Dianandha Heppista dan Penghinaan Nyepi Tahun 2011

97

Category : tentang Opini

‘kenapa ya kalo nyepi mesti matiin lampu?! toh juga kalo qt melanggar qt yg dosa khn?! Ada aja org yg buat aturan aneh2! Klo mw nyepi, nyepi aja sendri2! Ga usah ngerepotin org laen! saaaaaaaaatt ! \f/’

Dianandha Heppista (BeBeenya Bogel), remaja putri kelahiran 22 Maret 1993 ini tampaknya merasa tidak puas dengan Heningnya perayaan Tahun Baru Caka 1933 Nyepi di Bali atau lebih tepatnya di Kota Denpasar, daerah Kesiman tempat dimana ia tinggal. Peraturan atau lebih tepatnya anjuran untuk tidak menyalakan lampu dalam hal ini api atau penerangan sebagai salah satu dari empat yang diberlakukan setiap hari raya Nyepi, menjadi sasaran akibat ketidakpuasan bathin bisa juga ketidakpahaman si remaja akan hakekat, makna dan maksud dari pada peraturan atau anjuran tersebut.

Sebagai seorang siswa yang pernah atau masih bersekolah di sebuah sekolah ternama SMAN 1 Denpasar, status yang di-update melalui ponsel seluler yang bersangkutan sungguh patut disayangkan. Pertanyaan Pertama yang ada dalam benak saya adalah, apakah hal diatas tidak pernah diajarkan di sekolah ataukah si remaja tak pernah peduli dengan adat istiadat dan budaya tempat ia tinggal ?

Saya pribadi belum tahu secara pasti Agama apa yang dianut oleh si gadis remaja yang kelihatannya memiliki pacar bernama Twoe Arya Wijaya (BoOgel Poenya DianAndha) ini. Jika saja Hindu, status yang bersangkutan diatas makin patut untuk dipertanyakan. Seberapa jauh pemahaman yang ia dapatkan dalam mempelajari Agamanya di sekolah ataukah malahan tidak mau tahu dengan Agamanya sendiri ?

Sangat disayangkan apabila seorang Remaja Belia Bali ikut-ikutan menghina Hari Raya Nyepi. Menambah panjang daftar orang-orang yang harus diberikan Pendidikan Agama baik di sekolah dan juga dirumahnya.

*Sekedar Informasi, akun yang bersangkutan rupanya sudah tidak bisa ditemukan lagi di Jejaring Sosial Pertemanan FaceBook. Bisa jadi lantaran yang bersangkutan mengubah nama akun dan menutup Privacy akun secara lebih pribadi. Namun sebagai petunjuk, akun pacar yang bersangkutan, masih bisa kok ditemukan. :p

JuLianTo MaduRa memang Dashyat !!!

2

Category : tentang Opini, tentang TeKnoLoGi

Lama tidak peduli dengan keberadaan Julianto Madura yang beberapa waktu lalu sempat memantik kemarahan puluhan bahkan ratusan warga Bali di akun jejaring sosial pertemanan FaceBook membuat saya takjub ketika berkunjung kembali ke akun yang bersangkutan.

Pertama, dari segi akun FaceBook. Tampaknya Julianto Madura masih tetap pede melanjutkan kiprahnya di alam maya FaceBook. Tidak menelantarkan seperti halnya yang dilakukan oleh Ibnu Farhansyah yang iseng saya kunjungi malah sudah mengubah akunnya menjadi “Engga Ada Nama”. Sekedar informasi tambahan, akun Ibnu selain mengubah nama, segala informasi yang dahulu sempat tercantum, kini hilang sudah. Aksi melarikan diri tadi kekhilafannya ini sepertinya harus berakhir per 17 Maret 2010 lalu. Demikian pula dengan Evan Brimob yang tampaknya malah telah menghapus akun FaceBook-nya secara permanen. Beberapa akun yang tampaknya memajang foto yang bersangkutan hanyalah berupa Fan Page, ajang berkeluh kesah para ‘Fans-nya Evan Brimob. Hihihi… Demikian pula dengan akun Friendster yang ia miliki, sudah berganti nama dengan “Baret Biru”.

Kedua, perkembangan jumlah Teman yang dimiliki. Pada tulisan saya terakhir kemarin terhitung baru 29 orang saja yang terlihat dalam daftar yang dimiliki, kini sudah melonjak jauh hingga 216 orang. Wah… Mantap. Namun sayangnya rata-rata malah memberikan komentar yang menghujat hingga mengingatkan yang bersangkutan. Hebatnya tak satupun yang ditanggapi oleh pemilik akun. Ini jelas berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Ibnu Farhansyah yang berusaha meredam dan mengklarifikasi setiap komentar yang hadir di akunnya tersebut. Kembali ke akun Julianto Madura, rupanya ada juga satu Mutual Friend yang saya miliki di akun yang bersangkutan. :p

Ketiga, adanya penambahan Album Foto yang di-upload kedalam akun. Kalau tidak salah saat kehebohan terdahulu Julianto Madura baru memiliki album foto yang berisikan gambar kampanye paket Cabup-Cawabup Tabanan Eka-Jaya. Kini malah jauh lebih berani dengan memajang foto terkini dari seorang Julianto Madura, dengan wajah yang jauh lebih bersih dan sopan. Berkemeja garis ditambah kacamata gaya. Wiiihhh… makin Mantap. Terlepas keaslian tidaknya foto terkait, memang ada kemiripan wajah dengan foto profil yang dipajang dan lagipula ada foto keluarganya pula.

