Dari Kamar 560 Grand Sahid Jakarta

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Damn ! Saya bangun kesiangan hari ini.

Tapi errr… enggak juga sih sebenernya.
Karena meski jam menunjukkan angka 6.35, sesungguhnya dikonversi ke waktu Indonesia bagian Barat alias Jakarta, ini artinya masih di pukul 5.35… masih pagi. Masih ada banyak waktu hingga pukul 8, di Puri Agung Sahid guna melanjutkan sesi kedua Sosialisasi Nasional Kotaku, Kota Tanpa Kumuh.

Pemindahan lokasi ke Grand Sahid sementara jadwal dalam surat tertera Hotel Ambhara, kelihatannya diakibatkan oleh melonjaknya jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan Dirjen Cipta Karya kali ini sehingga memaksa Panitia musti extra keras menangani. Baik secara penginapan maupun hal lain yang melingkupinya.

Namun keseluruhan kelihatannya fine fine aja kok pelaksanaan Diskusi Kelompok yang punya pola mirip Diklat PIM IV tempo hari. Termasuk persoalan makan siang yang turun derajat. Hehehe… tapi ndak apa, semua bisa disesuaikan kok.

Hanya berhubung suhu ruangan akibat AC sentral dalam meeting room tergolong duingin, saya sempat mengalami sakit kepala jelang makan siang, yang langsung dihantam dengan sebutir Nueralgin plus istirahat setengah jam sebelum kembali bergabung dan melanjutkan sesi diskusi.

Proses hari ini selesai lebih awal. Namun karena ndak ada agenda jalan-jalan, waktu luang yang tersisa dimanfaatkan untul beristirahat di kamar 560. Plus memesan layanan Room Service terkait makan malam, lantaran Dinner bagi peserta #SosnasKOTAKU ini ndak masuk dalam agenda hotel. serta membatalkan rencana untuk ikutan Pijat Bersih Sehatnya Grand Sahid di lantai 3 yang kemarin dah sempat dicobain sekali.

Jujur aja, secara pikiran malam ini, saya jauh lebih capek ketimbang sebelumnya. Karena beban akan pekerjaan kantor serta ‘ancaman’ akan pemeriksaan Tipikor sepertinya akan kembali menghiasi hari demi hari saya kedepannya.

Well, kelihatannya saya memang membutuhkan lebih banyak istirahat hari ini. dan kelihatannya pula, Gula Darah saya bakalan naik dalam waktu dekat.
Doakan agar bisa balik ke Bali dalam kondisi sehat ya.

*

Eh iya, untuk kalian yang pengen tau bahasan seharian tadi terkait apa saja, bisa pantau di akun twitter @pandebaik atau di tagar #SosnasKOTAKU
dan doakan pula agar besok bisa Tweet Live lagi agar bisa tuntas laporan notulen ke pimpinan nanti pas balik ngantor. Hehehe…

Jakarta, aku kembali…

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Aku sendiri lupa, kapan perjalanan terakhirku menapak Ibukota Jakarta. Kalo ndak salah saat itu masih ada pak Jokowi yang memimpin. Suasana tentu saja bakalan jauh beda kini, apalagi semenjak pak Ahok memimpin, katanya Jakarta jauh lebih manusiawi.

Jakarta, aku kembali.

Sekali waktu kemarin, sempat mention si @hariadhi di akun Twitter. Bahwa dalam harapanku, ingin sekali melihat Jakarta pasca kepemimpinan pak Ahok yang katanya bermulut comberan itu.
Ini terlontar setelah memantau tagar #5kmAhok yang kerap ia bagi pada kami, para followernya. Satu aktifitas yang menyenangkan tentu saja, sambil berolah raga menguruskan badan, bisa melihat perubahan kota dan lingkungannya.

Dan akhirnya, aku kembali.

Jakarta kini menjadi jauh lebih bersih. Lebih bersahabat secara pandangan mata. Meski macet makin terasa dimana-mana.
Namun demi MRT, rasanya semua pengorbanan jadi lebih berarti. Entah prasangka apa yang terlintas di mata orang-orang pembenci itu.

GA 409, tujuan Jakarta

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Keberangkatan kali ini sama sekali tidak direncanakan. Disposisi turun saat saya mendapati meja kerja Jumat minggu lalu, sesaat setelah mengkonfirmasi Askot PNPM Mandiri Perkotaan Kabupaten Badung pak Gde Puja, bahwa yang akan berangkat adalah Ibu Kepala Bidang. Apa daya perintah berkata lain.

