Dari Balkon Kamar 804 Harris Hotel Tebet Jakarta

Category : tentang PLeSiran

Terbangun saat waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Saya langsung teringat bahwa ini waktu Jakarta. Duh… Terbiasa bangun pagi pukul 5 di Bali keknya malah terbawa kesini.
Sudah nda bisa tidur lagi…

Langit Jakarta masih gelap.
Sayapun memilih tiduran sambil melihat semua timeline yang terlewati semalam. Keknya kemarin ketiduran saat jam belum larut. Selain kecapaian lantaran sakit kepala, pening di sepanjang perjalanan, mual pun sempat mendera. Ya kek biasa, sayapun nyari pijat refleksi yang bisa fokus uyeguyeg kepala. Hasilnya lumayan. Cuma mata keknya jadi perih. Entah kenapa…

Sembari mengemasi semua bawaan, air mandipun dikucurkan. Di kamar pengganti ini rupanya ada bathubnya. Jadi bisa rileks dari semalam. Mandi pagi dilakoni kek biasanya. Cuma belum ada gangguan perut dari kemarin pagi. Musti sarapan susu atau buah keknya bentar di lobby.

Jakarta Bersih.
Saya suka melihatnya dari jendela balkon.
Meski disana sini masih ada pembangunan flyover, tapi kekumuhan yang enam tahun lalu kerap saya jumpai tiap kali Dinas ke Jakarta keknya sudah nda ada lagi kini. Mungkin masih ada saja di tempat lain, tapi sudah jauh lebih baik.

Hari ini saya lagi nda mood buat makan besar. Hanya mencomot beberapa biji kacang merah dan tomat dengan salad, juga sejumput bihun, brokoli, ikan dan mayonaise sebagai sarapan pagi. Sisanya dua gelas susu dan jus pepaya. Semoga bentar bisa setor pagi…

QG 153, Harris 523 dan 804

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Tadinya saya berencana bisa melawat ke Jakarta untuk bisa melihat semua kemajuan yang sudah dihasilkan pada masa kepemimpinan Gubernur ‘Penista Agama’ Ahok dengan cara liburan bersama, dengan harapan bisa lebih santai dan menikmatinya.
Terakhir dinas terkait Kotaku, keknya aksi tersebut ndak maksimal bisa saya lakukan. Kalo ndak salah waktu itu proses pembahasan materi berlangsung hingga sesi malam. Jadi, ndak sempat kemana-mana.

Pagi ini saya sudah nongkrong di depan counter check-ins pesawat Citilink, kode penerbangan QG 153. Agenda berangkat berkaitan dengan upaya pemanfaatan dana DAK Bidang Perumahan dan pembahasan Draft Ranperda RP3KP Kabupaten Badung, mendampingi dua pimpinan.

Dari beberapa barang bawaan, rupanya saya kelupaan kacamata item minus yang biasanya saya selipkan untuk be’gaya saat luang di tujuan, dan sendal big size yang lupa dimasukkan saat mengganti tas ransel agar lebih ringan digendong. Ya sudahlah… Toh ini perjalanan hanya sehari. Harapan saya tadinya bisa membawa ‘bekal’ sedikit lebih ringan lagi.

Waktu menunjukkan pukul 8.45 WIB saat pesawat mendarat di bandara Halim Perdanakusuma. Meleset sekitar 25 menitan dari jadwal yang tertera pada boarding pass. Ini karena saat keberangkatan tadi, maskapai menyatakan penundaan lantaran agenda terbang terlampau ramai.

