Polling akun Twitter Bang @iwanfals Bikin Gerah

Category : tentang InSPiRasi

Sosial Media Twitter belakangan ramai pasca dimulainya Gong Pilkada DKI Jakarta yang menyajikan 3 pasangan calon Cagub dan Cawagub. Jadi makin ramai setelah aksi Bela Agama tanggal 4 November lalu yang sepertinya memiliki agenda lain dari apa yang dikoarkan banyak pihak. Namun terlepas dari semua karamaian itu, rupanya ada satu akun yang bisa jadi berawal dari keisengan belaka, sudah membuat jagat Twitter tambah gerah. Akun miliknya Bang Iwan Fals.

@iwanfals terpantau per tanggal 12 November kemarin mengunggah sebuah polling khas Twitter yang menanyakan soal ‘andai pilkada dki dilaksanakan sekarang, siapa pilihanmu ?’
Wiii… ndak kurang dari 38ribuan Votes yang memberikan suara dadakan terkait opsi pilihan yang ada. (20%) agus ; (62%) ahok ; dan (18%) anies. 38,117 votes – Final results. Edan ya ?

Dan bisa ditebak, banyak dari para Follower Legenda Musik Tanah Air ini mempertanyakan balik keberpihakannya setelah melihat hasil Polling. Padahal semua hasil yang terpampang tentu datang dari para netizen baik berstatus follower diantara 930K itu, atau teman si follower. Lucu…

Demi menetralkan suasana, sehari kemudian muncul Polling susulan dari akun yang sama. ‘duh bikin polling kok pada berantem, jadi mending dihapus apa nggak ya pollingnya ?’

Sepuluh persen dari jumlah Votes sebelumnya, menyatakan (24%) hapus ; dan (76%) jangan hapus. 3,310 votes – Final results. Makin heboh deh. Hehehe…

Saking Hebohnya, di hari yang sama muncul lagi Polling baru. ‘Kerja Jokowi ?’ (73%) bagus ; (12%) buruk ; dan (15%) biasa saja. 16,374 votes – 1 hour left (kalian masih boleh Votes saat tulisan ini dibuat, kalo mau).

polling-iwan-fals

‘oke, lanjut ya, tema2 lagu yg menarik ?’ (34%) cinta ; (20%) lingkungan hidup ; (40%) sosial & politik ; dan (06%) religi. 9,444 votes – 4 hours left. Ini membuktikan bahwa sesungguhnya Bang @iwanfals masih dikangeni banyak Followernya untuk membuat karya yang senada kisah perjalanannya ketimbang tema Cinta yang akrab digeluti pasca Reformasi. Hehehe… Tapi yang satu ini ada yang menenggarai hanyalah sebuah Polling Pengalihan Isu dari Polling pertama yang Kontroversial itu.

‘hehe klo boleh tau berapa usiamu’ (3%) 0-17 ; (68%) 18-35 ; (27%) 36-53 ; dan (02%) 54 dstnya. 9,618 votes – 4 hours left.
‘lalu tingkat pendidikanmu’ (2%) sd ; (02%) smp ; (21%) sma ; dan (75%) mahasiswa. 8,909 votes – 4 hours left.
Dua Polling diatas, bisa jadi merupakan satu gambaran umum siapa follower Bang @iwanfals, meskipun secara jumlah pemberi suara gak sebanyak Polling sebelumnya.

‘klo gitu soal 4 juta penonton yg dulu itu gimana ya’ (70%) setuju ; sedangkan (30%) tidak setuju. 5,642 votes – 7 hours left. Khusus Polling ini kalo ndak salah terkait cita-cita yang bersangkutan menggelar konser musik yang sejauh ini masih tertunda.

‘Apakah Ahok Menistakan Agama’ (27%) ya ; (65%) tidak ; dan (08%) bingung. 14,459 votes – 13 hours left. Heladalah… Meskipun Votes masih berlangsung dan mayoritas mengatakan ‘Tidak’, rupanya banyak juga yang mengecam. Baik ditujukan pada pak Ahoknya, maupun pada si pemilik Polling, Bang @iwanfals. Hihihi…

‘oh ya, gimana dgn Habib Rizieq?’ ( 19%) oke ; (68%) nggak oke ; dan (13%) biasa saja. 4,920 votes – 15 hours left. Huahahaha… Polling terakhir yang saya tahu per pagi ini malah menyulut banyak pihak, utamanya mereka yang menganggap objek yang ditanyakan adalah Ulama. Sehingga banyak juga yang menganggap bahwa Bang @iwanfals menghina Ulama.

Padahal jawaban datang dari para Netizen loh… dan Netizen yang memberikan suara pada setiap Polling yang ada, bisa jadi tidak hanya terkonsentrasi di DKI Jakarta atau merupakan Semeton Muslim saja, seperti saya misalkan. Hehehe…

Ruang Tamu, 7.47 PM

Category : tentang DiRi SenDiri

…Satu satu daun berguguran …Jatuh ke bumi dimakan usia
…Tak terdengar tangis tak terdengar tawa
…Redalah reda

…Satu satu tunas muda bersemi …Mengisi hidup gantikan yang tua
…Tak terdengar tangis tak terdengar tawa
…Redalah reda

…denting piano kala -jemari menari …nada merambat pelan di kesunyian malam …saat datang rintik hujan bersama setiap bayang
…yang pernah terlupakan

…Karena lapar kucing hutan menerkam tikus salju …Tikus salju malah mendapatkan teman
…Kucing hutan yang gagal gagal lagi …Tikus salju biasa saja sudah nasibnya selamat

…Dari balik bukit dikaki cemara
…Aku melihat mulut harimau berlumuran darah
…Kucing hutan yang gagal ia terkapar
Akhirnya mati

Iwan Fals in Collaboration with SID Gedor Denpasar

Category : tentang InSPiRasi, tentang Opini

Dibandingkan dengan konser pertama Iwan Fals, the Living legend musisi Indonesia yang diadakan pada bulan April 2003 di panggung terbuka Ardha Candra Denpasar, rasa untuk menyaksikan Mega Konser yang diselenggarakan pada tanggal 27 Oktober 2012 oleh Koperasi Keran kemarin, bisa dikatakan berkurang sangat jauh. Ada keraguan untuk mengambil Tiket Masuk yang ternyata hanya seharga 50ribu rupiah saja, sehingga saya baru memesannya seminggu sebelum pegelaran dimulai.

