Umur Kita ada pada-NYA

Category : tentang KeseHaRian

Cerita Istriku kali ini, sangat menyedihkan. Hanya karena mencret dan muntah, seorang anak dari Cleaning Service di kantornya meninggal dunia. Padahal ia baru kelas satu SMP. Dehidrasi pikirku.

Musibah yang menimpa saudaraku Dego di Gulingan Tengah pun tak kalah membuat dadaku sesak. Istrinya meninggal awal Januari lalu. Diagnosanya adalah Tumor Kelenjar Getah Bening, dimana masa ia dirawat hanya satu setengah bulan saja di rumah sakit. Padahal ia baru saja menjadi Ibu. Putra Pertama. Belum setahun mereka menikah.

Salah seorang staf di kantor pun memiliki cerita serupa. Kematian suaminya hanya karena panas badan yang tinggi, datang silih berganti. Tidak lama, namun membuatku menarik nafas.

Membaca berita di media terkait kecelakaan Air Asia beberapa waktu lalu, mengingatkanku pada gadis yang kini ditinggal mati ayah ibunya, juga kakak dan adiknya. Meskipun nilai asuransi yang kelak ia terima sangat besar, namun jika pilihan itu masih ada, siapapun akan mengambil pilihan yang sama.

Aku hanya bisa terdiam dan memejamkan mata. Sambil berupaya menempatkan diri pada posisi itu. Bagaimana jika aku yang divonis Tuhan untuk menghadapi cobaan itu ? Apa yang harus dilakukan sejak kini ? Menyayangi mereka yang masih ada ?

Entahlah…

Umur Manusia memang ada di Tangan Tuhan, dan aku yakin satu saat nanti pasti kan datang. Entah apakah aku yang akan ditinggalkan, atau aku yang akan meninggalkan. Tapi jikapun boleh aku memohon pada-NYA, berikan aku kesempatan lebih panjang untuk bisa membahagiakan orang orang yang aku sayangi, juga yang menyayangi aku.

Senangnya bisa Kembali dari kematian

1

Category : tentang DiRi SenDiri

Kalo judul diatas diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, bisa jadi mirip dengan album cadas milik grup Thrash ‘Obituary-Back From The Dead’. Tapi posting ini bukanlah bercerita tentang album yang menjadi favorit saya sepanjang masa itu dari genre Thrash, tapi satu pengalaman saya yang dapat dipercaya atau tidak, sempat saya alami 13 November 2008 kemarin.

Berawal dari suhu tubuh 37,5 derajat Celcius, membuat badan saya agak meriang dan lemas 12 November, malam sebelumnya sepulang dari Melukad (pembersihan diri) di Griya Pohmanis (tempat saya berobat dahulu). Merembet pada mencret yang saya alami tengah malam berlangsung 4 kali hingga pagi tiba. Nafsu makanpun turun…

Pulang dari dokter umum dekat rumah, saya hanya mampu menelan bubur 5 suap sendok makan, plus sedikit telur mata sapi. Ini lantaran mencret saya kumat lagi. Waktu hingga siangpun saya lewati dengan tidur beristirahat tanpa sedikitpun tersadar untuk minum air (karena menurut dokter, saya harus banyak minum). Ohya, tekanan darah saat diperiksa tadi berkisar 110/berapa ya ? Lupa menanyakan.

Siang sekitar pukul 12.30, saya terbangun oleh teguran Ibu yang mengingatkan saya untuk makan siang. Terbangun dengan sedikit rasa pusing, saya bergegas ke kamar mandi untuk kencing terlebih dulu, masih dalam kondisi setengah sadar. Belum usai aktivitas kencing, saya merasakan pusing dan limbung, badan rasanya tak punya bobot dan memaksakan diri untuk keluar ke ruang keluarga dan duduk di kursi dekat jendela.

Masih sempat Ibu mengingatkan saya kembali untuk makan siang, namun saya tampik dengan alasan masih lemas. Mungkin ini karena kurangnya cairan yang ada dalam tubuh mengingat mencret yang saya alami. dan semua mendadak gelap….

……gelap….. (yang terdengar hanya suara, entah suara siapa)

……gelap….. (saya bisa mendengar ada suara Ibu yang menangis meminta saya agar menguatkan diri)

……gelap….. (saya tak dapat mendengar apapun lagi)

……gelap….. (saya kembali tersadar namun belum mampu membuka mata)

……gelap….. (saya mendengar ada banyak suara yang berteriak dan menangis)

……gelap….. (saya berusaha sekuat tenaga untuk membuka mata)

……….. ……….. (saya dapat melihat walau samar, keluarga mengelilingi saya dan meminta agar saya terus berusaha menguatkan diri)

……….. ……….. (saya dapat merasakan, ada orang yang memegang kedua kening saya, ada yang mengurut dada sampai panasnya terasa, ada yang memegang kedua tangan, ada juga yang memijat-mijat kaki)

……….. ……….. (saya berusaha berucap, mengeluarkan kata-kata agar tak membuat mereka khawatir)

……….. ……….. (saya berusaha berteriak agar mampu menguatkan diri sendiri)

……….. ……….. (saya tersadar…)

Lama baru saya bisa tersadar dari itu semua…

Saya diminta mengingat kembali, apa yang saya alami tadi. Saya diajak berbicara tentang apa yang saya rasakan. Saya benar-benar heran, karena walaupun tubuh saya lemas dan masih pusing, tapi saya merasa baik-baik saja.