GA 409 PanDe Baik 1

Berangkat Sendiri

Lagi-lagi… yah, Lagi-lagi…
Keberangkatan ini lagi-lagi saya sendirian harus mengarungi waktu, tanpa teman bicara. Tapi ya, let’s Enjoy aja. Dinikmati.
Lagipula dengan perjalanan sendirian macam begini, saya jadi punya waktu lebih banyak untuk menulis, atau mengamati. Kelak satu dua teman duduk pastilah bakalan nyambung untul diajak bicara, kecuali yang bersangkutan wisatawan berkulit kuning.

Wedakarna, Raja Majapahit

Lha, apa pula cerita blog hari ini bisa menyasar ke perwakilan DPD Provinsi Bali yang saban hari nyambangi halaman Adv koran lokal Bali Post ?
Gak sengaja saya melihat bli Weda saat menuju tempat duduk di pesawat Airbus 330 ini. Saya menempati 46 K dekat jendela sebelah kanan, bli Weda menempati kursi deretan paling belakang, 48 J, sebelah lorong. He… siapa sangka bisa bertemu dengan Raja Majapahit di penerbangan kali ini ?
Pastilah penerbangan ini bakalan Sukla selama perjalanannya. *uhuk

Lebih Awal dan Lebih Lama

Perjalanan ini ada kaitannya dengan tugas sebagai abdi masyarakat dalam kaitannya dengan Pencegahan Permukiman Kumuh, kelanjutan program dari P2KP, PNPM Mandiri Perkotaan beberapa waktu lalu.
Sebagaimana surat yang disampaikan oleh Kementrian PU dan Pera, hari pertama acara yang tertera hanyalah Check In di lokasi menginap, Hotel Ambhara Gandaria City. Acara Pembukaan baru mulai besok pagi di Sheraton, entah dimana pula tempat yang satu ini. Mengingat acara yang santai, saya memilih untuk berangkat lebih awal agar tak terburu-buru dalam perjalanan, selain ingin mengenal sekitar hotel jika masih sempat malam nanti. Dekat Blok M katanya ya ?
Dan juga perjalanan ini memakan waktu Lebih Lama dari biasanya. 4 hari 3 malam. Bakalan panjang nih ceritanya…

Kangen 4 Gadis ku

Ya gitu deh, akhir ceritanya.
Istri, si sulung Mirah, si cerewet Intan dan si kecil Ara.
Bakalan kangen banget dengan mereka selama mengikuti workshop kali ini.
Berharap mereka baik-baik saja selama ditinggal jauh.
Kecup kening kalian semua nak…

GA 222 Final Call

Category : tentang PLeSiran

Hampir Aja…
Hampir nasib saya jadi mirip anggota DPRD Jembrana yang tempo hari dikabarkan ketinggalan pesawat hanya gara-gara membeli tahu goreng.
Untungnya gak jadi separah itu.
Hanya karena…

Salah baca Jam. Duh !!!

Ceritanya setiba di Bandara Soekarno Hatta sekitar pukul 9.30 pagi, usai melapor pada petugas transit, sayapun memilih leyeh leyeh di depan outlet Roti’O sambil menikmati segelas kopi di tempat duduk pinggiran. Ini karena saya memperkirakan waktu yang tersedia sambil menunggu jadwal penerbangan berikutnya masih cukup lama. Satu setengah jam. Padahal waktu Check In yang tertera pada tiket adalah 9.10 WIB yang arti sebenarnya adalah sekitar setengah jam lagi.

Damn it. Kenapa saya jadi bodoh begini ?

Saya pikir jam di Jakarta adalah mundur sejam dari Denpasar. Duh !

Usai leyeh leyeh sayapun menunggu di pintu gate luar sambil membaca pengumuman di layar bahwa penerbangan ke Solo yang saya tunggu sudah berstatus Gate Open.

Hingga waktu pada jam tangan menunjukkan pukul 10.20, saya pun berinisiatif masuk ke Gate F2 agar dapat beristirahat sejenak sambil menuliskan unek unek perjalanan lagi. Eh, gak sengaja baca kalo penerbangan GA 222 malah sudah berstatus Final Call. Ealah… dengan setengah berlari sayapun mengkonfirmasi tiket dan antre boarding paling belakang.