Bisa jadi lantaran fokus perhatian saya pribadi kini terhadap karya om Iwan Fals sudah mulai berkurang jika dibandingkan era 80/90an dahulu, bisa juga karena faktor kelahiran putri kami yang kedua sehingga ada rasa berdosa jika saya meninggalkan keluarga untuk bersenang-senang sendirian.

Ya, sendirian. Padahal dengan harga tiket masuk yang awalnya dibanderol seharga 100ribu dan naik pada awal Oktober menjadi 125 ribuan, ternyata saya malah mendapatkan dua tiket seharga 50ribu. Lha, trus mau ngajak siapa dong, bathin saya selama seminggu terakhir. Dan kalo memang benar itu seharga 50ribuan, lantas apa saja yang didapatkan bagi pembeli tiket bulan-bulan awal kemarin yah?

Berdasarkan waktu yang tertera pada HTM, kurang lebih penonton diminta hadir pada pukul 18.00 wita, sore hari. Namun beruntung, informasi berlanjut saya dapatkan bahwa Mega Konser om Iwan Fals kali ini rupanya dibuka oleh dua musisi lokal Bali yang namanya sudah beken dikenal, bli bagus Nanoe Biroe dan Trio macan eh punker Superman Is Dead. Artinya besar kemungkinan, om Iwan Fals mendapat jatah manggung paling akhir atau sekitar pukul 20.00 wita. It’s okay, toh mereka berdua juga gag kalah keren dengan om Iwan. Maka agar sempat menyaksikan penampilan keduanya, sayapun berangkat menuju lokasi konser, GOR Ngurah Rai Denpasar sekitar pukul 18.45 wita. Yang sayangnya jauh melenceng dari rencana.

Sampai di lokasi, waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 wita. Waktunya SID tampil nih pikir saya. Namun ternyata meleset sangat jauh. Untuk sekitar 30 menitan berikutnya, saya dan juga beberapa penonton lain disuguhkan sajian iklan tentang koperasi Keran, sang penyelengara yang jujur saja jadi agak aneh mengingat disampaikan di sebuah event konser musik. Sepegetahuan saya selama ini menonton konser, mungkin baru kali ini bisa ditemui presentasi seperti ini :p dan rupanya beberapa penonton yang duduk manis di sekitaran, mengaku sejak nyampe sudah disuguhi sajian macam ini. Lha, musiknya kapan ? :p

Tepat pukul 19.35 wita, Superman Is Dead tampil menggebrak panggung meski dengan jumlah penonton yang masih sangat sedikit untuk ukuran perkiraan saya pribadi. Bisa jadi seperti kata Bobby sang vokalis bahwa ‘tumben nih mereka tampil di event yang memberikan harga Tiket Masuk 50ribuan, yang bisa ditebak pembelinya hanya ‘orang-orang yang sudah taraf dewasa sehingga sulit mengharapkan aksi penonton penuh anarki dan mandi lumpur. Sepanjang pantauan hanya sebagian kecil penonton di barisan depan saja yang melakukan aksi khas sajian konser musik rock. Itupun didominasi anak-anak muda Outsiders yang secara kebetulan tertangkap kamera dalam rentang jangkauan terbatas. Sementara kami yang ada di barisan belakang masih santai duduk manis dan terbengong bengong. Hehehe…

Sambutan baru mulai meriah saat SID menyatakan tampil kolaborasi bareng om Iwan Fals lewat karya Air Mata Api dari album Mata Dewa (1989). Vokal om Iwan yang seharusnya mendominasi lagu ini digantikan oleh Eka sang pembetot Bass SID dengan nada yang tak kalah kerennya. Koor makin menjadi saat karya om Iwan yang kedua dilantunkan secara bersama yaitu Kemesraan dan secara spontan memanas saat dilanjutkan dengan ‘Jika Kami Bersama’.

Yang keren dari penampilan SID malam itu adalah hadirnya Bobby lewat gitar Akustik membawakan karya ‘Jadilah Legenda’ dan Jerink yang sempat mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi alam lingkungan Bali terutama kasus Mangrove yang belakangan menghangat. Sangat menyentuh kawan…

Sekitar pukul 20.30an wita barulah om Iwan Fals bersama band barunya, Toto Tewel, Feri, Raden dan siapa yah yang megang keyboard ? menggedor lapangan GOR Ngurah Rai lewat karya-karya ternama miliknya yang dilantunkan secara bersama-sama di sepanjang lagu. Dari ‘di bawah Tiang Bendera, Hatta, Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi atau Sore Tugu Pancoran dengan cepat dilahap habis oleh barisan Orang Indonesia yang pula datang hadir jauh-jauh ke Bali. Tak lupa karya fenomenal grup Swami dengan Bongkar dan Bento, serta Bunga Trotoar yang masih berasal dari album yang sama.

Penonton baru terdiam saat Iwan melantunkan karya terbarunya ‘Tentang Sampah’ yang sedianya bakalan hadir di album terbaru kelak. Namun tak menunggu waktu lama saat ‘Wakil Rakyat, Aku Sayang Kamu hingga Pesawat Tempurku dilantunkan. Mengagumkan. Diusianya yang kini telah menginjak setengah abad, om Iwan Fals masih setangguh dahulu meski lontaran joke atau sindiran moral sudah gag sekuat dulu.

