5-1 ? 3-0 ah…

7

Category : tentang Opini

Semua pendukung TimNas Sepak Bola Indonesia boleh-boleh saja menganggap bahwa yang patut dikambinghitamkan atas kekalahan Indonesia 3-0 oleh Malaysia, Minggu 26 Desember Malam lalu, adalah sabotase laser yang ditujukan kepada Kiper Indonesia oleh Suporter Malaysia. Namun yang seharusnya patut kita catat dan akui adalah, kemampuan Malaysia secara perseorangan, memang sungguh Mantap. Dari Penyerang utama hingga Penjaga Gawang. Bahkan, untuk seorang awam seperti saya, permainan mereka sungguh luar biasa. Inilah yang dinamakan berjuang hingga titik darah penghabisan.

Sejak pertandingan semifinal lalu, penjaga gawang TimNas Indonesia saya lihat hampir selalu mementalkan bola yang seharusnya ia tangkap dengan gagah berani dan lindungi, agar tak mengoyak jaring gawang. Setidaknya begitu yang saya baca dari sebuah komik Bola bertajuk Shoot. Bahkan dalam angan-angan saya malam itu, sudah seharusnyalah penjaga gawang Indonesia, harus mampu dan berani seperti halnya penjaga gawang Malaysia yang begitu sigap menangkap bola.

Jujur, ini adalah kali pertama saya begitu antusias dengan yang namanya Sepak Bola. Entah apa sebabnya, sejak pertama Piala AFF ini bergulir, saya jadi rajin memantau berita, perkembangan hingga pertandingan Timnas Indonesia dalam setiap laganya. Padahal tidak demikian saat perhelatan Piala Dunia beberapa waktu lalu.

Sayangnya, beberapa hari  pra Final leg pertama di Bukit Jalil Malaysia lalu, saya sempat merasa malu sendiri dengan ‘jumawa’nya sebagian besar media dan pendukung TimNas. Okelah, kalo itu yang namanya Nasionalisme. Namun jika rasa percaya diri yang sudah terlalu berlebihan, bisa jadi hanya rasa sombong yang tersisa.

Setiap hari, setiap jam, setiap saat pemberitaan selalu soal TimNas. Entah profil para pemain, siapa istrinya, orang tuanya, penggemarnya hingga ‘klaim’ parpol yang berusaha mengambil momen keberhasilan TimNas menggulung semua lawannya yang notabene dilakukan di kandang sendiri. Merayakan sih boleh-boleh saja, namun kalau sampai mengklaim bahwa kita akan bisa menang mudah 5-1 melihat pada statistik dan sua dengan Malaysia saat penyisihan lalu, lantas apa yang bisa kita katakan saat Malaysia memutar balikkan kenyataan 3-0 terlepas dari ketidaksportifan suporter mereka ?

Saya merasa pemberitaan dan klaim yang sudah terlalu over, malah membuat kita semakin takabur dan cenderung menggampangkan sesuatu. Setidaknya begitu yang sepatutnya kita petik dari petuah orang tua terdahulu. Mendukung boleh saja, asal jangan terlalu. Karena apapun yang sudah melewati kata terlalu, dijamin gak mengenakkan hasilnya. Biasa-biasa saja lah…

Malaysia sudah berusaha untuk menunjukkan kejengahan mereka dengan menjatuhkan Indonesia 3-0. Kehirukpikukannya bahkan menenggelamkan rencana Launching peresmian unit LPSE Badung yang hingga minggu malampun masih kami benahi. Kini kesempatan yang kita miliki hanya satu kali. Jika kita masih terlena dengan semua pemberitaan dan puja puji itu, mungkin kini sudah saatnya bagi Indonesia untuk mencari 11 anak bangsa yang punya bakat dalam Sepak Bola dan kontrol emosi tanpa campur tangan banyak media terutama infoTAIment.  Salam Hormat bagi TimNas kami yang akan berlaga malam ini…

Btw, pasca malam ini, mungkin sudah saatnya kita (terutama para pejabat dan tentu saja pak presiden) kembali terfokus pada semua korban bencana yang sudah mulai terlupakan. Mentawai, Wasior, Merapi hingga bahkan lumpur Lapindo yang tak jua diundang makan oleh Ical Bakrie…

Luna Maya di UU ITE-kan ???

21

Category : tentang Opini

Seakan gak percaya dengan pemberitaan sejumlah infotaiment di layar televisi yang menggiring opini publik untuk memojokkan seorang artis yang kerap menghiasi wajah iklan setelah sang artis mengeluarkan unek-unek kemarahannya lewat sebuah jejaring sosial mikro blogging Twitter. Luna Maya meng-update statusnya kurang lebih mengatakan ‘”nfo‘tai’ment lebih rendah dari sampah…” dan bisa ditebak, reaksi yang ditunjukkan oleh mereka yang terlibat dalam ranah info‘tai’ment sangat berlebihan, bahkan sempat terlontar ide untuk menuntut sang artis dengan menggunakan UU ITE yang sebenarnya sudah sempat ditentang oleh mereka yang bergerak dibidang pencari berita.

Mari jernihkan pikiran kita dahulu. Siapa sebenarnya orang-orang dibalik info’tai’ment itu dan siapa Luna Maya. Bagi saya pribadi, orang-orang yang terlibat dalam sebuah “mahakarya hiburan” info’tai’ment seperti yang dikatakan oleh Luna Maya itu adalah tak lebih dari orang-orang yang mencoba mempublikasikan setiap detail pribadi kehidupan seorang artis tak terkecuali seorang Luna Maya. Entah itu tentang fakta yang belum terungkap, fakta yang benar-benar terjadi hingga fakta yang dibuat-buat alias gosip. Golongan terakhir inilah yang kerap menghiasi pemberitaan sejumlah info’tai’ment tersebut. Sedari pagi hingga sore hari, begitu terus berulang kali hingga saya sebagai salah seorang publik masyarakat merasa ‘apa gak ada tontonan lain lagi nih ?

