Ini Tahapan Program Diet Tanpa Nasi

Category : tentang Opini

Bagi orang Indonesia, menurunkan berat badan tanpa nasi adalah salah satu cara yang bisa menjadi pertimbangan dan patut untuk dicoba. Hal ini dikarenakan, bagi orang Indonesia nasi merupakan makanan pokok setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat. Bahkan bagi masyarakat Indonesia ada istilah “belum makan” kalau belum mengkonsumsi nasi, meskipun sebenarnya pada hari itu telah mengkonsumsi makanan yang juga mengandung karbohidrat. Kebiasaan masyarakat Indonesia sudah terbentuk sejak dulu sehingga sulit untuk dihilangkan. Padahal orang Indonesia bisa mendapatkan asupan karbohidrat dari sumber makanan lainnya yang lebih sehat dan rendah kalori.

Karbohidrat adalah nutrisi yang sangat diperlukan oleh tubuh manusia. Kandungan kalori yang terdapat didalamnya diperlukan oleh tubuh untuk diubah menjadi energi sehingga akan membantu manusia untuk bisa melakukan aktivitasnya sehari-hari. Meskipun demikian, asupan karbohidrat tetaplah harus sesuai dengan aktivitas yang dikerjakan, karena kalau asupan karbohidrat yang masuk terlalu banyak dan tidak seimbang dengan aktivitas anda, kalori yang terkadung didalamnya akan mengendap dan menjadi lemak dan akhirnya berat badanpun menjadi bertambah.

Gambar diambil dari halaman www.dietcepatalami.com

Di Indonesia, nasi merupakan pokok pertama untuk memenuhi kebutuhan akan karbohidrat. Setiap hari masyarakat Indonesia mengkonsumsi nasi, bahkan sampai 3 kali dalam sehari. Belum lagi makanan-makanan lainnya yang juga mengandung karbohidrat serta kalori. Oleh sebab itu jika anda ingin menjalankan program diet untuk mendapatkan tubuh yang ideal salah satu cara yang paling efektif adalah mengurangi atau bahkan diet tanpa nasi. Hal ini perlu dicoba, karena nasi mengandung karbohidrat yang cukup tinggi apalagi jika mengkonsumsinya terlalu banyak. Anda bisa mencoba makanan lain untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat yang lebih sehat dan tentunya rendah kalori, karena di Indonesia ada banyak makanan yang bisa menjadi pilihan untuk membantu anda saat melakukan cara diet yang baik. Sebenarnya apabila konsumsi nasi tidak berlebihan tidak akan membuat kegemukan, namun terkadang orang Indonesia suka lupa, apalagi saat makannya ditemani oleh lauk pauk yang nikmat dan juga lezat yang menyebabkan konsumsi nasipun menjadi banyak.

Meluruskan HOAX Info BPJS Kesehatan

Category : tentang Opini

Sekitar pukul 2 siang tadi, salah seorang kawan sesama alumni sekolahan dulu, berinisiatif meneruskan sebuah broadcast yang isinya cukup tendensius menurut pandangan saya. Info tentang BPJS Kesehatan.
Isinya sebagai berikut :

*Info BPJS*

Hati hati yg ga punya BPJS karna thun dpn 2018 akan sulit ut kepengurusan bahkan ga bisa ngurus berkas… Simak…..
INFO UNTUK PESERTA BPJS MANDIRI

1. Sistem pembayaran BPJS mandiri mulai September 2016 1 no virtual account berlaku untuk 1 keluarga (sesuai jumlah anggota keluarga yang tertera pada KK.
? Bila ada anggota keluarga menunggak, maka keluarga akan terkena dampaknya.
?? Peserta diwajibkan membayar BPJS, karena tagihan BPJS dan denda tetap berjalan mesti kartu BPJS tidak aktif. Jadi jangan kaget kalau cek tagihan bisa sampai jutaan. Digunakan atau tidak BPJS, tetap wajib bayar.
??? Jumlah bulan tertunggak maksimal 12 (dua belas) bulan.
???? Besar denda paling tinggi Rp.30.000.000,- (tiga puluh juta rupiah).
????? Tagihan BPJS akan berhenti jika meninggal dengan SYARAT melaporkan ke BPJS dan melunasi tunggakan jika ada.

2. Perpres RI Nomor 111 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan, pasal 6 ayat 1 dinyatakan bahwa, kepesertaan Jaminan Kesehatan BERSIFAT WAJIB dan mencakup seluruh penduduk Indonesia sehingga TIDAK ADA proses penghentian keanggotaan JKN. Peserta HANYA BISA berhenti ketika data kematian atau meninggalnya peserta BPJS dilaporan dan masuk data base BPJS.

3. Sanksi bagi yang tidak memiliki BPJS tidak akan mendapat layanan publik. Lihat Peraturan Presiden no 86 tahun 2013 pasal 9. Layanan publik di maksud meliputi
? SIM
?? STNK
??? Sertifikat tanah
???? paspor
????? IMB
Sanksi akan berlaku 1 JANUARI 2018

Bantulah share postingan ini agar teman dan keluarga kita mengetahui. Terima kasih.

