan koneksi data untuk dapat mengunduh belasan majalah dan tabloid yang ditawarkan secara gratis dan berkala. Diantara yang saya ambil ada Intisari rilis terbaru, tabloid Sinyal, iDea, Nova dan banyak lagi. Belum termasuk koran kompas harian yang saya baca secara rutin hingga kini. Gak bayar sepeserpun tentu saja.

S Lime PanDe Baik 2

Meski begitu, ada juga edisi lainnya yang ditawarkan dengan harga yang terjangkau yakni 10K, yang saya belum ketahui pasti apakah isinya selengkap edisi cetak ataukan terbatas pada artikel atau halaman tertentu saja.
Yang Sayangnya, metode pembayaran masih menggunakan cara lama yaitu kartu kredit, padahal di Play Store sudah tersedia opsi potong pulsa sebagaimana Custom PIN BBM tempo hari. Coba ini bisa diterapkan, tentu akan jauh lebih mudah lagi menikmatinya.

Untuk bisa menikmati belasan bahkan puluhan majalah dan tabloid digital di Aplikasi S Lime, selain koneksi data juga dibutuhkan sisa storage yang cukup besar, mengingat ukuran satu file majalah digital ini kisaran 100 MB lebih. Maka bisa dihitung pula kemampuan daya tampung perangkat yang kalian miliki. Jadi ya hemat hematlah saat mengunduh apabila media penyimpanan perangkat yang kalian miliki tak seluas milik saya. He…

S Lime PanDe Baik 3

Dan sebagaimana yang telah disampaikan diatas bahwa aplikasi S Lime hanya tersedia bagi perangkat Galaxy tertentu, kelihatannya aplikasi ini memang didesain pasti seperti itu.
Ceritanya, hasil unduhan saya copy paste di folder sama pada perangkat Note 3, tapi tetap saja majalah maupun tabloid digital yang bisa dibaca dengan baik pada Galaxy Tab 3V, tak berlaku di Note 3 maupun Note 3 Neo yang saya gunakan.
Yaelah…

Punya cara lain ?

Digitalisasi Majalah Gadget

Category : tentang KeseHaRian, tentang TeKnoLoGi

Berawal dari makin penuhnya isi almari pojok ruang tamu yang dijejali berbagai macam buku, terbersit niatan untuk mendokumentasikannya kembali seperti yang sudah pernah dilakukan sebelumnya. Jika dulu masih mampu secara rutin melakukan aktifitas ini dan merangkumnya sesuai tema kedalam sebuah map berwarna khusus, kini rasanya sudah gag mungkin lagi mengingat waktu luang yang ada kian menipis.

Efisien waktu dan tempat. Cuma itu yang terlintas di kepala. Maka jadilah satu persatu halaman dari majalah dan tabloid gadget, prioritas pertama yang harus dibersihkan keberadaannya dari almari, diabadikan dalam bentuk gambar melalui kamera ponsel Samsung Galaxy Note 3 dan menyimpannya sementara dalam eksternal storage.

Hasilnya lumayan. Beberapa Tips yang sekiranya penting untuk dipelajari, diingat dan diujicobakan, berjajar dengan materi Review atau isu hangat yang rutin diperbincangkan dalam setiap edisinya.

Rencananya kalopun nanti ada waktu luang lagi pasca proyek Digitalisasi ini, semua gambar akan dipilah berdasarkan kategori masing-masing seperti pembagian menurut map berwarna tadi. Hal ini tentu saja akan memakan jauh lebih sedikit tempat -cukup disimpan dalam hard disk eksternal atau keping dvd- dan sedikit waktu, lantaran tinggal jepret dan simpan. Tidak perlu lagi merobek halaman dan mem-filekannya.

Tips Digitalisasi panDeBaik

Aktifitas ini hanya membutuhkan sedikit kesabaran untuk bisa menghasilkan gambar (baca: teks) yang bagus, agar nantinya dapat dinikmati saat senggang. Baik dilakukan saat siang hari (di ruang yang terang), atau malam (dengan tambahan lampu flash).

