Ngobrolin 4 Pilar Kebangsaan bareng MPR RI

1

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang Opini

Tadinya sih sempat mikir kalo sesi ngumpul kali ini bakalan garing. Lantaran otak sudah tertuju duluan ke wajah pimpinan MPR RI yang emang rada-rada serius gitu orangnya. Jarang banged saya liat becandanya. Tapi ya bisa dimaklumi sih, kan namanya juga pejabat jaman old.

Syukur opening act nya ada Mbak Mira Sahid, founder Komunitas Emak Blogger yang punya blog catchy banged di mata. Enak dipandang. Ndak kayak blog ini yang gersang kerontang.

Topik yang diangkat sebenarnya soal 4 Pilar Kebangsaan. Yang memaparkan ya MPR RI. Dalam hal ini ada 4 narasumber, 2 Bapak eh Pria Ganteng dan 2 Ibu eh Mbak Mbak. Maaf.
Pertama ada Mbak Siti Fauziah Kepala Biro Humas Setjen MPR RI yang bercerita soal apa saja makna 4 Pilar Kebangsaan gagasan Bapak Taufik Kiemas almarhum, Ketua MPR RI terdahulu.
Lalu lanjut ada Mas Andrianto, babang tamvan yang menjabat sebagai Kepala Bagian Pusat Data dan Sistem Informasi (PDSI) MPR RI memaparkan soal Sosial Media dan peran generasi Jaman Now serta penyebaran Hoax yang belakangan makin masif saja penampakannya.
Ketiga ada ujung tombaknya narasumber, Mas Ma’ruf Cahyono selaku Sekjen MPR RI yang rupanya menjabat pula sekaligus sebagai Plt.Sekjen DPD RI, tampil casual dengan gaya bahasa yang sudah disesuaikan berdasar jenis undangan yang hadir, mengakui kesulitannya tersebut sebagai mantan orang Hukum yang selama ini berkutat dengan bahasa formal.
Lalu terakhir ada Mbak Rharas Asthining Palupi, mantan Kepala Bagian Pemberitaan dan Humas MPR RI, yang kini bertugas di bagian audit dan pengawasan. Beliau ini banyak membantu dalam mencairkan suasana hati para netizen Bali yang entah kenapa lebih banyak diamnya termasuk di akun sosial media sekalipun.

Di sela pemaparan, Mas Ma’ruf sempat berbagi puisi Manifesto 4 Pilar Kebangsaan ‘Masih Indonesiakah Kita’ yang isinya cukup membuat kami merenung.
Sekaligus memperkenalkan tagar baru Dari MPR Untuk NKRI ‘Ini Baru Indonesia‘.

Sesi tanya jawab secara pandangan saya pribadi, kurang seru. Bisa jadi yang hadir sebagai perwakilan netizen Bali hari ini belum mencakup semua segmen. Utamanya para aktivis sosial, atau bahkan Vlogger yang belakangan sudah makin diminati. Tapi bisa jadi juga lantaran suasananya yang agak-agak resmi gitu, beda banget kalo pas sesi ngumpul netizen Jaman Now pada realitanya.

Owh ya.
Di akhir agenda, Mbak Mira Sahid ndak lupa buat mengingatkan lagi semua Netizen Bali yang hadir, agar bisa membantu MPR RI memproduksi tulisan atau postingan di blog masing-masing, tentang 4 Pilar Kebangsaan atau implementasinya dalam kehidupan sosial masing-masing, dengan gaya bahasa khas atau sesuai minat dan tema blog yang ditekuni.
Demi memperbanyak konten positif di dunia maya, serta meminimalisir penyebaran Hoax.
Ditunggu ya ManTeman.

Ngobrol Bareng MPR RI, 55 Netizen Bali Siap Gemakan 4 Pilar Kebangsaan

2

Category : tentang iLMu tamBahan

Bertempat di Bintang Bali Kuta, Sekjen MPR RI Bapak Ma’ruf Cahyono tampak berupaya keras mengalihbahasakan tugas serta kewenangan mereka dalam pola birokrasi pemerintah agar lebih mudah dipahami oleh 55 Netizen Bali yang berasal dari berbagai profesi dunia maya. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah potensi kebosanan yang biasanya timbul dalam benak generasi Jaman Now saat sudah bicara dan berhadapan dengan pemerintah.
Hal ini diakui oleh Mbak Mira Sahid, founding Komunitas Emak Blogger yang selama ini lekat sebagai moderator selama berjalannya agenda Ngobrol Bareng MPR RI sejak tahun 2015 di sejumlah Kota besar Indonesia.

