Migrasi (juga) ke Kuota 1 GB

3

Category : tentang KHayaLan

migrasis.jpg

Lantaran biaya nge-net melebihi angka seratus ribu rupiah sedang volume pemakaian gak nyampe angka 1 GB, akhirnya keputusan buat Migrasi kartu Starone Jagoan terjadi juga. Dari Time Based ‘25 rupiah per menit‘¬†jadi seratus ribu untuk Kuota 1 GB. Keputusan ini ya berpatokan pada itung-itungan terdahulu, dimana jatuh biayanya akan jauh lebih murah apabila pemakaiannya melebihi dari waktu yang ditetapkan -66,67 jam- untuk nominal sama, yaitu seratus ribu.

Gak terasanya make internetan sebanyak itu selama sebulan (kalo dirata-ratakan seharinya maksimum 2 jam lebih dikit) lantaran aktivitas paling banyak dilakukan adalah nge-BLoG (ada empat buah BLoG he… yang harus diupdate secara berkala), chatting sekedar berbagi kabar, BLoG walking ke rekan-rekan lainnya juga Browsing sekedar nyari berita terkini juga beberapa aplikasi gratisan,¬†paling akhir sih cuman cek Email dan update Antivirus.

Nah dengan aktivitas yang memang jarang mengunduh video via YouTube lagi, maka Migrasi ke Kuota 1 GB jadi jalan satu-satunya terbaik, dengan pertimbangan lebih dibanding Telkom Speedy adalah sifat mobile-nya yang bisa dibawa pergi kemanapun.

Yah, semoga saja dengan jatah volume 33 MB per hari bisa meng-cover semua aktivitas diatas, dan mungkin sudah saat untuk nyari pendapatan lebih cuman buat nalangin biaya nge-net aja kali ya…

Beda motivasi ya beda guna

7

Category : tentang KeseHaRian, tentang TeKnoLoGi

Di kelas yang gede ini kalo mau diitung, palingan cuman 5 siswa aja yang tampak sibuk ngrjain tugas, ciri khasnya tentu keranjingan bawa laptop kinyis-kinyis dari rumah. Entah emang kperluan ato sekedar nampang ya bisa diliat dari aktivitasnya di ruangan.

Oya, skedar informasi tak resmi, kelas ini seharusnya nampung 26 biji siswa yang hampir lima puluh persennya banyakan absennya dalam sebulan. Tapi herannya kalo sudah waktunya bagi-bagi duwit, kelas tampak rame serame pasar murah sejak pagi. Entah setan mana yang mbisiki anak2 itu kok instingnya selalu tepat kalo udah urusan bagi-bagi jatah.

Balik ke topik, pembawaan barang portabel ini lantaran 4 biji pc yang tersedia di pojok belakang ruangan selalu penuh terisi setiap harinya oleh orang-orang yang berkepentingan maupun tidak (kategori ini termasuk yang demen maen gim bola-bola saat jam belajar). Tapi rupanya kelima anggota kelas yang belakangan mbentuk grup ‘Power Laptop’ dengan tujuan membangun negeri dengan kepemilikan laptop pribadi, dengan asyiknya tenggelam dalam pekerjaan masing-masing disaksikan pandangan kekaguman siswa lain yang rupanya entah karena blom kesampean buat ngebeli barang dewa ini ato malah ndak ngerti sama sekali.

Tapi yang namanya beda motivasi buat kepemilikan barang jinjing ini berimbas ke pemakaiannya saat nyampe di meja belajar masing-masing. Dua orang pentolan kelas yang emang super sibuk, tampak serius menatap layar laptop dengan setumpuk pe er disebelahnya. Seorang lagi yang sbentar lagi bakalan didapuk jadi calon perwakilan kelas, tampak memakai laptopnya dalam beberapa kejap skedar untuk bertanya, ‘apa materi kuliah buat besok sudah slesai’ ato malah ‘kok game ini ndak bisa dimakinkan ya ?

‘Seorang siswa yang gemar melantunkan tembang religiuspun tampak asyik didepan laptopnya yang ternyata nampilkan video-video lokal dalam format 3gp. Pantesan aja betah duduk dari pagi. Show gratisan ini tentu menarik minat siswa lain yang kebetulan lagi ndak punya pe er khusus dan milih ikutan nimbrung sekedar menyalurkan hasrat hari kmaren.