Saat melakukannya, ada banyak ide yang kemudian muncul untuk sekedar dijadikan bahan sharing lewat jejaring sosial bahkan menjadi sebuah tulisan khusus. Bagaimana hasilnya, lihat nanti saja…

Berburu Informasi dan Berita di Dunia Maya

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Selain mengakses jejaring sosial, salah satu manfaat positif dunia maya yang kini banyak dimanfaatkan oleh sekian juta pengguna ponsel di tanah air dan juga dunia adalah mencari informasi terkini, baik yang berhubungan dengan berita politik, perkembangan isyu hingga infotaiment, hobby dan lifestyle. Semua dapat dinikmati kapanpun, dimanapun dari sebuah perangkat kecil bernama mobile phone. Maka bersyukurlah mereka yang lahir dan besar dijaman mobile teknologi sudah lebih lumrah digunakan.

Secara umum ada beberapa portal dunia maya yang dapat diakses untuk mencari, mendapatkan dan menikmati jutaan informasi seperti yang kami sebutkan diatas tadi. Katakanlah detik.com, kompas online, vivanews, tempo, balipost dan puluhan lainnya yang berskala nasional. Sementara yang berskala internasional dapat diakses melalui Yahoo News, ABC s

Untuk dapat menikmati akses sejumlah portal dunia maya tersebut, kawan hanya membutuhkan dua modal. Koneksi internet dan browser. Untuk dapat mencarinya, ketikkan saja kata kunci ‘berita, news, musik, hobby dan sejenisnya lalu cari dengan memanfaatkan Google atau Yahoo.

Tingkat pembaharuan berita ada yang bersifat harian, jam hingga menit seperti halnya halaman milik detik. Jadi jangan segan untuk selalu mampir dihalaman yang sama secara berkala untuk melihat perkembangan terbaru dari sebuah berita atau isyu tertentu.

Jika halaman akses berupa portal tadi masih belum memuaskan, coba akses beberapa media cetak harian yang kerap kawan baca lewat versi digital mereka. Yang kami tahu ada beberapa alternatif diantaranya seperti Bali Post, Jawa Pos, Kompas, Suara Merdeka, Tribun hingga Suara Indonesia. Beberapa diantaranya dapat dinikmati secara gratis dengan melakukan pendaftaran atau registrasi terlebih dahulu hingga berlangganan dengan cara membayar lewat akun bank tertentu. Teknologi digital media cetak Indonesia seperti ini dikenal dengan istilah e-Paper.

Untuk ketersediaan sejumlah media cetak dalam bentuk e-Paper ini selain dapat diakses melalui halaman portal tertentu, dapat pula diakses dari sejumlah perangkat mobile phone yang bernama ponsel pintar, ponsel yang berbasiskan sistem operasi tertentu seperti Android, iOS (iPhone dan iPad) juga BlackBerry dan Windows. Untuk mendapatkannya, silahkan cari di halaman application market masing-masing perangkat yang kawan gunakan.

Apabila akses informasi tentang hobby, lifestyle ataupun kesehatan yang terangkum dalam berbagai portal berita terkini masih belum jua memuaskan, mungkin kawan bisa melirik beberapa alternatif aplikasi yang memang menyediakan layanan pembelian media cetak edisi Indonesia yang diDigitalkan, baik koran, majalah hingga tabloid. Salah satu yang dapat kami rekomendasikan disini adalah Wayang Force yang dapat diakses melalui halaman portal dan mobile applications. Sayangnya, Wayang Force hanya tersedia di dua sistem operasi ternama, Android dan iOS. Cara kerjanya, pengguna dipersilahkan membeli voucher atau mendepositkan sejumlah uang ke rekening Wayang Force untuk kemudian dibelanjakan sejumlah media lokal Indonesia sesuai total nilai yang dimiliki.

