Umur Kita ada pada-NYA

Category : tentang KeseHaRian

Cerita Istriku kali ini, sangat menyedihkan. Hanya karena mencret dan muntah, seorang anak dari Cleaning Service di kantornya meninggal dunia. Padahal ia baru kelas satu SMP. Dehidrasi pikirku.

Musibah yang menimpa saudaraku Dego di Gulingan Tengah pun tak kalah membuat dadaku sesak. Istrinya meninggal awal Januari lalu. Diagnosanya adalah Tumor Kelenjar Getah Bening, dimana masa ia dirawat hanya satu setengah bulan saja di rumah sakit. Padahal ia baru saja menjadi Ibu. Putra Pertama. Belum setahun mereka menikah.

Salah seorang staf di kantor pun memiliki cerita serupa. Kematian suaminya hanya karena panas badan yang tinggi, datang silih berganti. Tidak lama, namun membuatku menarik nafas.

Membaca berita di media terkait kecelakaan Air Asia beberapa waktu lalu, mengingatkanku pada gadis yang kini ditinggal mati ayah ibunya, juga kakak dan adiknya. Meskipun nilai asuransi yang kelak ia terima sangat besar, namun jika pilihan itu masih ada, siapapun akan mengambil pilihan yang sama.

Aku hanya bisa terdiam dan memejamkan mata. Sambil berupaya menempatkan diri pada posisi itu. Bagaimana jika aku yang divonis Tuhan untuk menghadapi cobaan itu ? Apa yang harus dilakukan sejak kini ? Menyayangi mereka yang masih ada ?

Entahlah…

Umur Manusia memang ada di Tangan Tuhan, dan aku yakin satu saat nanti pasti kan datang. Entah apakah aku yang akan ditinggalkan, atau aku yang akan meninggalkan. Tapi jikapun boleh aku memohon pada-NYA, berikan aku kesempatan lebih panjang untuk bisa membahagiakan orang orang yang aku sayangi, juga yang menyayangi aku.

I MISS U MIRAH

5

Category : tentang Buah Hati

Sejak pemberlakuan Absensi Sidik Jari Januari lalu praktis waktu yang saya miliki untuk bisa bermain bersama MiRah GayatriDewi, putri kecil kami setiap harinya sangatlah terbatas. Dua hari libur dalam seminggu lantas dengan maksimal kami gunakan untuk menebus Lima Hari kerja yang telah berlalu. Itu baru untuk MiRah, belum yang lain.

Kadang kami merasa bahwa pemberlakuan Absensi Sidik Jari di PemKab Badung, tempat kami berdua bekerja terlalu ketat bahkan tidak adil. Apalagi bagi mereka yang benar-benar bekerja dibandingkan dengan mereka yang hanya menerapkan Pasal 73. Ngantor absen pagi pukul 7, lantas pulang kelayapan entah kemana, lalu absen sore pukul 3. Dan itu, sama sekali tidak ada teguran, hukuman, toleransi ataupun penghargaan.

Pagi, ketika kami bersiap berangkat kerja, ada perasaan bersalah yang saya rasakan pada MiRah, putri kecil kami. Pun pada kedua orang tua yang kami tinggalkan untuk mengajknya bermain seharian. Demikian pula saat kami pulang, hanya sempat beberapa jam untuk bisa bersamanya. Bersyukur bahwa MiRah masih bisa disayang oleh Keluarganya sendiri, lantas bagaimana ketika kedua kakek neneknya sudah tidak mampu lagi ?

Menatapnya saat tidur sungguh merupakan satu periode yang merindukan. Rindu akan tawa candanya yang nyaring dan renyah, Rindu akan kejahilannya yang tak kunjung padam, Rindu akan pijatan tangannya meng-Creambath kepala bak pegawai salon kelas wahid. Rindu pula pada masa kecilnya yang dahulu begitu saya puja.

Anak merupakan segalanya. Setidaknya itu yang kami berdua rasakan hingga saat ini. Saat kami berdua berangkat atau pulang kantor, hampir sepanjang perjalanan, jika topik kami bukan soal pekerjaan kantor, bisa dipastikan topik lainnya adalah MiRah dan kelakuannya. Dari kenakalannya yang membuat kami gemas, ocehannya yang kadang membuat kami kewalahan, hingga rencana-rencana kami kedepan untuk masa sekolahnya.

Moo, panggilan kesayangannya pada boneka Piglet yang saya belikan sepulang kuliah dahulu, kini hanya bisa tergeletak sendirian tanpa teman. Biasanya Moo selalu menemani hari-harinya kemanapun ia pergi. Namun sejak MiRah terjangkit batuk tanpa henti, Moo berusaha kami jauhkan dari MiRah. Mungkin, jika Moo bisa bicara, iapun akan merasakan hal yang sama.

MiRah, MiRah dan MiRah. Kecintaan kami pada buah hati yang lucu ini kerap menjadi buah bibir rekan kerja maupun teman yang dijumpai. Begitu bersua, mereka selalu menanyakan, ‘Bagaimana kabarnya MiRah ? kok gag diajak ?’. namanya begitu familiar mereka kenal, satu hal yang barangkali jarang terjadi. Mengingat nama putri kecil kami.

Entah mengapa hari ini saya begitu melankolis padanya. I MISS U MIRAH…