4Shared Ilegal nan Menakjubkan

7

Category : tentang TeKnoLoGi

Sembari menanti selesainya urusan Download seratusan edisi majalah PlayBoy dan PentHouse via Torrentz beberapa waktu lalu, agar koneksi XL Unlimited yang saya gunakan tidak mubazir, salah satu pelampiasan tambahan yang dituju adalah 4Shared.

4Shared merupakan penyedia penyimpanan berkas dalam sebuah jaringan yang ternyata berasal dari Ukraina dan didirikan pada tahun 2005. Setidaknya demikian informasi yang saya dapatkan lewat Wikipedia. Adalah Alex Lunkov dan Sergey Chudnovsky yang memiliki peran besar dalam mengelola 5.300.234 pengguna, 11.000.222 kunjungan harian serta 940 TerraBytes berkas yang disimpan didalamnya.

4Shared memungkinkan aktifitas mengunggah (upload) dan mengunduh (download) berkas yang tersimpan dalam jaringan tersebut dengan menggunakan Perambah Web (Browser). Bagi pengguna gratisan seperti yang saya lakukan, setiap kali mencari dan mengunduh berkas, 4Shared memberikan batasan waktu menunggu dari 30 hingga maksimum 399 detik untuk menampilkan link yang kemudian digunakan untuk mengambil berkas.

Dalam dua bulan terakhir setidaknya sekitar 20 GB berkas yang saya dapatkan melalui 4Shared. Untuk bisa mewujudkan itu semua, tentu saja peran terbesar yang dibutuhkan adalah koneksi yang stabil (Terima Kasih untuk XL Unlimited), dan juga waktu untuk menanti proses pengunduhan selesai.

Terlepas dari sifat berkas yang iLegal, semua yang saya dapatkan melalui 4Shared ini cukup membuat hari-hari saya jauh lebih berwarna, karena banyak hal baru yang saya jumpai atau memang sudah saya nantikan sejak lama. Katakan saja album musik. Dari Soundtrack film tahun jadul seperti Lion King, My Girl, Days of the Thunder yang salah satunya terdapat tembang lawasnya Guns N Roses, hingga GodFather jilid 1,2 dan 3. Pula dari tahun terkini seperti empat edisi Fast and Furious, tiga edisi Pirates of the Caribbean, atau enam edisi Harry Potter. Tak lupa beberapa album Soundtrack yang barangkali sempat terdengar familiar bagi pembaca setia blog ini, lantaran sempat pula saya tuliskan beberapa waktu lalu. Detroit Metal City atau malah Need For Speed Undercover.

Tidak hanya Soundtrack Film yang menjadi sasaran, namun juga beberapa album punk lawas jaman saya kuliah dan sekolah dahulu. Beberapa diantaranya terdapat album pertama dari The Exploited, Kemuri, Rancid, Nofx atau malah album kompilasi Punk O Rama yang kaset aslinya hilang entah kemana. Demikian halnya dengan album Live Concert dari para musisi ternama, akustik dan Unplugged. Tercatat tidak kurang total ada 90-an album musik yang mampu diambil lewat 4Shared. Menakjubkan bukan ?

Puas menghabiskan berkas musik yang terdapat dalam jaringan 4Shared, sasaran selanjutnya adalah aplikasi Portable (yang tidak memerlukan proses Instalasi dan ketergantungan sistem) juga beberapa Games era 2000-an awal yang dahulu barangkali tak sempat saya cicipi. Hasilnya lumayan, dari photoshop CS 4, AutoCad 2008, hingga kumpulan aplikasi portable lainnya berhasil saya manfaatkan dengan baik. Demikian juga dengan Games unik seperti ReVolt (race Tamiya), Tank Racer, Sky Force (yang dulu kerap saya mainkan di ponsel Symbian 6600 gembul) dan juga Theme Hospital.