Sisa satu lagipun tampak asyik dipojokan depan, diiringi tembang-tembang yang cukup membuat orang emoh untuk mendekati. Ternyata yang dilakukannya sangat bertentangan dengan tugas dan kewajiban siswa, sama dengan oknum terakhir tadi, yang akhirnya melahirkan tulisan pada blog ini. Halah…

Mimpi Lagi Nde ?

Category : tentang TeKnoLoGi

Ngliat bawaan seorang teman kuliah, yang memang duit bukanlah satu hal sulit baginya tuk didapatkan, mengingat latar belakang keluarga dan kemampuan yang sangat mendukung.Anyway, laptop kecil dan touchscreen ?
That’s awesome.

Jadi pengen punya nih…

Laptop DPR : saya juga mau dong…

1

Category : tentang Opini

Tak banyak yang berkomentar untuk menyetujui anggaran DPR tentang pengadaan laptop sebanyak 550 unit plus alat-alat lainnya, dengan harga perbiji 22 juta, diluar pendapat dari anggota DPR kita yang TERHORMAT.

Lagi-lagi para tokoh politik menentang aksi arogan DPR itu dan meminta agar mereka kembali pada tujuan awal Reformasi, memperbaiki Perekonomian Rakyat Indonesia.(insert: pada gambar terlihat laptop Flybook, yang selain isinya cuanggih, sudah bisa dipake nelpon pula. Tinggal colokin simcardnya disamping, langsung ngomong deh. Mungkin ini yang bakalan dibeli oleh anggota DPR, agar selain bekerja bisa sekaligus mendengarkan aspirasi masyarakat dan menerima keluhan dari mereka. Sebab selama ini yang namanya handphone para anggota DPR sudah lumrah selalu aktif saat ia membutuhkan sesuatu, namun saat rakyat yang memilihnya membutuhkan sesuatu, tu ha pe langsung susah dihubungi. Tanya Kenapa ?)
Pssst… kalo yang dibeli itu laptop rongsokan, seharga dibawah 5 juta, namun pada kwitansi tertulis 22 juta, gimana ? apakah bisa diterima korupsi sebesar itu ?

Siapa nyana angota DPR yang beruit tebal itu seakan tak punya malu, dan menganggap laptop adalah satu hal yang penting bagi mereka, karena ini kerja otak bukan kerja otot (faksi Golkar-Jawa Pos 25 Maret 2007 hal.2)
Mungkin mereka sudah lupa dengan janji-janji muluk yang ditebarkan saat pemilu lalu, dan herannya Rakyat Indonesia masih saja percaya pada omong kosong seperti itu.

Mungkin saat pemilu depan, kita bisa menambahkan satu syarat lagi, untuk anggota DPR kita yang (katanya) TERHORMAT itu, yakni ‘harus memiliki laptop, mobil mewah dan rumah sendiri. Agar nantinya gak ada lagi anggaran untuk pengadaan laptop, mobil satu per anggota dewan, dan rumah jabatan yang nilai sebijinya cukup untuk membeli beras sekabupaten.’
Tak layak lagi jika kita memilih anggota Dewan yang rakus dan membunuh perekonomian bangsa.
Tak ada gunanya lagi keberadaan anggota Dewan di birokrasi pemerintahan Indonesia.
Lebih banyak sakit hatinya ketimbang hasil kerja yang dipersembahkan untuk bangsa ini.

Sudah hilangkah hati nuranimu, anggota Dewan Wakil Rakyat ?
Katanya Wakil Rakyat ?
Trus kalo dulu sebelum diangkat, merasa sudah bisa menyerap aspirasi rakyat, kenapa kini harus membutuhkan laptop lagi ?
Upayakan janji dan mulut manismu dulu, baru minta-minta.
DPR gak ubahnya anak TK, yang bisanya cuman minta-minta dan menghabiskan anggaran negara.
Cuih !

Saya juga mau dong, satu laptop untuk sehari-hari.
Biar bisa chatting, nge-net sampe nge-games.
Saya gak punya kerja, jadi daripada bengong nganggur trus gaptek terpuruk perkembangan teknologi, mending ‘kembali ke Lap..Top!
Ini kan kerja otak, bukan kerja otot ?
Nah, gimana dong ?