Anak Anak sejauh ini

1

Category : tentang Buah Hati

Lahir bulan Maret tahun 2008 silam, Mirah putri pertama kami kini sudah menginjak usia delapan tahun. Sudah kelas 3 SD. Perawakannya tinggi jika dibanding anak seusianya. Mengambil porsi bapaknya. Boros di kain. Hehehe… Menari tak lagi menjadi hobi, sudah bergeser ke mainan Slime yang ndak jelas maksudnya itu. Sayang memang, tapi kelihatannya ia sudah mulai bosan akan rutinitas hariannya. Biarlah ia mengambil nafas dan beristirahat sejenak.

Sementara Intan, putri kedua kami lahir Oktober tahun 2012 lalu, kini sudah menginjak usia 4 tahun. Setidaknya apa yang ia cita-citakan hampir setiap hari terkait tiup lilin, potong kue, dan hiasan Frozen sudah terlaksana meski dalam edisi hemat. Kami mencoba memasukkannya di pendidikan PG saat tahun ajaran baru kemarin. Untuk mengenalkan ia pada dunia sosial, serta belajar berinteraksi dengan orang dewasa lainnya. Meski badannya mengambil porsi sang Ibu, pipi chubby dan kelakuan asalnya itu tetap saja mengambil porsi Bapaknya. Anak gado gado kalo menurut kami.

Tak lupa dengan si Bungsu Ara, hadir ke dunia bulan Februari tahun 2015, lama di rumah sakit untuk menyembuhkan sakit yang ia derita dari dalam kandungan. Cerita sedih tentu saja. Kini ia sudah berusia satu tahun delapan bulan. Baru saja bisa berjalan tanpa pegangan, kalo ndak salah sekitar sebulan terakhir ini. Selain itu ia baru bisa mengucap beberapa kata. Yang paling fasih sih memanggil ‘Bapak’ atau yang serupa, meminta ‘jajak’. Sementara saat memanggil ‘Bu’ dan ‘Nik’, suaranya terdengar agak kedalam, tidak selepas dua kata sebelumnya. Ia juga masih belajar mengatakan nama sang kakak. Sangat membahagiakan jadinya.

Anak Anak Sejauh Ini

Tiga putri kecil menghiasi keseharian kami.
Cerita yang bisa dibagi, selayaknya dongeng dan novel yang mengisahkan tiga gadis bersaudara seperti Kwak Kwik Kwek, 961-169-691, atau Three Stooges. Semacam itulah. He…

Mungkin lantaran usia yang tak terpaut jauh, antara Intan dan Ara lebih kerap nyambung dalam tawa dan canda ketimbang dengan si Sulung Mirah, yang sepertinya menjadi ‘musuh bersama’. Ara akan reflek mencubit sang kakak saat ia didekati dalam situasi apapun. Demikian halnya Intan, pasti menjadi ramai dan ribut saling menyalahkan saat mereka berdua berdekatan.

Riuhnya rumah sudah menjadi hal yang biasa. Kalo kata senior saya yang kini sudah masuk masa pensiun di Bima sana, semua adalah berkah Tuhan kepada hamba-Nya. dan memang belum lengkap rasanya jika tembok rumah belum ada coretan anak dalam bentuk apapun. Sebagaimana yang Beliau ungkap saat kami baru menikah dan belum dikaruniai anak.

Anak anak adalah kebanggaan dan kegembiraan.
Semua beban seakan sirna dalam sekejap saat mendapati senyum manis mereka dan rengek manja yang seandainya saja si orang tua tak sabaran, bakalan memberi cap sebaliknya, cerewet dan merepotkan.
Sementara kami, berusaha menikmatinya sebagai bagian dari apa yang sudah dikaruniai oleh-Nya.

Punya Anak PG (lagi)

Category : tentang Buah Hati

Lama gak berkabar tentang putri putri kami, di tahun 2016 ini malah sudah punya anak PG (lagi). Kali kedua.
Ya, di usianya yang menginjak 3,5 tahun kini giliran Intan bersekolah di TK Lokasari. Itupun karena keinginannya bersekolah makin lama makin besar, setelah melihat banyaknya fasilitas mainan anak di pelataran halaman sekolah.
Hmmm… Namanya juga anak anak.