Games yang saya sebutkan terakhir ini, dahulu merupakan salah satu games bertipe Strategy yang paling saya sukai. Dengan interface yang sederhana, pola permainannya sempat memberikan gambaran awal ‘Bagaimana cara membangun sebuah Rumah Sakit’ untuk mendukung proses pembuatan tugas salah satu mata kuliah di jurusan Arsitektur. Studio Perancangan VI dengan ‘Perencanaan Rumah Sakit bertaraf Internasional’. Hehehe…

Kendati proses pengunduhan berkas sudah mencapai Gigabytes yang keduapuluh, saya pribadi masih belum merasa puas dengan itu. Karena memang masih banyak hal menakjubkan (walaupun berstatus iLegal) yang terdapat didalamnya. Ada yang mau nitip ?

Playboy Magazine (ternyata) jauh lebih sopan ketimbang Penthouse

6

Category : tentang TeKnoLoGi

Playboy lagi, Playboy lagi. Tapi yakin deh, ini tulisan terakhir saya yang menceritakan tentang aksi heboh www.pandebaik.com selama bergelut dengan Torrentz, Playboy Magazine hingga PentHouse.

PentHouse ?

Kata terakhir yang saya sebutkan diatas, bagi yang masih belum familiar, kurang lebih bermakna sama dengan halnya Playboy Magazine. Sebuah majalah yang kabarnya dianggap sebagai kategori Pornografi dan katanya mampu merusak pikiran generasi muda bangsa Indonesia hingga sampai sel terkecil sekalipun sehingga dirasa perlu untuk dibabat habis dengan ancaman Undang-Undang.  Sayapun baru teringat dengan PentHouse ketika edisi Playboy yang terdownload sudah mencapai space 3 GB.

Dibandingkan dengan Playboy Magazine baik itu yang merupakan edisi rilis resmi USA, Argentina, Cheko, Greece, Philipina, Mexico hingga Slovenia ataupun edisi bonus tahunannya, ternyata PentHouse jauh lebih vulgar baik dari tema, isi tulisan, data pendukung hingga pose wanita telanjangnya. Hingga jujur saja saya malah jadi enegh saat berusaha menikmatinya halaman demi halaman. Bikin panas dingin…

Aura vulgarnya bahkan sudah terasa ketika pembaca membuka halaman demi halaman sedari awal. Makin menjadi ketika halaman makin dalam. Meski Tema yang diangkat beragam, namun gambar ataupun foto pendukungnya jauh lebih menantang bahkan sudah mengarah pada (maaf) hubungan seks. Berbeda jauh dengan apa yang disajikan dengan Playboy.

Kartun atau gambar sket khas majalah luarpun tergolong banyak tertampil di Playboy Magazine, lengkap dengan satu kalimat di bagian bawah gambar, yang lumayan membuat pembaca tersenyum simpul. Tidak demikian halnya dengan PentHouse. Nyaris 75 persen gambar ataupun foto yang terpampang, mampu membuat para pria normal yang membacanya (termasuk saya tentu saja) menelan ludah dan cepat-cepat membuka halaman berikutnya. Bukan bagaimana, tapi khawatir jika pikiran malah mulai keterusan mengarah ke aksi Pornografi.

Tidak hanya pada liputan utama, tapi juga tulisan pendukung dan iklan tentu saja. Lay outnya sendiri mengingatkan saya pada sebuah majalah gadget local yang kerap menurunkan liputan hal-hal konyol di seputaran kita, hanya sekedar mengingatkan betapa bodohnya manusia percaya pada hal-hal yang bisa dikatakan fenomenal. Begitu pula dengan PentHouse.

Menjual gambar atau pose wanita sexy telanjang dan terekam dalam satu eksemplar majalah barangkali tergolong ‘menarik’ untuk ukuran pria normal di Indonesia yang dikungkung oleh Undang-Undang dan Peraturan serta norma Agama. Sayangnya sepengetahuan saya, larangan itu hanya diperuntukkan bagi Playboy Indonesia saja. Barangkali jikapun kelak PentHouse berkeinginan sama dengan Playboy, ingin melebarkan sayap ke Indonesia, saya yakin bakalan bernasib sama. Dikepruk sebelum diterbitkan. Apalagi seumpama masih mempertahankan gaya liputan mereka seperti yang saya gambarkan diatas.

