Kebiasaan dan Sentuhan tanpa Teori Fotografi

1

Category : tentang Opini, tentang TeKnoLoGi

Entah sejak kapan saya mengubah kebiasaan dalam mengabadikan gambar menjadi tak biasa untuk dinikmati oleh orang lain. Keinginan untuk mendapatkan penampilan gambar yang berbeda dan sekedar mecoba-coba kerap saya lakukan toh kamera digital memang diciptakan untuk itu. Tidak ada istilah pemborosan film lagi dalam setiap gambarnya.

Memang saya tak lagi mengambil gambar dengan fokus obyek berada ditengah-tengah area gambar. Kadang saya menempatkannya agak kekanan atau kiri,  kadang juga hanya menyembul sedikit. Ketidakbiasaan ini kerap pula dicemooh oleh orang yang melihat hasilnya namun tak sedikit yang mengerti dengan apa yang saya inginkan.

Kalau hanya untuk menampilkan obyek manusianya saya rasa kurang seru, kurang berceritera. Makanya saya tambahkan lingkungannya juga, sehingga orang bisa tahu kalo si A sedang berada di tempat ini dan si B sedang berada di tempat itu.

MiRah sentuhan

Saya akui tidak memahami kaedah-kaedah fotografi yang baik, bagaimana menciptakan efek blur pada background dan menajamkan obyeknya, bagaimana menciptakan cahaya lokal setempat, bagaimana agar membuat gambar terlihat lebih eksotik. Semua itu biasanya saya lakukan via pc dengan bantuan perangkat lunak. Makanya saya katakan sejak awal, saya ini bukan tukang poto propesional.

Untuk sebuah event saya biasanya menambahkan satu dua gambar yang bisa saya gunakan sebagai jeda di awal, tengah dan akhir penyajian. Entah itu suasana rumah, pendukung ataupun kejadian unik. Gak ada yang saya persiapkan khusus sebelumnya, semua mengalir begitu saja setiap kali saya memulainya.

Saya pribadi menambahkan sedikit sentuhan lagi saat hasilnya hendak dicetak dan disajikan. Biasanya bergantung pada besaran album foto yang nantinya akan diberikan, apakah berukuran memanjang landscape seperti buku gambar sekolahan atau malah besar seperti badan saya ini. Misalkan saja untuk yang memanjang biasanya muat sekitar 4 biji foto berukuran 4R, sehingga dalam usaha mencetak dan menyajikannya saya berusaha untuk mendapatkan 2, 3 sampai 4 buah gambar yang senada atau satu momen kejadian dan mutlak disajikan dalam satu halaman foto. Jangan sampai dalam satu halaman foto ada satu buah foto yang disajikan dalam format mendatar sedang tiga lainnya dalam posisi portrait atau salah satunya tidak nyambung dengan momen yang diinginkan tampil disitu.

Yah, namanya juga sekedar menyalurkan hobi. He…

Penghargaan itu bernama Terima Kasih

4

Category : tentang Opini, tentang TeKnoLoGi

Ada kebanggaan tersendiri ketika hasil kerja keras kita dihargai oleh orang yang kita bantu sekalipun itu hanya berupa ucapan terima kasih. Minimal apa yang telah dipinta dapat dilakukan dan diselesaikan dengan baik.

Saya akui tanpa embel-embel sikap yang profesional barangkali yang namanya rejeki ga’bakalan datang, kendati apa yang saya lakukan dan dihasilkan belum bertaraf sejauh itu. Profesional bagi saya bukan melulu berarti bekerja dengan baik dan selalu dibayar, seperti halnya pengertian yang diyakini seorang rekan kerja di kantor hingga hari ini. Namun bagaimana kita bersedia menjalankan apa yang sudah kita setujui dengan sungguh-sungguh sekalipun itu tidak dibayar karena memang sedari awal tidak berkomitmen untuk itu. Bukan materi yang ingin kita capai, mungkin bisa begitu dikatakan.

