Undangan Dharmawacana untuk Semeton Generasi Muda Warga Pande

12

Category : tentang iLMu tamBahan

…dalam rangka rencana DharmaWacana tentang Keris di Museum Neka 15 Agustus bagi Generasi Muda Warga Pande, tulisan pada blog www.pandebaik.com untuk sementara waktu akan didedikasikan terkait Keris dan Museum Neka… hanya untuk tambahan pengetahuan bagi semeton Pande…

* * *

Keris Dalam Kebudayaan oleh Neka Art Museum

2

Category : tentang iLMu tamBahan

Tulisan berikut saya ambil dari sebuah booklet/brosur  milik Neka Art Museum, saat kunjungan Yowana Paramartha hari Minggu 18 Juli 2010 lalu.

* * *

Buatan manusia atau berasal dari alam supranatural, keris tradisional Indonesia diyakini sebagai manifestasi fisik dari kekuatan-kekuatan alam maya. Ditempa dengan api, namun merupakan simbol dari air, sebuah keris merupakan penyatuan kekuatan kosmis yang sating melengkapi.

Ciri khas dari kebanyakan keris adalah jumlah lekuknya yang selalu ganjil, namun ada juga keris yang lurus tanpa lekukan. Keris adalah seperti naga air yang subur, yang diasosiasikan dengan saluran irigasi, sungai, mata air, sumur, air terjun dan pelangi. Beberapa keris mempunyai ukiran kepala naga yang diukir pada gandiknya, dengan bagian yang berlekuk sebagai badan dan ekornya. Keris dengan banyak lekukan digambarkan sebagai naga yang sedang bergerak, agresif dan hidup, sedangkan keris yang lurus dianggap naga yang sedang istirahat, dengan kekuatannya yang terpendam, tapi siap untuk beraksi.

Perbedaan jenis batu asah, cairan asam dari buah jeruk dan cairan racun arsenic membuat besi hitam keris kontras dengan bagian yang berwarna cerah dengan lapisan nikel keperakan dan kedua bagian ini secara bersama-sama membentuk pamor dari sebuah keris. Pamor adalah pola atau motif pada keris. Motif-motif ini mempunyai nama-nama tertentu yang menunjukkan tuah dari keris tersebut. Misalnya udan mas bagus untuk kemakmuran sedangkan beras wutah membawa kesejahteraan.

Dengan mengukur sebilah keris dari dasar ke ujungnya dengan menggunakan empat jari bergantian, sisa panjang keris menunjukkan kegunaan keris itu. Sisa tiga jari membantu membuat keputusan, sisa dua jari bagus untuk tujuan spiritual, sisa satu setengah jari menghindarkan kita dari bencana dan ilmu hitam dan sisa satu jari bagus untuk pertanian.

Keris adalah harta keluarga yang penting dan dianggap sebagai warisan leluhur, karena keris pusaka sering berperan penting dalam bangkit dan jatuhnya sebuah keluarga serta keberuntungan dalam sejarah. Keris pusaka mempunyai nama yang menggambarkan kekuatannya. Ki Sudamala adalah pengusir kekuatan jahat, dan Ki Baju Rante secara spiritual melindungi orang yang memakainya.

Di Bali, keris pusaka dan benda-benda tajam lainnya diupacarai tiap 210 hari pada hari Tumpek Landep (landep berarti tajam). Pusaka dan benda-benda tajam itu dibersihkan, ditempatkan di merajan atau di Pura, disampingnya dinyalakan dupa, diperciki air suci, serta diberi sesaji dengan bunga merah untuk menghormati Brahma (Dewa Api). Upacara ini diikuti dengan doa-doa untuk mempertajam fikiran kepada Sang Hyang Pasupati, dewa yang memberikan kekuatan kepada benda-benda sakral dan semoga terhindar dari mara bahaya.

Walaupun sarung keris kadang terbuat dari kayu yang langka atau gading serta dihiasi dengan logam mulia (batu mulia), namun bagian terpenting dari sebuah keris adalah bilahnya. Kekuatan yang keluar dari keris itu dikendalikan oleh sarung yang sekaligus sebagai pelindungnya.

