Warung Subak, Exotic Grilled Seafood Restaurant

8

Category : tentang PLeSiran

Masih tak percaya saat kejutan kecil datang dari tempat makan yang dahulu pernah saya tuliskan di blog ini awal Juni lalu. Mereka memberikan tawaran Free Makan bareng Keluarga yang berlaku hingga akhir Juli mendatang. Namun tak perlu menunggu hingga Juli tiba, kami akhirnya mencoba berkunjung kembali kendati ada perasaan was-was didalam hati.

Warung Subak. Bagi yang kerap melintas di jalan Astasura, pertigaan Jalan Nangka Utara menuju jalan Ahmad Yani Peguyangan Kaja, pasti sudah tak asing lagi dengan keberadaan Restauran tepi sawah yang satu ini. Awal kami berkunjung tepatnya tahun 2007 lalu, sempat menggelitik lidah dengan aroma dan rasa masakannya yang Khas, sangat pas dengan selera kami sekeluarga. Itu sebabnya, iseng saja saya menuliskan sedikit pengalaman dengan bahasa seadanya tentang Warung Subak sepulang kami kerumah.

Berselang empat tahun, Warung Subak mengalami banyak perubahan. Kami masih ingat bahwa dahulu itu, area Warung Subak masih sangat terbatas. Dibelakang area, terhampar bentangan sawah yang barangkali bisa menambah asrinya suasana makan baik di siang maupun malam hari. Kini dengan perluasan yang jauh lebih baik ditambah parkir area yang lebih luas, Warung Subak tampaknya kian yakin untuk melangkah kedepannya. Dibandingkan dengan terakhir kali saya berkunjung dengan Rekan Kantor, rupanya ada unit baru yang berdiri megah di sisi timur area Warung Subak. Meeting Room. Satu ruangan besar yang siap menawarkan berbagai fasilitas terbaik bagi para konsumen yang membutuhkannya.

Dengan nuansa Exotic yang hadir disetiap sudut Warung Subak, tampaknya tak salah apabila keramaian yang kami dapati hari Minggu malam kemarin memang patut diacungi jempol. Meskipun menyajikan masakan SeaFood khas Jimbaran, secara selera pribadi jujur saja, Warung Subak malah memiliki rasa khas lebih baik lagi, terutama pada paket Kerang Bakar yang hingga hari ini masih menjadi Menu Favorit setiap kali berkunjung kembali.

Lain lagi pendapat Istri dan Ibu saya yang memang menggemari masakan khas Bali. Plecing Kangkung dan Sambel Matah merupakan dua Menu yang paling dinanti. Tak heran jika Ibu kerap secara sembunyi-sembunyi menuangkan sisa Sambel Matah yang disajikan dalam Cup merah ke helai daun untuk dinikmati dirumah esok paginya. Hehehe…

Ohya, untuk menggencarkan Promosi mereka, Warung Subak kini sudah bisa ditemui diberbagai belahan dunia maya loh. Silahkan mampir ke WarungSubak.com untuk informasi lengkap pesanan paket yang siap diantarkan, mampir juga di akun Warung Subak pada jejaring sosial FaceBook dan bisa juga dengan memfollow akun Twitter @warungsubak.

Agar tak menunggu pesanan terlalu lama saat tiba di Warung Subak, sebelum berkunjung, konsumen bisa melakukan pemesanan tempat dan juga paket terlebih dahulu lewat nomor telepon 7436702 atau 9167709. Info dan keterangan paket yang ditawarkan pun beragam. Dari 10 orang, 20 hingga per paket dengan Menu khususpun bisa.

Bagi yang penasaran dengan jenis Menu maupun harga paket yang ditawarkan, bisa mampir langsung di halaman WarungSubak.com atau mengunduh Brosur Paket yang ditawarkan Warung Subak disini.

Beberapa Promo berupa Diskon tambahan pun mereka berikan bagi konsumen yang memiliki Kartu Kredit BNI sebesar 20% dengan pembelanjaan minimum Rp. 100,000 dan maksimal Rp. 2,000,000 berlaku sampai dengan agustus 2011. Sedangkan bagi yang memiliki Kartu Member Subak diberikan diskon sebesar 10% (Senin – kamis) dan 5% (Jumat – Minggu). Sedangkan untuk pembelanjaan Subtotal diatas Rp. 250,000 akan mendapat Voucher 10% dan bisa digabung dengan diskon Member Subak sehingga mendapat diskon yang lebih besar. Diskon member ini berlaku setahun dan Voucher sebanyak 1000 Voucher saat ini baru berjalan 150 voucher dan sudah diklaim.

