Pagi di Singapura

Category : tentang PLeSiran

Matahari belum menampakkan wajahnya saat aku terbangun dari tidur. Padahal Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Di jam yang sama Kota Denpasar sudah terang benderang memaksa semua kepala segera mandi dan berkemas pergi.

Usai membersihkan badan, tampaknya beberapa kawan sudah mulai menceburkan diri ke kolam renang yang kebetulan ada di belakang kamar 401 sampai 405. Di pojokan lantai yang sama terdapat pula ruang kecil berisikan tiga alat Gym dan treadmill. Dan di sisi yang berlawanan terdapat perosotan mini tempat bermain anak-anak.

Singapura PanDe Baik 9

Beberapa Notifikasi Whatsapp masuk. Suara Mirah dan Intan, dua putri kami terdengar nyaring seperti biasanya meminta oleh-oleh dan menanyakan kapan pulang. Lalu berpamitan untuk pergi ke sekolah dengan diantar Ibunya. Rutinitas yang biasanya aku lakukan bersama Intan.

Kopi Tora Bika sudah habis kuteguk. Waktupun sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Waktunya sarapan.

Selamat Pagi Bunaken

Category : tentang PLeSiran

Hari ini kami memutuskan untuk menyeberang, mengunjungi salah satu obyek wisata terdekat di Sumatera Utara, hanya setengah jam menggunakan boat, delapan orang penumpang sekali jalan.

Cuaca tampak cerah. Ombakpun terlihat tenang dari pinggir dermaga. Setelah menyetujui harga, kamipun melaut.

Menikmati wisata air macam begini, tentu banyak kekhawatiran yang mampir dalam pikiran. Tapi setelah dibuang jauh-jauh, semua maha karya inipun bisa melewatkan waktu dengan cepat.

Bunaken, kami datang…

Bunaken PanDeBaik6

Perairan tampak begitu jernih dari atas kapal, di kejauhan beberapa lumba-lumba pun berloncatan di sekitar kami. Makin gag sabar ingin merasakan dinginnya pantai.

Bersyukur beberapa perlengkapan menyelam di laut dangkal bisa didapatkan dengan size yang terbesar. Baik baju karet maupun sepatu kataknya. Hanya kaget ketika tahu bahwa kaca selam rupanya menutupi hidung. Maka jadilah musti mendengarkan short course dari rekan Gianyar yang tampaknya sudah jauh lebih mahir menghadapi kegiatan begini.

Karena gag bisa berenang, saya lebih memilih untuk berjalan kaki diatas terumbu karang. Keputusan yang sulit tentu saja. Yang ada malahan beberapa kali terjatuh dan mengakibatkan lecet dan berdarah di 9 titik kedua kaki. Perihnya ampun dah.

Tapi sudah kepalang basah, liburan memang tetap harus dijalankan dan dinikmati mumpung disini. Sempat mengabadikan diri lewat beberapa gambar baik diatas maupun bawah air bersama ikan. Pengalaman pertama yang menakjubkan.

Bunaken kalo secara peta yang saya lihat berada di sisi utara pulau Sulawesi. Dengan bernegosiasi harga, rute bolak balik perairan dari Manado menuju Bunaken bisa sekitar 1 jutaan, yang kalo dibagi per kepala jatuhnya ya murah juga. Suasana khas yang ada mirip di pesisir Sanur atau Kedonganan.

Bagi kawan yang ingin main kesitu, jangan lupa bawa kamera anti air agar bisa mengabadikan pemandangan bawah laut. Namun jika tidak ingin repot, kamera dan pemandunya bisa didapat dengan biaya tambahan 350rb per 100 gambar, yang nantinya ditransfer ke bentuk cd.

Khusus yang ingin menikmati wisata bawah air, kalo bisa siapkan peralatan bilas seperti handuk, sabun maupun shampoo, juga perawatan luka kecil sperti kapas, betadine dan lainnya mengatisipasi lecet akibat terlalu akrab dengan karang. Penduduk setempat memang menyediakan semua itu jika mau, namun harganya ya dua kali lipat mengingat lokasi yang cukup jauh dari kota.

