Nikmati Liburan Akhir Pekan, Berburu Hotel lewat Traveloka

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang TeKnoLoGi

Dua tahun terakhir rasanya saya lebih suka melewatkan waktu libur di akhir pekan dengan cara menginap di obyek wisata tertentu atau penginapan terdekat dari lokasi wisata yang beken dikenal dekat dekat rumah. Tentu dengan mengajak anak-anak serta, ikut dalam misi liburan, refreshing suasana dan menebus rasa bersalah karena hingga kini, saya belum pernah mengajak keluarga berwisata ke luar daerah, di sela perjalanan dinas yang saya lakukan selama ini.
Sebagaimana yang sering dilakukan oleh ratusan PNS di luar sana.

Maka Bedugul, Ubud, hingga obyek wisata Air Panas Penebel pun coba dilakoni satu persatu.

Meski tidak di setiap akhir pekan, berhubung terkendala agenda, biaya dan juga kesempatan, namun minimal momen tertentu kami upayakan bisa dimanfaatkan dengan baik.
Libur panjang, Lebaran atau Libur sekolah, coba disempatkan sekali dua untuk bersantai sejenak dua hari satu malam tanpa beban.
Membunuh ponsel dan menikmati Quality Time bersama keluarga.

Adalah Traveloka. Satu diantara banyak pilihan aplikasi yang saya manfaatkan untuk mencari tahu hotel atau penginapan yang ada di sekitaran lokasi atau obyek wisata yang ingin kami kunjungi.
Dengan memasukkan tujuan destinasi juga waktu menginap, Traveloka akan memberikan sejumlah hasil berdasarkan tingkat kepopuleran review dari mereka yang sebelumnya pernah memanfaatkan aplikasi untuk melakukan hal serupa.
Bila dibutuhkan, tersedia beberapa pilihan filter lanjutan diantaranya kisaran biaya, fasilitas yang diharapkan ada, hingga nilai review atau kelas dan bintangnya.
Cukup memuaskan kok hasilnya.

Namun untuk langkah pemesanan hotel, saya lebih suka menghubungi nomor kontaknya langsung ketimbang memesannya lewat aplikasi Traveloka. Secara harga biasanya dapat lebih murah lewat negosiasi, pula info fasilitas bisa lebih akurat didapat. Karena dalam versi web terkadang semua hal tersebut jarang diUpdate sesuai kondisi terbaru. Termasuk soal ketersediaan kamar.
Untuk dapat melakukannya, kita bisa memanfaatkan halaman Google, mencari tahu nomor kontak berdasar nama hotel atau penginapan yang dituju. Termasuk peta lokasi yang dapat dihubungkan dengan Maps milik Google agar tidak tersesat saat waktu keberangkatan tiba.

Ada beragam kesan dan tips yang saya dapatkan kemudian. Setelah berproses dan menikmati hasil buruan sendiri.
Bahwa untuk kebutuhan refreshing suasana, kelak kami akan memilih akomodasi terdekat dari obyek wisata yang diinginkan. Agar bisa lebih pagi mencapai lokasi tanpa macet dan halanga lainnya.
Sedangkan untuk kebutuhan bersantai, kami akan memilih paket yang menyediakan fasilitas kamar double atau family room, atau satu villa dengan menyertakan kedua orang tua ikut serta. Secara tenaga mereka bisa dimanfaatkan juga untuk menjaga anak-anak disela aktifitas di lokasi. Hehehe…

Liburannya Masih (terasa) Kurang

Category : tentang Opini

Alarm berdering keras sedang mata masih merasakan kantuk, pagi sekitar pukul 4.45 wita. Masih kebingungan dengan suara notifikasi yang berubah-ubah pada pengaturan ponsel Hisense yang kini mulai menggantikan keberadaan ponsel Note 3 secara permanen.

Liburan sudah habis.

Meskipun masa Cuti Lebaran yang diberikan cukup lama, seminggu tepatnya, namun rasa-rasanya Liburan ini masih (terasa) kurang. Gegara dipenuhi kegiatan adat dari pernikahan sepupu hingga rahinan Tumpek Landep. Baru hari Minggu kemarin saja saya dan istri juga anak-anak bisa melewatkan waktu di luar rumah. Capeknya luar binasa.