Padahal kalo Pemerintah dan juga para pembela Norma itu mau jeli, banyak kok tabloid esek-esek yang dijual walau secara sembunyi-sembunyi tak kalah menyajikan pose syur, cerita mesum atau bahkan iklan yang mampu menaikkan syahwat pembacanya. Tapi terlepas dari itu, Playboy Magazine (ternyata) jauh lebih sopan ketimbang PentHouse. Gag percaya ? Donlot aja via Torrentz. Hehehe…

Playboy Magazine, antara Porno atau Nilai Seni ?

7

Category : tentang TeKnoLoGi

Apa yang terlintas di benak Anda ketika saya menyebutkan dua kata kunci yang kabarnya mampu menurunkan sekompi pasukan Front Pembela Islam beberapa waktu lalu ?

“ Playboy Magazine “

Sebutan yang kurang lebih bermakna sama dengan Majalah Playboy (versi Indonesia) ini, benar-benar diidentikkan dengan majalah porno, mesum hingga tak sejalan dengan norma agama bangsa kita Indonesia. Walaupun ada sebagian kecil pendapat yang menyatakan bahwa ‘itu adalah sebuah karya seni yang diakui Dunia’. Wah, mana yang benar nih ?

Bagi saya sih ya bergantung pada pola pikir si pembaca saja kok. Kalo sedari awal memang sudah meyakini bahwa Playboy Magazine atau Majalah Playboy ini isinya full porno, buka-bukaan vulgar, atau gambar wanita telanjang ya saya yakin otakpun bakalan langsung terlintas adegan mesum kendati halaman yang pertama dibuka menyajikan iklan sebuah kendaraan keluaran terkini atau bahkan gambar sebuah botol minuman, sambil tak sabar terus membuka halaman satu persatu secara cepat hingga menemukan apa yang terpikirkan. ‘nah, benar kan apa yang saya katakan ?’ ujar si otak. Hehehe…

Menyimak perkembangannya dari beberapa tahun edisi yang saya dapatkan, terlihat jelas perbedaan kualitas gambar, penampilan majalah hingga penampilan wanitanya tentu saja. Bayangkan, dari tahun 1978 hingga tahun 2011 saya nikmati satu persatu meski tidak semua.

Memang saya akui bahwa dalam beberapa halaman di setiap edisi Playboy Magazine ini, jelas terdapat pose ataupun gambar telanjang para wanita yang mengundang jatuh air liur setiap pria normal di belahan dunia manapun. Namun informasi yang tertuang dalam sekian banyak halaman lainnya tak melulu soal pornografi dan seisinya. Seperti juga majalah dewasa lainnya, informasi seputar hobby ataupun kemaniakan para pria normal terhadap benda diluar wanitapun ada tertampil dalam layout yang memikat. Mencirikan  khas majalah luar, bathin saya. Jika masih bingung dengan bagaimana tampilannya tanpa ingin melihatnya langsung, bayangkan saja majalah lokal seperti Popular, Tempo ataupun RollingStones.

Benda yang saya maksudkan disini berupa mobil mewah gres keluaran brand ternama, motor besar, gadget, ponsel hingga asesoris seperti kacamata ataupun Tuxedo. Bagi yang belum masuk terlalu dalam ke seisi majalah, barangkali malah berpendapat sebaliknya ‘masa sih majalah Playboy edisi USA isinya hanya kaya’gini ?’ saya berani Taruhan loh.

Maka, seperti halnya puluhan majalah bertema khusus lainnya seperti M2 atau Cinemagz yang menjual informasi tentang film, Hai tentang Remaja atau bahkan Tempo yang menjual soal Politik, Hukum dan sebagainya, PlayBoy Magazine pun demikian. Hanya saja memang topic atau bahkan gambar pendukung yang berupa pose wanita telanjang bisa dikatakan sangat jarang kita saksikan di negeri sendiri secara langsung atau bahkan dianggap melanggar norma-norma kesusilaan. Meski sedari tampilan gambar dan halaman bagi saya malahan mampu mengundang decak kagum atas cara pengambilan angle, obyek hingga rasanya sayang jika isi majalah langsung habis ditelan dalam hitungan menit. Musti dicermati dan dinikmati dulu.

