Karaoke-an di Spotify ?

Category : tentang TeKnoLoGi

Menyambung tulisan kemarin soal Spotify, salah satu pilihan Streaming Musik masa kini yang bisa dinikmati melalui berbagai perangkat, rupanya ni aplikasi juga bisa diajak Karaoke-an loh. Hehehe…

Berawal dari pertanyaan istri tentang lirik lagu yang kerap saya dendangkan di mobil sepanjang perjalanan berangkat dan pulang kantor, yang rupanya diragukan keabsahannya seratus persen lantaran bahasa yang dilafalkan si penyanyi bukan bahasa Ibu, hehehe…
Maka percobaan pun dilakukan dengan menyampaikan pertanyaan ke mbah Google ‘how to show lyrics on spotify’.
Hasilnya maknyus…

Berdasarkan hasil pencarian untuk perangkat mobile, setidaknya aksi Karaoke-an via Spotify bisa dilakukan dengan memanfaatkan salah satu diantara dua aplikasi yaitu Genius dan SoundHound.

Jika aplikasi Genius akan secara otomatis menampilkan lirik lagu yang sedang didengar lewat opsi notifikasi (sisi atas layar ponsel), SoundHound sendiri musti buka aplikasinya dulu agar bisa menyajikannya. Mana yang lebih mudah tentu ya terserah kalian. Saya sendiri pilih Genius sejauh ini.

lyric-spotify-pande-baik

Sedangkan hasil pencarian untuk perangkat pc desktop, infonya sih Spotify sudah ndak ngedukung lagi fitur tampilan Lirik Lagu secara default yang banyak mengecewakan penggunanya. Namun rupanya ada yang mengakali dengan mengunduh aplikasi Lyricfier melalui halaman resmi mereka, dan menempatkan filenya didalam folder aplikasi Spotify.

Hasilnya lumayan. Jadi kita bisa sambil berdendang saat mendengarkan musik di perangkat pc komputer untuk meyakinkan audience bahwa sedikitnya kita beneran hafal lagu itu. Hehehe…

Tips Ringan sebelum Install Ulang Windows PC

Category : tentang TeKnoLoGi

Kalau mau mengerjakan sendiri instalasi Windows sebenarnya gag susah susah amat kok. Asalkan kalian tahu bagaimana cara, langkah atau persiapannya agar proses aktifitas tidak tersendat terlalu lama nantinya. Yuk cari tahu apa aja.

Pertama, tentu saja Backup. Baik daftar file dokumen, foto, video dan lainnya ke dalam bentuk cakram DVD ataupun copy ke Harddisk Eksternal. Ini untuk menjaga kemungkinan kehilangan file saat proses instalasi dilakukan. Utamakan file atau dokumen yang berada dalam folder Documents/Library drive utama. Karena didalam folder inilah yang kelak akan dibersihkan habis tanpa kecuali.

Kedua, persiapkan Driver perangkat. Baik milik PC atau Laptop, maupun Driver lain seperti Printer, Scanner bahkan Modem. Semua ini bakalan dibutuhkan saat sistem operasi tidak mampu mememukannya via online saat instalasi selesai dilakukan. Bisa dilakukan dengan mencari tahu lewat Google terkait seri perangkat atau diperiksa satu persatu pada jeroan yang ada didalam perangkat.

Ketiga, Siapkan Aplikasi ataupun software pendukung selain Installer utama sistem operasi Windowsnya. Saran saya disini sih seperlunya saja. Minimal ada Office, AntiVirus, photo Editor, kompresi dan aplikasi yang mendukung aktifitas masing-masing. Kalopun ada tambahan, bisa dilakukan sambil jalan.

Keempat, sisihkan Waktu. Proses instalasi biasanya berlangsung nyaris 1 jam untuk sistem operasi dan sisanya setengah jam rasanya cukup. Kalopun mau ditinggal pergi atau tidur, tancapkan kabel daya ke perangkat untuk mencegah perangkat kehabisan daya di tengah jalan. Proses bisa dipantau secara berkala jika dibutuhkan.