Pande sama dengan kata pandai besi dalam bahasa Indonesia. Pande merupakan seorang yang ahli tempa logam. Kata Mpu digunakan untuk orang yang berpengetahuan sangat tinggi dan mahir untuk membuat keris, yang biasanya disebut dengan mpu keris. Kemudian keberadaan keris itu sendiri sejak 25 November 2005 mendapat pengakuan dari UNESCO-PBB sebagai “karya agung warisan kemanusiaan, milik semua bangsa di dunia”.

Pada September 2006, di Pura Penataran Pande Peliatan, pura kawitan warga pande di kecamatan Ubud mengadakan upacara Mamungkah Ngenteg Linggih lan Mupuk Pedagingan. Pada upacara ini, para warga pande Pura Penataran Pande Peliatan membuat keris Bali di perapen (besalen) yang dilaksanakan di Jero Mangku Pande Made Nesa pada bulan Juli 2006. Para laki-laki secara bergantian menempa besi yang merah menyala. Pada upacara tersebut Pande Wayan Suteja Neka (sebagai koordinator dan tetua warga pande) tertarik dengan keris dan mulai mempelajari segala sesuatunya tentang keris.

Tetapi segalanya tidak berhenti sampai di sana, karena tidak lama kemudian Neka mulai mengoleksi keris. Dia berkunjung pada para mpu keris kenamaan, kolektor keris, mengadiri pameran keris serta menghubungi paguyuban perkerisan. Setelah berita ini menyebar, orang-orang dari Bali, Jawa dan Madura mulai berdatangan membawa keris baru maupun lama kepadanya untuk dipelajari atau kalau mungkin untuk dijadikan koleksi. Dia juga berburu hulu keris (danganan) dan sarung keris serta orang-orang yang membuatnya. Selain itu Suteja Neka merupakan salah seorang penggerak yang berhubugan dengan seni perkerisan di Bali.

Pameran spesialnya yang diberi judul “Keris in Culture: Traditional Daggers in the Arts (Keris dalam budaya: Senjata tradisional dalam Seni) memamerkan koleksi pribadi berupa keris-keris Indonesia. Pada 22 Juli 2007, pengembangan koleksi Neka Art Museum berupa keris dibuka dengan resmi oleh Ir. Jero Wacik, SE (Menteri Kebudayaan dan Pariwisata R.I), ditandai dengan penandatanganan Prasasti. Sebagai tamu kehor­matan yang turut menandatangani prasasti Prof.Dr. Tommy Koh (Chairman, National Heritage Board, Ambassador-At-Large, Singapore). Dalam acara ini, sambutan diberikan oleh penasehat Yayasan Dharma Seni Neka Art Museum Jusuf Wanandi, SH (Vice Chairman, Board of Trustees Centre for Strategic and International Studies Foundation, Jakarta). Pameran ini juga dalam rangka memperingati Jubelium Perak Neka Art Museum, yang didirikan oleh Suteja Neka dan secara resmi diakui oleh pemerintah R.I pada 1982.

Kurator koleksi keris Neka Art Museum KRAT. Sukoyo Hadi Nagoro (mpu dan pakar keris). Asistennya M. Bakrin, SH., mesti menetap di Bali untuk memandu tamu-tamu penting yang ingin mengetahui lebih mendetail tentang informasi keberadaan keris koleksi Neka Art Museum.

Keris koleksi Neka Art Museum pada peresmian pembukaannya sebanyak 272 keris, termasuk 18 keris pusaka, 63 bilah keris kuno dan keris-keris lainnya karya mpu masa kini yang berprestasi (tangguh kamardikan).

Informasi lebih jauh dapat langsung menuju :

NEKA ART MUSEUM

JI. Raya Sanggingan Ubud, Gianyar 80571

Bali-INDONESIA

Telp: (62) (361) 975 074

Fax: (62) (361) 975 074.

Email: [email protected]
Website: www.museumneka.com

Catatan Perjalanan menuju Museum ‘Keris’ Neka Ubud

3

Category : tentang PLeSiran

Hari masih pagi ketika kami melintasi ruas jalan Jagapati Tinggas kecamatan Abiansemal dalam perjalanan menuju Museum Neka Ubud, minggu 18 Juli 2010 kemarin. Beberapa semeton Yowana yang sempat dihubungi ada yang sudah mencapai daerah Sayan, ada juga yang masih berada di Darmasabha.