* * *

Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan isi secara mendetail, tapi ketika membaca sepintas yang agak menyudutkan BPJS Kesehatan, terlepas dari pro kontra yang ada, saya pun nyeletuk iseng, mengingatkan yang bersangkutan akan sangat mencurigakan apabila info semacam ini dibagikan oleh seorang agen asuransi ternama. Hehehe…
Sambil berbagi cerita tentang perbedaan pemanfaatan asuransi BPJS dengan Non BPJS seperti yang pernah saya share berseri terdahulu disini.

Makin penasaran ketika menelaah satu persatu kalimatnya yang menurut saya pribadi agak aneh juga, kok bisa ya pemerintah bisa berupaya mempersulit masyarakat begini ?
Tapi kalo kalian mau browsing dikit-dikit, mungkin bisa nemu apa dan mengapanya. Misalkan saja dari halaman pasienbpjs.com disini.

Rupanya alasan pemberlakuan 1 virtual akun untuk 1 keluarga (boleh yang mana saja), berangkat dari kesulitan membayar berkali kali bagi mereka yang membayar per satu bulan masing-masing anggota keluarganya.
Keluhan yang manusiawi dan sempat pula terpikirkan oleh saya di awal dulu. Bakalan ribet urusannya kalo bayar satu-satu mah. Inginnya sih bayar sekali untuk semua. dan rupanya sudah terjawab oleh BPJS.
Maksudnya untuk membayar iuran bagi Bapak dan Ibu yang menjadi satu dalam Kartu Keluarga saya, sebelumnya musti dua kali input di ATM, dengan menggunakan 2 nomor virtual akun yang berbeda. Sempat kena komplain orang yang antre di belakang karena saya lama banget berada di dalam bilik ATM. Persoalannya adalah sistem pembayaran kerap gagal saat proses pengiriman. Sudah gitu, karena gak hafal semua nomor va nya, musti liatin layar ponsel bergantian dengan layar atm.
Sempat membathin gitu pas diteriaki orang.
Tapi karena ngeles bahwa Ibu saya gawat darurat di RS karena saya nunggak setahun lebih BPJS, rangorang jadi maklum gitu dan ndak marah lagi.
Aduh maaf yah… tapi sejatinya Ibu pas itu mau kontrol mata gegara katarak, dan gak bisa diambil penanganan karena saya belum bayar.
Belum bayarnya ini terjadi karena saya salah kira, kalau iuran BPJS untuk orang tua bisa potong gaji langsung. Eh ternyata yang bisa potong gaji hanya tanggungan anak dan istri. He…

Balik ke soal Virtual Akun untuk 1 Keluarga, andai saja nunggak 1 bulan, maka saya harus bayar sebesar 80ribu dikalikan 2. Tanpa denda infonya.
Eh iya, soal ndak kena denda akibat terlambat bayar bisa dibaca disini.
Akan tetapi kalo ndak bayar setahun, tinggal dikalikan 12. Sangat wajar juga kalimat ‘Jadi jangan kaget kalau cek tagihan bisa sampai jutaan’
kalo seumpama keluarga yang ikutan BPJS ini bukan berasal dari kalangan pns, dengan tambahan Istri dan tiga anak seperti saya misalkan. Ada 6 orang yang ditanggung sebulannya dengan nilai 480 ribu, BPJS Mandiri kelas I.
Lumayan ya ?
Tapi jika disandingkan dengan iuran Asuransi Non BPJS, angka segitu hanya cukup untuk bayar 1 anggota keluarga saja. He…
dan Angka Jutaan bakalan bisa kalian temukan ketika nunggak BPJSnya hingga hitungan 3 bulan dan seterusnya untuk 6 anggota tertanggung.
Begitu kan ya ?
Coba tadi disandingkan dengan pengeluaran Non BPJS per satu bulannya terlepas dari pertanggungan dan lainnya.

Lanjut kalimat selanjutnya yang ‘Digunakan atau tidak BPJS, tetap wajib bayar.’
Ya Benar sekali. Akan amat sangat tidak berguna apabila kalian dalam tidak dalam kondisi Sakit. Tapi bukankah semua Asuransi termasuk Non BPJS juga begitu ?
Cuma memang ada dalam jangka waktu tertentu sih ya, sementara BPJS kan seumur hidup ?
Yang kalau mau dihitung, pembayaran BPJS sebesar 80ribu sebulan setara dengan seperempat pembayaran Asuransi Non BPJS kategori minimal yang 350ribu. Ini perbandingan kasar loh ya. Dengan nilai pembayaran Asuransi Non BPJS selama 10 Tahun setara pengeluaran Asuransi BPJS selama 40 Tahun. Edan kan ? Itu kalo nilai iuran Asuransi Non BPJS kalian hanya sebesar 350ribu sebulannya. Kalo lebih besar yang tinggal dikalikan.
Ini terlepas dari jenis pertanggungannya masing-masing loh ya.

