Icip Icip Stand Kuliner Taman Kota

Category : tentang KeseHaRian

Hujan deras mendadak mengguyur Lapangan Lumintang Denpasar, sore sekitar pukul 3.50 pasca pulang kantor Senin kemarin. Padahal baru juga sempat berjalan santai mengitari jogging track satu putaran. Hanya mencoba memanfaatkan waktu luang sebelum menjemput Intan di les baca Anemone. Rutinitas baru akhir-akhir ini.

Pilihan berteduh jatuh pada atap emperan terdekat sebelah selatan pura yang masih tampak megah. Bingung mau ngapain sambil menunggu, keputusan pun diambil. Mampir ke stand kuliner pinggiran sungai, sambil berharap ada yang hangat-hangat bisa dinikmati, dan terkabulkan.

Kalau tidak salah ada stand sosis bakar kesukaan anak-anak jaman Now, bubur kacang hijau, juga warung kopi bali di sisi lantai pertama. Turun tangga sedikit, ada rombong sate ayam madura, bakso beranak serta mie ayam dan gerai sate babi di pojok selatan.
Kelihatannya enak.

Sempat kaget di awal sebenarnya pas melihat penataan sungai di pinggiran Taman Kota dan sekolah Dharma Praja, yang begitu apik diselesaikan meski belum semegah area Pasar Badung. Cukup singkat untuk mengambil pilihan Sate Babi dan semangkuk Mie Ayam Bakso.
Hujan pun tampak makin deras, menenggelamkan pemandangan yang tadinya begitu mencerahkan pikiran.

Icip-icip makanan di Taman Kota sebetulnya ide yang bagus secara pandangan pribadi. Dimana rangorang yang ingin menikmati waktu santai maupun bersama keluarga kecil, bisa langsung mengisi perut saat lapar tanpa takut dikejar-kejar satpol PP sebagaimana halnya di alun-alun Kota Denpasar.
Asalkan saja bisa tertata rapi begini dan tentu saja bersih. Dijamin nyaman bagi pengunjung atau masyarakat yang sekedad ingin mampir.

Kurang tahu juga bagaimana pengelolaan lapak di stand makanan ini, namun jangan terlalu berharap bakalan menemukan kuliner mantap. Minimal standar baku yang mungkin ingin ditetapkan sebelum berkunjung, bisa diturunkan dulu ke level rakyat. Saya yakin kalian akan memakluminya.

Dengan harga yang ekonomis dan terjangkau, cukup nikmat lah bagi lidah saya yang nDeso ini menghabiskan tuntas santapan yang dihidangkan, hingga hujan pun tampak rela meninggalkan Taman Kota untuk beralih ke tempat lainnya.

diTraktir Warung Subak

Category : tentang KeseHaRian

He… jangan tertipu dengan judul postingan diatas ya. Karena memang secara resmi, gak ada tuh even traktiran dari Warung Subak buat para konsumennya. Meski ketika bicara sudut pandang, judul diatas ya ada benarnya kok.

diTraktir Warung Subak.

Kabar ini didapat Senin kemarin, pas perayaan Imlek, siang bolong dapat mention kejutan dari Warung Subak lewat akun Instagram mereka. Saya mencuri Juara 3 kategori Pocket Kamera/Handphone dalam Share Happiness Moment 2 yang kalo ndak salah liat dari halaman blog mereka, dapatnya uang Rp. 1.000.000 dan Paket makan Keluarga untuk 5 orang. Wiii… diTraktir Warung Subak deh.

Warung Subak PanDe Baik 9

Bisa dapetin Traktiran begini lantaran pas ulang tahun pernikahan yang ke-10 yang jatuh pada 10 Desember 2015 kemarin, dirayainnya dengan makan malam bersama keluarga kecil kami di Warung Subak outlet Peguyangan. Awalnya sih ndak kepikiran buat ikutan lomba, karena pose selfie dadakan yang diambil pake tongsis baru gres itu merupakan foto selfie bersama kami. Sempat gagal beberapa kali karena masih dalam tahap belajar menggunakan tongsis. He… Baru terpikirkan pas diinfo Bapak kalo Warung Subak lagi ngadain event lomba setelah Beliau membaca flyer yang ada di meja kami. Dadakan ya ?

Tapi ngomong-ngomong, ini Traktiran kedua kalinya loh dari Warung Subak.

Kalo ndak salah pas lomba di akun FaceBook tahun 2011, yang di sharing acara makan makan perpisahan kami dengan Bu Bupati Buleleng terpilih, saat itu masih jadi atasan saya. He… Rejeki emang gak kemana kalo dilakoni.

Belanja buah aji mumpung

1

Category : tentang KeseHaRian

He…cerita ini soal bertambah lagi kebiasaan ngemil kala senggang. Kali ini dilakukan setiap diminta belanja dadakan oleh istri ke supermarket atau gerai Clandys terdekat. Apalagi kalo bukan buat beli beli kebutuhannya Gek Ara dan Intan. Baik itu pampers, susu atau seiris daging ikan yang dibekukan.

Menyasar Tiara Dewata di persimpangan jalan Sutoyo atau Hardys Gatot Subroto, atau gerai Clandys Pertokoan Udayana, kini selalu menyempatkan diri mampir di stand buah segar yang wajahnya matang siap dimakan. Mumpung kesini, ya sekalian aja.

Bisa jadi kalo mau dihitung-hitung, secara harga per irisan disandingkan bijiannya jatuhnya jauh lebih mahal. Tapi itung-itung ongkos ngupas, membelah atau mengiris dan menyimpannya agar tetap segar saat dikonsumsi, rasanya ya ndak masalah apalagi pas ada bekal lebih dari sisa gaji. Lagipula hasrat untuk ngemilnya kan gak harus banyak. Namanya juga ngemil.

