IWAN FALS my HERO (1995 – 2001)

25

Category : tentang InSPiRasi

Memasuki masa perkuliahan, saya mulai mengenal banyak nama yang meramaikan dunia musik baik lokal maupun internasional. Ini akibat pengaruh dari banyak teman yang memiliki selera musik berbeda. Walau begitu nama sosok Iwan Fals masih tetap lekat hadir dalam keseharian.

Pada masa ini pula, akhirnya pelan-pelan saya mulai bisa memahami kata demi kata yang dimaksudkan dalam karya-karyanya. Katakanlah album Swami pertama ada salah satu karyanya yang berjudul ‘Bunga Trotoar’ identik dengan pedagang kaki lima yang menyerbu kota besar. Pula ‘Satu-satu’ yang identik dengan re-generasi kehidupan.

Sayangnya pasca album ‘Orang Gila’ Iwan tak lagi melahirkan album secara pribadi seperti sebelumnya Bisa dimaklumi sebenarnya, lantaran situasi negeri saat itu sedang memanas pasca pengangkatan kembali Soeharto sebagai Presiden. Tampaknya Iwan lebih memilih bersuara lewat kelompok musiknya ketimbang maju sendiri dan hasil akhirnya selalu dicekal.

Katakanlah kolaborasi Iwan Fals bareng Ian Antono dan Franky yang melahirkan ‘Terminal’ dan ‘Orang Pinggiran’. Juga ada ‘Mata Hati’ dan ‘Lagu Pemanjat’. Saya sendiri tak begitu bersemangat tinggi mengoleksi album-album diatas yang nyatanya hanya menyajikan satu buah lagu karya Iwan, sedangkan sisanya hanyalah cover version (lagu Iwan yang dinyanyikan orang lain) atau malah karya pemusik lain.

Begitu pula dengan kelanjutan kelompok musik Kantata yang merilis album kedua mereka yaitu Kantata Samsara, menyajikan satu karya kenangan mengingatkan pada sebuah catatan kelam kematian Udin seorang wartawan.

Apalagi saat era pergantian orde baru menjadi orde Reformasi, kabarnya satu persatu anggota dari kelompok musik Kantata mulai beraktifitas sendiri-sendiri. Djabo misalnya dikabarkan rehat dan memilih pulang kampung kerumah Istri di Australia. Iwan sendiri lebih memilih menenangkan diri dan tidak ikut-ikutan meneriakkan Reformasi seperti halnya yang dilakukan oleh banyak tokoh parpol hingga artis, dari yang dahulunya tak berkutik dan bungkam hingga mereka yang pernah menjadi bagian dari kekuasaan orde baru.

Katakanlah Franky S. Pasca ia ditarik untuk bergabung dalam salah satu parpol kelahiran orde Reformasi, malah mengecam Iwan, dianggap tak berani bersuara lantang, malahan asyik dalam rencana dunia barunya yaitu soal Cinta. Sebetulnya apa yang dilontarkan oleh Franky itu tak ubahnya suara para tokoh yang saat jaman orde baru sama sekali tak berani menyuarakan isi hati mereka dengan lantang dan takut dicekal atau bentrok dengan penguasa. Sebaliknya baru berkoar bahwa ia-lah orang yang paling berani ketika kebebasan berpendapat itu diakui…. dan Iwan kelak akan bersuara yang tak kalah diplomatisnya untuk menjawab semua keraguan dan penilaian orang terhadap dirinya pada masa tersebut.

Terkait ke-vakuman Iwan dalam blantika musik Indonesia, bisa dikatakan bahwa masa perkuliahan yang saya jalani lebih banyak ‘mendengarkan kembali’ satu persatu karya Iwan terdahulu. Mencermati dan mendalami bahkan cenderung menikmati. Terutama karya-karya Iwan yang tak menjadi hits pada jamannya. Katakanlah seperti ‘Berandal Malam di Bangku Terminal’, ‘Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi’, Tolong Dengar Tuhan’ atau ‘1910’.

Saya akui, bahwa sebagian besar dari karya seorang Iwan Fals, sangat berpengaruh besar dalam keseharian, baik sikap dan perilaku yang saya jalani masa perkuliahan. Tak heran jika ada saat-saat saya bersikap romantis setelah mendendangkan tembang cinta karya Iwan Fals, kadang juga bersikap antipati pada lingkungan birokrasi lantaran kritik yang dilontarkan. Bahkan tak jarang nurani saya meledak-ledak dan seakan tidak takut pada apapun, siapapun itu, dan sialnya malahan menjadi berlebihan bagi orang lain…..