Mih… hampir saja ketinggalan pesawat. Untung masih sempat diselamatkan Tuhan tadi ya. Jadi gak bernasib sama dengan anggota DPRD Jembrana itu. He…

Sendirian (lagi)

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

GA 401 tujuan Jakarta… transit sebentar, lalu berpindah ke GA 222 tujuan Surakarta. Solo.

Untuk yang kesekian kalinya, saya berangkat sendirian (lagi). Melewati pagi yang dingin, serta kursi duduk tanpa teman bicara. Semua asyik menatap layar ponsel termasuk saya.

Menanti keberangkatan di Gate 3 pada pukul 6.45 AM, membuat pening kepala akibat mabuk perjalanan menumpangi taksi dari rumah menuju bandara tadi. Benar benar gak nyaman.

Setelah menitipkan tas ransel Navy yang saya beli di Lazada tahun lalu di area bagasi, sayapun berusaha menikmati semua perjalanan yang akan dilakukan hari ini. Menuju kota Solo. Kota dimana pak Presiden kita dahulu berasal.

Solo PanDeBaik 1

Dibandingkan perjalanan sebelumnya, bekal perjalanan kali ini bisa dikatakan lebih ringan. Pengalaman yang didapat pada kisah sebelumnya menjadi data awal. Hanya berharap bahwa lawatan pertama saya ke luar kota tahun ini alan memberikan hasil yang baik bagi semua.

Ohya, keberangkatan saya ada kaitannya dengan penugasan sebagai PPK atau Pejabat Pembuat Komitmen pada PPIP kegiatan Program Pembagunan Infrastruktur Perdesaan, sebagai awal dilaksanakannya kelanjutan sisa kegiatan tahun lalu. Jadi ya… dinikmati saja.

Noted… 28 Agustus 10.00 PM GA422 Seat 48A

Category : tentang DiRi SenDiri

Terkadang aku berpikir bahwa tak sekalipun aku pernah berharap atau meminta bahkan mengemis akan apa yang aku jalani hingga hari ini. Semua hadir begitu saja, dan bisa jadi inilah jalan yang harus aku lalui…

Maka akan sangat menggelikan sekali jika kemudian mereka menganggapku telah merebut impian yang mereka harapkan  sejak dulu…

Semua memang terlihat indah di permukaan. Tapi apakah mereka mampu memahami gejolak yang terjadi didalam ?

Jalan ini takkan pernah mudah untuk dilalui, Teman…

Kegelisahan ini, 28 Agustus 2014 10.00 PM, GA422 Seat 48A

Pagi di Losari Blok M

Category : tentang PLeSiran

Dibandingkan dengan akomodasi yang pernah saya tempati selama berkunjung ke Jakarta baik untuk kepentingan Dinas atau lainnya, ini kali kedua saya mampir dan menginap di Hotel Melati. Kalo gag salah ya…

Losari Blok M merupakan sebuah hotel yang terletak di pinggiran jalan besar. Tepatnya di tikungan jalan, dengan penampilan luar lebih mirip gedung kantir namun dalemannya bersuasana rumah tinggal. Model kamar yang saya tempati inipun lebih mengarah seperti kamar tidur yang saya miliki. Sederhana. Jadi gag banyak penyesuaian yang dilakukan sejak tiba tadi malam. Langsung beranjak tidur setelah merapikan semua bawaan.

Dulu waktu masih belajar di LPSE, pernah juga merasakan suasana ini. Kalo gag salah pas mengantarkan para pemegang kebijakan melihat LPSE Jawa Barat yang kami jadikan acuan sejak awal. Para pemimpin masuk Hotel berbintang, kami sisanya masuk di Hotel Melati. Jauh lebih nikmat sebetulnya jika menginap di kelas hotel begini, gag harus risih dengan aturan gag tertulis di hotel. Biasa aja…

rps20140828_172207

Saya memempati kamar 211, di lantai 2. Mengambil kamar Superior dengan dua single bed, dipesan berhubung kamar Standard penuh fully booked. Dengan biaya sekitar 558 ribu per malam, Losari Blok M akhirnya jadi pilihan saya atas rekomendasi inspirator di LKPP, Bapak Ikak Patriastomo, setelah bertanya pada posting media sosial FaceBook, sesaat setelah duduk beristirahat di ruang tunggu Gate 20 Bandara Ngurah Rai malam kemarin.

