Makin Kurus, Makin …

Category : tentang DiRi SenDiri

Struktur tubuh rasanya tinggal Tulang belulangnya saja. Lekukan di pergelangan tangan makin terlihat dengan nyata. Kulit juga makin keriput, bahkan lebih terasa bintik-bintiknya. Bisa jadi ini karena Gula Darah yang makin tak terkontrol belakangan ini.

504 mg/dl.
Petugas lab saja sempat kaget dengan hasil test acak yang dilakukan jumat pagi kemarin. Selain pikiran, banyak hal yang kemudian menjadi kambing hitam. Pantas saja makin kesini terlihat makin kurus.

Banyak yang mengatakan begitu. Tapi tetap saja berkilah mengurangi asupan makan. Agar tak semua khawatir. Cukup pikiran ini saja yang melambai kemana mana mencari akal buat menurunkan gula darah. Kasihan anak-anak masih kecil jika kelak ditinggal mati gegara Diabetes ini.

Berat Badan sudah turun mencapai angka 92 Kg. Turun 10 Kg dalam satu periode terakhir. Tapi Dokter menyarankan ya masih harus turun lagi jadi sekitar 85 atau 80 Kg kalo bisa. Ambil berat badan ideal. Belum kebayang nantinya jadi sekurus apa.

Selain mengganti nasi dengan kentang, istri setia membuatkan rebusan daun singapore dan kini diimbangi dengan asupan obat plus biji klentang. Duh…

Telkom Denpasar Lama merespon Keluhan Telepon Rumah

Category : tentang Opini

Kepada Yth. 
Telkom Indonesia (untuk pemberitahuan karena saya tak menemukan alamat email Customer Service) – [email protected]
[email protected]
Redaksi Bali Post (untuk Surat Pembaca) – [email protected]
Redaksi Denpost (untuk Surat Pembaca) – [email protected]

TELKOM DENPASAR LAMA MERESPON KELUHAN TELEPON RUMAH

Om Swastyastu

Orang tua saya tercatat sebagai pelanggan lama layanan telepon rumah milik Telkom. Sudah 14 hari terakhir nomor rumah kami tidak bisa dihubungi (tidak ada dering telepon) dan tidak bisa menghubungi (tidak ada nada tunggu). Untuk antisipasi, saya sudah mencoba untuk membeli pesawat telepon baru namun kondisi yang ada tetap sama.

Saya memutuskan untuk menaikkan keluhan ini ke Surat Pembaca mengingat selama 14 hari ini, tidak ada tindaklanjut yang disampaikan secara langsung baik kunjungan teknisi atau konfirmasi ke nomor telepon yang dapat dihubungi. Saya sudah menghubungi 147 (dipotong pulsa pula) untuk yang ke-5 kalinya per 25 September 2015 pk. 7.14 dan mention berkali-kali serta DM ke akun twitter milik Telkom di @TelkomCare namun jawaban sama selalu saya dapatkan. ‘on progress’

Pada hari ke-3 di laporan yang ke-2, seseorang  yang mengaku Teknisi Telkom sempat menghubungi dengan menggunakan nomor telepon berawalan 0361 yang saat saya hubungi balik selalu bernada sibuk. Yang bersangkutan menanyakan alamat rumah, namun hingga kini belum tampak batang hidungnya. Berikut nomor laporan yang disampaikan Telkom setiap kali saya menyampaikan keluhan. 2015D.0915.11748

Mohon tanggapan secepatnya dari pihak Telkom.
Om Shanti Shanti Shanti Om

Hormat kami,
Pande Nyoman Artawibawa
Jalan Nangka No.31 Denpasar
Kontak 083 119 540 188 atau di akun Twitter @pandebaik atau email di [email protected]

******

By the way…
Keluhan diatas rupanya sudah ditanggapi dengan Baik oleh pihak Telkom pada hari Sabtu, 26 September 2015, tepatnya hari ke-15 sekitar pukul 4.30 pm.
Ini artinya bahwa ketika semua keluhan yang sudah disampaikan secara lisan ataupun non formal kepada pihak yang berwenang namun belum jua ada tanggapan hingga hitungan Minggu, tidak ada salahnya bagi kita sebagai Konsumen menyampaikan keluhan secara Resmi dan Tertulis untuk diPublikasi dan diTembuskan ke pihak yang memiliki kewenangan lebih tinggi, induk perusahaan atau media cetak. Ketimbang memaki-maki admin sosial media mereka. Demikian disampaikan.