Soal besaran ‘Denda Paling Tinggi sebesar 30 juta’ sebenarnya ditujukan pada kalian yang menunggak dari angka 30 juta hingga lebih. Sedangkan besaran Denda tertentu kalo ndak salah diluar keterlambatan tadi hanya sebesar 2,5% saja.
Jangan jangan berprasangka bahwa terlambat bayar sebulan juga dikenakan 30 juta. Wealah…

Lalu soal sub kelima pada poin 1, soal ‘Tagihan BPJS akan berhenti jika meninggal dengan SYARAT melaporkan ke BPJS dan melunasi tunggakan jika ada.’
Kalo untuk Asuransi lainnya kira-kira gimana ya ?
Apakah Tagihan akan otomatis berhenti jika nasabah meninggal (selama masa wajib bayar iuran) tanpa ada laporan ke Agen Asuransi ?
Ada yang bisa menjawabnya ?

Lanjut untuk poin yang ke-2, masih melanjutkan soal penghentian keanggotaan JKN akan bisa dilakukan apabila yang bersangkutan mengalami kematian dan dilaporkan.
Kira-kira nih ya, kalo untuk Asuransi lain, tanpa melepas Agen untuk melakukan penagihan door to door, misalkan seperti saya yang Asuransi Non BPJSnya didebet dari Rekening, seumpama tidak ada keluarga yang melaporkan masuk ke data Asuransi tersebut, masih melanjutkan keanggotaan atau otomatis terhenti ?
Mampukah kalian melakukan itu ?
Hmmm… Katrok kali pemikirannya.

Lanjut Poin ke-3, soal Sanksi tidak mendapat layanan publik apabila tidak ikut kepesertaan hingga 1 Januari 2018, mencakup sim dan lainnya berdasarkan peraturan presiden nomor 86 tahun 2013.
Widiiih… ngeri ya ? Mosok Pemerintah sejahat itu ?
Tapi kalau boleh dicermati, sebenarnya yang dimaksud peraturan terkait adalah Peraturan Pemerintah (bukan Presiden), nomor yang sama, tentang Tata Cara Pengenaan Sanksi Administratif kepada Pemberi Kerja selain dst.
Ingat kata kunci ‘Pemberi Kerja’. Jadi yang dimaksudkan disini adalah sekelasnya perusahaan baik kelompok maupun perorangan. Yang apabila mereka tidak memberikan Jaminan Kesehatan pada pekerjanya, sanksi dimaksud akan dikenakan sesuai aturan dan itupun akan diberlakukan sosialisasi hingga 1 Januari 2019.
Tahun 2019 loh ya, bukan Tahun 2018 yang sudah masuk dalam hitungan bulanan.
Yo wes, makin Katrok lah pemikiran kalian kalo mempercayai poin ke-3 ini.
Sudah salah comot, ngarang pula.

Terakhir ada kalimat penutup ‘Bantulah share postingan ini agar teman dan keluarga kita mengetahui. Terima kasih’.
Mulia sekali…

Tapi Katrok banget kalo kalian sampai ikut serta meneruskan informasi broadcast diatas tanpa pernah meluangkan sedikit kuota internet buat baca-baca sumber terpercaya dan akurat yang ada di dunia maya untuk sekedar pembanding, mencari tahu apa benar info yang saya terima ini ?

Berkaca pada status FaceBook komandan kami, Anton Muhajir terkait informasi simpang siur status Gunung Agung 23 September lalu yang bisa dibaca disini, ya ada benarnya juga.
Bahwa sebelum membagikan informasi yang didapat dari orang lain, bahkan dari Mertua sekalipun, cek ricek dulu ke media yang terpercaya. Ndak susah kok, apalagi menghabiskan banyak kuota untuk itu. Meh kuotanya bakalan lebih banyak habis buat share info yang hoax ke banyak group dan halaman sosial media. Eheh…

Jadi balik ke soal ‘meluruskan Info Hoax BPJS Kesehatan, rasanya sudah selesai ya, debat monolognya.
Kalian yang punya pengalaman pahit dengan BPJS ataupun manis sebagaimana halnya yang pernah kami alami, bisa share disini kok. Karena nanti postingan ini bakalan saya share ke rekan-rekan lain juga biar ndak ketularan menyebarkan info Hoax macam begini.

Termasuk info soal status Gunung Agung loh ya…

Eh tapinya jangan lupa untuk melakukan koreksi apabila ada yang salah dari opini saya diatas ya…

Terima Kasih sebelumnya. Tabik…

Belajar menggunakan Aplikasi BPJS Kesehatan

Category : tentang iLMu tamBahan

Ternyata hanya butuh waktu luang saja kok kalo mau belajar pake Aplikasi sederhana kek gini…

Ha… quote diatas pas banged untuk jadi awal postingan kali ini.
Gegaranya dari awal instalasi sampe pagi tadi, rasanya kok saya gagal terus untuk bisa login/register di aplikasi BPJS Kesehatan yang bisa ditemukan dengan mudahnya di Play Store perangkat Android. Baru sambil duduk antre di ruang tunggu gerai BPJS Denpasar, keinginan ini tercapai.
Dengan Sukses.

