Acer Iconia W511, Tablet atau Laptop ?

Category : tentang TeKnoLoGi

Jika disandingkan dengan perangkat NetBook HP Mini yang saya miliki, wajah Acer Iconia W511 sebenarnya gag jauh berbeda. Ini terlihat jelas lantaran dari segi ukuran layar sama-sama mengadopsi besaran 10 inchi widescreen. Demikian halnya ukuran mini keyboard yang memang membutuhkan sedikit penyesuaian dalam penggunaan terutama bagi mereka yang sudah terbiasa dengan laptop berukuran 12 hingga 14 inchi.

Namun saat layar dipisah dari perangkat docking keyboardnya, barulah kelihatan jelas beda fungsinya. Ya, Acer Iconia W511 ini bisa pula difungsikan sebagai perangkat TabletPC seperti halnya perangkat iPad, Galaxy Tab atau Note dan lainnya. Hanya saja, untuk yang satu ini berbasis sistem operasi Windows 8 Tablet Edition.

Ada banyak kelebihan yang bisa didapatkan dengan format bentukan dari Acer Iconia W511 terutama jika sudah berkaitan dengan fungssi mobile yang memang sejak awal menjadi rancangan. Yaitu kompabilitas aplikasi dengan kepemilikaan pada pc atau laptop pengguna sehingga semua data yang ada dapat dibaca dengan baik tanpa memerlukan aktifitas konversi lagi. Namun yang patut disadari sejak awal adalah terkait spesifikasi yang dimiliki barangkali akan membatasi jenis aplikasi yang nantinya ingin ditanamkan.

Acer W511 PanDe Baik (Custom)

Prosesor Dual Core intel Atom 1,8 GHz disertai dengan 2 GB memory RAM dan flash drive sebagai internal storage sebesar 64 GB (tersedia hanya 32 GB), rasanya bakalan kerap mengalami hang dan lag jika diinstalasikan aplikasi multimedia semacam Adobe Premiere atau Corel Draw sehingga seperti yang saya katakan sebelumnya, perlu memilah lebih dulu mana yang memungkinkan untuk dijalankan dan mana yang tidak.

Dibandingkan dengan HP Mini yang memiliki storage sekitar 250 GB, tentu persoalan penyimpanan data kelak bakalan menjadi masalah. Namun apabila jenis dokumen yang disimpan hanya berkisar office applications, foto dan musik barangkali gag terlalu masalah. Lain hal jika melakukan penyimpanan video atau sejumlah film ukuran HD. Demikian halnya terkait pemutarannya, tidak semulus pada perangkat PC atau NoteBook sebenarnya.

Akan tetapi, selain fungsinya yang dapat digunakan sebagai perangkat TabletPC, yang patut diacungi jempol lantaran bentukan tablet ini adalah dukungan slot simcard atau yang pada jualannya mengadopsi kalimat ‘with 3G support’, mampu memberikan peluang bagi penggunanya untuk terhubung ke dunia maya, kapan saja dan dimana saja. Apalagi bentukan simcard yang didukung adalah bentukan normal tanpa harus melakukan pemotongan kartu lagi.

Satu-satunya ketersediaan teknologi yang patut disayangkan hanyalah slot USB yang hanya memberikan satu opsi dan terdapat pada docking keyboard tepatnya pada sisi engsel. Lantas bagaimana jika slot ini sudah diberikan pada dukungan mouse dan pengguna ingin melakukan aktifitas copy ke penyimpanan data seperti Flash Disk ?

Pengguna bisa memanfaatkan kabel converter yang dibekali dalam paket penjualan, yang mengkonversi slot microUSB yang ada di sisi kanan layar ke slot USB milik Flash Disk atau kabel data milik Harddisk Eksternal. Merepotkan memang, namun setidaknya semua masih bisa dilakukan.

Selain teknologi 3G simcard, slot eksternal card dan usb, disisi yang sama tersedia juga port HDMI yang dalam paket penjualannya disertakan pula kabelnya secara free. Ditambah koneksi Bluetooth built in.

Sedang di sisi atas layar terdapat tombol power dimana untuk startup Windows membutuhkan dua tiga detik untuk bisa ready to use. Ditambah tombol pengunci layar dan colokan audio 3,5”. Selebihnya, dukungan jenis layar IPS yang sangatt nyaman untuk dilihat dari berbagai sudut pandang dan juga umur batere hingga 9 jam lamanya. Lumayan kan untuk ukuran Tablet ? eh Laptop ?

Acer Iconia W511

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Jauh pada tahun 2004/2005 lalu, saat saya masih berkutat dengan perangkat PDA Phone T Mobile MDA yang merupakan kloning dari O2 XDA II series, sebuah perangkat ponsel Personal Digital Assistant berbasis Windows Mobile 2003 PocketPC, ada satu perangkat lagi yang begitu saya idam-idamkan untuk dimiliki. Perangkat Tablet dengan bentukan laptop atau notebook.

Oke, tahun itu barang serupa memang sudah ada. Kalo gag salah yang rajin merilis dari brand Fujitsu atau HP. Namun keberadaannya masih tergolong langka dan mahal, jadi memang gag salah kalo perangkat sejenis ini di lingkungan kami (Pegawai Negeri Sipil) gag ada yang punya. Kalopun ada, masih serupa dengan yang saya miliki, PDA dengan kondisi standar. (homescreen, Theme, Sound dll).