Yang makin mengagumkan adalah tampilnya Drum Solo mas Raden yang menggebuk drum setnya dengan penuh tenaga tanpa melupakan irama yang dijaga begitu baik. Penampilan ini mengingatkan saya pada set list Drum Solo yang biasanya hadir pada band-band besar dan ternama seperti God Bless aka Gong 2000 lewat Yaya Muktio, Guns N Roses lewat Matt Sorum hingga Queen. Ingatan saya juga melayang ke penggebuk drum era 90an yang mengambil rekor MURI terdahulu.

Saking lamanya om Iwan tampil, gag terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 wita. Usai memperkenalkan cahaya kehidupannya dari Yos sang istri, Cikal putri om Iwan yang jadi judul album tahun 1991, serta Raya putra terakhirnya dimana Galang diyakini berada disekitar kami, Tiga Rambu yang kini menjadi organisasi resmi milik om Iwan, Mata Dewa dilantunkan sebagai tembang pamungkas. Entah apakah setelah karya ini Iwan kembali memberi tambahan setlist seperti halnya konser band ternama lainnya, yang pasti sayapun dengan langkah pasti meninggalkan arena yang rupanya tidak terlalu banyak menghabiskan ruang yang tersedia.

Tampilnya om Iwan Fals di Bali 27 Oktober 2012 kemarin malam, sudah lebih dari cukup buat saya. Rasanya kalopun bakal dilanjutkan sampai pagipun, saya sudah tidak berminat untuk melanjutkan sesi. Rasa kangen pada putri kami yang kedua, mengalahkan segalanya. Maka langkah demi langkahpun saya lakoni untuk pulang. Tak percuma berjalan kaki dari rumah demi sebuah nama besar Iwan Fals.

Jujur, saya masih berharap besar bisa menonton secara langsung konser om Iwan bersama sekian nama besar lainnya yang masuk angkatan Beliau saat masa Orde Baru dulu. Swami, Kantata Takwa atau Dalbo. Bisa jadi ini hanyalah sebuah impian yang brangkali harus saya pendam mengingat kondisi kesehatan mereka yang sudah lanjut usia, atau barangkali bisa menjadi sebuah pe-er bagi siapapun yang kelak ingin mendatangkan Iwan Fals kembali di Bali. Yah, siapa tahu ?

Dari Balik Bukit di Kaki Cemara

Category : tentang DiRi SenDiri

Alunan Harmonika itu terdengar begitu merdu ditelingaku, sebuah tembang lama karya musisi idola seakan mengingatkan pada masa lalu, dimana kesendirian itu masih ada.

‘dari balik bukit di kaki cemara

aku melihat mulut harimau berlumuran darah

kucing hutan yang gagal… ia terkapar…

dan akhirnya… mati…’

bisa jadi lantaran itu pula ‘Pulang Kerja’ lantas menjadi salah satu teman setia yang kudengar saat sedang merasa sendiri…

‘sudah takdir harimau datangi berang-berang

tetapi berang-berang sudah pulang

sementara tikus salju entah pergi kemana

harimau itu kesepian…’


aku terkesima…

aku terkesima…

aku terkesima…

terkesima…

Keseimbangan Iwan Fals meretas Tahun 2010

4

Category : tentang InSPiRasi

Dari 12 (dua belas) lagu yang ditawarkan Iwan Fals dari album terbarunya Keseimbangan, ada 3 (tiga) yang sudah familiar saya dengar. Tiga lagu ini kalau tidak salah pernah didendangkan saat Iwan tampil di layar televisi swasta. ‘Suhu’, ‘Aku Menyayangimu’ dan ‘Kuda Coklatku’. Sayangnya saya agak kurang sreg dengan aransemen musik yang mengiringi ‘Suhu’. Kurang nyambung menurut saya. Bisa jadi lantaran saya lebih suka apabila ‘Suhu’ hanya diiringi dengan gitar bolongnya mas Iwan saja seperti yang dahulu ditayangkan. Selain tiga yang sudah familiar ada tiga lagu lagi yang saya suka saat pertama kali mendengarnya. ‘Ayolah Mulai’, ‘Sepakbola’ dan ‘Jendral Tua’.

Keseimbangan merupakan album terbaru milik Iwan Fals yang dirilis pada pertengahan tahun 2010 ini. Kalo tidak salah ingat ini adalah album yang ke-27, atau bahkan lebih ? satu jumlah yang fantastis untuk ukuran Artis Indonesia juga kalau disandingkan di tingkat dunia. Jumlah album tersebut belum termasuk dengan (kalau tidak salah) 5 album kolaborasi dengan musisi lain seperti Kantata, Swami dan Dalbo. Juga belum termasuk dengan album mini yang hanya menghadirkan satu dua lagu baru dan sisanya diramaikan oleh musisi lain, seperti Terminal, Lagu Pemanjat atau Mata Hati. Dalam versi media kasetnya saya sendiri memiliki sekitar 20-an buah yang masih tersimpan dalam kondisi baik saat ini.

Seperti yang pernah saya ceritakan dalam tiga tulisan tentang Iwan Fals, masa vakum pasca album Orang Gila (1994) hingga penampilan pertama mas Iwan dengan wajah baru (2002), saya sudah mulai jarang menyelami karya-karyanya jauh lebih dalam. Hanya mendengarkannya sepintas begitu saja. Dari satu album yang dirilis paling hanya satu dua lagu saja yang saya suka dan kerap nikmati. Ini jelas satu kebiasaan yang jelas jauh berbeda dengan saat mas Iwan dalam keadaan jaya di tahun 1990-an. Adapun yang album yang menjadi favorit saya hingga kini adalah Cikal (1991) dan Hijau (1993).