Satu lagi. Berkaitan dengan datangnya kami ke Warung Subak hari minggu lalu, kabarnya dalam rangka menyambut musim liburan, mereka masih memberikan tawaran Makan Gratis di Warung Subak hingga bulan Agustus nanti loh. Cara untuk mendapatkannya, sederhana saja. Silahkan Follow akun Twitter @warungsubak dan akun FaceBook Warung Subak atau bagi yang memiliki perangkat BlackBerry bisa meng-add PIN mereka di 261BC828 atau bisa juga dengan add nomor Whatsapp Messenger 081353114555. Setelah itu, silahkan melakukan promosi ke rekan-rekan lain dengan melakukan mention ke Warung Subak. Jika sudah, Se7en Manajemen akan memilih siapa yang berhak untuk mendapatkan tawaran mengasyikkan ini setiap bulannya. (kira”pasca tulisan ini turun, www.pandebaik.com bakalan dapet lagi gag yah ? :p )

Nah, bagaimana ? Siap menikmati hidangan khas Warung Subak ?

 

Nikmatnya Ikan Bakar Pulau Serangan

10

Category : tentang PLeSiran

Di mata banyak orang, kalo lagi ngomongin soal ikan bakar di seputaran Kota Denpasar, hampir selalu mengingatkan pada ikan bakar Jimbaran. Lihat saja papan iklan jualan ikan bakar yang ada di seputaran sini, rata-rata menampilkan embel-embel ‘Khas Jimbaran’. Padahal, gag melulu loh ikan bakar yang enak itu bisa ditemui di pesisir pantai Jimbaran.

Coba meluncur sekitar 10 km kearah selatan dari Pusat Kota Denpasar (lihat peta). Cari dan tanyakan posisi Pulau Serangan yang ada di seberang Pelabuhan Benoa. Biarpun dari namanya masih terdapat kata ‘pulau’, namun sejatinya sudah tersedia jalan yang lebar dan nyaman untuk mengakses lokasi Pulau Serangan tersebut dengan kendaraan.

Pulau yang dahulunya hanya dapat diakses melalu sarana ‘Jukung’ atau perahu ini, merupakan pulau dimana berstananya Pura Sakenan yang piodalannya jatuh setiap umat Hindu merayakan hari suci Kuningan. Itu sebabnya ketika Reklamasi pantai yang dilakukan pada tahun 2000-an awal lalu, praktis membuat para pemilik Jukung gigit jari. Meski demikian, kabarnya masih ada loh pemedek (istilah umat yang tangkil dan bersembahyang di Pura) yang memilih untuk menggunakan sarana Jukung ketimbang kendaraan bermotor ke Pulau tersebut. Mengingatkan pada masa lalu katanya. :p Tapi Jujur saja, sedari kecil saya pribadi belum pernah tangkil ke Pura ini. :p Pertama kalinya saya menjejakkan kaki di Pulau ini tepatnya saat pagelaran Soundrenalin yang saat itu kalau tidak salah menampilkan Iwan Fals sebagai aksi penutup.

Kembali ke topik ikan bakar, terakhir berkunjung ternyata banyak perubahan situasi yang saya temui. Utamanya adalah, adanya tempat berjualan ikan bakar yang berjejer di sepanjang jalan utama, serupa dengan jualan ikan bakar di pesisir pantai Jimbaran dan Kedonganan. Bisa jadi idenya malah datang dari sana. Bedanya, dari konstruksi yang digunakan, tempat berjualan ini masih tergolong semi permanen dengan minimnya penataan tempat berjualan.  Sekilas malah terkesan jorok. Tapi semua itu dengan segera saya lupakan, mengingat pada nikmatnya ikan bakar yang pernah saya santap setahun lalu.

Dibandingkan ikan bakar khas Jimbaran, dari segi harga tentu disini jauh lebih murah. Kalo tidak salah saya ingat, untuk satu porsi makanan di seputaran Jimbaran dan Kedonganan berkisar antara 100 hingga 200 ribuan, dengan menu beragam. Di Pulau Serangan, harganya bergerak kisaran 25 sampai 50 ribuan per porsi. Itupun tergantung dari pintar-pintarnya kita menawar pada si penjual.