Setelah sarapan pagi di Soto Kudus Blok M, kamipun tiba di Kementrian PUPR dan diterima oleh Bapak Budiono, Koordinator Bidang Permukiman yang memandu proses diskusi terkait rancangan Peraturan Daerah RP3KP Kabupaten Badung yang menurut Beliau, merupakan generasi pertama yang berupaya menyusun pasca amanat undang-undang. Sementara Kementrian PUPR sendiri baru akan memprioritaskan bimbingan terkait penyusunan RP3KP pada Tahun 2017 mendatang. Ealah…
Meski demikian, agenda yang sedianya kami bagi menjadi dua sesi, akhirnya terjawab pula pada sesi yang sama dengan mendatangkan narasumber tambahan dari lantai 5 Kementrian, berkaitan dana DAK Bidang Perumahan.

Untuk menginap, awalnya pimpinan menjatuhkan pilihan di Harris Hotel Tebet, dan sudah melakukan proses booking. Entah bagaimana ceritanya selama 1,5 jam, Beliau berupaya mencari alternatif hotel lain dan hasilnya rata-rata menyatakan fullybooked. Maka ya kembali ke pasal 1. He…

Pengalaman Pertama sekaligus lucu campur kaget, saya alami ketika mendapati Kamar 523 sudah terisi orang, lengkap dengan barang bawaan dan interior yang masih berantakan. Eits… Untung ada mas CS yang lagi bersihin kamar sebelah. Setelah dijelaskan permasalahannya, saya dirujuk ke kamar King’s Size disertai permintaan maaf dari pihak Hotel.
Kamar ini jauh lebih besar ketimbang kamar di awal tadi.

Maka disinilah saya melewati malam penatnya Ibu Kota Jakarta, pasca mual dan pening yang dialami sepanjang perjalanan tadi. Setelah menelan sebutir promaag dan Neuralgin, keknya saya masih perlu pijat refleksi malam ini…

Jakarta Pagi ini

Category : tentang Opini, tentang PLeSiran

Empat hari tiga malam, rasanya sudah cukup lama saya disini, namun nyaris tak kemana mana lantaran males aja keluar hotel. Jauh lebih nyaman berada di kamar 560 dan beristirahat panjang. Satu hal yang tak kan bisa saya dapatkan dalam beberapa bulan ke depan.

Jakarta jauh lebih baik saya lihat. Bersih dan sudah mulai tertata. Semoga pola hidup dan perilaku masyarakatnya bisa mengikuti. Rasanya perjuangan pak Ahok sudah mulai terlihat. Namun tetap saja ada sisi negatif yang selalu dapat diungkap oleh mereka yang berseberangan jalan. Masyarakat yang manja, kurangnya inisiatif untuk bergotong royong, hanya mengandalkan jasa tenaga Tim PPSU, jadi bahan diskusi hangat kami kemarin. Pun soal relokasi di Kalijodo yang infonya kini memunculkan kafe remang remang di sekitar Rusun. Beneran gak ya ?

Sementara itu, di beberapa ruas jalan yang kami lintasi kemarin, tepatnya di Jakarta Selatan, masih banyak titik titik kumuh terlihat dan belum tersentuh penataan dari tangan Pak Gub. Entah apakah karena kewenangan yang tak boleh menjangkau sampai kesitu, ataukah masih menunggu giliran ? Entah ya…
Begitu juga di Jakarta Utara, ungkap pemandu meja kami saat sesi diskusi kemarin sembari menunjukkan beberapa rekaman lensa kekumuhan. Wilayah dimana mantan walikota pak Rustam memimpin ini, saya lihat sama saja kondisinya dengan JakSel tadi. Semoga bisa lebih baik lagi kedepannya.

Saat diskusi menyinggung ke topik RPTRA, program pak Ahok yang diselipkan pak Cucun pemandu meja 7, bahwa pak Gub sedang berupaya membuat ruang sosial bersama masyarakat di setiap kelurahan dengan memanfaatkan lahan negara yang ada, seperti tempat bermain, ruang baca dan interaksi lainnya, langsung mengingatkan saya pada aksi #5kmAhok yang rutin dipublikasi kawan Twitter saya, mas @hariadhi. Bangga banget bisa memamerkan beberapa rekaman foto pada kawan semeja bundar besar terkait realita kemajuan yang dibuat pak Ahok ini.
Satu hal yang tidak pernah mereka amati di akun sosial FaceBook yang getol dilihat pada layar ponsel selama berjalannya sesi diskusi.