Bagaimana situasi Hotel lainnya, bentar saya lanjutkan. Ini masih bertapa sebentar tapi belum jua menghasilkan. *uhuk

Petualangan Pertama Menjejak Jakarta… Sendirian…

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan, tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Perlu waktu 36 tahun rupanya untuk bisa melakukan pertualangan ini sendirian. Kali pertama saya meninggalkan keluarga tanpa ditemani seorang kawan, melintasi cakrawala bersama Garuda Indonesia. Kamis, 27 Agustus 2014.

Perjalanan ini sungguh sangat mendadak keputusannya. Pagi tadi Ibu Kepala Dinas menyampaikan informasi terkait undangan dari Kementerian Pekerjaan Umum… dimana disposisi sebagaimana tertera dihalaman terdepan, adalah Hadir, ditujukan kepada Kepala Dinas. Namun karena Beliau berhalangan, maka mau tidak mau harus ada seseorang yang berangkat dan mengikutinya. Demi kepentingan Dinas.

Awalnya sih saya menolak. Alasannya sederhana. Saya belum pernah melakukannya. Terbang ke Jakarta sendirian. Menghadiri acara resmi di tempat yang barangkali lebih pantas diikuti oleh jajaran Eselon II. dan tanpa rencana. Yang saya pikirkan hanya satu. Menginap dimana.

Angan-angan sih berencana Pulang Pergi sehari, pagi sampai, trus numpang kencing di Jakarta, malam balik lagi ke Bali. Langsung buyar pas dapat kepastian kalo tiket pesawat pagi penerbangan pertama, fully booked. Maka alternatif kedua ya terbang malam ini juga. Alamat buruk nih, bathin saya.

Bagaimana tidak, persiapan apapun saya belum punya. Dari Surat Tugas, bahan materi hingga yang paling urgent ya Tiket Pesawat dan Akomodasi. Tapi ya sudahlah. Nekat aja, toh masih di lingkup Bali dan Jakarta. Anggap saja belajar.

Maka jadilah setelah Tiket dikantongi, menggunakan dana pribadi berhubung dana talangan belum siap, kemudian Surat Tugas ditandatangan namun belum berisi stempel, bahan materi abaikan dulu berhubung materi juga tergolong baru, dan Akomodasi, nantilah sambil jalan.

Setelah berkemas dengan membawa satu baju ganti, sisanya apa yang terpakai di badan, ditambah beberapa item perlengkapan wajib menginap, saya meluncur ke Bandara Ngurah Rai memanfaatkan Taxi Bali seperti biasanya. Gag ingin merepotkan banyak orang pokoknya.

Tiba di Gate 20, keberangkatan Domestik pada pukul 20.30 wita, cukup banyak waktu untuk berkabar dan hunting Hotel. Setelah mendapat Rekomendasi dari pak Ikak Patriastomo, inspirator saya yang dahulu bertugas di LKPP, salah satu hotel terdekat Kementerian adalah Losari Blok M. Hotel Melati yang berada di pinggiran jalan besar, sebelahnya M Point. Ya sudah, di Booking saja mengingat jam tiba di Jakarta juga sudah tengah malam. Tanggung kalo mau cari cari lagi.

Yang unik, begitu turun dari Bandara, saya menghampiri konter GoldenBird. Sempat keder juga baca Executive Class and Bussiness Car Rental, mengingat saya bukan masuk golongan itu. Tapi sudah kepalang basah, sisa itu saja yang tampak masih ada petugasnya, sementara belum pede mencoba Taxi luar, ambil porsi kendaraan Innova, termurah dari pilihan yang ada. Begitu Deal dan Bayar, kendaraanpun disiapkan. Tapi berhubung Innova ternyata Kosong di Bandara, maka kendaraan pun di Upgrade menjadi Alphard. Namun tetap dengan harga Innova. Wah… kapan lagi *uhuk

Maka, inilah Petualangan Pertama Menjejakkan Kaki di Jakarta. Sendirian… *berdiri dengan gaya Shincan dan Pahlawan Bertopengnya…

Guns N Roses Live di Jakarta ?

1

Category : tentang InSPiRasi, tentang KeseHaRian

Jika saja kabar ini datangnya sekitar dua dekade lalu, barangkali histeria penggemar musik rock di Indonesia masih sedang hangat-hangatnya.

Generasi muda kala itu bisa dibilang lagi haus-hausnya dengan penampilan musisi rock papan atas yang sedang menjadi raja dan menggapai puncaknya, plus dengan formasi yang solid pula.