Tadinya saya kesulitan untuk mencari tau status pembayaran BPJS keluarga, baik Bapak, Ibu dan Bibi yang belajar dari kesalahan masa lalu, sempat mandeg pelayanannya gegara akun Bapak dan Ibu, belum dibayarkan hingga setahun lebih.
Pembayaran pertama dan terakhir kalo nda salah pas bikin akun mereka bersamaan dengan kelahiran Gek Ara, Februari 2015 lalu.
Maka itu, ya bingung juga pas tempo hari nyobain bayar lewat ATM Mandiri, berkali-kali gagal setelah mesin menyatakan saya ‘tidak memiliki ID/NPWP yang terdaftar pada Virtual Account’. Waduh…

Baru menyadari ada kesalahan input data di ATM setelah dijelaskan lebih jauh oleh petugas di gerai BPJS tadi, bahwasanya menghapus dua digit awal pada kartu yaitu angka ’00’nya, baru proses bisa berhasil berjalan. Mantap…
Sedang untuk akun Bapak dan Ibu ya tetap gagal. Entah kenapa…

Tapi begitu mencoba aplikasi BPJS Kesehatan ini, baru tau kalo akun Bapak dan Ibu masih menyisakan saldo sekitar 600ribuan yang nda masuk tagihan atau denda.
Apa ini penyebabnya ya ?

Bisa jadi pembayaran iuran BPJS Kesehatan Individu musti menunggu sisa saldo habis dulu atau masuk pada tenggat waktu minimal baru bisa dilanjutkan ?
Mungkin kalian yang lebih paham bisa menjawab nantinya.

Balik ke aplikasi, informatif sekali keknya ya ?
Dari Data Peserta yang ada dalam KK kita, Faskes 1 nya dimana, sampe informasi sisa tunggakan pembayarannya pun ada.
Cuma untuk riwayat pemeriksaannya saja yang belum optimal.

Bagi kalian yang ingin mencoba aplikasi ini lebih jauh, cukup menyiapkan Kartu Keluarga saja sebagai contekan, demi melihat nomor NIK/KTP dan data lain yang dibutuhkan.
Sederhana kok prosesnya. Cukup punya waktu luang saja ?

3 Jenis Alergi Pada Anak yang Paling Sering Dijumpai

1

Category : tentang Buah Hati

Membahas mengenai alergi pada anak-anak ternyata jenis alergi ini tidak sedikit dan biasanya mudah dijumpai pada bayi dan anak-anak. Alergi muncul karena penyebab atau allergen yang berbeda-beda pada setiap anak, selain anak alergi juga bisa menyerang orang dewasa. Proses alergi terjadi karena kekebalan tubuh melakukan perlawanan berlebihan pada zat tidak berbahaya yang masuk ke tubuh. Bisa berasal dari zat makanan, minuman, debu, dan lain sebagainya yang memberikan reaksi berlebih pada tubuh.

Kenali Macam Alergi Pada Anak

Alergi yang terjadi pada anak-anak ternyata memiliki beberapa jenis, perbedaan ini terjadi karena allergen atau penyebabnya juga berlainan. Adapun jenis-jenis dari alergi anak antara lain:

1. Alergi terhadap debu,
Alergi terhadap debu memang cukup sering dijumpai pada anak-anak pasalnya di dalam debu terkandung bakteri dan virus. Apabila mendapati anak alergi terhadap debu ini maka usahakan rajin membersihkan peralatan rumah tangga. Supaya debu di dalam rumah lebih sedikit dan bisa pula dengan menggunakan AC untuk menyaring udara.

2. Alergi akibat pergantian musim,
Perubahan musim juga kerap membuat anak-anak mengalami alergi dan terjadi akibat perubahan suhu di lingkungan sekitar. Inilah alasan Kita sering mendengar ada orang yang alergi dingin atau alergi pada suhu panas. Gejala umumnya adalah munculnya bintik merah dan rasa gatal pada kulit. Apabila mendapati buah hati dengan alergi jenis ini maka pastikan menjaga suhu ruangan stabil. Misal menyediakan pendingin sekaligus penghangat ruangan supaya suhu di dalam rumah cocok dengan karakter kulit anak.

3. Alergi yang disebabkan oleh makanan,
Alergi yang disebabkan oleh makanan merupakan jenis alergi yang mayoritas dialami oleh anak-anak bahkan sejak bayi. Alergi makanan kerap dipicu oleh bahan makanan tinggi protein, sebut saja seperti kacang, susu, telur, dan makanan lainnya sehingga harus ada kendalikan alergi dari orang tua. Usahakan mencari tahu allergen anak supaya bisa mencegah terjadinya reaksi alergi berulang. Apabila buah hati alergi terhadap susu sapi dari susu formula yang di konsumsinya. Maka segera saja beralih ke susu SGM Soya atau SGM LLM yang rendah laktosa.

