MoBiL Baru ? Hmmm…

4

Category : tentang KHayaLan

Apa yang menjadi pertimbangan utama orang membeli mobil kluaran terbaru ?

Model atau desainnya ? bisa jadi. Kenyamanan Berkendara ? Iya. Fitur dan kecanggihannya ? Mungkin juga. Gengsi ? Hm…. Biasanya sih. Harga beli ? he… Mungkin ini yang paling mendekati kebenaran.

Kenapa saya katakan begitu ? Yah, barangkali karena saya melihat belum semua tingkat masyarakat mampu membeli mobil kluaran mutakhir seenak udel mereka. Kecuali para konglomerat dan pengusaha kaya negeri ini loh ya. Maka, walopun maksud hati membeli Ford Everest, tapi berhubung kantong masih menjepit, nah kanggoang Suzuki (Daihatsu) Xenia (ralat dari Bli Gung Ant) aja deh.

Ada juga yang lantaran hal lain, misalnya Dashboard mobil baru yang jelas jauh lebih keren. Ini menjangkiti pikiran saya selama ini. Mungkin lantaran terpancing oleh mewahnya desain penampilannya yang seakan membuat saya nyaman berada didalamnya.

Sebaliknya, Apa yang menjadi pertimbangan utama orang enggan membeli mobil kluaran terbaru ?

Pajak per tahunnya ? Bisa jadi. Biaya perawatan (termasuk bahan bakar) tiap tahun pemakaian ? masuk akal. Fluktuasi Dollar ? He… nunggu harga turun dulu. Harga Jual kembali ? Boleh.

Bagi sebagian besar orang terutama pria, mobil bisa dikatakan sebagai harta yang mampu menaikkan prestise. Sedang bagi mereka para wanita (terutama para ibu-ibu / istri, apa aja boleh, yang penting gak malu-maluin. Asal jangan sampe mobil mentereng tapi anak istri dirumah makan nasi aking. Loh kenapa ? ya uangnya dihemat buat beli mobil. He….

Apapun itu memang asyik kalo ngomongin Mobil baru. Tapi bagi saya secara pribadi mungkin blom saatnya mikirin itu. Terlalu jauh tinggi diawan. Apalagi gaji bulanan blom mencukupi. Jangan-jangan malah mengundang KPK nantinya.

Sendal apik nan Murah

Category : tentang PLeSiran

Berawal dari kesulitan mencari ukuran sendal yang pas jaman SMA dulu, masih harus berorientasi ke daerah Kuta yang harganya wah wah wah… mahal kalo diukur dari kantong ortu saat itu. Bayangkan saja pada tahun 1994 ortu mendapatkan sendal yang pas buat ukuran kaki yang bengkak sampe angka 45 dengan harga 160ribuan. Padahal teman sebaya dengan harga segitu bisa ngedapetin 5-10 biji sendal. Bisa dimaklumi sih, merknya Nike, brand terkenal jaman itu. Sampe kini mungkin yah ?

Masalah timbul saat sendal tersebut mulai rusak, setelah berumur dua tahun lebih. Gak dapet model yang kayak gitu lagi, sehingga memaksa saya sepulang kuliah buat survey tempat mbikin sendal plus sepatu jika bisa, yang menawarkan harga murah tentunya. Dengan pertimbangan utama ya ukuran tadi. Udah makin bengkak jadi 46. Ukuran yang udah jarang ada didaerah Kota Denpasar. Eh, dapat juga di daerah Legian.

Masa berlangganan ditempat itu baru terhenti saat Bom Bali I meluluhlantakkan Kuta, hingga membuat jatuhnya perekonomian di Bali, sekaligus membuat bangkrut para pengusaha di daerah Kuta waktu itu, salah satunya si pembuat sepatu dan sendal ini. Boleh dikatakan saya cukup kelabakan mencari-cari lagi tempat pembuat sendal yang murah. Tapi masih bersyukur lantaran stok yang saya pesan terdahulu masih cukup untuk 2-3 tahun pemakaian. Meski memaksa saya menutup mata pada desainnya yang terbilang ‘wong tuek’ dibanding sendal-sendal gaul tahun 2000an.