Bosan dengan ketersediaan puluhan media lokal, coba gunakan Scoop Newsstand. Aplikasi mobile yang pula hanya tersedia di dua sistem operasi tersebut, menyediakan lebih banyak varian majalah dan tabloid dalam versi digital baik lokal maupun internasional. Berbeda dengan Wayang Force yang mewajibkan penggunanya untuk membayar sejumlah nilai untuk dapat menikmati sajian, Scoop masih menyediakan akses Gratis bagi beberapa media yang sudah masuk kategori out of date. Beberapa pilihan yang tersedia dapat diunduh dan dinikmati tanpa biaya oleh pengguna kapanpun tanpa adanya batasan waktu.

Seperti halnya berjejaring sosial, menikmati ribuan bahkan jutaan informasi dan berita terkini memang mengasyikkan bahkan kabarnya ada pula yang hingga melupakan waktu untuk bekerja dan beraktifitas lainnya. Jadi gunakan sebaik mungkin teknologi yang kini makin dimudahkan oleh kita semua yah.

Playboy Magazine (ternyata) jauh lebih sopan ketimbang Penthouse

6

Category : tentang TeKnoLoGi

Playboy lagi, Playboy lagi. Tapi yakin deh, ini tulisan terakhir saya yang menceritakan tentang aksi heboh www.pandebaik.com selama bergelut dengan Torrentz, Playboy Magazine hingga PentHouse.

PentHouse ?

Kata terakhir yang saya sebutkan diatas, bagi yang masih belum familiar, kurang lebih bermakna sama dengan halnya Playboy Magazine. Sebuah majalah yang kabarnya dianggap sebagai kategori Pornografi dan katanya mampu merusak pikiran generasi muda bangsa Indonesia hingga sampai sel terkecil sekalipun sehingga dirasa perlu untuk dibabat habis dengan ancaman Undang-Undang.  Sayapun baru teringat dengan PentHouse ketika edisi Playboy yang terdownload sudah mencapai space 3 GB.

Dibandingkan dengan Playboy Magazine baik itu yang merupakan edisi rilis resmi USA, Argentina, Cheko, Greece, Philipina, Mexico hingga Slovenia ataupun edisi bonus tahunannya, ternyata PentHouse jauh lebih vulgar baik dari tema, isi tulisan, data pendukung hingga pose wanita telanjangnya. Hingga jujur saja saya malah jadi enegh saat berusaha menikmatinya halaman demi halaman. Bikin panas dingin…

Aura vulgarnya bahkan sudah terasa ketika pembaca membuka halaman demi halaman sedari awal. Makin menjadi ketika halaman makin dalam. Meski Tema yang diangkat beragam, namun gambar ataupun foto pendukungnya jauh lebih menantang bahkan sudah mengarah pada (maaf) hubungan seks. Berbeda jauh dengan apa yang disajikan dengan Playboy.

Kartun atau gambar sket khas majalah luarpun tergolong banyak tertampil di Playboy Magazine, lengkap dengan satu kalimat di bagian bawah gambar, yang lumayan membuat pembaca tersenyum simpul. Tidak demikian halnya dengan PentHouse. Nyaris 75 persen gambar ataupun foto yang terpampang, mampu membuat para pria normal yang membacanya (termasuk saya tentu saja) menelan ludah dan cepat-cepat membuka halaman berikutnya. Bukan bagaimana, tapi khawatir jika pikiran malah mulai keterusan mengarah ke aksi Pornografi.

Tidak hanya pada liputan utama, tapi juga tulisan pendukung dan iklan tentu saja. Lay outnya sendiri mengingatkan saya pada sebuah majalah gadget local yang kerap menurunkan liputan hal-hal konyol di seputaran kita, hanya sekedar mengingatkan betapa bodohnya manusia percaya pada hal-hal yang bisa dikatakan fenomenal. Begitu pula dengan PentHouse.