Seperti halnya si kakak yang begitu masuk PG memiliki perwajahan gembul, Intan pun demikian adanya. Cuma ia jauh lebih tabah dan berani, sekaligus punya temperamen keras. Jauh lebih keras dari kakaknya. Weleh…

Intan PanDe Baik

Sudah begitu, ia juga lebih cuek. Menjadikannya sedikit lebih malas dari si kakak baik dari segi kerajinan masuk sekolah maupun aktifitas dalam kelas. Khusus yang satu ini rasanya sebagian besar isi kepalanya masih dipenuhi dengan keinginan main. He…

Ndak sedikit komentar gurunya yang disampaikan langsung maupun lewat kakeknya yang kerap mengantarkannya di hari kerja. Ini anak memang beda kelakuannya. Hahaha…

Tapi senang juga sih sekali waktu bisa antar Intan bersekolah dan menungguinya Sabtu pagi. Sambil berjemur di bawah bale kulkul. Cari matahari pagi barang sebentar.

He… Gak terasa ya waktu cepat berlalu ?

Second Flight with Air Asia

Category : tentang PLeSiran

Ini adalah penerbangan kedua saya bersama Air Asia. Setahun lalu pulang pergi kami sudah sempat menikmati layanan si burung merah yang dikenal tepat waktu sebagaimana halnya Garuda Indonesia.

Memiliki pengalaman sebelumnya, memaksa saya menyiapkan beberapa hal ketimbang terkaget kaget nantinya begiti berada di dalam pesawat.

Pembagian barang. Yang mobile dan mampu menghabiskan waktu sepanjang perjalanan tentu berada di area terdekat, tas selempang. sisanya berada di ransel. Tanpa Bagasi. Toh tidak banyak yang dibawa.

Terpenting, uang merah diselipkan di saku jaket sebagai bekal membeli bekal diatas pesawat. Hmmm… jadi ingat iklan Garuda Indonesia deh.

All in One. Jauh sebelum masuk ke badan pesawat, semua benda yang melekat disimpan dalam satu tas tansel. Termasuk selempang tadi. Tujuannya agar gak ribet lagi saat menjalani pemeriksaan.
Terbukti beberapa kawan tertahan di Imigrasi, setelah bawaan mereka tak lolos sensor dan harus dikeluarkan jika ingin melanjutkan terbang.
Sesaat sesampainya di ruang tunggu, barulah semua barang yang dibutuhkan untuk menemani terbang mulai dikeluarkan. Lumayan mengurangi beban berat tas ransel.

Backup Backup Backup. Berbekal PowerBank milik Samsung yang secara teorinya mampu memberikan kekuatan 50K mAh (namun secara fakta rasanya gak begitu besarnya), membuat aktifitas menunggu waktu di pesawat jadi gak terasa.
Ada empat jam penerbangan yang harus dilewati. Disela tidur tentu saja. Apalagi kondisi saat ini, gak ada kawan yang diajak ngobrol berhubung teman sebelah adalah orang asing. Fiuh…

Hiburan. Tentu ini yang terakhir.
Enam puluhan filem ditambah beberapa edisi majalah detik, siap menemani semua waktu luang yang ada. Demi mengisi kekosongan yang kelak hadir setiap harinya.

Tapi yah… apa daya.
Pikiran kini lebih tertuju pulang.
Intan sakit, dan ia lebih membutuhkan kehadiran Bapaknya yang selama ini lebih dekat dengannya.
Apakah harus mencari tiket pesawat pulang setibanya di tujuan ?

InTan dan QZ 520 ETA

Category : tentang Buah Hati

InTan dan QZ 520 ETA

Intan baru bisa tidur saat kutinggalkan tadi. Menurut Ibunya, ia tak sekalipun memejamkan mata sejak pukul satu tengah malam. Keluhannya masih sama. Sakit pada perut, dan demam.

Dokter Anak yang kami temui jumat sore kemarin sempat menyampaikan, bahwa jika sampai hari ketiga Intan masih demam, ia harus segera melakukan cek darah. Kemungkinan besar Demam Berdarah.

Namun mengingat historisnya yang sempat mengalami Typhus, kami sudah mulai khawatir karena Intan cukup lama memerlukan proses untuk menghabiskan makan, entah pagi siang ataupun malam. Susah diberitahu.

Intan diputuskan untuk dibawa ke Rumah Sakit. Satu hal yang saya khawatirkan dari kemarin. Mengingat pagi ini saya sudah bersiap terbang dan kini berada di dalam pesawat.

QZ 520 ETA

Pikiran melayang pada kesibukan mengurus administrasi yang biasanya saya lakukan. Kini, siapa yang harus diandalkan ?