Kalau tidak salah hitung, dengan jumlah 8 kepala menghabiskan biaya sekitar 3 juta untuk semua beban diatas tersebut. Sudah termasuk transportasi ke dan dari hotel plus makanan kecil penunda lapar.

Jadi pengen menyelam lagi. Tapi kapan yah ? :p

From GA653 to GA606

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Penerbangan GA606 tujuan Manado sepertinya baru bisa take off sekitar pukul 7.30 pm waktu Jakarta. Molor sejam dari jadwal yang tertera pada tiket. Waktu yang lama sebenarnya. Alasannya sih karena ramainya lalu lintas udara di Bandara Soekarno Hatta hingga pilot memutuskan untuk menunda keberangkatan.

Kabin diramaikan rombongan remaja Korea yang sedang liburan sekolah. Di sebelah sayapun duduk dua diantaranya yang tampak lelah dan tertidur dengan lelapnya, dengan posisi yang mesra *uhuk *sementara mata ini belum jua merasakan kantuk hingga sayapun memilih untuk menulis *ah mengetik di perangkat ponsel sembari menunggu kapal ini diterbangkan. Belum ada tanda-tandanya.

Gag banyak yang berubah dari Bandara Soekarno Hatta dari sejak awal saya melakoni penerbangan. Berbeda dengan Ngurah Rai yang per tadi siang rupanya penerbangan domestik dipindah ke area yang dahulunya difungsikan sebagai penerbangan internasional. Padahal waktu saya melawat ke Batam, posisi keberangkatan masih ada di sisi timur dekat gerbang masuk bandara. Dan untuk mencapai Gate 1C (yang kemudian dipindah ke Gate 2), penumpang diharuskan mengakses jarak yang lumayan jauh. Apalagi diselingi dengan salah baca tiket *duh *sempat nyasar ke Gate 6 (baca tiket GA606 Gate F6).

Melintasi area menuju ruang tunggu kami disajikan area penjualan yang menarik hati. Hebat benar tukang desain interiornya, bathin saya. Jadi merasa kecil hati jika ingat dengan pendidikan yang saya jalani selama 5 (lima) tahun di kampus dulu, yang kalau didaulat untuk membuat desain macam begini, dijamin jauh jadinya.

Oke deh… pesawat sudah bersiap untuk take off. Saya out dulu dari sini. Nanti lanjut lagi.

Selamat Tinggal Kota Batam

2

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang PLeSiran

Ah… akhirnya tiba juga jadwal keberangkatan pesawat Garuda Indonesia yang kutunggu-tunggu sejak pukul 12 siang tadi. Waktu yang panjang dan melelahkan, mengingat gag banyak aktifitas yang bisa dilakukan. Tidur misalkan.

dan ketika sudah berada di ruang tunggu Gate A3 Bandara Hang Nadim Batam dengan waktu kurang lebih 1,5 jam kedepan, rasanya sih gag masalah lagi. Terpenting malam ini, kita pulang. Meskipun perkiraan destinasi sampai di Kota Denpasar, pukul 01.00 dini hari. Jalani saja…

rps20140913_183718

Bersyukur selama di Batam, saya melalui banyak kemudahan ketika beraktifitas. Bertemu dengan seorang senior dari Dinas Pekerjaan Umum Kota Denpasar, Bapak Agus Sudarmo, pula seorang kawan lama yang tidak saya kenal sebelumnya lantaran saking kupernya waktu itu, Ibu Dayu Trisuci, Kepala Seksi Permukiman dari dinas yang sama, berasal dari satu almamater, anak Teknik Udayana angkatan 95 yang biasa-biasa saja *uhuk* jadi bisa melewatkan waktu yang akhirnya berjalan sedemikian cepatnya.