Setelah saya bisa mengingat yang saya alami sebelumnya, Bapak Ibu pun langsung menghubungi Istri untuk memintanya segera pulang, lantaran kondisi saya yang sudah tersadar saat itu. Mereka juga langsung menghubungi kakak perempuan agar pulang sebentar untuk mengantarkan saya ke UGD RS Sanglah.

Masih dalam suasana hiruk pikuk kepanikan orang tua, ditambah keluarga yang masih memegangi saya dan berusaha membuat saya senyaman mungkin, saya mengungkapkan keinginan untuk berbaring ditempat tidur dan baru menyadari kalau saya telah mengeluarkan kotoran cair (feses) di dalam celana.

Saat di pembaringan, sambil menunggu Istri dan kakak perempuan datang, saya berusaha menanyakan apa yang terjadi, tapi jawaban bahwa tak ada apa-apa, semua baik-baik saja selalu terucap dari setiap keluarga disekitar saya. Hanya permintaan agar saya menguatkan diri dahulu yang terpenting.

Sesampainya di Triage UGD RS Sanglah, saya langsung saja ngeloyor ke salah satu bed pasien, tanpa bantuan keluarga yang saat itu masih panik menghubungi dokter jaga. Dengan pedenya, saya katakan bahwa saya tidak apa-apa. Cuma sedikit pusing dan lemas.

Saat tekanan darah diperiksa, menunjukkan angka 150/180, cukup tinggi kata perawat yang memeriksa. Asumsi dokter, bisa melonjak tinggi, barangkali lantaran ‘peristiwa’ yang saya alami sebelumnya. Sayapun di-infus dan dipantau perkembangannya dua jam sekali. Hasilnya membaik, tekanan darah pemeriksaan terakhir turun menjadi 140/100, sehingga malam itu juga saya diperbolehkan pulang.

Dirumah, saya memilih beristirahat dengan memakai celana panjang, kaos kaki dan sweater, hal yang biasa saya lakukan jika suhu tubuh meningkat. Tujuannya agar keringat lebih mudah dan cepat keluar saat tidur.

14 November, pagi hari. Saya terbangun dengan perasaan yang jauh lebih baik dari hari sebelumnya, nafsu makanpun kembali seperti biasa. Hanya saja, saya agak shock saat mendapatkan cerita lengkap dari Istri, perihal peristiwa yang saya alami siang kemarin. Istri mengetahuinya dari Ibu, malam setelah saya tidur, sambil menangis Beliau bercerita.

Saat saya duduk lemas dikursi dekat jendela itu, sempat terbujur kaku dengan bibir yang sudah membiru. Nafaspun sempat terhenti (entah karena denyut jantung lemah), dan tak menjawab saat Ibu bertanya. Ibu lalu menjerit minta tolong pada keluarga yang ada.

Itu berlangsung cukup lama…..

Pantas saja saat saya tersadar, Ibu dan keluarga lain menangis dan berteriak agar saya menguatkan diri…..

Sedikit terhenyak dan membuat saya merenung. Mungkin saat itu memang belum saatnya bagi saya untuk meninggalkan keluarga yang masih sangat membutuhkan kehadiran saya. Belum saatnya saya meninggalkan seorang Istri yang penuh cinta dan juga seorang putri kecil yang lucu. Belum saatnya saya berpisah, lantaran belum banyak hal yang baik dapat saya lakukan pada lingkungan sekitar. Seperti tembang rohani milik Ungu.

14 November sore, saya merasakan hal yang terbaik yang pernah ada…

Suhu tubuh kembali normal, begitupun gangguan pencernaan. dan yang paling menggoda tentu bercanda dengan Mirah Gayatridewi, putri kecilku nan lucu ditengah senyuman Istri, kedua orang tua dan keluarga tercinta.

‘Senangnya bisa Kembali dari Kematian..’

PS: Terima Kasih Tuhan, atas kesempatan yang Kau Berikan untuk Hamba-Mu yang hina ini, Terima Kasih masih bisa kumiliki umur untuk melihat kembali Istri dan anakku juga Kedua Orang Tuaku dengan penuh cinta kasih….