Tapi ada juga sisi positifnya. Kami jadi ndak perlu mengajukan ijin atau permisi di hari kerja. Meskipun ijin atau permisi di hari kerja bagi sebagian besar PNS sangat nikmat. Berleha-leha di luar kantor tapi tetap terima gaji. Ups…

Biarpun begitu, hari ini jadi agak berbeda. Lantaran Intan putri kedua kami, mulai masuk sekolah PG di hari pertama. Rencananya sih bakalan disekolahin dua hari sekali. Biar dia ndak bosan dengan rutinitas baru, selain ndak merepotkan kakek neneknya yang berencana mengantarkannya pulang pergi ke TK banjar Tainsiat. Maka itu pagi-pagi tadi ia dibangunkan untuk mandi dan sarapan lebih awal. Nanti deh cerita tentang dia dilanjutkan.

Jalanan Kota Denpasar masih terasa lengang. Saya pribadi ndak ada mengingatkan kawan-kawan seruangan untuk ngantor tepat waktu. Sepertinya sih masih nuansa liburan. Jadi santai sehari rasanya boleh-boleh saja. Meski gaji tetap saja berjalan penuh. Hehehe…

Nulisin cerita hari inipun dilakukan di meja kerja. Mumpung belum ada kerjaan yang bisa diambil, atau sedikit menunda pekerjaan yang dibawa kerumah kemarin. Ingin menikmati liburan sedikit lebih panjang. Karena yang kemarin itu masih saja (terasa) kurang.

Liburan Sehari di ESPA Yeh Panas Penebel

1

Category : tentang PLeSiran

Awalnya kami berpikir bahwa ESPA Yeh Panas Penebel ini adalah sebuah resort di kawasan Penebel dekat obyek wisata Air Panas yang pernah kami kunjungi sekitar 2-3 tahun yang lalu. Memiliki kolam tersendiri, yang dapat kami nikmati bersama anak-anak, kapanpun kami mau.

Lewat Jauh

Ketika kendaraan memasuki Desa Wongaya Gede, dimana destinasi tercapai pada peta Google Maps, sesuai pencarian kami terkait Restoran Yeh Panes Penatahan, rupanya perjalanan lewat jauh dari tujuan.
Kaget juga pas kontak ‘pemilik hotel’nya yang mengatakan bahwa lokasi ESPA berada di jembatan pertama saat turun dari jalur utama.
Aduh ! Jangan-jangan…

Ya.
Jangan-jangan…

dan memang benar kelihatannya bahwa lokasi ESPA yang dimaksud adalah sama dengan lokasi obyek wisata Air panas yang pernah kami kunjungi itu.
Ealah…
Padahal tadinya sudah pede abis bahwa lokasi liburan bakalan jauh dari objek dimaksud. He…

Cukup Mahal

Untuk sebuah penginapan dengan harga 600ribu plus 150rb untuk sebuah extrabed tambahan, kelihatannya dari sudut pandang kami, nilai tersebut cukup mahal saat melihat langsung kondisi penginapan dimaksud.

ESPA PanDe Baik 1

Sebuah kamar unit dengan kamar mandi dan balkon depan dengan kondisi bangunan yang sudah tua meski baru selesai direnovasi menurut info pengelolanya, tanpa fasilitas tambahan pemanas air, dengan kondisi AC juga kulkas yang tak lagi dingin. Rasanya memang tak sebanding dengan apa yang kami bayangkan.
Lantaran dengan nilai yang sama, kami bisa mendapatkan fasilitas yang jauh lebih baik di penginapan awal liburan tempo hari, Mangosteen Ubud.

Fasilitas

Dalam paket tersebut sebenarnya sudah termasuk Makan Pagi dan fasilitas Kolam Air Panas pribadi, diluar lingkungan kamar atau terpisah, selama 1 jam per harinya.
Apabila ingin berendam di kolam umum, bisa sepuasnya. Standar pelayanan hotel tentu saja.

