Jalanan Kota Senin Pagi

Category : tentang KHayaLan

Keringat masih menetes saat kendaraan mulai laju mundur dari halaman rumah. Isak tangis Intan, putri kedua kami masih terdengar seraya meminta Bapaknya untuk mau mengantarkannya main ke alun-alun. Hampir setiap pagi di hari kerja ia sedih ditinggal Bapak, namun akan kembali ceria saat sudah tak melihatnya lagi. Begitulah anak-anak.

Waktu sudah menunjukkan pukul 7.51, masih tetap maju dua puluh menit dari yang seharusnya. Jalanan Kota Denpasarpun mulai dilalui satu persatu.

Lantunan suara Bang Iwan yang dikumpulkan minggu lalu satu persatu kalah jauh diterpa angin semilir yang masuk lewat jendela mobil. Sengaja kubuka untuk dapat menghirup sejuknya pagi dan nikmati panasnya sinar matahari. Namun awan di beberapa tempat sempat halangi kesenanganku disela lalu lalang ramainya arus.

Banyak hal penting yang terlintas di benakku, namun kuabaikan demi hari-hariku nanti. Biarlah waktu yang akan mengingatkannya kembali. Penat jika kuladeni itu semua dalam sempitnya waktu yang dimiliki.

Wajah manis Gek Ara mulai membayang

Anak cantik ini kelihatannya senang saat kudendangkan kisah Bang Iwan sampai tertidur dalam pangkuan, sempat kewalahan juga semalam akibat panasnya hawa yang tak tertahankan.

Kotaku tak sejuk lagi

Gerbang Puspem Badung mulai tampak dari kejauhan. Rutinitas pun mulai menanti untuk diselesaikan. Dan aku harus siap menghadapinya.

Last but not least, Ogoh-Ogoh Banjar Tainsiat Tahun 2013

3

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang InSPiRasi

Akhirnya… selesai juga… Menjadi rekor pengerjaan tercepat dalam sejarah pembuatan Ogoh-Ogoh Banjar Tainsiat selama ini… gag nyampe seminggu…

image

image

image

Ogoh-Ogoh Kota Denpasar Tahun 2013 (dalam Gambar)

1

Category : tentang KeseHaRian

Berikut beberapa gambar Ogoh-Ogoh yang hadir di seputaran Kota Denpasar Tahun 2013 *Bagian ke 6, tapi yang terakhir yaaa…

image

image

image

image

Ogoh-Ogoh Kota Denpasar Tahun 2013 (dalam Gambar)

4

Category : tentang KeseHaRian

Berikut beberapa gambar Ogoh-Ogoh yang hadir di seputaran Kota Denpasar Tahun 2013 *Bagian ke 5…

image

image

image

image

image

Ogoh-Ogoh Kota Denpasar Tahun 2013 (dalam Gambar)

4

Category : tentang KeseHaRian

Berikut beberapa gambar Ogoh-Ogoh yang hadir di seputaran Kota Denpasar Tahun 2013 *Bagian ke 4…

image

image

image

image

Ogoh-Ogoh Kota Denpasar Tahun 2013 (dalam Gambar)

2

Category : tentang KeseHaRian

Berikut beberapa gambar Ogoh-Ogoh yang hadir di seputaran Kota Denpasar Tahun 2013 *Bagian ke 3…

image

image

image

image

Ogoh-Ogoh Kota Denpasar Tahun 2013 (dalam Gambar)

2

Category : tentang KeseHaRian

Berikut beberapa gambar Ogoh-Ogoh yang hadir di seputaran Kota Denpasar Tahun 2013… *Bagian ke-2

Br Ujung Kesiman

Br Dauh Tangluk

Br Kelandis

Br Tegal Kwalon

Ogoh-Ogoh Kota Denpasar Tahun 2013 (dalam Gambar)

4

Category : tentang KeseHaRian

Berikut beberapa gambar Ogoh-Ogoh yang hadir di seputaran Kota Denpasar Tahun 2013…

Br Dangin Tangluk

Br Abian Kapas Tengah

Br Kepisah

Br Ceramcam

Ogoh-Ogoh Kota Denpasar Tahun 2013

9

Category : tentang KeseHaRian

Ogoh-Ogoh merupakan satu simbol dari sifat-sifat keserakahan, ketamakan atau keangkaramurkaan yang biasanya divisualisasikan dalam rupa raksasa menyeramkan serta diarak setahun sekali, tepatnya sehari jelang perayaan Tahun Baru Caka atau Nyepi. Perwujudan ini dahulunya dilakukan dengan mengolah bentuk dan rupa menggunakan anyaman bambu serta kertas tempel baik bekas produk semen ataupun koran sedemikian rupa, yang pada akhirnya dibakar atau dimusnahkan kembali pasca diarak keliling kota atau wilayah setempat.