Seperti kalimat saya diatas, ya kembali pada pikiran si pembaca saja kok. Kalo memang sedari awal sudah beranggapan bahwa majalah Playboy atau diluar dikenal dengan sebutan Playboy Magazine merupakan majalah yang biasa-biasa saja seperti tag blog saya diatas, ya gag banyak emosi kok yang terasa. Kalopun kemudian mata disuguhkan pose wanita sexy nan menantang ya anggap saja itu semua sebagai Bonus atas kebosanan yang ada dari halaman pertama. Itu saja.

XL Unlimited + Torrentz = Playboy Magazine ?

4

Category : tentang TeKnoLoGi

Sejak resmi bercerai dengan koneksi cdma milik Indosat, StarOne Unlimited, praktis hari-hari saya saat berinteraksi di dunia maya ditemani oleh dua koneksi gsm Indosat IM2 dan XL Unimited. Sayangnya, meski biaya bulanan IM2 Indosat jauh lebih besar ketimbang XL Unlimited, dari segi kecepatan baik saat masih dalam batas Kuota ataupun saat penurunan kecepatan, XL nampaknya lebih mampu menunjukkan taringnya dengan lebih baik. Padahal Indosat itu dimiliki orang luar loh. Mungkin itu sebabnya saya lebih kerap menggunakan koneksi XL ketimbang IM2 untuk semua aktifitas internetan.

Seperti halnya pertama kali menggunakan koneksi StarOne ataupun IM2 Indosat, sudah bisa ditebak sayapun kesetanan dalam memanfaatkan kecepatan koneksi XL Unlimited dan praktis Kuota pun terlampaui dalam waktu singkat. Terbanyak saya manfaatkan untuk mengunduh aplikasi Emulator system operasi ponsel (Symbian 5th Edition dan Symbian ^3) termasuk simulator iPhone dan juga iPad. Disamping itu, sayapun membongkar gudang milik 4Shared, meluapkan hasrat untuk memiliki konten illegal dari album music artis kenamaan era 80 atau 90an. Hasilnya lumayan. Tak kurang dari 70 album soundtrack film, aliran rock hingga punk saya dapatkan dengan sukses termasuk beberapa diantaranya memang sangat ingin saya miliki sejak remaja dulu.

Puas mengubek-ubek halaman 4Shared, sayapun berpindah ke Torrentz. Hal ini saya lakukan ketika koneksi mulai diturunkan seiring penghabisan jatah Kuota bulanan lantaran aksi sedot 4Shared itu. Torrentz  saya jadikan pelampiasan mengingat aksi sedot via p2p itu bisa berjalan hingga selesai tanpa aksi putus atau mengulang proses. Maksudnya, ketika laptop dimatikan tanpa memutuskan koneksi, aplikasi pengunduh Torrentz ini secara otomatis akan menyimpan proses tanpa membatalkannya. Lantas, ketika laptop dinyalakan dan koneksi tersambung, proses pengunduhan akan secara otomatis dilanjutkan hingga selesai tanpa perlu di-Resume. Bagi yang belum familiar dengan istilah Torrentz, silahkan mampir ditulisan saya terdahulu ya.

Trus, kenapa bisa sampai “XL Unlimited + Torrentz = Playboy Magazine ? “

Ini gara-gara keisengan saya seperti halnya saat mencoba 4Shared. Hanya karena kehabisan ide untuk mencari konten download, dari album music, soundtrack film, live concert, akustik hingga Tribute, pilihanpun beralih pada majalah, buku ataupun e-Book gratisan yang ada dalam database mereka. Hingga akhirnya tercetus jua dua kata kunci paling fenomenal sepanjang karir aksi download dunia maya secara pribadi. ‘Playboy Magazine’.

Hasilnya Maknyus. Hanya dalam waktu tiga hari, Torrentz mampu menyedot 142 edisi majalah Playboy dari tahun 1978 (ini tahun kelahiran saya) hingga terbitan gres 2011. Itupun tidak terurut dengan baik, bercampur dengan edisi Lingerie, Nudes dan juga PentHouse. Total space yang dihabiskan sekitar 3,7 GB. Rencananya aksi ini bakalan terus saya lanjutkan hingga genap seukuran satu keping dvd-r atau 4,40 GB. Do’akan saja. Hehehe…

