Mengenang Laskar Pelangi by Andrea Hirata

6

Category : tentang InSPiRasi

Awalnya setiap kali saya mendengar kata Laskar Pelangi, yang terbayang dalam otak saya ini adalah cerita anak-anak serupa buku komik terbitan Elex Media. Begitu pula saat mendengar cerita bahwa Laskar Pelangi akan difilmkan oleh sineas muda negeri ini.

Histeria yang terjadi pasca pemutaran film bioskop ‘Laskar Pelangi’ ditambah nyanyian anak-anak yang melantunkan tembang gres Nidji bertemakan sama, akhirnya membuat rasa penasaran saya timbul akan novel yang kabarnya menjadi ‘Best Seller’ dimana-mana. Sayangnya untuk mendapatkan pinjaman dari adik sepupu, musti menunggu terlebih dahulu, berhubung sedang beredar kemana-mana (istilahnya : dipinjem).

Sambil menunggu kembalinya novel tersebut, saya diberikan satu buku yang bercerita ‘di balik layar Laskar Pelangi’. Tentang perjuangan Riri Reza dan Mira Lesmana dalam mewujudkan karya epik film negeri ‘Laskar Pelangi’.

Membaca cerita perjalanan awal pembuatan sebuah film negeri seperti halnya ‘GIE’ terdahulu, saya akui makin membuat saya makin penasaran dan tak sabaran untuk membaca karya pertama dari sebuah Tetralogi yang dilahirkan oleh seorang Andrea Hirata.

Pada awalnya saya kira ‘Laskar Pelangi’ bukanlah novel karya anak negeri, mengingat nama ‘Andrea Hirata’ lebih familiar pada budaya Jepang. Satu pemikiran yang akhirnya saya sangkal saat membaca versi e-Book nya terlebih dahulu dibanding novelnya sendiri.

Cerita tentang perjuangan sepuluh anak sekolah tingkat dasar di Belitong, benar-benar membuat saya merasakan keasyikan betapa nikmatnya membaca sebuah karya seperti ‘Balada si Roy’ dan mimpi Gola Gong lainnya. Tak lupa pula seorang HilMan yang membuat kisah begitu mengalir, mudah dicerna dan melupakan waktu.

‘Laskar Pelangi’ akhirnya menjadi novel favorit saya pada masa pendewasaan diri kali ini. Mengingatkan pada masa-masa lalu, masa-masa kecil yang penuh dengan gelak tawa riang saat bersua dan menyaksikan keajaiban teman-teman yang saya miliki.


‘Laskar Pelangi’ juga mampu mengingatkan saya pada masa kegilaan akan sebuah novel, cerpen, fiksi yang rutin tampil dalam berbagai bacaan saya masa remaja. Dilahap tanpa peduli segmen peruntukan sebuah majalah.

Hai, Gadis, Aneka, Anita, Mode, Kartini, hingga merambah media koranpun saya lahap demi sebuah kegilaan yang saya sendiri amat sangat menikmatinya.

Karya Gola Gong adalah satu favorit saya waktu itu. Hingga rela melakukan perburuan disela jam kuliah ke berbagai perpustakaan negara dan juga penyewaan buku lama.

‘Laskar PeLangi’ saya akui memang sebuah karya yang mampu mengobati kerinduan saya akan sebuah cerita yang menyentuh hati, tak hanya berkhayal seperti ‘Harry Potter’ karya J.K. Rowling. Membuat saya menghabiskan waktu hampir seminggu untuk membaca, membayangkan dan mengingat kembali masa-masa yang diceritakan hingga ketertarikan mencari versi e-Book karya Andrea Hirata yang lain.

Tak heran jika buku ini kabarnya dirilis juga dalam bahasa lain dan menjadi Best Seller pula di negeri orang.

Aaah…. Tak percuma juga saya menunggu dan menikmati ‘Laskar PeLangi’, sebuah karya awal Tetralogi by Andrea Hirata.

Menanti ‘Laskar PeLangi’

Category : tentang KeseHaRian

Seperti biasa, saya gak terpengaruh sedikitpun memburu kursi paling apik untuk mantengin film paling asik tahun ini, ‘Laskar Pelangi’ di bioskop manapun juga. Termasuk memburu tembang apiknya Nidji yang menjadi original song dari film tersebut.

Ini terkait dengan prinsip saya dalam menikmati sebuah karya film, rasanya tak nyaman jika nonton beramai-ramai, juga tak nyaman hanya menonton sekali itu, lantas penasaran sepanjang hari. Makanya jauh lebih baik saya menantikan ‘Laskar Pelangi’ release on VCD or DVD. Baru diburu ke penyewaan dan ditonton sepuasnya. Aksi ini pula berlaku untuk film box office lainnya.

Makanya, sembari menanti ‘Laskar Pelangi’ hadir di penyewaan vcd, huehehehe….. Saya bersiap-siap dahulu melakukan pemanasan dengan hunting film tema sejenis. Karena secara kebetulan juga, tempo hari di televisi gak sengaja nonton ‘Petualangan Sherina’. He…. jadi ingat dengan Sherina yang waktu kecil begitu lucu dan menggemaskan.

Akhirnya saya putuskan untuk meminjam ‘Denias – Senandung diatas Awan’ per bulan lalu, dan baru semingguan ini bisa menyempatkan diri nonton.

Wah wah wah…. Saya jadi terharu beneran saat menyelesaikan karya anak bangsa yang gak ngikut-ngikut trend ini. Gak percuma minjem buat pemanasan.

Jadi kangen dengan suasana film-film Indonesia jaman Orba dulu.

Rasanya jadi gak sabar nungguin ‘Laskar Pelangi’ …..