Seiring dengan perkembangan jaman, terjadi banyak pergeseran pada ide dan penyelesaian rupa bentuk Ogoh-ogoh. Misalkan jika dahulu Ogoh-ogoh hampir selalu identik dengan sosok yang tinggi besar dan menakutkan, kini sudah tidak lagi dimana satu dua diantaranya ada yang mengambil bentukan tokoh kartun dunia anak seperti Shincan, Ipin dan Upin ataupun Doraemon. Bahkan ada juga yang mengambil rupa musisi Bali seperti Nanoe Biroe. Hanya saja, ide pembuatan yang memang sedikit menyimpang ini rata-rata dilakukan oleh para Sekaa Demen, banjar-banjar Pendatang bahkan simpatisan anak-anak. Sedangkan para Sekaa Teruna yang ada di wilayah Banjar Adat agaknya masih tetap pada jalurnya mengambil wujud raksasa seperti halnya pemahaman tadi.

Dilihat dari penyelesaian fisiknya pun, jika dahulu masih menggunakan anyaman bambu, kini sudah mulai marak penggunaan bahan baku gabus yang memberikan hasil akhir jauh lebih ringan, jauh lebih mudah dibentuk dan difinishing, baik pewarnaan dasar, dempul dan cat airbrush. Demikian halnya dengan pemanfaatan bahan lain seperti kain, asesoris, ukiran dan bulu. Jauh lebih detail dan nikmat dipandang.

Dalam kaitannya dengan rencana Pemerintah Kota Denpasar yang bakalan menggelar parade Ogoh-ogoh pada tanggal 11 Maret 2013, Tilem Kesanga mendatang, perwujudan Ogoh-ogoh yang ada di seputaran Kota Denpasar pagi ini sudah mulai marak dipajang didepan areal banjar masing-masing. Diluar dua hal diatas, kini ada satu perbedaan lagi yang bisa dilihat sejak Ogoh-Ogoh mulai dilombakan sekitar dua tahun silam *semoga benar :p. Cerita atau lampah yang mendasari bentukan atau wujud Ogoh-ogoh.

Jika dahulu Ogoh-ogoh dibuat dan dinamakan secara asal, dimana penamaan baru diberikan biasanya setelah Ogoh-ogoh selesai, kini faktor lampah ataupun Cerita merupakan dasar utama pembuatan wajah dan struktur Ogoh-Ogoh. Setidaknya kini ide bagaimana bentuk hingga gambaran detailnya sudah mulai terbayang sejak awal mula.

Br Abian Kapas Kaja

Salah satunya seperti yang diungkap dalam Ogoh-ogoh karya Sekaa Teruna Banjar Abian Kapas Kaja, Sang Kala Bala. Dalam lampah atau cerita yang dibawakan rupanya terkait upacara Pecaruan yang dilaksanakan pada Sasih Kesanga yang disebut ‘Cetramasa’, sehari sebelum Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Caka bagi umat Hindu dimanapun mereka berada. Pecaruan ini dilaksanakan didepan pekarangan rumah yang disuguhkan kepada Sang Bhutakala dan Sang Kalalaba, berupa segehan nasi sasah 108 tanding berisi jejeron mentah serta segehan agung satu tanding.

Cerita atau lampah lainnya juga dapat dilihat pada Ogoh-ogoh karya Sekaa Teruna Putra Kencana banjar Dauh Tangluk Desa Pekraman Kesiman, yang menurunkan Kala Tri Netra, simbol atau visualisasi Egoisme yang muncul dari tiga aktifitas utama manusia, yaitu Berpikir, Berkata dan Berbuat. Dalam narasi yang dikisahkan, terdapat kalimat ‘barang siapa yang menyimpang dari tatwa dalam berpikir, berkata dan berbuat, dialah yang akan menjadi santapan Kala Tri Netra.

Disamping mempertahankan perwujudan raksasa atau para Kala, terjadi pula pergeseran atau lebih tepatnya peningkatan inovasi desain dimana kini detail para manusianyapun mulai dilibatkan secara lebih manusiawi. Ini bisa dilihat pada Ogoh-ogoh yang dibuat oleh Sekaa Teruna dari banjar Kedaton Sumerta, yang menyajikan dua pemuda dan satu orang pemangku sedang melakukan penyembelihan Babi (nyambleh). Perhatikan pada bentuk wajah, tingkah laku hingga detail lainnya seperti rambut, kain kemben dan penggunaan tikar, yang dibuat semirip mungkin dengan wujud aslinya. Atau jangan-jangan selain sarana, mereka memang menggunakan model manusia asli didalamnya ? *eh