‘Ada Rahasia di balik Rahasia” kurang lebih begitu kata Bang Ali di sinetron Islam KTP yang belakangan menjadi tontotan favorit putri kami, MiRah GayatriDewi. Bukan PanDe Baik pula jika aksi yang saya lakukan ini tanpa tujuan selain maksiat, bakar syahwat dan sejenisnya. Lagi-lagi atas dasar penasaran, ingin tahu dan pada akhirnya malah menjadi pembelajaran untuk bahan BLoG www.pandebaik.com. Setidaknya mampu memberikan warna lain sejauh perjalanan yang telah saya lakoni sejak Mei 2006 lalu. Tidak hanya soal FaceBook, FourSquare ataupun MiRah putri kami, tapi juga ingin mencoba yang jauh lebih panas dan menggelinjang. Hihihi…

Bye Bye My StarOne Unlimited

28

Category : tentang TeKnoLoGi

Akhirnya diceraikan juga. Setelah hampir tiga tahun saya menggunakannya, koneksi internet StarOne Unlimited, saya putuskan untuk dihentikan pertengahan bulan lalu. Terhitung bulan Juni tahun 2008 saya mencoba paket penjualan modem Speed Up yang bekerja sama dengan StarOne Indosat, menawarkan koneksi internet cuma Rp. 25 per menit pemakaiannya. Dengan Standar biaya Rp. 100.000, saya berhak mendapatkan 66 jam pemakaian. Sangat memuaskan tentunya.

Sayangnya, promo tersebut hanya berlaku untuk tiga bulan pertama saja. Selanjutnya, tarif berlaku normal sebesar Rp. 75 per menit pakainya. Bersyukur, pihak Indosat memberikan tawaran yang cukup menarik saat itu. Dengan biaya sebesar Rp. 108.000 (sudah termasuk PPn), saya mendapatkan jatah sebesar 1 GB Data dengan kelebihan dihitung sebesar Rp.300 per MB data.

Di awal penggunaan, jatah sebesar itu mampu saya kelola dengan baik selama sebulannya. Baru terasa mencekik ketika aktifitas saya mulai meningkat terkait penyelesaian Thesis yang memang mutlak membutuhkan koneksi Internet. Biaya bulanan melonjak hingga dua kali lipatnya. Lagi-lagi bersyukur, karena pihak Indosat menawarkan paket Unlimited data dengan biaya Cuma Rp. 125.000 sebulannya. Informasi ini secara kebetulan saya dapatkan dari seorang kawan Blogger asal Cirebon, Pak Dokter Basuki Pramana yang telah terlebih dahulu meng-Apply paket tersebut.

Maka terhitung pada bulan Juli 2009, saya resmi menggunakan paket Unlimited ini dan benar-benar terpuaskan. Meskipun yang namanya kecepatan tidak secepat Speedy atau Telkomsel Flash yang lagi booming saat itu, namun kestabilan koneksinyalah yang membuat saya begitu jatuh cinta. Tidak heran, pemakaian data yang saya habiskan setiap bulannya meningkat secara teratur. Kalau tidak salah data yang saya gunakan sempat mencapai 9,5 GB setara dengan 270-an jam pemakaian. Saya sempat deg-degan juga saat pembayaran, tapi ternyata tarifnya berlaku tetap.

Adalah unit baru LPSE yang kini sedang dikembangkan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Badung, tempat dimana saya bekerja, memberikan fasilitas modem plus koneksi internet IM2 selama setahun, mengakibatkan saya menempuh jalan ‘perceraian’ ini. Meskipun pada awalnya, saya bersikukuh untuk tetap menggunakan modem Speed Up plus koneksi StarOne Unlimited yang rencananya kelak saya hibahkan pada Istri, namun kemudian muncul dua pertimbangan baru yang membatalkan niat saya tersebut.

Koneksi StarOne Unlimited ternyata gak se-stabil yang saya dapatkan sebelumnya, ketika digunakan di ruangan lokasi kerja Istri yang kebetulan berada di lantai 2 dari 3 lantai. Padahal ketika saya gunakan baik dirumah ataupun ruangan tempat saya bekerja (lantai 3), koneksi selalu stabil dan memuaskan. Pertimbangan kedua adalah, terjadinya Konflik internal pada kedua laptop yang saya gunakan, antara modem cdma Speed Up dengan modem gsm Huawei E1550 IM2. Akibatnya, selang beberapa hari percobaan, modem gsm dengan koneksi IM2 tidak dapat digunakan dengan baik lantaran kalah bertarung dengan modem lama. Kedua laptop pada akhirnya saya instalasi ulang berbarengan.

