Akun Jejaring Sosial yang bikin Ketagihan (2)

6

Category : tentang TeKnoLoGi

Twitter. Setelah akun FaceBook dinyatakan booming saat masa kampanye pemilihan Presiden Amerika Serikat, Twitter pula merupakan salah satu media akun Jejaring Sosial yang dimanfaatkan secara maksimal untuk menjaring pemilih yang cenderung ‘lebih intelek. Dikatakan demikian karena adanya aturan keterbatasan karakter pada pilihan ‘Update Status’ yang hanya mampu mengakomodir sebanyak 140 karakter saja. Lebih sedikit dari pesan sms yang mencapai 160 karakter. Itu sebabnya, pengguna Twitter dituntut pintar dalam membagi informasi dengan memenggal kalimat per kalimat agar dapat lebih mudah dimengerti atau dipahami oleh pengguna lainnya.

Jika pada akun FaceBook, pengguna diwajibkan untuk menyetujui proses pertemanan untuk mendapatkan informasi atau kabar terkini dari kedua pihak pengguna, maka pada akun Twitter tidak demikian adanya, meski ada peraturan tak tertulis untuk wajib mem-FollowBack akun pengguna lainnya. Itu sebabya di dunia Twitter dikenal dua istilah status pertemanan yaitu Follower atau Pengikut adalah pengguna yang lain yang memilih untuk mengikuti dan mengetahui segala informasi yang kita sampaikan lewat akun Twitter, dan Following untuk daftar akun pengguna lain yang kita ikuti informasi yang disampaikannya.

Istilah lain yang kemudian wajib diketahui adalah Follow (opsi untuk mengikuti informasi dari pengguna Twitter lainnya) dan unFollow (opsi untuk menghentikan informasi dari pengguna Twitter lain yang sebelumnya diikuti). Istilah ini kerang lebih sama artinya dengan istilah ‘Add Friend’ dan ‘Remove Friend’ pada akun FaceBook, namun secara default tidak memerlukan persetujuan dari akun yang akan diikuti informasinya. Bicara soal ikut mengikuti ini, beberapa aplikasi bahkan mampu memberikan opsi untuk mendapatkan informasi dari akun Twitter sesorang tanpa harus melakukan aksi ‘Follow’ tadi.

Ada juga istilah Mention untuk melakukan tembusan kepada pengguna akun Twitter lain yang dapat diketahui oleh pengguna Twitter secara umum dengan cara menggunakan tanda (@). Sekedar informasi bahwa Tanda (@) inilah yang kemudian menjadi tanda pengenal identitas antar pengguna akun Twitter. Ada lagi istilah Direct Message untuk mengirimkan pesan pribadi kepada pengguna akun Twitter tertentu yang mensyaratkan pertemanan kedua belah pihak.
Terbatasnya penggunaan karakter yang mampu diakomodir dalam setiap informasi yang disampaikan, membuat ketenaran akun Twitter tak seheboh jumlah pengguna akun FaceBook. Meski demikian, pemanfaatan akun Twitter lebih banyak digunakan oleh para selebriti, tokoh tertentu hingga pelayan masyarakat untuk berbagi informasi yang penting atau bermanfaat hingga akun Anonim yang hanya sekedar melemparkan joke, lelucon bahkan cerita horor dan informasi korupsi.

Beberapa akun Twitter yang tergolong memiliki banyak pengikut atau Follower lantaran secara berkala berbagi informasi yang dirasa dibutuhkan, datang dari @ladygaga yang tempo hari batal manggung di Indonesia, @Poconggg milik Ariefmuhammad pemilik blog yang berhasil merilis sebuah Novel atau @blogdokter akun yang rajin berbagi tips dan informasi kesehatan.