Masih ingat dengan rusuh stadion pasca konser Metallica ? atau konser Sepultura yang baru saja merilis album Arise ? wih… keliatan banget nih semua selera jadul dan makin memperjelas batasan umur masa kini.

Diantara sekian banyak musisi rock, barangkali Guns N Roses saja yang absen dari penjadwalan konser live mereka di Indonesia. Padahal saat itu dobel album Use Your Ilussions masih terdengar jelas ditelinga. Nah, kini ?

Pasca album Spaghetthi Incident yang lebih banyak meng-cover version kan lagu dari musisi lain, Guns N Roses kalo gag salah kedapatan tampil di original soundtrack nya Interview With The Vampire, itupun lagi-lagi meng-cover versionkan karyanya Rolling Stones. Kabar bergulir dengan perpecahan anggota yang menyisakan nama sang vokalis sementara anggota lainnya menyebar bahkan kabarnya tiga diantaranya membentuk grup baru ‘Velvet Revolver’ yang punya sound khas dari Guns N Roses versi dobel album tadi.

Kesombongan Axl sang vokalis, kerap mendapat kecaman dari banyak musisi lain terutama yang memang menjalankan masa tumbuh kembangnya bareng dengan band besar Guns N roses. Publik mungkin masih ingat dengan penampilan mereka di event bergengsi Rock And Rio yang memang gag mencerminkan usia dari Axl kini. Malah kelakuannya kemudian menjadi bahan tertawaan para wartawan jika dibandingkan dengan musisi lain yang hingga kini masih solid.

Guns N Roses versi terbaru kini menyajikan 8 musisi termasuk Axl Rose pada vocals, Dizzy Reed pada keyboards (yang ini kalo gag salah sudah bareng pas Use Your Illusions Tour), Tommy Stinson pada bass, Chris Pitman keyboards (entah kenapa menggunakan 2 kibordis), Richard Fortus pada rhythm guitar, Frank Ferrer pada drums (padahal gebukan si Matt Sorum udah keren banget), Ron “Bumblefoot” Thal pada lead guitar dan DJ Ashba pada lead guitar (juga). Bandingkan dengan formasi awal mereka yang Cuma berlima namun menghasilkan karya jauh lebih klasik.

Tapi inilah Guns N Roses versi terkini yang bakalan tampil di Jakarta sabtu, 15 Desember besok. Semoga kelakuan Axl bisa sedikit berubah sehingga penonton gag ilfil duluan.

Dan ngomong-ngomong, kalopun boleh di-share sedikit, bagi kalian yang beruntung bisa nonton langsung Guns N Roses di jakarta nanti, mungkin bisa duduk bareng pak Gub Jokowi, bisa nonton streaming videonya alumnus Guns N Roses versi awal di YouTube, khususnya pada perhelatan Rock and Roll Hall of Fame 2012 yang dibuka oleh band punk Green Day. Link video bisa dilihat disini. Lumayan bisa menghibur sebelum bisa melihat langsung aksi ‘the Most Dangerous band’ Guns N Roses

*kira-kira masih tergolong ‘the Most Dangerous band’ gag yah ? :p

Tentang Rakor ke-8 LPSE Nasional

3

Category : tentang PeKerJaan, tentang TeKnoLoGi

Melelahkan. Kurang lebih begitu pendapat bathin secara pribadi. Tiga hari melawat ke Jakarta bersama Tim Pelaksana LPSE Badung dengan segudang rencana awal yang kemudian dibuyarkan begitu cepat oleh jadwal dadakan pihak penyelenggara, Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Republik Indonesia LKPP yang kabarnya kali ini bekerja sama dengan sebuah EO Event Organizer demi menghandle banyaknya pekerjaan.

Tidak heran. Mengurusi 513 (semoga tidak salah) utusan dari LPSE seluruh Indonesia yang masing-masingnya mengirimkan minimal 2 hingga 5 orang personel (bahkan kabarnya ada juga yang hingga 7 orang), tentu bukan perkara gampang. Hal ini pernah disampaikan oleh rekan-rekan LKPP saat kegiatan yang sama digelar di Hotel Sanur Paradise, November 2011 lalu.