Kali ini kami berangkat bertiga dalam satu kendaraan. Saya, Bapak dan Mahendra Sila, adik sepupu saya. Bapak saya ajak lantaran Beliau begitu dekat dengan Uwe Sutedja Neka, pemilik Museum Neka dan juga karena saya janjikan Beliau untuk diajak mampir di Geriya Peliatan. Adik sepupu saya ajak ikut serta mumpung kesibukannya di sekolah sudah mulai senggang. Dua semeton lain, Pande Donny dan Dek Jun Pande membatalkan keikutsertaan mereka lantaran kesibukan kerja yang tidak bisa dihindarkan.

Sempat pangling ketika kendaraan masuk wilayah Pengosekan dan Peliatan Ubud. Lama sudah saya tak pernah lagi melewati daerah ini. Banyak yang berubah, termasuk angkul-angkul pintu masuk Geriya Peliatan yang kini tampak lebih gagah. Bersyukur saya menggunakan Pura Penataran Pande Ubud sebagai patokan, yang kebetulan berada tepat didepan Geriya Peliatan, jadi lebih mudah ditemukan.

Kami meluncur beriringan sekitar 7 kendaraan menuju Museum Neka Campuhan tepat pukul sepuluh pagi. Lokasinya tidak begitu jauh dari Geriya Peliatan, sekitar 4,4 km dekat jalan menuju Museum Blanco. Rombongan diterima langsung oleh Uwe Sutedja Neka yang rupanya telah menanti kami sejak pukul 9 pagi. Untuk kegiatan ini Beliau secara khusus mengundang Prof. Dr. Pande Kt. Tirtayasa, Msc seorang guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang kebetulan sempat menulis tentang Prapen dan juga tentang (gagang) Keris yang ditinjau dari segi ilmu Ergonomi.

Setelah dipersilahkan untuk menikmati snack, sedikit perkenalan dan silaturahmi temu kangen, kami diajak turun kelantai bawah untuk mendengarkan pengantar dari Uwe Sutedja Neka tentang keris dan sejarahnya. Di sela pemaparannya, Beliau bahkan sempat mendemonstrasikan tentang ‘keseimbangan’ yang dimiliki oleh setiap keris yang dibuat oleh seorang Mpu Keris (sebutan bagi mereka yang membuat Keris). Dalam kesempatan ini pula Yande Putrawan, Dancuk (komanDan puCuk ; meminjam istilah dari Anton Muhajir, Bapak Blogger Bali) Yowana Paramartha Kodya Denpasar menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami serta memohon jadwal terkait kunjungan resmi bulan Agustus ditambah kesediaan Uwe Sutedja Neka kembali berbagi pengetahuan kepada Generasi Muda Pande nanti.

Sebagai ungkapan rasa bangga Sutedja Neka pada kami generasi muda Warga Pande,  Beliau mengajak untuk melihat dan bercerita tentang Keris secara lebih nyata di ruang Galeri. Disini kami bisa lebih bebas untuk bertanya tentang apapun yang berkaitan tentang Keris dimana (untungnya) Beliau menjawab sekaligus menunjukkan beberapa contoh nyata sesuai dengan apa yang kami tanyakan.

Sebelum pamit, kami dibekali satu buku sejarah tentang Keris yang barangkali nanti akan saya rangkum dalam sebuah tulisan bersambung agar bisa dibaca dan dinikmati oleh Semeton Pande maupun masyarakat secara luas.

Jujur saja. Jika dahulu saya sempat menulis tentang “Kadang Saya Malu Mengaku ‘nak PanDe”, kini setelah semua yang saya alami selama tiga bulan terakhir membuat saya dengan percaya diri mengatakan bahwa “Saya Bangga menjadi ‘nak PanDe”. Semoga apa yang kami jalani kedepannya dapat memberikan kebanggaan bagi semua pihak. Salam dari PuSat KoTa DenPasar.