Bisa dimaklumi sebenarnya, karena saat itu perangkat berbasis Windows identik dengan penggunaan yang sangat sulit, jika dibandingkan dengan sang raja yang berkuasa, Nokia. Namun justru dengan tingkat kesulitan yang advanced inilah yang makin membuat saya tertantang untuk mengeksplorasi lebih jauh apa dan bagaimana cara menaklukkan sebuah perangkat mobile berbasis Windows.

Mengapa saya begitu tergila-gila pada perangkat semacam ini ? karena berkaitan dengan pekerjaan yang rata-rata memang dibutuhkan dibalik meja, dari Office Applications, Photo Editor, Internet hingga Multimedia, Satu untuk Semua. Sayangnya, meski tahun demi tahun sudah berganti dan era mulai berpindah pada perangkat konvergensi PDA seperti miliknya O2, HP iPaq, Dopod hingga HTC, rasanya tetap saja belum mampu menggantikan keberadaan Notebook yang bisa dengan mobile dijinjing kemana-mana.

Menikmati kemajuan teknologi di jaman iPad dan TabletPC Android membuat saya kembali berusaha membangkitkan angan-angan itu, sambil berharap satu saat Microsoft mau merilis perangkat sejenis berbasis Windows yang tentu saja berlayar sentuh semudah perangkat pionir tadi. Hasilnya ? Tabletpc Surface pun mulai dirilis ke pasaran dengan memanfaatkan sistem operasi Windows 8.

Tidak ketinggalan beberapa brand besar, seperti HP, Sony bahkan Acer kemudian merilis series W510/W511 yang mengadopsi bentukan netbook layar 10 inchi namun layar utama dapat dicabut atau dipisah dari docking keyboard dan berfungsi sebagai Tablet. Dan yang terpenting disini adalah basis sistem operasi menggunakan Windows 8 Tablet Edition yang pula mendukung banyak aplikasi lama tanpa perlu mengunduhnya lagi dari Store online.

Ini adalah kali kedua saya memilih perangkat Acer bentukan Notebook setelah yang pertama dahulu seri 4320 yang akhirnya ditukar tambah dengan perangkat Compaq gara-gara kerusakan yang terjadi pada motherboard, tidak dapat ditangani oleh pihak Service Centre. Jadi, saat memutuskan untuk memilih perangkat ini sebagai perangkat Notebook berikutnya, sebenarnya ada sedikit rasa khawatir juga bakalan merasakan hal yang sama nantinya.

Acer W511 Pande Baik

Spesifikasi yang dimiliki Acer W511 ini sebenarnya gag jauh berbeda dengan spek perangkat NetBook HP Mini yang saya miliki beberapa waktu lalu, hanya saja ditingkatkan dua kali lipatnya minus storage internal. Prosesor Dual Core 1,8 GHz ditambah RAM 2 GB rasanya sih sudah cukup untuk menopang rutinitas saya kini, mengingat multimedia dan photo editing bakalan jarang saya kerjakan. Hanya besaran storage internal saja yang masih dirasa nanggung, 64 GB. Jauh banget dari standar penyimpanan perangkat Note/NetBook saat ini, namun sedikit lebih baik ketimbang perangkat tablet yang saya miliki. Sehingga untuk mengatasi hal ini, sementara waktu sih sdcard dengan kapasitas 16 GB tetap ditancapkan pada perangkat untuk difungsikan sebagai drive Data. Semoga saja nanti bisa dapet hunting yang 32 GB atau lebih. Sedang Flash Disk, saat ini sudah tersedia yang berkapasitas 512 GB sebagai cadangan Backup. Selebihnya ? nanti deh diceritakan.

Lalu bagaimana soal review dan sudut pandang yang dapat saya sampaikan perihal perangkat Acer Iconia W511 ini ? tunggu di tulisan berikutnya yah…

Kilas Balik www.pandebaik.com Tahun 2010

6

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

Setahun sudah masa berlalu, namun rasanya baru kemarin semua hal itu dijalani. Sekedar mengingat akan hal apa saja yang sudah dilalui pada tahun 2010 kemarin…

Reuni SMA

Masa SMA adalah masa terindah sepanjang hidup yang saya miliki. Meski yang namanya pergaulan, apalagi pacar tak pernah saya miliki selama 3 tahun itu. Saya menikmatinya. Sangat. Bersyukur dengan adanya BLoG ini, beberapa teman akhirnya menemukan saya dan mulai meretas tali kawan melalui jejaring sosial bernama FaceBook. Maka jadilah kami mewujudkan Reuni SMAN 6 Denpasar, Angkatan 1992 pada bulan April lalu. Tentu dengan banyak pertemuan dan cerita dibalik itu semua. Kini, meski kami sudah jarang saling berinteraksi kembali di dunia maya, namun dalam dunia nyata kami tetap saling berkabar.