Ikut aktif di organisasi pemuda-pemudi Banjar, membuat segala informasi berkaitan style fashion semakin dekat ditelinga. Utamanya perihal sendal ukuran besar yang udah menjadi 47. Ukuran kaki paling besar dalam hidup saya. Semoga gak nambah lagi.

Informasi paling menarik waktu itu adalah ternyata didekat rumah ada pembuat sendal dari bahan spons, yang bisa dipesan dalam berbagai bentuk dan ukuran. Pantesan saja saya sempat terheran-heran melihat model sendal yang dipake rekan-rekan saya di lingkungan rumah. Bentuknya beragam, dari kotak kaku kayak batu bata, lonjong tanpa lekuk kaki, hingga ke bentuk (maaf) alat kelamin laki-laki. Lengkap dengan tempelan bentuk simbol sesuka hati, dari logo Nike, Adidas hingga nama mereka sendiri. Yang membuat saya makin tertarik tentu perihal harganya. Gak nyampe 20ribuan. Penasaran kan ?

Adalah Pak Nyoman Tilem, pemilik usaha pembuatan sendal Spons, yang berkantor dirumahnya sendiri, jalan Yudistira 27A, sebelah barat jalan setelah tikungan (pertigaan) dari arah Patung Adipura.

Dari potongan koran (kalo ndak salah) NusaBali, kabarnya usaha Pak Nyoman ini dahulunya bisa beromzet 3000an sendal perbulannya. Seiring dengan menurunnya perekonomian di Bali, omzetnya pun ikutan menurun walo gak sampe bangkrut. Memang sepengamatan saya, waktu pertama kali mampir dan memesan sendal dari Pak Nyoman ini, ada satu ruangan yang dipenuhi sendal pesanan pribadi hingga kelas Hotel. Dengan berbagai model tentunya.

Pak Nyoman ini kini bekerja sendirian saja. Menempati deretan ruangan yang ia jadikan sebagai kantor, ruang display, dan ruang kerja yang berisikan satu buah mesin jahit dan satu perangkat komputer.

Untuk model sendal yang ia buat kini, lebih banyak meniru model yang telah ada dan laku dipasaran, hanya saja dibuat dengan bahan baku spons (sehingga bebas menentukan mau ukuran sendal yang seberapa besar) dan tentu harga jual yang jauh lebih murah (kira-kira 15ribuan perpasang untuk ukuran yang saya pesan).

Itu sebabnya hingga kini, Pak Nyoman Tilem jadi satu tempat langganan dalam memesan sendal. Sendal yang apik nan murah….

KemBaLiannya diganti PerMen ya Pak

7

Category : tentang Opini

Kata-kata diatas paling sering saya temui begitu bersua dengan kasir di toko, mini market apalagi super market. Ini ditemui setelah menghitung belanjaan, ternyata gak ada uang kembalian untuk jumlah nominal uang yang disodorkan. Maka kotak kecil diatas meja kerjapun makin hari makin dipenuhi oleh permen-permen yang wajah sebenarnya adalah berupa uang kembalian.

Kalo kekurangan pengembaliannya cuman seratus dua ratus sih ndak masalah, tapi kalo mendekati seribuan, ya kadang bikin mangkel juga.

Kondisi begini terjadi barangkali lantaran langkanya uang recehan yang beredar dipasaran, atau bahkan arti dari sebuah keping uang seratus rupiah seperti gak ada artinya lagi. Coba deh amati kalo sua peminta-minta dijalanan, berikan uang seratus rupiah, dijamin ditolak atau dibuang (didepan si pemberi). Bahkan anak kecil yang tau nilai uangpun barangkali bakalan menolak diberikan uang yang gak bisa dibelikan es disekolahannya.