Harus Semangat Lagi

Category : tentang DiRi SenDiri

Setelah sekian hari menggalau hati dan mengeluhkan kondisi kesehatan, sepertinya berpengaruh keras pada produktifitas kinerja pribadi. Dan itu tentu saja gak baik untuk lingkungan kerja juga keluarga.

Kadar Gula Darah bisa jadi penyebab, bisa juga menjadi akibatnya. Entah mana yang benar, tapi kelihatannya keduanya benar.
Maka itu, tiga tulisan Intermezzo bisa hadir di halaman ini. Jadi mohon maaf apabila kurang berkenan.

Belakangan, kondisi kesehatan tampaknya sudah sedikit lebih baik dari sekian hari sebelumnya. Setidaknya, yang namanya mual dan muntah, sudah ndak lagi dirasakan. Demikian halnya luka di kaki.
Meski belum sembuh benar, tapi sudah ndak terlalu nyeri seperti tempo hari.
Kadar gula darahpun seminggu ini sudah turun jadi dibawah 200 saat puasa. Masih tinggi memang, tapi setidaknya sudah lebih baik. Dulu dulu ndak pernah punya kadar gula darah segini.

Jadi ya harus bisa mulai semangat lagi kedepannya.
Karena jika tidak, bisa jadi jumlah pengunjung yang mampir ke halaman ini, bakalan menurun drastis, selaras dan searah dengan penurunan berat badan akhir-akhir ini.
Doakan saya ya Kawan…

Mencoba (lagi) Bersahabat dengan Diabetes

Category : tentang DiRi SenDiri

Bertemu lagi Bapak dan Ibu, kawan semua.
Perkenalkan nama saya PanDe, usia 38 tahun. Saat ini berstatus sebagai seorang suami dari seorang istri dan tiga putri kecil.
Bekerja sebagai pelayan masyarakat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Badung, tepatnya pada Dinas Cipta Karya yang berfokus pada peningkatan infrastruktur jalan lingkungan permukiman, dari tahun 2013 lalu.
Terhitung menjadi penderita Diabetes sejak tahun 2012 hingga kini.

Awal tahu terdahulu, saya cukup paham bahwa yang namanya Diabetes merupakan salah satu penyakit yang cukup serius, lantaran tak pernah menjadi penyebab utama kematian bagi kalangan penderitanya, namun menjadi pintu masuk bagi penyebab utama kematian lainnya seperti jantung, kolesterol bahkan Stroke.
Itu sebabnya saya tergolong cukup serius menyikapi dengan mengubah pola makan, termasuk mencoba mengkonsumsi Tomat setiap hari, berolahraga setiap pagi dan memapar mata hari sebelum memulai aktifitas di kantor.
Namun yang namanya upaya, apalagi dalam hal ini pelakunya adalah saya, sama saja dengan upaya lainnya, ya hanya hangat hangat tahi ayam. Hangatnya hanya di awal, setelah itu ya dicueki. Meski secara pemahaman, tetap sadar bahwa Saya adalah seorang penderita Diabetes.

Bagi seorang penderita Diabetes, tentu pada periode sebelum bulan Mei tahun 2016 ini, saya meyakini bahwa ‘tidak ada makanan pantangan yang harus saya hindari selama dikonsumsi dalam jumlah terbatas. Termasuk diantaranya Sate Kambing favorit saya dan Kopi Tora Bika Cappucino yang saya konsumsi sejak pertama kali bekerja pasca tamat kuliah dahulu.
dan kini, sayapun dihadapkan pada Fakta Pahit bahwa semua keyakinan itu ‘SALAH BESAR‘. Dengan Huruf Kapital bahkan tanda Bold bilamana perlu.

Fakta Pahit itu adalah kemunculan benjolan pada kaki kanan saya, tepatnya area tulang kering, yang praktis mulai membuat khawatir dan membuat galau termasuk diantaranya melahirkan tiga tulisan Intermezzo kemarin, yang terpantau mulai terasa menyakitkan per selasa minggu lalu.
dan pada akhirnya pecah bernanah berdarah pada hari Senin kemarin pasca diperiksakan ke dokter, hari Jumat sebelumnya.

Satu hal yang paling menakutkan pikiran saya saat itu adalah, luka yang semakin membesar dan pada akhirnya Ancaman Amputasi pada kaki penderita.
Apa Kata Dunia jika itu sampai terjadi ?

….

….

….

Alhasil, saya pun berupaya Mencoba (lagi) untuk Bersahabat dengan Diabetes. Tidak bersekongkol, dan bukan lari dari kenyataan.

Untuk itu, kelihatannya memang hanya dibutuhkan satu hal saja dari seorang penderita Diabetes.

Kesadaran.

Ya, kesadaran.
Kesadaran untuk mengakui pada diri sendiri bahwa Saya adalah seorang penderita Diabetes yang mulai saat ini Harus mulai dengan sadar, berupaya mengurangi Jenis makanan yang dikonsumsi serta Jumlah dan Jadwal. Ndak boleh lagi ngerapu macam sebelumnya.
dan itu… sangatlah berat Jenderal.