Untuk melakukan panggilan Room Service, kami kontak nomor pengelola melalui ponsel lantaran tidak ada fasilitas telepon di dalam kamar.
Satu masukan lagi tentu saja.

Ukuran bed cukup besar. Cukup untuk si Ibu dan dua anak. Sulung tidur di extrabed sedang si Bapak di kursi panjang. Syukur aja sudah terbiasa tidur dalam kondisi apapun. He…
Cuma mungkin lantaran lampu balkon yang terang, kami selalu beranggapan saat terbangun, hari sudah pagi dan gak sabaran buat nyemplung kolam lagi.
Tapi nyatanya waktu masih menunjukkan pukul 11.49 malam. Widiiih… malam yang panjang kelihatannya.

Anak-anak nyenyak juga tidurnya.
Kami terbangun lagi sekitar pukul 5.30 pagi dimana matahari disini masih malu untuk menampakkan diri.
Tampaknya kami memang satu-satunya tamu yang menginap di areal ini.

Menu Makanan

Untuk Dinner, menunya standar sih.
Dengan harga yang 1,5 atau 2 kali lipat harga pasaran. Tidak ditanggung dalam paket.
Bisa dimaklumi kok.
dan dengan rasa yang standar pula.

Tapi ya mau gimana lagi ?
Karena di sekitar sini tampaknya ndak ada pilihan lain, kecuali mau turun ke Kota Tabanan yang jarak dan medannya cukup gelap terpantau. Beda dengan Ubud.
Bahkan Gojek pun nyerah saat dilihat dalam menu Food-nya. Hehehe…

Gojek ESPA

Jadi ya dinikmati saja.

Cuma yang kasihan ya anak-anak.
Mereka pesan Spagetti, ternyata hambar. Ndak ada rasanya. He…

Menu Makan Pagi, macemnya ndak jauh beda. Ditambah kopi dan Juice Semangka. Yah, cukup membuat anak-anak senang menemukan yang dingin-dingin sejauh ini.

Air Panas

Ada tiga klasifikasi fasilitas air panas yang bisa ditemukan disini.
Air panas di kolam umum. Bisa dinikmati kapanpun kami mau. Baik yang berukuran besar maupun kecil.
Trus ada Air panas di kolam pribadi areal depan. Modelnya sama, cuma arealnya tertutup dinding masif. Lingkupnya lebih kecil. Bisa dinikmati dalam hitungan jam sesuai pesanan.
Ketiga, Air panas di kolam pribadi tapi ada fasilitas bubble nya. Jadi bergelembung semacam jacuzzi gitu. Kami bisa menikmatinya gratis selama sejam.

ESPA PanDe Baik

Air Panas di Penebel ini sedikit kotor jika dibandingkan dengan objek wisata Air Panas di Kintamani atau Banjar Buleleng. Mungkin karena pengelolanya terbatas dan lingkungannya masih alam hijau.
Lumayan bikin gatel anak-anak.
Baju kaos singlet putih yang saya gunakan juga berubah warna dalam sekali nyemplung. Jadi kuning. Hehehe…

Asri

Secara saya pribadi sih, tempatnya asyik.
Lingkungannya hijau dan asri.
Nikmat kalo nginepnya disini berduaan dengan pacar. Eh… Istri maksudnya.
Kalo dengan anak-anak, apalagi tiga pcs, sepertinya amat sangat terasa repotnya. Jadi ndak ada santai-santainya.

Akses masuk ke ESPA Yeh panes, cukup gampang dikenal. Cuma jalan aspalnya memang membutuhkan kendaraan yang… yang ya gitu deh. Khas jalanan di Tabanan. Tapi ukuran Avanza masih bisa lewat kok.

Akses menuju kamarpun sebenarnya ndak jauh. Cuma karena lokasinya diatas saja, jadi terasa nanjaknya. Naik naik tangganya. Pas dicobain bolak balik tiga kali ambil pasokan ke mobil, terasa juga nafasnya.

Cuma karena berada di alam terbuka, efeknya jadi banyak nyamuk dan binatang kecil bersliweran saat tidur ataupun bersantai saat luang.