Ngemil ini mulai dilakoni sejak Gula Darah saya melonjak setengah tahun lalu. Sisi baiknya, semua karbo yang dulu senang dikonsumsi lewat jajanan roti kini sudah beralih ke buah-buahan. Tapi sayangnya sisi buruknya, saya kurang paham soal buah mana yang boleh dikonsumsi, mana yang tidak dianjurkan agar Gula Darah ini malahan gak melonjak naik. Tapi sejauh bukan buah dada, semasih dalam jumlah sedikit mungkin ndak apa apa kan ya ? Hehehe…

Kalo kamu, suka ngemil apa ?

Pahit Manis Pedagang Bali

3

Category : tentang Opini

Tiba tiba jadi ingat tulisan seseorang disana tentang alasan mengapa ibu ibu rumah tangga lebih suka belanja di pedagang selat pasih, semeton Muslim ketimbang pedagang yang merupakan nyama braya Bali.
akhirnya saya mengalami juga…

Salah satunya karena mereka lebih mampu menjaga keramahan dan komunikasi yang baik dengan calon pelanggannya. Siapapun itu.

Sedang pedagang Bali, meski tidak semua, begitu naik sedikit pamornya di mata pelanggan, kadang kala menjadi arogan dan memandang sebelah mata konsumennya. Tak jarang sambil merenggut dalam memberi pelayanan yang seharusnya pembeli dapatkan.

Pengalaman adalah Guru yang Terbaik, kata orang. Maka apa yang dialami kemarin di depot jualan masakan china bali pojokan pasar malam Kereneng pun, menjadi pelabuhan kami yang terakhir kalinya. Ketimbang nantinya berimplikasi jauh mengingat isi kepala orang siapa tahu.
Jaman modern begini, masih ada kok orang yang menggunakan tenung demi menjalankan maksud hatinya.

Mungkin memang kami harus berpindah tempat lagi mencari alternatif tempat makan murah meriah dan enak. Toh masih banyak pilihan di sekitarnya, atau di luaran.

Nyobain Makan Pizza di Domino’s Gatsu

Category : tentang Opini, tentang PLeSiran

Minggu siang tanpa rencana matang, kami mendatangi Domino’s Pizza Gatsu tengah, yang dari seberang jalan tampak sepi pengunjung. Kami pikir sih itu wajar, karena teriknya matahari memang membuat malas sebagian besar orang untuk mendatangi tempat tempat makan macam begini, apalagi warung Steak yang tadinya berencana kami kunjungi pun juga Tutup. Yah, iseng dicobain deh.

Tapi memang sih, lantaran hari ini juga merupakan Idul Adha, hari pemotongan qurban bagi semeton Muslim, selain beberapa tempat makan gag ada yang buka, jalanan juga tampak lengang dan sepi dari lalu lalang kendaraan. Rencana mampir inipun sebenarnya cuma untuk wasting time bersama anak-anak, mumpung kakak sepupunya menginap dirumah semalam.

Sayangnya, keputusan untuk mengubah haluan ke Domino’s Pizza gag seindah harapannya. Bayangan kami sudah setingkat lebih rendah dari level Pizza Hut yang kebetulan berada beberapa puluh meter di sebelah barat lokasi. Tapi kenyataannya, jauh dibawah. 🙁

Dominos Pizza PanDeBaik

Oke, memang sih kalo mau disandingkan mungkin gag pantas, lantaran beda kelas. tapi kalo dibandingkan dari soal harga yang ditawarkan ya wajar saja Pizza Hut lebih mahal. Karena selain rasa, mereka ternyata menawarkan banyak pertimbangan yang gag dimiliki oleh Domino’s Pizza. Mau tau apa saja ?

Tempat Makan. Selain nyaman, Pizza Hut biasanya menyediakan pula satu pramusaji di setiap beberapa meja untuk menghandle pelanggan jika ingin memesan menu tambahan. Domino’s Pizza lebih mirip gerai KFC atau Mc.Donalds yang pelanggannya melakukan pemesanan dengan cara antre berdiri, makan dan melayani diri di meja  kecil, serta berimprovisasi atas kondisi yang apa adanya.

Menyambung kondisi yang apa adanya diatas, saat kami memesan Pizza ukuran Medium, satu kentang goreng dan nuggets serta empat botol minuman, gag ada satupun alat makan yang bisa kami pegang, alias ya pake tangan. Yang sayangnya untuk tempat makan lantai satu, tampaknya gag menyediakan washtafel maupun toilet untuk tempat mencuci tangan, sehingga kami disarankan untuk naik ke lantai dua, yang sayangnya, menyajikan kondisi keran yang mati. Duh… jadi mangkel. Maka kamipun meminta sendok garpu untuk anak-anak yang diberikan dengan wajah yang berbeda. Sendoknya mirip sendok putih es krimnya Mc.D dan sedikit lebih kecil, sedang garpu transparan mirip garpu spagetthynya KFC. Untuk minum, hanya botol minuman yang kami terima tanpa gelas dan sedotan. Setelah dimintakan, datang gelas plastik khas soft drink, dan sedotan… jangan harap deh. Gag tersedia, katanya.

Karena gag ada pilihan lain, ya sudahlah… dinikmati saja.

Masuk ke Menu yang ditawarkan, kami gag menemukan opsi penambahan pinggiran layaknya menu yang ditawarkan oleh Pizza Hut. Jadi ya menikmati pizza layaknya biasa, yang ternyata gag seindah aslinya. He… untuk yang satu ini, bagi yang biasa mencoba menu di tempat makan baru, saya yakin pernah mengalami hal yang sama. Pun demikian dengan kentang yang kami pesan dan nuggets nya. Bahkan ponakan yang saya ajak kali ini pun mengamini bahwa pesanan yang ia bayangkan dari tampilan menunya ternyata gag sesuai dengan yang tersaji. Sedikit kecewa tentu saja.