Yowana Paramartha Warga Pande

Seperti halnya Reuni SMA, semua yang terjadi berkaitan dengan aktifitas Warga Pande bisa dikatakan berawal dari FaceBook. Adalah sebuah Group bentukan semeton Putu Yadnya atau yang dikenal dengan id Pande Bali, ditambah undangan untuk kopi darat oleh semeton YanDe Putrawan, kami akhirnya bertemu di tempat yang sama, dimana pertama kali menggagas Reuni SMA. Dengan tekad yang komitmen yang begitu tinggi, kami kemudian mewujudkan satu persatu ide, kegiatan hingga pada akhirnya melahirkan wadah untuk berekspresi baik secara komunitas regional maupun dunia maya diluar FaceBook. Maka jadilah Yowana Paramartha Warga Pande Kabupaten Badung yang dipimpin oleh Semeton Dego Pande Suryantara, cikal bakal Yowana Paramartha Warga Pande Kota Denpasar yang dipimpin YanDe Putrawan dan juga wargapande.org yang dilahirkan oleh Putu Yadnya alias Pande Bali. Saya pribadi memilih untuk tetap bernaung di bawah www.pandebaik.com :p

FourSQuare

Check-in, Jumper, BadGe, Venue adalah beberapa istilah baru yang saya lakoni enam bulan terakhir. Jejaring sosial berbasis lokasi ini tentu saja membawa dampak yang tidak sedikit bagi hari-hari yang saya jalani. Lebih dari 10 tulisan yang saya lahirkan dengan mengambil tema FourSQuare. Demikian halnya dengan akun FaceBook dan Twitter yang kian terbengkalai, karena hampir setiap jam, aktifitas Check-in menjadi wajib saya lakukan, demi mendapatkan BadGes.

LPSE

Awalnya memang saya tak paham dengan Sistem Pengadaan Secara Elektronik (baca:Online) ini. Namun atas pertimbangan pengetahun IT saya yang minim ini, sayapun akhirnya diikutkan dalam tim yang dikirim ke Jakarta bulan Maret lalu. Tujuannya untuk berlatih menjadi Trainer. Perkembangannya lumayan pesat, karena hanya dalam hitungan bulan, tim ini sudah mampu melatih atau menularkan ilmunya pada rekan sepemerintahan pun saling bertukar informasi dan ilmu satu sama lainnya. Saya pribadi merasa bersyukur atas ‘jalan’ yang diberikan-Nya ini. Karena bagaimana pun juga, banyak ilmu dan juga ‘petunjuk’ yang saya dapatkan.

Bye Compaq CQ40 and StarOne, Welcome HP ProBook, HP Mini and IM2

Ini adalah salah dua efek daripada ‘bergabungnya saya di squad tim trainer LPSE Badung. Untuk menjamin bahwa setiap trainer dan juga pelaku utama LPSE Badung tetap terkoneksi dengan dunia maya, kami semua diganjar masing-masing sebuah NoteBook premium, HP ProBook ditambah koneksi IM2 Unlimited setiap bulannya, lengkap dengan Modemnya sekaligus. Meskipun sebenarnya, untuk menjawab tantangan ini kami menginginkan sebuah handset BlackBerry mengingat pada faktor harga yang jauh lebih murah dan juga sifatnya yang mobile (dapat digunakan di Toilet sekalipun), khawatir akan Image-nya yang masih mahal di mata masyarakat terutama PNS, kamipun mengurungkan niat. Hal ini tentu saja berimbas pada laptop pribadi yang sedari tahun 2009 lalu saya gunakan, plus koneksi StarOne Unlimited yang sudah dua tahun terakhir menemani. Laptop Compaq CQ40 praktis jarang saya gunakan, pada akhirnya dilego dan digantikan oleh HP Mini yang kelak bakalan saya berikan pada Istri untuk penggunaannya. Demikian halnya dengan koneksi StarOne Unlimited pun ikut serta dihibahkan. :p

Monetizing BLoG www.pandebaik.com

Berbekal kenekatan akan pantauan pada Traffic Pengunjung yang mampir ke BLoG ini selama 6 (enam) bulan terakhir yang rupanya telah meningkat hingga 10.000 page view per bulannya, saya memberanikan diri ikut serta menjadi Penerbit iklan melalui situs pay per clik lokal Indonesia, kliksaya.com. untuk itu, beberapa perubahan saya lakukan dengan pengetahuan bahasa php yang sangat minim. Hasilnya, yah lihat saja halamn BLoG ini sekarang. Mengandalkan Thema gratisan, sayapun mulai menghiasi beberapa kotak dengan tampilan iklan yang mohon maaf saja, ada beberapa materi iklan terkadang membuat saya malu sendiri. Memperbesar (maaf) Penis salah satunya. Terkait Monetizing ini, saya berterimakasih kepada pak Made Aryawan, mentor saya di LPSE yang mendorong saya untuk melakukan hal ini segera. Demikian halnya dengan Hendra dari BaliOrange, tempat hosting BLoG www.pandebaik.com ikut serta memberikan saran mengingat jumlah Traffic yang saya miliki, pun kepada Wirautama atas info dan banyak penjelasannya. Tak lupa Putu Yadnya, pemilik Warung Bebeque yang merelakan sedikit rejekinya untuk memasang iklan pertama di halaman ini.

Gag terasa udah setahun lewat, banyak hal yang masih menjadi Tujuan di masa depan.