Menjual gambar atau pose wanita sexy telanjang dan terekam dalam satu eksemplar majalah barangkali tergolong ‘menarik’ untuk ukuran pria normal di Indonesia yang dikungkung oleh Undang-Undang dan Peraturan serta norma Agama. Sayangnya sepengetahuan saya, larangan itu hanya diperuntukkan bagi Playboy Indonesia saja. Barangkali jikapun kelak PentHouse berkeinginan sama dengan Playboy, ingin melebarkan sayap ke Indonesia, saya yakin bakalan bernasib sama. Dikepruk sebelum diterbitkan. Apalagi seumpama masih mempertahankan gaya liputan mereka seperti yang saya gambarkan diatas.

Padahal kalo Pemerintah dan juga para pembela Norma itu mau jeli, banyak kok tabloid esek-esek yang dijual walau secara sembunyi-sembunyi tak kalah menyajikan pose syur, cerita mesum atau bahkan iklan yang mampu menaikkan syahwat pembacanya. Tapi terlepas dari itu, Playboy Magazine (ternyata) jauh lebih sopan ketimbang PentHouse. Gag percaya ? Donlot aja via Torrentz. Hehehe…

Playboy Magazine, antara Porno atau Nilai Seni ?

7

Category : tentang TeKnoLoGi

Apa yang terlintas di benak Anda ketika saya menyebutkan dua kata kunci yang kabarnya mampu menurunkan sekompi pasukan Front Pembela Islam beberapa waktu lalu ?

“ Playboy Magazine “

Sebutan yang kurang lebih bermakna sama dengan Majalah Playboy (versi Indonesia) ini, benar-benar diidentikkan dengan majalah porno, mesum hingga tak sejalan dengan norma agama bangsa kita Indonesia. Walaupun ada sebagian kecil pendapat yang menyatakan bahwa ‘itu adalah sebuah karya seni yang diakui Dunia’. Wah, mana yang benar nih ?

Bagi saya sih ya bergantung pada pola pikir si pembaca saja kok. Kalo sedari awal memang sudah meyakini bahwa Playboy Magazine atau Majalah Playboy ini isinya full porno, buka-bukaan vulgar, atau gambar wanita telanjang ya saya yakin otakpun bakalan langsung terlintas adegan mesum kendati halaman yang pertama dibuka menyajikan iklan sebuah kendaraan keluaran terkini atau bahkan gambar sebuah botol minuman, sambil tak sabar terus membuka halaman satu persatu secara cepat hingga menemukan apa yang terpikirkan. ‘nah, benar kan apa yang saya katakan ?’ ujar si otak. Hehehe…

Menyimak perkembangannya dari beberapa tahun edisi yang saya dapatkan, terlihat jelas perbedaan kualitas gambar, penampilan majalah hingga penampilan wanitanya tentu saja. Bayangkan, dari tahun 1978 hingga tahun 2011 saya nikmati satu persatu meski tidak semua.

Memang saya akui bahwa dalam beberapa halaman di setiap edisi Playboy Magazine ini, jelas terdapat pose ataupun gambar telanjang para wanita yang mengundang jatuh air liur setiap pria normal di belahan dunia manapun. Namun informasi yang tertuang dalam sekian banyak halaman lainnya tak melulu soal pornografi dan seisinya. Seperti juga majalah dewasa lainnya, informasi seputar hobby ataupun kemaniakan para pria normal terhadap benda diluar wanitapun ada tertampil dalam layout yang memikat. Mencirikan  khas majalah luar, bathin saya. Jika masih bingung dengan bagaimana tampilannya tanpa ingin melihatnya langsung, bayangkan saja majalah lokal seperti Popular, Tempo ataupun RollingStones.

Benda yang saya maksudkan disini berupa mobil mewah gres keluaran brand ternama, motor besar, gadget, ponsel hingga asesoris seperti kacamata ataupun Tuxedo. Bagi yang belum masuk terlalu dalam ke seisi majalah, barangkali malah berpendapat sebaliknya ‘masa sih majalah Playboy edisi USA isinya hanya kaya’gini ?’ saya berani Taruhan loh.