Jika kawan sudah merambah ke akun Twitter, jangan lupa follow akun @pandebaik :p

Foursquare. Berbeda dengan dua akun Jejaring Sosial sebelumnya, Foursquare atau yang lebih dikenal dengan istilah 4SQ ini lebih memanfaatkan lingkungan sekitar atau lokasi tertentu untuk berbagi informasi ataupun status kepada pengguna lainnya. Untuk bisa menggunakannya secara akurat, setidaknya dibutuhkan perangkat mobile yang mendukung GPS sehingga memudahkan pencarian Venue atau istilah lain dari lokasi, yang terdekat dengan pengguna. Meski tanpa memanfaatkan teknologi tersebutpun, pengguna atau pemilik akun Foursquare masih tetap dapat menggunakannya.

Jika dalam akun FaceBook dikenal dengan istilah ‘Update Status’, maka dalam akun Foursquare dikenal dengan istilah ‘Check Ins’. Tapi tunggu dulu, jangan berpikiran negatif jika membaca istilah tadi. Lantaran akun Foursquare yang berbasis Lokasi inilah, maka istilah ‘Check Ins’ dipergunakan sebagai tanda bahwa kita sebagai pengguna akun, memang benar berada didalam area atau Venue tersebut.

Salah satu manfaat terbesar dari penggunaan akun Foursquare ini adalah mampu menemukan berbagai tempat atau lokasi yang sekiranya dicari berdasarkan kata kunci tertentu di sekitar pengguna secara cepat. Misalkan kategori Kuliner atau tempat makan, dari hasil pencarian di akun Foursquare bakalan tertera daftar Venue yang ada diseputaran lokasi pengguna yang masuk dalam kategori tersebut. Tentunya daftar Venue yang ada merupakan hasil input atau catatan yang telah didaftarkan sebelumnya oleh pengguna akun Foursquare lainnya.

Untuk mendukung bagaimana gambaran lokasi atau Venue yang akan dikunjungi, biasanya akan ada beberapa komentar dari pengguna Foursquare sebelumnya yang dapat dijadikan sebagai acuan. Bisa juga dengan melakukan kontak pada ‘sang penguasa’ lokasi yang dikenal dengan istilah Mayor. Bahkan ada juga beberapa Diskon yang ditawarkan oleh ‘penguasa’ Venue tadi sebagai daya tarik untuk mengundang pengguna akun Foursquare lainnya berkunjung.

Meski demikian, dari sekian banyak pengguna akun Foursquare ada juga sebagian yang memilih untuk menjadi seorang ‘Jumper’. Istilah ini muncul lantaran akun Foursquare menawarkan sejumlah Badges yang dapat diraih oleh pengguna Foursquare atas kunjungan mereka pada Venue tertentu, dengan memenuhi syarat tertentu pula. Badges ini minimal dapat dijadikan sebagai tanda bahwa yang bersangkutan pernah datang dan hadir di Venue tersebut. Nah, istilah pengguna ‘Jumper’ tadi merupakan pengguna akun Foursquare yang sebenarnya tidak sedang berada di Venue tersebut alias melakukan aktifitas ‘Check Ins’ bohongan, untuk mendapatkan sejumlah Badges dengan berusaha pula memenuhi persyaratan tadi. Penulis sendiri merupakan pengguna akun Foursquare kategori terakhir.

LinkedIn. Akun Jejaring Sosial yang satu ini bisa dikatakan sangat berbeda dengan akun Jejaring Sosial lainnya, lantaran secara fungsi bisa dikatakan lebih mirip Networking antar pekerja professional ketimbang jaringan pertemanan biasa. Salah satu opsi pilihan yang menguatkan pemikiran diatas adalah adanya kolom biodata pekerjaan, pengalaman dan summary dari pihak yang barangkali berwenang untuk memberikan pernyataan demi mendukung kredibilitas dari penggunanya.

Dari segi jumlah, peminat akun LinkedIn bisa dikatakan sangat minim jika dibandingkan akun FaceBook atau bahkan Twitter sekalipun. Namun fungsi utama dari yang bisa Penulis tangkap adalah sebagai satu referensi bagi pemberi lowongan pekerjaan atau bahkan pencari kerja yang memang membutuhkan tenaga atau tempat kerja yang sepantasnya dengan kemampuan yang dimiliki.

