MenKominfo berencana Blokir FaceBook dan Twitter ? OH NOOO

10

Category : tentang TeKnoLoGi

Ada yang menarik dari pidato pak Presiden BeYe di media televisi beberapa waktu lalu. Beliau seakan menyalahkan Media yang ramai memberitakan kisruh di tubuh partainya hanya gara-gara sms dan juga BBM (bukan Bahan Bakar Minyak, tapi BlackBerry Messenger :p) yang dmengaku sebagai nazaruddin, bomber suap yang kini berada di negeri antah berantah.

Salah satu Buntut dari pidato pak BeYe tersebut adalah munculnya keinginan pak Tif MenKominfo kita yang senang berpantun lewat akun twitternya itu, untuk mengontrol bahkan memblokir media jejaring sosial seperti FaceBook atau Twitter yang kerap bahkan di luaran digunakan sebagai salah satu sarana paling mashyur untuk menggulingkan pemerintahan. Lihat saja Mesir dan Libya, begitu pula Malaysia.

Namun agaknya Beliau lupa bahwa tidak semua orang memanfaatkan kedua akun jejaring sosial tersebut secara negatif bahkan ekstrem. Apabila kemudian benar Beliau melakukannya, maka bersiap-siaplah bagi semua Rekan yang kini telah merasakan banyak manfaat positif dari kedua media jejaring sosial tersebut.

FaceBook maupun Twitter merupakan salah satu sarana yang paling ampuh untuk berpromosi. Baik itu untuk menjajakan barang dagangan yang berupa ponsel dan gadget terkini (walau kebanyakan bodong alias Tukang Tipu), Kebaya dan asesoris wanita (lirik-lirik Istri) atau bahkan buku, Novel dan tabloid terbaru seperti yang dilakukan Leutika, Tabloid Sinyal dan Pulsa.

Selain berdagang berdagang dan berbisnis, kedua media jejaring sosial tersebut merupakan sarana paling ampuh untuk berkomunikasi, dan tentu saja berinteraksi antar dua, tiga bahkan seribu orang dalam satu waktu. Bayangkan berapa biaya yang diperlukan apabila aktifitas ini dilakukan via video conference, voice call, sms atau bahkan kopi darat atau bersua langsung ?

Bahkan ada juga yang memanfaatkan kedua media tersebut secara 100% Positif untuk membangun persahabatan, rasa persaudaraan bahkan untuk meneruskan informasi apabila ada hal-hal yang harus disampaikan untuk mewujudkan satu event tertentu. Reuni misalkan.

Sekedar Informasi bahwa Reuni Alumni SMAN 6 denpasar Angkatan 1992 yang dilakukan pada April 2010 lalu, murni merupakan buah positif akan keberadaan media jejaring sosial FaceBook sehingga koordinasi antar alumni dapat erat tetap terjaga, apapun media komunikasi yang digunakan. Juga Reuni Alumni SMAN 6 Denpasar 25 Tahun yang sedianya dilakukan 25 Juli mendatang.

Demikian halnya dengan rentetan kegiatan Yowana Paramartha Warga Pande dari sekedar berkumpul dalam jumlah terbatas hingga terbentuknya wadah organisasi di tiap kabupaten dan tentu saja wujud nyata partisipasi para anggotanya merupakan buah positif dari keberadaan dua media tersebut.

…dan meski bersifat tidak resmi, dua akun Twitter yang mengambil nama sebuah institusi pendidikan Pariwisata di Nusa Dua dan juga lembaga yang mengelola layanan Pengadaan secara elektronik Pemkab Badung, berusaha mengudara untuk memberikan berbagai informasi yang sedianya berguna bagi masyarakat ataupun mereka yang membutuhkannya.

Jadi tidak selamanya loh yang namanya pemanfaatan media jejaring sosial itu akan selalu bersifat negatif. Dan kalau benar bakalan diBlokir… oh Nooo… jangan sampai deh Pak MenKom…

Nge-KopRoL yuk ?

20

Category : tentang TeKnoLoGi

Satu-satunya hal yang ada dalam benak saya ketika orang meributkan soal KopRoL adalah sebuah aksi dalam olahraga masa sekolah menengah pertama dahulu yang sangat saya gemari, tapi tidak demikian dengan kebalikannya. :p Istilah KopRoL bagi saya pribadi belakangan begitu menarik perhatian. Ini gara-gara saya mencoba FourSquare beberapa waku lalu, yang kemudian ditanggapi seorang teman dan mencoba untuk meracuni saya dengan KopRoL yang satu ini.