Maka, seperti halnya puluhan majalah bertema khusus lainnya seperti M2 atau Cinemagz yang menjual informasi tentang film, Hai tentang Remaja atau bahkan Tempo yang menjual soal Politik, Hukum dan sebagainya, PlayBoy Magazine pun demikian. Hanya saja memang topic atau bahkan gambar pendukung yang berupa pose wanita telanjang bisa dikatakan sangat jarang kita saksikan di negeri sendiri secara langsung atau bahkan dianggap melanggar norma-norma kesusilaan. Meski sedari tampilan gambar dan halaman bagi saya malahan mampu mengundang decak kagum atas cara pengambilan angle, obyek hingga rasanya sayang jika isi majalah langsung habis ditelan dalam hitungan menit. Musti dicermati dan dinikmati dulu.

Seperti kalimat saya diatas, ya kembali pada pikiran si pembaca saja kok. Kalo memang sedari awal sudah beranggapan bahwa majalah Playboy atau diluar dikenal dengan sebutan Playboy Magazine merupakan majalah yang biasa-biasa saja seperti tag blog saya diatas, ya gag banyak emosi kok yang terasa. Kalopun kemudian mata disuguhkan pose wanita sexy nan menantang ya anggap saja itu semua sebagai Bonus atas kebosanan yang ada dari halaman pertama. Itu saja.

XL Unlimited + Torrentz = Playboy Magazine ?

4

Category : tentang TeKnoLoGi

Sejak resmi bercerai dengan koneksi cdma milik Indosat, StarOne Unlimited, praktis hari-hari saya saat berinteraksi di dunia maya ditemani oleh dua koneksi gsm Indosat IM2 dan XL Unimited. Sayangnya, meski biaya bulanan IM2 Indosat jauh lebih besar ketimbang XL Unlimited, dari segi kecepatan baik saat masih dalam batas Kuota ataupun saat penurunan kecepatan, XL nampaknya lebih mampu menunjukkan taringnya dengan lebih baik. Padahal Indosat itu dimiliki orang luar loh. Mungkin itu sebabnya saya lebih kerap menggunakan koneksi XL ketimbang IM2 untuk semua aktifitas internetan.

Seperti halnya pertama kali menggunakan koneksi StarOne ataupun IM2 Indosat, sudah bisa ditebak sayapun kesetanan dalam memanfaatkan kecepatan koneksi XL Unlimited dan praktis Kuota pun terlampaui dalam waktu singkat. Terbanyak saya manfaatkan untuk mengunduh aplikasi Emulator system operasi ponsel (Symbian 5th Edition dan Symbian ^3) termasuk simulator iPhone dan juga iPad. Disamping itu, sayapun membongkar gudang milik 4Shared, meluapkan hasrat untuk memiliki konten illegal dari album music artis kenamaan era 80 atau 90an. Hasilnya lumayan. Tak kurang dari 70 album soundtrack film, aliran rock hingga punk saya dapatkan dengan sukses termasuk beberapa diantaranya memang sangat ingin saya miliki sejak remaja dulu.

Puas mengubek-ubek halaman 4Shared, sayapun berpindah ke Torrentz. Hal ini saya lakukan ketika koneksi mulai diturunkan seiring penghabisan jatah Kuota bulanan lantaran aksi sedot 4Shared itu. Torrentz  saya jadikan pelampiasan mengingat aksi sedot via p2p itu bisa berjalan hingga selesai tanpa aksi putus atau mengulang proses. Maksudnya, ketika laptop dimatikan tanpa memutuskan koneksi, aplikasi pengunduh Torrentz ini secara otomatis akan menyimpan proses tanpa membatalkannya. Lantas, ketika laptop dinyalakan dan koneksi tersambung, proses pengunduhan akan secara otomatis dilanjutkan hingga selesai tanpa perlu di-Resume. Bagi yang belum familiar dengan istilah Torrentz, silahkan mampir ditulisan saya terdahulu ya.

