Termenung di Kota Batam

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang PLeSiran

Bersyukur hari ini gag ada agenda penting lagi yang harus dilakoni sehingga tidur bisa jadi sedikit lebih panjang dari biasanya, dan tanpa perlu terburu-buru dengan kewajiban harian layaknya dirumah.

Pagi, 13 September 2014, kamar 289 Hotel Harmoni One, Batam Centre.

Baru saja tersadar, bahwa seharian kemarin, rupanya kelupaan, gag ada meninggalkan pesan sedikitpun di blog ini padahal janji di tulisan sebelumnya selalu berusaha untuk melaporkan kisah dari Kota Batam selama mengikuti Pertemuan Regional bagi Satker dan PPK Provinsi, Kota dan Kabupaten untuk kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan yang dimulai hari kamis kemarin.

Puyeng… dan capek juga ternyata. Seharian duduk dan mendengarkan pemaparan. Berbeda dengan kegiatan kantor yang bisa dikatakan, jarang bisa duduk dengan tenang seharian penuh. Bisa sih sebenarnya, kalau mau kabur dari acara dan berkeliling Kota Batam atau malah menyeberang ke Singapura lebih awal, tapi apa nurani bisa setega itu, mengingat yang namanya posisi Satker baru saja dipegang, meski secara Keputusan belum resmi ditandatangan, sehingga banyak hal yang belum dipahami.

Ini hari ketiga saya berada di Kota Batam. diluar rencana menyeberang ke Singapura, untuk perburuan oleh oleh bagi saudara dan kawan kantor pun sudah dilakoni kemarin malam. Beberapa kemasan kacang campur, cokelat dan bolu pisang, sudah tersimpan rapi di koper besar, sedikit mengembang ketimbang saat tiba kamis pagi kemarin. Untuk Istri dan Ibu, ada tas kecil yang dijadikan buah tangan, semoga saja berkenan nantinya. Sedang si kecil, ada dua kotak cokelat lucu yang bisa dinikmati nantinya. Dimana didalamnya ada karakter princess kesukaan mereka berdua. Yang tinggal jadi masalah adalah untuk bapak-bapak dan ponakan cowok. Ini mau dibawakan apa coba ? *meh tambah puyeng… malahan yang untuk sendiri juga jadi males nyarinya. Kayaknya cukup dengan pengalaman dan tulisan ini saja…

rps20140913_094005

Kota Batam mirip dengan Kota Denpasar, tempat tinggal yang ngangenin. Gedung tinggi memang ada, namun belum sepadat Jakarta. Lingkungannya pun gag jauh beda, hanya soal bahu jalan di seantero kota masih dihiasi tanah merah yang meluber hingga ke jalan aspal dan mengakibatkan genangan kotor saat diguyur hujan tempo hari.

Dilihat dari lantai 6 Hotel Harmoni One, posisi terpantau masih dekat dengan garis pantai/laut. Disekitarnya banyak lahan mangkrak atau tak terurus dan dalam jangka panjang potensi menimbulkan penyakit jika tak dibersihkan. Mungkin jika kalian memiliki dana lumayan besar, bisa ikut berinventasi disini.

Waktu menunggu yang tersisa masih lumayan lama. Kalo dihitung-hitung antara jadwal penerbangan dengan jam check out hotel, masih tersisa kisaran 5-6 jam untuk dihabiskan berjalan-jalan seputar Batam, tapi agak susah mengingat adanya koper bawaan yang harus ikut pula dibawa berkeliling. Dan kalopun mau dibawa menyeberang ke Singapura, rasanya waktu tersebut gag bakalan nutup, khawatir disitu cuma numpang kencing trus balik lagi… jadi ya sudahlah… semoga nanti ada ide yang muncul untuk melewati hari. Entah melanjutkan penulisan Jurnal untuk tugas Diklat, mampir-mampir kemana di seputaran bandara, atau mungkin ya… ngeblog lagi melanjutkan kisah yang tersisa di Kota Batam. Siapa tahu ?

Liburan Lebaran bagai di Labirin

Category : tentang PLeSiran

Ehem… judul diatas sih sebenarnya agak aneh untuk diambil, tapi memang perjalanan kali ini beneran aneh kalo dipikir-pikir. Liburan saat libur Lebaran yang kalo diumpamakan jadi mirip Labirin, nyari jalan muter-muter untuk nyari destinasi akhir, pulang ke rumah, meski dalam prosesnya musti mampir kemana-mana dulu. Hehehe…

Hari pertama rutenya sederhana. Berenang (atau lebih tepatnya ‘nyemplung, karena gag bisa renang) di kolam renang Segara Madu Canggu, miliknya bapak Wakil Bupati Badung terpilih masa jabatan 2014-2015, Made Sudiana. Yang main air cuma bertiga, saya, mirah dan adiknya, intan. Awalnya sih kedua putri saya itu agak takut saat diajak nyemplung kolam anak-anak 60 cm, tapi langsung ketagihan di menit ke-30. Bahkan saking gag mau berhentinya, si Intan sampe kedinginan dengan bibir yang membiru. Duuuh… dan Mirah, senang bukan main saat mengalahkan rasa takutnya untuk perosotan luncuran pendek meski sempat terlihat kaget saat nyebur ke air. Hehehe… musti dijagain nih anak baru beraninya muncul :p

rps20140730_072216

Usai berenang, kami gag punya planning lanjutan. Akhirnya memilih beristirahat di rumah Mertua dan membiarkan sesama orang tua bercengkrama. Saya sendiri memilih rebahan di lantai sambil nonton ‘the Lone Ranger’ di Note 3. Balik sekitar pukul 4 sore, dan perjalanan lanjut ke Pantai Pandawa di daerah Kutuh. Sayangnya macet gag ketulungan. Terjadi sedari depan kantor Desa Kutuh sampai lepas perempatan. Milih balik pulang setelah liat jam sudah menunjukkan setengah enam sore. Awalnya sih diarahkan ke jalan besar menuju Bali Cliff, tapi melihat situasinya bakalan macet juga, saya lalu memutar ke arah Kampial dan pulang melalui Jalan Tol. Kami akhirnya makan malam di Ayam Trinity Renon, setelah beberapa tempat makan langganan yang disambangi pada tutup.