Entah sudah berapa kali saya melakukannya untuk orang lain dan saya begitu menikmatinya. Lagipula ga’banyak biaya yang harus saya keluarkan. Paling banter ya stamina yang fit. Ngomongin soal stamina apa yang saya lakukan bukan yang berhubungan dengan syahwat loh, salah kalo sampe berpikir kearah situ. Hehehe…

Berangkat dari hobi mengambil foto Istri sedari belum menikah dahulu saya bisa memiliki hampir ribuan gambar dalam berbagai situasi. Dari mencuci piring, serius menulisi buku besar, hingga ketahuan ngupilnya. Hahaha… Demikian juga dengan hobi mengabadikan momen jahil secara sembunyi-sembunyi dan mempermaknya sedemikian rupa, rata-rata mengundang decak kagum sekaligus makian heran dari sang obyek ‘sempat-sempatnya kamu ngambil foto ? kapan ya ?’ hehehe…

Akhirnya mengantarkan saya ke tingkat tukang poto amatiran entah itu untuk momen serius seperti pernikahan ataupun hanya untuk ulang tahun. Saya katakan amatiran karena hasil fotonya gak selalu bagus atau gak selalu indah dan memperhitungkan tingkat cahaya serta istilah fotografi lainnya. Cuma menyalurkan hobi asal njepret dan memilihkannya hasil yang terbaik.

Maka dari itu ya ga’heran kalo dalam satu kali event ataupun permintaan saya bisa melakukan puluhan atau ratusan kali pengambilan gambar. Yang hasilnya ternyata cukup beragam. Apa yang saya lakukan ini tentu saja ada sisi positip dan negatipnya. Positipnya saya mendapatkan dua tiga gambar alternatif yang bisa saya pilih dan padukan untuk sebuah pengabadian momen terbaik. Tak jarang saya musti melakukan cropping digital satu foto dengan foto lainnya, terutama jika itu berkaitan dengan ekspresi wajah yang tidak sesuai dengan harapan. He… Negatipnya stamina saya kadang terkuras habis dan memerlukan pemulihan satu dua hari penuh, tentu jauh beda dengan mereka yang telah menyandang status profesional. Tapi it’s okay, namanya juga menyalurkan hobi dan membantu orang lain.

Jika dahulu saya dibantu dengan sebuah kamera pocket kecil tipis Konica Minolta X31, per pertengahan Agustus mulai berganti dengan yang sedikit gembul, Kodak EasyShare C1013. Perbedaan hasil fotonya sangat mengejutkan setidaknya bagi saya pribadi. Jauh lebih cerah dan tajam. Ini sangat wajar bagi saya, wong tahun rilis produk yang selisih hampir lima tahun dan yang namanya teknologi hitungan lima tahun itu tentu saja banyak hal yang bisa saya dapatkan.

Penghargaans

Dengan menggunakan kamera digital baru ini saya tidak lagi harus menunggu jeda lama untuk berpindah dari satu frame ke frame yang lain. Demikian pula dengan minimnya cahaya, ga harus mengalihkannya ke tempat terang dahulu baru mengambil gambar dari obyek yang saya inginkan. Kendati terkadang hasilnya terlihat agak gelap di layar preview kamera, tidak demikian halnya dengan saat dilihat melalui PC. Saya bahkan tidak banyak melakukan editing gambar lagi hanya untuk mendapatkan ketajaman yang maksimal. Untuk seorang tukang poto amatiran ini jelas saja sangat memuaskan. Saya pribadi biasanya menambahkan sedikit sentuhan lagi saat hasilnya hendak dicetak dan disajikan. Nanti saya ceritakan.

Maka ketika apa yang saya lakukan sehari sebelumnya sudah bisa dinikmati oleh orang-orang yang memberikan kepercayaannya pada saya dalam hitungan jam, banyak hal yang saya dapatkan saat itu. Dari peluk erat, jabat tangan yang lama dan mencengkram hingga selipan beberapa uang merah yang tak pernah saya sangka sebelumnya. Namun ada yang jauh lebih berarti dari semua itu, ucapan Terima Kasih yang tulus dan wajah yang senang sumringah merupakan penghargaan paling tinggi buat saya. Setidaknya untuk saat ini.