Trus, kenapa bisa sampai “XL Unlimited + Torrentz = Playboy Magazine ? “

Ini gara-gara keisengan saya seperti halnya saat mencoba 4Shared. Hanya karena kehabisan ide untuk mencari konten download, dari album music, soundtrack film, live concert, akustik hingga Tribute, pilihanpun beralih pada majalah, buku ataupun e-Book gratisan yang ada dalam database mereka. Hingga akhirnya tercetus jua dua kata kunci paling fenomenal sepanjang karir aksi download dunia maya secara pribadi. ‘Playboy Magazine’.

Hasilnya Maknyus. Hanya dalam waktu tiga hari, Torrentz mampu menyedot 142 edisi majalah Playboy dari tahun 1978 (ini tahun kelahiran saya) hingga terbitan gres 2011. Itupun tidak terurut dengan baik, bercampur dengan edisi Lingerie, Nudes dan juga PentHouse. Total space yang dihabiskan sekitar 3,7 GB. Rencananya aksi ini bakalan terus saya lanjutkan hingga genap seukuran satu keping dvd-r atau 4,40 GB. Do’akan saja. Hehehe…

‘Ada Rahasia di balik Rahasia” kurang lebih begitu kata Bang Ali di sinetron Islam KTP yang belakangan menjadi tontotan favorit putri kami, MiRah GayatriDewi. Bukan PanDe Baik pula jika aksi yang saya lakukan ini tanpa tujuan selain maksiat, bakar syahwat dan sejenisnya. Lagi-lagi atas dasar penasaran, ingin tahu dan pada akhirnya malah menjadi pembelajaran untuk bahan BLoG www.pandebaik.com. Setidaknya mampu memberikan warna lain sejauh perjalanan yang telah saya lakoni sejak Mei 2006 lalu. Tidak hanya soal FaceBook, FourSquare ataupun MiRah putri kami, tapi juga ingin mencoba yang jauh lebih panas dan menggelinjang. Hihihi…

High School Musical Magz NKOTB

6

Category : tentang KHayaLan

Ingatan saya langsung melayang ke masa lalu saat membuka lembar demi lembar majalah remaja yang membahas khusus tentang sebuah film ‘High School Musical’. Dari kuis seberapa jauh pengetahuan pembaca terhadap film tersebut, cerita, kalender hingga cerita komiknya. Walo terbayang cuma sbentar, sebelum giliran periksa di sebuah praktek dokter senin pagi kmaren, rasanya seperti pernah melihatnya.

New Kids On The Block. Ya, lima anak remaja yang tahun 90an lalu sempat booming dikalangan kami anak sekolahan, memiliki sebuah majalah yang kurang lebih memiliki kedok tujuan sama, mendekatkan diri dengan para fans mereka.  Jordan dan Jonathan Knight, Danny, Donny dan Joe Mc sapa tuh namanya ?

Saya sendiri kendati ga’pernah mampu untuk membelinya, tapi secara rutin membacanya saat jam istirahat sekolah. Ini karena salah seorang teman kelas rajin membawanya tiap kali edisi terbaru diterbitkan dan bersedia meminjamkannya serta membaca secara bergiliran atw beramai-ramai.

Dari majalah tersebut pula saya bisa mengetahui yang mana cerita rumor atau gosip yang dihembuskan demi mendapatkan popularitas yang mana pula cerita sesungguhnya. Entah sampe berapa edisi saya setia membacanya.

hsm vs nkotb

High School Musical Magazine edisi Indonesia rupanya tak mau ketinggalan. Apalagi saat ini sangat gampang ditemukan beragam majalah yang kurang lebih mengulas hal khusus berkaitan sang idola. Katakanlah Slank Magazine, OI (Orang Indonesia) atau edisi sampingan dari sebuah majalah yang sudah mapan seperti HAI.

Yah, mumpung sang idola masih digemari dan para fans-nya belum beranjak jauh, gak ada salahnya kan mencoba sedikit peruntungan ?

ayooo membaca

5

Category : tentang InSPiRasi

Suatu kali Istri saya pernah bertanya perihal rutinitas membeli majalah bekas ataupun tabloid ponsel tiap bulannya. ‘Apakah isi dari semua majalah ataupun tabloid itu sudah habis dibaca dan diingat ?’