Rencana hari pertama, selesai. Kami sepakat bakalan lanjut hari kedua ke Bali timur. Karangasem…

Berangkat dari rumah sekitar pukul 10an. Tujuan cuma satu, Kota Karangasem, mengunjungi adik sepupu yang PKL di Rumah Sakit Karangasem, satu jalur dengan Kantor Bupati dan gedung DPRD.

Perjalanan menuju lokasi sih aman tenteram, meski agak was was juga melihat situasi jalanan yang dipenuhi masyarakat dengan agenda pengabenan masal di wilayah Ulakan dan Manggis. Berhubung ini satu satunya jalan yang ada ke/dari Denpasar, maka untuk balik sebenarnya sudah diusahakan sedapat mungkin sebelum pk.1 siang. Tapi fakta berkata lain.

rps20140730_072012

Kami terjebak macet sedari CandiDasa hingga Ulakan dan pertigaan Manggis dengan total durasi mencapai 2 jam lamanya. Mih… kaget juga. Itu saja kami sudah berusaha kabur melalui jalan alternatif di tengah bukit milik warga. Bahkan saking bingungnya gag tau arah, perjalanan kami mirip menelusuri Labirin.

Ada lima sampai tujuh kendaraan yang bergabung dalam usaha kabur kali ini. Dengan pemimpin kendaraan Touring DK 1665 yang ternyata sempat nyasar juga. Bersyukur ditengah ketersesatan kami didalam areal bukit, ada beberapa warga yang berinisiatif mengantarkan kami ke jalan besar. Dimana destinasi pertama berada di pertigaan banjar Ulakan yang masih jua tampak macet tanpa ampun, lalu memaksa kami menuju destinasi kedua melalui jalan (tepatnya gang), yang secara lebar hanya pas untuk satu kendaraan roda empat model Touring atau Avanza. Syukurnya lagi, gag ada kendaraan roda empat dari arah yang berlawanan. Gag terbayang deh kalo itu terjadi.

Target kami untuk makan siang di warung Pesinggahan Klungkung sebenarnya sekitar pk.13.30, tapi bergeser ke 15.00 lantaran nyadar terjebak macet dan baru terealisasi sekitar pk.16.00. Itupun setelah berhasil kabur dari kemacetan. Gag tahu deh kalo musti menunggui macet tadi…

Perjalanan pulang pun akhirnya dilakoni dengan santai di sepanjang by pass Ida Bagus Mantra, tanpa ada perubahan planning untuk mampir-mampir lagi. Nyampe rumah, langsung tepar deh…

Liburan Kami dalam gambar #2

Category : tentang KHayaLan

image

image

image

image

Liburan yang mengasyikkan… semoga nanti bisa diwujudkan lagi di lain lokasi…

Liburan Kami dalam Gambar

2

Category : tentang KHayaLan

Berikut beberapa gambar yang bisa dibagi saat menjalani liburan bersama keluarga di Bedugul… have Fun…

image

image

image

image

gambar yang lain nanti menyusul yah…

Tips Ringan berkunjung ke Thailand

Category : tentang PLeSiran

Setelah mencatat satu persatu pengalaman selama berada di Bangkok dan Pattaya, Thailand, kini giliran Tips ringan kalo kelak kawan berkesempatan berkunjung kesini. Akan tetapi, tips ini bukanlah yang terbaik loh yah. Mungkin kalo mau dikombinasi dengan tips dari blog lain pun wokeh.

Pertama, gag usah bingung dengan kondisi Thailand. Entah karena berada dalam satu benua, demografi dan geografi nya sih gag jauh beda dengan situasi Indonesia. Baik cuaca, panasnya, juga lingkungannya. Kalopun boleh disetarakan, di pusat Kota Bangkok itu mirip Jakarta, sedang pinggirannya juga mirip Denpasar, namun jauh lebih bersih. Sedang Pattaya, lebih mirip Kuta-nya Bali. Jadi, kalopun disini jarang menggunakan Jaket, ya gag usah repot bawa jaket lagi lah, kecuali kalo gag tahan dinginnya AC pesawat, bus atau kamar hotel *uhuk

Kedua, mungkin bagi kawan yang agak ragu untuk ber-English ria, bakalan merasa khawatir terkendala Bahasa. Namun jangan khawatir, kalopun nanti bersua dengan pedagang, untuk melakukan tawar menawar bisa menggunakan Kalkulator yang biasanya dipegang mereka, baik dalam hitungan Baht ataupun Rupiah. Bahkan tidak jarang, ada juga pedagang yang sudah mahir Bahasa Indonesia, meski dalam logat mereka. Namun ini jauh lebih memudahkan.