Yang membuat kami cukup terperangah adalah pola pembagian hotel yang rupanya diatur secara acak. Artinya Rekan kami sesama Tim pelaksana LPSE Badung sudah bisa ditebak berada di lokasi yang berbeda-beda. Saya selaku Sekretaris LPSE Badung berada di Grand Cempaka, Ibu Kepala LPSE di Aston Marina Ancol, dan Pak Made Aryawan Admin PPE kami yang kali ini diundang sebagai Narasumber berada di Novotel Gajah Mada. Penyebaran ini bisa jadi dimaksudkan untuk makin mengakrabkan kami, Tim Pelaksana LPSE seluruh Indonesia, satu dengan lainnya. Minimal untuk menambah wawasan antar daerah.

Namun kelemahan dari pola penyebaran ini adalah sulitnya kami berkoordinasi satu sama lain dalam tim yang sama, terutama terkait sesi diskusi yang harus diikuti, kesimpulan yang dapat kami tarik lalu dipertanyakan kembali hingga hal-hal sepele seperti persiapan untuk pulang.

Rakor ke-8 LPSE Nasional ini cukup unik. Mengingat di sesi awal atau pembukaan, LKPP mengundang seorang praktisi sekaligus akademisi ternama yang telah malang melintang di dunia Linux, Jaringan dan Securitas, Bapak Onno W Purbo. Selama sesi, Beliau banyak bertukar cerita dan membagi pengalaman terkait ancaman serangan, cara pembobolan akun baik email, password hingga kode pengamanan yang lumayan membuat kepala cenat cenut dan was was sendiri akan kondisi ‘nyata’ yang sebenarnya di lapangan.

Jika saja selama sesi pembelajaran Rakor ke-8 LPSE Nasional ini saya mendapatkan rekan sekamar yang sesuai dengan aturan LKPP, saya yakin rasa lelah itu akan makin bertambah mengingat banyaknya hal yang harus dipersiapkan termasuk cara bersosialisasi yang baik atau penyesuaian lingkungan antar suku dan etnis. Bersyukur saya bersua dengan sobat sesama blogger Bali yang memang sudah saya kenal sejak lama. I Gusti Agung Made Wirautama, S.Kom seorang dosen IT sekaligus Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kampus STP Nusa Dua, pemilik blog imadewira.net. Kali ini Beliau hadir sebagai Admin Agency LPSE STP Nusa Dua, satu tugas yang dahulu pernah saya emban.

Maka jadilah selama masa istirahat pasca diskusi panel, bahan obrolan kami tidak jauh dari keluarga, putrinya Nindi serta Mirah dan Intan dua putri saya, hingga ke Adsense, tugas wewenang LPSE dan tentu saja honor atau tunjangan. *uhuk

Ada banyak hal yang kami dapatkan selama sesi diskusi panel berlangsung. Selain kawan baru, pertemuan dengan kawan lama yang pernah saya kenal di Rakor dan TOT atau Train of Trainer sebelumnya, pula bersua dengan orang-orang yang sebetulnya hanya saya kenal di dunia maya saja. Beberapa diantaranya kawan dari LPSE Kabupaten Pati, Trenggalek dan Sumatera Barat.

Tidak hanya itu, pertukaran informasi serta teknologi yang dikembangkan di masing-masing LPSE dengan tujuan untuk mempermudah operasional, pelaporan dan pelayanan pun dapat diserap dengan baik lewat paparan dan diskusi yang kadang berlangsung hingga masa istirahat. Tak lupa guyonan Pak iPep Fitri dari Universitas Diponegoro, seorang instruktur pengadaan barang/jasa yang juga bertugas sebagai Trainer di LPSE Undip, mengocok perut kami selama sesi pembelajaran.

Sementara dari sisi perkembangan LPSE, dalam usia dini LPSE Nasional berhasil meraih penghargaan dari FutureGov Asia Magazine sebagai Winner ‘Technology Leadership 2012’ se-Asia Pasifik. Sedangkan LPSE Badung sendiri masuk dalam daftar 4 besar nominasi Award LPSE kategori ‘User Support Performance’, Peringkat 2 Tingkat Kabupaten untuk jumlah Paket Pengadaan Terbanyak pada Tahun 2012, serta Peringkat 2 Tingkat Kabupaten untuk Nilai Pagu Pengadaan Tertinggi pada Tahun 2012.