Satu sikap yang kelak membuat saya sempat berhadapan dengan orang-orang yang bertindak tidak sesuai dengan aturan….

Iwan Fals bisa dikatakan merupakan satu sosok idola yang kemudian menjelma Kembali menjadi seorang Hero atau pahlawan bagi kehidupan saya pribadi. Terlepas dari ketidakpahaman saya pada satu dua lagu atau karyanya yang hingga kinipun masih blom saya mengerti maksudnya. Hanya saja apa yang saya lakukan tidaklah buta seperti halnya sebagian besar para penggemar sejati satu sosok pemusik atau grup band yang mereka sukai.

Rela mati demi sang idola, bersusah payah merantau agar bisa bertemu sang idola, atau malah berteriak-teriak histeris saat bersua dengannya.

Sekali lagi, Saya hanyalah seorang penikmat atau pendengar karya seorang sosok Iwan Fals, sekaligus mengambil sisi positif dari kesehariannya yang tetap hidup sederhana, dekat dengan lingkungan maupun para penggemarnya dan tetap bersedia untuk memberikan hasil yang terbaik dari kesehariannya. Barangkali juga termasuk sisi kesetiaannya sebagai seorang suami dan seorang Bapak yang baik….

IWAN FALS my IDOL (1988 – 1995)

14

Category : tentang InSPiRasi

Tahun 1988, untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan sebuah suara yang begitu khas dan cukup membuat terhenyak serta mengenyampingkan puluhan kaset lain untuk menjadi prioritas diputar lewat tape merek National milik Bapak. Tentu saja saat itu saya belum tahu siapa orang tersebut, bagaimana dan apa yang dimaksudkan dalam setiap karyanya.

Saya hanyalah seorang pendengar dan penyuka setiap lagu yang ada dalam album ‘Wakil Rakyat’. Album pertama orang tersebut yang saya miliki dan dengarkan. Dari situ pula saya mulai mengenal satu nama yang kelak menjadi IdoLa saya sepanjang masa.

Iwan Fals.

Selain lagu andalan ‘Surat Buat Wakil Rakyat’ yang kala itu mulai menjadi familiar terdengar, ada satu lagu lagi yang menjadi favorit saya untuk dikumandangkan setiap kali acara bebas diruang kelas sebuah SD, tempat saya belajar saat itu. ‘Fakultas Dodol’ begitu judul lagunya. Padahal Sumpah Mati, sebagai seorang anak SD kelas 5, saya sendiri masih belum mengerti apa itu Fakultas, apa itu Koo Ping Hoo dsb. Cuek saja…

Sebenarnya sosok Iwan Fals dikenalkan oleh kakak laki-laki saya yang terpaut usia sepuluh tahun. Dari kakak pula saya bisa mengetahui begitu banyak album yang sudah pernah dikeluarkan (dirilis) dan memaksa saya untuk lebih intens mendengarkan satu persatu karyanya, sekaligus menghafalkan liriknya.

Jadilah saya mulai menyukai lagu macam ‘Kereta Tua’, ‘Nenekku Okem’ atau ‘Lancar’. Sekali lagi saya tegaskan, sumpah mati saya sama sekali gak ngerti dengan arti kata ‘okem’ ataupun ‘pembangunan’. Yang penting nyanyikan saja. He… Sebuah racun yang siap menggetarkan hidup saya kelak.

Menginjak bangku Menengah Pertama, racun itu mulai menjalar. Apalagi kalo bukan dirilisnya album ‘Mata Dewa’ sebuah kerja bareng dengan Setiawan Djody dan Ian Antono. Album yang menyajikan satu-satunya karya Iwan, saya anggap paling romantis dan selalu nikmat didengar kapan saja. ‘Yang Terlupakan’.

Memasuki tahun ‘90an, dunia musik Indonesia seakan digemparkan dengan kehadiran grup band paling kolosal yaitu Kantata Taqwa. Belum lagi kehadiran grup yang kelak menjadi paling fenomenal dalam menyuarakan karyanya, SWAMI. Dua grup yang sebenarnya diisi oleh sekumpulan orang yang sama, hanya saja menyuarakan isi hati mereka dengan gaya yang berbeda. Kegelisahan saya nyatanya kian makin menjadi.