Dengan harga total sekitar 153ribuan untuk satu loyang pizza beef pepperoni medium, satu potato wedge, dan satu chick and cheese, serta dua pulpy dan dua air mineral tanggung (sudah termasuk pajak), rasanya sih memang gag jauh-jauh banget dengan harga yang ditawarkan Pizza Hut, item yang sama. Jadi sebenarnya kalopun mau dikaitkan dengan pelayanan dan kepuasan makannya, rasanya sih Pizza Hut jauh lebih worthed untuk dipilih.

Saya pribadi mulai paham, mengapa Domino’s Pizza minim pengunjung yang menikmati menu langsung di tempat ketimbang melakukan pemesanan dan pergi. Bisa jadi karena kondisi yang gag memungkinkan untuk itu, bisa juga lantaran gag nyaman selama makan di lokasi. Selain minimnya fasilitas pendukung, AC di lantai dua pun tampaknya gag berfungsi. Sehingga ruangan terasa jauh lebih panas ketimbang lantai satu.

Tapi apakah menurut kalian memang benar begitu ? Atau punya pendapat lain ? Mungkin kalau punya pengalaman lain yang berseberangan, silahkan di share deh.

Tips Ringan berkunjung ke Thailand

Category : tentang PLeSiran

Setelah mencatat satu persatu pengalaman selama berada di Bangkok dan Pattaya, Thailand, kini giliran Tips ringan kalo kelak kawan berkesempatan berkunjung kesini. Akan tetapi, tips ini bukanlah yang terbaik loh yah. Mungkin kalo mau dikombinasi dengan tips dari blog lain pun wokeh.

Pertama, gag usah bingung dengan kondisi Thailand. Entah karena berada dalam satu benua, demografi dan geografi nya sih gag jauh beda dengan situasi Indonesia. Baik cuaca, panasnya, juga lingkungannya. Kalopun boleh disetarakan, di pusat Kota Bangkok itu mirip Jakarta, sedang pinggirannya juga mirip Denpasar, namun jauh lebih bersih. Sedang Pattaya, lebih mirip Kuta-nya Bali. Jadi, kalopun disini jarang menggunakan Jaket, ya gag usah repot bawa jaket lagi lah, kecuali kalo gag tahan dinginnya AC pesawat, bus atau kamar hotel *uhuk

Kedua, mungkin bagi kawan yang agak ragu untuk ber-English ria, bakalan merasa khawatir terkendala Bahasa. Namun jangan khawatir, kalopun nanti bersua dengan pedagang, untuk melakukan tawar menawar bisa menggunakan Kalkulator yang biasanya dipegang mereka, baik dalam hitungan Baht ataupun Rupiah. Bahkan tidak jarang, ada juga pedagang yang sudah mahir Bahasa Indonesia, meski dalam logat mereka. Namun ini jauh lebih memudahkan.

Tips Thailand PanDe Baik 1

Ketiga, urusan transaksi lebih mengutamakan Baht. Jadi kalo bisa, silahkan tukarkan sejumlah bekal di Money Changer terdekat, atau tukeran dengan si Tour Guide yang biasanya punya rate lebih mahal. Kalopun mau, bisa juga dituker dalam bentuk Dollar, yang sifatnya jauh lebih universal. Namun agak susah kalo mau belanja di pasar Tradisional. Sedang Rupiah, sifatnya lebih terbatas, meski ada juga yang mau menerima.

Tips keempat, siapkan mental untuk berburu Kuliner khas Thailand. Disini dari segi rasa, lebih banyak asamnya ketimbang rata-rata selera di Indonesia. Bisa jadi lantaran lebih banyak menggunakan bantuan Nenas atau Jeruk sebagai tambahan racikannya. Agak aneh sebenarnya, namun bagi yang sudah familiar dengan sayur Asem, barangkali gag bakalan masalah. Sedang mental yang tadi saya sarankan, yaitu untuk mencoba masakan lain yang pula khas disini, antara lain Sate Celeng, Kerang, Bekicot, Belalang, Ular, Cumi, Gurita kecil, Kelabang, Buaya hingga Tikus. Untuk yang berukuran kecil biasanya disajikan dalam bentuk utuh dalam satu tusukan, sedang yang berukuran besar, anggap saja lagi makan sate ayam *uhuk *sempat merinding pas nyobain sate Kelabang, Gurita dan Buaya. Sedang Tikusnya gag nemu-nemu. Harga kisaran 20 Baht, atau 6 ribuan per tusuk dengan porsi besar.

Kelima, siapkan mental juga seandainya bersua Cewe seksi KW 1. Jangan langsung bernapsu pengen deketin, karena kabarnya ada yang sudah berganti senjata sehingga kalo pengen mencoba barangkali bisa melupakan sejenak versi originalnya, sedang yang masih mempertahankan bentuknya pun ada. Jangan sampai main anggar :p

Tips keenam, bawa dan gunakan kamera Digital dengan kapasitas memori besar. Ada banyak obyek foto yang bisa diambil disini. Baik budaya, transportasi, lingkungan, kuil hingga cewe KW tadi, yang akan sangat disayangkan jika memory kamera dalam kondisi full saat dibutuhkan. Kalopun kamera gag mendukung memori besar, lakukan perubahan ukuran gambar hingga 3 MP saja sudah cukup untuk cetak foto ukuran 4R. Akan tetapi, jangan coba-coba menggunakan kamera di sesi ‘no camera please’ macam BigEye yah, kalo gag mau disita… :p

Ketujuh, jangan lupa mencoba sarana Transportasi umum seperti yang sebelumnya diceritakan. Mumpung disini semua sudah dioptimalkan, siapa tau kelak nanti jadi Anggota DPR, pilihan KunKer atau jalan-jalan ke Thailand kan bisa dicoret lebih awal *uhuk

Tips Thailand PanDe Baik 2

Kedelapan, persoalan Charger ponsel ataupun Tablet, gag usah dikhawatirkan, karena memang masih mampu mengakomodir bentukan charger lokal. Yang perlu dibawa barangkali cuk T, biar bisa nampung lebih banyak colokan dalam sekali charge :p

Kesembilan, persoalan Operator, coba konsultasikan lebih dulu ke provider yang digunakan, cara mengaktifkan Roaming dan Data diluar Negeri. Kalo pake XL kabarnya sih langsung bisa, tanpa perlu aktivasi. Sedang Simpati, musti diubah pas lagi berada di Indonesia. Lain aktivasi, lain lagi paketan iNet nya. Lantaran disini masih tergolong mahal, untuk menyisasti paket iNet, saya menggunakan tarif reguler tanpa paket, namun berbicara lewat text via Whatsapp. Jadi jauh lebih murah jatuhnya.