Iwan Fals memang sosok yang pantas untuk dikagumi. Terlepas dari karyanya yang terkenal kerap memicu kontroversial. Beberapa teman yang saya jumpai di situs jejaring sosial FaceBook bahkan dengan terang-terangan menyatakan bahwa mereka memang menyukai sosok musisi Indonesia satu ini. Seorang Iwan Fals tampil dengan penuh kesederhanaan dan kharisma yang bersahaja, berteriak lantang dalam nyanyiannya yang multi tema, sedikit mengingatkan saya pada sosok Phil Collins si pelantun tembang Everyday yang easy listening itu.

Ohya, bagi yang mengaku penggemar sejatinya, tiga hari terakhir saya ada menemukan alamat blog PlayList Indo yang menyediakan 4 (empat) buah album lama milik mas Iwan Fals loh. Saya sendiri malah gak punya versi kasetnya. Album Canda dalam Nada (1979), Canda dalam Ronda (1979), Perjalanan (1980) dan 3 Bulan (1981). Kebetulan salah satu tembangnya ‘Perjalanan’ pernah pula dilantunkan mas Iwan di sebuah stasiun televisi swasta saat Lebaran tahun 2008 kalo gak salah. Bagi yang mau mengunduhnya siapkan saja koneksi yang memadai. Total ukuran filenya 95,2 MB untuk keempat album tersebut. Hehehe…

Jakarta oh Jakarta

12

Category : tentang PLeSiran

Tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukan satu tembang yang dapat menggambarkan perasaanku ketika menyusuri Kota Jakarta. Kota yang hampir ditiap titik ruas jalan terjadi kemacetan luar biasa, jauh lebih krodit ketimbang lalu lintas Kota Denpasar. Kota yang dipenuhi rompok rumah kumuh disana sini seakan yang namanya Rencana Tata Ruang Kota tak mampu mengungkung mereka satu persatu, tumbuh bagai rumput liar yang siap merambah setiap jengkal tanahnya. Begitu juga dengan pedagang emper kaki lima seakan tumpah ruah berusaha menjejalkan diri ditengah hiruk pikuknya keramaian Kota.

Iwan Fals, beberapa kali mengungkapkannya lewat lagu yang kurang lebih sudah mampu mewakili hati kecilku. Sambil bersenandung kunikmati pemandangan yang membuatku merasa sangat miris dengan keadaan mereka. Keadaan yang membuat perut lebih digunakan untuk berbicara ketimbang hati.

Angkutan umum berlomba dengan puluhan taksi menaikturunkan penumpang seenaknya, pejalan kaki yang berlarian dikejar waktu atau pedagang liar yang berusaha menghabiskan isi dagangannya, campur aduk dengan bunyi klakson dimana-mana serta hentakan atau hardikan beberapa preman berbaju kaos oblong hitam. Mendadak aku rindu dengan tanah kelahiranku.

Terhenyak menyaksikan seorang anak kecil yang dipukul ibunya lantaran berjoget kegirangan hanya agar anaknya duduk manis dan tidak merepotkannya meminta-minta,  atau malah tersenyum ketika melihat seorang pedagang (mungkin masih lajang) begitu antusias berbicara dengan lawan jenisnya yang juga pedagang di persimpangan dekat jalan tanjakan, membuatku merasa ingin segera pulang dan hadir ditengah gelak tawa putri kecilku serta hangatnya pelukan istri.

Jakarta rusuh ungkap sms seorang teman… kendati tidak mewakili image Kota Jakarta secara keseluruhan seperti halnya tahun 1998 silam, kabarnya para demonstran sampai disemprot water cannon oleh aparat atau riuhnya “anak-anak TK” di gedung perwakilan rakyat tak pelak makin membuatku begitu antipati berada disini.

Aku rindu tanah kelahiranku… rindu akan hangatnya lingkungan yang kendati berada dalam garis hidup yang pas-pasan, namun keramahan itu tetap ada.

I K R A R tentang Kau dan Aku

26

Category : Cinta

“…meniti hari.. meniti waktu…

Membelah langit.. belah samudra…

Ikhlaslah Sayang.. kukirim kembang…

Tunggu aku.. Tunggu aku…

Penantianmu.. Smangat Hidupku…

Kau Cintaku.. Kau Intanku…”

Gak terasa sudah menginjak tahun keempat, kami menjalani hidup untuk saling mengisi saling melengkapi. Banyak hal yang terjadi selama itu, namun bersyukur kami tetap bisa menjaga agar jalan yang dilalui tetap berada pada jalurnya.

Hidup berumah tangga itu ternyata susah.

Susah karena kami harus memilih untuk memprioritaskan satu dua kepentingan bersama diatas keinginan dan ego pribadi. Susah karena kerap kepentingan bersama itu tak enjoy kami lakukan, demi menjaga harkat dan martabat keluarga. Demi anak dan masa depan kami kelak.

Hidup berumah tangga itu ternyata gampang.

Gampang karena kami ternyata masih mampu untuk saling berbagi, tetap mengerti satu sama lain. Gampang karena masih banyak keluarga, family dan teman yang berkenan membantu ketika kesulitan satu persatu harus kami hadapi.

Sudah Empat tahun ya…

“…do’a kan lah sayang… harapkanlah manis…

Suamimu… Suami yang baik…”

(IKRAR – Iwan Fals / Album ‘Belum Ada Judul 1992)

untuk ALit Ayu Kusumadewi, untuk perkawinan kita yang ke-4…

I LOVE U…

IWAN FALS my LEGEND (2001 – today)

7

Category : tentang InSPiRasi

Masih pada masa kevakuman akan kehadiran sosok idola saya, Iwan Fals, bisa dikatakan hanya album-album kolaborasi saja yang hampir dinikmati hari kehari. Salah satu album yang saya paling sukai bahkan hingga kini adalah Kantata Takwa, album yang kabarnya dibesut pula menjadi sebuah film kolosal dan tentu saja terkena cekal pada jamannya. Entah apakah film tersebut jadi diedarkan pada tahun 2008 silam.