He… pertanyaan yang dilontarkan oleh Istri saya ini, bukan lagi hal baru yang saya dengar dari orang terdekat. Malah pertanyaan yang sama, beberapa kali dalam hidup saya dipertanyakan demi melihat kegemaran saya membeli majalah tabloid baru atau bekas lantas mengoleksi artikel-artikel didalamnya. Ya, beberapa tahun belakangan ini saya malahan jadi rajin mengoleksi isi dari artikel-artikel yang saya anggap menarik untuk dibaca berulang kali, apabila saya perlukan.

Membaca. Ya, hobi ini agaknya yang paling menarik bagi saya pribadi. Bisa saya lakukan kapan saja, dimana saja, dengan media apapun. Jika dirumah, intensitas membaca saya lakukan paling banyak saat duduk santai atau berbaring dilantai. He… kebiasaan yang sangat buruk, kata orang. Malam sebelum tidur atau malah pagi saat ‘bertapa’ di kamar mandi. He….

Jika melihat jauh kebelakang, barangkali ada enam fase atau tahapan terkait hobi membaca dan membeli majalah, tabloid hingga buku ini. Pertama saat bersekolah dasar, saya berlangganan majalah Bobo, dan melahap Donal Bebek hasil pinjaman dari adik sepupu. Favorit saya pada masa ini tentu saja serial komiknya Pak Janggut ‘Monster Danau Kabut’ yang beberapa minggu terakhir saya dapatkan kembali dalam bentuk e-Book. Juga Deni si Manusia Ikan. Diluar itu saya keranjingan membaca komik Smurf dan Steven Sterk.

Kedua saat usia remaja SMA, tingginya minat saya musik membuat saya terkena racun sobat terdekat yang waktu itu berlangganan HAI dan juga Ananda. Kedua majalah ini secara kebetulan punya orientasi sama, yaitu mengulas artis musik dari boy band macamnya NKOTB hingga Metalnya Sepultura dan tentu saja Metallica. Pada masa ini saya sudah mulai berkenalan dengan Perpustakaan Daerah, yang secara kebetulan mereka juga menyajikan komik Asterik & Obelix dan tentu saja Tintin.

Ketiga saat kuliah, minat saya perlahan berpindah pada majalah yang mengulas PC dan software. Tentu saja jauh beda dengan beberapa rekan seangkatan saya yang begitu memuja ‘ASRI’ sebagai bahan bacaan bulanan mereka. Pada masa ini pula saya akhirnya nekat mencoba otak-atik memperbaiki komputer milik teman, tentu saja hanya sebatas softwarenya saja. Itupun dengan pembelajaran otodidak saja.

Fase keempat saya alami saat usai kuliah, mulai bekerja dan akhirnya mampu memiliki uang jerih payah sendiri. Masa ini bacaan saya makin melebar dan berkembang pada majalah dewasa macam Popular. He…. Dapat dimaklumi, karena waktu itu saya baru saja mengenal ‘pacar pertama’ yang tentu saja seperti memiliki PC baru, menarik minat saya untuk mengoprek isinya lebih jauh. Akan halnya yang dilakukan oleh majalah Popular dengan menampilkan ‘the goddess’ versi mereka. Lumayan membuat mata dan sekujur tubuh menjadi menegang dan kaku. Huahauahauahaa……

Kelima, saya alami saat teknologi ponsel plus PC begitu booming di negeri ini, membuat saya selalu tertarik dengan majalah Digicom, Info Komputer, CHIP dan beberapa majalah sejenis lainnya. Tak lupa tabloid Pulsa dan tentu saja SmS saya lahap satu persatu. Apalagi saat fase ini didukung pula oleh tercapainya keinginan terpendam saya untuk memiliki sebuah PDA Pocket PC, usai racun yang disemburkan oleh majalah dan tabloid tersebut masuk kedalam jantung saya….

