Doa untuk Kakak

Category : tentang DiRi SenDiri

Duduk di pojokan deretan kamar rawat inap lantai tiga paviliun praja Rumah Sakit Wangaya, mengingatkanku pada masa menunggui MiRah putri kami saat ia terbaring sakit akibat Demam Berdarah beberapa waktu lalu… Kini kami kembali lagi di tempat yang sama untuk menunggui kakak kandungku yang jauh lebih lemah terbaring akibat kanker lidah, menggerogoti tubuh dan dagingnya hingga menyisakan kulit membungkus tulang. Sangat memprihatinkan.

Pikiranpun melayang…

Masih lekat dalam ingatanku. kakak ikut mengantar kami ke seputaran Kuta hanya untuk mencari sepatu kets berwarna putih sebagai kewajiban dan keharusan bagiku di kantor Bupati melaksanakan tugas hari jumat pagi. Itu kebersamaan kami yang terakhir, melihatnya makan dengan lahap bersama putranya.

Jauh setelahnya, kamipun masih sempat berkumpul bersama kakak kandung laki-lakiku yang datang ke Bali, dan menghabiskan waktu sekeluarga sehari sebelum keberangkatannya balik ke Kanada. Saat itu ia sudah tak dapat lagi makan dengan baik mengingat sakit yang ia derita pada lidah dan telinga. Aku masih ingat, hanya kuah bakwan yang dapat ia telan serta sedikit nasi untuk mengisi perut di tengah keriuhan kami bersendagurau.

Perjuangannya sungguh berat terasa.

Kanker lidah yang divonis telah mencapai stadium empat dalam waktu singkat, telah mengagetkan syaraf kami hingga titik yang terbawah. Ditambah diagnosa dokter akan Diabetes yang diderita makin melengkapi kesedihan kami, akan keinginan kakak untuk sembuh seperti sedia kala.

Dokter sama sekali tak berani untuk memberikan keputusan akan langkah apa yang harus kami perbuat. Pengobatan kanker atau kemoterapi tak disarankan, mengingat lemahnya kondisi kakak saat itu serta diabetes yang diderita mengecilkan kemungkinan untuk dilakukannya tindakan. Satu-satunya langkah yang menjadi harapan saat itu adalah mencoba jalan alternatif ke Tangerang, pada seorang ilmuwan yang sedang mengembangkan cara membunuh sel kanker lewat alat yang dibuat secara khusus sesuai kondisi pasien.

Hasilnya nol… Sama sekali tak berpengaruh… Dan kondisi kakak makin tambah parah dengan keluarnya air liur dan dahak dalam jumlah banyak, serta sulitnya ia menelan makanan yang meski sudah diblender dan disaring oleh ibu dan suaminya. Pasrah…

Meski demikian, dalam kepasrahan kami tetap berbuat untuk berobat dan berobat. Namun keinginan untuk menyembuhkan kakak selalu tersandung pada kesulitan untuk mencerna obatnya, dan kondisinya kini pun bertambah kritis.

Rabu siang lalu merupakan neraka bagi kami. Disini semua idealisme, harapan dan amarah tertumpah hingga akhirnya kakak diputuskan untuk dibawa ke Rumah Sakit demi mendapat asupan infus dan cairan makanan yang disuntikkan lewat selang, gara-gara selama dua hari ini tak ada apapun yang bisa ia telan lagi. Ketimbang menunggu, bukankah lebih baik kami berbuat ?