Jakarta Pagi ini

Bakalan kangen dengan Jakarta.
Berharap Jakarta bakalan berlanjut dengan era pak Ahok sekali lagi, dan besar pula harapan terselesaikannya konsep transportasi umum macam busway, MRT dan lainnya agar tingkat kemacetan di Ibukota dapat lebih ditekan untuk kenyamanan bersama.
Jika ini berhasil, tentu akan menjadi pilot project, percontohan bagi kota sak-Indonesia lainnya, utamanya di Denpasar Bali, kota kelahiran yang kini tak pelak dilanda macet parah pula. Cuma ya, model pimpinannya juga harus diganti setipe dengan visi misi pak Gub Ahok, Basuki Tjahaya Purnama.

Tumben saya bisa bilang Kangen.
Padahal di kunjungan sebelumnya dan tentu saja catatan harian sebelumnya, males banget kalo sudah ngomongin Jakarta. He…

Dari Kamar 560 Grand Sahid Jakarta

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Damn ! Saya bangun kesiangan hari ini.

Tapi errr… enggak juga sih sebenernya.
Karena meski jam menunjukkan angka 6.35, sesungguhnya dikonversi ke waktu Indonesia bagian Barat alias Jakarta, ini artinya masih di pukul 5.35… masih pagi. Masih ada banyak waktu hingga pukul 8, di Puri Agung Sahid guna melanjutkan sesi kedua Sosialisasi Nasional Kotaku, Kota Tanpa Kumuh.

Pemindahan lokasi ke Grand Sahid sementara jadwal dalam surat tertera Hotel Ambhara, kelihatannya diakibatkan oleh melonjaknya jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan Dirjen Cipta Karya kali ini sehingga memaksa Panitia musti extra keras menangani. Baik secara penginapan maupun hal lain yang melingkupinya.

Namun keseluruhan kelihatannya fine fine aja kok pelaksanaan Diskusi Kelompok yang punya pola mirip Diklat PIM IV tempo hari. Termasuk persoalan makan siang yang turun derajat. Hehehe… tapi ndak apa, semua bisa disesuaikan kok.

Hanya berhubung suhu ruangan akibat AC sentral dalam meeting room tergolong duingin, saya sempat mengalami sakit kepala jelang makan siang, yang langsung dihantam dengan sebutir Nueralgin plus istirahat setengah jam sebelum kembali bergabung dan melanjutkan sesi diskusi.

Proses hari ini selesai lebih awal. Namun karena ndak ada agenda jalan-jalan, waktu luang yang tersisa dimanfaatkan untul beristirahat di kamar 560. Plus memesan layanan Room Service terkait makan malam, lantaran Dinner bagi peserta #SosnasKOTAKU ini ndak masuk dalam agenda hotel. serta membatalkan rencana untuk ikutan Pijat Bersih Sehatnya Grand Sahid di lantai 3 yang kemarin dah sempat dicobain sekali.

Jujur aja, secara pikiran malam ini, saya jauh lebih capek ketimbang sebelumnya. Karena beban akan pekerjaan kantor serta ‘ancaman’ akan pemeriksaan Tipikor sepertinya akan kembali menghiasi hari demi hari saya kedepannya.

Well, kelihatannya saya memang membutuhkan lebih banyak istirahat hari ini. dan kelihatannya pula, Gula Darah saya bakalan naik dalam waktu dekat.
Doakan agar bisa balik ke Bali dalam kondisi sehat ya.