Setelah menikah dan puas dengan beberapa ponsel juga PDA yang saya miliki, intensitas ketertarikan saya mulai menurun. Istilahnya cooling down. Maka fase keenam, boleh dikatakan fase menuju kedewasaan diri, dimana saya mulai memutuskan untuk mengambil kuliah lanjutan (pasca sarjana) yang ternyata dibarengi oleh kehamilan Istri dan akhirnya kelahiran putri kami, MiRah GayatriDewi.

Fase terakhir ini rupanya membawa banyak perubahan minat. Dimana saya lebih banyak membeli majalah, tabloid dan tentu saja buku, ya buku, yang berkisah tentang kesehatan kehamilan ibu dan bayi, serta referensi pendukung pengerjaan tugas-tugas mata kuliah saya. Apalagi BLoG telah mulai saya kenal sedikit demi sedikit.

Makanya tak heran dalam fase terakhir ini, saya memiliki begitu banyak buku kecil (saku) hingga yang tebalnya mampu meninabobokkan saya. He… Tentu saja buku-buku tebal nan besar ini tak sempat saya baca. Bukan saja lantaran buku ini berbahasa Inggris, tapi juga mata kuliahnya keberu lewat sehingga tak terpakai lagi di sesi berikutnya.

Meningkatnya minat saya akan membaca akhir-akhir ini didukung pula oleh keberadaan toko buku yang dapat dijangkau oleh isi dompet saya, yaitu Toga Mas di Museum Sidik Jari Hayam Wuruk yang kerap memberikan diskon setiap pembelian, dan juga Gramedia Hero yang memiliki cukup banyak koleksi buku murah.

Membaca itu gak ada ruginya kok. Apalagi kalo isi bacaannya itu memang mampu mencerahkan isi kepala kita yang kian hari kian dicemari oleh maraknya video mesum dalam format 3gp, rm, wmv de el el besutan sutradara nakal nan amatiran. Katakanlah misalnya pada majalah CHIP edisi awal tahun 2002 yang mengetengahkan topik ‘Internet dalam Kokpit mobil’ yang ternyata baru saja pertengahan tahun 2008 lalu mulai digalakkan di Jakarta sana. Mobil yang ada fitur wifi-nya, dengan tarif lima ribu rupiah setiap kilometer jalan yang dilaluinya. Ternyata butuh waktu enam tahun agar teknologi tersebut beneran dapat tergunakan didalam masyarakat.

Tak hanya dalam bentuk fisik cetak yang saya sukai, baca dan koleksi. Digitalpun saya kumpulkan. Bahkan di Toga Mas, saya malah menemukan CHIP Edisi Spesial yang memberikan format digital majalah mereka sedari tahun 2002 hingga 2008. Lumayanlah untuk dibaca saat senggang. Tak lupa edisi yang memberikan bonus cd Wikipedia berbahasa Indonesia. Senangnya bukan main. Selain isi dan topik yang diberikan masih bisa saya gunakan paling tidak dalam jangka waktu lima tahun kedepan, kedua edisi tersebut malahan saya dapatkan dengan harga miring. Ha… sangat menggiurkan bagi saya yang berkantong tipis setiap bulannya.

Terlepas dari segala kegemaran saya akan membaca berbagai hal menarik sedari dahulu, setidaknya itu semua mampu memberikan ide ataupun inspirasi saat merencanakan sesuatu atau malahan sebagai bahan dan referensi isi BLoG ini. Suatu hal yang berharga bagi seorang BLoGGer agar jangan sampai kehabisan ide tulisan, mentok hingga hitungan minggu, trus menjadikannya malas ngapa-ngapain termasuk blogwalking. He….

Salam dari PuSat KoTa Denpasar

> PanDe Baik mengajak Rekan dan kerabatnya, siapapun mereka, berapapun usianya, apapun pekerjaannya untuk ikut dalam gerakan ayoooo membaca seperti yang telah dicanangkan oleh Pemerintah beberapa waktu lalu. Gak ada ruginya kok. ? <