No Friends No Games, Little Mice GAME OVER!!

Category : tentang SKetSa

Topik bahasan Muhammad Mice Misrad kali ini seperti mengabulkan harapan saya di masa lalu akan diceritakannya sejumlah permainan masa kecil yang lebih banyak dilakukan di luar rumah, yang tentunya amatlah menyenangkan. Membuat saya kangen pada sejumlah teman masa SD yang penuh cerita.

Kisah dimulai saat hujan mendera, dimana Mice teringat pada masa kecilnya yang jika berada dalam situasi seperti ini, ia langsung melepas baju dan celana, lalu berlari keluar rumah untuk bermain hujan. Hal yang sama, namun tidak sampai telanjang, kerap saya lakukan dengan berbagai alasan, agar disempatkan ‘mekocel-kocel’ diluaran.

Mice 3

Masa Senapan Kayu, mungkin bukanlah masuk di jaman saya dahulu. Namun untuk Pletokan, mungkin iya. Bahkan untuk bahan baku senjatanya, kami menggunakan buah jambu yang masih muda dan kecil untuk ditembakkan ke arah lawan. Kebetulan di halaman rumah kami jaman dulu, terdapat tiga pohon jambu berukuran jumbo yang siap mengotori tanah dibawahnya dengan ‘kampuak’ dan serpihan bunga serta daunnya.

Bola Gebok, permainan yang dilakukan secara berkelompok ini sebenarnya bisa dipadukan dengan petak umpet dimana tumpukan batu dijaga dengan baik agar tidak sampai diruntuhkan oleh kelompok lawan dengan lemparan bahkan tendangan dadakan. Dan biasanya kalopun ada salah satu anggota yang ngambek akibat ‘jadi’ terus menerus, barulah permainan bubar dengan sendirinya. He…

Ada lagi permainan Gelatik, yang kalau di masa kami lebih dikenal dengan nama Tak Til. Bermodalkan batang kayu pohon terdekat, dimainkan berdua atau lebih, dengan kemampuan yang semakin hari makin diasah kehebatannya memukul batang pendek hingga bisa jatuh lebih jauh. Baik di rumah maupun sekolah, ini adalah permainan yang amat sangat saya sukai saat waktu luang tiba.

Gundu atau Kelereng, pula merupakan salah satu permainan yang begitu digemari. Sayapun termasuk didalamnya. dan di Bali, nama permainan ini lebih dikenal dengan Guli. Mengandalkan sentilan jari tengah dan telunjuk dengan kekuatan yang jauh lebih baik ketimbang jari lainnya. Istilah-istilah yang disebutkan oleh Mice disini, benar-benar mirip dengan istilah yang kami gunakan dalam permainan Guli sehari-hari. Stik, Jus, Tipis hingga Stand untuk pose berdiri, terutama bagi pemain yang berada di posisi dekat tembok. Macam-macam Guli atau kelerengpun saya miliki, dari yang bening, bermotif warna hingga susu. Dari yang ukuran normal, kecil hingga jumbo. Dan tempat yang digunakan untuk menampung kelereng jaman itu ya kaleng biskuit Khong Guan seperti yang digambarkan di salah satu halamannya.

Mice 4

Ada lagi kalo gag salah main Gala, benteng, kartu remi, empat satu, cangkul, joker, atau Kik (yang ini untuk anak perempuan, dengan ikatan bunga jepun yang ditendang-tendang vertikal). Atau kwartet, dimana masa itu masih dipenuhi dengan gambar Megaloman atau Voltus 5… ah, masih banyak lagi yang rupanya belum sempat dibahas.