KopRoL merupakan situs pertemanan atau yang dikenal dengan jejaring sosial sejenis FourSquare, jejaring yang berbasiskan lokasi. Jika pada awalnya penggunaan FourSquare dibatasi hanya untuk 100 kota diseluruh dunia, KopRoL sendiri ditujukan hanya untuk kota-kota di Indonesia. Fungsi utamanya adalah memberitahukan lokasi sesama pengguna KopRoL serta menghubungkan penggunanya yang secara kebetulan berada ditempat yang sama. Yang perlu dicatat adalah KopRoL merupakan jejaring sosial ‘made in Indonesia’ asli loh.

Adalah Satya Witoelar, seorang sarjana Arsitektur lulusan Universitas Parahyangan Bandung angkatan 1999 yang ternyata menjadi aktor dibalik kelahiran KopRoL. Terhitung pada bulan Juli 2008, Satya bersama rekan-rekannya membuat sebuah proyek sampingan situs pertemanan dan meluncurkannya secara resmi pada Februari 2009 melalui PT SkyEight Indonesia. Ide KopRoL ini kabarnya diperoleh dari gabungan tiga konsep jejaring sosial, Twitter dengan lifestream model-nya, Plurk dengan sistem komentarnya dan Brightkite dengan sistem lokasinya.

Yang makin bikin kagum, pada 25 Mei 2010 lalu, Yahoo memutuskan untuk mengakusisi KopRoL dengan nilai yang tidak disebutkan jumlahnya. Salah satu alasannya adalah lantaran kecanggihan layanan berbasis lokasi yang diamini Yahoo! lebih baik ketimbang Foursquare. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan bagi pengguna yang memiliki akun email diluar Yahoo seperti Gmail, Rocket, Telkom hingga pandebaik.com pun :p masih tetap bisa mendaftar sebagai pengguna KopRoL.

Ngomong-ngomong soal ‘kecanggihan KopRoL dibandingkan FourSquare, saya rasa ada benarnya kok. Lihat saja opsi ‘update status’ yang disini dikenal dengan istilah Post. Selain bisa dikomentari seperti halnya Twitter dan juga FaceBook, disaat melakukan aktifitas Post tersebut, KopRoL memberikan opsi tambahan pada pengguna untuk memasukkan foto atau video yang dapat digunakan untuk menguatkan ‘status si pengguna sedang berada dimana. Kedua hal tersebut tentu saja tidak dapat dilakukan oleh FourSquare sejauh ini. Meski demikian, pengguna tetap bisa melakukan Virtual Check-in (meminjam istilah Mbak Anita), satu aktifitas fiktif yang mengatakan bahwa pengguna sedang melakukan check-in disatu tempat padahal yang sebenarnya sedang berada dirumah. Hal ini sama dengan opini saya terkait FourSquare tempo hari.

Ada kelebihan, tentu ada kekurangan dong ? Ada lah… tapi ini dalam pemahaman saya loh ya. Dibandingkan FourSquare, untuk melakukan opsi ‘add place’ dalam arti memasukkan lokasi baru, pengguna baru tidak serta merta mampu melakukan penambahan seperti halnya pengguna baru di akun FourSquare. Hal ini pula yang agak menyulitkan saya untuk melakukan Check-in di satu tempat yang spesifik (www.pandebaik.com) yang saya yakini belum ada dalam daftar. Kalaupun kemudian memaksakan masuk kedalam satu tempat yang barangkali masih seluas kabupaten (Denpasar, Badung dsb), rasanya kurang afdol. Hehehe… kabarnya opsi ‘add place’ ini bakalan muncul setelah pengguna melakukan aktifitas Check-in atau menggunakan Koprol dalam rentang waktu tertentu. Walah…

Sayangnya lagi, ketika melakukan pencarian atau memasukkan sebuah nama lokasi yang umum, hasil pencarian yang tampil pada halaman KopRoL ini terbagi atas beberapa halaman yang kadang sangat menyulitkan pengguna untuk memilih lokasi yang tepat. Apalagi jika koneksi yang digunakan saat itu sedang mengalami gangguan, selain butuh waktu untuk menanti, perpindahan halaman demi halaman pun akan terasa memberatkan. Hal ini jelas jauh berbeda dengan FourSquare yang menyajikan hasil pencarian dalam satu halaman memanjang.