Welcome Kodak EasyShare C1013

26

Category : tentang TeKnoLoGi

Ada satu syarat mutlak yang harus dipenuhi saat saya diberikan kuasa penuh untuk memilih dan membeli kamera digital baru baik yang nantinya akan dipakai oleh kerabat, rekan kerja ataupun keperluan pribadi. Menggunakan Baterai AA sebagai pasokan daya utama. Mengapa ?

Okelah, orang boleh bilang kalo kini jamannya sudah beralih ke penggunaan Baterai Lithium sehingga penampilan fisik sebuah kamera digital tak lagi gendut, malah sering dijadikan jargon penjualan ‘slim and elegant….’. Namun masalah akan muncul saat batere berada di titik sekarat penghabisan sedangkan momen masih banyak yang harus diabadikan.

Dalam sekali charge sebuah batere Lithium secara defaultnya diklaim mampu mengambil gambar hingga 400 kali dengan pemakaian standar. Tanpa permainan zoom dan lampu kilat. Tidak juga termasuk dengan mengaktifkan fitur terkini yang dimiliki oleh sebuah kamera. Memang saya akui, sangat jarang orang mengambil gambar hingga ratusan kali dalam sekali event atau kejadian, tidak demikian dengan saya.

Untuk event terakhir yang saya lalui ternyata dalam sehari (upacara puncak pernikahan) saya mampu menghabiskan 900an gambar dari sebuah kamera terbaru yang saya miliki. Kenapa bisa sampai sebanyak itu, ada alasannya kok. Nanti saya ceritakan. Balik ke topik, bagaimana seumpama saya menggunakan sebuah kamera yang menggunaka batere lithium sebagai pasokan daya utama ? minimal saya harus mempersiapkan satu biji batere lagi sebagai cadangan. Harganya yang cukup mahal mungkin bakalan terkesan mubazir apabila sebaliknya saya dilain hari hanya menggunakan kamera hanya untuk sesekali saja.  Bagaimana pula seandainya pada lokasi event atau daerah yang saya kunjungi tidak ada pasokan listrik ? nah, inilah alasannya kenapa saya memilih yang menggunakan batere AA. Karena tipe batere ini tidak sulit diperoleh dimanapun saya berada.

Dalam sekali event saya biasanya cukup menyiapkan dua pasang batere charge utama yang sudah siap pakai. Energizer 2450mAh sudah lebih dari cukup. Kalopun kurang saya bisa menggunakan batere Alkaline biasa atau menyediakan cadangan beberapa pasang batere Sanyo 900mAh.

Pertimbangan Kedua sekaligus terakhir adalah bentuk yang kompak, kecil sehingga mudah diselipkan di saku baju. Memang sekali waktu saya memimpikan memiliki sebuah kamera semi SLR yang memiliki kemampuan zoom optical hingga 12 sampai 20 kali, cukup sebagai bekal saat pindah kantor ke Puspem kelak. Bisa digunakan untuk mencari obyek gadis yang mandi di sungai hanya dari balkon kantor. Hwahahaha… Namun lagi-lagi bodi kamera yang menjadi kendala.

Kenapa saya mensyaratkan berbodi kompak ? Selain agar mudah diselipkan ke saku baju sehingga saya gak lagi membawa tas besar khusus untuk membawa kamera dan orang lainpun ga’bakalan tahu kalo saya sedang membawa kamera, agar bisa digunakan oleh siapapun entah itu Istri, Mertua hingga yang tumben-tumbenan menggunakan kamera digital sekalipun. Sangat tidak nyaman apabila dalam sebuah event secara seratus persen kamera kita genggam sendirian. Ada saatnya seorang tukang poto amatiran  seperti saya ini ingin sekali difoto dan ikutan tampil dalam event tersebut. Hehehe… atau saat kita berhalangan untuk mengabadikan momen tertentu masih bisa diwakilkan oleh orang lain. Sangat sulit untuk mengontrol sakit perut yang mendadak bukan ?

Kodak C1013

Maka kendati sedikit gembul ketimbang kamera digital saya yang terdahulu, Kodak EasyShare C1013 menjadi pilihan kedua saya setelah Konica Minolta X31 disarankan untuk beristirahat… Kasian juga selama kurang lebih empat setegah tahun ikut saya kemana-mana.