Dan Tips terakhir, atur emosi saat memanfaatkan bekal uang yang dibawa. Karena disini, banyak hal yang unik dan menarik hati untuk dibeli sebagai oleh-oleh. Baik souvenir, baju, perhiasan, kuliner hingga cewek KW nya. :p Jangan sampai malah kekurangan bekal saat jelang kepulangan nanti.

Nah, kira-kira, segitu Tips Ringan dari saya yah… *mau balik jagain MiRah niy

Liburan Singkat ke Thailand

3

Category : tentang PLeSiran

Jalanan sepanjang Kota Denpasar menuju Bandara Ngurah Rai siang itu sebenarnya gak macet-macet amat, namun perjalanan kali ini cukup memakan waktu sedikit lebih lama ketimbang biasanya. Panasnya matahari di jumat siang berbaur dengan debu proyek yang dikebut di persimpangan Patung Dewa Ruci, cukup menambah mual perasaan yang sudah kadung kangen dengan tiga bidadari padahal belum lama ditinggalkan.

Berharap waktu bisa berjalan cepat, hingga 4 hari yang akan datang bisa terlewati tanpa beban. Kali ini bukan lagi Tanah Jakarta yang diinjak, tapi bagian bumi lain yang begitu bangga dengan maskot Gajahnya.

Thailand merupakan salah satu negara yang masih menjunjung tinggi pemerintahan Monarki. Dipimpin oleh raja Rama IX, kondisi kota sebetulnya tidak jauh berbeda dengan Jakarta yang tahun lalu kerap aku kunjungi. Hanya saja jauh lebih bersih dan tertib. Menyusuri jalanan dari bandara menuju tengah kota, aura budaya Thailand sungguh terasa. Rasanya tak jauh beda dengan rumah sendiri yang memang memiliki bentuk nyaris sama. Hanya disini sejauh mata memandang, tetap terlihat gedung pecakar langit layaknya Jakarta.

Dilihat dari segi penataan infrastruktur serta rupa gedung, sempat mengingatkan pada wajah jalan Gajah Mada Denpasar yang memiliki lebar jalan lebih sempit ketimbang Thailand. Namun sekali lagi, wajah sampah tak terlihat menjolok disini.

Masuk ke dalam Kota Bangkok lebih jauh, perbedaan alam dan jalan rayanya mulai terasa dengan Denpasar atau Jakarta.

Thailand PanDe Baik

Hampir tak ditemukan Baliho dan Poster wajah para pejabat, para tokoh atau pemimpin Ormas maupun Korlapnya, beradu ramai mengucapkan Selamat hari ini itu lengkap dengan gaya lebay dan wajah sok sucinya. Yang terlihat disini lebih dominan adalah wajah sang Raja dari masa remaja hingga dewasa dan tua, didesain dalam bentuk monumen kecil ditengah median taman kota, atau gedung dan bangunan tinggi berbalut lapisan warna emas senada. Jadi jauh lebih bersih dan nyaman, baik bagi mata pengunjung atau wisatawan yang menginjakkan kakinya di Thailand maupun bagi masyarakat lokalnya. Berharap sekali, pemerintah Daerah di negeri Bali ataupun Indonesia bisa setegas itu menyikapi semrawutnya baliho ormas ataupun calon pejabat yang alay bin lebay itu.

Jika di Bali, rata-rata penganut agama Hindu memiliki tempat memuja Tuhan dan Dewa Dewinya di pekarangan rumah sendiri, demikian halnya dengan pemeluk Agama Buddha di Thailand. Hampir di setiap rumah yang kami lihat di sepanjang jalan yang dilalui, terdapat satu bentuk bangunan unik dan khas berlapiskan warna emas, sebagai tempat pemujaan mereka sehari-hari. Maka itu, keakraban warna yang ditemui pun makin memberikan rasa nyaman seperti halnya berada di rumah sendiri.

Menghabiskan hari dijalanan Kota Bangkok Thailand rasanya belumlah lengkap jika tak menyentuh sisi kulinernya yang rata-rata memiliki rasa asam dari sumbernya kalo tidak salah sih buah Nenas. Rasa asam ini dapat ditemukan hampir di semua masakan yang disajikan dalam makan pagi, siang maupun malam, kecuali untuk Nasi Putih, Telur dan Lalapan sayur. Maka bisa ditebak, jika sudah tak menyukai rasa masamnya, hanya tiga jenis ini saja yang paling kerap dilirik. Meski ada juga masakan yang di Indonesia memang kerap disajikan dengan rasa asam, maka masakan tersebut bolehlah menjadi pilihan.

Namun sekali waktu saat makan siang, sempat pula disajikan Menu Buffee yang memberikan banyak pilihan termasuk Sushi dan Wasabi asal Jepang. Sayangnya saking edannya rasa Wasabi, sampe gag berani melanjutkan aksi coba kuliner lebih jauh dan memilih menikmati segelas penuh es krim cokelat di tambah kacang merah :p

Balik ke Jalanan kota Bangkok Thailand, entah mengapa gag terlihat satupun Pengemis dan Pengamen yang menghampiri saat berada di persimpangan lampu merah ataupun kawasan wisata Budaya macam Angkor Wat dan lainnya. Ada yang tahu kenapa ?

Jadi hampir seluruh waktu yang dijalani selama Liburan kali ini, bisa dinikmati dengan penuh riang dan suka, karena tak merasa banyak gangguan dari hal yang biasanya bisa ditemukan di seantero kawasan jalan dan wisata Bali. Harusnya pemerintah bisa belajar tentang ini.