Kelangkaan ini bisa karena keadaannya memang begitu adanya, bisa juga lantaran pemilik toko, mini market dan super market tersebut gak mau direpotkan dengan uang recehan sekecil ini. Solusi paling cepat ya dikembalikan berupa permen.

Yang dirugikan jelas para konsumen. Walopun secara hitungan per pribadi jelas bukan apa-apa. Tapi kalo dikalikan jumlah konsumen yang berbelanja tiap harinya ? coba hitung berapa keuntungan tambahan mereka ?

Apalagi pada kelas Super Market dimana produk yang mereka jual dilabeli harga bukan nominal umum Rp.890,- atau Rp.712,- he… kayak lelang ha pe aja. Coba kalo sipembeli belinya cuman satu biji, trus dibayar pake uang seribuan. Kembaliannya dapat dipastikan berupa permen. Padahal berapa sih harga permen itu sesungguhnya ?

Kalo mau perhitungan, coba ambil sampel beberapa permen dipasaran, sebungkus besar harganya sekitar Rp. 3.000,- dengan isi 40 biji. Andaikan saja permen-permen tadi dijadikan sebagi pengganti uang kembalian dan biasanya sih dinominalkan jadi Rp.100,- per biji, keuntungan bersih yang didapet untuk ngabisin sebungkus permen itu ya seribu rupiah. Itu baru itung-itungan kecil loh ya.

Sayangnya bagi konsumen yang ingin melakukan hal sebaliknya, menjual permen-permen kembalian ini untuk mendapatkan uang sudah jelas gak mungkin. Lagian gak pernah terdengar hal kayak gitu. Kebanyakan konsumen kita pada milih cuek daripada ngurusin hal-hal sepele kayak gini.

Konsumen mungkin bakalan diuntungkan jika saja ada perlombaan kepemilikan permen yang didapat dari uang kembalian, terbanyak jumlahnya, atau malah terbanyak variannya. Kali aja bisa masuk Guiness Book of Record. Huahahaha…..

Maka gak heran, kalo ada satu tempat usaha yang berjualan barang keperluan sehari-hari hingga konsumstif masyarakat, dengan bermain jujur saja mereka bisa maju kok, apalagi dengan cara Permen Kembalian ini. He…

Bahasa Iklan : Konyol namun menghanyutkan

1

Category : tentang KeseHaRian

Kalo rajin menyimak siaran iklan di media televisi, tentu sudah gak asing lagi dengan bahasa iklan yang memuji abisss produk tertentu dan memojokkan produk saingannya.

Mulai dari iklan obat nyamuk (ups nyamuk diobatin ?), obat sakit kepala, minyak goreng, deterjen pembersih, hingga ke operator selulerpun seakan berlomba memuji diri sendiri seakan produk merekalah yang terbaik diatas segalanya.

Tak jarang bahasa iklan yang dipakai sebagai motto mereka seakan terkesan bodoh dan meniru, namun produsen barangkali menutup mata akan semua hal itu. Yang penting produk laku, dan duit dikantong pun bisa makin tebal.

Masyarakatlah yang tetap menjadi hakim atas semua yang ditawarkan. Apakah bakalan tergiur oleh hasutan tersebut atau malah sebaliknya, berusaha bijak pada keputusannya sendiri.

Secara iseng aja ngeliat produk shampoo rambut yang dari kemasannya diperuntukkan bagi kaum adam. Ini diproduksi karena katanya berdasarkan penelitian, yang namanya ketombe pada pria tak kalah banyak dengan wanita. Diantaranya saya selaku penulis. Maka setelah nyobain berbagai merek dalam jangka waktu tertentu, akhirnya ngerasa pas dengan yang satu ini.