Pokoknya Liburan

Terlepas dari kurang lebihnya cerita diatas, kali ini pokoknya temanya ya harus liburan. Karena besok kelihatannya bakalan makin banyak tugas dan kerjaan menunggu di kantor.
Jadi, bye bye dulu deh.
Saya mau nikmati liburan dulu ya.
Kalian asik asik aja dulu disitu.

EGP ya EGP lah sudah…

Liburan

Category : tentang PLeSiran

Aha… membaca kata Liburan, pasti lah yang terbayang adalah istirahat panjang, nginep dimana, main kemana, atau apa gitu… yang pasti ya identiknya Santai… atau Plesiran…

Liburan…
Ya, Liburan.

Ini sebenarnya lagi mau balas dendam karena liburan panjang kemarin, waktu pribadi saya tersita banyak ulian meladeni draft Temuan BPK. Sementara kawan lain pada asik asik Liburan bareng keluarga, jauh dari rumah, jauh dari kantor, dan sudah tentu jauh dari Kerjaan.

Maka hari ini, tanpa ba bi bu, saya memutuskan untuk Liburan.
Ke tempat yang jauh dari gangguan sinyal, desa pelosok di Tabanan sana, dan cukup mengandalkan satu jaringan kartu berkekuatan 4G LTE sebagai backup.
Gak salah memang.
Sementara jaringan utama yang saya gunakan sudah blank, kabur entah kemana, si SmartFren ini masih bisa ambil jatah 4 MBan, masih lumayan buat streaming YouTube bagi tiga perangkat lainnya.

Tabanan…
Yup. Ini lagi nekat ambil jalur ke arah barat. Iseng aja. Tanpa rencana matang.
Berbekal keinginan mengabulkan permintaan si Intan yang berkali-kali meminta kami agar main lagi ke Yeh Panas, maka dilakukanlah pencarian lewat Traveloka dan Google untuk memastikan info lanjutannya.

Maka jadilah kami disini, menginap semalam, menikmati malam minggu tanpa beban, dan gangguan telepon dari orang kantor.

EGP ya EGP sudah…

Menikmati Liburan di Ubud Bali

1

Category : tentang PLeSiran

Saat anak anak kami ajak masuk ke halaman private Villas di Citrus Tree Mangosteen, Ubud Bali sore 1 Januari kemarin, mereka sontak melonjak kegirangan. Tanpa menunggu ba bi bu, langsung membuka baju dan nyemplung ke kolam. Ahay…

Orang tua kamipun tak kalah kaget. Satu pertanyaan yang dilontarkan adalah soal harga sewa. Khawatir karena info dari salah satu kerabat yang kemarin menginap di seputaran Kuta, menempati Unit yang mencapai kisaran 7 Juta per malamnya. Fantastis tentu saja. Namun saat diyakinkan bahwa ini hanya sekitar 1,2 juta saja, merekapun maklum. Tapi tetap saja tergolong mahal kata mereka.

Dua PanDe Baik 9

Usai berbenah merapikan barang bawaan, sayapun ikut nyebur kolam sembari menjaga mereka berdua. Karena sisi barat kolam sepertinya cukup dalam untuk mereka jajal. Sementara istri lebih memilih untuk memberi Ara maem sore, sedang kakek nenek, orang tua kami bersantai menikmati televisi sesekali menengok cucunya yang asyik bermain air.

Malam hari, kami memutuskan untuk berkeliling Ubud yang tingkat kemacetannya sudah mulai berkurang. Kelihatan jelas bahwa Ubud hanya menjadu tempat persinggahan sejenak bagi para wisatawan. Makan malam, kami berupaya mencari santapan lokal, karena lidah kedua orang tua kami agak susah menerima masakan luar. Sasarannya ya masakan padang di dekat Puri Saren, dan dilanjutkan mencari santapan buah ke supermarket terdekat, Delta Dewata di jalan Andong.