Sedangkan perkembangan dari sisi proses sertifikasi Pengadaan Barang/Jasa pun patut diapresiasi. Jika dahulu masih dilaksanakan dengan cara Konvensional/tertulis, kini sudah dapat dilakukan secara komputerisasi di 27 lokasi se-Indonesia, dan harapan kedepan di tahun 2013, sudah dapat diakomodir melalui sistem online langsung dari lokasi Peserta berada. Dimana proses penilaian tidak lagi membutuhkan waktu lama seperti terdahulu, maksimal 2 jam setelah proses ujian selesai dilakukan, lulus tidaknya peserta sudah dapat diketahui secara langsung.

Lalu, berbicara soal standarisasi prosedur operasional LPSE baik dari segi proses pendaftaran Penyedia, proses pelelangan, hingga pemeliharaan sistem dan aplikasi tentu sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja dan pelayanan di masing-masing LPSE.

Tak lupa dalam sesi Pemaparan dan Review aplikasi SPSE versi 4.0 dan Spam Kodok rupanya memiliki banyak fitur pembaharuan yang lebih memudahkan penguna atau user sesuai dengan beberapa saran dan masukan yang pernah kami berikan sedari proses Train of Trainer TOT dan konsultasi ke LKPP sebelumnya.

Di hari ketiga kegiatan Rakor ke-8 LPSE Nasional ini, LKPP menggelar parade bersama jalan kaki dari Monumen Nasional (Monas), menuju Bundaran Hotel Indonesia HI lalu kembali lagi menuju Monas dan mendeklarasikan ‘100% e-Procurement untuk Indonesia Bersih dan Sejahtera’. Sesi akhir ini dimeriahkan pula dengan pembagian door prize dan seperti biasa kami tak mendapatkannya satupun. :p

Rakor ke-8 LPSE Nasional kali ini memang benar melelahkan. Bahkan saat tiba dirumah Minggu pukul 22 malam pun rasanya masih belum bisa menghilangkan rasa penat meski tiga bidadari yang disayang sudah menanti. Ditambah dua jam tertidur senin siang di rumah mertua dan istirahat lebih awal malam harinya, mood untuk menuliskan semua laporan, pe er, rencana sosialisasi, pelatihan hingga draft tulisan untuk blog dan Koran Tokoh pun belum jua muncul. Baru pada Selasa siang semua inisiatif tersebut mulai terkumpul satu persatu. Dan tulisan inipun menjadi salah satu pembuktiannya.

Sebetulnya saya pribadi menginginkan suasana Rakor yang terkumpul di satu tempat. Dimana malam pasca diskusi atau sesi sarapan, kami masih bertemu satu sama lain termasuk dengan para kamerad LKPP yang kami hormati. Pak Ikak, Pak Nanang, Pak Arso, Pak Bima dan banyak lagi. Termasuk para artisnya yang tampil di video khusus besutan LKPP dengan tema e-Procurement. Karena suasana inilah yang kelak akan membuat kami selalu terkenang dan bangga bisa bergabung di unit LPSE.

Selamat Datang Jokowi-Ahok, Selamat Tinggal Foke-Nara

6

Category : tentang Opini

Beberapa lembaga survey telah menunjukkan hasil hitung cepat yang mereka lakukan sejak siang kemarin. Rata-rata menyiratkan nilai prosentase yang tak jauh berbeda dengan hasil survey lapangan yang telah dilakukan sebelum masa pemilihan dimulai. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi pilkada DKI saat putaran pertama dilakukan tempo hari. Kabarnya, salah satu lembaga ini mengakui bahwa mereka memang dibayar oleh salah satu Cagub untuk menggelembungkan suara demi pengakuan publik.

Meski demikian, jauh-jauh hari sebenarnya sudah banyak yang mampu menebak bahwa hasil akhir pilkada DKI akan melibas incumbent yang memang sangat buruk kinerjanya. Ditambah lagi dengan faktor emosinya yang tak tanggung-tanggung. Membuat banyak kalangan menyayangkan sekaligus mempertanyakan perubahan yang ia lakukan sesaat sebelum Pilkada. Memang sih ini salah satu jualan kalo lagi mau pilkada.

Namun yang lebih patut dicermati lagi adalah soal Dukungan. Rupanya dukungan warga jauh lebih berarti ketimbang Dukungan Parpol. Meski mesin politik dari unsur partai tidak kalah pentingnya untuk mengusung calon. Bukti nyata terpampang di pilkada DKI saat ini. Pasangan Foke-Nara yang notabene didukung oleh banyak partai, dilindas habis oleh pasangan calon yang hanya didukung oleh dua partai. Maka bisa ditebak bahwa ini membuktikan parpol tak lagi mendapat tempat di hati rakyat, namun Figur lah yang penting dan menjadi pertimbangan utama dalam memberikan hak suara.