Yang Unik, tentu saja gambaran Profil Bocah era 70-80an yang diekspresikan ingusan, dekil, berkeringat dan borokan atau koreng, tentu berbeda jauh dengan profil anak masa kini, era tahun 2000an. Jujur saja, saat kecil memang ada beberapa kawan persis seperti gambaran tersebut, gag kebayang kalo anak seperti itu masih ada di jaman kekinian kota besar. Pasti jadi heboh deh. Hehehe…

Namun yang paling menggelitik dari semua kisah yang ada, saat bagaimana diceritakan akhir buku dicapai, yaitu saat sang anak yang mengeluhkan batere ipad yang sudah lobet (lowbatt), satu gambaran yang lumrah ditemui di era kekinian. Ya, anak tak lagi ramai bermain di luaran bersama kawannya, namun asyik dalam kesendirian gadget akibat tahun lahir di jaman layar sentuh. *menarik nafas panjang

Football’s Coming Home! by Mice

Category : tentang SKetSa

Lain Benny Rachmadi, lain pula sang kawan sekaligus rival, Muhammad Mice Misrad.

Mengambil tema asyik sepakbola, dalam rangka perhelatan tingkat dunia tempo hari, kartunis kelahiran Jakarta 23 Juli 1970 ini mencoba menerjunkan kisah sepenggal demi sepenggal gambaran masa kecil yang dapat ia ingat  disertai beberapa pengenalan istilah Komentator Bola yang dibukukan dalam satu jilid dua muka.

Mice 2

Dikisahkan tentang Mice kecil dikisaran tahun 1978 (tahun lahir saya nih), dimana saat itu yang namanya lahan hijau nan lapang masih banyak bertebaran di seantero kota Jakarta, lahan yang dipikirnya tak bertuan.

Sebagaimana kisah anak kecil jaman dahulu, sebelum lahan dimanfaatkan sebagai ajang tanding sepakbola, selalu didahului dengan aksi fantasi dunia anak, seperti misalkan silat kungfu. Atau bermain meriam bambu serta mendirikan tenda kardus dan sarung layaknya camping. Sayangnya, dalam kasus ini, tidak banyak kisah yang dapat dituangkan oleh Mice melalui goresan ringannya. Namun sedikit banyak bisa bercerita perihal bola plastik yang dibeli patungan Rp.25,- per orang (jaman itu), serta kisah unik yang terjadi didalamnya.

Lain cerita masa kecil, lain lagi kalo bercerita soal Kamus Istilah Komentator Bola. Untuk kasus yang satu ini sih, gag perlu pendapat banyak yah, mengingat yang namanya komentator biasanya sih jauh lebih pintar ngomongnya daripada prakteknya. Namanya juga komentator. Hehehe…

Jadi ceritanya si Mice lagi kepengen berbagi pemahaman akan berbagai istilah para Komentator Bola yang dianggap menggelikan di telinga kita, diantaranya Belanja Pemain, Pemain Pinjaman, Pemain Veteran, Penyerang yang Tajam, Bola Muntah hingga Diving atau Gantung Sepatu. Yakin banget bagi yang hobi mantengin bola, pasti tahu arti istilah yang sebenarnya, namun bagi Mice ya semacam dugaan pemahaman bagi awam, seperti saya misalnya. Hehehe…

Melanjutkan kisah Tiga Manula Benny Rachmadi (2)

Category : tentang SKetSa

Jika dalam perjalanan awal menyusuri jalur Pantura atau Pantai Utara berakhir di Trowulan Mojokerto, maka untuk melanjutkan kisah perburuan Tiga Manula dalam rangka menemukan Desa Tingal Wetan, kelahiran Waluyo, Liem dan Sanip memutuskan untuk menjelajahi jalur selatan Jawa sambil pulang ke Jakarta.