HP Mini, mengganti Compaq menemani ProBook

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Beberapa hari pasca tulisan ProBook tempo hari, seorang teman menghubungi saya per telpon. ‘ketimbang Compaq-nya jarang dipake, buat saya saja ya’ pintanya. Well, setelah berdiskusi sebentar dengan Istri, tu Compaq akhirnya saya lepas awal Desember kemarin. Dibandingkan dengan harga beli dan rentang waktu pemakaian, jelas saya rugi bandar, tapi ketimbang gag dipake-pake, ya mending dijual saja, bathin saya.

Maka segera setelah instalasi ulang, Compaq CQ40 yang telah menemani hari-hari saya setahun terakhir, ditukar dengan 25 (dua puluh lima) lembar uang merah Proklamator. Kondisinya masih tergolong baik, mengingat Compaq milik teman yang dibeli Desember tahun lalu, mengalami dead pixel pada layar monitor bagian bawah.

Atas saran Istri, sayapun mengambil HP Mini 10” milik YanDe Putrawan yang baru berusia 2 minggu, dan rencananya bakalan dibawa kalo lagi mobile. Kan sayang kalo musti nenteng HP ProBook yang notabene merupakan Investaris milik Kantor (unit LPSE). :p Malu kalo musti bergaya dengan Laptop Dinas. Hehehe…

Untuk ukuran laptop, HP Mini benar-benar kompak. Bahkan bisa masuk dalam tas kecil yang sedianya saya gunakan untuk menyimpan ponsel, dompet, atau kamera saat berada diluar rumah. Hanya saja, agar gag pake ribet membawa serta Charger yang lumayan mengambil ruang, ni HP Mini musti Fully Charged tiap kali saya bawa.

Diperlukan sedikit penyesuaian kebiasaan untuk dapat menggunakan HP Mini dengan baik. Terutama untuk navigasi, backspace dan tombol fungsi (fn). Navigasi lantaran jarak untuk tiga tombol  yang berderet nyaris sama dengan dua tombol pada HP ProBook, BackSpace yang kerap salah pencet dengan tombol +/= dan tombol fungsi (fn) yang terbalik (gag perlu menekan tombol fn dan fungsi ketika menjalankan perintah).

Sayangnya, resolusi maksimum layar monitor yang diijinkan hanya sampai pada 1024×600 pixel. Hal ini menimbulkan sedikit kesulitan ketika berhadapan dengan beberapa aplikasi yang tidak mendukung ukuran jendela ‘Maximize’. Untuk menyiasatinya, khusus ketika aplikasi-aplikasi ini dijalankan, Taskbar yang notabene berada di sisi bawah layar, saya setting ‘autohide’, agar aplikasi yang berjalan dapat dilihat dan dioperasikan dengan baik.

Kendati OS yang digunakan adalah Windows 7 Home Edition, Tidak banyak kendala yang saya temui ketika menyuntikkan aplikasi-aplikasi yang saya butuhkan mutlak tersedia dalam sebuah laptop ’kerja’. Termasuk diantaranya AutoCAD dan driver beberapa printer.

Overall, HP Mini yang saya gunakan ini kelihatannya sangat layak untuk dibawa kemana-mana menggantikan posisi HP ProBook yang kelewat besar dan berat. Lumayan untuk membunuh waktu menunggu atau hanya sekedar nge-Blog dan berselancar didunia maya. Apalagi untuk koneksi, sudah tersedia Wifi yang siap digunakan dimana saja. Meskipun saya harus mengorbankan keasyikan bermain Games lantaran spesifikasinya yang gag semumpuni HP ProBook.

Mengagumi ProBook 4320s Menganaktirikan Compaq CQ40

12

Category : tentang TeKnoLoGi

Ada perasaan aneh dan juga kasihan ketika saya memutuskan untuk menonaktifkan notebook (baca:laptop) Compaq CQ40 sementara waktu. Bagaimana tidak, ni notebook sudah satu setengah tahun menemani hari-hari, terutama setelah terselesaikannya Thesis Pasca Sarjana serta menggantikan posisi Acer 4520 terdahulu.

Sejak saya resmi bergabung di LPSE Badung beberapa waktu lalu, sebagai tenaga yang didaulat untuk menjadi Admin Agency, saya pun berhak mendapatkan bantuan satu notebook yang serupa dengan milik Admin System, untuk menunjang pekerjaan saya selama bertugas. NoteBook itu HP ProBook 4320s.

Dibandingkan dengan dua notebook yang (pernah) saya miliki,  jujur saja saya jauh lebih suka desain Compaq CQ40 yang memang jauh lebih elegan dan dinamis. Disamping itu bisa jadi lantaran saya sudah jauh lebih familiar menggunakannya ketimbang ProBook ini.

Secara prosesor, Compaq CQ40 yang menyandang AMD Turion dan kartu Grafis Ati Radeon plus memory (RAM) 2GB, secara kinerja ternyata kalah jauh dengan HP ProBook 4320s. Jelas saja saya maklum, wong ni ProBook sudah menyandang prosesor intel core 3 atau yang dikenal dengan istilah i3 plus memory 3GB meski tanpa bantuan kartu grafis.

Saya katakan demikian setelah mencoba menjalankan beberapa aplikasi tingkat tinggi yang rata-rata mensyaratkan spesifikasi tertentu agar bisa berjalan dengan baik. Katakanlah AutoCAD, Photoshop CS4 atau games lama Need For Speed UnderCover.