*

Eh iya, untuk kalian yang pengen tau bahasan seharian tadi terkait apa saja, bisa pantau di akun twitter @pandebaik atau di tagar #SosnasKOTAKU
dan doakan pula agar besok bisa Tweet Live lagi agar bisa tuntas laporan notulen ke pimpinan nanti pas balik ngantor. Hehehe…

Jakarta, aku kembali…

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Aku sendiri lupa, kapan perjalanan terakhirku menapak Ibukota Jakarta. Kalo ndak salah saat itu masih ada pak Jokowi yang memimpin. Suasana tentu saja bakalan jauh beda kini, apalagi semenjak pak Ahok memimpin, katanya Jakarta jauh lebih manusiawi.

Jakarta, aku kembali.

Sekali waktu kemarin, sempat mention si @hariadhi di akun Twitter. Bahwa dalam harapanku, ingin sekali melihat Jakarta pasca kepemimpinan pak Ahok yang katanya bermulut comberan itu.
Ini terlontar setelah memantau tagar #5kmAhok yang kerap ia bagi pada kami, para followernya. Satu aktifitas yang menyenangkan tentu saja, sambil berolah raga menguruskan badan, bisa melihat perubahan kota dan lingkungannya.

Dan akhirnya, aku kembali.

Jakarta kini menjadi jauh lebih bersih. Lebih bersahabat secara pandangan mata. Meski macet makin terasa dimana-mana.
Namun demi MRT, rasanya semua pengorbanan jadi lebih berarti. Entah prasangka apa yang terlintas di mata orang-orang pembenci itu.

GA 409, tujuan Jakarta

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Keberangkatan kali ini sama sekali tidak direncanakan. Disposisi turun saat saya mendapati meja kerja Jumat minggu lalu, sesaat setelah mengkonfirmasi Askot PNPM Mandiri Perkotaan Kabupaten Badung pak Gde Puja, bahwa yang akan berangkat adalah Ibu Kepala Bidang. Apa daya perintah berkata lain.

GA 409 PanDe Baik 1

Berangkat Sendiri

Lagi-lagi… yah, Lagi-lagi…
Keberangkatan ini lagi-lagi saya sendirian harus mengarungi waktu, tanpa teman bicara. Tapi ya, let’s Enjoy aja. Dinikmati.
Lagipula dengan perjalanan sendirian macam begini, saya jadi punya waktu lebih banyak untuk menulis, atau mengamati. Kelak satu dua teman duduk pastilah bakalan nyambung untul diajak bicara, kecuali yang bersangkutan wisatawan berkulit kuning.

Wedakarna, Raja Majapahit

Lha, apa pula cerita blog hari ini bisa menyasar ke perwakilan DPD Provinsi Bali yang saban hari nyambangi halaman Adv koran lokal Bali Post ?
Gak sengaja saya melihat bli Weda saat menuju tempat duduk di pesawat Airbus 330 ini. Saya menempati 46 K dekat jendela sebelah kanan, bli Weda menempati kursi deretan paling belakang, 48 J, sebelah lorong. He… siapa sangka bisa bertemu dengan Raja Majapahit di penerbangan kali ini ?
Pastilah penerbangan ini bakalan Sukla selama perjalanannya. *uhuk

Lebih Awal dan Lebih Lama

Perjalanan ini ada kaitannya dengan tugas sebagai abdi masyarakat dalam kaitannya dengan Pencegahan Permukiman Kumuh, kelanjutan program dari P2KP, PNPM Mandiri Perkotaan beberapa waktu lalu.
Sebagaimana surat yang disampaikan oleh Kementrian PU dan Pera, hari pertama acara yang tertera hanyalah Check In di lokasi menginap, Hotel Ambhara Gandaria City. Acara Pembukaan baru mulai besok pagi di Sheraton, entah dimana pula tempat yang satu ini. Mengingat acara yang santai, saya memilih untuk berangkat lebih awal agar tak terburu-buru dalam perjalanan, selain ingin mengenal sekitar hotel jika masih sempat malam nanti. Dekat Blok M katanya ya ?
Dan juga perjalanan ini memakan waktu Lebih Lama dari biasanya. 4 hari 3 malam. Bakalan panjang nih ceritanya…