Balik ke Villa, masing-masing mulai menjalankan aktifitas dan kebiasaannya. Mirah dan Neneknya menonton televisi yang layarnya lebar minta ampun. Intan asyik dengan tabletnya. Kakek menonton berita di ruang bersama. Ibunya anak-anak menyiapkan botol susu, saya meninabobokan Ara.

Private Villas Citrus Tree Mangosteen yang kami tempati ini sangatlah sunyi keberadaannya. Saya pribadi nyaris tak bisa memejamkan mata gegara kesunyian dan halusnya seprei juga dinginnya ac. Terbiasa suasana kota Denpasar. Sebaliknya kamar anak-anak bersama kakek neneknya sudah lebih dulu sepi dan lengang. Mereka pasti capek pasca berenang tadi.

Unit ini hanya tersedia satu saja. Lingkungannya bersih dan nyaman. Yang paling menikmati ya istri. Sambil berkhayal kapan ya kami bisa punya rumah se-simpel ini. He… doakan yah. Parkir unit hanya cukup untuk 2 kendaraan roda empat. Masih cukup buat menampung keluarga mertua sebenarnya. Sayangnya mereka ndak jadi ikutan.

Tiga PanDeBaik 5

Hari masih pagi saat menyadari ada tawa anak-anak di luar sana. Mirah dan Intan sebagaimana janji mereka semalam, begitu bangun dari tidur pukul 6 langsung nyemplung lagi diawasi kakeknya. Meh, riang benar mereka. Kapan lagi yah ?

Menu Breakfast tergolong standar. Kami sendiri gak terlalu mementingkan, karena sudah terbiasa dengan menu seperti itu. Nasi Goreng dan Mie Goreng. Diantar ke ruangan pukul 7 tepat. Anak-anak langsung menyantapnya habis. Cukup enak untuk sarapan pagi di Ubud. Akibatnya kami harus membatalkan jadwal kuliner pagi di Warung Babi Guling Bu Oka. He…

Awalnya kami berencana turun dulu ke area Ubud sekedar jalan-jalan. Tapi lantaran anak-anak sudah ndak sabar untuk bermain sesuai janji Bapaknya, kami check out sekitar pukul 10 pagi dan langsung meluncur ke Bali Fun World di Batuan Singapadu.

Liburan Sehari di Citrus Tree Mangosteen Ubud

1

Category : tentang PLeSiran

Modal Nekat. Pokoknya liburan ini mau nginep sehari, dimanapun boleh.

Tekad bulat ini seakan terus menghantui pikiran sejak seminggu di akhir tahun kemarin. Bukan tanpa sebab. Akan tetapi begitu mengetahui jalur Bedugul muacetnya minta ampun, alternatif pilihanpun bergeser ke arah timur.

Berbekal survey via aplikasi Traveloka, sayapun mulai mencari tahu. Tempat menginap yang ready untuk sehari dua sekitar hari terakhir tahun 2015 atau pertama 2016. Pokoknya liburan.

Dari sekian hasil yang diberikan, Citrus Tree B&B Mangosteen jadi pilihan pertama. Sisanya ada Puri Saron, Ubud Village hingga Taman Ujung atau Candi Dasa. Perhitungannya sederhana, dari sekian pilihan hanya ini yang menyewakan unit Family Room. Dua kamar dengan fasilitas private pool. Tentu asyik bagi anak-anak, bisa berenang kapanpun mereka mau. Dan yang lebih penting lagi, bisa ngajak bareng Orang Tua juga.

Sayangnya unit baru tersedia di Tahun Baru. Tapi ndak apa, langsung dipesan. He…

Secara harga, informasi awal dari beberapa halaman web travel, unit dimaksud berada di kisaran 1,6 juta. Searching via Google untuk mengetahui nomor kontak mereka, didapat informasi 1,3 juta. Eh pas dihubungi, malah dapat diskon lagi jadi 1,2 juta. Per Malam. Ya sudah, ambil aja.

PanDe Baik Ubud 5

Kami tiba agak sore, berhubung secara persiapan baru mulai dilakukan sekitar pukul 12 siang Tahun Baru kemarin. Pas tepat berangkat sekitar pukul 2, kena macetnya begitu masuk persimpangan Monkey Forest. Selebihnya aman.