Bersyukur, Istri adalah orang pertama yang mendukung Upaya saya kali ini.
Ia secara telaten mau berpayah payah menyemangati saya, merawat luka yang ada di kaki, hingga menimbang beras merah yang boleh dikonsumsi serta berbelanja jenis makanan yang bisa saya nikmati semingguan ini.
Seorang istri yang baik, bukan ?

Ya, kini saya pun mulai mencoba mengkonsumsi Beras Merah. Jenis yang dahulu kerap direkomendasi oleh banyak orang, kawan hingga kerabat, yang jika boleh saya katakan, nyaris tak digubris.
Pun ditakar sesuai saran dari ahli gizi titipan istri, pula mengubah buah Apel menjadi snack tetap, ditambah tomat sisa yang tak termakan di kulkas sejauh ini.

Berhasil ?
Entah.
Saya sendiri belum tahu pasti.

Namun berdasarkan pemantauan kadar Gula Darah, per Jumat pagi kemarin, dengan test acak usai mandi, didapat angka 178 mg/dl yang merupakan hasil puasa seminggu ditambah konsumsi obat racikan dokter BPJS, dan luka di kaki pun sudah menjadi sedikit lebih mending dari sebelumnya.

Terima Kasih ya Tuhan. Ini adalah hasil Test Gula Darah Terbaik saya dalam kurun waktu empat tahun terakhir.

dan berharap, seminggu kedepannya malah bisa lebih baik lagi.

Janji deh Tuhan…
Jika saya bisa sembuh dari luka ini, saya akan imbangi pula dengan berolahraga kapan sempatnya, sebagaimana anjuran dokter lewat jejaring YouTube yang saya unduh kemarin.

Semoga, kelak Diabetes yang saya derita ini, bukan lagi menjadi ‘the Silent Killer’ seperti slogan yang dibangga-banggakannya selama ini, namun menjadi hiasan dinding saat melihat Anak anak saya berhasil meraih S2 nya di kemudian hari.
Doakan saya ya Kawan…

Mencoba Lakoni Pola Hidup Baru

2

Category : tentang DiRi SenDiri

Awalnya sih gag terlalu merasakan perubahan yang terjadi pada berat badan, lantaran memang niat untuk menurunkannya sudah ada sejak awal tahun tempo hari. Namun lantaran rata-rata teman yang dijumpai menanyakan hal yang sama, mau gag mau akhirnya mengambil langkah juga untuk periksa lab terkait Kadar Gula Darah. Sekedar memastikan dan juga ingin mengetahuinya sejak awal.

Hasilnya, jumat lalu 26 Mei 2012 Kadar Gula Darah dinyatakan tinggi dengan poin 394. Sangat mengejutkan tentu, mengingat tidak ada tanda-tanda yang terlihat secara fisik kecuali penurunan berat badan sebesar 12 KG selama enam bulan lamanya. Beberapa gejala lain yang saya pantau dari dunia maya malahan gag saya rasakan sejak dulu. Meski dua hari terakhir sebelum melakukan Testing, sempat juga menguji kebenaran tersebut, terkait kencing yang dirubung semut jika memang benar kadar Gula Darah tergolong Tinggi.

Berita ini tentu mengejutkan bagi Istri dan juga Ibu yang sudah menduga lebih awal mengingat ada faktor keturunan dari Bapak yang sudah mengalaminya terlebih dulu. Maka jadilah sejak hari itu saya mencoba menjalani pola hidup baru dengan melakukan diet rendah karbohidrat dan kalori.

Lantaran sudah sekitaran enam bulan saya menjalani pola diet mengurangi volume Nasi dengan tujuan menurunkan berat badan, maka oleh dokter Gizi pasca pemeriksaan tersebut, sayapun tidak diminta untuk mengubah pola makan sehari-hari. Yang diubah hanyalah jenis makanan yang diasup selama ini. Disarankan demikian karena secara berat badan masih dianggap kelebihan sekitar 15 Kg lagi, maka sambil berusaha menurunkan kadar Gula Darah, sayapun disarankan untuk menurunkan pula berat badan hingga mencapai hasil ideal.

Selain oleh-oleh obat Amaril 2 mg yang saya dapat dari pemeriksaan dokter Wira Gotra yang berpraktek di Klinik jalan Suli Denpasar, sayapun mendapatkan oleh-oleh lain lagi dari dokter Gizi setempat berupa daftar makanan yang diajurkan dan sedapat mungkin dikurangi. Memang secara nasehat yang disampaikan oleh dokter, disarankan agar tidak terlalu terbebani dengan pola makan yang baru nantinya, namun secara kesadaran diri sendiri sih ingin juga menjalankannya sebisa mungkin. Jika memang mampu, mengapa tidak?