Perkenalan ini membawa kami pada cerita keluh kesah yang sama, yaitu terkait pemerasan dari media abal-abal, yang notabene hingga hari ini kasus kami, masih harus diproses oleh pihak aparat setempat. Semoga nanti Tuhan menunjukkan jalan-NYA bagi kami agar bisa memutarbalikkan rencana jahat ini. Semoga yah…

Kemudahan lainnya ya tentu saja aktifitas yang dilakoni di luar jam pertemuan, rasanya sih gag banyak hambatan mengingat secara budaya, kami masih berada dalam satu wilayah meski belakangan baru sadar jika pak Agus, kawan sekamar saya ini merupakan semeton Muslim yang berasal dari Banjar Ulun Uma Desa Gulingan Kecamatan Mengwi. Lokasi yang familiar tentu saja.

Bersyukur, memang hal mutlak yang selalu saya tanamkan pada diri setiap kali menghadapi kesulitan. Setidaknya saya akan sedikit terhibur akan keadaan atau kondisi yang mendesak, tidak tertekan atau kebingungan yang berlebih saat menghadapinya. Seperti halnya masa menunggu tadi yang sejak siang hari dilakoni.

Pula untuk pak Djefri yang rupanya masih berstatus seorang staf, dan kehadirannya di Kota Batam ini dalam rangka mewakilkan Kasatkernya, yang berhalangan hadir. Obrolan yang meski berdurasi terbatas, namun secara manfaat minimal bisa melewatkan masa menunggu yang bisa saja membosankan tadinya. Thanks a lot pak…

Terakhir, bersyukurnya ya karena hingga hari ini, saya masih dikaruniai kesehatan yang baik dari Beliau diatas sana, padahal sehari sebelum keberangkatan, flu sempat menyerang, demikian halnya dengan panas dalam, dan jerawat yang menyakitkan. Pula gigi kanan atas yang terasa senut senut pun harus dihantam Puyer Bintang Toedjoe malam itu juga. dan ternyata Semua sirna saat beraktfitas disini. Jadi bisa sedikit fokus menjalaninya.

Pun untuk Istri yang senantiasa menemani telpon dan whatsappku selama berada jauh, yang dengan tabahnya menjaga anak-anak, semoga nanti bisa mendatangkan kebaikan untuk calon si kecil ya Bu…

Yah, waktu keberangkatan kami menuju Jakarta pun makin mendekati. Jadi yah lewat tulisan terakhir ini, saya sampaikan Selamat Tinggal Kota Batam. Senang bisa bermalam dan menikmati suasanamu. Semoga kelak kami bisa berkunjung lagi, bersama Keluarga tentu saja. Doakan yah…

Menunggu Akhir Perjalanan di Kota Batam

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang PLeSiran

Matahari ternyata sudah tinggi saat kamar 289 kutinggalkan dalam kondisi berantakan. Sementara perut sudah mulai keroncongan minta diisi. Tapi aku masih saja meragu di kursi panjang lobby hotel sambil memikirkan rencana berikutnya, mengingat waktu yang tersisa masih cukup lama hingga jadwal penerbangan tiba.

Kucoba membuangnya sedikit dengan menulisi blog, tulisan tentang Kota Batam tadi. Sambil mengobrol panjang dengan Satker PIP dari Klaten Yogyakarya, yang mengisahkan betapa banyaknya mereka mendapatkan dana bantuan BLM untuk kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan tahun ini. Rp. 32 Milyar, untuk sekitaran 200an Desa di 15 Kecamatan. Buseeet dah. Malah kini merasa belum apa-apa dibanding kesibukan Beliau mengurusi itu semua. Mih… gimana capeknya yah ?