Iwan Fals Kembali… begitu rata-rata headline berita pada media cetak yang saya baca.

Kembalinya sang idola sudah saya nantikan sejak lama. Sayangnya dua karya pertama yang dirilis sama sekali bukan sesuatu yang baru, melainkan hasil ‘pencerahan’ warna musiknya saja. ‘Kumenanti Seorang Kekasih’ dan ‘Entah’, diaransemen ulang mengikuti perkembangan musik terkini, agar bisa diterima oleh telinga orang-orang baru yang kelak diharapkan bisa menjadi penikmatnya. Bahkan video klipnya kental dengan suasana hijau lingkungan dan putihnya kostum sang idola makin menguatkan kesegaran yang diinginkan.

April 2003, di ulang tahun yang ke-25 saya mendapatkan hadiah yang paling mengesankan. Konser Iwan Fals Live in Denpasar. Ini adalah pertunjukan pertama seorang Iwan Fals yang saya tonton. Kalau tidak salah, saat itu merupakan tour untuk promosi album studio pertamanya di era milenium. “Suara Hati”. Saking gembiranya, saya bahkan ikut melafalkan dengan suara yang keras hingga membuat mangkel beberapa penonton disekitar saya… “ini nonton Iwan Fals atw nonton orang tereak sih ?” He… barangkali bisa jadi begitu bathin mereka. But, cuek aja, toh dari sekian banyak lagu yang dibawakan malam itu, gak semuanya mereka tahu, kecuali sang penggemar. He…

Juni 2003, luapan kegembiraan saya makin menjadi. Indosiar menayangkan penampilan perdana secara Live di stasiun teve. Untuk menanti ini pula saya bela-belain membeli sebuah teve Tuner agar bisa merekam penampilan Iwan Fals secara Live di Indosiar tersebut. Sayangnya saking girangnya saat tayangan tersebut, suara sumbang saya ikut terekam dalam hasil video. Syukur, seorang sahabat ikutan merekam penampilan sang idola dalam bentuk audio mp3. Jadilah file tersebut saya copy dan dendangkan hingga saat ini. Gak Cuma lirik, suasananya pun masih saya ingat hingga kini. Edan kan ?

Pasca penampilan Live Iwan Fals di stasiun teve Indosiar tersebut, bisa dikatakan entah berapa kali sang idola mulai rajin tampil di stasiun teve lainnya. He…gak percuma saya beli Teve Tuner. Jadi punya beberapa dokumentasi Live sang Idola lengkap dengan siaran iklannya. Huahahaha…

Album “Suara Hati” bisa jadi sebagai pembuka jalan bagi seorang Iwan Fals untuk kembali pada penggemarnya. Sebagai kelanjutannya ada sekitar 3 album full studio yang dirilis plus 3 album kompilasi yang menyajikan karya terbarunya.

kaset-iwan-fals-2005

“in Collaboration With” yang menampilkan sejumlah musisi untuk diajak kerja bareng, mereka menciptakan dan mengaransemen ulang lagu baru maupun lama dari album sebelumnya dan Iwan Fals yang menyanyikannya. Ada juga “Manusia Setengah Dewa” album akustik yang diluncurkan hampir berbarengan dengan Pemilu lima tahun lalu, tak lupa album “50-50” yang dikemas dalam warna-warna segar.

Kumpulan Tembang Cinta karya Iwan Fals yang dahulu barangkali sudah pernah dirilis dalam bentuk kompilasi, diperbaharui dengan menambahkan dua tembang baru masih bertemakan tentang cinta.

Iwan Fals maen film ? he… pasca film “Damai Kami Sepanjang Hari” dan tentu saja “Kantata Takwa”, Iwan muncul kembali dalam sebuah film lokal yang pula bertemakan Cinta, dan merilis sebuah tembang “Aku Milikmu”.

Tak hanya dunia film yang dijajaki oleh seorang Iwan Fals. Bahkan sampai ke rentang iklan motor pun Iwan Fals tampaknya masih menarik untuk didekati. Entah karena memang ketokohannya yang mengisnsiparasi banyak orang dalam sikap dan perilaku mereka, tak heran majalah luar TIME pun mendaulat Iwan sebagai salah seorang ‘Heroes’ bagi masyarakat Asia, khususnya Indonesia. Sebuah penghargaan yang sangat tinggi dan pantas saya rasa.

Akhirnya Mereka menyebutnya sebagai ‘The Legend’. Seorang musisi yang menjadi sebuah legenda, dan hingga kini masih ada dan tetap berusaha eksis untuk menyuarakan isi hatinya pada jalur yang konsekuen. Secara pribadi, rasanya semakin salut saja yang bisa saya ucapkan.

Belakangan tampaknya Iwan Fals masih tetap berusaha menyapa penggemarnya lewat sebuah karya yang didedikasikan untuk kaum terpinggirkan, mereka yang dilanda kemiskinan “Untukmu Terkasih”.

Walaupun bagi sebagian besar penikmat album-album Iwan Fals sejak dahulu hingga kini mengatakan Iwan Fals sudah kehilangan gregetnya ketimbang album klasik terdahulu”, tetap saja sosok Iwan Fals menjadi sebuah legenda yang tetap hidup didalam hati saya.

iwan

Seorang sosok yang selama ini selalu menginspirasi saya, menemani hari-hari untuk tetap berbuat jujur dan terbaik bagi siapapun. Barangkali kelak untuk Bangsa ini. Semoga.

IWAN FALS my HERO (1995 – 2001)

25

Category : tentang InSPiRasi

Memasuki masa perkuliahan, saya mulai mengenal banyak nama yang meramaikan dunia musik baik lokal maupun internasional. Ini akibat pengaruh dari banyak teman yang memiliki selera musik berbeda. Walau begitu nama sosok Iwan Fals masih tetap lekat hadir dalam keseharian.

