Menjajal iPhone 4 (Replika)

14

Category : tentang TeKnoLoGi

iPhone 4 (Replika) yang saya pegang kali ini bisa dibilang sebagai KW 1-nya iPhone 4 milik Apple yang dijual tiga kali gaji saya saat ini. Mengapa demikian ?

setelah mengingat-ingat atau membandingkannya dengan Replika iPhone 3GS yang tempo hari  sempat saya tulis pula disini, secara tampilan awal dan Packagingnya jelas jauh lebih meyakinkan ketimbang yang terdahulu. Charger original, pinset kecil pembuka slot simcard yang berada di sisi samping ponsel dan juga tanpa bekal batere dan stylus tambahan. Sempurna.

Demikian dengan tampilan Icon dan Menu yang menjadi Ciri Khas milik iPhone. Baik Setting, Camera maupun Phone, Contact dan keypad virtual-nya. Sangat jernih dan memuaskan. Begitu pula dengan cara pemindahan ShortCut icon Menu aplikasi antar HomeScreen dan aplikasi yang disertakannya. Saya malah menemukan Talking Tom, aplikasi favorit MiRah putri kami di ponsel Android, yang mampu menirukan suara si pembicara dalam versi Pro atau Full. Atau aplikasi yang hanya sebagai hiasan Jahil semata seperti Zippo, sebuah korek gas yang dapat dibuka, nyalakan dan tutup kembali dengan cara memperlakukan ponsel seperti memperlakukan sebuah korek api. Semua memang tampak meyakinkan, begitu pula Single Sim Card yang makin membuat saya terkagum-kagum plus keberadaan TV Digital (bukan Analog, yang biasanya menjadi ciri khas sebuah ponsel China).

Sayang, kekaguman saya pelan tapi pasti sirna begitu melihat tampilan File Manager yang tidak mendukung pengoperasian yang sederhana dan cepat khas ponsel iPhone, begitu pula dengan tampilan Browser bawaan Safari. Sangat mirip dengan tampilan File Manager serta Browser ponsel China.

Baru menyadarinya ketika saya mencoba mengutak atik Pengaturan Network dan Profile Manager yang memang penuh dengan tampilan tulisan China lengkap dengan keypad huruf China-nya. Waduh…

Mengingat ini adalah sebuah ponsel Replika, pantas saja saya tak menemukan icon App Store-nya sejak awal. Lantas, bagaimana bisa aplikasi Talking Tom dan Zippo yang saya temukan sebelumnya bisa hadir di ponsel ? hal inilah yang menjadi pertanyaan besar bagi saya hingga hari ini.

Meski demikian, satu petunjuk penting yang saya dapatkan lebih lanjut adalah, ponsel Replika ini hanya mendukung aplikasi atau games yang berbasis Java saja. Buktinya terdapat icon Menu Java Manager lengkap dengan isinya (file aplikasi dan games Java) dan juga di beberapa folder yang terdeteksi dalam File Manager, memang benar bahwa terdapat beberapa file Jar dan Jad didalamnya. Sayang, hingga ponsel ini dikembalikan, saya tak menemukan cara untuk membuatkan icon Menu shortcut dari aplikasi ataupun games yang telah berhasil diinstalasi.

Keunikan lainnya adalah Tampilan besaran Memory yang ada di File Manager adalah 32 GB. Sangat mantap tentu saja. Namun saya tak menemukan cara bagaimana memeriksa berapa memory yang tersisa dari besaran 32 GB tersebut, karena meskipun saya jejalkan beberapa file audio melalui perangkat Bluetooth, tetap saja File Manager menyatakan sisa yang sama. 32 GB. Ealah…

Dunia Maya memang berhasil saya akses melalui pengaturan pada Jaringan (Network) dan Profile SIM Card yang digunakan, namun ada satu kendala yang saya temukan di perjalanan dan jujur saja kendala ini bisa dikatakan sangat mengganggu aktifitas saya untuk terkoneksi ke dunia maya, yaitu Profile yang kerap berubah sendirinya ke Pengaturan Default. Padahal pengaturan sebelumnya sudah tersimpan dan berhasil dijalankan. Awalnya saya sempat menduga bahwa perubahan ini sebagai dampak melakukan aksi Restart Ponsel, namun segera terpatahkan ketika Restart tak jua saya  lakukan dalam waktu yang lama. Pengaturan tetap kembali dengan sendirinya, sehingga untuk bisa terkoneksi kembali ke dunia maya, pengguna mutlak melakukan perubahan pada Pengaturan Profile Sim Card lagi secara manual. Sangat merepotkan tentu saja.