Jika saat saya menggunakan Compaq CQ40, memerlukan masa tunggu yang lumayan lama (hitungan 7-10 detik) untuk menyatakan bahwa aplikasi siap digunakan, tidak demikian halnya dengan ProBook. Demikian pula dengan start up awal sistem operasi yang terasa begitu jelas perbedaannya.

Dilihat dari efek panas yang diciptakan ketika dipangku saat dinyalakan, Compaq CQ 40 bisa dikatakan lebih baik ketimbang Acer lama saya, namun ProBook malah jelas jauh lebih baik lagi. Entah karena bahan metal yang digunakan untuk melapisi bodi notebook secara keseluruhan ataukah memang faktor perbedaan penggunaan prosesor ?

Butuh waktu lama untuk bisa menyesuaikan diri dengan baik dalam menggunakan ProBook. Mengingat begitu banyak hal yang masih tersimpan didalam notobook lama. Dari data dan foto pribadi, dokumen kantor, multimedia dan juga hasil donlot, setting akun email, bookmark browser hingga beberapa aplikasi yang kerap digunakan dan jujur saja saya lupa dapat dari mana.

Praktis, semua data pribadi yang dahulu mengambil space setengah harddisk notebook lama, secara bertahap dipindahkan ke ProBook yang ternyata punya space yang tidak jauh berbeda. Itu sebabnya, Compaq CQ40 yang dahulu begitu saya banggakan, kini malah adem tersimpan dalam tas yang dahulu menjadi teman setianya.

Optimalkan Windows dengan TuneUp Utilities

9

Category : tentang TeKnoLoGi

Ketika kinerja sebuah PC atau laptop sudah mulai melambat, sebagian orang mulai berpikir untuk meng-install ulang sistem operasi yang mereka gunakan, menambah atau melakukan upgrade jeroan yang ada didalam CPU atau malah menggantinya dengan yang baru. Pemikiran itu tidak salah lantaran bagi awam sungguh sulit bisa memahami kinerja PC atau laptop yang mereka miliki.

Jika Anda termasuk salah satu dari gambaran ilustrasi diatas, gak ada salahnya sebelum memutuskan, barangkali bisa mencoba terlebih dahulu saran saya kali ini. Silahkan unduh (download) aplikasi TuneUp Utilities terlebih dahulu dari www.tune-up.com. Satu aplikasi berkategori Utility yang sangat berguna untuk mengoptimalkan kinerja PC atau laptop Anda. Aplikasi ini kurang lebih berfungsi sama dengan Norton Utilities yang dulu pernah trend sekitar tahun 2003.

Adapun fitur-fitur yang dimiliki oleh aplikasi TuneUp Utilities ini adalah sangat banyak, namun beberapa yang penting diketahui adalah bersih-bersih file sampah (file yang tidak berguna bagi PC), menonaktifkan aplikasi yang dijalankan pada saat start-up Windows, pengelolaan Hard Disk, hingga optimalisasi kinerja sekaligus performance Windows pada PC atau laptop.

Untuk pengguna awam, saat PC atau laptop dinyalakan dan siap digunakan, tidak banyak yang tahu bahwa Windows menjalankan beberapa aplikasi yang tak terlihat atau beraktifitas dibelakang layar dan mengambil opsi Memory (RAM) dalam jumlah yang tidak sedikit. Aktifitas ini bisa diketahui dari banyaknya jumlah icon (gambar/logo kecil) yang tampak pada sudut kanan bawah layar, tepatnya di area Jam. Semakin banyak icon yang nampang disitu, makin banyak Memory (RAM) yang digunakan, yang artinya ketika aktifitas bekerja dimulai opsi sisa Memory yang dapat digunakan oleh berbagai aplikasi yang dijalankan tidak optimal. Makin sedikit sisa Memory yang tersedia, maka kinerja PC makin tampak melambat. Untuk memeriksa berapa banyaknya Memory (RAM) yang digunakan dapat diakses melalui Task Manager (tekan tombol Ctrl-Alt-Del secara bersamaan lalu pilih Start Task Manager, bisa juga dengan mengklik kanan Taskbar).

Dengan memanfaatkan aplikasi TuneUp Utilities ini, aplikasi-aplikasi yang dijalankan saat PC atau laptop dinyalakan dapat dinonaktifkan sementara untuk menambah kinerja Windows. Lakukan Restart untuk melihat perubahannya. Apabila selanjutnya terdapat kebiasaan yang tidak dapat berfungsi (misalkan transfer foto dari kamera ketika kabel data disambungkan), Anda bisa mengaktifkannya kembali dan lakukan Restart untuk melihat perubahannya.

Sedari awal penggunaan PC atau laptop, Windows secara otomatis menciptakan file  sementara (yang dikenal sebagai Temporary Files) berfungsi untuk penyelamatan data atau aktifitas yang dijalankan sebelumnya. Sayangnya apabila tidak dibersihkan secara berkala, file ini akan mengendap sebagai sampah dan memenuhi ruang space Hard Disk yang tersisa. Apabila tidak terjadi kehilangan data selama penggunaan, tidak ada salahnya file ini dibersihkan. Demikian juga dengan aktifitas instalasi aplikasi yang ketika dikemudian hari diketahui bahwa aplikasi tersebut tidak berguna lalu dihapus, secara otomatis aplikasi yang bersangkutan meninggalkan jejak pada Registry yang kelak dapat digunakan apabila pengguna melakukan instalasi kembali aplikasi yang sama.