Tips Thailand PanDe Baik 1

Ketiga, urusan transaksi lebih mengutamakan Baht. Jadi kalo bisa, silahkan tukarkan sejumlah bekal di Money Changer terdekat, atau tukeran dengan si Tour Guide yang biasanya punya rate lebih mahal. Kalopun mau, bisa juga dituker dalam bentuk Dollar, yang sifatnya jauh lebih universal. Namun agak susah kalo mau belanja di pasar Tradisional. Sedang Rupiah, sifatnya lebih terbatas, meski ada juga yang mau menerima.

Tips keempat, siapkan mental untuk berburu Kuliner khas Thailand. Disini dari segi rasa, lebih banyak asamnya ketimbang rata-rata selera di Indonesia. Bisa jadi lantaran lebih banyak menggunakan bantuan Nenas atau Jeruk sebagai tambahan racikannya. Agak aneh sebenarnya, namun bagi yang sudah familiar dengan sayur Asem, barangkali gag bakalan masalah. Sedang mental yang tadi saya sarankan, yaitu untuk mencoba masakan lain yang pula khas disini, antara lain Sate Celeng, Kerang, Bekicot, Belalang, Ular, Cumi, Gurita kecil, Kelabang, Buaya hingga Tikus. Untuk yang berukuran kecil biasanya disajikan dalam bentuk utuh dalam satu tusukan, sedang yang berukuran besar, anggap saja lagi makan sate ayam *uhuk *sempat merinding pas nyobain sate Kelabang, Gurita dan Buaya. Sedang Tikusnya gag nemu-nemu. Harga kisaran 20 Baht, atau 6 ribuan per tusuk dengan porsi besar.

Kelima, siapkan mental juga seandainya bersua Cewe seksi KW 1. Jangan langsung bernapsu pengen deketin, karena kabarnya ada yang sudah berganti senjata sehingga kalo pengen mencoba barangkali bisa melupakan sejenak versi originalnya, sedang yang masih mempertahankan bentuknya pun ada. Jangan sampai main anggar :p

Tips keenam, bawa dan gunakan kamera Digital dengan kapasitas memori besar. Ada banyak obyek foto yang bisa diambil disini. Baik budaya, transportasi, lingkungan, kuil hingga cewe KW tadi, yang akan sangat disayangkan jika memory kamera dalam kondisi full saat dibutuhkan. Kalopun kamera gag mendukung memori besar, lakukan perubahan ukuran gambar hingga 3 MP saja sudah cukup untuk cetak foto ukuran 4R. Akan tetapi, jangan coba-coba menggunakan kamera di sesi ‘no camera please’ macam BigEye yah, kalo gag mau disita… :p

Ketujuh, jangan lupa mencoba sarana Transportasi umum seperti yang sebelumnya diceritakan. Mumpung disini semua sudah dioptimalkan, siapa tau kelak nanti jadi Anggota DPR, pilihan KunKer atau jalan-jalan ke Thailand kan bisa dicoret lebih awal *uhuk

Tips Thailand PanDe Baik 2

Kedelapan, persoalan Charger ponsel ataupun Tablet, gag usah dikhawatirkan, karena memang masih mampu mengakomodir bentukan charger lokal. Yang perlu dibawa barangkali cuk T, biar bisa nampung lebih banyak colokan dalam sekali charge :p

Kesembilan, persoalan Operator, coba konsultasikan lebih dulu ke provider yang digunakan, cara mengaktifkan Roaming dan Data diluar Negeri. Kalo pake XL kabarnya sih langsung bisa, tanpa perlu aktivasi. Sedang Simpati, musti diubah pas lagi berada di Indonesia. Lain aktivasi, lain lagi paketan iNet nya. Lantaran disini masih tergolong mahal, untuk menyisasti paket iNet, saya menggunakan tarif reguler tanpa paket, namun berbicara lewat text via Whatsapp. Jadi jauh lebih murah jatuhnya.

Dan Tips terakhir, atur emosi saat memanfaatkan bekal uang yang dibawa. Karena disini, banyak hal yang unik dan menarik hati untuk dibeli sebagai oleh-oleh. Baik souvenir, baju, perhiasan, kuliner hingga cewek KW nya. :p Jangan sampai malah kekurangan bekal saat jelang kepulangan nanti.

Nah, kira-kira, segitu Tips Ringan dari saya yah… *mau balik jagain MiRah niy

Menikmati Hiburan Kota Pattaya

Category : tentang PLeSiran

Terakhir kali saya menyaksikan pertunjukan Elephant Show atau atraksi Gajah barangkali sekitar setahun lalu, tepatnya saat wisata anak TK Lokasari ke Bali Zoo di Singapadu. Itupun kalo gag salah hanya berjalan-jalan di seputaran kebun binatang tanpa ada pertunjukan hiburan yang melibatkan segudang gajah dengan keahlian mereka.

Dan terakhir kalinya saya menikmati hiburan alam plus segala rupa fasilitasnya barangkali sekitaran dua tiga tahun lalu. Tepatnya saat menginjakkan kaki di Jatim Park, atau dua dekade lalu saat Taman Bali Festival Padang Galak baru saja diresmikan.

Pattaya adalah Kota Malam-nya Thailand. Kurang lebih begitu sebutan yang disampaikan Tour Guide kami kali ini. dilengkapi dengan sejuta gambaran menarik perihal hiburan yang dapat dinikmati. Dari pertunjukan kabaret yang terkenal bertajuk Alcazar, rekreasi keluarga Nong Nooch Paradise, hingga pertunjukan ‘no camera please’ ala BigEye yang kabarnya di-Legalkan oleh pemerintah setempat.