Kelima, Koneksi Internet. Khusus langkah terakhir ini sebenarnya opsional alias gag wajib. Koneksi dibutuhkan biasanya untuk melakukan aktivasi atau registrasi, ataupun update sistem yang dilakukan usai proses instalasi selesai. Bisa juga untuk mencari driver perangkat jika tak ditemukan saat instalasi. Kalopun gag ada ya gag masalah sebetulnya.

Nah, kira kira itu saja sih yang bisa dijadikan catatan kalau kalian mau mengusahakan proses instalasi sistem operasi Windows pada PC milik sendiri. Mudah bukan ?

Instalasi Windows dan kenangan masa lalu

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang TeKnoLoGi

Aktifitas macam ni sebetulnya dahulu sudah terbiasa dilakukan, tapi dalam perjalanannya seiring profesi PNS dilakoni sudah mulai berkurang dan jarang lalu mendadak lupa.

Proses untuk menginstalasi ulang sistem operasi Windows sebenarnya tidak sulit, apalagi kalau perangkat yang akan dieksekusi merupakan perangkat mobile sejenis ponsel, PDA maupun Tablet. Mengingat secara bawaan yang namanya sistem operasi sudah tertanam langsung di perangkat sehingga tidak lagi menyulitkan pengguna untuk melaksanakan proses perbaikan hingga instalasi tadi.

Saya masih ingat, proses awal pembelajaran instalasi sistem operasi ini dimulai sekitar tahun 1998-1999 dimana saat itu masih berkembang yang namanya Windows 98 dengan User Interface yang jauh lebih baik dari pendahulunya Windows 95. Nekat. Itulah yang terlintas di benak saya hanya karena rasa penasaran yang ada di kepala, ingin merasakan nikmatnya Windows 98 tanpa mau tau akan minimnya pengalaman yang saya miliki.

Ada beberapa masa yang dilewati sejak itu. Pertama masa dimana saya begitu mendewakan jumlah icon kecil di pojok kanan bawah, hanya gara-gara dipanas-panasi seorang kawan lewat pc barunya, yang kemudian belakangan menyadari bahwa semua itu hanyalah memberatkan kinerja pc, kedua ada masa dimana saya menyukai aplikasi aneh tapi gag penting guna menghiasi layar desktop seperti calendar, gambar bergerak dan semacamnya yang kini dikenal dengan istilah widget, ketiga ada juga masa dimana saya begitu hobi mengumpulkan aplikasi unik dari berbagai cd bekal majalah seperti Chip, Info Komputer dan lainnya. Dan pelan pelan semuanya berakhir pada masa sesimpel mungkin. Minim aplikasi, seperlunya saja.

Satu dua guru yang saya dapatkan saat itu dengan berbekal modal mengamati. Dari segi bawaannya apa saja, minimal selain cd copian Windows, Office dan Anti Virus, dilengkapi juga dengan aplikasi tambahan macam kompresi, pemutar musik, hingga gambar wallpaper indah dan benar-benar ‘indah’ *uhuk. Ada juga beberapa obeng kecil dan hafalan cd key.

Gara-gara hobi tak sengaja inilah saya jadi kebanjiran order dari kawan kuliah, famili bahkan keluarga mereka untuk sebatas instalasi ulang perangkat pc, memperkeren tampilan atau menghapus virus dan pada akhirnya mengajarkan mereka cara menggunakannya. Namun kemajuan yang saya dapat, belumlah se-expert para guru tadi maupun kawan-kawan yang mengambil spesialisasi IT dalam pendidikannya.

Seiring dengan ditugaskannya saya sebagai pengabdi masyarakat, kemampuan untuk melanjutkan hobby diatas perlahan mulai berkurang mengingat secara aturan, untuk pemeliharaan pc dan sejenisnya sudah ada teknisinya. Jadi posisi saya berbalik jadi owner ceritanya. Namun dengan modal pengetahuan awal, proses yang dilakoni jadi gag bisa dikadalin :p

Meski begitu, yang namanya kebiasaan ya gag ilang-ilang banget aktifitasnya. Cuma fokusnya aja yang bergeser ke arah teknologi mobile ponsel. Tapi yah tetep aja yang namanya proses instalasi Windows kini malah jadi sesuatu yang membuat deg-degan juga. Era nya beda sih. Hehehe…