Pada masa ini pula, akhirnya pelan-pelan saya mulai bisa memahami kata demi kata yang dimaksudkan dalam karya-karyanya. Katakanlah album Swami pertama ada salah satu karyanya yang berjudul ‘Bunga Trotoar’ identik dengan pedagang kaki lima yang menyerbu kota besar. Pula ‘Satu-satu’ yang identik dengan re-generasi kehidupan.

Sayangnya pasca album ‘Orang Gila’ Iwan tak lagi melahirkan album secara pribadi seperti sebelumnya Bisa dimaklumi sebenarnya, lantaran situasi negeri saat itu sedang memanas pasca pengangkatan kembali Soeharto sebagai Presiden. Tampaknya Iwan lebih memilih bersuara lewat kelompok musiknya ketimbang maju sendiri dan hasil akhirnya selalu dicekal.

Katakanlah kolaborasi Iwan Fals bareng Ian Antono dan Franky yang melahirkan ‘Terminal’ dan ‘Orang Pinggiran’. Juga ada ‘Mata Hati’ dan ‘Lagu Pemanjat’. Saya sendiri tak begitu bersemangat tinggi mengoleksi album-album diatas yang nyatanya hanya menyajikan satu buah lagu karya Iwan, sedangkan sisanya hanyalah cover version (lagu Iwan yang dinyanyikan orang lain) atau malah karya pemusik lain.

Begitu pula dengan kelanjutan kelompok musik Kantata yang merilis album kedua mereka yaitu Kantata Samsara, menyajikan satu karya kenangan mengingatkan pada sebuah catatan kelam kematian Udin seorang wartawan.

Apalagi saat era pergantian orde baru menjadi orde Reformasi, kabarnya satu persatu anggota dari kelompok musik Kantata mulai beraktifitas sendiri-sendiri. Djabo misalnya dikabarkan rehat dan memilih pulang kampung kerumah Istri di Australia. Iwan sendiri lebih memilih menenangkan diri dan tidak ikut-ikutan meneriakkan Reformasi seperti halnya yang dilakukan oleh banyak tokoh parpol hingga artis, dari yang dahulunya tak berkutik dan bungkam hingga mereka yang pernah menjadi bagian dari kekuasaan orde baru.

Katakanlah Franky S. Pasca ia ditarik untuk bergabung dalam salah satu parpol kelahiran orde Reformasi, malah mengecam Iwan, dianggap tak berani bersuara lantang, malahan asyik dalam rencana dunia barunya yaitu soal Cinta. Sebetulnya apa yang dilontarkan oleh Franky itu tak ubahnya suara para tokoh yang saat jaman orde baru sama sekali tak berani menyuarakan isi hati mereka dengan lantang dan takut dicekal atau bentrok dengan penguasa. Sebaliknya baru berkoar bahwa ia-lah orang yang paling berani ketika kebebasan berpendapat itu diakui…. dan Iwan kelak akan bersuara yang tak kalah diplomatisnya untuk menjawab semua keraguan dan penilaian orang terhadap dirinya pada masa tersebut.

Terkait ke-vakuman Iwan dalam blantika musik Indonesia, bisa dikatakan bahwa masa perkuliahan yang saya jalani lebih banyak ‘mendengarkan kembali’ satu persatu karya Iwan terdahulu. Mencermati dan mendalami bahkan cenderung menikmati. Terutama karya-karya Iwan yang tak menjadi hits pada jamannya. Katakanlah seperti ‘Berandal Malam di Bangku Terminal’, ‘Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi’, Tolong Dengar Tuhan’ atau ‘1910’.

Saya akui, bahwa sebagian besar dari karya seorang Iwan Fals, sangat berpengaruh besar dalam keseharian, baik sikap dan perilaku yang saya jalani masa perkuliahan. Tak heran jika ada saat-saat saya bersikap romantis setelah mendendangkan tembang cinta karya Iwan Fals, kadang juga bersikap antipati pada lingkungan birokrasi lantaran kritik yang dilontarkan. Bahkan tak jarang nurani saya meledak-ledak dan seakan tidak takut pada apapun, siapapun itu, dan sialnya malahan menjadi berlebihan bagi orang lain…..

Satu sikap yang kelak membuat saya sempat berhadapan dengan orang-orang yang bertindak tidak sesuai dengan aturan….

Iwan Fals bisa dikatakan merupakan satu sosok idola yang kemudian menjelma Kembali menjadi seorang Hero atau pahlawan bagi kehidupan saya pribadi. Terlepas dari ketidakpahaman saya pada satu dua lagu atau karyanya yang hingga kinipun masih blom saya mengerti maksudnya. Hanya saja apa yang saya lakukan tidaklah buta seperti halnya sebagian besar para penggemar sejati satu sosok pemusik atau grup band yang mereka sukai.

Rela mati demi sang idola, bersusah payah merantau agar bisa bertemu sang idola, atau malah berteriak-teriak histeris saat bersua dengannya.

Sekali lagi, Saya hanyalah seorang penikmat atau pendengar karya seorang sosok Iwan Fals, sekaligus mengambil sisi positif dari kesehariannya yang tetap hidup sederhana, dekat dengan lingkungan maupun para penggemarnya dan tetap bersedia untuk memberikan hasil yang terbaik dari kesehariannya. Barangkali juga termasuk sisi kesetiaannya sebagai seorang suami dan seorang Bapak yang baik….

IWAN FALS my IDOL (1988 – 1995)

14

Category : tentang InSPiRasi

Tahun 1988, untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan sebuah suara yang begitu khas dan cukup membuat terhenyak serta mengenyampingkan puluhan kaset lain untuk menjadi prioritas diputar lewat tape merek National milik Bapak. Tentu saja saat itu saya belum tahu siapa orang tersebut, bagaimana dan apa yang dimaksudkan dalam setiap karyanya.