Pattaya sendiri kelihatan seperti wilayah Kuta, saya kira. Penuh dengan pub, cafe, dan arena pertunjukan yang siap menghibur wisatawan dengan berbagai tawaran yang menarik. Bedanya, jika Kuta lebih banyak dipenuhi oleh cewe bule berbikini yang melenggang bebas di sepanjang jalan, Pattaya agak-agak mengkhawatirkan, mengingat yang hadir disini adalah versi KW nya. Dari kualitas nomor satu hingga yang begitu mudah dikenali dalam sekali tatap.

Hebatnya, Trans Gender disini sepertinya didukung penuh oleh Pemerintah dan masyarakatnya, sehingga ya gag heran kalo mereka kemudian diberdayakan untuk tampil dalam satu pertunjukkan Kabaret penuh warna yang sangat mengagumkan. Dikemas dalam beberapa sesi, Alcazar show mampu menyedot sekitaran seribu penonton sekali tampil.

Dipadu dengan tata lampu yang megah, backdrop yang indah dan penampilan para bintang yang wah, melengkapi semua bayangan yang selama ini hanya bisa dinikmati melalui layar kaca atau rekaman film kelas hollywood ternama.

Ini jelas jauh berbeda dengan semua gambaran yang diberikan oleh banyak teman perihal hiburan malam di Pattaya, yang rata-rata berbau tiga huruf, S-E-X. SEX atau Seks tentu saja.

Pertunjukan Kabaret Alcazar show sepertinya memang dibuat sedemikian seriusnya, terutama saat melihat pergantian backdrop dan detail yang ditampilkan dalam setiap sesi, membuat tepuk tangan makin membahana saat semua penampilan usai. Yang paling membuat hati terkesan, salah satunya saat penampilan budaya China dan Thai pula Jepang dan lainnya. Sayang minus budaya Indonesia. :p
Termasuk penampilan dua karya yang tak asing bagi telinga, Cindai nya Malaysia dan Gangnam Style nya Korea.

Bagi pengunjung yang berminat untuk menonton penampilan mereka di rumah, bisa dilakukan via keping DvD yang dijual sekitar 300an Baht di akhir pertunjukan. Pula berfoto bersama dengan membayar uang lelah 20 Baht, diluar gedung Alcazar Show.

Pattaya Alcazar PanDe Baik

Apabila pertunjukan Alcazar masih belum memuaskan hasrat dan fantasi para wisatawan di Kota Malam Pattaya, bisa melirik ke BigEye, satu penampilan yang menyajikan tiga huruf tadi secara vulgar, tanpa malu-malu dan uniknya, sangat diminati oleh ratusan bahkan ribuan pengunjung dalam sekali waktu. Dari tiket masuk yang diterima kalo gag salah ingat sekitaran 5000 Baht atau satu setengah juta rupiah, sangat besar jika dibandingkan dengan biaya yang harus dibayarkan peserta Rombongan.

Sesi penampilan para bintang, murni mengandalkan (maaf) kelamin yang dipamerkan sedemikian rupa, tanpa penutup dan penonton dapat berinteraksi langsung jika mau dan tanpa malu. Itu sebabnya, usai beraktifitas di panggung depan, mereka langsung menghampiri barisan penonton secara acak, untuk memberikan bukti bahwa tontonan kali ini, free to use :p

Sajian yang hadir secara berulang setiap jamnya di BigEye ini, tak ubahnya seperti menonton Film BF, Bilm Ferjuangan, secara langsung, Live dan penonton dapat pula berinteraksi dengan para aktor dan aktrisnya. Meski demikian, tak sedikit pula yang tampak Munafik, lari dari ‘kunjungan dadakan’ para aktor dan aktris, yang menghampiri dan mengijinkan tangan penonton untuk memegang atau mengeksekusi, lekuk tubuh maupun (maaf) kelamin yang dipamerkan. Padahal mereka mau dan gag malu untuk menontonnya secara langsung. *uhuk

Meski sajian BigEye tergolong sangat Vulgar, namun minat para penontonnya sangat hebat, dibuktikan dengan antrean yang mengular hingga keluar gedung. Tua muda, ibu ibu, bapak bapak, pasangan kekasih hingga mirisnya, anak-anak usia SD pun tampak menikmati penampilan mereka. Cukup bikin geleng-geleng kepala jadinya.

Apalagi keVulgaran mereka ditambah pula dengan aksi gila lainnya, seperti memukulkan (maaf) Penis yang sudah mengeras seperti batu ke gendang kecil secara berkala, meniup terompet dari (maaf) lubang Vagina, atau striptease dengan memanfaatkan tiang menjulang tinggi, dan aksi Kamasutra dengan berbagai Gaya.

Kabarnya sih, masyarakat lokal gag diijinkan untuk ikutan menonton, jadi diperuntukkan hanya bagi turis asing saja. Bisa jadi alasan ini untuk mencegah terjadinya ‘hey, itu kan teman saya… ‘loh ? Keponakan saya ternyata punya (maaf) kelamin yang sekeras batu toh ? *kan repot kalo seumpama ada yang kemudian mengenal bahkan melaporkan sang aktor/aktris ke FPI. *eh

Jika Alcazar ataupun BigEye menyajikan ciri khas Kota Malam ala Pattaya, tidak demikian halnya dengan Nong Nooch Paradise yang rasanya jauh lebih pantas untuk dinikmati bersama keluarga.