Hanya saja sedikit shock saat ngeliat tulisan pada kemasan belakangnya yang memberikan peringatan pada konsumen pemakai :

‘PERHATIAN : Percaya diri karena tidak berketombe akan lebih banyak wanita. Bersiaplah’

bahasa-iklans.jpg

Oh, come on, kata-kata mutiara nan membuai nuansa hati sang konsumen hingga terbuai kealam mimpi ini rasanya lebih pantas jadi bahan tertawaan, lantaran kesannya ‘wanita yang bakalan mendekat merasakan jauh lebih menarik memperhatikan rambut sang pria dibanding kelakuan dan aktifitasnya. Konyol tapi bener-bener menghanyutkan.

Terutama bagi mereka yang masih setia nge-jomblo lantaran ketombe rambut, sehingga yang namanya wanita jadi enggan dekat-dekat dengannya. Hihihi…

Kasir Ramayana

Category : tentang KHayaLan

Pembeli sudah mengantre lama tapi belom dapet giliran, lantaran bagian kasir terlalu lelet memasukkan item barang yang dibeli, sementara para siswa yang magang dibagian sama, diberi omelan lantaran salah memasukkan kode dan angka.

Tak jauh dari sini ada kasir yang diisi oleh pekerja tetap tanpa keberadaan siswa yang magang namun selalu mengalihkan proses pembayaran kekasir sini. Tanpa ada inisiatif dari mereka untuk mengambil alih pekerjaan yang sudah mulai membuat para pengunjung kesal dan meletakkan barang yang sudah dipilih lalu pergi…

Salah siapa ?

Wanita dan Kosmetik

Category : tentang KeseHaRian

Berbagai macam bedak lipstik aneka warna hingga pelembab, penghalus, pemutih dan seterusnya terpajang rapi di rak display sebuah toko di kawasan jalan Sumatra Titih, sebelah timur Gajah Mada.
Ada saja yang membeli demi melihat merk ato brand terkenal atopun karena harga jualnya yang tinggi untuk sebuah prestise.Tapi apa gak ada yang murah meriah, namun paten khasiatnya ?
Mungkin itu hanya bisa dijawab oleh para Produsen, yang berlomba-lomba menciptakan produk agar laku dijual, sekalipun itu hanya dengan menambahkan satu buah item saja.
Embel-embel kemasan baru juga tak kalah banyaknya.

Tidakkah mreka berpikir akan kondisi indonesia, dimana masih banyak wanita-wanita yang bekerja namun mendapatkan upah dibawah UMR, belum lagi jika berstatus kos ato ngontrak rumah.

Herannya ditengah krisis yang melanda, masih ada juga yang mampu mencoba membeli hingga berlangganan jika cocok.
Membuang uang untuk sebuah kecantikan ?

Trend Batu Tempel

Category : tentang KHayaLan

Makin dewasa usia kehidupan, makin beragam selera manusia yang ada didalamnya.

Jika bangunan Bali dahulunya didominasi oleh batu tempel berupa batu bata oranye, yang lebih mencerminkan kesan klasik dan kuno, secara perlahan mulai ditinggalkan.

Trendpun bergeser, hingga batu-batuan yang dahulunya dianggap tak bernilai jual kini malah laris dieksploitasi demi sebuah kemegahan.

Penggunaan Batu Hitam sebagai tempelan sekaligus ornamen bangunan-bangunan suci di Bali, bisa dijadikan contoh. Jelas-jelas membuat bangunan terlihat lebih kokoh dan garang.

Kira-kira trend apa lagi yang bakal hadir esok hari ?

ToraBika Cappucino : Kenikmatan Terbaru

4

Category : tentang KHayaLan

Selamat kepada PT Torabika Eka Semesta akan peluncuran ToraBika cappucino kemasan baru, dimana dari segi desain, tentu terlihat lebih lux dibanding produk sejenis, termasuk desain pada Choco Granule-nya.Walo pada awal pembelian, agak ragu untuk mengambilnya dari rak display, karena Cappucino yang kusuka terdahulu, bukanlah kemasan seperti ini, namun setelah ditanyakan, ya memang ini.
Surprise dah.