Jadi, Terima Kasih atas tanggapan admin @TelkomCare atas perbaikan Telepon Rumah kami hari ini.
Salam dari Pelanggan tetapmu ini.

Nelangsa

Category : tentang DiRi SenDiri

Rasanya kondisi pikiranku selama sebulan terakhir ini memang perlu dipertanyakan kembali, mengingat rata-rata kegalauan itu lebih kerap menghampiri ketimbang rasa senangnya… entah apa yang menyebabkan.

Barangkali jika boleh aku mencari kambing hitamnya, hal pertama yang bisa dijadikan alasan adalah ketidaksiapanku untuk tampil sebagai pejabat, meski kategori pejabat rendahan sekalipun. Pelantikan yang dilakukan per tanggal 29 April lalu benar-benar membuat suasana hati dan hari-hariku menjadi kelam, satu hal yang jujur saja tidak aku duga sebelumnya.

Oke, diluar sana memang banyak yang menginginkan hal ini bisa digapai dalam waktu singkat, sekalipun dengan menggadaikan semua harta yang dimiliki, kemudian girang bukan main saat semua terwujud, namun tidak demikian halnya denganku. Aku malah menganggap bahwa apa yang aku dapat merupakan sebuah beban. Satu hal yang jujur saja membuat aku nelangsa dari hari-ke hari.

Banyaknya pekerjaan, luasnya lingkup dan masalah yang datang silih berganti serta ratusan dokumen yang harus ditandatangani, praktis membuat semua kekacauan dalam rutinitas sebelumnya. Demikian halnya dengan kualitas dan waktu tidur yang tak lagi nyenyak aku rasakan.

Hampir setiap sore dan pagi berikutnya beban itu datang menghantui, dan ada rasa kekhawatiran bahwa satu saat ada beberapa pekerjaan yang akan menyulitkanku dalam usaha mengambil sebuah keputusan. Hadapi saja ? tentu… namun tetap saja membuatku khawatir setiap harinya…

Hal kedua yang kini makin menghitamkan hariku adalah kepergian kakak almarhum, yang meski hingga akhir masa perjalanannya sudah kudampingi dengan sepenuh hati, namun yang namanya rasa tetap saja hadir. Bahkan saat melihat deretan foto yang ada dalam perangkat tablet Galaxy Tab 7+ ini, ingin kubuang dan kuenyahkan jauh-jauh dari pandangan, agar tak lagi datang membuat pedih semuanya. Mungkin benar adanya bahwa aku harus melalui ini semua dengan cepat dan kembali pada kesibukanku untuk melupakannya, apa daya semua seperti batu besar yang menghimpit dada. Tak dapat kulepas begitu saja dan pergi menjauh.

Hal terakhir tentu saja keluarga. Untuk yang satu ini memang agak riskan saya ceritakan, namun jika tidak diceritakanpun bakalan tetap menjadi beban, jadi apakah harus saya ceritakan dissini ? *fiuh

Namun yang pasti, inti dari hal terakhir adalah persoalan minimnya komunikasi antara Mertua dan Menantu, yang menjadikan posisi saya bagaikan Pelanduk yang mati di tengah-tengah secara perlahan jika ini sampai tidak ditangani denngan segera. Entah siapa yang harus dibela. Yang satu Ibu Kandung, satu lainnya Istri sendiri…

Tiga hal ini benar-benar menyita perhatian dan menguras energi, banyak yang terbuang lantaran aku tak sanggup menguasainya dalam waktu singkat. Jujur, kadang aku ingin menembak kepalaku sendiri akibat bingungnya mau melangkah kemana, namun semua itu seakan sirna saat mellihat senyum dua putri kecilku.

Mungkin memang membutuhkan waktu lama untuk bisa menyelesaikan semuanya dengan bijak, tapi mau bertahan sampai kapan ?