Meski mengusung maksud serius, akun LinkedIn memiliki pula opsi untuk berbagi Status ataupun group yang sedianya digunakan sebagai ajang diskusi atau mailing list berbagi informasi. Namun jangan harap bisa menemukan fitur Tag atau opsi menulis di Wall teman seperti halnya akun FaceBook, lantaran LinkedIn memang tidak mengakomodir kemampuan tersebut.

Sebenarnya masih banyak akun Jejaring Sosial lainnya yang bisa diulas kali ini seperti :

  • Google+ akun yang dikembangkan oleh raksasa mesin pencari Google untuk menyaingi keberadaan akun FaceBook yang sayangnya bisa dikatakan gagal jika dilihat dari pengembangannya,
    Koprol akun buatan anak bangsa yang kemudian diakuisisi oleh Yahoo! dengan memanfaatkan Lokasi atau Venue sebagai basis layaknya Foursquare,
    Hi5 akun Jejaring Sosial yang muncul dijamannya Friendster namun kurang menggeliat keberadaannya di tanah air,
    MySpace masih seangkatan dengan Friendster dan Hi5, salah satu akun Jejaring Sosial yang sangat diminati di Amerika sana. Menggunakan istilah Moods untuk emoticons yang dapat digunakan dalam menggambarkan suasana hati pengguna, kini lebih banyak digunakan oleh para musisi yang ingin mengunggah karyanya untuk dikenal lebih luas di kalangan pengguna MySpace.
  • Boleh-boleh saja jika Kawan merasa asyik untuk melakukan hubungan sosial lewat akun jejaring macam diatas, demi tujuan ‘mendekatkan yang jauh’, asal jangan sampe lalu menjadikan hubungan ‘menjauhkan yang dekat’ yah.

    Akun Jejaring Sosial yang bikin Ketagihan (1)

    2

    Category : tentang TeKnoLoGi

    ‘Hare Gene gag punya FaceBook ?’ ledek seorang kawan saat mengetahui kawan lama masa SMA kami yang kedapatan masih enggan bergabung di akun jejaring sosial hasil karya Mark Zuckerberg yang fenomenal itu.
    FaceBook bisa dikatakan merupakan salah satu penyebab utama tingginya tingkat penggunaan layanan data internet di Indonesia, termasuk salah satu penyebab juga tingginya tingkat penjualan perangkat mobile smartphone seperti BlackBerry. Akan tetapi tahukah kawan jika FaceBook hanyalah merupakan salah satu dari banyak akun jejaring sosial yang istilah kerennya Social Networking yang begitu digemari baik di Indonesia maupun secara global ?

    Akun Jejaring Sosial ini kurang lebih dapat diartikan sebagai satu peta atau struktur yang menghubungkan satu individu dengan individu lainnya, kelompok atau komunitas yang dilansir dalam bentuk elektronik atau digital dengan memanfaatkan kemajuan teknologi dunia maya. Karena sifatnya yang mampu menghubungkan itulah, tidak menutup kemungkinan bahwa struktur yang terlibat didalamnya berasal dari berbagai tingkatan persaudaraan, pertemanan, pendidikan bahkan kepulauan dan negara.

    Tujuan dari penggunaan akun Jejaring Sosial ini sebenarnya cukup sederhana, sebagai tali silaturahmi antar individu, menjaga agar tetap dapat berkomunikasi walau terpisah jarak yang sangat jauh hingga memecahkan masalah yang barangkali sedang dihadapi oleh masing-masing individu. Yang sayangnya, kini malah sudah melenceng jauh dari konsep awal tersebut.

    Ada banyak kasus penyimpangan penggunaan atau pemanfaatan akun Jejaring Sosial yang bisa dicatat sejauh ini. Dari penipuan pembelian online, penculikan atau melarikan anak gadis, permusuhan dan pelaporan pencemaran nama baik, hingga kampanye satu paham ideologi secara radikal. Dari semua catatan tersebut rata-rata malah menyalahkan keberadaan akun Jejaring Sosial , padahal yang sebenarnya patut disalahkan adalah penggunanya, karena diluar sana ada banyak manfaat yang dapat dipetik dari pemanfaatan akun Jejaring Sosial ini.