Thailand 21 Jan 13 220

Disini hampir semua atraksi dan juga hiburan seperti yang disebut di awal tadi bisa dinikmati sepanjang hari tanpa khawatir kehabisan waktu. Namun jika dilihat dari map dan ketersediaan venue yang ada, sepertinya memang tak akan cukup untuk dijajal dalam waktu sehari penuh.

Main Gate dimana pengunjung diturunkan rupanya berada di area Parkir satu, yang langsung menyajikan live show budaya Kota Pattaya dan Thailand, tanpa pungutan atau bayaran lagi. Namun berbeda dengan Alcazar, baik tata panggung, tempat duduk hingga artistik lainnya seakan diminimalisir, hanya sajian panggungnya saja yang barangkali bisa disejajarkan.

Usai menonton Live Show, pengunjung bisa menikmati atraksi Gajah yang digelar di belakang panggung pertama, dengan arena yang cukup luas untuk menampung barisan pasukan Gajah dan para pawangnya.

Di sekitaran area lain, terdapat beberapa bukit berbunga buatan, patung jagung, rumah semut raksasa, hingga altar layaknya digunakan untuk tempat pernikahan. Semua tertata begitu rapi dan indah, di bidang seluas 652 are ini. Cukup luas bukan ?

Sayangnya, liburan kali ini cukup singkat untuk bisa mengeksplorasi puluhan hiburan yang ada disini. Akan tetapi, tunggu saja catatan berikutnya.

Mengagumi Budaya dan Obyek Wisata Kota Bangkok

Category : tentang PLeSiran

Berdasarkan penjelasan dari Tour Guide kami, penduduk di kota Bangkok atau negeri Thailand masih didominasi oleh masyarakat yang beragama Buddha. Itu sebabnya di sepanjang perjalanan, baik di tengah kota, median jalan hingga pinggiran dan pelataran rumah, banyak ditemui adanya patung berhala *eh maaf* yang dihias begitu indah dan megah serta dipuja dan dihormati, baik sebagai sarana Bhakti pada-NYA ataupun dikemas menjadi icon pariwisata untuk menarik jutaan wisatawan dari penjuru Dunia. Tidak bisa dibayangkan jika kemudian FPI sampai berkuasa disini, yakin banget kalo semua patung dan juga monumen yang ada, bakalan dihancurleburkan rata dengan tanah lantaran dianggap haram…

Lokasi pertama yang diperkenalkan adalah Reclining Buddha atau Buddha Tidur. Disini ada banyak cerita yang dinikmati lewat ornamen dan juga lukisan yang mengisahkan perjalanan Sang Buddha dengan perwajahan yang sangat menarik. Demikian halnya dengan pilar-pilar raksasa yang ada, dipenuhi pola unik yang jujur saja sulit untuk dilukiskan kekaguman yang ada.

Patung Buddha Tidur, kabarnya terbuat dari semen yang dilapisi dengan kertas emas. Berukuran sekitar 46 m x 15 m sehingga bagi pengunjung yang ingin mengabadikan gambar secara keseluruhan, dibutuhkan trik dan lokasi pengambilan di ujung kaki Sang Buddha.

Untuk masuk ke area Reclining Buddha, pengunjung diwajibkan untuk membuka alas kaki serta menggunakan jubah berwarna Hijau, serta tidak diijinkan menduduki beberapa ornamen yang sengaja dipajangkan disini.

Menjelang akhir pintu keluar, terdapat 108 mangkok yang dapat diisi dengan keping koin berukuran kecil dimana telah disediakan oleh pihak Pengelola dengan dalih sumbangan sebesar 20 Baht atau lebih. Entah ini hanya merupakan kepercayaan saja, namun jika jumlah Koin yang dipegang hingga akhir mangkok masih tersisa, maka rejeki yang dimiliki pun bisa bertambah jumlahnya. Untuk itu pula saya mengambil dua mangkok berisikan Koin lalu mulai mengisikannya satu persatu. *uhuk *dan mengambil beberapa diantaranya sebagai Souvenir *uhuk dua kali :p

Obyek Wisata berikutnya dapat diakses melalui jalur transportasi Air, tepatnya melalui Sungai Chao Phraya, dimana untuk masuk mencapai gerbang keberangkatan perahu boat, sempat pula melewati beberapa pedagang Tradisional yang diantaranya menyajikan minuman Sari Delima seharga 30 Baht atau sekitar 10 ribu rupiah saja.

Wat Arun, merupakan salah satu Landmark Kota Bangkok yang berbentuk candi layaknya Prambanan, dengan tiket masuk sekitar 50 Baht. Disini terdapat beberapa Candi yang dibuat dan disusun dengan menggunakan ornamen porselin China, dimana salah satunya memiliki tinggi sekitar 79 Meter. Demi memuaskan hasrat untuk menikmati Wisata Budaya Kota Bangkok lebih jauh, candi inipun menjadi daftar pertama yang harus dijajal ketinggiannya. Maka dengan mengumpulkan sejumlah tenaga, satu demi satu tangga dilalui meski dengan kemiringan yang cukup curam. Satu hal yang jika boleh dikatakan, tidak sesuai dengan standar keamanan bangunan Arsitektur. *uhuk

Puas menjajal empat level ketinggian Candi Wat Arun, aksi pun dilanjutkan dengan mengelilingi masing-masing level sebanyak tiga kali putaran, dengan dalih Murwa Daksina hingga akhirnya terengah-engah sendiri saat perjalanan berakhir di level terbawah. *fiuh

Wat Arun panDe Baik

Obyek wisata terakhir yang sempat dikunjungi adalah Khao Chee Chan, dimana terdapat gambar Buddha terbesar yang terpahat pada lereng tebing dengan berlapiskan warna emas, dihiasi danau dan taman batu di kaki tebing tersebut. Berbeda dengan dua obyek wisata yang disebut sebelumnya, disini tak banyak yang bisa dinikmati kecuali taman dan perbukitan layaknya Obyek Wisata Bedugul di Tabanan Bali.