Buku seri kedua dari kisah perjalanan Tiga Manula dalam pencarian jati diri sang tokoh Waluyo, merupakan seri ketiga cerita yang sama yang pernah diluncurkan oleh Benny Rachmadi, kartunis jebolan studi Seni Rupa di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tahun 1993. Dicetak pertama pada Desember 2013, berselang setahun dari seri pertama Tiga Manula jalan-jalan ke Pantura, memulai kisah lanjutannya dari wilayah Jombang yang kemudian mengingatkan mereka pada… Gombloh ? Atau Sutan Batoegana ? *ealah… Gus Dur om… hehehe…

Tiga Manula 2

Perjalanan selanjutnya pun masuk ke Blitar, mengunjungi kompleks Makam Bung Karno, presiden RI pertama serta biar komplit, lanjut ke Karanganyar, peristirahatan terakhir Pak Harto, presiden kedua RI yang berkuasa lebih dari 30 tahun lamanya. Tak lupa blusukan ke Kota Solo, tempat asal Calon Presiden RI tahun 2014 nanti. *uhuk

Seperti biasa, selain berbagi Tips terkait ke-khas-an masing-masing daerah yang dilewati, tidak lupa mencicipi kuliner daerah seperti Selat Solo, Bestik, Tengkleng dan Sate Kere, atau Kopi Areng yang jujur saja baru kali ini saya tahu. :p

Makin aneh lagi ketika masuk ke bahasan Sate Klathak dengan tusukan Jeruji sepeda, Jadah Tempe yang dimodif jadi Big Mac :p hingga Nasi Tutug Oncom khas Tasikmalaya.

Sedangkan objek wisata ada Alun-Alun selatan Keraton Jogyakarta, Candi Borobudur dengan salah satu stupa yang ‘mengabulkan harapan’, hingga Benteng Karang Bolong di Nusakambangan.

Tampaknya kisah yang ingin dibagi oleh Benny Rachmadi tak melulu soal kelucuan kartun, namun juga eksplorasi budaya dan melimpahruahnya kebhinekaan yang ada di negara kita. Patut diacungi jempol tentu saja.

Jadi, bagi kalian yang ingin tahu meski secara tidak langsung soal kuliner, objek wisata hingga hal-hal yang sekiranya unik ditemukan di seantero Pulau Jawa, dua buku Tiga Manula jalan-jalan ke Pantura dan Selatan Jawa bisa dijadikan pilihan asyik sembari terkikik. Selamat menikmati yah…

Melanjutkan kisah Tiga Manula Benny Rachmadi

Category : tentang SKetSa

Masih ingat cerita kocak Tiga Manula Waluyo, Sanip dan Liem si juragan tajir yang beruntung bisa jalan-jalan ke Singapura, pasca banjir keuntungan dagangan tablet ? Kini mereka kembali lagi lewat kisah jalan-jalan ke Pantura atau jalur Pantai Utara. Bagi yang kerap mudik, saya yakin pasti tau dan pernah menyambanginya.

Adalah Waluyo, salah satu dari tiga Tokoh Manula yang menjadi peran utama selama perjalanan, merasa kangen dengan desa kelahirannya Tingal Wetan dan memilih untuk rendeman di dalam sebuah sumur. Merasa kasihan, si juragan Liem lalu berupaya untuk mengantarkan si Waluyo mudik ke desa asal, yang rupanya kelupaan kalo Tingal Wetan itu ada dimana. Maka diusulkanlah untuk menyusuri Jalur Pantura atau Pantai Utara dengan harapan, Waluyo bisa mengingat kembali dimana Desa kelahiran Tingal Wetan berada.

Seperti biasa, Benny Rachmadi sang kartunis mengawali kisah dengan memberikan beberapa Tips ringan terkait persiapan perjalanan. Termasuk rute pertama yang dikunjungi dari Cikampek.

Tiga Manula 1

Berkarya dan Berkarya.

Kurang lebih begitu yang dapat saya gambarkan untuk seorang Benny Rachmadi, kartunis kelahiran Samarinda 23 Agustus 1969 silam. Setidaknya kemampuannya terus terasah dari seri komik strip di mingguan Kompas, ke bentuk buku dengan berbagai topik nakal. Diantaranya yang pernah dikisahkan dalam blog ini ada 100 Peristiwa yang Bisa Menimpa Anda, 100 Tokoh yang mewarnai Jakarta, dobel kisah Dari Presiden ke Presiden, atau Lost in Bali jilid 1 dan 2 yang merupakan tandem bareng Mice sang rekan termasuk kisah Tiga Manula seri pertama, Jalan-Jalan ke Singapura.