Ketimbang merepotkan, sayapun memutuskan kontrak dengan StarOne Unlimited plus Modem cdma Speed Up dan dengan segera menggantinya dengan modem gsm bertipe sama untuk menghindari terjadinya Konflik. Modem baru berwarna putih ini sama plek dengan modem gsm yang diselipkan koneksi internet IM2 Unlimited. Hanya saja, untuk mengisi koneksi pada modem si putih, saya mencoba memilih paket Unlimited milik XL yang Cuma sebesar Rp. 99.000 sebulannya. Meski sepengetahuan saya, yang namanya Unlimited pada kedua operator gsm ini, bukanlah Unlimited seperti halnya StarOne yang berkecepatan tetap.

Baik IM2 maupun XL sama-sama menawarkan paket 3G mereka yang dikenal dengan kecepatan akses data yang tinggi. Namun ketika jatah yang digunakan mencapai Kuota, secara otomatis kecepatan 3G tersebut akan turun secara drastis ke 64 kbps. Jauh lebih rendah ketimbang StarOne yang berani tetap stabil di kecepatan 153 kbps. Itu sebabnya ketika Kuota IM2 habis dan kecepatan mulai terasa menjengkelkan, sayapun berpindah ke XL untuk sementara waktu sembari menanti habis bulan. Yah, mau bagaimana lagi ?

Berburu Video Musik lawas via YouTube

9

Category : tentang KeseHaRian

Kemajuan Teknologi bak pisau bermata dua. Sama-sama tajam, bergantung dari sisi mana orang menggunakannya. Seperti halnya FaceBook, disatu sisi sebagian orang yang mengatasnamakan agama menganggapnya haram untuk diakses, disisi lain orang banyak memetik manfaat sebagai sarana berbagi dan berteman. Demikian pula dengan YouTube.

Portal video terbesar ini sebenarnya jika dilihat dari sisi positif, dapat digunakan untuk berbagi kisah bagi sanak saudara yang berada jauh ribuan kilometer diseberang benua. Video MiRah GayatriDewi putri kami misalnya. Jika dicari dengan menggunakan kata kunci namanya, tak kurang dari 30-an video dapat dilihat dan ditonton untuk mengetahui tumbuh kembangnya sedari lahir hingga usia dua setengah tahun ini. Tak percaya ? coba saja. :p

Saya pribadi sejak mengenal koneksi StarOne Unlimited, sepuasnya tanpa kuota dan penurunan kecepatan, lebih banyak menghabiskan jatah hanya untuk mengunduh music videos ketimbang menontonnya langsung. Ini lantaran dari segi kecepatan koneksi yang saya gunakan tidak mampu melakukan streaming (proses menjalankan video) tanpa jeda seperti halnya Telkomsel Flash, Speedy ataupun Smart. Itu sebabnya rata-rata volume data yang saya habiskan setiap bulannya selalu diatas angka 4,5 GB.

Jika dahulu saya pernah menuliskan beberapa video musik yang saya unduh melalui portal YouTube yaitu System of a Down, Sepultura dan animasi Pixar, kali ini saya bergerak lebih jauh lagi pada musisi atau group band ternama yang beken di era tahun 80 dan 90-an. Guns N Roses, Metallica, Queen, Rolling Stones, Velvet Revolver, Phil Collins, Rancid, Sex Pistols, Oasis, Kiss hingga yang berbau lokal seperti God Bless, KLa Project dan tentu saja Iwan Fals. Kelak, hasil pengunduhan inipun akan saya kisahkan dalam blog ini pula, untuk mengingat bahwa mereka pernah memberikan warna tersendiri pada dunia musik.