Jika dalam FourSquare terdapat istilah Badge, Major, Venue dan Shout, di dalam penggunaan KopRoL ada dikenal istilah Followers (istilah untuk pengguna lain yang mengikuti perkembangan akun pengguna yang bersangkutan -pengikut), Following (istilah untuk pengguna lain yang dipilih oleh pengguna yang bersangkutan untuk diikuti perkembangannya -mengikuti), Entourage (istilah diantara pengguna yang dianggap sudah akrab dan dekat), Commented (istilah tulisan atau komentar yang diberikan oleh pengguna lain pada post pengguna yang bersangkutan) dan Mentioned (istilah tulisan atau post dari pengguna lain yang mengikutkan nama pengguna yang bersangkutan). Bagi mereka yang sudah kadung akrab dengan Twitter, saya rasa tidak akan menemukan banyak kesulitan dalam penggunaan KopRoL ini, lantaran sebagian besar istilah diatas mengadopsi istilah yang kerap digunakan pada jejaring sosial si burung biru ini.

Seperti halnya FourSquare, KopRoL agaknya belum mampu meninggalkan begitu saja peran jejaring sosial lainnya seperti FaceBook dan Twitter, dimana pengguna KopRoL dapat melakukan pengaturan terkait ‘apakah Post yang mereka tuliskan akan ditembuskan pada kedua jejaring sosial ini atau tidak. Sayangnya, saat mencoba memanfaatkan fitur ‘tembusan’ ini, akun saya sempat mengalami kesulitan dalam menghubungkan KopRoL dengan akun FaceBook yang saya miliki. Padahal pada saat yang sama, tidak terjadi masalah saat mencoba menghubungkannya dengan akun Twitter. Kesulitan ini baru terpecahkan beberapa hari kemudian, dimana pada akhirnya tombol yang digunakan untuk mengakses akun FaceBook bisa muncul juga pada tampilan layar.

Main FourSquare yuk ?

32

Category : tentang TeKnoLoGi

Jangan marah atau Jangan pula mencoba membayangkan sebuah adegan erotis yang didapatkan kalo satu ketika satu dua teman Anda mengajak Check-in di FourSquare. Jangan pula membayangkan bentuk mainan persegi empat mirip Rubik’s Snake ketika seorang teman mencoba menawarkan hal yang sama pada Anda. Karena yang dimaksud dengan FourSquare saat ini adalah sebuah jejaring sosial layaknya FaceBook atau Twitter yang sudah dikenal publik lebih dahulu, dengan berbasiskan Lokasi.

FourSquare yang dibuat oleh Dennis Crowley dan Naveen Selvadurai ini memperkenalkan sebuah layanan pertemanan yang kelak bakalan memfamiliarkan istilah Check-in pada setiap penggunanya (konotasi yang terdengar buruk bagi sebagian besar PNS negeri ini) dan juga Shout. Istilah terakhir kurang lebih sama dengan istilah ‘Update Status’ milik FaceBook ataupun ‘Tweet’ milik si burung biru Twitter.

Sayangnya selama saya mencobanya dua minggu terakhir ini, yang namanya Shout tidak dapat dikomentari oleh teman yang dimiliki seperti halnya kedua istilah lain milik FaceBook dan Twitter. Kata senior saya Putu Adi Susanta, seorang Radiografer Rumah Sakit Sanglah sekaligus BLogger mantap, justeru inilah keunikan FourSquare, tidak ada fasilitas tukar menukar pesan antar teman. Jujur, keterbatasan ini lumayan membuat saya seperti mengalami Autis karena meskipun sudah merasa terhubung dengan jejaring sosial namun tidak ada tanggapan apapun. :p Tapi tunggu, mengingat basis FourSquare adalah update status di lokasi terkini, fitur ini dapat digunakan sebagai ajang ngumpul pengguna FourSquare yang secara kebetulan berada pada tempat dan waktu yang sama. Asyik bukan ?