Kartu Asuransi Prudentialnya sudah saya titip sebelumnya pada istri. Tapi tidak dengan Askes atau BPJSnya. Berhubung info terakhir, kakek Canggunya yang akan mengantar.
Damn… jadi menyusahkan banyak orang keberangkatan kali ini.
Sementara, cerita lamanya masih sama. Agen Asuransi Prudential yang saya miliki, susah dihubungi. Telepon gak diangkat, sms dan bbm pun tak dibalas.

Sepertinya ini akan menjadi liburan singkat bagi saya pribadi. Sementara yang lain, mungkin silahkan jalan terus. Kasihan keluarga di rumah mengurusi Intan tanpa kehadiran saya.

Semoga Tuhan memberi jalan dan kesehatan untuk putri kami Intan.
Get well soon Nak…

Anak Anak

Category : tentang Buah Hati

Terkadang kami sebagai orang tua muda dari 3 putri kecil yang masih berada dalam usia tumbuh kembang, merasa heran. Dari manakah asal energi yang mereka miliki sejak pagi hingga malam menjelang.
Aktif. Sangat aktif.

Diantara ketiganya, Intan putri tengah kami baru saja masuk usia yang perlu pengawasan ketat baik pengempunya maupun kakek nininya saat kami tinggal bekerja. Rasa rasanya tak ada kamus capek yang ia rasakan kecuali saat tidur siang dan malamnya. Kami sampai kewalahan menimpali setiap aktifitasnya.

Sang adik, dalam usia 5 bulanan ini, baru bisa sebatas meminta diambil oleh Bapaknya, jika sudah dilihat baik sepulang kerja ataupun melintas begitu saja. Sementara si kakak, lebih banyak memperhatikan dan kalem, entah karena kenyang akan dimarah atau mungkin paham dengan situasinya kini.

PanDe Baik 3

Hanya ketika mereka bergabung saja, mulai nampak kenakalannya masing masing. Dari minta digendong shama shama *dengan logat huruf S yang kental, atau saling menimpali obrolan kesana kemari dengan si Bapak yang siap mengasuh melalui lantunan merdunya Gus Teja atau filem kartun di layar ponsel hasil download seharian.

Baru saat mereka tidur lah, dunia terasa lebih damai dan tenang. Tapi mereka, Anak Anak… tetap saja kami rindukan tawa candanya.

Mimpi itu…

Category : tentang KHayaLan

‘Bos, ada yang gak beres terjadi pada tim kita Bos…’
‘Bos, ada yang gak beres terjadi pada tim kita Bos…’

Kalimat itu berulang-ulang terdengar pada telinga disela ingatan yang makin berkurang…
Padahal rasanya baru saja kupejamkan mata untuk meninggalkan gelapnya dunia masuk ke dunia lain yang kuharapkan sejak tadi.

Suasana yang terekam tak jauh berbeda dengan gentingnya pertempuran ala spionase 007 yang kutonton sebelum tidur tadi. Penuh intrik yang membutuhkan tindakan dan tanggapan secepatnya.

Tapi rupanya… ‘pak, pak… pak…’

Suara istri terdengar sayup tapi pasti…

‘Intan ngompol pak… tadi lupa dipakein Pampers…’

*aduh !!!

InTan, Mimik Susu dan BaBa

Category : tentang KHayaLan

Saban pagi hari, teriakan anak satu ini bakalan kedengaran hingga kamar mandi. Memanggil Neneknya sembari meminta mimik susu sebotol lagi.
Entah sudah botol ketujuh atau kedelapan sejak malam tadi, hanya neneknya saja yang tahu. Bergantung pada berapa banyak botol yang dicuci, karena kami hanya menyediakan 4 buah botol susu siap seduh sebelum tidur. Dan Intan memang lebih memilih tidur bersama neneknya ketimbang Bapak Ibunya.

Intan kini sudah menginjak usia 3 tahun. Jalan 4.

Perawakannya kini sudah mulai terlihat gemukan, mungkin lantaran mimik susu yang berlebih saat malam ia tidur. Meski begitu tumbuh kembangnya cukup mengejutkan. Karena di usianya kini, ia tampak fasih menyanyikan beberapa lagu anak secara lengkap. Seperti Balonku, Naik Gunung, Kasih Ibu atau tembang rare Putri Cening Ayu.