Saya hanyalah seorang pendengar dan penyuka setiap lagu yang ada dalam album ‘Wakil Rakyat’. Album pertama orang tersebut yang saya miliki dan dengarkan. Dari situ pula saya mulai mengenal satu nama yang kelak menjadi IdoLa saya sepanjang masa.

Iwan Fals.

Selain lagu andalan ‘Surat Buat Wakil Rakyat’ yang kala itu mulai menjadi familiar terdengar, ada satu lagu lagi yang menjadi favorit saya untuk dikumandangkan setiap kali acara bebas diruang kelas sebuah SD, tempat saya belajar saat itu. ‘Fakultas Dodol’ begitu judul lagunya. Padahal Sumpah Mati, sebagai seorang anak SD kelas 5, saya sendiri masih belum mengerti apa itu Fakultas, apa itu Koo Ping Hoo dsb. Cuek saja…

Sebenarnya sosok Iwan Fals dikenalkan oleh kakak laki-laki saya yang terpaut usia sepuluh tahun. Dari kakak pula saya bisa mengetahui begitu banyak album yang sudah pernah dikeluarkan (dirilis) dan memaksa saya untuk lebih intens mendengarkan satu persatu karyanya, sekaligus menghafalkan liriknya.

Jadilah saya mulai menyukai lagu macam ‘Kereta Tua’, ‘Nenekku Okem’ atau ‘Lancar’. Sekali lagi saya tegaskan, sumpah mati saya sama sekali gak ngerti dengan arti kata ‘okem’ ataupun ‘pembangunan’. Yang penting nyanyikan saja. He… Sebuah racun yang siap menggetarkan hidup saya kelak.

Menginjak bangku Menengah Pertama, racun itu mulai menjalar. Apalagi kalo bukan dirilisnya album ‘Mata Dewa’ sebuah kerja bareng dengan Setiawan Djody dan Ian Antono. Album yang menyajikan satu-satunya karya Iwan, saya anggap paling romantis dan selalu nikmat didengar kapan saja. ‘Yang Terlupakan’.

Memasuki tahun ‘90an, dunia musik Indonesia seakan digemparkan dengan kehadiran grup band paling kolosal yaitu Kantata Taqwa. Belum lagi kehadiran grup yang kelak menjadi paling fenomenal dalam menyuarakan karyanya, SWAMI. Dua grup yang sebenarnya diisi oleh sekumpulan orang yang sama, hanya saja menyuarakan isi hati mereka dengan gaya yang berbeda. Kegelisahan saya nyatanya kian makin menjadi.

Saya begitu terpana dan terhanyut saat mendengarkan karya ‘Paman Doblang’ atau ‘Air Mata’ sebaliknya begitu enerjik saat melafalkan ‘Bento’ dan ‘Bongkar’.

Saat-saat inilah saya mulai mengenal siapa sebenarnya sosok yang begitu saya kagumi hasil karyanya. Sebagai bukti nyata, saya memulainya dengan mengkliping mengdokumentasikan berbagai berita cerita yang berbau Iwan Fals. Kalau gak salah, artikel pertama yang saya miliki itu saya comot dari majalah Senang. Sebuah majalah yang berisikan kisah unik, aneh dan langka. Artikel tersebut saya simpan dalam sebuah buku gambar murah yang bisa saya beli seminggu sekali, hasil mengumpulkan uang jajan.

Bisa dikatakan, saya merupakan anak sekolahan yang diberi cap ‘ndeso oleh teman-teman seangkatan saat itu. Lantaran saya sama sekali gak mengenal siapa itu Kenny G, Sebastian Bach, Nuno dan deretan nama british yang sama sekali asing ditelinga saya. Sebaliknya menjadi pujaan hati para perempuan saat itu. Sampe-sampe saya ditertawakan saat menyebut alat tiup yang disandang oleh Kenny G adalah Terompet. He…

Akhir masa sekolah menengah pertama saya lewati dengan album milik SWAMI yang ke2 sekaligus album terakhir sebelum mereka membubarkan diri. Album dengan warna cokelat tua tersebut menyajikan lagu ‘Kuda Lumping’ dan iringan khas reog ‘HIO’. Sempat membuat saya tergila-gila saking girangnya.

Memasuki masa Sekolah Menengah Atas, karya Iwan Fals mulai terdengar kurang familiar bagi sebagian orang disekeliling saya. Sebaliknya bagi saya pribadi, Iwan makin menunjukkan karya yang dewasa dan matang. Tak heran hingga hari ini saya begitu memuja sebagian besar album yang dirilis saat itu. Katakanlah album ‘Cikal’, ‘Belum Ada Judul’ yang menampilkan gitar akustik plus harmonika plek khas seorang Iwan Fals, ‘Hijau’ yang rumit, serta ‘Orang Gila’ sebuah karya dimana selalu mengingatkan saya pada keberadaan seorang Galang Rambu Anarki.

Kembali bercerita tentang artikel yang saya kumpulkan, kalo gak salah dari sebuah tabloid dengan nama ‘Monitor’, saya mendapatkan kisah seorang Iwan Fals yang panjang dan memuaskan. Dikemas menjadi 8 bagian yang ditampilkan dalam setiap edisi tabloid tersebut secara bersambung. Waktu itu Iwan Fals baru saja merilis album akustik ‘Belum Ada Judul’. Salah satu artikel yang saya ingat adalah terkait kisah dibalik lagu ‘Coretan di Dinding’ dan juga ‘Lagu Tiga’ pada album ‘Hijau’.

Belum lagi berbagai artikel ekslusif majalah HAI, yang sebagian besar adalah hasil perburuan saya mengobrak abrik koleksi majalah milik seorang teman dan juga merobeknya dari Perpustakaan Daerah, khusus pada edisi lama. Satu kejahatan paling besar yang saya lakukan pada masa itu.