Yang membuat Budaya Thailand menjadi lebih unik untuk dinikmati oleh para wisatawan mancanegara adalah kebanggaan mereka menggunakan tulisan dan Bahasa Thai sebagai penunjuk utama, baik nama jalan, toko, hingga hal lainnya dalam ukuran Besar, diikuti dengan bahasa Inggris di bagian bawah berukuran kecil diperuntukkan bagi para wisatawan yang tidak mampu membaca bahasa mereka.

Mencicipi Transportasi Umum Kota Bangkok

2

Category : tentang PLeSiran

Jika jalur udara sudah dilewati dengan masa perjalanan selama 4 jam lamanya, saat meluncur dari Bandara Ngurah Rai ke Kota Bangkok, dan jalur darat dengan memanfaatkan Bus milik Travel selama 4 hari berputar-putar menikmati kota dan Budayanya, tiba saatnya untuk mencoba jalur transportasi lainnya yang bisa jadi gag kami temukan di Kota Kelahiran Denpasar Bali.

Menumpang perahu boat panjang berkapasitas 20an orang, transportasi air ini dapat digunakan untuk menikmati sejumlah obyek wisata yang ada di sepanjang sungai Chao Praya. Sensasi seperti ini memang bisa dinikmati saat melakukan penyeberangan ke Nusa Penida, tepatnya pada perahu penghubung dari kapal Cruise ke pulau, namun jelas tastenya yang berbeda. Di areal perairan tampak beberapa perahu sejenis lainnya yang menghantarkan para wisatawan untuk mampir ke beberapa obyek wisata lainnya, hingga menikmati jalur bawah jembatan penghubung dua kota di negeri Thai ini.

Awalnya saya pikir MRT itu singkatan dari Mono Rail Trem, kereta dengan satu rel yang mengelilingi seantero wilayah Kota, sebuah istilah yang baru saya kenal saat menonton video Kampanye pasangan Jokowi – Ahok tahun 2012 lalu. *uhuk

Nyatanya, jelas-jelas saya salah menduga. MRT itu tepatnya singkatan dari Metropolitan Rapid Transit, yang merupakan sarana transportasi masal yang beroperasi dari satu stasiun ke stasiun lainnya secara berulang, dalam waktu yang cukup cepat.

MRT Thailand PanDe Baik

MRT di Kota Bangkok sendiri, harus melewati sebanyak 18 stasiun sejauh 27 kilometer dengan jumlah penumpang mencapai 240.000 setiap harinya. Terdapat dua jalur yang sejalan namun berlawanan arah dapat digunakan untuk mengakses sejumlah lokasi di seantero wilayah Bangkok. Saat mencobanya, sebenarnya gag jauh beda dengan suasana Bus Trans Sarbagita di Kota Denpasar atau Bus Penghubung di areal Bandara, hanya ini jauh lebih cepat saja.

Sedang transportasi terakhir yang sempat dicoba, tentu saja Tuk Tuk. Sejenis Bajaj di kepulauan Jawa, sarana yang kerap digunakan kalangan menengah ke bawah untuk mengakses lokasi tertentu dalam jarak yang dekat dan cepat. Bedanya dengan Bajaj, Tuk Tuk bersuara lebih nge-Bass dan berkapasitas lebih lega.

Liburan Singkat ke Thailand

3

Category : tentang PLeSiran

Jalanan sepanjang Kota Denpasar menuju Bandara Ngurah Rai siang itu sebenarnya gak macet-macet amat, namun perjalanan kali ini cukup memakan waktu sedikit lebih lama ketimbang biasanya. Panasnya matahari di jumat siang berbaur dengan debu proyek yang dikebut di persimpangan Patung Dewa Ruci, cukup menambah mual perasaan yang sudah kadung kangen dengan tiga bidadari padahal belum lama ditinggalkan.

Berharap waktu bisa berjalan cepat, hingga 4 hari yang akan datang bisa terlewati tanpa beban. Kali ini bukan lagi Tanah Jakarta yang diinjak, tapi bagian bumi lain yang begitu bangga dengan maskot Gajahnya.

Thailand merupakan salah satu negara yang masih menjunjung tinggi pemerintahan Monarki. Dipimpin oleh raja Rama IX, kondisi kota sebetulnya tidak jauh berbeda dengan Jakarta yang tahun lalu kerap aku kunjungi. Hanya saja jauh lebih bersih dan tertib. Menyusuri jalanan dari bandara menuju tengah kota, aura budaya Thailand sungguh terasa. Rasanya tak jauh beda dengan rumah sendiri yang memang memiliki bentuk nyaris sama. Hanya disini sejauh mata memandang, tetap terlihat gedung pecakar langit layaknya Jakarta.

Dilihat dari segi penataan infrastruktur serta rupa gedung, sempat mengingatkan pada wajah jalan Gajah Mada Denpasar yang memiliki lebar jalan lebih sempit ketimbang Thailand. Namun sekali lagi, wajah sampah tak terlihat menjolok disini.

Masuk ke dalam Kota Bangkok lebih jauh, perbedaan alam dan jalan rayanya mulai terasa dengan Denpasar atau Jakarta.