Untuk dapat mengunduhnya dengan baik, dibutuhkan aplikasi tambahan seperti YouTube Downloader yang dipadukan dengan Internet Download Manager untuk menambah kecepatan pengunduhan. Hasilnya lumayan. Setelah format file yang didapat diubah menjadi format mpg atau mpeg ataupun dat, format standar sebuah file vcd, semua video musik itu saya kumpulkan dalam sebuah keping dvd yang mampu menampung sekitar 200-an file video. Untuk kemudian ditonton di layar televisi sebagai teman berdendang saat senggang. Hehehe…

Meskipun YouTube lebih kerap dikatakan dan dikenal sebagai portal video porno yang tak layak ditonton oleh kalangan remaja dan anak-anak, seperti yang saya katakan diatas, kembali lagi pada tujuan orang mengaksesnya. Jika sejauh ini YouTube malah mampu membawa saya kemasa lalu, saat dimana kami begitu bahagia dengan hari-hari yang kami lewati, kenapa tidak ?

Gunakanlah YouTube dan seisi dunia maya lainnya dengan bijak.

Menyoal Promo “Free Access by Indosat”

23

Category : tentang TeKnoLoGi

Iseng mengakses halaman FaceBook rabu malam kemarin lewat ponsel jadul, mata secara tak sengaja tertumpu pada sebaris tulisan “Free Access by Indosat” yang terpampang begitu jelas di bagian atas halaman browser. Penasaran dengan tulisan tersebut, sayapun berpindah halaman menuju akun Twitter, yang sayangnya saya tak menemukan tulisan yang sama dihalaman tersebut. Dugaan pertama yang terlintas di benak saya adalah, Indosat rupanya ingin memberikan akses internet gratis ketika pelanggannya mengakses halaman FaceBook.

Seperti biasa, naluri sebagai seorang blogger-pun muncul. Maka dengan segera saya memutuskan koneksi, menyalakan aplikasi Capture Screen dan memeriksa serta mencatat saldo pulsa yang tersisa. Terhitung sebesar 10.082,- per 22.37 malam.

Browser kembali saya aktifkan, dan tentu saja FaceBook menjadi sasaran utama saya malam itu. Setelah beraktifitas selama 18 menit lamanya hanya untuk berkomentar pada satu dua status milik teman, saya memutuskan koneksi kembali dan memeriksa saldo pulsa yang tersisa. Hasilnya cukup mengejutkan. Terhitung sebesar 9.102,- per 22.55 malam.

Berkurangnya pulsa hingga sebesar 980,- selama 18 menit penggunaan, tentu saja sedikit memberikan rasa heran. Pertama, bisa diartikan bahwa sebaris tulisan “Free Access by Indosat” ternyata tidak berlaku begitu saja bagi pengguna. Padahal selama jangka waktu tersebut, saya hanya mengakses halaman FaceBook saja. Jika benar begitu, apakah ada syarat-syarat tertentu yang mutlak dipenuhi pengguna kartu IM3 untuk mendapatkan promo “Free Access by Indosat”, seperti halnya operator lain ? ataukah promo berlaku hanya ketika pengguna menggunakan perangkat aplikasi tertentu ?

Keheranan Kedua adalah sedari awal 2008, saya memilih kartu IM3 sebagai kartu data yang kemudian dipergunakan hanya untuk mengakses internet lantaran menawarkan tarif flat kalo tidak salah Rp.1,- per kilobytes-nya. Sayangnya per malam kemarin, semua keyakinan saya tersebut langsung terbantahkan. Selama jangka waktu 18 menit penggunaan, terhitung saya ‘hanya’ memanfaatkan sekitar 295 Kb untuk terima/kirim data. Yang artinya kalopun di-rata-ratakan melalui pulsa yang saya habiskan selama jangka waktu tersebut, untuk perkilobytes-nya Indosat mengenakan tarif sebesar Rp. 3,3,- Wah, pantesan saja sebulan terakhir kok saya boros banget beli pulsanya.

Keheranan pertama langsung terjawab ketika saya berusaha mencari informasi secara langsung lewat web resmi Indosat.

Facebook-an Sepuasnya. Dengan IM3, kamu bisa menikmati akses ke facebook kamu tanpa batas melalui akses mobile facebook (m.facebook.com) dan facebook zero (0.facebook.com) menggunakan Paket Facebook. Hubungi *777*1*7# untuk registrasi paket facebook dan pilih sesuai kebutuhan kamu. Paket Harian Rp.1.000,-, Paket Mingguan Rp. 5.000,- dan Paket Bulanan Rp. 20.000,-

Ealah… FaceBook zero kok tetep bayar ?