Tempat yang kami pilih bernama ‘Warung Ikan Bakar Pasir Putih’. Kalo tidak salah warung ini berada di urutan ke-7 dari kiri. Setelah tawar menawar, kami memesan 4 ekor ikan untuk dibakar dengan ukuran sedang. Kami beranggapan, Seekornya sudah cukup puas untuk dinikmati satu orang. Namun jaga-jaga, satu ekor yang kami pilih terakhir, jenis dan ukurannya berbeda dengan tiga ekor lainnya. Sambil menunggu pesanan siap, kami memilih untuk berkeliling pulau Serangan, menyusuri jalan kecil dengan kendaraan hingga melewati Turtle Island, tempat pembiakan si kura-kura.

Lagi-lagi dibandingkan dengan ikan bakar ‘khas Jimbaran, dari segi penampilan sajian ya jangan disamakan lah. Dimaklumi saja. Hehehe…  Ikan yang telah usai dibakar ditempatkan diatas ingka (ulatan bambu berbentuk piring) dan dialasi kertas cokelat. Sambal yang disertakan ada dua jenis, Sambal matah dan Sambal Terasi. Pembeli bisa memesannya salah satu saja jika tak suka yang lainnya.

Tanpa dikomando, kami menyantap empat ekor ikan yang tampak pasrah terlentang nikmat dihadapan. Daging ikan yang masih panas menambah selera hingga meninggalkan begitu saja, buliran nasi dan pada akhirnya tersisa cukup banyak. Demi nikmatnya ikan bakar, saya jadi ingat ‘pembantaian’ yang dilakukan saat bersantap malam terakhir Pendidikan LPSE di Jakarta pertengahan tahun kemarin dengan menu Kepiting.

Setelah membayar dengan selembar uang merah ditambah selembar uang ungu bergambar Sultan M.badaruddin, kami meninggalkan Pulau Serangan dengan sedikit janji pada pemilik warung, bahwa kelak kami akan kembali lagi. Lumayan murah jika dibandingkan dengan ikan bakar khas Jimbaran, meski sedikit mahal dibandingkan jatah makan kami biasanya. Tapi karena ini hari raya, tak apalah…

Babi GuLing SapiSial

2

Category : tentang PLeSiran

Nama makanan diatas bukanlah paduan dua daging yang dikemas dalam satu sajian Babi Guling, tapi cuman diplesetkan sedikit lantaran pesanan khusus -Spesial maksudnya-.

Mungkin karena sudah takdirnya sajian Babi Guling mendarah daging dalam setiap insan umat Hindu Bali, saat ditawarkan untuk makan siang sebelum meluncur ke lokasi kegiatan yang akan diperiksa, maka sajian ini pula yang menjadi pilihan utama. Mungkin ini pula menjadi penyebab mengapa lama-lama wajah dan penampilan (terutama bagian perut) saya malah mirip Babi Guling. Huehehe… Ndut !

Menyasar lokasi daerah Mambal, yang dahulunya bertempat di sisi timur jalan tepat pertigaan jalan utara Pasar Mambal, yang kalo kearah utara tembusannya ke Bongkasa, sedang kearah Barat nembus ke daerah Penarungan-Abiansemal. Kini berlokasi sedikit keutara, masih pada jalan yang sama, dibarat jalan.

Sebetulnya dari sajiannya sih gak beda jauh dengan lainnya, ini dilihat saat rekan yang paling pertama memesan paket Reguler -biasa- he…. nah, saat rekan berikutnya memesan, dia minta yang spesial. Maksudnya gak pake daging jeroan (khawatir asam urat kali ya), dan diganti pake Kulit Guling yang kriek uenak gitu loh.

Maka, saya pun jadi ikutan latah memesan sajian Bagi GuLing SapiSial (sajian yang lebih khusus lagi), berisikan nasi putih, lawar merah dan sedikit daging basah plus segunung Kulit GuLing. Wah wah wah…. rekan lain jadi iri dan langsung saja menukar pesananannya sama dengan saya. Huahahaha….

Tentu istilah SapiSial disini gak bakalan dimengerti oleh penjualnya jika ada rekan yang usai membaca posting ini langsung meluncur ke TKP buat nyobain sajian unik ini. Karena istilah ini cuman bisa-bisanya saya dan rekan-rekan yang ikutan waktu itu aja. He…

BurGer ? Yummy…

1

Category : tentang PLeSiran

Boleh dikatakan kalo roti isi irisan daging satu ini udah jadi favorit sejak masa kecil dahulu. Masih teringat jelas rutinitas melahap burger tiap dua minggu sekali made in Toko Asia (waktu masih berlokasi di depan rumah makan Mie Jakarta jalan Veteran), dibeli dari sisihan uang saku yang dikumpulin tiap harinya. Waktu itu (masa SMP 1990an) harganya tergolong mahal 4 ribuan, seharga komiknya Tiger Wong kalo ndak salah. He…

Hobi makan burger sebetulnya berawal dari kiriman seorang famili ortu yang membuka Restoran Mini di Kuta sana. Beliau ini secara rutin ngirimin cemilan makanan yang biasa disantap turis-turis, tentu merupakan makanan yang aneh bagi ortu waktu itu. Kalo ndak salah ada Sandwich isi telor mata sapi, isi keju dan tentunya Burger. Makanan aneh ini rupanya membuat saya jatuh cinta (didukung pula oleh embel-embel makanan ala barat yang bagi seorang anak kecil seperti saya waktu itu, ngerasa top banget bisa makan makanannya Mac Gyver, he….)