Keempat, Update Status terakhir yang dilontarkan (sepertinya) per tanggal 31 Mei atau 1 Juni yang memohon Maaf atas kata-katanya di FB dan tidak bermaksud membenci Warga Bali. Ada juga statusnya yang mempertanyakan mengapa malah ia yang menjadi sasaran ? dan kalo tidak salah per tanggal  25 Mei kemarin (masih saja) mengungkapkan kekesalannya (kali ini) pada oknum Laskar Bali yang rupanya ditenggarai telah memukul adik kandungnya di Café Kamboja. Wah… sepertinya fitur Update Status di akun FB hanya dimanfaatkan sebagai ajang mengeluh saja nih.

Terakhir, saya pribadi akhirnya hanya bisa menyatakan Salut kepada sosok Julianto Madura atas keberadaannya di alam maya FaceBook yang hingga hari ini tetap ‘berani’ dengan pilihannya dan tetap menuai kontroversi.

Jangan salahkan FaceBook (lagi) hanya karena JulianTo Madura

26

Category : tentang Opini, tentang TeKnoLoGi

Pagi ini rupanya ada sesuatu hal yang menarik perhatian lagi di akun jejaring sosial pertemanan dunia maya FaceBook. Seorang warga Muslim bernama JulianTo Madura tertangkap basah temannya telah meng-update status akun FaceBook dengan isi yang mengancam warga Bali di Perantauan. Adapun akar permasalahan yang merupakan pemicu kekesalannya ini adalah Larangan membangun Mushola di Kampung Kodok Tabanan Bali beberapa waktu lalu.

Sedikit penasaran ingin tau seperti apa sih ‘update status’ yang dimaksud dan seperti apa profile orang yang bersangkutan, sayapun segera meluncur ke akun Profile sang bintang baru, JulianTo Madura.

Seorang pria tanggung dengan hisapan rokok ditangan kiri tampak jelas di foto yang terpasang, tanpa baju atas tampaknya. Berdasarkan informasi tambahan yang ada, Mas JulianTo Madura ini merupakan alumnus siswa SMU TP45 Tabanan Tahun 1994 (entah yang dimaksudkan merupakan Angkatan 1994 atau Lulusan 1994). Keliatannya BeLiau ini baru saja membuat dan bergabung di akun FaceBook. Hal ini saya simpulkan lantaran history yang ada pada wall atau dinding yang bersangkutan masih sedikit adanya.

Sedari awal ‘update status’ yang dilontarkan rata-rata mengeluhkan situasi dan keadaan sekitarnya yang masih diramaikan suasana Pilkada Tabanan. Buktinya ada hujatan yang ditujukan pada pasangan calon Bupati Eka-Jaya yang diplesetkan menjadi (Maaf) Eka Janda. Bang JulianTo Madura juga mengeluhkan perihal pelarangan pembangunan Mushola di wilayah Banjar Tegal Delodan Tabanan dan kemudahan pembuatan KTP yang pada akhirnya mensyaratkan pemilihan oknum tertentu. Tanggapan yang disampaikan jelas saja sangat beragam. Ada yang menyetujui ‘jalan dan pola pemikirannya’ tersebut sebaliknya ada juga yang memilih untuk berseberangan.

Yang menarik adalah melihat daftar teman yang ia miliki beberapa merupakan akun (kemungkinan tidak resmi atau Tim Sukses) calon Bupati yang maju pada Pilkada Tabanan kemarin. Ada juga terlihat beberapa rekan Warga Bali yang kemudian memberikan tanggapan juga saran atas ‘Update Status’ yang dilontarkan.

Menanggapi ilustrasi diatas, Pertama secara pribadi saya menganggap bahwa apa yang disampaikan oleh yang bersangkutan, JulianTo Madura hanyalah setaraf obrolan warung kopi yang seharusnyalah tidak ditanggapi secara serius. Walaupun saya yakin ini adalah satu diantara sekian banyak suara arus bawah yang tak puas dengan kondisi sekitarnya, dan itu adalah wajar.

Kedua, apa yang disampaikan oleh mas JulianTo Madura merupakan satu provokasi yang cukup kita sikapi secara bijak dan duduk bersama. Tidak perlu sampai membuat ribut antar agama, suku dan ras. Apalagi sampai membuat Grup Usir JulianTo Madura dsb. Tinggal menghubungi aparat setempat, hubungi yang bersangkutan dan pecahkan semua masalah.

Ketiga, saya sangat menyesalkan hal-hal yang seperti ini terjadi lagi di sebuah jejaring sosial pertemanan dunia maya, FaceBook. Apalagi pasca kasus Ibnu Farhansyah dan Evan Brimob kemarin. Karena hal-hal seperti inilah yang berpotensi menyulut anggapan masyarakat bahwa FaceBook patut diharamkan. Padahal bukan FaceBook-nya yang salah namun oknum yang menyalahgunakannya.

Keempat, saya kira kita tinggal menunggu waktu saja hingga masalah seperti ini muncul ke permukaan dan media. Karena tidak setiap orang memiliki pemikiran untuk mengabaikannya.

Ngomong-ngomong soal beginian, rupanya diawal bulan Mei Lalu diluaran ada juga kasus serupa. Update Status seorang Mahasiswa ITB Dzulkiflry Imadul Bilad dari Program Studi Kimia yang menjelek-jelekkan saudara kita yang berada di Papua pasca yang bersangkutan menonton pertandingan Persib – Persipura. Informasi terkait ada di BLog milik Soleno disini dan Vivanews disini. walah… gak kapok-kapoknya…

Tetap bersemangat.