Seharusnya inilah yang kini menjadi cerminan banyak pihak, baik pilkada di daerah ataupun kelak pertaruhan calon legislatif. Bahwa apa yang kalian lakukan saat ini, akan menentukan pilihan dari orang banyak di masa yang akan datang. Jadi jangan salahgunakan kepercayaan yang telah diberikan sebelumnya.

Unik dan menarik, sekali lagi saya ungkapkan datang dari akun anonim Twitland.

Adalah akun @TrioMacan2000 aka Ade Ayu S (dulunya Sasmita, kini hanya S), hingga H-1 pemilihan begitu gencar melancarkan keburukan CaGub-CaWaGub Jokowi-Ahok, lengkap dengan jaminan bahwa data yang mereka (bukan ia, lantaran ada banyak orang yang terhimpun dalam akun tersebut) dapatkan adalah Valid. Dari persoalan kamuflase pemindahan Pasar Tradisional Solo, keberpihakan Jokowi pada umat Nasrani dalam dana Bansos, kebohongan Ahok selama memimpin Bangka Belitung, soal ke-Islaman Jokowi yang tidak paham arti ramadhan dan tidak bisa menunaikan Wudhu dengan baik, hingga tiadanya dukungan DPRD Solo apabila pasangan ini memenangkan Pilkada DKI. Menang Percuma kata mereka.

Uniknya, semua bahan Twit itu direkap menjadi satu tulisan dengan judul yang cukup menohok melalui halaman chirpstory, lalu di ReTweet oleh akun-akun bodong yang dapat dibeli, kemudian diPrint Out dan disebarkan. Modus Kampanye Hitam.

Makin menjadi Menarik, saat pasangan Jokowi-Ahok tampil sebagai pemenang. Dengan segera, setelah Foke mengakui kekalahannya dengan Legowo, akun @TrioMacan2000 menghapus daftar Favoritnya dan juga twit yang pernah mereka lontarkan terkait usaha pembunuhan karakter pasangan calon Jokowi-Ahok. Tak lupa menyulap diri menjadi sok bijak dengan memberi banyak petuah dan pesan kepada Jokowi-Ahok sambil mengakui keburukan Cagub yang hingga H-1 menggelontorkan banyak dana untuk kepentingan Kampanye Hitam Twitland. Demikian pula dengan BIO akun yang diubah, padahal sehari sebelumnya terpampang jelas kalimat ‘Jangan Memilih Jokowi-Ahok’. :p

Tiada yang abadi di dunia ini. Entah apakah publik Republik Twitter kelak akan melupakan usaha pembohongan publik yang diskenariokan oleh pihak-pihak yang sakit hati dengan kebijakan-kebijakan negeri ini atau meninggalkan akun-akun anonim yang rentan dengan penyalahgunaan informasi.

Balik ke Pilkada, sepertinya diluar program kerja, visi dan misi, siapa yang akan diajak untuk bekerja sama pun menjadi poin penting yang harus diperhatikan. Warga Jakarta mungkin sudah mengalami ketidakpercayaan Foke pada Wakil Gubernurnya sendiri hingga Prijanto memutuskan untuk mengundurkan diri demi politik yang bersih. Demikian halnya dengan pencalonannya kini, seakan menomorsekiankan Nara pasangannya yang tampak tak pede dan cenderung bersikap SARA terhadap pasangan calon lainnya. Belum lagi soal ‘tingkat kecerdasan’ yang banyak dipertanyakan, makin membuat Nara terpojok oleh kemampuan Ahok sang lawan.

Selamat Datang Jokowi-Ahok, Selamat Tinggal Foke-Nara.

Semoga Jakarta benar-benar bisa menjadi Baru, minimal pelayanan Publik kini harus dikedepankan.
Dan salut juga untuk Cameo Project yang selama pilkada kemarin sempat membuat video-video Kreatif sebagai bentuk Dukungan kepada pasangan calon Jokowi-Ahok. Memang beginilah cara yang cerdas untuk menunjukkan dukungan. Bukan lagi dengan persoalan Agama dan SARA.

Yak, Warga Jakarta sudah menunjukkan kecerdasan mereka dalam berpolitik. Kapan giliran kita yang berada di daerah ?