Sekitar pukul 6 pagi, Intan akan kembali terbangun dan meminta kembali sebotol susu, sesi final sebelum ia mandi dan bersiap mengantarkan kakaknya sekolah. Namun sebelum itu dilakukan, ia pun sigap meminta BaBa.

Intan Baba dan Susu 12

BaBa adalah sebuah perangkat tabletPC berbasis Android yang saya miliki sekitar 3 tahun lalu, sebuah karya masterpiece dari Samsung yang hingga kini masih tangguh digunakan meski statusnya sudah dihibahkan pada Intan sejak setahun lalu. Isinya puluhan games anak-anak dan sejumlah film anak yang diunduh dari berbagai sumber. YouTube maupun Torrents.

Kenapa dinamakan BaBa ? Karena Intan mengenal perangkat tabletPC ini pertama kali lewat sebuah video apik yang menyajikan nyanyian epik para Minions di seri Despicable Me. Kalo gak salah judulnya Banana. Maka jadilah Ba Ba Ba Ba Ba Na Na itu dipenggal menggantikan nama Tab 7+, salah satu perangkat kebanggaan saya sejak awal kepemilikan.

Sambil menunggu Bapaknya selesai, dua benda inilah yang setia menemani Intan di pagi hari. Sendirian di tempat tidur.

InTan PradnyaniDewi, si Cantik yang makin Centil

Category : tentang Buah Hati

Si kecil yang dahulu menjadi Bungsu dalam keluarga kami, kini tumbuh menjadi si Tengah yang Cantik, Nakal dan Centil.
Mau tahu bagaimana aksinya kali ini ?
Berikut beberapa rekaman lensa yang dibesut pengempunya melalui tabletpc ‘BaBa’ kesayangannya * Samsung Galaxy Tab 7+

Intan 03

Intan 09

Intan 04

Intan 01

Intan 02

Teriakan dan Corat Coret

Category : tentang Buah Hati

Intan tampak kaget ketika neneknya menegur gara-gara ia mencorat coret tembok kamar tidur dengan pensil warna, kali kesekian yang nenek ingatkan padanya.

Entah karena ada sang bapak didekatnya yang tampak asyik nyariin barang di Lazada via ponsel, ia langsung berkeringat¬† dan ngos-ngosan. Bibir dan mimik wajahnya berubah seketika. Sambil sesegukan, ia membisikkan kata ‘ibu’ dengan sedih.

Tak berselang lama setelah dihibur sang bapak, ia kembali riang seperti biasanya. Kali ini main sambil teriak teriak kegirangan lantaran dicandai Mirah, kakaknya. Rumah jadi lebih bising dari biasanya.

InTan_1

Saya masih ingat saat dipetuahi pak Soetomo, rekan kerja sesama PNS dari Kota Bima, Lombok yang menjadi teman sekamar saat pelatihan tentang Jalan di Kuta, tahun 2006 lalu. Kalo gag salah diblog ini masih ada ceritanya. Waktu itu saya baru saja menikah dan belum dikaruniai anak. Berencana Program tapi tetap gag berhasil.

Beliau sempat mengingatkan saya bahwa ‘Rumah takkan lebih baik tanpa teriakan dan corat coret anak kecil’.

Saat itu karena belum paham maksudnya, saya sih simpel aja menjawabnya. Walaupun belum di karuniai anak, tapi kami memiliki belasan keponakan yang siap memberikan hal tersebut.

Beda, sangat berbeda, ungkap Beliau kembali. Dan mungkin baru kali ini saya paham maksudnya.

Mendengar Teriakan sejak Mirah dan Intan lahir atau saat mereka bertengkar, sudah menjadi hal yang biasa kini. Dan saya memang benar benar menikmatinya sambil tersenyum. Sangat jarang semua itu melahirkan bentakan, hanya ada elusan sayang sambil menghibur salah satunya, serta memberi nasehat pada yang lain. Begitu pula dengan corat coret.

Gag di Tembok, buku hingga pipi dan punggung sering menjadi sasaran kejahilan dan aktifitas keduanya saat mereka sudah memegang pensil ataupun crayon. Pokoknya semua kini menjadi tambah berwarna dan bagi saya -lagi lagi- sedap dipandang. Meskipun pendapat berbeda datang dari Ibu dan neneknya yang lebih senang dengan tembok yang bersih dan rapi.

