Mempertahankan Tradisi ngeLawang Kuningan

7

Category : tentang KeseHaRian

Matahari masih bersinar dengan teriknya, kamipun sudah bersiap untuk balik pulang kerumah, rutinitas tiap Rahinan Kuningan sudah selesai kami laksanakan, tinggal ngiring Ida Betara Ratu Gede sane jagi lunga ke Pura Dalem Bonkeneng Tonja. Rahinan Kuningan yang jatuh pada Saniscara (Sabtu) Wuku Kuningan ini tak jauh berbeda suasananya dengan Rahinan Galungan. Jalan raya tampak lengang, karena tak sedikit umat Hindu yang melaksanakan kewajibannya sebagai numat beragama. Demikian pula kami.

Dari kejauhan suara gambelan terdengar sayup-sayup. Iramanya mengingatkan kami pada gambelan yang kerap mengiringi tarian Barong di desa kami. Dan rupanya kami tidak salah.

Canggu merupakan sebuah desa yang berada di kawasan Kabupaten Badung, salah satu desa yang masih mempertahankan tradisi ngeLawang. ngeLawang adalah sebuah garapan tari kontemporer yang banyak diilhami oleh tari Barong Ket yang keberadaannya tidak asing lagi bagi masyarakat Bali. Kabarnya ngeLawang ini bertujuan untuk mengusir roh jahat yang berkeliaran di desa setempat, menyucikan desa hingga sebagai antisipasi pertama ketika desa diserang wabah penyakit.

Sesuai arti katanya, ngeLawang dilakukan secara berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lainnya atau dari satu pintu ke pintu lainnya. Di dalam tarian ini ditampilkan 2 buah barong buntut (hanya bagian depan dari barong ket) dan sebuah punggalan (topeng) barong ket.

Apa yang kami saksikan pada hari ini tidak jauh berbeda dengan pemahaman yang digambarkan oleh Babad Bali tersebut. Hanya saja barong yang dipergunakan dalam tradisi ngeLawang disini adalah Barong Bangkung (berupa sosok Babi) dan bukan Barong Ket.

Kalau tidak salah beberapa hari lalu Media JawaPos dan Radar Bali sempat menurunkan liputan khusus mengenai tradisi ngeLawang yang kini sudah mulai bergeser dari tujuan utamanya. Bahkan ada beberapa kelompok (sekaha) yang kerap ngeLawang di daerah Ubud lebih tertarik menyasar Hotel dan Restaurant ketimbang rumah penduduk dengan alasan uang yang didapatkan jauh lebih banyak.

Berbicara uang, tentu kita berbicara tentang jasa. Di daerah Canggu rupanya juga demikian. ngeLawang disini tidak dilakukan dengan sukarela alias ‘ngupahin’. Ngupahin ini artinya kurang lebih seperti ‘nanggap’. Penduduk yang berminat, menghaturkan canang yang berisikan sesari (uang) dan kemudian memohon Tirta yang nantinya akan dipercikkan dihalaman rumah mereka.

Peminatnya ternyata cukup banyak terutama bagi mereka yang masih memiliki ternak peliharaan berupa babi. Kabarnya Tirta yang dimohonkan tersebut dapat juga dipercikkan pada ternak mereka untuk kesehatan dan kemakmurannya.

Mempertahankan Tradisi ngeLawang bagi kami pribadi merupakan satu nilai positif yang dapat kami perkenalkan pada MiRah GayatriDewi putri kecil kami secara langsung setiap rahinan Kuningan, bisa jadi pada generasinyalah kami bisa berharap bahwa Tradisi ini akan terus ada.

Ohya, tidak lupa PanDe Baik beserta keluarga mengucapkan Selamat merayakan Hari Raya Kuningan bersama Keluarga, semoga kedamaian akan selalu berada disekitar kita.

PanDe Baik mengucapkan Selamat Hari Raya Galungan

4

Category : tentang KeseHaRian

Gak terasa ya ternyata hari ini sudah sibuk-sibuk lagi, padahal baru kemarin rasanya kami membuat dan memasang penjor didepan rumah. Kendati begitu, ada yang berbeda dengan suasana hari raya kali ini.

Rumah yang tak lagi ramah. Disebabkan oleh banyaknya kepentingan-kepentingan yang saling beradu dan berusaha untuk merebut kemenangan pribadi diatas kepentingan bersama. Makin banyak wajah-wajah yang tampak merenggut begitu kami melintas dan terpaku diam tak berbicara ketika kami meraih satu keberhasilan. Makin banyak manusia yang berkoar-koar mengatakan dirinya paling hebat, paling tahu dan paling berhak atas apa yang sebenarnya bukan hasil jerih payah atau milik mereka. Well, setiap orang memang diciptakan berbeda.

Melintasi jalanan Kota Denpasar yang terasa berbeda dari biasanya, mengamati wajah-wajah yang sumringah menyambut hari kemenangan Dharma dan mereka yang tampak berbondong-bondong pulang ke kampungnya membuat kami semakin miris jika mengingat rumah. Sayang memang jika di hari yang suci ini benih permusuhan kian banyak ditebar hingga ke anak dan cucu mereka. dan kami hanya bisa menghela nafas saja.

Memandang hijaunya sawah disepanjang jalan menuju Canggu, mengingatkanku pada masa remaja yang senang berkendara diatas sepeda motor demi mendapatkan cerahnya hidup dan senyum yang mengembang. Bersyukur baik teman yang aku miliki, rekan kerja hingga orang-orang yang barangkali jarang bersua malahan dengan sukarela memberikan tawa mereka sehingga hari-hari kami lalui dapat tergambar dengan indah selayaknya ikut serta merayakan kemenangan.

Pagi ini 12 Mei 2010, PanDe Baik beserta keluarga mengucapkan ‘Selamat Merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan, semoga apa yang telah dirintis sejak awal secara jujur dan tetap berusaha berada di jalan yang benar, akan mendapatkan keadilan dan kebaikan. Bagaimanapun juga rekan-rekan merupakan cahaya bagi kami untuk bisa tetap berkarya dan berbagi.

Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

16

Category : tentang KeseHaRian

GaLungan kuningan BLoG

…saatnya berkumpul kembali bersama sanak keluarga…

…menancapkan penjor didepan rumah…

…bersama-sama menuju pura dimana semua doa dipanjatkan…

…dari sebuah kartu pos…

beralih ke telegram indah…

sms…

blog…

dan kini facebook serta twitter…

…bukan tak mungkin sebentar lagi beralih ke Tumblr…

…hanya ingin mengucapkan…

Selamat merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan beserta keluarga…

…dari Pande Baik sekeluarga