Sayangnya, salah satu Sekaa Teruna yang tahun-tahun sebelumnya menjadi langganan juara di wilayah Denpasar Utara, kini tak lagi ikut serta dalam perhelatan Parade Ogoh-ogoh tahun ini. Kabarnya sih lantaran juara berturut-turut itulah, larangan untuk ikut kemudian diturunkan khusus untuk banjar Tainsiat, dengan harapan dapat memberikan kesempatan pada Sekaa Teruna banjar lainnya untuk tampil kali ini. Benar tidaknya, mungkin kelak bisa dikonfirmasi ke pihak-pihak yang berkaitan langsung. Dan entah apakah larangan ini berlaku pula bagi yang lain, terpantau dari Banjar Bengkel dan Kesiman, tak terlihat pula Ogoh-ogoh yang dipajang didepan banjar setempat. Bisa jadi pula disembunyikan sementara atau malah memang benar-benar tidak ikutan berpartisipasi.

Masih soal larangan, untuk perwujudan ide pun menjadi salah satu issue dimana tidak diijinkannya mengangkat tema politik ataupun hal yang berkaitan dengan perhelatan PilGub Bali, Mei 2013 seperti halnya yang pernah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini kabarnya untuk menghindari terjadinya bentrokan kepentingan, antara yang ingin membela atau memberikan kritik kepada salah satu calon yang akan bertarung.

Br Kedaton Sumerta

Untuk bisa mewujudkan Ogoh-ogoh sedemikian rupa dengan detail dan wajah yang jauh lebih menawan, tentu saja berimbang dengan biaya yang dihabiskan oleh masing-masing Sekaa Teruna yang ada di seputaran Kota Denpasar. Kabarnya untuk menghasilkan satu karakter Ogoh-ogoh dibutuhkan dana berkisar 5 hingga 15-an juta rupiah yang didalamnya sudah termasuk dengan konsumsi harian para desainer dan arsitek pembuatnya. Besaran ini tentu saja jauh dari besaran sumbangan yang diberikan oleh Pemerintah Kota Denpasar yang hanya sebesar 3,5 juta rupiah tanpa dipotong pajak. Maka untuk dapat menalangi sisa dana yang dibutuhkan, masing-masing Sekaa Teruna dituntut untuk bisa berimprovisasi dalam menghasilkan dana awal seperti Bazaar banjar atau aktifitas sosial yang mampu memberi sedikit keuntungan, hingga mengandalkan sumbangan dari lingkungan sekitar, utamanya para anggota banjar.

Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya, pembuatan ogoh-ogoh dalam rangka Parade tahun ini seperti menjadi ajang unjuk kekuatan seni dari masing-masing Sekaa Teruna yang selain membutuhkan pembiayaan yang cukup besar, dibutuhkan pula ketelatenan pembuatan, keindahan pewarnaan pula kabarnya koreografi saat pengarakan nantinya. Ah, rasanya sudah gag sabar lagi menanti mereka semua turun gunung di Alun-alun Kota Denpasar senin depan.

Ogoh-Ogoh Mini Kota Denpasar Tahun 2013

8

Category : tentang KeseHaRian

Di tengah persiapan perhelatan PilGub Provinsi Bali bulan Mei 2013 mendatang, tampaknya antusiasme Sekaa Teruna di masing-masing Banjar Adat lingkungan Kota Denpasar untuk membuat Ogoh-Ogoh, sedikit menurun. Entah apakah ini hanya perasaan saya secara pribadi yang merasa heran dengan ketiadaan aktifitas di masing-masing Bale Banjar, ataukah memang sudah ada kesepakatan antara seluruh Sekaa Teruna banjar adat di lingkungan Kota Denpasar dengan Walikota ? Karena informasi kabar burungnya sih memang begitu, ada pertemuan di awal tahun 2013 kemarin.

Namun meski animo pembuatan ogoh-ogoh ukuran raksasa sedikit menyepi, keberadaan ogoh-ogoh Mini, tampaknya mulai diminati oleh para pencari peluang pendulang rupiah, demi memuaskan hasrat para orang tua atas nama anak yang biasanya ikut serta mengusung saat pawai dilakukan. Ini terlihat di beberapa tempat yang sepintas lalu sempat saya lewati, menyajikan beragam pilihan Ogoh-ogoh Mini dalam berbagai bentuk, warna dan bahan.

image

Salah satunya sempat saya wawancarai secara singkat, terutama berkaitan harga jual yang memang ada yang terjangkau hingga jutaan rupiah, bergantung pada bahan yang digunakan. Jika Ogoh-Ogoh Mini dibuat dengan bahan dasar Gabus, harga jual yang ditawarkan bisa jadi cukup mahal. Untuk ukuran 75 cm, dengan figur anak-anak dijual dengan harga 500ribu hingga 750ribuan per unitnya. Sedang yang berukuran 1,0-1,5 meter, bisa berharga 1-2 jutaan bergantung pada detail yang dibuatkan. Sedang untuk Ogoh-Ogoh Mini yang dibuat dengan bahan dasar Spons, harga jual jadi jauh lebih terjangkau. Misalkan dengan ukuran yang sama dengan Gabus, bisa dijual sekitar 25% harga Ogoh-ogoh berbahan Gabus. Namun jangan harap soal detail bisa sebagus buatan gabus yang bisa dibentuk sedemikian rupa. Tapi kalo cuma buat konsumsi anak-anak sih, gag masalah deh kayaknya.