Mereka berdua kini lagi nakal-nakalnya. Entah bagaimana jadinya kalo yang ketiga lahir dan besar nanti. Tambah ramai tentu saja. He…

Liburan Panjang edisi Januari

Category : tentang KeseHaRian

Hujan deras mengguyur Kota Denpasar Selasa pagi 20 Januari 2015 sejak dini hari tadi, membatalkan semua rencana yang sudah kami susun rapi sejak kemarin. Efeknya, Mirah putri pertama kami memilih untuk tetap berada di balik selimutnya meski waktu sudah menunjukkan pukul tujuh kosong sembilan. Sementara Intan putri kedua kami, meskipun sejak pagi sudah mandi dan wangi, iapun memilih leyeh leyeh bersama Bapaknya di tempat tidur sambil mimik susu.

Liburan Panjang edisi Januari

Empat hari sejak sabtu kemarin semua PNS *kalo tidak salah* mendapatkan edaran cuti bersama dalam rangka kaitannya dengan Rahinan gumi Siwaratri yang jatuh pada hari senin kemarin. Selasa jadi ikutan libur karena ada anggapan bakalan begadang pada hari Senin malamnya sehingga Selasa masih dapat beristirahat dengan baik.
Namun bagi kami, liburan panjang macam begini tentu gag akan dilalui begitu saja tanpa rencana. Meski sudah ada yang bisa berjalan, namun khusus hari ini semuanya buyar.

Olahraga bersama

Ini kali pertama saya bisa melakukan olahraga bersama anak-anak. Tujuannya sih sederhana, mengajak anak-anak refreshing di sore hari, meninggalkan semua rutinitas harian yang dilakoni nenek dan ibu mereka, sehingga dengan hilangnya kami dari rumah, mereka (nenek dan ibunya Mirah dan Intan) bisa meluangkan waktunya untuk beristirahat.
Rutenya hanya mengitari alun-alun Kota Denpasar sambil menengok puluhan ikan dan kolam tengah. Atau Lapangan Renon yang luasnya dua kali lipat, sambil nyariin siomay atau jagung bakar. Untuk yang terakhir ini, sayangnya belum kesampaian.

Melupakan Tugas

Sebenarnya liburan ini awalnya saya rencanakan untuk menghandle kerjaan yang terbengkalai, menarasikan 9 buku sejarah Puspem Badung yang dirangkum dari semua Notulen Rapat oleh Tim Koordinasi Pembangunan Puspem saat itu. Namun belum usai buku keempat, rasa bosan melanda hingga akhirnya saya memilih untuk bersantai bersama anak-anak, yang secara bergiliran mengganggu kerjaan saya dan pada akhirnya si Bapak pun terpengaruh. Ya sudahlah… kasian juga mereka dicuekin sejak awal kemarin.

Jalan-Jalan

Belum puas dengan sekedar ngempu anak-anak, saya memilih outing keluar rumah bersama keluarga. Baik yang skala kecil maupun besar. Tapi ya gag jauh-jauh sih, masih seputaran Denpasar dan sekitarnya. Makanya tempo hari sempat minta saran kawan seantero sosial media, buat mengetahui tempat makan favorit mereka biar bisa kami kunjungi. Rata-rata masih sejalan sih.
Akibatnya persoalan duit jadi sedikit boros, untuk makan, jajan hingga merembet ke hal-hal yang agak serius, persiapan kelahiran turunan ketiga. Dari beli rak bajunya, pakaian harian hingga bantal gulingnya. Biar gag rebutan dengan dua kakaknya nanti.

Belanja Online

Malas nyariin Tongsis ke tempat jualannya di seputaran Gatot Subroto Barat hasil hunting di OLX mantan Toko Bagus, atau kartu perdana Tri yang katanya bisa dobel pulsa, saya memilih Lazada untuk tempat belanja Online yang walopun sedikit mahal *meskipun sudah dapat diskon* tapi disitu barangnya bisa beragam, bisa lihat gambar fisiknya, dan yang terpenting ya Diantar ke rumah. Jadi ya bisa sambil leyeh leyeh nungguinnya seminggu kedepan.
Ini sudah transaksi keenam kalo gag salah dengan Lazada. Kali ini saya lagi iseng nyariin Tongsis yang pake Bluetooth hasil pendalaman saya dengan seorang kawan di akun Whatsapp, juga kantong pouch kecil untuk diselipkan di pinggang saat malas membawa tas hanya untuk menyimpan barang-barang ukuran mini macam flash disk atau penganan *eh
Selengkapnya nanti deh saya cerita lagi