Seperti halnya tulisan seorang blogger atau kolumnis yang merasa sudah jatuh cinta pada dunianya, tak semua karya kemudian bisa memuaskan hasrat para penggemarnya, demikian halnya saya akan karya Tiga Manula lanjutan kali ini. Namun demikian, apa yang tergambar saya yakini memang benar adanya, yang kemudian seakan menampar wajah sendiri. Jadi antara ngakak, senyum simpul hingga miris sendiri, dapat timbul begitu saja tergantung dari sudut pandang orang yang menikmatinya. Tapi mengingat tujuan diluncurkannya buku Tiga Manula ini adalah untuk bersenang-senang atau menertawai diri sendiri, jadi ya dinikmati saja apa adanya.

Saat melalui beberapa rute perjalanan, selain Tips ada juga diberikan beberapa jenis kuliner yang kurang lebih bisa diartikan sebagai hal yang patut dicoba dari ke-khas-an dari daerah tersebut, bisa juga ‘iklan sponsor’ yang dipesan. Hehehe… jadi ya tergantung dari sudut pandang tadi. Katakanlah Nasi Jamblang Cirebon, Kupat Glabed ‘Ibu Inah’ Brebes, Rawon Kalkulator atau Nasi Gandul kota Pati.

Tiga Manula 3

Uniknya, ada juga ke-khas-an lain yang coba ditunjukkan dalam cerita seperti Batik Mega Mendung Cirebon, Ikan Dewa objek wisata Cibulan Jawa Barat, 67 Toilet Bersih Tegal, Batik Tulis Pekalongan, hingga Kakek Misterius Alas Roban. Semua diramu dengan ciri kartun Mas Benny yang menggelitik.

Cerita Tiga Manula jalan-jalan ke Pantura yang diterbitkan pertama pada November 2012 ini secara tidak sengaja (atau memang sengaja), dilahirkan di era kekinian dimana salah satu ‘petunjuk’ penting yang dapat dilihat secara jelas adalah sosok kendaraan yang digunakan, Honda CRV edisi terakhir, lengkap dengan wajah baru dan buritan belakang yang bengkok. Meskipun bisa jadi beberapa ide dan penuangannya sempat dibuat jauh sebelumnya. Jadi tergolong anyar-lah untuk dinikmati.