Rasa lapar makin menggila. Gag ingin kondisi menurun, aku putuskan untuk jalan-jalan sebentar di seputaran hotel, sekedar mencari tempat makan dan juga obat sakit kepala. Lumayanlah, nemu penjual soto ayam di area food court, seberang hotel. Nikmat tentu saja…

rps20140913_164720

Sakit kepala mulai agak berkurang setelah aktifitas jalan-jalan (jalan kaki beneran sambil gendong tas ransel PNPM) dijalani setengah jam lamanya. Keringat mulai muncul, hal langka selama tiga hari berada di Kota Batam yang dingin. Sebutir Bodrex kutelan untuk menghilangkannya. Yah harapan kan boleh saja…

Sekembalinya ke lobby hotel, aku mulai membuang sedikit lagi waktu menunggu untuk membuat Notulen (perjalanan) Pertemuan Regional PNPM Mandiri Perkotaan, ditemani pak Jeffry, Satker dari kota Maluku yang sejak tadi asyik ber-socmed di ponselnya yang sudah mendapatkan penambahan daya di counter penitipan tas, dekat tempat duduk yang kami tempati. Kesamaan nasib membuat kami sepakat menunggui akhir perjalanan Kota Batam di lobby hotel. Sama-sama mendapat jadwal penerbangan dari Garuda Airways pukul 19.05 waktu setempat.

Usai mengirimkan Notulen pada pimpinan, kulanjutkan lagi dengan draft tulisan Jurnal terkait materi Proyek Perubahan Diklat PIM IV dan pula dikirimkan pada coach untuk mengurangi beban pikiran yang sudah menggelayut dari minggu lalu.
Dan hey… sakit kepala tadi sudah hilang rupanya. Pantas saja suasana lobby hotel jadi sedikit lebih cerah. dan gag terasa, waktupun sudah mendekati pukul lima sore. Terima Kasih ya Tuhan…

Sambil bersiap-siap untuk memesan kendaraan menuju bandara, aku sempatkan lagi mampir ke tempat penjualan oleh oleh untuk mencarikan buah tangan bagi kedua orang tuaku yang sepertinya jarang sekali kubelikan sesuatu tiap kali tugas dinas keluar kota. dan biarlah, aku gag membeli apa-apa untuk diri sendiri, terpenting ada untuk mereka yang kucintai. Rasanya sudah cukup memuaskan dengan semua pengalaman dan kisah yang kujumpai di Kota Batam ini.

Kisah yang tertinggal dari Kota Batam

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang PLeSiran

Hujan mengguyur deras saat aku tiba di Batu Besar, bandara Hang Nadim kamis pagi lalu. Perjalanan panjang dari Kota Denpasar terhapuskan oleh dingin, mulai menembus dua lapis baju yang kukenakan sejak pagi. dan jalanan mulai dipenuhi genangan air bercampur tanah merah yang berserakan di tepi jalan. Lahan baru yang masih bisa berkembang lebih jauh lagi.

Tidak banyak objek wisata yang ada di pulau ini. Orang hanya menjadikan Batam menjadi tempat transit sebelum menyeberang ke Singapura, surga belanja bagi para wanita.

Meski demikian, bagi yang minim dana, Batam rasanya sudah cukup memuaskan sebagai tempat perburuan oleh oleh Rasa Singapura. Dari tas, cokelat ataupun makanan khas yang ada di seberang, diimpor pula ke Batam. Termasuk diantaranya souvenir dan baju kaosnya. Sayangnya disini gag ada background yang bisa dipakai untuk foto fake, hanya untuk memastikan status sedang berada di Singapura. *uhuk

rps20140913_120741

Kota Batam, kalo gag salah liat sih gag terlalu luas wilayahnya. Untuk bisa muter-muter sekedar menghabiskan waktu, dua jam rasanya sudah cukup lumayan bisa menjangkau sudut satu ke lainnya. Asal jangan menetap terlalu lama.

Batam Centre, lokasi Hotel Harmoni One yang kami tempati selama Pertemuan, merupakan areal dimana kantor Pemerintahan, gedung DPRD dan Lapangan berada. Ini semacam kawasan perkantoran Renon kalo lagi jalan di Bali. Minim tempat hiburan dan perbelanjaan.