TuneUp Utilities menyediakan opsi untuk melakukan pembersihan file sampah ataupun Registry secara menyeluruh, untuk mendapatkan kembali ruang sisa pada Hard Disk serta melakukan pengelolaan secara berkala seperti fitur Defrag (penataan kembali lokasi file agar lebih mudah dan cepat ditemukan) dan Disk Doctor untuk perbaikan ruang pada Hard Disk.

Apabila kinerja Windows pada PC atau laptop masih belum jua memuaskan, TuneUp Utilities menyediakan opsi Optimalisasi yang diinginkan oleh Pengguna. Baik terkait optimalisasi Sistem, apakah lebih mementingkan penampilan visual terbaik atau performance terbaik atau malah kombinasi keduanya, maupun terkait optimalisasi kegiatan internet-an yang makin trend belakangan ini. Tak lupa aplikasi ini juga dapat memberikan saran-saran yang dapat diikuti oleh pengguna untuk mendapatkan optimalisasi yang jauh lebih baik.

Bagaimana ? ada yang belum jelas ? Sebetulnya masih banyak fitur lain yang terdapat dalam aplikasi TuneUp Utilities ini, namun terkait peningkatan kinerja dan performa Windows pada PC atau laptop, saya kira tips diatas sudah cukup mewakili. Jadi, gak ada salahnya mencobanya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk bertindak lebih jauh. Salam dari Pusat Kota Denpasar.

PanDe Baik dan HP Compaq Presario CQ40

7

Category : tentang TeKnoLoGi

Kesan pertama yang dapat saya gambarkan begitu melihat sosok laptop pengganti Acer saya terdahulu adalah ‘modelnya jadul banget, mirip laptop lama merk Toshiba milik atasan saya terdahulu. Kalo ga’salah ingat pas awal pembuatan blog ini diawalinya ya dengan laptop Toshiba milik atasan saya itu loh. Hehehe… Kenapa saya katakan jadul, karena pada area bawah keyboardnya ada lapisan metal berwarna silver sedangkan area keyboard dan frame layarnya berwarna hitam.
HP inside
HP Compaq Presario CQ40, kurang lebih demikian seri laptop yang saya ketahui dari label yang terdapat pada lapisan metal pada bagian dalam laptop, yang ternyata setelah hunting di Mbah Google malahan memiliki beragam macam nomor seri lagi yang berbeda. Perbedaan nomor seri pada laptop CQ40 ini disebabkan oleh perbedaan prosesor yang digunakan, besaran kapasitas penyimpanan maupun jenis kartu grafis yang digunakan. Adapun nomor seri yang dimaksudkan pada laptop yang kini saya gunakan adalah 416AU.

Untuk lebih jelasnya berikut spesifikasi laptop seperti yang tertera pada box pembelian. Prosesor AMD Turion X2 Dual Core 2,2 GHz, kartu grafis Ati Radeon HD 3200, hard disk 320 GB, memory DDR 2 GB (aslinya Cuma 1 GB), DVD+RW double layer, Wifi, webcam, card reader built in dan layar 14”. Sayangnya minus Bluetooth. Ketiadaan koneksi nirkabel yang dahulu biasa saya gunakan untuk mentransfer data, lagu dan foto dari-ke ponsel, saya akali dengan menggunakan dongle eksternal bluetooth yang bentuknya kecil sehingga ga’terlalu mengganggu pemandangan.
HP BT
Dibandingkan Acer 4520 laptop pertama saya terdahulu, tidak banyak tombol yang disediakan oleh Compaq pada bodi baik disekitar permukaan keyboard maupun sisi samping, yang ada hanyalah tombol Power dan Wifi. Ini agak menyulitkan saya untuk mengatur volume audio yang dimainkan mengingat ketiadaan pengatur volume audio seperti halnya Acer.

Rumitnya penggunaan shortcut tombol pada keyboard juga lumayan menyulitkan saya mengakses fungsi-fungsi tertentu pada laptop. Untuk pengaturan volume sebenarnya sudah ada namun tidak dapat berfungsi dengan baik, demikian pula dengan pengaturan tingkat kecerahan (brightness) layar. Barangkali memerlukan aplikasi khusus untuk dapat menggunakannya.

Yang tak kalah mengejutkan adalah colokan power yang disediakan tidak tergolong standar Indonesia, masih berstandar Internasional. Untuk itu saya musti mencarikan colokan converter agar bisa digunakan pada colokan listrik dirumah. Ada dua buah colokan power yang disediakan, namun hanya satu yang dapat digunakan. Ini terkait dengan voltase yang dimiliki oleh masing-masing colokan.

Untuk performa jujur saja blom sempat saya coba dengan membuka data peta berukuran besar ataupun menjelajah peta dunia, namun ada beberapa fitur baru yang saya lihat mulai digunakan oleh laptop masa kini termasuk Compaq yang saya miliki ini. Diantaranya tombol on/off touchpad, berguna apabila kita lebih familiar dengan mouse ketimbang touchpad, sehingga fitur ini bisa di-nonaktifkan.

