Kembali ke Jakarta

2

Category : tentang KeseHaRian

Jakarta Macet… Kalo gak macet, bukan Jakarta namanya… Canda seorang teman ketika kami berkisah tentang Kota Jakarta yang kami kunjungi awal Maret lalu.

Minggu pagi sekitar pukul 11 siang, kami kembali ke Jakarta untuk mengikuti Kunjungan Kerja bersama beberapa atasan sekaligus berkoordinasi dan mencari pembelajaran lebih lanjut menindaklanuti keinginan untuk membentuk Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) di Kabupaten Badung. Adapun agendanya adalah menuju LPSE Jawa Barat yang pada saat Rapat Koordinasi (Rakor) kemarin didapuk sebagai LPSE terbaik sekaligus menuju Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), tempat kami pendidikan beberapa waktu lalu.

Atas bantuan pengawalan yang diberikan sedari Bandara ke Jakarta hingga ke Kota Bandung dan sebaliknya, kemacetan yang dahulu menjadi momok bagi kami tak lagi ditemui sepanjang perjalanan. Bunyi awal sirene yang menyerupai nada SmS kartun animasi Malaysia Upin dan Ipin mengawal perjalanan seakan tak pernah padam kendati hujan mengguyur hingga Kota Kembang. Sempat miris juga siy sebetulnya, setelah menyaksikan ratusan mata memandang kami disepanjang jalan yang dilewati.

Bandung yang dingin kami lalui hanya semalam saja. Kalau tidak salah kami menginap di Hotel Mutiara. Sebuah hotel kecil yang berada di jalan Kebun Kawung 60 Bandung tak jauh dari Hilton, sebuah hotel berbintang dimana beberapa atasan kami menginap. Kunjungan Kerja menuju kantor LPSE Jawa Barat pada Senin pagi yang berada di daerah Dago Atas kami capai tak sampai setengah jam dari lokasi hotel.

Pengawalan kembali kami rasakan ketika meluncur menuju Ibukota Jakarta yang sedianya menjadi tujuan berikut dari agenda Kunjungan kami. Melintasi ruas tol yang dahulu terasa begitu panjang dan lama, dapat dilalui dengan cepat berkat jalur khusus yang disediakan oleh pihak Jasa Marga. Keiistimewaan yang kami dapatkan ini sempat memicu pikiran nakal saya untuk berkhayal. Apa yang kira-kira bakalan terjadi seandainya dalam waktu yang bersamaan Ibukota Jakarta didatangi oleh rombongan dari daerah yang melakukan kunjungan kerja dan mendapatkan bantuan pengawalan seperti ini. Siapa yang didahulukan ?

Tak perlu menunggu waktu lama, Tuhan menjawab pertanyaan yang terlintas dalam benak saya.

Ketika kami melintas di Jalan Gatot Subroto, dari arah belakang terdengar nada yang sama dengan nada SmS milik Upin & Ipin tersebut. ToT ToooT… ToT ToooT… Rupanya seorang patwal bermotor Harley meminta Bus yang kami tumpangi untuk minggir dan memberi jalan pada kendaraan yang sepertinya milik pejabat militer. Maka pecahlah tawa kami semua ketika menyadari hal itu benar terjadi.

Kemacetan Ibukota Jakarta tak berlaku bagi kami. Tidak demikian halnya dengan orang lain.

Telat 5 menit tak apa kan ?

3

Category : tentang KeseHaRian

Melintasi jalan raya apalagi pada ruas jalan besar seringkali ditemui orang-orang yang seenaknya melajukan kendaraannya tanpa memperdulikan keselamatan orang yang dilalui maupun bakalan berpapasan dengannya. Paling terburuk biasanya sih terlihat pada perhentian lampu lalu lintas (traffic light), dimana pada beberapa titik tertentu, entah si pengendara memang sudah hafal dengan situasi giliran lampu merahnya ataukah memang cuek dengan marka jalan yang sudah dibuat sedemikian rupa untuk mengatur laju lalu lintas dua arah.

telat-5-menit.jpg

Pengendara (biasanya sih) bermotor terlihat menghentikan lajunya pada lajur ruas jalan yang sedianya dilalui oleh kendaraan dari arah berlawanan, melebihi batas garis marka blok putih lurus. Artinya seumpamanya saja ada hal-hal emergency yang melintas dadakan, dan harus melalui lajur jalan tersebut, apakah pengendara tersebut bisa mempertanggungjawabkan kelakuannya tadi ?

Malah bisa-bisa si pengendara mencaci maki seperti halnya hari sabtu pagi kemarin, di perempatan jalan Kebo Iwa -Gatsu Barat saat Ambulance untuk orang sakit yang terpaksa melanggar lampu merah dari arah berlawanan langsung menerobos rombongan para pengendara ndablek. Malah dengan soknya caci maki para pengendara terdengar di telinga penulis, yang waktu itu menjadi supir pulang ke kampung Istri, dengan mengatakan sopir Ambulance gak tau aturan apa…

Lha, siapa yang salah toh ?

Pembenaran perilaku para pengendara motor tadi rupanya gara-gara mereka telat ngantor.

Lha, dia yang telat ngantor kok malah nyalahin orang lain, bukankah lebih baik telat dikit daripada membahayakan nyawa orang lain, ya gak ?