Demikian pula dengan keheranan kedua, jawabannya langsung saya temukan di halaman berikut.

Tarif Baru berbasis Volume ; Rp. 3,- per Kb untuk 300 Kb pertama, dan selanjutnya Rp. 0,5,- per Kb untuk penggunaan pada pk. 00.00 s/d 07.59, Rp. 1,- per Kb untuk penggunaan pada pk. 08.00 s/d 15.59 dan Rp. 2,- per Kb untuk penggunaan pada pk. 16.00 s/d 23.59. * Tarif di atas belum termasuk PPN 10%. Untuk kenyamanan pelanggan, Indosat berhak mengubah skema promo yang berlaku sewaktu-waktu

Ealah… kurang update info soal Tarif rupanya… padahal selama dua tahun terakhir ini saya selalu gembar gembor mengatakan kalo IM3 Indosat itu yang termurah, flat Rp.1,- per Kb-nya. Ternyata oh Ternyata…

Sudah nasib pelanggan rupanya. Maunya untung eh kok malah buntung ???

Mengoleksi GooGLe DooDLe

5

Category : tentang TeKnoLoGi

Google Inc. menurut Wikipedia merupakan sebuah perusahaan publik Amerika Serikat, yang berperan dalam pencarian Internet dan iklan online, dimana  melalui berbagai jenis pengembangan produk baru, pengambil alihan dan mitra, perusahaan ini telah memperluas bisnis pencarian dan iklan awalnya hingga ke area lainnya, termasuk email berbasis web, pemetaan online, produktivitas perusahaan, dan bertukar video.

Meski Google sudah dikenal dunia sejak tahun 1998, saya pribadi baru mulai mengenal Google sekitar pertengahan tahun 2004 lewat akun emailnya, setelah mulai merasa bosan dengan akun email milik telkom.net yang tidak mampu membendung puluhan spam yang masuk. Demikian pula dengan halaman fitur pencariannya yang simpel tanpa banyak iklan dan juga foto, yang kerap memberatkan koneksi seperti halnya Yahoo. Tak lupa pemetaan onlinenya mulai saya gunakan ketika melihat situasi PusPem Badung sebelum pematangan lahan dilakukan.

Apabila rajin menyimak Google dari hari ke hari, pada satu saat waktu pengunjung akan disuguhi satu kebiasaan unik para pengembangnya yaitu menyajikan desain logo Google yang disesuaikan dengan tema tertentu. Desain logo Google yang terkadang nyeleneh ini dikenal dengan istilah Google Doodle.

Sebenarnya saya pribadi kerap tergelitik dengan Google Doodle sejak pertama mengetahuinya, namun keinginan untuk mengoleksi tampilannya baru ada sejak perhelatan Piala Dunia 2010 beberapa waktu lalu. Saat itu Google menyajikan gambar lapangan bola yang didesain sedemikian rupa membentuk tulisan Google dihiasi dua bendera finalis yang akan berlaga memperebutkan puncak kejayaan. Padahal saya masih ingat saat Google pernah pula menyajikan permainan Pacman beberapa bulan lalu dalam desain logo di halaman pencariannya. Demikian pula saat tahun baru dan Natal digelar.

Sejauh ini baru beberapa saja yang berhasil saya koleksi dan publikasikan, edisi Final Piala Dunia 2010, edisi Kemerdekaan RI, badai katrina, 25 tahun BuckyBall, Labor Day, 9/11, dan ulang tahun GooGLe yang ke 12. Ditambah fitur Google BackGround yang mengadopsi tampilan mesin pencari Bing milik Microsoft.

Mengoleksi Google Doodle barangkali tidak asyik dirasakan jika saja FaceBook belum begitu kental dikenal banyak orang. Ide berbagi Google Doodle di halaman jejaring sosial pertemanan ini, sebenarnya hanya sekedar iseng dari sebuah rutinitas mampir di halaman Google sebelum berlanjut ke halaman lain, tapi ya lumayan membuat penasaran teman juga. Hihihi…