Beruntung memang jika keberadaan kali ini di negeri Gajah Putih bisa dilakoni dengan baik dan memuaskan, namun kalopun penasaran bagaimana bisa terdampar disini, tak usahlah diperpanjang asal muasalnya. Terpenting, bagaimana kelanjutan perjalanan yang mampu dicatatkan nanti, tunggu saja yah…

Nikmatnya Pepes Ikan Warung Merapen Penarungan

Category : tentang TeKnoLoGi

Soal selera bisa saja berbeda. Namun untuk yang satu ini tiada salahnya jika saya rekomendasikan. Terutama bagi kalian yang memiliki lidah yang terbiasa dengan masakan Bali tanpa bumbu saos, mustard atau mayonaise.

Pepes Ikan Warung Merapen Penarungan.

Pada dasarnya tidak ada yang istimewa jika kawan bertandang ke warung ini untuk pertama kalinya. Tempat makan yang sangat sederhana di perbatasan Desa Penarungan dan Abiansemal, tepi jalan tanpa kolam ikan atau tatanan landscape yang dihiasi bambu dan patung patung indah bernuansa Bali. Siapapun tidak akan pernah menyangka jika di warung kecil ini menyediakan sajian yang mampu memanggil Anda kembali untuk mencobanya.

Saya pribadi sebenarnya sudah mengenal warung ini sejak lama, tahun 2009-an kalo gag salah. Namun baru secara resmi diperkenalkan ke keluarga sekitar setahun lalu, ke mertua enam bulan lalu, dan seisi rumah sekitar tiga bulan lalu. Awalnya tempat ini masih berlokasi sekitar 25 meteran di sebelah selatan di sisi jalan yang sama. Kondisi warung yang terdahulu bisa saya katakan jauh lebih sederhana, jika kata ‘mengenaskan’ dianggap terlalu kejam untuk menggambarkannya. Hanya ada sekitar dua tiga meja dengan masing-masing empat kursi kayu, ditambah sebuah rak counter kaca yang menyajikan sejumlah kartu perdana serta pulsa, ditambah deretan pisau hasil karya semeton pande di sekitar warung tersebut. Pisau ?

Ya, nama warung ‘Merapen’ merupakan sebutan kata lain dari Prapen, sebuah tempat yang disakralkan bagi soroh atau Klan Pande, dimana merupakan tempat berstananya Dewa Brahma perlambang merahnya api yang pula merupakan tempat untuk membuat pelbagai persenjataan di masa lampau termasuk perkakas seperti pisau, mutik, blakas dan sejenisnya. Maka tidak heran jika si empunya warung merupakan semeton atau saudara kami juga.

Namun jangan lalu salah sangka jika di tulisan ini kami kemudian merekomendasikan Warung Merapen pada kalian sebagai salah satu alternatif tempat kuliner terutama apabila Kawan sedang melewati jalur jalan menuju Sangeh atau Bedugul jalur Desa Penarungan. Bukan atas dasar hubungan keluarga dimana salah satu Bhisama atau janji yang dahulu disampaikan oleh para leluhur kami, sejauh-jauhnya semeton Pande, tetap diakui sebagai nyame (saudara) ping due atau mindo atau mindon.

Lokasi tepatnya jika boleh saya gambarkan lewat kalimat, dapat diakses melalui jalur kearah utara dari perempatan desa Penarungan (pasar, puri dan kantor perbekel) dan berada di sisi kanan (timur jalan), sebelum batas/perbatasan desa Penarungan dengan Abiansemal. Jikapun kawan merasa kebingungan, tanyakan saja pada peduduk di sekitaran Desa Penarungan, Warung Merapen Banjar Belawan, Abiansemal Dauh Yeh Cani.

Pemiliknya bernama I Putu Murasta. Bapak ini secara rutin berburu ikan segar diseputaran kabupaten Tabanan, Badung, Gianyar dan Kota Denpasar untuk memenuhi target pesanan konsumen yang kian hari kian melonjak. Terbukti jika Kawan mampir ke lokasi sekitar sore hari, dijamin tidak akan mendapatkan apa yang diharapkan.

Diatas telah saya katakan bahwa ini dapat direkomendasikan bagi kalian yang terbiasa dengan masakan Bali tanpa bumbu saos, mustard atau mayonaise. Jadi bagi yang paham, pasti tahu bagaimana rasa Base Rajang atau Base Genep yang bisa ditemukan pada masakan khas Bali lainnya seperti lawar, babi guling dan sejenisnya. Nah bagaimana jika kali ini dipadukan dengan ikan air tawar segar ? jadilah Pepes Ikan Merapen.

Ikan air tawar ini akan dipepes dengan menggunakan Base Genep atau Base Rajang yang telah diolah dengan mesin buatan penduduk setempat, yang hasilnya menyerupai hasil olahan manual tangan. Jadi tidak halus seperti hasil blender, namun tidak juga membuat pegal dan panas tangan si peracik. Pepes ikan yang telah diolah tadi ditutupi pula dengan daun ketela (ubi) untuk menambah rasa khas Bali yang diinginkan. Mengingat bahan yang digunakan merupakan Base Rajang atau Base Genep, rekomendasi tidak kami berikan bagi kalian yang memiliki masalah dengan pencernaan. Salah-salah seperti salah satu atasan kami yang langsung mengalami (maaf) mencret di keesokan harinya, setelah menyantap seekor pepes ikan Merapen tandas habis hingga ke bumbu dan daun ketelanya.

Harga jualnya tergolong terjangkau. Rata-rata per porsi sekitar 16ribu rupiah ditambah sepiring nasi dan semangkuk kecil sup ikan. Sedang harga per ekor pepes ikan jika Kawan ingin bawa pulang, bervariasi dari 8, 10 hingga 15 ribu per ekornya tergantung ukuran ikan yang diinginkan.