Thailand PanDe Baik

Hampir tak ditemukan Baliho dan Poster wajah para pejabat, para tokoh atau pemimpin Ormas maupun Korlapnya, beradu ramai mengucapkan Selamat hari ini itu lengkap dengan gaya lebay dan wajah sok sucinya. Yang terlihat disini lebih dominan adalah wajah sang Raja dari masa remaja hingga dewasa dan tua, didesain dalam bentuk monumen kecil ditengah median taman kota, atau gedung dan bangunan tinggi berbalut lapisan warna emas senada. Jadi jauh lebih bersih dan nyaman, baik bagi mata pengunjung atau wisatawan yang menginjakkan kakinya di Thailand maupun bagi masyarakat lokalnya. Berharap sekali, pemerintah Daerah di negeri Bali ataupun Indonesia bisa setegas itu menyikapi semrawutnya baliho ormas ataupun calon pejabat yang alay bin lebay itu.

Jika di Bali, rata-rata penganut agama Hindu memiliki tempat memuja Tuhan dan Dewa Dewinya di pekarangan rumah sendiri, demikian halnya dengan pemeluk Agama Buddha di Thailand. Hampir di setiap rumah yang kami lihat di sepanjang jalan yang dilalui, terdapat satu bentuk bangunan unik dan khas berlapiskan warna emas, sebagai tempat pemujaan mereka sehari-hari. Maka itu, keakraban warna yang ditemui pun makin memberikan rasa nyaman seperti halnya berada di rumah sendiri.

Menghabiskan hari dijalanan Kota Bangkok Thailand rasanya belumlah lengkap jika tak menyentuh sisi kulinernya yang rata-rata memiliki rasa asam dari sumbernya kalo tidak salah sih buah Nenas. Rasa asam ini dapat ditemukan hampir di semua masakan yang disajikan dalam makan pagi, siang maupun malam, kecuali untuk Nasi Putih, Telur dan Lalapan sayur. Maka bisa ditebak, jika sudah tak menyukai rasa masamnya, hanya tiga jenis ini saja yang paling kerap dilirik. Meski ada juga masakan yang di Indonesia memang kerap disajikan dengan rasa asam, maka masakan tersebut bolehlah menjadi pilihan.

Namun sekali waktu saat makan siang, sempat pula disajikan Menu Buffee yang memberikan banyak pilihan termasuk Sushi dan Wasabi asal Jepang. Sayangnya saking edannya rasa Wasabi, sampe gag berani melanjutkan aksi coba kuliner lebih jauh dan memilih menikmati segelas penuh es krim cokelat di tambah kacang merah :p

Balik ke Jalanan kota Bangkok Thailand, entah mengapa gag terlihat satupun Pengemis dan Pengamen yang menghampiri saat berada di persimpangan lampu merah ataupun kawasan wisata Budaya macam Angkor Wat dan lainnya. Ada yang tahu kenapa ?

Jadi hampir seluruh waktu yang dijalani selama Liburan kali ini, bisa dinikmati dengan penuh riang dan suka, karena tak merasa banyak gangguan dari hal yang biasanya bisa ditemukan di seantero kawasan jalan dan wisata Bali. Harusnya pemerintah bisa belajar tentang ini.

Beruntung memang jika keberadaan kali ini di negeri Gajah Putih bisa dilakoni dengan baik dan memuaskan, namun kalopun penasaran bagaimana bisa terdampar disini, tak usahlah diperpanjang asal muasalnya. Terpenting, bagaimana kelanjutan perjalanan yang mampu dicatatkan nanti, tunggu saja yah…

Menikmati Kesendirian Perjalanan Ruas IB Mantra

9

Category : tentang Opini, tentang PLeSiran

Akhirnya kesampean juga nih, bathin saya hari Minggu pagi kemarin. Karena jujur saja, ini pertama kalinya saya berkendara motor melintasi Jalan Ida Bagus Mantra sendirian, padahal pembangunan hingga perbaikannya sudah sejak lama dilaksanakan. Tapi yah begitulah…

Berkendara Motor sesungguhnya kerap saya lakoni saat masih berstatus bujangan dahulu. Masih berlangsung pasca pernikahan hingga akhirnya pindah kantor ke PusPem Badung Sempidi. Jauhnya jarak tempuh yang harus dilalui setiap hari membuat saya mulai berpindah angan. Kijang Jadul yang bertajukkan stiker www.pandebaik.com di kaca depannya pun bolak balik saya bawa hingga berlanjut ke aktifitas lainnya. Praktis sejak saat itu Motor Tiger Silver tahun 98 mulai jarang saya gunakan dan jadi lebih cepat berdebu. Kasian juga nih lama-lama.

Menyusuri jalanan Ida Bagus Mantra sejenak mengingatkan saya pada masa lalu. Masa dimana musti bangun pagi buta untuk berangkat kuliah atau sekedar melampiaskan penat hanya untuk melihat hamparan hijaunya sawah disepanjang perjalanan ke Bedugul. Itu sebabnya motor tak saya pacu dengan kecepatan tinggi.

Meski suasana disepanjang perjalanan tak sesegar nuansa yang dahulu pernah saya lalui, namun apa yang saya nikmati satu persatu dengan pandangan santai tanpa beban tampaknya membawa banyak ide, pertanyaan atau bahkan keheranan. Dari pesatnya pembangunan di kiri kanan jalan raya yang baru usai diperlebar, beberapa diantaranya malah terlihat mangkrak tak bertuan atau hamparan aliran sungai dan sawah yang dahulu saya kangeni membuat rasa jadi tak ingin cepat sampai di tujuan. Padahal dari Status yang terupdate di jejaring sosial dan juga ChatRoom, terpantau rekan-rekan lain malah sudah tiba di lokasi, tempat ngumpul kami kali ini.