Kamera yang disematkan cukup besar, 2 Mega Pixel. Ditambah keberadaan lampu Flash pula. Namun lampu ini akan menyala secara terus menerus saat Pengaturan Flash diaktifkan. Tidak aktif secara otomatis saat gambar diambil.

Beberapa icon menu yang sebelumnya saya akses memang benar sangat mirip dengan tampilan Menu iPhone yang original. Namun tidak demikian halnya dengan icon menu lainnya. Beberapa tidak dapat diaktifkan mengingat sulitnya terhubung dengan Jaringan (mungkin karena perubahan Profile diatas), beberapa lainnya malah menampilkan huruf pada sekujur layar termasuk opsi pilihan dalam tampilan huruf China. Jelas ini sangat menyulitkan, meskipun Setting Pengaturan Bahasa yang dipergunakan pada ponsel sudah diatur ke English.

Naik turunnya daya tahan batere sebagai asupan daya utama juga membuat saya kebingungan, karena prosentase tidak pernah lebih dari 40% meski sudah di-Charge agak lama. Pun demikian saat berada pada low level atau sekitar 10%-an secara mendadak naik menjadi 17/18%.

Bagusnya, secara tampilan layar Menu atau HomeScreen, pengguna dapat melakukan perubahan Wallpaper ataupun tampilan Menu (sejenis Launcher) secara cepat dengan melakukan Tap atau sentuh pada salah satu icon Menu yang disediakan.

Menariknya tampilan luar namun ketahuan belangnya jika ditelusuri lebih dalam, membuat saya dapat memberikan saran yang sederhana saja. Gunakan seperlunya dan sebisa mungkin agar terlihat pada lingkungan sekitar secara sepintas bahwa benar ponsel yang digunakan merupakan iPhone 4 rilis terbaru. Silahkan bolak balik bodi ponsel dan mainkan. Atau gunakan Leather Case atau Hard case untuk lebih meyakinkan. Namun jika bisa, proteksi dengan pin atau password agar ketika ponsel digenggam orang, yang bersangkutan tidak dapat mengakses ponsel lebih lanjut. Mudah kan ?

Urusan Bergaya dan Gengsi tetap bisa dilakukan walau dengan harga yang tak sampai satu juta rupiah, hehehe…

Kerennya Godaan iPhone 4 (replika)

6

Category : tentang TeKnoLoGi

“Kesan Pertama, Begitu Menggoda…  Selanjutnya, Terserah Anda…”

Siapa nyana jika ponsel Apple iPhone 4 yang saya pegang awal bulan Agustus alu ternyata hanyalah sebuah Replika ?

Berawal dari telepon seorang Sepupu yang minta tolong untuk Setting Internet pada ponsel iPhone yang ia punya, lantaran setelah dibawa ke Rimo Trade Centre, gag satupun toko yang mampu melakukannya. Pikir saya saat itu sederhana saja. Sesulit itukah ?

Pertama melihat, sudah jelas sangat meyakinkan. Beberapa kali dibolak balik, pelan tapi pasti saya merasa kagum dengan penampilannya. Saat di-Compare sejajar dengan Samsung Galaxy Ace milik saya, betapa terlihat perbedaan yang tak mencolok saat dilihat secara seksama. Hanya dari ukuran, dan bentukan tombol saja.

Yang kemudian makin membuat saya tambah kagum adalah icon dan warna yang ditampilkan. Sangat jernih dan halus. Begitu pula dengan pergerakan antar halaman menu dan mencoba membuka beberapa icon yang memang menjadi ciri khas dari ponsel iPhone 4.

Sayangnya, semua kepalsuan dari sebuah Replika iPhone 4 ini baru saya ketahui saat membuka Menu jauh lebih dalam. Hampir saja ditawar balik dan tertipu. Hehehe…

Beberapa diantara yang membuat saya makin yakin adalah menu Browser bawaan atau yang disebut dengan Safari, tampilannya kok mirip dengan ponsel China ? begitu pula dengan File Manager-nya yang plek buatan China. Barulah saya ngeh, mengapa tak satupun Toko di Rimo Trade Centre mampu melakukan Setting Internet pada ponsel ini.

Selama setengah jam saya melakukan akses menu bolak balik, tak jua menemukan cara yang pasti. Namun, satu keyakinan saya bahwa, sebuah ponsel China memang memerlukan dua atau tiga kali Pengaturan untuk bisa terhubung dengan dunia maya. Tidak seperti ponsel Branded Global yang begitu mudah.