Seperti pada Posting pada blog dibulan-bulan lalu, bahwa kopi Tora Bika Cappucino, saya kategorikan sebagai kopi Terbaik, padahal pada web lain, kategori kopi Terbaik dinobatkan pada Nescafe.
Kenapa begitu berani melawan arus?
Karena nikmatnya ToraBika Cappucino baik tanpa apalagi dengan tambahan Choco Granule, bisa memberikan kesan ‘Kesuksesan alam bekerja’ ato malah… ah, akhirnya slesai juga tugas berat yang diemban…

Jadi bagiku Kopi ToraBika Cappucino, tetaplah yang terbaik.
Dengan harga yang murah, dijual eceran sekitar Rp. 1.250,00 sudah mendapatkan secangkir kopi dengan kualitas sama pada hotel-hotel berbintang dengan harga minimum 20 ribuan. Wong kopi item khas jawa saja pada hotel maupun kawasan wisata secangkirnya 10ribuan…

So, bawa ToraBika Cappucino kemanapun tujuan nanti, cukup diseduh dengan sedikit air panas, sudah memberikan cita rasa terbaik dari seluruh kopi yang ada.
Sekali lagi Selamat untuk Tora Bika Cappucino.

KEBAYA : trend tiada henti

Category : tentang KeseHaRian

Melintas di seputaran Diponegoro, sempat terlontar decak kagum istri akan pajangan kebaya yang hadir disebuah etalase toko. Ya, kebaya. Hasil karya anak bangsa yang paling digemari dari segi motif, bordiran maupun corak warnanya.Tak jarang para ibu-ibu hingga yang abg, termasuk kategori nomor satu, jika sudah ngomongin kebaya. Tak jarang pula, sepulang dari obral obrol, lantas bisa berlanjut ke shopping bareng ato malah nuntut pada suaminya untuk membelikan kebaya yang sama dengan tetangga sebelah.

Herannya sebanyak apapun kebaya yang mereka miliki, kepuasan itu tetap tak ada batasnya. Bahkan bisa jadi kebaya yang baru dibeli, setelah tiga bulan bisa dikelompokkan sebagai bukan modenya saat ini. Pinter banget ya para erancang busana, menciptakan mode sekian bulan sekali ?

Lebih heran lagi, kebaya-kebaya yang mereka miliki, mungkin terpakai baru 2-3 kali. Beda dengan makhluk yang namanya cowok (pengecualian untuk yang tergolong ‘metroseksual’ dan gay), baju yang sama masih dipake walo usianya sudah setahun dan warnanya pun telah pudar.
Seperti kata Bung Karno yang lebih suka pake kaos oblong yang robek dan penuh tambalan, ni baju masih enak pas dibadan.
Weleh, kapan ya, para ibu-ibu maupun abg tadi bisa punya keyakinan seperti Beliau ?

Kopi Nikmat

1

Category : tentang KHayaLan

Apa kopi yang paling nikmat untuk diseruput ?
Kapal Api ?
Kopi Robusta ?
Kopi Bali ?
Indocafe ?
Nescafe ?Jawabnya tidak dari semua itu.

Menurut cita rasa dan seleraku pribadi, yang terenak hanyalah ToraBika Cappucino, dengan harga yang sedikit diatas kopi lain, dijual Rp. 1.250, tapi memberikan rasa dan nikmat kopi yang tiada tara.
Apalagi jika ditambah Choco granula-nya. Hmmmm…

Sedangkan dinomor dua, ya Good Day Original.
Pahitnya kopi terasa banget, disamping memiliki banyak rasa lain, namun agaknya yang Original yang paling asik rasanya.

Kegemaran minum kopi, berawal dari gak familiarnya kopi hitam bila masuk ke perut, bikin komplikasi dengan pencernaan, dan hasilnya harus dikeluarkan di closet.
Wuih, jorok !
Jadi langsung berpindah ke kopi tipe mix, dicampur gula dan krim.
Efeknya lantas bila mau kemana-mana ya beli kopi sachet dulu biar ditempat tujuan gak ngedapetin kopi item lagi.
Hehehe…