Selain itu ada pula perilaku pengendara motor ataupun mobil yang menarik perhatian saya saat melaju. Ketika mereka bersua lampu merah di perempatan jalan, secara cepat dan tergesa kendaraan kemudian dipacu memotong jalur, sedikit memutar di lajur kendaraan yang datang dari arah kiri, terus hingga masuk kembali ke jalur utama didepan. Sangat membahayakan pengendara lain tentu saja. Hanya karena terburu-buru atau memang tak ingin laju terhenti, mereka menerobos jalur yang tak semestinya dilalui.

Sejenak laju motor saya hentikan di parkiran Circle K. Sambil menyeruput segelas kopi panas dan mengunyah Muffin, sayapun menikmati kibaran panji-panji yang berderet di sepanjang pantai Ketewel. Satu persatu layangan aduan naik ke udara dan melambai-lambai diterpa angin. Sungguh saya merindukan saat-saat seperti ini.

Perjalanan saya lanjutkan kembali kali ini dengan kecepatan yang sedikit lebih tinggi. Satu persatu persimpangan dilalui dengan pasti. Hanya saja dengan kecepatan ini, masih jua merasa was-was ketika kendaraan berusaha menyalip laju truk-truk besar yang rupanya hanya mampu berjalan lebih lambat. Khawatir secara mendadak kendaraan yang saya tunggangi selip dan siap dihancurkan roda-roda kokoh atau malahan tersenggol kendaraan dari arah belakang dan sebagainya. Satu ketakutan akan berita media cetak beberapa hari belakangan ini.

Laju kendaraan mulai masuk ke sebuah jalan kecil tembusan menuju Desa Lebih. Sebuah Desa yang sudah sangat familiar bagi mata dan hati. Entah sudah kali keberapa Jalan ini dilalui setiap perjalanan menuju Pasar Senggol Gianyar. Namun dengan berkendara motor, ini jelas yang pertama.

…dan Lokasi tujuan pun telah tampak didepan mata…

Jalan Panjang berangkat Kerja menuju PusPem Badung

9

Category : tentang PLeSiran

Diperlukan waktu sekitar 25 sampai 35 menit setiap paginya untuk bisa mencapai kantor Puspem Badung di hari kerja dari rumah yang berlokasi seputaran pusat Kota Denpasar. Ini artinya apabila jam kerja dimulai sekitar pukul 7.30, saya dan istri maksimal harus sudah berangkat dari rumah sekitar pukul 7.00. Durasi ini jauh lebih panjang dibandingkan ketika kami masih berkantor di jalan Beliton, sebelah barat lapangan puputan Badung.

Untuk bisa mencapai kantor Puspem Badung ada tiga jalur alternatif yang kerap kami lalui setiap harinya. Dari perempatan Monumen Adipura meluncur kearah barat, melalui jalan Yudistira, Arjuna, Gatotkaca, Kartini, Maruti dan perempatan Cokroaminoto – Gatot Subroto. Dari sini ada dua jalur alternatif yang bisa diambil. Lurus ke utara, melewati jalur Ubung – Sempidi yang jaraknya kurang lebih kalo diakumulasikan sekitar 9,5 Km dari rumah. Sedangkan yang kearah barat melalui jalur Kebo Iwa memiliki jarak yang lebih panjang yaitu 10,5 Km. Jalur ketiga dari perempatan Monumen Adipura meluncur kearah timur, melalui jalan Patimura, Suli, Gatot Subroto, Ahmad Yani, Ken Arok tembus Sempidi memiliki jarak kurang lebih sama dengan jalur yang melewati jalan Kebo Iwa.

Ditinjau dari jarak tempuh sebenarnya jalur yang melalui ruas jalan Cokroaminoto Ubung merupakan track terpendek dibandingkan dengan dua jalur lainnya. Namun dengan tingkat kemacetan yang tinggi dan arus lalu lintas yang agak berbahaya. Terutama ketika kendaraan sudah mencapai terminal Ubung dan sekolah Taman Rama. Jalur yang melewati jalan Kebo Iwa secara jarak lebih panjang ketimbang melalui terminal Ubung, selain itu ada 5 (lima) traffic light yang harus dilalui, namun dari segi kemacetan bisa dikatakan sangat jarang terjadi. Demikian pula yang melalui jalur timur.

Waktu tempuh ternyata dipengaruhi juga oleh jam keberangkatan. Apabila berangkat tepat sekitar pukul 7.00 seperti rencana diatas, besar kemungkinan bersua kemacetan di beberapa titik meskipun tidak se-krodit yang kerap terjadi pada jam-jam sibuk Kota Denpasar. Sebaliknya apabila berangkat kantor sedikit lebih awal, kira-kira pukul 6.45 bisa dikatakan perjalanan jauh lebih nyaman dan lancar.

Meski demikian ternyata masih banyak hal lain yang mampu mempengaruhi proses perjalanan berangkat kerja menuju kantor Puspem Badung. Kemacetan dadakan akibat penutupan jalan saat pelaksanaan upacara beberapa waktu lalu termasuk faktor putra putri kita yang meminta diantar sekolah atau ditemani main dulu. Hehehe…