Burger baru jadi familiar terdengar setelah Gerai Mc Donalds menjualnya dengan harga PaHe 5 ribu saja, namun seringkali yang didapat adalah Burger yang PaHe juga, tanpa sayur, tomat maupun mayonaisenya… kadang sangat mengecewakan bagi saya, tapi dimana lagi bisa ngedapetin Burger dengan harga segitu ? Apalagi kalo inget-inget paket Big Mac dibanderol 20 ribuan kalo ndak salah. Harga mahal bagi kantong saya tentunya.

Lebih familiar lagi saat Burger dijual keliling dengan brand Top Burger. Harganya murah dikit dibanding milik McD, dan penampilannya juga gak jauh beda. He…. Begitu pula dengan Burger kering kerontang plus Sambal sachet Kokita yang dijual di toko-toko roti. Lama-lama males juga dengan penampilan Burger hemat yang segitu-gitu aja.

Setelah bekerja dan menghasilkan uang sendiri, keinginan buat menikmati roti ini timbul gara-gara kepincut Klenger Burger yang memberikan kenikmatan sebuah Burger (lengkap dengan irisan daging yang uenak, sayur, tomat dan Mayonaise hangatnya). Harganya dua kali lipat dibanding PaHe tadi. Gak ketinggalan Gerai Kebab Turki pun menyediakan Burger dengan harga yang lebih bersaing, dan secara pribadi, belum bisa ngalahin enaknya si Kelenger tadi.

Nah, ceritanya sehari usai upacara Otonan putri kami Selasa lalu, aku diminta mengantar ortu ke rumah duka seorang famili di daerah Pagan (perempatan jalan WR Supratman-Ratna-Plawa). Dengan tujuan awalnya buat nyari info kursus mengemudi yang kata si pemilik via telpon sebelumnya berada di dekat Circle K (kebetulan disebelah timur lokasi rumah duka). Eh, mata ini gak sengaja menangkap sebuah warung mini yang menawarkan Burger Double seharga 6 ribu saja. Wah, hasrat buat nyobain Burger jadi muncul lagi.

alo dibandingkan dengan Kelenger Burger, ya jelas kalah jauh. Tapi kalo mau dibandingkan dengan BurGer PaHe milik McD ataupun Top Burger ? Jelas jauh lebih memuaskan. Ini lantaran selain dua iris daging, ada juga sayuran segar, tomat dan mayonaise hangatnya. Walopun berbeda jauh dengan gambar Double Burger dalam Menu yang mereka berikan. Beda tebal daging (tentu saja, wong seharga 6 ribu), juga gak ada irisan Keju Kraftnya.

Setidaknya cukuplah dibanding Burger darurat made in sendiri, yang kalo lagi bokek tapi pengen makan burger, akhirnya nekat ngebeli sekaleng Mayonaise dioles pada roti tawar diisi saos ABC plus pengganti irisan daging dipakelah SoZis. Huahahaha….

Murah Meriah Masakan China

2

Category : tentang PLeSiran

Setelah jatuh cinta dengan masakan China di Depot Rama beberapa waktu lalu, kali ini nyobain Nasi Goreng Sosisnya Warung 67 di pertigaan pertemuan Jalan Nangka – Sandat, tepatnya sebelah barat Warung Rujak yang terkenal itu.

Sebetulnya menu NasGor sosis ini sudah familiar sejak masa SMA dulu, karena kakak cewek berlangganan disitu. Baru setelah punya hobi berburu tempat makan, jadi tau lokasi aselinya. Ternyata dekat rumah.

Dengan harga yang tergolong murah dan tentu saja lumayan enak, plus porsi besar, jadilah ni Warung salah satu alternatif tempat makan pilihan, utamanya kalo lagi nyekolahin motor buat ganti oli juga nyuci yang letak bengkelnya bersebelahan dengan warung 67 ini.