Namun kukuhnya usaha yang saya lakukan berbuah manis. Ponsel iPhone 4 Replika ini benar-benar bisa terhubung dengan dunia maya meski teramat sangat lelet. Sayapun diberikan keleluasaan mengoprek lebih jauh oleh siempunya ponsel, dengan harapan yang bersangkutan bisa terhubung dengan FaceBook kapan saja.

Siap Ndan. Jawab saya saat itu. Dan bersyukur banget, kalo saya diberi kesempatan untuk menjajalnya lebih jauh. Mau tahu bagaimana kelanjutannya ? simak di tulisan berikutnya. :p

iPhone yang selalu Terdepan

Category : tentang TeKnoLoGi

Bisa dikatakan dengan dirilisnya iPhone sebagai salah satu alternatif alat komunikasi beberapa tahun lalu, secara dominan mampu mengubah wajah Teknologi yang selama ini selalu dikuasai oleh sang raja, Nokia. Apalagi kalau bukan berkat teknologi layar sentuhnya yang mampu dilakukan hanya dengan mengandalkan sentuhan jari manusia.

Perwajahannya yang simpel namun memikatpun tampaknya ikut menularkan Trend di beberapa perwajahan ponsel vendor-vendor besar lainnya. Tak kurang Nokia, Samsung, LG, Motorola, Sony Ericsson bahkan pendatang baru HTC pun seakan tak mau kalah, ikut-ikutan latah merilis ponsel terkini mereka berbekal layar sentuh yang lapang dan minim tombol. Meski ada juga beberapa yang kelihatannya mencoba menawarkan satu input text messaging yang lebih baik lewat thumbboard QWERTY slidernya.

Seperti halnya BlackBerry, setahun lalu iPhone tak banyak menawarkan fitur terkini dalam rilis ponsel mereka. Secara default, resolusi kamera yang hanya sebatas 2 Mega Pixel bahkan tak mampu digunakan untuk merekam video, tanpa flash pula. Beberapa keterbatasan kemampuan yang melingkupi koneksi Bluetoothnya pernah pula saya ungkap ketika berkesempatan memegang langsung versi 3G-nya.

Dibanding kompetitor lain, iPhone dikenal pelit merilis ponsel baru setiap tahunnya. Ini dibuktikan dengan minimnya rilis ponsel iPhone yang ada hingga kini. Terhitung  iPhone versi awal (2G) (2007), iPhone 3G (2008), 3GS (2009) dan terakhir iPhone 4 (2010). Sedikitnya seri ponsel yang dirilis iPhone, secara tidak langsung menciptakan ekslusifitas disetiap versinya. Hal ini mirip dengan brand premium Vertu yang terkenal dengan kualitas dan kemampuannya yang ‘beda’.

Seperti halnya perangkat tablet iPad, iPhone 4 merupakan rilis ponsel terkini  yang dinanti kehadirannya oleh banyak orang. Sayang, di awal perkenalannya iPhone 4 dihantam isu rentannya posisi antenna yang mengakibatkan hilangnya sinyal ketika ponsel dipegang. Celah Kelemahan ini bahkan sempat menjadi bulan-bulanan kompetitor lain seperti Nokia yang mempromosikan ponsel mereka dengan tambahan ‘Anda bisa memegangnya dari mana saja. Untuk mengatasi hal ini, pihak iPhone kemudian memberikan bonus gratis case pembungkus yang mampu meminimalkan hilangnya sinyal saat ponsel digunakan. Kabarnya keputusan ini diambil ketimbang menarik produksi yang sudah kadung beredar atau mengubah desain dan merilis ulang.

Meski demikian, kecanggihan yang ditawarkan iPhone 4 tetap tidak bisa dipandang sebelah mata. Dari kecerahan dan ketajaman layar, dibandingkan dengan seri terdahulu jauh lebih baik. Pula dengan resolusi layar plus kamera yang jauh lebih besar. 5 (lima) Mega Pixel ditambah kemampuannya merekan video High Definition  720 30fps. Sudah begitu, beberapa keluhan yang sempat tampil di ponsel terdahulu, rata-rata sudah dapat diatasi. Multitasking ataupun video call kini sudah bukan lagi merupakan sebuah kelemahan. Hanya saja untuk bisa menggunakan iPhone 4 dengan baik, dibutuhkan sedikit pengorbanan dari Pengguna, memotong kecil kartu Sim Card yang mereka gunakan sebelumnya.

Iphone 4 agaknya masih menjadi yang terdepan untuk urusan Trend dan juga Prestise.