Satu lagi bukti nyata yang makin meyakinkan lingkungan saya dengan seorang sosok bernama Iwan Fals adalah tampilnya poster-poster kain bergambar Iwan Fals terpampang begitu megah di tembok hingga di balik pintu kamar. Tentu saja dalam ukuran besar. Ini lantaran saya sendiri gak puas dengan bonus poster yang saya dapatkan saat membeli berbagai album Iwan Fals saat itu.

Untuk lebih meyakinkan publik, sayapun mencoba menuliskan perjalanan seorang Iwan Fals dari ia merilis album pertama yang saya tahu hingga album ‘Orang Gila’. Tulisan tersebut merupakan tulisan pertama saya yang dipublikasikan lewat majalah sekolah Candra Lekha.

Tulisan yang panjang dan membosankan kata teman-teman waktu itu, berhubung menghabiskan empat halaman majalah untuk menceritakannya. Sebaliknya saya sangat bangga dengan tulisan tersebut, lantaran sempat disebut-sebut saat lomba majalah sekolah yang diadakan Universitas Udayana saat itu.

Akhir masa sekolah yang penuh cerita ini ditutup oleh album ‘DaLbo’, sebuah album karya sempalan anggota grup SWAMI minus Jockie Suryoprayogo yang memilih jalan sendiri lewat albumnya ‘Suket’. Album dengan ilustrasi hijau rumput ini nyatanya tak mampu naik kepermukaan musik Indonesia saat itu.

Pak Tua ‘Bento’ telah meninggalkan Takhtanya

Category : tentang Opini

Bagi mereka yang besar di era tahun 90-an pasti pernah mendengar atopun melafalkan sepotong bait fenomenal bangsa ini, kabarnya sempat pula memunculkan isu dikerangkengnya mereka-mereka yang terlibat dibalik pembuatan lagu ini.Bento.
Buah karya orang-orang yang memilih duduk berseberangan dengan elit pemerintah saat itu, menyuarakan isi hatinya secara lugas sehingga tak jarang membuat panas kuping bagi mereka yang merasa terkena sindiran.

Lahir dengan nama Swami, gabungan musisi papan atas musik Indonesia, macamnya Iwan Fals, Sawung Jabo, Jockie S, Toto Tewel, juga Innisisri, Nanoe dan Naniel, diproduseri oleh siapa lagi kalo bukan konglomerat jaman itu, Setiawan Djody.

Memukau rakyatnya lewat 2 karya apik, Bento dan Bongkar.
Lahir hanya berumur lima tahun setelah menelorkan album ke-2, Kuda Lumping.
Satu album idealis yang mungkin hanya sedikit orang memilikinya masa itu.

Bento boleh jadi menyuarakan betapa berkuasanya sang pimpinan saat itu, walo kemudian setelah rame-rame di media yang memanjangkan kata Bento menjadi ungkapan anti pemimpin negeri, sang maestro membantah dan menjelaskan kalo Bento itu artinya bodoh, entah benar ato tidak.

Sindirian pada pemimpin negeri ini sebenarnya sudah dimulai sejak jaman mas Iwan Fals mengeluarkan album-album pinggiran yang barangkali terlewatkan untuk dimiliki.

Mungkin ada yang pernah mendengar lagu berkisah tentang seorang anak kecil tukang semir sepatu tertidur diseberang Istana sang raja.
Ada juga satu buah karya dari grup Elpamas ‘Pak Tua’ yang kabarnya sang pencipta lagu masih orang yang sama, namun dengan nama yang disamarkan.

Jaman itu, pencekalan sudah dianggap lumrah bagi mereka yang duduk diseberang sang pimpinan negeri.
Begitu banyak kisah yang terdokumentasi berkaitan dengan sang maestro tembang nyelekit, terpanjang mungkin dari salah satu tabloid yang dibredel lantaran menyuarakan hasil jajak pendapat yang menyatakan sang musisi idola menduduki peringkat diatas Maha Pengasih.

Semua itu masih tersimpan rapi di sepuluh buah buku gambar A3 sebagai tempat kumpulan informasi jaman SMP dulu.

Hari ini, Pak Tua yang juga dikenal sebagai Bento telah pergi.
Sepuluh tahun terlewat sejak turun dari takhta negeri ini.
Masih sempat pula menyisakan sekian banyak kroni dari kalangan pejabat hingga tingkat desa kecil sekalipun.
Satu budaya yang seakan membudaya hingga kini masih belum bisa diberantas.
Penyunatan dana dan korupsi merajai sekian banyak kegiatan pembangunan di negeri ini.

Pernah mendengar lagu sang musisi idola tentang Pembangunan negeri ini ?

Cerita perjalanan negeri ini seakan tak pernah habis direkam oleh para musisi yang kini mungkin memilih untuk merenung dan menyuarakan isi hati kedamaian.

Tak seperti mereka yang mengaku Reformis namun baru berani buka suara saat sang raja turun takhta.

Satu komentar yang menggelitik dari sang musisi idola, berkata bahwa di saat suasana memanas seperti sekarang mungkin akan lebih berguna apabila menyuarakan kata Cinta dan Kedamaian dibanding berkoar layaknya pahlawan kesiangan.
Satu kerendahan hati dari seorang maestro yang penampilannya masih ditunggu hingga kini.

Balik pada kenyataan hari ini, mungkin sudah saatnya ‘Pak Tua’ untuk benar-benar beristirahat…

‘Pak Tua sudahlah’. Engkau sudah terlihat lelah, Oh ya….

Selamat jalan Pak.
Panjang titianmu sepanjang penderitaan negeri ini saat Engkau turun dari takhtamu yang berkilau emas.
Semoga tenang berada disana.

Sementara negeri ini masih bergumul dengan hutang dan bencana yang tercipta pada jamanmu.