Kangen 4 Gadis ku

Ya gitu deh, akhir ceritanya.
Istri, si sulung Mirah, si cerewet Intan dan si kecil Ara.
Bakalan kangen banget dengan mereka selama mengikuti workshop kali ini.
Berharap mereka baik-baik saja selama ditinggal jauh.
Kecup kening kalian semua nak…

GA 222 Final Call

Category : tentang PLeSiran

Hampir Aja…
Hampir nasib saya jadi mirip anggota DPRD Jembrana yang tempo hari dikabarkan ketinggalan pesawat hanya gara-gara membeli tahu goreng.
Untungnya gak jadi separah itu.
Hanya karena…

Salah baca Jam. Duh !!!

Ceritanya setiba di Bandara Soekarno Hatta sekitar pukul 9.30 pagi, usai melapor pada petugas transit, sayapun memilih leyeh leyeh di depan outlet Roti’O sambil menikmati segelas kopi di tempat duduk pinggiran. Ini karena saya memperkirakan waktu yang tersedia sambil menunggu jadwal penerbangan berikutnya masih cukup lama. Satu setengah jam. Padahal waktu Check In yang tertera pada tiket adalah 9.10 WIB yang arti sebenarnya adalah sekitar setengah jam lagi.

Damn it. Kenapa saya jadi bodoh begini ?

Saya pikir jam di Jakarta adalah mundur sejam dari Denpasar. Duh !

Usai leyeh leyeh sayapun menunggu di pintu gate luar sambil membaca pengumuman di layar bahwa penerbangan ke Solo yang saya tunggu sudah berstatus Gate Open.

Hingga waktu pada jam tangan menunjukkan pukul 10.20, saya pun berinisiatif masuk ke Gate F2 agar dapat beristirahat sejenak sambil menuliskan unek unek perjalanan lagi. Eh, gak sengaja baca kalo penerbangan GA 222 malah sudah berstatus Final Call. Ealah… dengan setengah berlari sayapun mengkonfirmasi tiket dan antre boarding paling belakang.

Mih… hampir saja ketinggalan pesawat. Untung masih sempat diselamatkan Tuhan tadi ya. Jadi gak bernasib sama dengan anggota DPRD Jembrana itu. He…

Sendirian (lagi)

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

GA 401 tujuan Jakarta… transit sebentar, lalu berpindah ke GA 222 tujuan Surakarta. Solo.

Untuk yang kesekian kalinya, saya berangkat sendirian (lagi). Melewati pagi yang dingin, serta kursi duduk tanpa teman bicara. Semua asyik menatap layar ponsel termasuk saya.

Menanti keberangkatan di Gate 3 pada pukul 6.45 AM, membuat pening kepala akibat mabuk perjalanan menumpangi taksi dari rumah menuju bandara tadi. Benar benar gak nyaman.

Setelah menitipkan tas ransel Navy yang saya beli di Lazada tahun lalu di area bagasi, sayapun berusaha menikmati semua perjalanan yang akan dilakukan hari ini. Menuju kota Solo. Kota dimana pak Presiden kita dahulu berasal.

Solo PanDeBaik 1

Dibandingkan perjalanan sebelumnya, bekal perjalanan kali ini bisa dikatakan lebih ringan. Pengalaman yang didapat pada kisah sebelumnya menjadi data awal. Hanya berharap bahwa lawatan pertama saya ke luar kota tahun ini alan memberikan hasil yang baik bagi semua.

Ohya, keberangkatan saya ada kaitannya dengan penugasan sebagai PPK atau Pejabat Pembuat Komitmen pada PPIP kegiatan Program Pembagunan Infrastruktur Perdesaan, sebagai awal dilaksanakannya kelanjutan sisa kegiatan tahun lalu. Jadi ya… dinikmati saja.