Maka selama dua hari saya berusaha memahami maksud dari daftar makan yang diberikan oleh dokter Gizi tersebut, minimal untuk mengetahui jenis mana saja yang harus dihindari dan jenis mana saja yang boleh bebas dikonsumsi. Ternyata ada beberapa makanan yang merupakan favorit saya selama menjalankan diet masuk pula dalam daftar disarankan seperti mentimun dan tomat. Sedang roti, yang selama ini saya gemari rupanya masuk dalam kategori pengganti Nasi. Artinya kalo nasi sudah dimakan dalam porsi yang cukup, ya gag boleh nambah lagi dengan roti. Ealah…

Setelah menjalani empat hari perubahan jenis makanan, sayapun kembali melakukan Test terkait Kadar Gula Darah melalui Laboratorium Prodia jalan Diponegoro, lantaran pengujian tempo hari dilakukan dengan menggunakan alat tester kecil yang kabarnya sudah dapat dibeli secara bebas di Apotik terdekat.

Hasilnya cukup menggembirakan, bahwa setelah melakukan Puasa selama 12 jam lamanya, kadar Gula Darah saya turun hingga 128 dan pasca beraktifitas dan makan malam, naik hingga 145. Hasil yang memuaskan kata dokter. Itu artinya usaha yang saya lakukan selama empat hari lamanya sudah benar dari pola dan jenis makanannya. Tinggal mempertahankannya selama bulan-bulan kedepan dengan cara yang kurang lebih sama. Menjaga asupan karbohidrat dan juga kalori kedalam tubuh serta rajin berolahraga.

Ngomong-ngomong soal olahraga nih, sejak pemeriksaan saya jadi menyadari bahwa kesehatan itu penting. Hingga kemudian memutuskan untuk melewati 30 menit hingga satu jam lamanya di pagi hari untuk bergerak, berjalan kaki menuju lapangan Puputan Kota Denpasar atau sekedar berjemur sesaat setelah sampai di kantor. Tips ini makin suka saya jalani pasca membaca beberapa catatan kliping tentang Diabetes saat menanti proses testing di Prodia beberapa waktu lalu.

Terakhir, hasrat untuk melakukan Pemeriksaan Kadar Gula Darah sendiri secara berkalapun akhirnya tercapai juga. Dengan harga 495ribu untuk sebuah alat Accu Check, kini aktifitas tersebut dapat saya lakukan kapanpun diinginkan. Selain dapat dimanfaatkan secara pribadi, dapat pula digunakan untuk memeriksakan Bapak, Ibu dan Istri yang memang pula harus ikut waspada terhadap the Silent Killer ini.

Jikapun masih boleh memilih, inginnya sih tetap sehat tanpa ada kemungkinan terjangkit Diabetes lagi. Tapi yah lantaran sudah terlanjur menjalani pola hidup yang salah mau gag mau ya tetap berusaha. Jadi mohon doanya yah, biar saya bisa menjaga kesehatan, menjaga keluarga dan terus menulis. :p

drg.Nyoman Sudarnata, Utamakan Kualitas dan Pelayanan

17

Category : tentang Opini

Ada dua hal yang saya yakini sejak jauh sebelumnya terkait perawatan kesehatan Gigi. Mahal atau membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dan lantaran Mahalnya itu, Kesehatan Gigi lantas bukan menjadi Prioritas Utama untuk ditangani oleh ahlinya.

Pada tahun 2004, lantaran sakit yang tak tertahankan, saya sempat memeriksakan gigi kepada seorang dokter muda yang praktek di dekat rumah kami. Waktu itu saya masih berstatus CPNSD sehingga yang namanya Gaji pokok masih berkisar dibawah satu juta rupiah. Dari proses perawatan yang dilakukan, terlihat sekali perbedaan perlakuan Konsumen oleh Dokter Gigi Muda, dibanding para Senior mereka. Sangat diperhatikan dan penuh keramahan. Sayangnya semua ketakjuban saya pada sang Dokter mendadak hilang pada saat pembayaran dikenai biaya sebesar 300 ribu rupiah. Hal ini berlaku pula saat pemeriksaan kedua dan ketiga. Masih bersyukur saya membawa uang lebih saat itu, namun tidak di pertemuan terakhir. Dengan besaran biaya Tambal Gigi hingga 900 ribu rupiah, ini pertama kalinya saya merasa Bodoh, karena bisa-bisanya berhutang kepada Dokter lantaran uang di dompet tak mencukupi. Besarnya tarif periksa ini, diakui pula oleh seorang sepupu yang lebih memilih mencabut gigi di Dokter Gigi ternama dekat rumah. Sejak saat itu, saya memutuskan untuk tak lagi ke Dokter Gigi.

Praktis, dibandingkan kesehatan tubuh lainnya, setiap kali merasakan sakit gigi lebih kerap saya abaikan ketimbang dirawat ke Dokter Gigi. Satu-satunya obat atau solusi paling cepat dan murah untuk menghilangkan rasa sakitnya adalah puyer Bintang Toedjoe yang dijual limaratusan rupiah per sachetnya. Bahkan untuk pemeriksaan secara berkala seperti yang dianjurkan oleh para Dokter Gigi di iklan masyarakat baik melalui media cetak maupun televisi pun tak pernah saya ikuti. Hingga akhirnya satu waktu gigi belakang terpantau sudah goyah dan musti dicabut.