Saya begitu terpana dan terhanyut saat mendengarkan karya ‘Paman Doblang’ atau ‘Air Mata’ sebaliknya begitu enerjik saat melafalkan ‘Bento’ dan ‘Bongkar’.

Saat-saat inilah saya mulai mengenal siapa sebenarnya sosok yang begitu saya kagumi hasil karyanya. Sebagai bukti nyata, saya memulainya dengan mengkliping mengdokumentasikan berbagai berita cerita yang berbau Iwan Fals. Kalau gak salah, artikel pertama yang saya miliki itu saya comot dari majalah Senang. Sebuah majalah yang berisikan kisah unik, aneh dan langka. Artikel tersebut saya simpan dalam sebuah buku gambar murah yang bisa saya beli seminggu sekali, hasil mengumpulkan uang jajan.

Bisa dikatakan, saya merupakan anak sekolahan yang diberi cap ‘ndeso oleh teman-teman seangkatan saat itu. Lantaran saya sama sekali gak mengenal siapa itu Kenny G, Sebastian Bach, Nuno dan deretan nama british yang sama sekali asing ditelinga saya. Sebaliknya menjadi pujaan hati para perempuan saat itu. Sampe-sampe saya ditertawakan saat menyebut alat tiup yang disandang oleh Kenny G adalah Terompet. He…

Akhir masa sekolah menengah pertama saya lewati dengan album milik SWAMI yang ke2 sekaligus album terakhir sebelum mereka membubarkan diri. Album dengan warna cokelat tua tersebut menyajikan lagu ‘Kuda Lumping’ dan iringan khas reog ‘HIO’. Sempat membuat saya tergila-gila saking girangnya.

Memasuki masa Sekolah Menengah Atas, karya Iwan Fals mulai terdengar kurang familiar bagi sebagian orang disekeliling saya. Sebaliknya bagi saya pribadi, Iwan makin menunjukkan karya yang dewasa dan matang. Tak heran hingga hari ini saya begitu memuja sebagian besar album yang dirilis saat itu. Katakanlah album ‘Cikal’, ‘Belum Ada Judul’ yang menampilkan gitar akustik plus harmonika plek khas seorang Iwan Fals, ‘Hijau’ yang rumit, serta ‘Orang Gila’ sebuah karya dimana selalu mengingatkan saya pada keberadaan seorang Galang Rambu Anarki.

Kembali bercerita tentang artikel yang saya kumpulkan, kalo gak salah dari sebuah tabloid dengan nama ‘Monitor’, saya mendapatkan kisah seorang Iwan Fals yang panjang dan memuaskan. Dikemas menjadi 8 bagian yang ditampilkan dalam setiap edisi tabloid tersebut secara bersambung. Waktu itu Iwan Fals baru saja merilis album akustik ‘Belum Ada Judul’. Salah satu artikel yang saya ingat adalah terkait kisah dibalik lagu ‘Coretan di Dinding’ dan juga ‘Lagu Tiga’ pada album ‘Hijau’.

Belum lagi berbagai artikel ekslusif majalah HAI, yang sebagian besar adalah hasil perburuan saya mengobrak abrik koleksi majalah milik seorang teman dan juga merobeknya dari Perpustakaan Daerah, khusus pada edisi lama. Satu kejahatan paling besar yang saya lakukan pada masa itu.

Satu lagi bukti nyata yang makin meyakinkan lingkungan saya dengan seorang sosok bernama Iwan Fals adalah tampilnya poster-poster kain bergambar Iwan Fals terpampang begitu megah di tembok hingga di balik pintu kamar. Tentu saja dalam ukuran besar. Ini lantaran saya sendiri gak puas dengan bonus poster yang saya dapatkan saat membeli berbagai album Iwan Fals saat itu.

Untuk lebih meyakinkan publik, sayapun mencoba menuliskan perjalanan seorang Iwan Fals dari ia merilis album pertama yang saya tahu hingga album ‘Orang Gila’. Tulisan tersebut merupakan tulisan pertama saya yang dipublikasikan lewat majalah sekolah Candra Lekha.

Tulisan yang panjang dan membosankan kata teman-teman waktu itu, berhubung menghabiskan empat halaman majalah untuk menceritakannya. Sebaliknya saya sangat bangga dengan tulisan tersebut, lantaran sempat disebut-sebut saat lomba majalah sekolah yang diadakan Universitas Udayana saat itu.