Dengan berbekal tambahan Memori SD card sebesar 4GB mampu mengabadikan sebanyak 1990 buah gambar dengan resolusi 10 MP atau 3789 buah gambar dengan resolusi 5 MP.  Sudah lebih dari cukup untuk sebuah event bukan ?

Menggapai Kamera Digital

5

Category : tentang TeKnoLoGi

Salah satu alasan utama ketika pertama kali memutuskan untuk membeli dan memiliki sendiri sebuah kamera digital adalah ingin mengabadikan foto keluarga sebanyak mungkin, agar kelak saat satu persatu pergi saya tak lagi menyesalinya.

Ya, ini memang satu pengalaman pribadi ketika kematian seorang sepupu sebaya di akhir tahun 2003 lalu sangat sulit mencari foto kenangan kami secara bersama, hingga untuk foto yang ditampilkan saat itu pada bade jenazah merupakan foto lima tahun sebelumnya, saat adik saya tersebut masih kurus-kurusnya.

Maka tak heran begitu pertama kali saya memiliki sebuah kamera digital, hampir setiap anggota keluarga saya abadikan dalam gambar kamera dalam berbagai pose termasuk pose candid. Hehehe…

Ngomongin kamera digital sebetulnya dahulu sebelumnya saya pernah memiliki sebuah kamera web Aiptek berbentuk sebuah kotak pena yang dapat diselipkan di kantong. Saya beli kisaran awal tahun 2001 dengan harga sekitar 700 ribuan. Mahal banget !!! Kemampuannya masih terbatas saat itu. Dengan mengandalkan sebuah viewfinder dan sebuah layar monochrome yang hanya mampu menampilkan angka digital sebagai tanda banyaknya gambar sisa yang dapat diambil total sekitar 60-an gambar dengan resolusi QVGA (240×320 pixel). Sangat keren saat itu. He… Sayangnya kemudian saya kehilangan kabel data hingga gak bisa memindahkan data yang ada didalamnya. Bodoh…

my KAMDiG

Kamera digital pertama Konica Minolta X31 saya beli sekitar 1,7 juta di awal tahun 2005 lalu. Resolusinya sudah lumayan besar untuk ukuran saat itu. 3 MP, dengan 3x optical zoom tanpa memory internal. Bentuknya yang kompak kecil tipis tanpa lensa yang menyembul keluar bodi yang tak lebih besar dari genggaman tangan saya, membuat orang lain tak mengetahui kalo saya saat itu sedang mengantongi sebuah kamera digital di saku baju dan secara diam-diam mengambil gambar mereka.

Selama kurang lebih empat setengah tahun kamera tersebut menemani kemanapun saya bepergian. Dari kamera tersebut saya mendapatkan ratusan bahkan ribuan foto keluarga, foto Istri yang saat gadis dahulu ga’pernah memiliki arsip foto sendiri juga putri kecil kami yang kini keseringan nangkring di album Facebook. Sayangnya ada satu kekurangan dari kamera ini yang sangat memberatkan. Lampu kilat (flash) yang lemah apabila digunakan pada malam hari. Kalaupun dipaksakan, gambar akan terlihat sangat buram. Walau bisa diakali dengan mengambil fokus pada area terang trus dialihkan ke area gelap yang diinginkan, tetap saja kurang memuaskan hasilnya.

Beberapa hari sebelum upacara pernikahan kakak ipar berlangsung, kamera Konica ini mulai ngadat. Gak mampu membaca memori eksternal kendati sudah diganti dengan kartu memori yang lain. Lantaran kamera ini gak mampu membaca kartu dengan kapasitas yang lebih besar dari 256 MB dan dibeberapa toko tak jua saya temukan kartu dengan kapasitas tersebut, maka dengan terpaksa kamera ini saya istirahatkan dahulu sementara. Sayapun berancang-ancang hunting kamera baru.

Pilihan pertama jatuh pada Nikon L10 yang enam bulan lalu sempat saya borong 3  biji untuk digunakan sebagai kamera kantor. Resolusinya cukup besar untuk saat ini yaitu 5 MP. Sayangnya pas dicari, seri ini tak lagi dirilis alias out of stock. Lantaran budget begitu mepet, sebagian lainnya dialokasikan ke biaya kuliah, untuk kamera digital baru yang saya caripun cukup yang murah namun punya fitur ga’jauh beda dengan Nikon. Tentang merk tetap berusaha mencari yang sudah mapan.