Waktu kian menunjukkan malam yang semakin pekat. Hujan diluaran pun mulai turun membasahi bumi. Demikian halnya air mata kami yang menetes satu demi satu hanya untuk bisa panjatkan doa untuk kakak, demi mukjizat dan kesembuhannya nanti…

Biarpun lama, namun kehadirannya akan tetap kami tunggu… Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih mendengarnya…

Menanti Mukjizat dari-NYA

Category : tentang DiRi SenDiri

Aku lupa, sudah berapa lama kami tak bercandatawa seperti dahulu… Berkumpul bersama, menikmati hari minggu pagi bersama anak dan orangtua, untuk sekedar melepas penat bekerja seminggu penuh beban… Saatnya untuk melepas dengan kegembiraan…

Aku lupa, sudah berapa lama suara itu hangat menyapaku… Hanya untuk bertanya kabar putri kami atau keadaan orang tua yang kebetulan jarang berkunjung untuk melepas rindu… Sambil membawakanku sebungkus makanan kesukaan, yang biasanya kami bagi sedikit dengan anak-anak…

Aku lupa, kapan terakhir kali melihat wajahnya yang gembira, entah usai mendapatkan THR, datang dari jalan-jalan atau menonton sesuatu… Dan senyum itu selalu terbayang hingga hariku kini…

Aku lupa, kapan terakhir kali aku ucapkan jika aku menyayanginya dan mengharapkan kesembuhannya, hingga kami bisa berkumpul seperti dulu lagi… Aku lupa…

Yang mampu aku ingat hanyalah gambar karikatur yang kubuat saat ia menikah dulu, sebagai satu tanda mata bahwa aku sangat kehilangannya sebagai kakak meski rumah yang ia tempati berada bukan diseberang pulau… Kini rupanya masih tergantung di tembok kamarnya seperti awal dahulu…

Yang mampu aku ingat hanyalah uang pemberiannya yang hanya aku terima jika aku mau, karena kami berdua masing-masing sudah berkeluarga dan punya tanggung jawab… Satu kali saat aku menikah… Satu kali saat wisuda… Satu kali saat kelahiran MiRah putri kami… Meski tak banyak, tapi aku tahu ia ingin aku menyimpannya…

Yang mampu aku ingat hanyalah perjuangannya saat ia remaja, tekun dan giat mencari uang sampingan, sedikit demi sedikit sejak akhir tahun, mengumpulkan persiapan untuk hari Valentine kelak, dengan membuat kartu ucapan dan dijual
di toko terdekat…

Yang mampu aku ingat, saat ia mengajarkan aku mengendarai mobil Kijang Jadul ke arah Bukit Jimbaran selepas masa SMA, agar aku berani melintasi naik turunnya jalan raya juga keramaian, persiapan kuliahku kelak…

Tapi Kini ia hanya bisa terbaring tanpa mampu berbicara lagi… Satu satunya komunikasi yang mampu ia lakukan dengan cara mengetikkan pesan lewat fitur sms pada ponsel miliknya, untuk kemudian diperlihatkan pada orang yang ia tuju…
Hanya kulit yang membalut tulang saja yang tersisa…

Aku bisa merasakan kesakitannya saat kupapah ia dengan kedua tanganku dari tempat tidur menuju kendaraan rabu malam lalu… Sangat ringkih dan dengan nafas tertahan…

Aku bisa merasakan keinginannya untuk sembuh namun tak kuasa mendapatkannya, entah karena Beliau belum menghendaki, entah karena faktor apa yang menyebabkan, entah sampai kapan ia harus mengalaminya…

Jauhnya mereka…

Category : tentang Buah Hati

Ngobrolin anak-anak emang gak ada habisnya. Lebih banyak situasi ceria dibanding sedihnya.
Ngliat tawa canda mereka dan menatap mata dan senyum polosnya, mungkin bisa membuat hari dan juga suasana hati yang tadinya mumet usai pulang kerja, kembali cerah dan bersemangat lagi untuk hari esok.

Dua biji ponakan kecil milik ipar, memang bener-bener membuat segenap rasa sayang dan ego ini muncul kepermukaan.
Menggendongnya untuk menuai tawa riangnya, mendekapnya dalam pelukan, dan mencium gemas pipi kembungnya, benar-benar membuat gak sabar ingin sua mereka esok hari lagi.

Ada dua biji lagi yang mungkin sampe hari tetap ditunggu kepulangannya.
Dua ponakan dari kakak kandung laki-laki yang sampe hari ini masih menetap di Kanada.