Great Teacher Onizuka – eBook asyik 21 tahun keatas

6

Category : tentang TeKnoLoGi

Akhirnya kesampean juga niatnya nih… membaca tuntas komik Djadoel GTO alias Great Teacher Onizuka hingga buku ke-25…
Berawal dari rasa penasaran akan koleksi komik GTO milik sepupu yang kalo gag salah hanya ‘berakhir’ hingga seri 20/21, kelihatannya memiliki masalah makin pelik dan sulit dipahami gegara bolongnya seri di akhir belasan. Dan setelah mengubek-ubek seisi dunia maya dan tidak menemukan edisi berBahasa Nasional, maka seperti biasanya, Torrents menjadi akhir dari semua solusi… Done, ketemu… meski dalam bahasa English.
Dan kalian tahu ? usaha donlot gak kurang dari 1 GB pun memang worth it dengan hasilnya. Semua edisi lengkap, meski untuk bisa menggabungkannya agar enak dibaca, perlu sedikit trick khusus. Apalagi media bacanya juga gag kalah asyik, tablet Android. Hehehe…
Sudah menjadi kebiasaan kalo semua koleksi eBook dari yang Djadoel, berbau pornoaksi hingga teknologi terkini dikumpulkan dan dimaintenance secara berkala di perangkat TabletPC Android agar tidak menuh-menuhin bungkusnya *eh sdcardnya, sehingga sesaat sebelum tidur ataupun sedang menunggu dan senggang, inilah yang jadi pelampiasan membunuh waktu. Jikapun sudah merasa gag dibutuhkan lagi, tinggal pindah ke laptop, burning ke dvd cakram, lalu hapus permanen. Gampang kan ?
Balik ke GTO, saya yakin bagi penggemar komik manga Jepang, sudah tau apa isinya, kisah maupun ciri khasnya.
Sebagai salah satu komik remaja menuju dewasa, hal paling sering yang ditemui adalah cewe seksi, berbalut rok mini, cd bahkan di edisi English beberapa malah gag dibumbui gambar kotak-kotak atau dikaburkan. Hehehe… jadi makin nikmat saat membacanya. Sudah gitu dihiasi pula dengan perkelahian dan pertempuran yang berdarah-darah, bahasa slengean yang… yah, gag usah dilanjutin deh… pokoknya kalian musti baca.
Kisahnya ya seputar dunia sekolahan yang dalam hal ini penuh intrik khas anak sekolah, yang sedikit sadis mengingat misinya adalah menghancurkan para guru dan integritas mereka dengan segala cara, tujuannya agar mereka di’hajar’ sehingga memiliki alasan untuk melaporkan tindakan pada orang tua ataupun komite.
Onizuka, tepatnya Eikichi Onizuka adalah bintang utamanya, seorang pemuda khas anak jalanan, dalam arti sebenarnya, memutuskan untuk menjadi seorang guru, hanya karena tergiur dengan hadirnya cewe cewe bening dan seksi sebagai murid sekolahan level smp-sma. Harapannya tentu sederhana, bisa dekat bahkan ‘mendapatkan’ salah satunya untuk sarapan pagi. *uhuk yah, begitulah maksudnya :p
Uniknya, meski Onizuka adalah produk jalanan, namun berkat integritasnya yang jujur *uhuk mampu mendatangkan hasil yang baik, walaupun secara proses harus melalui hal-hal sulit, kocak hingga menyakitkan. Well, termasuk kepentingan para murid yang ingin mengerjai guru mereka.
Membaca satu persatu seri buku GTO, sedikit banyak bakalan mengingatkan kita pada masa-masa sekolah SMP hingga SMA yang memang memiliki sejuta kenangan, baik kenakalan remaja, kisah cinta hingga guyonan sesama teman. Dan sayapun yakin, banyak diantara kalian yang kangen masa-masa itu bahkan jikapun bisa, ingin rasanya memutar balik waktu untuk bisa mengulanginya dengan cara yang sedikit lebih santai…
Satu-satunya hal yang paling sulit dalam menikmati 25 seri edisi komik GTO adalah persoalan Bahasa English yang tidak sepenuhnya dapat saya pahami, mengingat secara gambar rupanya jauh lebih menarik untuk ditelaah oleh mata, ketimbang membaca dan mengerti kalimat yang diucapkan. Barangkali kelak kalopun ada waktu, kalimat ini bakalan saya pahami sambil mengingat kembali alur ceritanya.
Untuk sementara, biarlah demikian adanya…
Bagi kalian yang berminat mengcopy-nya, bawakan saja Flash Disk yang tersisa barang 1,5 GB ke saya. Jangan lupa dari segi usia minimal ya 21 tahun lah, biar gag terpengaruh akan edannya moral yang dituangkan dalam gambar. *uhuk

Hunting Manga lanjutin Ngomik

3

Category : tentang TeKnoLoGi

Oke, judul diatas mungkin agak aneh… Tapi yah, ini kan blog pribadi, boleh dong kalo sekali-kali bikin judul posting yang suka-suka ? Hehehe…

Tadinya saya pikir pengalaman berburu eBook barisan komik yang masuk kategori Manga (bukan mangga) bakalan mentok sampe situ. Kangen baca edisinya Adachi Mitsuru yang bercerita di perenang Rough, atau hantu jail Q and A, juga seri baseball H2, Touch juga Cross Game… Beh, kalo sudah ngomongin ini, rasanya cuma bisa senyum-senyum aja deh di pojokan… Oh,iya, gag lupa ada si hiu Jinbe dan Adventure Boys. Sedang komik manga edisi lain yang pengen dihunting ya lumayan banyak juga… Tipe Shoot,,Harlem Beat, Chinmi hingga the Pitcher masih masuk hitungan buat diburu. *ini usia boleh tua, tapi kegemaran masih anak-anak… Yah, ngimbangi hobi baca PlayBoy dan PentHouse kan masih boleh yah ? Hehehe…