Pilihan kedua jatuh pada Kodak easyshare C1013 yang ditawarkan dengan harga Rp. 999.000 kosongan. Resolusinya sudah mencapai 10 MP, cukuplah pikir saya, soale untuk foto sehari-hari ya ga’perlu hingga sebesar itu, paling banter ya 3 MP lah. Apalagi upacara pernikahan yang dimaksud sudah cukup dekat dan Mertua berkeinginan meminjam kamera digital untuk dibawa saat mengambil calon penganten perempuan. Jadilah Kodak yang saya beli sebagai kamera digital kedua, langsung berpindah tangan tanpa sempat digunakan lebih jauh. Hehehe…

Mau tahu bagaimana hasilnya ? he… nanti deh saya ceritakan lagi.

Pilah Pilih Kamera Digital (untuk Awam)

Category : tentang TeKnoLoGi

Bagi sebagian orang, mengabadikan momen saat beraktifitas jadi satu hal yang sangat penting dilakukan, untuk mengingat ato menceritakan pada orang lain, dimana satu gambar bisa mengantikan seribu kata-kata. Bagi sebagian orang pula, sarana untuk mengabadikannya gak segampang yang dibayangkan sebelumnya. Salah milih sarana, membuat susahnya pengoperasian, jadi balik kanan milih sarana konvensional, karena lebih mudah dan murah.
Hanya saja, gak selalu yang konvensional itu lebih mudah dan murah. Bayangkan saja kalo setiap kegiatan musti beli film ato kaset yang cuma bisa sekali pake. Syukur-syukur dua tiga kali, namun kualitasnya tentu udah nurun.

Tentunya kalo mau milih yang mudah dan murah, satu pilihan yang paling utama ya, Kamera Digital, dimana dengan harga 1-2 jutaan, udah dapet yang memuaskan. Sedangkan HandyCam mungkin masih tergolong sulit ngedapetin yang bagus dengan harga yang sama.

Nah, gimana dong caranya milih sarana yang modern tapi murah, mudah pemakaian dan tentunya berkualitas, tentunya bagi orang-orang awam, yang belum mengenal dunia digital ?

1. Merk

Pilih merk yang udah familiar didengar, macemnya Sony, ato pionir-pionir dijamannya seperti Nikon ato Kodak, yang tentunya memiliki Service Centre di daerah sendiri terdekat.
Ini ditujukan agar nantinya gak kesulitan saat terjadi trouble ato kerusakan pemakaian. Daripada nunggu lama, karena barang harus dikirim ke luar daerah, karena disini gak ada spare part atopun teknisi yang mampu menanganinya langsung.

2. Harga

Pilih harga yang sesuai isi dompet, ato anggaran yang disediakan. Minimal 1-2 jutaan deh. Ada sih yang ngejual dibawah 1 jutaan, tapi sebelum memutuskan untuk membeli, baca dulu selanjutnya…

3. Kemampuan Resolusi (MegaPixel)

Dengan harga yang terjangkau sekitar 1-2 jutaan, sudah bisa ngedapetin kamera digital ber-merk terkenal dan tentunya berkemampuan Megapixel diatas rata-rata, 5 sampe 6 MP.

4. Zoom (MUTLAK)

Pilih yang punya kemampuan zoom Optikal, minimal 3x, jadi puas ngambil gambar, tapi gak nyesel ngliat hasilnya. Disarankan gak milih yang punya zoom Digital, walopun sampe 20x, tapi tetap saja bisa dikatakan penipuan, karena pembesaran yang dilakukan, masih bisa dilakukan dengan media komputer, dan tentu saja hasilnya bakal pecah. Mungkin bisa dilihat pada hasil foto dari kamera ponsel.
Oya, zoom Optikal saat ini udah ada yang mencapai 10 sampe 12 kali.