Kita masih ingat bagaimana seorang Luna Maya disebut sebagai seorang Groupies sebuah band terkenal dan merusak rumah tangga sang vokalis band tersebut, belakangan malah digosipkan telah menikah siri. Seumpama Luna Maya tidak benar menikah siri dengan vokalis yang dimaksud, apakah boleh saya selaku penonton info’tai’ment menyatakan mereka hanyalah tukang gosip ? sah sah saja kan ? dan bagaimana reaksi sang artis yang digosipkan ? apakah mereka tidak berhak marah dan melampiaskan melalui media yang ia miliki ? Luna memiliki akun Twitter, maka lewat Twitter lah ia berkeluh kesah, karena peruntukkannya memang demikian. Seandainya pun Luna memiliki sebuah BLoG, barangkali semua unek-uneknya pun dilepaskan disitu. Hmmm… terdengar sebagai pengalaman pribadi nih…

Sekarang kita lihat seorang Luna Maya, seorang artis yang begitu penuh dedikasi dalam bekerja. Tak hanya menjadi wajah iklan dari sebuah operator seluler, namun juga menjadi host bahkan penyanyi dadakan. Terlepas dari ‘aji mumpung seperti yang dikatakan salah satu info’tai’ment terdahulu, bagi saya pribadi sah sah saja apabila kita memanfaatkan momen atau peluang yang ada selama kita mampu menjalaninya. Biarlah kelak orang lain yang menilai pantas tidaknya bidang itu dilanjutkan. Ketika  kehidupan pribadinya mulai diotak atik oleh para pencari gosip info’tai’ment, ia berusaha berontak. Tak sekali ini ia terlihat tak suka didekati para pencari berita tak jelas. Sayangnya sikap ini tak direspon baik oleh para pencari fakta yang dibuat-buat itu maupun asosiasi artis sekalipun. Yang barangkali bisa diharapkan bakalan membuat satu peraturan jelas tentang sejauh mana mereka (para info’tai’ment) memberitakan dan mengusik pribadi sang artis. Jika sudah sampai pada ranah pribadi ya ‘stop sampai disitu, Anda gak boleh berlebihan meng-eksposenya.

Sayang, alasan bahwa Luna adalah seorang public figure dan masyarakat berhak tahu apa yang dilakukan oleh Luna menjadi senjata utama dalih para pencari fakta yang gak jelas tersebut. Jangankan gosip pernikahan sirinya, bahkan saat wajah seorang artis ditumbuhi jerawat dan ketahuan oleh info’tai’ment pun bisa menjadi bahan hiburan menarik. Hingga saya tidak menyalahi kalo masyarakat jauh lebih mengetahui siapa dan bagaimana seorang artis ketimbang tetangganya sendiri. Eksploitasi berlebihan ini didukung pula oleh mereka (para artis) yang haus akan popularitas dan merasa memerlukan kehadiran para info’tai’ment tadi ketika pamornya mulai menurun, entah dengan satu perlaku yang kontroversial dan cenderung mengundang.

Yang paling saya anggap kekanak-kanakan adalah ketika hampir semua info’tai’ment berusaha menyajikan laporan dan liputan mereka secara berlebihan terhadap seorang artis yang kebetulan menjadi bintangnya saat itu, baik secara fakta yang terjadi hingga yang dibuat-buat, sedemikian seringnya, setiap hari bahkan, ditonton oleh sekian juta pasang mata diseluruh tanah air, langsung kebakaran jenggot ketika seorang artis yang gerah dengan pemberitaan tersebut berusaha melampiaskan uneg-uneg-nya melalui satu media yang ia miliki yang barangkali hanya diketahui oleh sekian ribu temannya. Satu media yang hanya bisa diakses oleh mereka yang paham koneksi internet.

luna_kaudanaku_1024

Yah, tidakkah kita bisa mengganggap ini semua sebagai satu pembelajaran, kritik pada diri masing-masing ? bagi para pencari berita info’tai’ment tak bisakah mencari berita yang jauh lebih berbobot dan tidak selalu mengusik pribadi sang artis ? barangkali mengangkat tema mereka yang memiliki prestasi diluar ketimbang yang hanya mementingkan popularitas ? walaupun saya tahu, itu sama sekali tidak menjual dan mampu menghibur jutaan pemirsa yang pada akhirnya mengharapkan sesuatu yang lebih. Dan bagi para artis agar membentengi diri masing-masing dari serbuan para pencari gosip, yang saya sendiri bingung mau dibentengi dengan cara apa… hehehe… karena mereka (para info’tai’ment) seakan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan satu dua patah kata yang kemudian dipotong dan dipelintir untuk membumbui isi cerita…

Terserahlah jika ada yang menganggap saya membela Luna Maya lantaran kecantikannya dan tulisan diatas adalah satu pembenaran saja, namun hanya melalui media inilah saya mampu mengungkapkan uneg-uneg seperti halnya seorang Luna Maya. Suka atau tidak, Anda sudah diberikan pilihan. Tinggal pindah alamat blog, baca yang jauh lebih berbobot dan semuanya beres. Demikian pula halnya saya, emoh dan muak dengan tayangan info’tai’ment, ya tinggal pindah channel. Gak usah pake nuntut-nuntut segala. Apalagi pake UU ITE. Toh setiap orang punya hak untuk mengkritik dan dikritik… tidak hanya mereka (para info’tai’ment) saja yang berhak segalanya…