Hari ini pula si sulung Aditya mengirimkan goresan tangannya untuk Kakek dan Neneknya di Bali. Gambar Power Rangers yang menjadi favoritnya termasuk pula favorit satu ponakan lagi dari kakak perempuan yang tinggal tak jauh dari rumah.

Bersua hanya sekali saat ia diajak pulang ke Bali diusia yang menginjak usia 3 tahun, hanya dua bulan lantas kembali lagi ke tempat kelahirannya dan gak lama mendapatkan seorang adik bernama Ananta.

Dari segi karakter wajah, agak jauh beda.
Kakaknya lebih culun sedang si adik lebih serius, mungkin ngambil karakter Bapaknya. Hehehe…

Tapi entah kapan bisa sua langsung dengan mereka.

Kesenduan Memori Lama

Category : tentang DiRi SenDiri

Entah kenapa akhir-akhir ini aku rasanya ingin sekali kembali kemasa lalu untuk sekedar mengingat dan mengenang kisah dan perjalanan sedari kecil, semasa digendong oleh Bapak dan Ibu seperti halnya aku menggendong kemenakanku yang paling kecil, usianya belum setahun, masih lucu-lucunya.Entah kenapa juga aku berkeinginan mendengarkan lagu-lagu kenanganku saat remaja dan merasakan pukulan menohok didada saat melihat kembali koleksi kaset yang pernah kubanggakan pada siapapun yang mampir kekamarku ini.
Iwan Fals sejak album Cikal, Hijau hingga pecahnya Swami grup beken jaman itu jadi Dalbo dan Suket.

Bersenandung sesekali berteriak menghayati lagu kritis dari sang master yang pernah begitu hidup dihati ini selama bertahun-tahun lamanya.
Terkadang sempat terhenyak terdiam kala mendendangkan lagu dari grup Kantata Takwa seperti halnya Kesaksian dan Air Mata. Dua lagu yang sering kunyanyikan saat SMA dulu.

Mengorek isi cd yang menyimpan foto-foto kenangan masa kecilku hingga kini, hingga melihat kembali anggota keluarga yang kini telah tiada, sungguh membuat rasa kangen dan ingin mereka selalu ada disini, dihari ini.

Menatap foto bangganya si Bapak saat menggendong anak bungsu didampingi pula oleh anak sulungnya yang sedang mencandai sikecil.
Lucu dan haru menatap kembali seakan merasakan kebahagiaan bahwa sebentar lagi aku akan menjadi seperti bapakku dulu.

Menatap gembiranya Ibu menggendongku saat diupacarai sumringah seakan berkata ‘inilah buah hatiku terakhir’.

Menatap foto-foto saat aku masuk sekolah TK hingga SD, dengan gaya khas jaman dulu, bersiap sambil menyandang tas sekolah, dan senyum yang terlihat senang karena jarang difoto.
Hingga tersenyum saat melihat betapa kurusnya aku saat SMA dan awal kuliah, membuat hari ini rasanya ingin menjalankan diet agar perut gendut ini bisa mengecil lagi.
Ah, apa bisa…

Perlahan dendang Iwan Fals berpindah ke lagu barunya setelah lama tak muncul dan merilis album Suara Hati juga In Love, masih memberikan kesan sendu dan sangat mendukung suasana hati malam ini.

Mungkin saja ini sedikit rasa yang timbul lantaran tugas demi tugas kuliah selesai dikerjakan, menyisakan mimpi dan angan tuk bisa bahagiakan Istri juga Orang tua dan anakku yang kini masih didalam kandungan.

Melihat foto nenek yang ngemong aku sejak kecil disaat orang tua sibuk bekerja, menatap wajahnya yang mungkin tak pernah aku lakukan hingga kematiannya saat menginjak kelas 2 SD.

Sedikit berharap bahwa Beliaulah yang akan turun tuk menjadi buah hatiku kelak…

Aku sangat merindukan suasana masa lalu…