Selama kurang lebih seminggu pemakaian laptop HP Compaq Presario CQ40 416AU ini bisa dikatakan belum banyak yang saya lakukan untuk mencari tahu seberapa besar manfaat yang diberikan dibandingkan laptop Acer saya terdahulu. Paling-paling hanya untuk terkoneksi internet, donlot Youtube (seperti biasa) dan chat via webcam mumpung koneksi dah unlimited. Mungkin lain kali bisa saya lanjutkan lagi.

Bye ACER 4520, Welcome HP Compaq Presario CQ40

9

Category : tentang TeKnoLoGi

Tepat dua tahun… umur laptop pertama yang saya miliki. Mengambil Acer seri 4520 edisi kedua kalo ga’salah, bisa dilihat dari ciri chasing luarnya yang udah full berwarna hitam mengkilap dan lapisan dalam baik frame layar maupum keyboardnya sudah berwarna putih nyaris krem. Boleh dikatakan laptop ini sangat berjasa bagi kelangsungan proses perkuliahan saya selama dua tahun tersebut hingga menyelesaikan tugas terakhir bernama Tesis. That’s great…

Sayang, disaat saya begitu merasakan ketergantungan pada benda bernama laptop, Acer yang saya miliki tersebut mulai menunjukkan ketidakberesannya. Pertama, loading start windows yang cukup lama, kendati item pada proses startup sudah saya pangkas menyisakan fitur Bluetooth, Antivirus dan driver pendukung laptop saja. Proses loading baru benar-benar bisa dikatakan berhasil apabila item Wireless Connection sudah berhasil ditampilkan di pojok kanan bawah. Jika tidak, maka apapun yang dilakukan (sambil menunggu proses loading selesai) tidak akan dapat berjalan dengan baik. Contohnya saja menjalankan aplikasi Winamp atau koneksi internet yang secara otomatis bakalan hang dan mengakibatkan tampilan layar bergetar ga;mampu dikendalikan.

Penyakit kedua dialami ketika modem eksternal dicolokkan ke port USB biasanya akan menampilkan kotak dialog di pojok kanan bawah bertuliskan ‘USB not recognized’ yang artinya modem musti dicabut dan dicolok ulang dan berulang kali hingga berhasil. Penyakit ketiga sekaligus terakhir adalah dvdrom tidak dapat dideteksi oleh laptop kendati sudah di booting ulang.

Berdasarkan ketiga keluhan diatas saya menyerahkan laptop kepada Technic Computer, tempat dimana saya membelinya dahulu selama kurang lebih dua hari untuk diperiksa, yang akhirnya menjawab semua keluhan saya. Kerusakan terjadi akibat gangguan pada mainboard laptop. Mereka memberikan tiga opsi kepada saya untuk dipilih.

Pertama, mainboard diakali dan biasanya bisa berhasil dengan garansi sebulan, namun tidak menutup kemungkinan masalah yang sama akan timbul kembali. Kedua, me-replace mainboard dengan biaya sebesar 2,5 juta rupiah (nyaris seharga laptop baru) dengan masa garansi 2-6 bulan. Ketiga, dibandingkan ribet soal perbaikan, mereka menyarankan saya untuk menjual laptop dan mengambil baru. Hmmm… jujur saja ini adalah pilihan yang teramat sulit bagi saya yang memiliki dana cekak dan amat sangat terbatas. Bukankah pertimbangan utama saya untuk menyelesaikan studi S2 lebih awal lantaran terkendala biaya ?

Bersyukur Istri mampu memberikan pertimbangan yang sangat baik kepada saya secara pribadi. Ini setelah pentolan Technic Computer menyarankan kepada saya untuk mengambil opsi ketiga plus tambahan beberapa kemudahan. Saya bisa mendapatkan laptop yang saya inginkan kendati laptop Acer tersebut belum terjual. Waaahh… tawaran menarik tentu saja.

Untuk pilihan berikutnya banyak rekan yang menyarankan ‘jangan mengambil Acer lagi deh. Bukan apa-apa, karena mereka memiliki pengalaman yang kurang lebih sama dengan yang saya alami. Bermasalah pada mainboardnya. Hey ada apa dengan Acer ? bathin saya… istri pun demikian, sekalian saja mengambil yang ‘terpercaya’ walaupun sedikit lebih mahal, toh masih ada sedikit persediaan dana yang bisa digunakan. Masih tak kalah, pentolan Technic computerpun memberikan daftar list laptop yang ‘layak untuk dijadikan sebagai hak milik. Pertimbangannya tentu saja kartu grafis tambahan agar lebih memudahkan pekerjaan saya yang hampir selalu bersinggungan dengan aplikasi grafis seperti AutoCad dan juga Photoshop.