Unit yang kami sewa masuk golongan Private Villas. Terdapat dua kamar tidur dengan bed ukuran King Size, dapur, ruang bersama, ruang kerja, dan toilet di masing masing kamar. Ditambah halaman dan tentu saja kolam mini. Kondisi nyata lapangan gak jauh beda dengan gambar foto yang ada di aplikasi Traveloka. Jadi ya ndak kaget lagi.

Lokasi Citrus Tree Mangosteen ini ada di pertengahan jalur jalan Sri Wedari, Ubud. Ini mirip dengan nama istri kawan baik saya. Bisa diakses melalui jalan dimana kuliner Babi Guling Bu Oka bernaung atau jalan ke utara sebelum Pasar Seni Ubud. Suasananya sepi. Lampu jalan pun masih berjauhan. Tak heran saat malam terasa sekali kesunyiannya.

Citrus Tree Traveloka 5

Secara harga bisa jadi tergolong mahal. Tapi mengingat fasilitas kolam pribadi dan unit yang mirip lingkungan rumah, saya rasa sepadan kok. Apalagi akses kemana-mana juga dekat. Termasuk SPBU dan Super Market Delta Dewata. Eh, kami bukan tipikal Traveler sejati loh. Masih mengandalkan duniawi murni.

Bagaimana kesan kami menikmati liburan, simak di tulisan selanjutnya.

Mejeng Bareng di Thailand

Category : tentang PLeSiran

Selamat datang di negeri gajah. Destinasi wisata, Wat Arun. Sayangnya sedang direnovasi. Jadi foto bareng yang pertama ini rasanya kurang afdol buat dijadikan pembuka.

Permukiman Thailand 5

Destinasi berikutnya, Asiatique. Diambil pake tongsisnya Bu Mirah, sesaat setelah saya turun dari bianglala Mekong.

Permukiman Thailand 6

Mampir di Taman Anggrek objek wisata Nongnooch Pattaya, yang hanya bisa menampilkan beberapa kawan saja didepan kolam cantik.

Permukiman Thailand 4

Belum lengkap mampir di Pattaya kalo belum main ke pesisir pantai nan indahnya. Jauh lebih bersih ketimbang Kuta, dan lebih ramai oleh speedboat dan paralayangnya.

Permukiman Thailand 3

Silverlake, objek wisata sederhana yang menjual pemandangan danau dan bangunan bergaya Eropa yang menyajikan minuman anggur dan pengolahannya. Sayang, dalam sesi foto bareng di lokasi ini ada satu kawan tertinggal dalam bus. Padahal secara background cakep banged.

Permukiman Thailand 1

dan berikut foto pilihan kami untuk dicetak berukuran besar sebagai kenangan saat berada di Thailand.

Permukiman Thailand 2

Oke, sampai jumpa di destinasi berikutnya tahun depan.

Menghabiskan Waktu di Thailand

Category : tentang PLeSiran

Dibandingkan dengan kunjungan ke negeri gajah dua tahun lalu, perjalanan kali ini kalo boleh jujur ya, kurang terasa nikmatnya berhubung pikiran justru tersita dan berada di rumah. Maklum, saat keberangkatan kemarin, Intan putri kedua saya harus dibawa ke RS Puri Bunda untuk mendapat pengobatan lantaran tingginya suhu badan yang bersangkutan. Demikian pula kondisi dua lainnya yang terjangkit flu dan batuk. Gak nyaman untuk ditinggal.

Selain itu, berhubung ini perjalanan yang sama untuk kedua kalinya, sayapun melewatkan beberapa pertunjukan yang dihelat di Nongnooch Pattaya, Alcazar Show dan tentu saja opsional lainnya. Sementara yang lain, tetap pada program setelah diberi gambaran bahwa pertunjukan tersebut wajib tonton mengingat bagusnya penampilan para artis kawe didalamnya. Jadi untuk menghabiskan waktu menunggu, sayapun memilih untuk asyik sendiri sembari menikmati hal-hal yang belum saya ketahui di kunjungan terdahulu. Berikut beberapa diantaranya.