Akhir masa sekolah yang penuh cerita ini ditutup oleh album ‘DaLbo’, sebuah album karya sempalan anggota grup SWAMI minus Jockie Suryoprayogo yang memilih jalan sendiri lewat albumnya ‘Suket’. Album dengan ilustrasi hijau rumput ini nyatanya tak mampu naik kepermukaan musik Indonesia saat itu.

Pak Tua ‘Bento’ telah meninggalkan Takhtanya

Category : tentang Opini

Bagi mereka yang besar di era tahun 90-an pasti pernah mendengar atopun melafalkan sepotong bait fenomenal bangsa ini, kabarnya sempat pula memunculkan isu dikerangkengnya mereka-mereka yang terlibat dibalik pembuatan lagu ini.Bento.
Buah karya orang-orang yang memilih duduk berseberangan dengan elit pemerintah saat itu, menyuarakan isi hatinya secara lugas sehingga tak jarang membuat panas kuping bagi mereka yang merasa terkena sindiran.

Lahir dengan nama Swami, gabungan musisi papan atas musik Indonesia, macamnya Iwan Fals, Sawung Jabo, Jockie S, Toto Tewel, juga Innisisri, Nanoe dan Naniel, diproduseri oleh siapa lagi kalo bukan konglomerat jaman itu, Setiawan Djody.

Memukau rakyatnya lewat 2 karya apik, Bento dan Bongkar.
Lahir hanya berumur lima tahun setelah menelorkan album ke-2, Kuda Lumping.
Satu album idealis yang mungkin hanya sedikit orang memilikinya masa itu.

Bento boleh jadi menyuarakan betapa berkuasanya sang pimpinan saat itu, walo kemudian setelah rame-rame di media yang memanjangkan kata Bento menjadi ungkapan anti pemimpin negeri, sang maestro membantah dan menjelaskan kalo Bento itu artinya bodoh, entah benar ato tidak.

Sindirian pada pemimpin negeri ini sebenarnya sudah dimulai sejak jaman mas Iwan Fals mengeluarkan album-album pinggiran yang barangkali terlewatkan untuk dimiliki.

Mungkin ada yang pernah mendengar lagu berkisah tentang seorang anak kecil tukang semir sepatu tertidur diseberang Istana sang raja.
Ada juga satu buah karya dari grup Elpamas ‘Pak Tua’ yang kabarnya sang pencipta lagu masih orang yang sama, namun dengan nama yang disamarkan.

Jaman itu, pencekalan sudah dianggap lumrah bagi mereka yang duduk diseberang sang pimpinan negeri.
Begitu banyak kisah yang terdokumentasi berkaitan dengan sang maestro tembang nyelekit, terpanjang mungkin dari salah satu tabloid yang dibredel lantaran menyuarakan hasil jajak pendapat yang menyatakan sang musisi idola menduduki peringkat diatas Maha Pengasih.

Semua itu masih tersimpan rapi di sepuluh buah buku gambar A3 sebagai tempat kumpulan informasi jaman SMP dulu.

Hari ini, Pak Tua yang juga dikenal sebagai Bento telah pergi.
Sepuluh tahun terlewat sejak turun dari takhta negeri ini.
Masih sempat pula menyisakan sekian banyak kroni dari kalangan pejabat hingga tingkat desa kecil sekalipun.
Satu budaya yang seakan membudaya hingga kini masih belum bisa diberantas.
Penyunatan dana dan korupsi merajai sekian banyak kegiatan pembangunan di negeri ini.

Pernah mendengar lagu sang musisi idola tentang Pembangunan negeri ini ?

Cerita perjalanan negeri ini seakan tak pernah habis direkam oleh para musisi yang kini mungkin memilih untuk merenung dan menyuarakan isi hati kedamaian.

Tak seperti mereka yang mengaku Reformis namun baru berani buka suara saat sang raja turun takhta.

Satu komentar yang menggelitik dari sang musisi idola, berkata bahwa di saat suasana memanas seperti sekarang mungkin akan lebih berguna apabila menyuarakan kata Cinta dan Kedamaian dibanding berkoar layaknya pahlawan kesiangan.
Satu kerendahan hati dari seorang maestro yang penampilannya masih ditunggu hingga kini.

Balik pada kenyataan hari ini, mungkin sudah saatnya ‘Pak Tua’ untuk benar-benar beristirahat…

‘Pak Tua sudahlah’. Engkau sudah terlihat lelah, Oh ya….