image

Jika kawan berkesempatan untuk keliling Kota Denpasar, lokasi penjualan Ogoh-Ogoh Mini bisa ditemukan di Jalan Ratna, baru masuk dari arah Utara (Gatot Subroto) sebelah Timur jalan, Jalan Sumatera ujung selatan, Timur Jalan tepatnya di deretan pedagang Majalah, Jalan Supratman Tohpati, sebelah kanan jalan sebelum Jalan Soka, atau Wilayah Kayumas sebelah selatan Kantor Catatan Sipil, Timur Jalan, dan terakhir di depan Pasar Tradisional Satriya.

Pengukuhan Pengurus Yayasan ‘Eka Dharma Semaya’

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang PeKerJaan

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.15 wita saat kami mulai membagikan kopi beserta snack jajan bali kepada semua semeton warga Pande lan undangan, sementara calon Ketua Yayasan terpilih Bapak I Wayan Pande Sudirtha, SH belum jua tampak di jaba tengah Pura Dalem Majapahit Geriya Tatasan Kelod ini. Padahal sesuai surat edaran yang disampaikan, kegiatan Peresmian dan Pengukuhan Pengurus ‘Eka Dharma Semaya’ bentukan organisasi Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar seharusnya telah dimulai lima belas menit yang lalu. Bersyukur pada akhirnya Beliau hadir beberapa menit setelah acara didaulat oleh Chandra Lestari, yowana putri saking Munggu yang bertindak sebagai master ceremony kali ini.

Sesi pertama kegiatan Peresmian dan Pengukuhan Pengurus ini dibuka dengan laporan dari Sekretaris organisasi Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar yang mengisahkan tentang Sejarah tercetusnya ide hingga pembentukan Yayasan yang dilakoni oleh segenap Pengurus hingga tanggal 11 Desember 2011 lalu di rumah Bapak Wayan Sukana.

Sesi kedua sekaligus inti kegiatan, dilakukan persembahyangan bersama seluruh semeton Pemaksan pura Pande Dalem Majapahit, Penglingsir lan Pengurus Maha Semaya beserta perwakilan Yowana Paramartha, berlanjut upacara Mejaya-Jaya yang dikukuhkan oleh Sri Empu saking Geriya Tatasan Kelod.

Usai upacara Mejaya-jaya, sesi ketiga diisi dengan atur piuning saking Ketua Umum Yayasan ‘Eka Dharma Semaya’ I Wayan Pande Sudirtha, SH yang menyatakan bahwa belum direncanakannya program kegiatan Yayasan selama satu tahun kedepan secara resmi, namun beberapa ide untuk menerjemahkan lontar atau membuat salinan buku-buku yang berkaitan dengan Dharma Kepandean sudah dikumpulkan secara kolektif. Tentu untuk mewujudkan hal ini tetap dibutuhkan dukungan penuh dari seluruh penglingsir dan semeton Warga pande dimanapun berada.

Memasuki sesi keempat, Sambutan dari Ketua Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar, I Wayan Pudja, SH., Msi yang sempat berbagi cerita perihal ide awal, rencana dan cita-cita Beliau terkait pembentukan yayasan ini dalam konteks sosial keagamaan maupun manfaatnya kelak bagi semua semeton Warga Pande.

Sesi kelima dilanjutkan dengan Sambutan dari Ketua Maha Semaya Warga Pande Provinsi Bali, Kompyang Wisastera Pande yang mengharapkan terbentuknya Yayasan ‘Eka Dharma Semaya’ ini dapat memberikan kontribusi besar bagi Warga Pande umumnya atau minimal bagi organisasi induk yang kelak dapat mendukung program kegiatan adat keagamaan.

Usai pemberian tiga Sambutan dari masing-masing Ketua organisasi, sesi keenam didaulat untuk Jejeneng Mpu Keris Pande Wayan Sutedja Neka yang memaparkan perihal pemahaman umum Keris dan filosofinya, serta menganugerahkan sebilah Keris Naga beserta warangka-nya bagi Ketua Umum Yayasan ‘Eka Dharma Semaya’ sebagai lambang Kepemimpinan.

Pada akhirnya, pukul 20.00 wita kegiatan Peresmian dan Pengukuhan Pengurus Yayasan ‘Eka Dharma Semaya’ ditutup dengan ramah tamah dan diskusi antar semeton dan Yowana Warga Pande.