Thailand PanDe Baik 6

Kunjungan ke JJMall, saya memilih untuk berkeliling di seputaran luaran Mall sembari mencicipi kuliner yang disajikan dengan harga jual minimal 10 baht. Dari yang mirip martabak telur, sate ayam, cendol hingga cumi. Tentu dibarengi dengan jalan-jalan kaki untuk menurunkan asupan makanan yang dicerna tadi.

Masuk ke area Asiatique, saya memilih untuk menikmati bianglala Mekong yang ditebus dengan biaya 300 baht per orang sendirian, dan diberi kesempatan enam kali putaran melihat pemandangan pinggiran kota Thailand tepi sungai. Sempat selfie pula disini.

Menikmati kota Bangkok di malam hari tak ubahnya berjalan-jalan di kawasan jalan Gajah Mada lengkap dengan pedagang kaki lima yang disini menawarkan buah segar dan sajian kuliner tadi. Untuk dapat menikmati sisi jalan satunya saat balik ke hotel tempat kami menginap, diharuskan melewati jalur penyeberangan atas, sebagaimana halnya kota besar lainnya.

Saat perjalanan menuju Pattaya, mampir bentar ke Tiger Zoo, saya memilih untuk berselfie dengan harimau besar yang sudah dijinakkan dengan biaya 100 baht, dan kamera yang digunakan adalah milik sendiri. Asyik, karena kita gak lagi dibebankan biaya untuk menebus foto hasil jadinya. Begitu pula dengan ‘aktor’ lainnya seperti Buaya dan Gajah.
Disini saya pula melewatkan empat sesi show termasuk PigRace untuk berjalan-jalan mengeluarkan keringat mumpung halaman objek wisata yang cukup luas.

Thailand PanDe Baik 9

Demikian pula saat di Nongnooch, saya memilih mengitari bukit berbunga melalui jalan layang yang menghubungkan antar bukit tadi sembari menuliskan kisah perjalanan yang tempo hari sudah dipublish di halaman ini. Tak ada souvenir yang saya ambil hingga perjalanan hari kedua ini.

Saat semua kawan menikmati sajian artis cantik kawe satu di Alcazar Show, saya memilih berjalan-jalan lagi di sepanjang jalan yang mirip suasana Kuta malam hari. Lengkap dengan pub, cafe, mini market hingga massage spa dan plus plus. Saat mencoba salah satunya, saya dipijat oleh Therapist wanita kawe tiga, yang mengaku masih berusia 27 tahun dan single. He… tapi jangan membayangkan terlalu jauh, karena massage yang saya pilih ini berjendela kaca terang, terlihat jelas dari luar. Komunikasi kami dibantu oleh Google Translate yang mana disebabkan oleh karena yang bersangkutan tidak menguasai bahasa Inggris dengan baik. Well…

Masuk ke areal Wat Arun yang masih dipugar oleh pemerintah setempat, saya lebih memilih fokus pada pasar oleh-oleh untuk mencarikan anak-anak baju kaos gajah, serta syal untuk para Ibu termasuk tiga diantaranya berada di tampuk pimpinan kantor. Sisanya saya iseng saja memilihkan lima batu akik yang juga berkualitas kawe dengan harga selembar uang merah untuk lima pieces cincin berukuran 21 dan 22mm. Pas di jari tengah kiri.

Thailand PanDe Baik 8

Selepas Wat Arun, masih sempat mampir ke Wah Phoo atau Reclining Budha dimana saya lebih memilih untuk membagikan koin receh di 108 kendi kecil, sebelah kanan Budha tidur untuk memanjatkan doa bagi keluarga dirumah dan perjalanan kami. Bersyukur berkah-NYA ini sangat terasa saat kami terhindar dari ledakan bom yang memecah keramaian Erawan Shrine, kuil Hindu berupa empat wajah Brahma yang kami hapuskan dari daftar kunjungan lantaran hari sudah menjelang malam, sesaat setelah meninggalkan MBK Mall, langsung menuju tempat makan malam dan tentu saja hotel.