Jika sasaran kalian adalah yang terakhir tadi, bisa mampir di kawasan Nagoya. Tempat dimana perburuan oleh-oleh hingga ganti olie bisa dilakukan. Ya, ini mirip kawasan Pattaya-nya Thailand, namun masih tergolong sepi untuk ukuran hiburan. Hanya minus Cewek KW-nya. Sedang untuk lokalisasi (terselubung), bisa mampir di daerah pinggiran kota. Itupun jika kalian mau.

Lingkup Kota Batam, gag jauh beda dengan Kota Denpasar. Hanya disini sudah mengijinkan gedung tinggi, yang jumlahnya belum sepadat Jakarta. Beberapa lahan masih tampak lengang dari bangunan, bahkan ada juga beberapa bangunan yang sudah terbangun strukturnya, terlihat ditinggal pergi pengerjaannya.

Bagi para Abdi Negara, Kota Batam merupakan salah satu destinasi terfavorit selain Bali. Tentu saja karena kemudahannya untuk melakukan penyeberangan ke Singapura yang hanya memanfaatkan tranportasi Ferry, dalam waktu singkat. Bahkan ada juga satu travel yang menunggui kami selama masa Pertemuan, menawarkan liburan sehari ke ke Singapura, dari pukul 6.00 pagi waktu setempat hingga pk.21.00 di drop kembali ke Hotel asalnya. Kalo gag salah biayanya kisaran 800-900ribuan.

Kalo planningnya begini, biasanya sih sesi kegiatan dimampatkan penyelesaiannya sehari sebelumnya, sehingga hari terakhir bisa digunakan untuk jalan-jalan. Begitu pula kalau perjalanan berlaku di Bali dan destinasi lainnya di Indonesia. Tahu jadwal studi PNS yang dari Malang itu kan ? Lagi rame tuh di Media Sosial, termasuk tweet si akun @kurawa dalam kaitannya dengan dugaan penyimpangan dana yang dilakukan menteri ESDM, pak Jero Wacik kemarin.

Tapi perjalanan menyeberang gag bakalan asyik kalo dilakoni sendirian. Yah, misi saya ke Batam kan memang diutus sendirian ? Mending ditunda dan memilih nanti aja dengan Keluarga jika ada Rejeki. Lebih bisa dinikmati dan berharga.

Pukul 19.05 nanti, penerbangan Garuda GA 159, bakalan mengantarkan saya balik ke Kota Denpasar. Tentu saja ya transit dulu di Jakarta. Bakalan lebih panjang dan melelahkan tentunya, mengingat kini saya telah duduk di kursi panjang lobby hotel pasca check out pukul 11.50 tadi. Nah sambil menanti 6 jam lamanya, ada saran agenda kemana yang bisa saya kunjungi ?

Termenung di Kota Batam

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang PLeSiran

Bersyukur hari ini gag ada agenda penting lagi yang harus dilakoni sehingga tidur bisa jadi sedikit lebih panjang dari biasanya, dan tanpa perlu terburu-buru dengan kewajiban harian layaknya dirumah.

Pagi, 13 September 2014, kamar 289 Hotel Harmoni One, Batam Centre.

Baru saja tersadar, bahwa seharian kemarin, rupanya kelupaan, gag ada meninggalkan pesan sedikitpun di blog ini padahal janji di tulisan sebelumnya selalu berusaha untuk melaporkan kisah dari Kota Batam selama mengikuti Pertemuan Regional bagi Satker dan PPK Provinsi, Kota dan Kabupaten untuk kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan yang dimulai hari kamis kemarin.