Dalam menikmati sajian, jika kawan mampu menghabiskannya hingga bumbu dan daun ketelanya maka persiapkanlah sejumlah tissue untuk melap keringat yang keluar dan (maaf sekali lagi) ingus dari hidung sebagai tanda pedas dan nikmatnya pepes ikan Merapen. *pengalaman pribadi

Kini sajian Warung Ikan Merapen Penarungan sudah semakin banyak memiliki langganan. Kabarnya beberapa pegawai dinas di lingkungan pemerintah Kabupaten Badung sampai membeli sejumlah porsi pepes ikan Merapen di pagi hari sebelum berangkat kerja, dan menjualnya kembali pada rekan lainnya sebagai variasi makan siang. Kami sendiri secara rutin bersama keluarga sabtu-minggu pagi, atau berdua dengan istri saat makan, jauh-jauh main ke Desa Penarungan hanya untuk menikmati pepes ikan Merapen.

Ohya, sajian ini sempat pula kami temukan di Warung Mina sebagai salah satu menu baru yang mereka sajikan. Namun entah mengapa dari segi rasa masih kalah jauh dari miliknya Merapen. Entah memang yang original memiliki rahasia meracik yang khusus atau mungkin lidah kami sudah terlanjur terbiasa dengan sajian pepes ikan Merapen.

Bagi kalian yang kebetulan lewat atau memang ingin merasakannya, hubungi dulu nomor ponsel si pemilik di 8521995 atau 9249292 untuk kepastian ketersediaan stok ikan, atau ingin memesannya terlebih dahulu agar tak sampai kehabisan.

Tak lupa, jika kalian menganggap bahwa ini iklan berbayar yang dipesan si pemilik, silahkan abaikan dan lupakan saja. Namun jika kalian percaya pada saya akan rekomendasi kali ini dan berkeinginan untuk mencobanya sekali-kali, jangan lupa bungkuskan dua ekor untuk saya yah… :p

Share Your Happiness Moment With Warung Subak [and Get Your Food Free]

2

Category : tentang PLeSiran

Warung Subak merupakan sebuah restoran bernuansa etnik, berlokasi sangat strategis di ditengah-tengah sawah yang masih terjaga asri di wilayah Denpasar Utara dengan akses yang sangat cepat dari Pusat Pemerintahan Kota Denpasar maupun Badung. Berdiri sejak 6 Februari 2006, Warung Subak tentu sangat berharap dapat diterima dimata para penggemar kuliner di Bali. Tanpa melupakan adat Bali itu sendiri dan tentu saja konsep dan tujuan dari Dinas Pariwisata Bali dimana menjaring tamu Domestik maupun Mancanegara. Mereka juga mendukung program pemerintah seperti program keep Bali Green and Clean dan I Love Product of Indonesia untuk menjaga Indonesia umumnya dan Bali khususnya agar tetap bersih dan asri.

Restoran ini terdiri dari beberapa bangunan Gazebo baik lesehan maupun kursi dengan total kapasitas lebih dari 400 orang didukung juga dengan tempat parkir yang luas dan nyaman.Selain itu Warung Subak memiliki pula fasilitas Meeting Room lengkap dengan proyektor, screen, wifi, sound serta AC. Meeting Room ini memiliki kapasitas maksimal 80 orang belum termasuk pembicara dan host.

Salah satu servis yang disediakan oleh Warung Subak adalah GRAYH [GRill At Your House] merupakan sebuah paket unik yang pada awalnya diperuntukkan bagi Wedding Organizer dan dapat membuat acara wedding menjadi lebih bernuansa etnik. Belakangan kabarnya program ini kemudian dikembangkan secara umum tanpa batasan.

Di bulan September ini, Warung Subak sedang mengadakan promo Share Your Happiness Moment With Warung Subak [and Get Your Food Free]. Dimana promo diperuntukkan bagi Kawan yang memiliki akun FaceBook, Twitter, Instagram, Foursquare dan Path. Tujuannya untuk meng-upload foto-foto terbaik kalian di @warungsubak.

Bagi Kawan yang beruntung, Warung Subak menyediakan hadiah menarik loh,

Pertama : Paket Keluarga 40 orang
Kedua : Paket Keluarga 30 orang
Ketiga : Paket Keluarga 20 orang
5 Paket Dinner untuk berdua (Paket F dan Juice)
5 Voucher Makan Warung Subak senilai Rp. 200,000
Like Terbanyak Pertama Paket Keluarga 10 orang
Like Terbanyak Kedua Paket Keluarga 5 orang

Caranya ? Kawan tinggal datang ke Warung Subak dan abadikan momen terbaik kalian bersama Menu makanan Warung Subak. Lalu upload melalui jejaring sosial yang disebutkan diatas dan jangan lupa tag (akun FaceBook Warung Subak) atau mention akun Twitter @warungsubak, berikan pula hashtag #lovewarungsubak dan check in di Warung Subak (optional). Sebab kalo tidak, usaha ini tentu tidak akan dinilai dan tidak dianggap sah oleh Tim Warung Subak. Untuk lebih mendukung usaha tersebut, silahkan add dahulu akun FaceBook Warung Subak atau follow akun Twitter Warung Subak.