5. Batere

Kalo bisa cari kamera dengan tipe batere AA, bukan lithium.
Kenapa ?
Karena kalo lagi mengabadikan di tempat-tempat terpencil atopun lokasi yang belom terjangkau listrik, agak kesulitan kalo harus membeli batere cadangan 2-3 biji yang harga satuannya tentu jauh lebih mahal, tentunya juga harus di charge penuh sebelumnya.
Nah, kalo tipe batere AA, tentunya selain murah, juga mudah mendapatkannya.

6. Memory Eksternal

Sistem penyimpanan, tentu berperan paling besar, rugi dong, kalo kamera canggih tapi cuman mampu nyimpen 20-an foto ?
Minimal saat ini yang dimiliki dengan kapasitas 512 MB, kalo gak salah harganya udah murah, gak nyampe 200ribuan.
Pilih tipe yang bisa dipake sarana lain yang dimiliki, jadi bisa tukeran kalo yang dipake udah penuh. Misalkan aja tipe SD/MMC, yang selain dipake kamera digital, juga kompatibel dengan ponsel maupun PDA yang digunakan untuk komunikasi.

7. Layar LCD

Semakin besar view layar yang dipake, ato semakin bagus tampilannya, maka pengurasan energi batere juga lebih besar, jadi energi batere yang bisa dipake untuk mengabadikan momen juga bisa dikatakan lebih pendek.
Memang sih, layar gede bagus banget untuk ngecek hasil jepretan, tapi come on, yang kecil juga masih mampu kan ? Cuma masalah nyaman, keren dan enak diliat aja.

8. View Finder

Nah, ini untuk yang masih suka dengan pemakaian kamera tipe konvensional, masih suka ngintip dari lubang kecil ketimbang ngeliat dari layar LCd yang besoar.
Tapi ada bagusnya lho, lagi-lagi energi batere jadi gak terkuras banyak, untuk ngambil momen, namun layar tetap diperlukan, untuk ngecek hasil jepretan tadi.
Siapa tau malah blur (kabur).

9. Bentuk

Siapa sih yang gak suka cewek langsing ?
Ato malah cowok yang atletis ato kekar ?
Memilih badan kamera yang tipis, pilih yang memungkinkan masuk saku baju celana, agar gak ribet bawa tas pinggang, jadi kalo kemana-mana gampang, selain nongkrong juga bisa jeprat jepret tanpa ketahuan. Hehehe…
Sedangkan yang pengen terlihat prof, pilih bodi yang item bongsor, tapi jangan yang compact, bisa-bisa malah diledekin jadul. Hehehe

10. Flash (Blitz)

Nah, kalo yang satu ini berguna banget untuk pemotretan Indoor ato area yang kekurangan cahaya, dimalam hari misalnya.
Jangkauan flash ato blitz ini beda-beda untuk setiap kamera, ada yang cuman 3 meteran,sampe yang lebih dari 10 meteran.

11. Fitur (Menu dan Tambahan)

Nah, yang terakhir tentu Menu yang dipakai untuk nge-set kamera sesuai dengan keinginan kita sendiri, ada yang benar-bener simpel, tapi ada juga yang ribet, harus masuk kesana-sini baru ketemu yang dimaksud.
Juga fitur tambahan yang diberikan oleh vendor produsen kamera.
Misalkan aja, Anti Shake (untuk mengatasi hasil foto yang bergerak saat diperjalanan misalnya), ato Revive Shot (untuk memperbaiki warna pada foto-foto jadul), dan masih banyak lagi.

Namun tentunya fitur menu maupun tambahan, bisa dijadikan alternatif terakhir, karena sebagai orang awam, yang biasanya dilakukan cuman jepret, transfer trus cetak.

* * *

Tapi semua itu tadi bukan hal mutlak lho, karena saat ini udah banyak merk-merk yang muncul, yang menjanjikan harga lebih murah dan kemampuan resolusi lebih besar, tapi ya itu, kadang-kadang fasilitas zoomnya cuman memberikan Digital tok, tanpa zoom Optikal, ato bentuk performancenya kurang bikin pede yang ngejepret, ato malah yang paling ekstrim, gak ada service centre nya, jadi kalo rusak ya minjem istilah Digicom, Dilem Biru aja….

Dilempar, Beli Baru.
Huehehe….