Meski begitu, dulu pernah juga nemu komiknya Dragon Ball dan Kungfu Kenji edisi lengkap, bahasa indonesia pula… Plus komiknya Tiger Wong dan Tapak Sakti. Wiiihh… Kalo sudah ngomongin semua ini, gag ada matinya dah… Trus ? Solusinya gimana ? He… Gag sengaja sebetulnya sih… Awalnya nemu halaman anymanga dan manga-nya Indonesia, yang mutlak bisa dibaca secara online, satu persatu gitu. Tapi ya repot kan kalo dilakoni ? Maka elmu kanuragan jadul pun dicoba lagi.

Adalah aplikasi Http web site copier, aplikasi berbasis windows pc/notebook, punya kemampuan buat mengcopy seluruh content sebuah halaman web (termasuk blog), sehingga dapat disimpan dan dibaca dimanapun secara offline tanpa koneksi internet. Akan tetapi ini bisa dilakukan, selama link atau tautan maupun content gambar dll masih berada di satu tempat (server), gag nuju-nuju ke tempat lain macam ziddu, mediafire dll.

Dulu sempat sukses dicobain donlot halaman blog pribadi www.pandebaik.com juga miliknya Dokter Basuki Pramana, yang cerita-ceritanya kerap bikin kangen.

So… Aksi pun dimulai. Hasilnya lumayan. Dari beberapa hasil perburuan, komik yang sempat saya sebutkan diatas tadi rata-rata bisa didapat dengan sukses, meski beberapa gambar diantaranya hadir dalam bentuk yang tidak dapat dilihat, namun keseluruhan sangat memuaskan. Bahkan saat mengunduh halaman web dari yang versi Indonesia, ditemukan juga dua tiga edisi dari belasan judul komik manga yang ada di halaman tersebut, ikutan tersedot sebagai pelengkap. Makanya bisa nemu komik macam Shincan, Kariage Kun, Conan atau City Hunter. Surprise kan ?

Komik

Namun, saat semua file tersebut dipindah ke layar tablet, efeknya cukup terasa. Fitur Gallery yang biasanya mulus dibuka, kini cukup mengenaskan, karena membutuhkan waktu lama untuk merefresh data hingga selesai. Bagaimana tidak ? Terpantau jumlah file gambar yang tercopy ke handhelds sekitar 10ribuan file untuk belasan judul komik. Itu sebabnya, untuk sementara, tablet tersebut dengan terpaksa dinonaktifkan dulu penggunaan aplikasi yang berkaitan dengan Gallery seperti Instagram, Photo Editor atau email, lantaran lambatnya proses pembukaan file tadi.

Asyik juga sebenarnya. Saya jadi suka ngabisin waktu menunggu dan jelang tidur buat baca-baca komik lama, serta menuliskan pengalamannya sebagai bahan blog *uhuk *sambil menyelam minum kopi… Dan tak lupa menyulap tabletpc jadi sedikit lebih berguna.

Dan berhubung koleksinya kini sudah makin banyak, ada yang mau mengcopynya kedalam bentuk disc ?