Syarat dan Ketentuan lainnya adalah :

  1. Aksi Kawan dapat dimulai dari tgl 17 September 2012 hingga 17 Oktober 2012 pada pukul 10.00 AM hingga 10.00 PM.
  2. Foto musti orisinil dan uploader harus ada dalam foto [uploader hanya boleh mengupload sebanyak 1 kali saja -foto dengan aksi yang sama-].
  3. Foto yang boleh diupload maximum 5 foto dalam 1 album dan tetap harus menggunakan menu makanan Warung Subak sebagai objek foto.
  4. Penilaian berdasarkan akumulasi dari ekspresi, ketepatan momen, tema [Birthday, couple, Gathering dll], dan jumlah like.
  5. Foto diambil tanpa mengganggu operasional staff dan pengunjung lain.
  6. Pengumuman Pemenang akan diumumkan tgl 23 Oktober 2012.
  7. Hadiah dapat diambil mulai tgl 25 Oktober 2012 hingga 25 Nopember 2012 di Warung Subak outlet Tuban dengan menyerahkan Username, tanda pengenal dan akan di test untuk login di Warung Subak. *Bagi yang belum tahu lokasi pasti Warung Subak outlet Tuban, silahkan hunting di link venue akun Foursquare Warung Subak outlet Tuban.
  8. Keputusan Panitia adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
  9. Tim Panitia berhak mengubah syarat dan ketentuan bila dirasa perlu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. < -- jadi pantengin terus akun jejaring sosial Warung Subak yah
  10. Promo ini tidak berlaku untuk staff dan keluarga besar Warung Subak

Caranya gampang bukan ? Jadi, ayo… tunggu apa lagi ? buruan add dan follow jejaring sosial @warungsubak dan abadikan momen keren kalian di Warung Subak. Cheers…

Warung Subak, Exotic Grilled Seafood Restaurant

8

Category : tentang PLeSiran

Masih tak percaya saat kejutan kecil datang dari tempat makan yang dahulu pernah saya tuliskan di blog ini awal Juni lalu. Mereka memberikan tawaran Free Makan bareng Keluarga yang berlaku hingga akhir Juli mendatang. Namun tak perlu menunggu hingga Juli tiba, kami akhirnya mencoba berkunjung kembali kendati ada perasaan was-was didalam hati.

Warung Subak. Bagi yang kerap melintas di jalan Astasura, pertigaan Jalan Nangka Utara menuju jalan Ahmad Yani Peguyangan Kaja, pasti sudah tak asing lagi dengan keberadaan Restauran tepi sawah yang satu ini. Awal kami berkunjung tepatnya tahun 2007 lalu, sempat menggelitik lidah dengan aroma dan rasa masakannya yang Khas, sangat pas dengan selera kami sekeluarga. Itu sebabnya, iseng saja saya menuliskan sedikit pengalaman dengan bahasa seadanya tentang Warung Subak sepulang kami kerumah.

Berselang empat tahun, Warung Subak mengalami banyak perubahan. Kami masih ingat bahwa dahulu itu, area Warung Subak masih sangat terbatas. Dibelakang area, terhampar bentangan sawah yang barangkali bisa menambah asrinya suasana makan baik di siang maupun malam hari. Kini dengan perluasan yang jauh lebih baik ditambah parkir area yang lebih luas, Warung Subak tampaknya kian yakin untuk melangkah kedepannya. Dibandingkan dengan terakhir kali saya berkunjung dengan Rekan Kantor, rupanya ada unit baru yang berdiri megah di sisi timur area Warung Subak. Meeting Room. Satu ruangan besar yang siap menawarkan berbagai fasilitas terbaik bagi para konsumen yang membutuhkannya.

Dengan nuansa Exotic yang hadir disetiap sudut Warung Subak, tampaknya tak salah apabila keramaian yang kami dapati hari Minggu malam kemarin memang patut diacungi jempol. Meskipun menyajikan masakan SeaFood khas Jimbaran, secara selera pribadi jujur saja, Warung Subak malah memiliki rasa khas lebih baik lagi, terutama pada paket Kerang Bakar yang hingga hari ini masih menjadi Menu Favorit setiap kali berkunjung kembali.

Lain lagi pendapat Istri dan Ibu saya yang memang menggemari masakan khas Bali. Plecing Kangkung dan Sambel Matah merupakan dua Menu yang paling dinanti. Tak heran jika Ibu kerap secara sembunyi-sembunyi menuangkan sisa Sambel Matah yang disajikan dalam Cup merah ke helai daun untuk dinikmati dirumah esok paginya. Hehehe…

Ohya, untuk menggencarkan Promosi mereka, Warung Subak kini sudah bisa ditemui diberbagai belahan dunia maya loh. Silahkan mampir ke WarungSubak.com untuk informasi lengkap pesanan paket yang siap diantarkan, mampir juga di akun Warung Subak pada jejaring sosial FaceBook dan bisa juga dengan memfollow akun Twitter @warungsubak.

Agar tak menunggu pesanan terlalu lama saat tiba di Warung Subak, sebelum berkunjung, konsumen bisa melakukan pemesanan tempat dan juga paket terlebih dahulu lewat nomor telepon 7436702 atau 9167709. Info dan keterangan paket yang ditawarkan pun beragam. Dari 10 orang, 20 hingga per paket dengan Menu khususpun bisa.

Bagi yang penasaran dengan jenis Menu maupun harga paket yang ditawarkan, bisa mampir langsung di halaman WarungSubak.com atau mengunduh Brosur Paket yang ditawarkan Warung Subak disini.

Beberapa Promo berupa Diskon tambahan pun mereka berikan bagi konsumen yang memiliki Kartu Kredit BNI sebesar 20% dengan pembelanjaan minimum Rp. 100,000 dan maksimal Rp. 2,000,000 berlaku sampai dengan agustus 2011. Sedangkan bagi yang memiliki Kartu Member Subak diberikan diskon sebesar 10% (Senin – kamis) dan 5% (Jumat – Minggu). Sedangkan untuk pembelanjaan Subtotal diatas Rp. 250,000 akan mendapat Voucher 10% dan bisa digabung dengan diskon Member Subak sehingga mendapat diskon yang lebih besar. Diskon member ini berlaku setahun dan Voucher sebanyak 1000 Voucher saat ini baru berjalan 150 voucher dan sudah diklaim.