Ada dua Dokter Gigi yang disarankan oleh orang tua saat itu. drg. Ibu Dayu yang praktek di sebelah barat banjar Kayumas Kelod dan drg.Rudita yang praktek di jalan Thamrin, sebelah barat Puri Pemecutan. Lantaran Ibu Dayu dikabarkan sudah ‘melinggih’ oleh putranya yang kebetulan masih rekan sekantor, maka drg. Rudita-lah yang menjadi satu-satunya pilihan. Dan bersyukur, ternyata memang saya tak salah pilih. Selain biaya perawatan yang terjangkau oleh kantong, proses pencabutan gigi berlangsung cepat dan tanpa masalah. Sakit gigi pasca pencabutan yang kabarnya bisa berlangsung hingga dua tiga hari, malah tak saya rasakan lantaran anjuran untuk mengkompresnya dengan es batu saya laksanakan sebaik-baiknya.

Sayangnya, saat merasakan sakit gigi berikutnya, saya tak bersua drg. Rudita lantaran Beliau dikabarkan cuti dalam waktu yang cukup lama. Satu-satunya pilihan yang ditawarkan saat itu adalah menyerahkannya kepada seorang Dokter Gigi Muda yang sepengetahuan saya memang praktek secara bergantian di tempat yang sama. Entah memang ada petunjuk dari-Nya, sehari sebelum memutuskan periksa, saya sempat membaca satu pengalaman anggota milis sebuah grup dunia maya, yang dihadapkan pada pilihan sama dengan yang saya alami. Inti cerita, tidak ada salahnya kita memberikan kesempatan kepada seorang Dokter Muda yang berpraktek di tempat yang sama saat dokter senior langganan sedang berhalangan praktek. Karena bagaimana mungkin dokter muda itu akan menjadi berpengalaman dan berkualitas jika kita tak pernah memberikannya kesempatan untuk membuktikannya ? dan yakinlah bahwa seorang Dokter Muda pasti memiliki keinginan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pasiennya.

Dokter Gigi I Nyoman Sudarnata. Selama tiga tahun merasakan pelayanan kesehatan Gigi, hingga saat ini saya pribadi tak jua mengenal sosoknya  lebih jauh. Yang saya tahu hanyalah Beliau seorang Ayah yang baik dari dua anak dan satu istri, memiliki ketertarikan pada sejarah dan spiritual, serta berbekal visi pelayanan yang terbaik bagi pasien.

Sebagai seorang Dokter Muda, Dokter Komang demikian panggilan akrabnya, memenuhi banyak persyaratan yang kerap diinginkan oleh para orang tua usia muda. Keramahan dalam Pelayanan, tak pelit untuk berbagi informasi ataupun tips menjaga kesehatan (dalam hal ini terkait Gigi) dan utamanya, mampu memahami kemampuan atau daya jangkau pasiennya dalam membayar jasa. Untuk yang terakhir ini, rupanya tidak berbeda dengan gaya Dokter Gigi Rudita, senior Beliau yang menyasar golongan pasien Menengah ke Bawah.

Lantaran faktor ‘Terjangkau inilah, tidak heran ada kalangan yang kemudian mempertanyakan soal kualitas Pelayanan yang diberikan, karena memang selama ini dunia kita  selalu mengenal ‘ada harga pasti ada kualitas’. Tapi kalo boleh saya memberi pertimbangan, tidak selalu loh harga atau biaya yang mahal akan memberikan kepuasan secara kualitas bagi penggunanya. Dalam hal pelayanan jasa kesehatan pun saya lihat banyak contohnya diluaran. Dan untuk Dokter Komang, tingkat kunjungan pasien barangkali masih bisa dijadikan sebagai salah satu tolok ukur jika yang dipertanyakan itu adalah soal Kualitas Pelayanan.

Dengan alasan demi menjaga kesehatan pribadi dan juga hubungan emosional dengan keluarga kecil baik Istri dan kedua anaknya, Dokter Komang membatasi diri untuk melakukan Praktek selama tiga hari dalam satu minggu. Selasa dan Kamis dari pukul 10 pagi hingga 6 sore, sedangkan khusus hari Sabtu Beliau melayani pasien hingga jam 9 malam.

Apabila pasien ingin mengetahui apa dan bagaimana penyebab sakit yang dialaminya pun, Dokter Komang siap memberikan penjelasan dalam bentuk gambar sehingga dapat lebih mudah dipahami oleh awam seperti halnya saya. Demikian pula dengan cara mencegah dan penanganan darurat yang barangkali bisa menunda rasa sakit yang datang.

Dari segi peralatan yang digunakan Dokter Komang memang tak semapan Dokter muda yang dahulu pernah saya kunjungi. Namun secara garis besar dan kelengkapannya masih sama. Hanya saja bila dibandingkan dengan ruang praktek dokter lain seperti Dokter kandungan Wardiana misalnya, saya merasa bahwa suasana ruang praktek dokter Komang kurang dilengkapi dengan alunan Musik yang barangkali bisa memberikan psikologi kepada pasien, bisa sedikit Rileks saat menjalani perawatan. Hehehe… Just my Imagination saja.