Merapal eBook, Membunuh Waktu

3

Category : tentang TeKnoLoGi

Tempo lalu saya sempat menulis beberapa posting terkait eBook, terkait apa bagaimananya, pula cara mencarinya. Entah itu lewat jalur resmi ataukah ilegal atau Torrents. Kini, jauh setelahnya ingin rasanya membagi lagi koleksi eBook yang kini sedang dan senang saya baca, di perangkat tabletpc sebagai pembunuh waktu.

eBook pertama, ada miliknya detik. Tepatnya, Mingguan Detik. Sesuai namanya, edisi ini biasanya turun setiap sabtu siang/sore, yang dirilis hanya dalam format digital saja, mengingat edisi cetak kini tampaknya kurang diminati. Kabarnya sih, perilisan Mingguan Detik ini, terinspirasi dari koran cetak versinya Harry Potter, yang meski hadir dalam versi print Out, namun gambar yang hadir dapat bergerak layaknya video, sehingga jika boleh disebutkan, Mingguan Detik ini sudah layaknya terbitan Multimedia, dimana pembacanya dapat menikmati sajian berita jauh lebih baik dan lebih berwarna dari edisi cetak/digital biasa. Terkait edisi mingguan ini, selalu saya ikuti dengan mengunduhnya langsung lewat tablet, atau lewat pc yang kemudian dibaca lewat tablet. Kontennya cukup beragam, mirip-mirip Intisari lah…

Masih dari Detik, eBook berikutnya yang wajib ada setiap minggunya adalah Male Magazine. Sesuai namanya, majalah digital ini lebih difokuskan pada kebutuhan Pria, dimana isinya mirip majalah Popular, namun dibalut lebih modern dan trendy. Lengkap dengan fashion, hobby dan dunia pria metropolitan. Saya pribadi sih biasanya mengikuti liputan khususnya yang memang menurun kan topik yang tidak biasa, panas, syur dan tentu menghebohkan. Dilengkapi dengan edisi wawancara khusus dengan beberapa wanita idaman pria dibalut pose seksi yang saya yakin, walaupun belum sevulgar PentHouse ataupun seEksotik PlayBoy, setidaknya bisa bikin mata para anggota FPI mendelik serta mampu menuntut si Tim Redaksi untuk menutup edisi mendatang. Hehehe…

eBook PanDe Baik

eBook ketiga, adalah komik. Ya, komik… Kalian tidak salah baca tentu saja. Untuk source-nya ada beragam, salah satu yang saya favoritkan adalah Zona Djadoel yang siap menghadiahkan pengunjungnya dengan barisan komik tempo doeloe sesuai namanya, dari Tintin, Trigan, Storm, Arad Maya, Agen Polisi 212, Steven Sterk, Deni Manusia Ikan, Pak Janggut, Boy Action dan masih banyak lagi. Tentu ini bakalan pas banget bagi kalian yang seumuran saya dimana dibesarkan pada jaman komik-komik tersebut membumi.

Masih dari masa Djadoel, eBook berikutnya adalah Novel. Ya, Novel. Saya dapatkan beberapa diantaranya dari halaman pupuyaya dimana tersedia berbagai novel jaman doeloe, seperti miliknya NH Dini, Mira W, Gola Gong hingga Hilman yang beken itu. Saya pribadi sangat tertarik dengan serial Balada si Roy yang kerap hadir tiap minggu di halaman tengah majalah Hai saat remaja, hingga hadirnya Cafe Blue milik Hilman, Bapaknya Lupus. :p

Terakhir adalah eBook… Android tentu saja.

Untuk yang satu ini, source-nya cukup banyak, namun rata-rata berasal dari Torrents, gudangnya majalah luar negeri. Yup, eBook yang terakhir ini bergenre majalah, bukan buku. Jadi isinya tentu saja soal liputan terkini, review, tips hingga pendalaman materi yang jujur saja banyak yang tidak saya dapatkan dari majalah lokal. So… Sangat menarik tentu. Dan itu semua menjadi modal utama bagi saya untuk belajar dan tau lebih jauh soal Android dan teknologi yang dibenamkan padanya, terutama dalam berbagi pengetahuan di Twitter maupun blog. Tidak ada salahnya bukan ?

Semua eBook tadi kerap dirapal sebagai barisan mantra yang seandainya bisa diingat ya syukur, terlupakan pun tak masalah, toh semua masih tersimpan rapi didalam memory Galaxy Tab, teman setia pembunuh waktu. Ada yang mau ikutan ?