Saatnya melirik TabletPC

4

Category : tentang TeKnoLoGi

Gag bisa dipungkiri bahwa kehadiran perangkat iPad di pertengahan tahun 2010 lalu, membuka mata banyak vendor ternama untuk ikut serta bersaing merebut hati konsumen akan kebutuhan sebuah perangkat mobile pengganti NoteBook. Berbekal layar sentuh dan ukuran yang pas layaknya sebuah agenda ataupun map, membuat beberapa pekerjaan jadi lebih mudah untuk diselesaikan. Apalagi bila ditunjang dengan kemampuan internet kecepatan tinggi, dan juga prosesor yang mumpuni. Sebuah perangkat mobile bernama TabletPC pun layak untuk dilirik tahun ini.

TabletPC sendiri diartikan sebagai satu komputer lengkap dengan media input layar sentuh, dan memanfaatkan sarana pena digital, stylus, mouse ataupun sentuhan jari seperti yang dirilis iPad beberapa waktu lalu. Padahal sebenarnya satu dasa warsa lalu, Microsoft pernah memperkenalkan perangkat serupa dengan mengandalkan sistem operasi Windows XP, sayangnya publik belum merespon secara antusias kehadirannya. Beberapa vendor ternama seperti HP, Fujitsu atau Samsung pun pernah merilisnya dengan bentukan Notebook yang layarnya dapat diputar dan dilipat.

Siapa sangka jika iPad yang muncul jauh sesudahnya malahan mampu menyedot perhatian banyak khalayak hingga vendor yang namanya telah dikenalpun ikut-ikutan merilis TabletPC versi masing-masing. Demikian halnya dengan beberapa vendor baru yang bermunculan untuk sekedar ikut serta berebut kue penjualan.

Katakanlah Archos. Vendor yang dikenal lewat perangkat multimedia audio videonya ini, merilis perangkat TabletPC berbasis Android 2.2 Froyo. Dengan mengandalkan Prosesor 1 GHz ditambah port USB 2.0, bisa dikatakan sedang mencoba menutup celah kelemahan yang dimiliki iPad. Demikian halnya dengan Creative ZiiO, CSL Spice, Huawei SmaKit S7, ZTE Light bahkan vendor sekelas Samsung pun merilis versi Galaxy Tab, yang rupanya sama-sama mengandalkan sistem operasi Android, dari versi Cupcake 1.5, Donut 1.6, Eclair 2.1 dan Froyo.

Tak ketinggalan sang raksasa RIM, merilis BlackBerry PlayBook, mengandalkan OS BlackBerry Tablet, Prosesor 1 GHz Dual Core dan 1 GB RAM. Kabarnya untuk pasar Indonesia, produk ini bakalan masuk kisaran April 2011 nanti.

Untuk harga yang harus dibayarkan agar bisa membawa pulang sebuah TabletPCpun bisa dikelompokkan menjadi dua. Kisaran harga 2 juta hingga 4 juta untuk sebuah perangkat TabletPC yang dirilis oleh vendor baru ataupun kualitas lokal, dan kisaran harga 5 juta hingga 7 juta untuk perangkat TabletPC yang dirilis oleh vendor ternama. Perbedaan kisaran harga ini akan berbanding lurus dengan fitur serta kemampuan yang disandang.

Meski demikian, sebuah perangkat TabletPC kini hari belum mampu menggantikan peran sebuah NoteBook secara sepenuhnya, apalagi bila dikaitkan dengan kemampuan untuk pengolahan grafis seperti AutoCad misalnya. Namun apabila kemampuan yang diharapkan hanya sebatas pekerjaan kantoran meliputi word dan worksheet ditambah menjelajah dunia maya, saya kira sebuah perangkat TabletPC sudah saatnya untuk dilirik sebagai teman baru tahun ini.