    Balik ke ‘FaceBook hanyalah salah satu dari banyak akun Jejaring Sosial’, berikut beberapa yang bisa kami sajikan sebagai gambaran.

    Friendster. Bicara akun Jejaring Sosial rasanya gag bakalan lepas dari akun yang satu ini. Didirikan pada tahun 2002 saat belum banyak penduduk Indonesia melek akan dunia maya, Friendster sudah mencoba untuk hadir di bagian dunia Asia Tenggara. Mampu meraup 8,2 Juta pengguna merupakan salah satu wujud keberhasilan pencapaiannya. Bahkan kabarnya Friendster dinobatkan sebagai asal muasal dari semua akun Jejaring Sosial yang sedang trend di masa kini. Kemampuannya yang dapat digunakan untuk berbagi informasi, data pribadi, foto hingga video rupanya digemari oleh 90% pengguna Asia seperti yang dicatat oleh Alexa (Wikipedia). Sayangnya, saat pihak pendiri Friendster merasa kewalahan dengan gempuran para pesaingnya, akhirnya memilih untuk menghapus semua konten dan beralih ke situr permainan online.

    FaceBook. Merupakan salah satu akun Jejaring Sosial yang paling diminati oleh setiap pengguna baru dunia maya. Didirikan pada tahun 2004 oleh Mark Zuckerberg sebagai situs pertemanan di kalangan universitas Harvard yang secara perlahan tapi pasti makin berkembang dan meluas. Akun FaceBook di Indonesia bahkan global kalau tidak salah baru mulai booming ketika mulai digunakan sebagai media kampanye oleh Presiden Amerika terpilih Barrack Obama yang diikuti pula dengan ketenaran perangkat ponsel pintar BlackBerry. Dengan jumlah pengguna yang mencapai angka 900 juta, membuat ketenaran FaceBook sebagai akun Jejaring Sosial yang kemudian berhasil difilmkan lewat the Social Network. Jumlah pengguna FaceBook di Indonesia kabarnya menduduki peringkat keempat di dunia.

    Untuk bisa menggunakan serta memiliki sebuah akun FaceBook pada dasarnya hanya bermodalkan satu alamat email saja. Walaupun kemudian terdapat pembatasan umur, faktanya masih bisa diakali dengan melakukan pemalsuan identitas terutama pada pilihan Tahun Lahir. Itu sebabnya, banyak anak-anak usia sekolah bahkan baru lahirpun sudah memiliki akun FaceBook.

    Banyak hal yang dapat dilakukan pada akun Jejaring Sosial yang satu ini. Dari Update Status sebagai tanda kabar terkini dari pengguna, berbagi foto, video atau sekedar link menuju alamat web lainnya, silaturahmi dan diskusi, bermain game online, bahkan kini sudah mulai dimanfaatkan sebagai tempat berjualan atau bisnis secara online.

    Untuk asas manfaat, sebenar banyak nilai positif yang bisa diambil dari penggunaan akun FaceBook ini. Salah satunya seperti yang Penulis lakukan tahun 2010 lalu, mengumpulkan kembali puluhan teman lama masa SMA untuk kemudian melakukan Reuni sekolah, atau membentuk Organisasi sosial keagamaan di sepanjang tahun 2011. Bahkan sempat juga digunakan sebagai sarana untuk memperluas jaringan pembaca pada blog pribadi dan mengais rejeki di Koran Tokoh. :p

    Meski demikian, lantaran rentan akan pemalsuan identitas seperti yang disebutkan diatas, pemanfaatan akun Jejaring Sosial FaceBook pun bisa jadi malah mendatangkan nilai Negatif bahkan cenderung merugikan. Contohnya ya seperti yang disebut sebelumnya. Penipuan,perselingkuhan, fitnah, saling ejek bahkan perkelahian pun bisa terjadi hanya gara-gara Status FaceBook. Itu sebabnya perlu ditanamkan pemikiran untuk berhati-hati atau waspada saat bertingkah laku di akun FaceBook. Hingga tidak salah jika ada yang mengatakan ‘Update Statusmu, Harimaumu’.