Menikmati MONSTER by URASAWA Naoki

14

Category : tentang KHayaLan

…memerlukan waktu luang dan pikiran yang fokus untuk bisa menikmati sebuah karya dari seorang Urasawa Naoki, MONSTER. Aku tidak bohong…

Sebuah libur yang panjang dimana aku tak lagi memiliki sebuah kewajiban untuk menguras pikiran demi sebuah Tesis, kuputuskan untuk mencoba menikmati satu karya komik Jepang yang isinya sangat berat bagi nalar. Monster adalah salah satu komik yang bisa dikatakan kutinggalkan begitu saja agar bisa tetap terkonsentrasi pada pilihanku setahun lalu… dan kini sudah kuselesaikan semuanya.

Cerita tentang seorang dokter ahli bedah otak dari Jepang bernama dr.Tenma yang berada dalam posisi bimbang apakah mengikuti saran seorang Direktur Rumah Sakit di Jerman tempat ia bekerja untuk memilih-milih pasien yang akan disembuhkan ataukah tetap bersikap idealis berusaha menyelamatkan nyawa sesuai keyakinannya tanpa memandang siapa dan apa latar belakangnya. Ironis memang, karena apa yang tergambar pada awal cerita adalah gambaran kenyataan yang ada.

Ketika seorang bocah laki-laki tertembak dibagian kepalanya masuk Rumah sakit terlebih dahulu dan telah siap untuk dioperasi, datang pasien lain seorang walikota yang berada dalam kondisi yang membutuhkan penanganan sama. Mana yang harus dipilih ? mendahulukan si bocah yang dayang lebih dulu ? ataukah meninggalkan sang bocah dan beralih ke si walikota yang notabene, seandainya dapat disembuhkan, bukan hanya ketenaran saja yang didapat oleh pihak Rumah Sakit namun bisa lebih dari itu.

Tenma yang sebelumnya berhadapan pada sebuah pengalaman sama pun akhirnya bimbang, diharuskan memilih yang mana harus diprioritaskan. Sayang, keputusan yang diambilnya ternyata malah membuat ia terpuruk dalam satu kondisi dimana ia tak lagi memiliki subuah harapan akan masa depan cerah. Tenma menolak perintah sang Direktur untuk mendahulukan sang Walikota.

Dalam keputusasaan akan akibat yang didapat dari sebuah pengambilan keputusan, Tenma berkeluhkesah dihadapan sang bocah yang berhasil ia selamatkan yang kemudian membawa Tenma pada sebuah situasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Monster adalah sebuah karya komik yang jujur saja sangat kental dengan nuansa kegelapan pikiran, kekhawatiran akan sebuah masa depan dan keinginan untuk segera lepas dari semua beban, rindu akan keindahan hidup. Saya sendiri pun mengalaminya. Entah karena terlalu menghayati isi cerita…

Namun yang paling saya herankan usai menyantap habis 18 seri komik ini adalah ide dan pemikiran yang dituangkan dalam sebuah alur cerita yang panjang dan menegangkan sungguh menakjubkan. Cerita yang dikaitkan dengan eksperimen untuk melestarikan satu ras unggul dan membunuh mereka yang dianggap bukan orang-orang pilihan mengingatkan saya pada sejarah bangsa Jerman, dimana saat kepemimpinan Hitler, hal itu dilakukan untuk mewujudkan kualitas manusia yang lebih baik.

Menikmati Monster buah karya Urasawa Naoki ini tak ubahnya seperti menikmati karya fenomenal Harry Potter tiga seri terakhir yang juga pebuh dengan nuansa kegelapan dan putus asa. Satu karya yang patut saya rekomendasikan untuk wajib Anda baca. Namun sekali lagi seperti yang telah saya ungkapkan diawal tulisan, luangkan waktu secara khusus dan fokuskan pikiran Anda dan bersiaplah untuk melihat Pemandangan Terakhir…