Arus Teknologi di Pemerintahan

Category : tentang Opini

Keseharianku gak bisa lepas dari yang namanya komputer dan ha pe (kali ini sudah menjelma jadi pda). Sedangkan dalam angan-angan, masih banyak yang diinginkan, tapi karena dana juga cekak, yah cukup segini aja dulu.Pingin juga punya iPod, ato paling gak mp3 player yang murahan, handicam ato laptop yang mumpuni. Itu semua bahkan jadi bahan untuk mengigau dalam tidur, huehehe…
Istri sampe bengong pas nyadar saat aku ngigo, ngomong tentang ha pe juga yang laennya. Huehehe…

Namun sayang, lingkungan gak mendukung. Awal aku bekerja sempat terlintas dalam bayangan, kalo didalam ruang kerja kantor pemerintahan, paling gak sudah seperti ruang kerja swasta yang pernah aku alami.
Rapi, bersih, dingin ber-ac, ga banyak kertas yang numpuk di meja kerja, kabel-kabel ga berserakan, dan juga super power technology.
Bayangan ini muncul lantaran semester akhir kuliah, dibantu sohib Swikhendra, dapet ijin untuk ngeprint Tugas Akhir di kantor KPDE Badung, trus ngeliat beberapa rongsokan komputer canggih yang dibakar masaa saat kerusuhan beberapa tahun lalu.
Dengan ruang kerja kantor yang bersih dan rapi.

Ternyata eh ternyata ruang kerja kami gak ubahnya kapal pecah. Awalnya terasa aneh, sampai-sampai aku nekat ngebersihin kertas yang berserakan, mau itu kepake ato enggak, trus ditumpuk dipojokan, lumayan, bersih cuman sehari, trus berserakan lagi deh.

Yang bikin nelangsa waktu itu adalah komputer yang ada masih Intel Pentium 1 dan 2, itupun ada yang masih 486, dengan printer Epson gede besar bersuara berisik, duuh… Jaman sudah Pentium 4 kok ya masih aja deh menggunakan itu. Cara kerjanya juga aneh, orang per orang, ngebikin nama file, pake nama orang, ato kalo make nama file, yang disingkat-singkat. Mungkin maksudnya biar ga ada yang nyabot kerjaannya.
Jadi kalo mo nyari Surat apa gitu, harus nanya dulu, “woooi… yang bikin Surat ini siapa ?”

Anehnya lagi, gak ada jaringan yang terhubung, padahal ini kantor lho… tapi gak heran juga karena sampe posting ini ditulis, yang namanya jaringan juga masih jadi angan-angan belaka.

Oya, sempet minder awal-awal make pda, karena lingkungan yang paling canggih waktu itu masih make Nokia 6600, dikiranya korup uang negara dari mana lagi. Awal-awal bawa kamera saku juga gitu, jadi bahan pelototan orang, mungkin dalam pikiran mereka mikir, ni orang udah gede tinggi, kantong bajunya yang kiri nongolin ha pe segede batu bata, yang kanan ada kameranya, mo kemana ya ? Padahal di luaran mungkin bisa dibilang aku ini udah ketinggalan jaman.
Orang lain udah pada bawa ha pe canggih dengan kamera built in 2 MP, ya aku masih bawa yang VGA.
Orang lain udah bawa kamera 6 MP, aku masih yang 3 MP.
Orang udah bawa laptop, aku masih bawa map. Huehehe…

Tapi bersyukur juga, setelah 2 tahun merayu lingkungan untuk lebih up to date, apalagi setelah mendapat suntikan komputer Pentium 4, 3 biji, yang dulunya orang-orang masih gambar pake mesin Mutoh, sekarang udah mendingan, nge-Cad walo masih meraba-raba, Mesin Mutoh langsung istirahat deh.
Yang namanya flash disk juga udah mulai familiar dibawa setiap orang. Walopun pada awal-awalnya masih kagok.
Terus, Ha pe juga mulai bervariasi, tapi rata-rata masih megang Nokia.

Ada gunanya juga selama berbulan-bulan, masang wallpaper teknologi di masing-masing komputer, baik itu ponsel, laptop, pda, kamera, de el el, dan juga ngajarin orang-orang untuk familiar dengan AutoCAD, karena ini satu program yang paling penting di instansi kami.
Gak percuma deh.

Yang paling seru, orang-orang udah gak gaptek lagi, sekarang malah pada rebutan make komputer, untuk sekedar gambar ato ngetik. Yang lebih kasian, komputer yang dulunya laris (Pentium 1), sekarang cuman duduk di pojokan, ga kepake. Yang paling sial, aku kini malah bengong, karena gak pernah kebagian make komputer.
Duuuh…