Puyeng… dan capek juga ternyata. Seharian duduk dan mendengarkan pemaparan. Berbeda dengan kegiatan kantor yang bisa dikatakan, jarang bisa duduk dengan tenang seharian penuh. Bisa sih sebenarnya, kalau mau kabur dari acara dan berkeliling Kota Batam atau malah menyeberang ke Singapura lebih awal, tapi apa nurani bisa setega itu, mengingat yang namanya posisi Satker baru saja dipegang, meski secara Keputusan belum resmi ditandatangan, sehingga banyak hal yang belum dipahami.

Ini hari ketiga saya berada di Kota Batam. diluar rencana menyeberang ke Singapura, untuk perburuan oleh oleh bagi saudara dan kawan kantor pun sudah dilakoni kemarin malam. Beberapa kemasan kacang campur, cokelat dan bolu pisang, sudah tersimpan rapi di koper besar, sedikit mengembang ketimbang saat tiba kamis pagi kemarin. Untuk Istri dan Ibu, ada tas kecil yang dijadikan buah tangan, semoga saja berkenan nantinya. Sedang si kecil, ada dua kotak cokelat lucu yang bisa dinikmati nantinya. Dimana didalamnya ada karakter princess kesukaan mereka berdua. Yang tinggal jadi masalah adalah untuk bapak-bapak dan ponakan cowok. Ini mau dibawakan apa coba ? *meh tambah puyeng… malahan yang untuk sendiri juga jadi males nyarinya. Kayaknya cukup dengan pengalaman dan tulisan ini saja…

rps20140913_094005

Kota Batam mirip dengan Kota Denpasar, tempat tinggal yang ngangenin. Gedung tinggi memang ada, namun belum sepadat Jakarta. Lingkungannya pun gag jauh beda, hanya soal bahu jalan di seantero kota masih dihiasi tanah merah yang meluber hingga ke jalan aspal dan mengakibatkan genangan kotor saat diguyur hujan tempo hari.

Dilihat dari lantai 6 Hotel Harmoni One, posisi terpantau masih dekat dengan garis pantai/laut. Disekitarnya banyak lahan mangkrak atau tak terurus dan dalam jangka panjang potensi menimbulkan penyakit jika tak dibersihkan. Mungkin jika kalian memiliki dana lumayan besar, bisa ikut berinventasi disini.

Waktu menunggu yang tersisa masih lumayan lama. Kalo dihitung-hitung antara jadwal penerbangan dengan jam check out hotel, masih tersisa kisaran 5-6 jam untuk dihabiskan berjalan-jalan seputar Batam, tapi agak susah mengingat adanya koper bawaan yang harus ikut pula dibawa berkeliling. Dan kalopun mau dibawa menyeberang ke Singapura, rasanya waktu tersebut gag bakalan nutup, khawatir disitu cuma numpang kencing trus balik lagi… jadi ya sudahlah… semoga nanti ada ide yang muncul untuk melewati hari. Entah melanjutkan penulisan Jurnal untuk tugas Diklat, mampir-mampir kemana di seputaran bandara, atau mungkin ya… ngeblog lagi melanjutkan kisah yang tersisa di Kota Batam. Siapa tahu ?

Liburan Lebaran bagai di Labirin

Category : tentang PLeSiran

Ehem… judul diatas sih sebenarnya agak aneh untuk diambil, tapi memang perjalanan kali ini beneran aneh kalo dipikir-pikir. Liburan saat libur Lebaran yang kalo diumpamakan jadi mirip Labirin, nyari jalan muter-muter untuk nyari destinasi akhir, pulang ke rumah, meski dalam prosesnya musti mampir kemana-mana dulu. Hehehe…