Melupakan BPK

Hari senin kemarin sedianya BPK bakalan turun di Pemkab Badung, kaitan pemeriksaan kegiatan tahun 2014. Tapi lantaran libur panjang begini, semua seakan terlupakan. Dan sayapun memang lagi belajar untuk EGP ‘Emang Gue Pikirin’, mengingat semua kerjaan itu sebenarnya sudah bikin pusing selama dua tahun ini dan memilih untuk melupakannya demi kesehatan. Telepon semua di AirPlane mode-kan dan mengkoneksikannya dengan Wifi Rumah biar bisa internetan. Tapi sekalinya diaktifkan, telepon dari dua anggota Dewan langsung masuk dan merangsek minta tambahan jatah ruas jalan lingkungan. Weleh…

Liburan Panjang sudah hampir usai. Kira-kira kapan lagi yah ada yang beginian ?

Gejala Typus untuk Intan

Category : tentang Buah Hati

Panas badannya mulai meninggi, sekitar 39,8 derajat di malam kedua ini. Kamipun berembug singkat dan memutuskan untuk secepatnya melarikan Intan ke Rumah Sakit terdekat. Kartu Prudential atas namanya pun segera kupastikan berada didompet. Untuk berjaga-jaga pada kemungkinan terburuknya.

Di lorong pintu masuk sebelah UGD RS Bhakti Rahayu, selama setengah jam kami masih menunggu. Disebelah kami ada beberapa pasien rawat jalan yang masih menunggu panggilan. Artinya kami mendapatkan prioritas paling akhir. Jawaban pihak RS pun cukup membuat kami kebingungan, saat kami mencoba minta didahulukan. “Belum mengalami kejang kan pak ?” *lha apakah anak kami baru akan ditangani jika sudah mengalami kejang ? Apakah harus menunggu kejang dulu baru ada tindakan ? Meh…

Intan Typus 12

Setelah ijin pada beberapa pasien lainnya yang secara kepentingan hanya untuk memeriksakan kemajuan mereka, kamipun diberikan peluang masuk lebih dulu mengingat Intan saat itu mulai mengigau dan menangis. Waktu menunjukkan pukul 11 malam, rabu kemarin.

Dokter Jaga berusaha melakukan observasi terlebih dahulu dengan memasukkan obat dari pantat bayi. Setelah setengah jam tampaknya belum jua ada perubahan. Maka itu kami meminta cek lab saja menindaklanjuti rujukan dari dokter anak. Hasilnya, Trombosit Intan terpantau turun hingga 84, padahal panas badannya baru menginjak hari kedua. Merasa ada yang tidak beres, Dokter Jaga menyarankan kami untuk Rawat Inap ditempat. Kamipun setuju.

Ada rasa kekhawatiran kami akan turunnya Trombosit Intan yang begitu jauh. Pertama tentu saja Demam Berdarah. Pengalaman menemani dua pasien DB, yang paling sulit adalah menganjurkan pasien untuk minum secara berkala demi menjaga mengentalnya darah, yang tentu akan makin sulit mengingat usia putri kami ini baru menginjak 2 tahun. Sulit dirayu dan sulit digugah kesadarannya. Jadi berharap saja bukan DB yang hinggap kali ini.

Trombosit Intan mulai membaik saat tim medis mengambil sampel darah Intan pagi berikutnya, naik menjadi 107 dan 167 di hari kedua dirawat. Dokterpun mengambil kesimpulan atas hasil lab yang ada, bahwa putri kami mengalami Gejala Typus dan meminta kami menjaganya agar tidak terlalu capek dan lelah. Oke, meskipun sakit tapi ini jauh lebih baik ketimbang DB.

Mungkin karena pembuluh darahnya Intan masih belum jelas terlihat, tim medis memerlukan dua kali suntikan di lengan kanannya untuk mengambil sampel darah. Bersyukur baik hari pertama dan kedua menginap, suntikan hanya perlu sekali ambil saja sehingga Intan gag perlu lama menangisnya karena sakit. Malah Bapaknya yang gag tahan meneteskan air mata lantaran kasihan.

Intan Typus 1

Begitu panas badannya mulai turun dihari kedua, disertai naiknya Trombosit, Intan tampak normal kembali. Mulai marah dan mencubit saat keinginannya tidak dipenuhi dan mulai tertawa juga mengoceh saat kami hibur bergantian. Terhitung Sabtu siang, Intan sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter Anak yang menanganinya selama berada di RS. dan betapa leganya kami melihat perkembangan psikis Intan pasca infus dilepaskan.