Yummy…

Kembali ke Rumah…

Category : tentang PLeSiran

Pagi yang menyejukkan.
Sangat tepat menggambarkan nuansa akhir liburan yang sudah memasuki Pelabuhan Gilimanuk setelah seharian berkutat dengan belanjaan yang tak kunjung memuaskan mata dan dompet para ibu pengabdi negara ini.Pedasnya Ayam Betutu ala Men Tempeh lumayan membuat aksi balas dendam lantaran makanan yang disajikan selama liburan tak satupun pas dilidah nak bali aseli.
Mewah memang bener. Tapi rasanya sama saja dengan makanan yang disajikan setiap saat upacara resepsi pernikahan.

Uenaknya Sambel Matah cukup menggoyang lidah untuk menghabiskan seekor ayam yang sudah menunggu dijambal oleh 3-4 orang.
Wah, uenake…..
Sama seperti saat makan malam terakhir yang menyajikan Soto Ayam Surabaya plus Mie Goreng khas Jawa Timurannya Pasar Kreneng, kering dan ditaburi daging ayam serta cabe ijo.

Sehabis menyantap sarapan pagi, hiduppun disambut oleh hamparan hijaunya sawah dan pepohonan, cukup membuat kami menarik nafas lega.
Tiba jua kami dirumah…

Gelek-gelek

Category : tentang DiRi SenDiri

Seharian ngetim, ngcek kegiatan diakhir tahun anggaran 2007, memang melelahkan sekaligus menyenangkan.Melelahkan karena harus rela berpanas-panas didalam mobil dinas seharian dari jam 9 pagi hingga 4 sore. Itupun dengan rute yang berbeda tiap bertugas. Tergantung daerah yang akan dituju. Jadi sekalian memperluas pengetahun tentang ruang lingkup wilayah di Kabupaten Badung.

Kok bisa panas2an ?
Yah, namanya juga staf, harus mau mendapatkan mobil yang udah layak ganti, sedangkan para pejabat malah seenaknya mendapatkan mobil baru gres.
Trus mobil dinas lama kok gak dihibahkan ke staf, Pak ?
Dibawa kemana ?

Menyenangkan karena artinya seharian pula bisa jalan-jalan menikmati deretan kegiatan yang berbagai jenis, dari penataan taman rumah dinas Bupati yang oke banget dengan dana yang wah tentunya, hingga jalan-jalan kepesisir pantai melihat bangunan pengawas penyelamat pantai.
Plus makan siang gratis yang bisa dipilih sesuai kesepakatan bersama.

Sialnya uenaknya makan siang gak terasa dilidah lantaran sudah bertekad melakukan puasa makan daging apabila istri berhasil mengandung setelah satu setengah tahun mandeg. Dan ini berlaku hingga istri melahirkan nanti.

So, apabila makan siang disepakati untuk menikmati segarnya daging kambing di sebelah timur patung kuda bandara Ngurah Rai Tuban, maka ‘batun salake kanggoang gelek-gelek ningalin sate kambinge…

ngeWarung yooookkk

Category : tentang PeKerJaan

Seperti pula posting sebelumnya tentang tempat jajan bagi mereka yang fanatik menu khas Bali, didekat kegiatan pengaspalan tepatnya jalan utama menuju lokasi kegiatan, ada juga satu warung kecil yang hanya buka kalo lagi gak ada kegiatan menyama beraya ataupun rahinan tertentu.Ngewarung di Desa Kerobokan tepatnya dari lampu merah di perempatan jalan Kuta – Kerobokan menuju Tanah Lot, kearah barat pada jembatan pertama dipasar bagian utara jalan.
Tempatnya mojok di sisi barat daya areal parkir, jadi bakalan kelihatan kalo lagi melintas dijalan utama yang sedianya baru diaspal.

Seperti halnya tempat jajan murah di Pasar Badung pada posting tempo lalu, disini tak kalah menunya dari rujak yang punya kekhasan buah disisir dengan tipis sehingga uenak buat dinikmati.
Beh gelek-gelek paosne nok…

Ada jula sajian lain dari kolak, daluman , bulung tipat, de el el plus camilan lain yang rasanya gak kalah dengan di Pasar Badung. Hanya saja ini disajikan disatu tempat, sendirian oleh seorang ibu kurus berkulit putih dan senyum yang selalu mengembang.

Pembelinya beragam dari anak kecil hingga dewasa. Uniknya lagi, lantaran banyak anak-anak sampai remaja tanggung yang belanja, rata-rata pasti meminta uang kembalian, si Ibu kerjasama dengan tukang parkir pasar setempat untuk menukar uang receh secara berkala.