Maka jadilah saya memilih HP Compaq Presario CQ 40 sebagai ‘the next notebook menggantikan Acer 4520 terdahulu. Laptop ini memiliki spesifikasi yang gak jauh beda dengan laptop Acer sebelumnya yaitu prosesor AMD Turion X2 2,2 GHz dan kartu grafis Ati Radeon HD 3200 plus kapasitas penyimpanan (hard disk) sebesar 320 GB. Sudah lebih dari cukup saya kira.
Bye HP Compaq
Untuk bagaimana gambaran kesan pertama saya menggunakan laptop baru ini, saya ceritakan dalam tulisan terpisah selanjutnya. Hehehe…

Migrasi (juga) ke Kuota 1 GB

3

Category : tentang KHayaLan

migrasis.jpg

Lantaran biaya nge-net melebihi angka seratus ribu rupiah sedang volume pemakaian gak nyampe angka 1 GB, akhirnya keputusan buat Migrasi kartu Starone Jagoan terjadi juga. Dari Time Based ‘25 rupiah per menit‘ jadi seratus ribu untuk Kuota 1 GB. Keputusan ini ya berpatokan pada itung-itungan terdahulu, dimana jatuh biayanya akan jauh lebih murah apabila pemakaiannya melebihi dari waktu yang ditetapkan -66,67 jam- untuk nominal sama, yaitu seratus ribu.

Gak terasanya make internetan sebanyak itu selama sebulan (kalo dirata-ratakan seharinya maksimum 2 jam lebih dikit) lantaran aktivitas paling banyak dilakukan adalah nge-BLoG (ada empat buah BLoG he… yang harus diupdate secara berkala), chatting sekedar berbagi kabar, BLoG walking ke rekan-rekan lainnya juga Browsing sekedar nyari berita terkini juga beberapa aplikasi gratisan, paling akhir sih cuman cek Email dan update Antivirus.

Nah dengan aktivitas yang memang jarang mengunduh video via YouTube lagi, maka Migrasi ke Kuota 1 GB jadi jalan satu-satunya terbaik, dengan pertimbangan lebih dibanding Telkom Speedy adalah sifat mobile-nya yang bisa dibawa pergi kemanapun.

Yah, semoga saja dengan jatah volume 33 MB per hari bisa meng-cover semua aktivitas diatas, dan mungkin sudah saat untuk nyari pendapatan lebih cuman buat nalangin biaya nge-net aja kali ya…

Beda motivasi ya beda guna

7

Category : tentang KeseHaRian, tentang TeKnoLoGi

Di kelas yang gede ini kalo mau diitung, palingan cuman 5 siswa aja yang tampak sibuk ngrjain tugas, ciri khasnya tentu keranjingan bawa laptop kinyis-kinyis dari rumah. Entah emang kperluan ato sekedar nampang ya bisa diliat dari aktivitasnya di ruangan.

Oya, skedar informasi tak resmi, kelas ini seharusnya nampung 26 biji siswa yang hampir lima puluh persennya banyakan absennya dalam sebulan. Tapi herannya kalo sudah waktunya bagi-bagi duwit, kelas tampak rame serame pasar murah sejak pagi. Entah setan mana yang mbisiki anak2 itu kok instingnya selalu tepat kalo udah urusan bagi-bagi jatah.

Balik ke topik, pembawaan barang portabel ini lantaran 4 biji pc yang tersedia di pojok belakang ruangan selalu penuh terisi setiap harinya oleh orang-orang yang berkepentingan maupun tidak (kategori ini termasuk yang demen maen gim bola-bola saat jam belajar). Tapi rupanya kelima anggota kelas yang belakangan mbentuk grup ‘Power Laptop’ dengan tujuan membangun negeri dengan kepemilikan laptop pribadi, dengan asyiknya tenggelam dalam pekerjaan masing-masing disaksikan pandangan kekaguman siswa lain yang rupanya entah karena blom kesampean buat ngebeli barang dewa ini ato malah ndak ngerti sama sekali.

Tapi yang namanya beda motivasi buat kepemilikan barang jinjing ini berimbas ke pemakaiannya saat nyampe di meja belajar masing-masing. Dua orang pentolan kelas yang emang super sibuk, tampak serius menatap layar laptop dengan setumpuk pe er disebelahnya. Seorang lagi yang sbentar lagi bakalan didapuk jadi calon perwakilan kelas, tampak memakai laptopnya dalam beberapa kejap skedar untuk bertanya, ‘apa materi kuliah buat besok sudah slesai’ ato malah ‘kok game ini ndak bisa dimakinkan ya ?

‘Seorang siswa yang gemar melantunkan tembang religiuspun tampak asyik didepan laptopnya yang ternyata nampilkan video-video lokal dalam format 3gp. Pantesan aja betah duduk dari pagi. Show gratisan ini tentu menarik minat siswa lain yang kebetulan lagi ndak punya pe er khusus dan milih ikutan nimbrung sekedar menyalurkan hasrat hari kmaren.

Sisa satu lagipun tampak asyik dipojokan depan, diiringi tembang-tembang yang cukup membuat orang emoh untuk mendekati. Ternyata yang dilakukannya sangat bertentangan dengan tugas dan kewajiban siswa, sama dengan oknum terakhir tadi, yang akhirnya melahirkan tulisan pada blog ini. Halah…

Mimpi Lagi Nde ?

Category : tentang TeKnoLoGi

Ngliat bawaan seorang teman kuliah, yang memang duit bukanlah satu hal sulit baginya tuk didapatkan, mengingat latar belakang keluarga dan kemampuan yang sangat mendukung.Anyway, laptop kecil dan touchscreen ?
That’s awesome.

Jadi pengen punya nih…