Selamat jalan Pak.
Panjang titianmu sepanjang penderitaan negeri ini saat Engkau turun dari takhtamu yang berkilau emas.
Semoga tenang berada disana.

Sementara negeri ini masih bergumul dengan hutang dan bencana yang tercipta pada jamanmu.

Iwan 50-50

Category : tentang KeseHaRian

Tahun ini sang Legenda Musik Indonesia kembali merilis album dengan tema lagu yang beragam. Cinta hingga Politik.

Dengan warna cover yang agak-agak aneh- ungu dan pink, dikemas dalam satu cd khusus.

Kalo didengar lebih sering, ada yang sedikit menggelitik. Coba dengar track pertama, ‘Mabuk Cinta’, bagian Reff sangat mirip dengan nada yang dilantunkan pada film cartoon pendek dari Pixar, yang temanya boneka salju.

entah kebetulan ato tidak, mungkin cuman sang pengarang lagu yang tau- Bongky.

Dengan harga 40rb untuk 1 keping cd audio, terasa pas didengar saat lagi jatuh cinta, tapi itu berlaku untuk beberapa track saja. yang lainnya masih terdengar sama dengan album sebelumnya, ‘Manusia Setengah Dewa’. Mungkin juga ini sebagai satu jawaban atas pertanyaan ato sindiran dari penyanyi country lainnya, Franky S.

Mempertanyakan idealisme Iwan yang tak lagi bicara keras lantang berkaitan dengan kondisi bangsa ini, malah lebih banyak berkutat pada tembang Cinta.

Iwan pula sempat mengungkapkan, bahwa disaat situasi memanas seperti saat ini, tak bijak jika lagu yang dirilis makin membuat panas. maka dari itu tembang Cinta pun dipilih untuk memberikan kesejukan bagi masyarakat Indonesia.

Franky boleh-boleh saja bernyanyi begitu keras tentang kondisi politik di Indonesia, namun perlu diingat, bahwa Franky yang dahulu tak selantang ini berkoar, malah bisa dikatakan cenderung tiarap saat masa-masa orde baru. dimana Bang Iwan dkk malah lebih berani menentang pemerintahan saat itu.

Namun kini saat salah satu parpol menggaetnya, mungkin karena merasakan sudah terlindungi, barulah Franky berani bersuara.

Pengecut huh ?

Tentang Artis Musik Fav.

Category : tentang KHayaLan

Ngomong tentang musik tentu gak jauh dari pemusiknya sendiri. Tergantung dari aliran apa atau jenis musik yang bagaimana disukai oleh setiap orang di dunia ini.
Untukku pribadi, musik bisa jadi hiburan nomor satu, setelah itu baru info teknologi, trakhir baru film.Musik aku kenal sejak kecil dari ortu yang sering mendengarkan Elvis maupun Koes Bersaudara. Atau Adi Bing Slamet dan Yoan Tanamal. Tapi semua itu segera berbelok ke satu figur Indonesia yang kata kakak cowok, lagunya asik punya. So, sejak kelas 5 SD, 1987 Iwan Fals ngluarin album Wakil Rakyat, dan ntu album ditelen abis liriknya walo belum bgitu ngerti apa maknanya, sampe-sampe tiap dapet nyanyi dpan kelas, pasti nyanyi lagunya Iwan.

Naik ke sekolah menengah juga atas, nama Iwan tetap ada apalagi saat ngebentuk yang namanya Swami, Kantata juga Dalbo. Wah, kuping gak henti ndengerin walo saat itu grup luar juga lagi berkibar dan aku mengenalnya dari beberapa teman.
Akhirnya sampe awal kuliah, beberapa album dari grup luar pun nyantol di koleksi kaset yang aku beli setiap minggu 1 biji sejak kelas 2 SMA.
Makanya gak heran banyak varian album luar yang aku miliki.
Namun sekali lagi yang namanya Sepultura, Guns n Roses, Nirvana sampe Rancid, masih tetap terdengar hingga kini aku menikah.
Istripun sempat bertanya banyak tentang musik mereka, dan mulai memakluminya setelah nonton bareng vcd maupun dvd nya. Walopun kadang suka protes, ni orang tereak-tereak apa nyanyi ?

Di usia yang udah 28 tahun, koleksi musik yang aku suka pun nambah banyak, gara-gara berteman ama anak band ato yang hobinya ngebanggain Hard Rock juga mendewakan channel musik di teve.

Di usia ini pula, nama besar seorang Iwan Fals, tetap melekat dan tetap dinanti karya barunya.