FourSquare juga dapat digunakan untuk mencari tempat nongkrong apabila sedang berada di satu tempat yang baru pertama kali dikunjungi. Ketikkan saja alamat ataupun nama lokasi pada kolom ‘Check-in’ dan FourSquare akan memberikan beberapa tempat alternatif terdekat yang sudah didaftarkan lebih dulu oleh pengguna lainnya, ditambah sedikit tips gambaran terkait tempat tersebut. Jadi ya gak perlu susah-susah untuk mencari tahu.

Mencoba bermain FourSquare bukan berarti harus meninggalkan jejaring sosial yang selama ini dimiliki loh, karena dalam opsi Pengaturan-nya terdapat fasilitas untuk menghubungkan akun FourSquare dengan akun jejaring sosial lainnya seperti FaceBook dan Twitter. Hal inilah yang kemudian memungkinkan teman lain untuk ikut serta memberikan komentar atau tanggapan atas aktifitas ‘Check-in’ yang dilakukan sebelumnya.

Secara tampilan, FourSquare punya dua versi yang dapat diakses oleh setiap pengguna yaitu versi lengkap atau web (arahkan ke foursquare.com) dan versi mobile (m.foursquare.com atau foursquare.com/mobile). Untuk melakukan aktifitas Check-in dan Shout saya sarankan untuk mengakses yang versi mobile agar tidak membingungkan, sedangkan yang versi lengkap atau web untuk melakukan aktifitas yang lebih luas seperti meng-editing info dan peta lokasi (dikenal dengan istilah Venue), mencari dan menerima permintaan pertemanan serta pengaturan profil yang dipandang perlu.

Ketika bermain lebih jauh dengan FourSquare, pengguna akan mulai mengenal istilah Major yang akan diperoleh ketika pengguna melakukan aktifitas Check-in minimal dua kali di tempat yang sama. Untuk gambaran terkait istilah Major ini barangkali bisa dibaca lebih lanjut di radioGrafer.net milik blogger mantap sekaligus senior saya Putu Adi yang kiranya jauh lebih mendalam dan mudah dipahami.

Ada juga istilah Badge yang akan diberikan ketika pengguna melakukan aktifitas di FourSquare selama waktu tertentu. Newbie diberikan pada saat pengguna melakukan Check-in pertama sebagai tanda keberhasilan atau kurang lebih menandakan tanggal dan lokasi bergabung seorang pengguna. Local diberikan ketika pengguna melakukan aktifitas check-in minimal tigal kali ditempat yang sama dalam waktu satu minggu. Super User diberikan bagi pengguna yang aktif melakukan check-in sebanyak minimal tiga puluh kali dalam satu bulan atau kurang. Explorer untuk pengguna yang melakukan aktifitas check-in di dua puluh lima tempat yang berbeda, dan masih banyak lagi. Sejumlah Poin akan diberikan pada pengguna setiap kali melakukan perpindahan tempat check-in, pendaftaran lokasi (venue) baru, kunjungan pada lokasi yang sudah terdaftar maupun kembali pada tempat yang sama.

Terkait lokasi, kabarnya pada saat peluncuran perdana di tahun 2009 lalu FourSquare hanya dapat digunakan dalam keterbatasan 100 (seratus) wilayah metro diseluruh dunia. Baru pada bulan Januari 2010 FourSquare mengubah model lokasi yang memungkinkan setiap pengguna melakukan aktifitas check-in dari lokasi manapun diseluruh dunia.

Sayangnya (lagi-lagi), untuk melakukan aktifitas check-in (yang akurat dan dapat dipercaya), FourSquare tidak dilengkapi dengan fitur kompas atau minimal peta yang terhubung dengan satelit untuk mencari tahu posisi pengguna berada secara realtime dan terkini. Hal ini sebenarnya dapat menutup kemungkinan bahwa seorang pengguna melakukan aktifitas check-in secara asal (baca:mengarang atau mengira-ngira) dengan harapan ‘ingin tetap terlihat eksis dimata teman lain’. Saya pribadi sempat mencobanya dengan melakukan check-in di satu tempat yang lokasinya berada jauh dari lokasi sebenarnya. Proses berjalan lancar walaupun seumpama apabila diusut secara jarak jangkauan dan waktu yang diperlukan, akan terlihat bahwa aktifitas check-in yang saya lakukan bakalan terlihat mustahil. Tapi ya siapa yang tahu ? toh FourSquare bukanlah satu hal yang patut ditanggapi secara Serius dan berlebihan, bukan ?