Hari pertama rutenya sederhana. Berenang (atau lebih tepatnya ‘nyemplung, karena gag bisa renang) di kolam renang Segara Madu Canggu, miliknya bapak Wakil Bupati Badung terpilih masa jabatan 2014-2015, Made Sudiana. Yang main air cuma bertiga, saya, mirah dan adiknya, intan. Awalnya sih kedua putri saya itu agak takut saat diajak nyemplung kolam anak-anak 60 cm, tapi langsung ketagihan di menit ke-30. Bahkan saking gag mau berhentinya, si Intan sampe kedinginan dengan bibir yang membiru. Duuuh… dan Mirah, senang bukan main saat mengalahkan rasa takutnya untuk perosotan luncuran pendek meski sempat terlihat kaget saat nyebur ke air. Hehehe… musti dijagain nih anak baru beraninya muncul :p

rps20140730_072216

Usai berenang, kami gag punya planning lanjutan. Akhirnya memilih beristirahat di rumah Mertua dan membiarkan sesama orang tua bercengkrama. Saya sendiri memilih rebahan di lantai sambil nonton ‘the Lone Ranger’ di Note 3. Balik sekitar pukul 4 sore, dan perjalanan lanjut ke Pantai Pandawa di daerah Kutuh. Sayangnya macet gag ketulungan. Terjadi sedari depan kantor Desa Kutuh sampai lepas perempatan. Milih balik pulang setelah liat jam sudah menunjukkan setengah enam sore. Awalnya sih diarahkan ke jalan besar menuju Bali Cliff, tapi melihat situasinya bakalan macet juga, saya lalu memutar ke arah Kampial dan pulang melalui Jalan Tol. Kami akhirnya makan malam di Ayam Trinity Renon, setelah beberapa tempat makan langganan yang disambangi pada tutup.

Rencana hari pertama, selesai. Kami sepakat bakalan lanjut hari kedua ke Bali timur. Karangasem…

Berangkat dari rumah sekitar pukul 10an. Tujuan cuma satu, Kota Karangasem, mengunjungi adik sepupu yang PKL di Rumah Sakit Karangasem, satu jalur dengan Kantor Bupati dan gedung DPRD.

Perjalanan menuju lokasi sih aman tenteram, meski agak was was juga melihat situasi jalanan yang dipenuhi masyarakat dengan agenda pengabenan masal di wilayah Ulakan dan Manggis. Berhubung ini satu satunya jalan yang ada ke/dari Denpasar, maka untuk balik sebenarnya sudah diusahakan sedapat mungkin sebelum pk.1 siang. Tapi fakta berkata lain.

rps20140730_072012

Kami terjebak macet sedari CandiDasa hingga Ulakan dan pertigaan Manggis dengan total durasi mencapai 2 jam lamanya. Mih… kaget juga. Itu saja kami sudah berusaha kabur melalui jalan alternatif di tengah bukit milik warga. Bahkan saking bingungnya gag tau arah, perjalanan kami mirip menelusuri Labirin.

Ada lima sampai tujuh kendaraan yang bergabung dalam usaha kabur kali ini. Dengan pemimpin kendaraan Touring DK 1665 yang ternyata sempat nyasar juga. Bersyukur ditengah ketersesatan kami didalam areal bukit, ada beberapa warga yang berinisiatif mengantarkan kami ke jalan besar. Dimana destinasi pertama berada di pertigaan banjar Ulakan yang masih jua tampak macet tanpa ampun, lalu memaksa kami menuju destinasi kedua melalui jalan (tepatnya gang), yang secara lebar hanya pas untuk satu kendaraan roda empat model Touring atau Avanza. Syukurnya lagi, gag ada kendaraan roda empat dari arah yang berlawanan. Gag terbayang deh kalo itu terjadi.

Target kami untuk makan siang di warung Pesinggahan Klungkung sebenarnya sekitar pk.13.30, tapi bergeser ke 15.00 lantaran nyadar terjebak macet dan baru terealisasi sekitar pk.16.00. Itupun setelah berhasil kabur dari kemacetan. Gag tahu deh kalo musti menunggui macet tadi…

Perjalanan pulang pun akhirnya dilakoni dengan santai di sepanjang by pass Ida Bagus Mantra, tanpa ada perubahan planning untuk mampir-mampir lagi. Nyampe rumah, langsung tepar deh…