Satu lagi. Berkaitan dengan datangnya kami ke Warung Subak hari minggu lalu, kabarnya dalam rangka menyambut musim liburan, mereka masih memberikan tawaran Makan Gratis di Warung Subak hingga bulan Agustus nanti loh. Cara untuk mendapatkannya, sederhana saja. Silahkan Follow akun Twitter @warungsubak dan akun FaceBook Warung Subak atau bagi yang memiliki perangkat BlackBerry bisa meng-add PIN mereka di 261BC828 atau bisa juga dengan add nomor Whatsapp Messenger 081353114555. Setelah itu, silahkan melakukan promosi ke rekan-rekan lain dengan melakukan mention ke Warung Subak. Jika sudah, Se7en Manajemen akan memilih siapa yang berhak untuk mendapatkan tawaran mengasyikkan ini setiap bulannya. (kira”pasca tulisan ini turun, www.pandebaik.com bakalan dapet lagi gag yah ? :p )

Nah, bagaimana ? Siap menikmati hidangan khas Warung Subak ?

 

Nikmatnya Ikan Bakar Pulau Serangan

10

Category : tentang PLeSiran

Di mata banyak orang, kalo lagi ngomongin soal ikan bakar di seputaran Kota Denpasar, hampir selalu mengingatkan pada ikan bakar Jimbaran. Lihat saja papan iklan jualan ikan bakar yang ada di seputaran sini, rata-rata menampilkan embel-embel ‘Khas Jimbaran’. Padahal, gag melulu loh ikan bakar yang enak itu bisa ditemui di pesisir pantai Jimbaran.

Coba meluncur sekitar 10 km kearah selatan dari Pusat Kota Denpasar (lihat peta). Cari dan tanyakan posisi Pulau Serangan yang ada di seberang Pelabuhan Benoa. Biarpun dari namanya masih terdapat kata ‘pulau’, namun sejatinya sudah tersedia jalan yang lebar dan nyaman untuk mengakses lokasi Pulau Serangan tersebut dengan kendaraan.

Pulau yang dahulunya hanya dapat diakses melalu sarana ‘Jukung’ atau perahu ini, merupakan pulau dimana berstananya Pura Sakenan yang piodalannya jatuh setiap umat Hindu merayakan hari suci Kuningan. Itu sebabnya ketika Reklamasi pantai yang dilakukan pada tahun 2000-an awal lalu, praktis membuat para pemilik Jukung gigit jari. Meski demikian, kabarnya masih ada loh pemedek (istilah umat yang tangkil dan bersembahyang di Pura) yang memilih untuk menggunakan sarana Jukung ketimbang kendaraan bermotor ke Pulau tersebut. Mengingatkan pada masa lalu katanya. :p Tapi Jujur saja, sedari kecil saya pribadi belum pernah tangkil ke Pura ini. :p Pertama kalinya saya menjejakkan kaki di Pulau ini tepatnya saat pagelaran Soundrenalin yang saat itu kalau tidak salah menampilkan Iwan Fals sebagai aksi penutup.

Kembali ke topik ikan bakar, terakhir berkunjung ternyata banyak perubahan situasi yang saya temui. Utamanya adalah, adanya tempat berjualan ikan bakar yang berjejer di sepanjang jalan utama, serupa dengan jualan ikan bakar di pesisir pantai Jimbaran dan Kedonganan. Bisa jadi idenya malah datang dari sana. Bedanya, dari konstruksi yang digunakan, tempat berjualan ini masih tergolong semi permanen dengan minimnya penataan tempat berjualan.  Sekilas malah terkesan jorok. Tapi semua itu dengan segera saya lupakan, mengingat pada nikmatnya ikan bakar yang pernah saya santap setahun lalu.

Dibandingkan ikan bakar khas Jimbaran, dari segi harga tentu disini jauh lebih murah. Kalo tidak salah saya ingat, untuk satu porsi makanan di seputaran Jimbaran dan Kedonganan berkisar antara 100 hingga 200 ribuan, dengan menu beragam. Di Pulau Serangan, harganya bergerak kisaran 25 sampai 50 ribuan per porsi. Itupun tergantung dari pintar-pintarnya kita menawar pada si penjual.

Tempat yang kami pilih bernama ‘Warung Ikan Bakar Pasir Putih’. Kalo tidak salah warung ini berada di urutan ke-7 dari kiri. Setelah tawar menawar, kami memesan 4 ekor ikan untuk dibakar dengan ukuran sedang. Kami beranggapan, Seekornya sudah cukup puas untuk dinikmati satu orang. Namun jaga-jaga, satu ekor yang kami pilih terakhir, jenis dan ukurannya berbeda dengan tiga ekor lainnya. Sambil menunggu pesanan siap, kami memilih untuk berkeliling pulau Serangan, menyusuri jalan kecil dengan kendaraan hingga melewati Turtle Island, tempat pembiakan si kura-kura.

Lagi-lagi dibandingkan dengan ikan bakar ‘khas Jimbaran, dari segi penampilan sajian ya jangan disamakan lah. Dimaklumi saja. Hehehe…  Ikan yang telah usai dibakar ditempatkan diatas ingka (ulatan bambu berbentuk piring) dan dialasi kertas cokelat. Sambal yang disertakan ada dua jenis, Sambal matah dan Sambal Terasi. Pembeli bisa memesannya salah satu saja jika tak suka yang lainnya.

Tanpa dikomando, kami menyantap empat ekor ikan yang tampak pasrah terlentang nikmat dihadapan. Daging ikan yang masih panas menambah selera hingga meninggalkan begitu saja, buliran nasi dan pada akhirnya tersisa cukup banyak. Demi nikmatnya ikan bakar, saya jadi ingat ‘pembantaian’ yang dilakukan saat bersantap malam terakhir Pendidikan LPSE di Jakarta pertengahan tahun kemarin dengan menu Kepiting.

Setelah membayar dengan selembar uang merah ditambah selembar uang ungu bergambar Sultan M.badaruddin, kami meninggalkan Pulau Serangan dengan sedikit janji pada pemilik warung, bahwa kelak kami akan kembali lagi. Lumayan murah jika dibandingkan dengan ikan bakar khas Jimbaran, meski sedikit mahal dibandingkan jatah makan kami biasanya. Tapi karena ini hari raya, tak apalah…