Untuk lingkup Provinsi Bali, menurut Kepala Bagian Pusat Data dan Sistem Informasi (PDSI) MPR RI Mas Andrianto, ini adalah kali pertama diadakannya sesi pertemuan MPR RI dengan para warga net, netizen dunia maya mengambil konsep tatap muka kekinian. Bali dipilih lantaran telah menjadi pusat interaksi informasi utama di Indonesia dengan dunia luar mancanegara, yang rentan akan pengaruh dan penyebaran hoax. Selain itu, Bali dikenal pula memiliki tingkat toleransi yang tinggi, selaras dengan nilai kebhinekaan, salah satu makna dari 4 Pilar Kebangsaan yang digagas mantan Ketua MPR Taufik Kiemas.

Perubahan penyebutan istilah 4 Pilar Kebangsaan yang kini lebih condong disebut sebagai 4 Pilar MPR RI, ditegaskan oleh Mbak Rharas Asthining Palupi, mantan Kepala Bagian Pemberitaan dan Humas MPR RI, yang kini bertugas dalam bidang pengawasan. Meliputi Pancasila, UUD 1945 (setelah amandemen), NKRI #hargamati dan Bhineka Tunggal Ika.
Keempat makna diatas menjadi sangat penting untuk dapat dilaksanakan dalam kehidupan bernegara bagi seluruh masyarakat Indonesia utamanya generasi Jaman Now yang bisa dikatakan sangat minim asupan pengetahuan akan budi pekerti dan bela negara.

Sayangnya, eksistensi MPR RI sebagai salah satu lembaga negara dalam penyebaran konten tugas, kewenangan, program serta kebijakan pemerintah lewat pemanfaatan sosial media bisa dikatakan sudah sangat terlambat di era digital masa kini, nyaris ketinggalan kereta. Ini diungkap oleh Mas Casmudi mewakili suara komunitas Blogger Bali. Upaya ini kalah jauh dari riuhnya informasi yang tersebar di dunia maya justru didominasi oleh DPR RI, meskipun berasal dari oknum-oknum dari partai tertentu.
Tidak heran apabila ketika beberapa perwakilan netizen Bali ditanyakan jumlah atau siapa saja nama pimpinan MPR RI, nyaris tidak ada yang mampu menjawab dengan benar. Kurangnya pengetahuan netizen bisa jadi disebabkan pula oleh minimnya literasi yang mampu dipahami atau bahkan diminati, dalam tampilan visual yang menarik atau bahkan penggunaan kalimat sederhana.

Tidak bisa dipungkiri bahwa pemanfaatan sosial media yang dahulu lebih banyak diminati oleh generasi jaman now kini juga sudah mulai merambah generasi jaman old, merupakan satu-satunya cara yang ampuh untuk berbagi informasi positif demi menyaring penyebaran hoax lebih jauh.
Bahkan menurut penuturan Mbak Siti Fauziah Kepala Biro Humas Setjen MPR RI, pengaruh sosial media sudah sampai kepada cara pandang seseorang pada pilihan politik bernegara atau tata perilaku pergaulan dengan sesama. Sehingga satu hal yang diharapkan pasca agenda pertemuan ngobrol bareng MPR ini adalah keterlibatan Netizen Bali dalam menggemakan 4 Pilar Kebangsaan atau yang kini disebut sebagai 4 Pilar MPR RI, beserta manifesto dalam upaya membangkitkan jati diri bangsa melalui bidang atau cara yang telah ditekuni selama ini, bisa dengan menggunakan bahasa dan ajakan yang disesuaikan dengan perilaku kehidupan sehari-hari ataupun menggali dan menggelorakan kembali adat budaya Indonesia atau lokal setempat yang kini sudah mulai dilupakan.

Sebagai penutup, Mbak Mira Sahid selaku moderator of the day hari ini, sempat mengingatkan sejumlah quote yang membangun rasa kebanggaan akan kebangsaan, sebagai implementasi dari 5 Sila dalam Pancasila.
‘Berhenti saling menyakiti, mulailah saling menghargai’
‘Stop marah-marah, mulailah bersikap ramah’
‘Berhenti memaksakan, mulailah berkorban’
‘Berhenti silang pendapat, mulailah mencari mufakat’ dan
‘Berhenti malas, mulailah bekerja keras’

Ada Apa Dengan Cinta ? #2

1

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang Opini

April 2016, kalo nda salah film ini tayang resmi di Indonesia. Buah karya Mira Lesmana setelah melewati 14 tahun masa penantian.
Selang delapan bulan, akhirnya bisa jua menikmatinya langsung dari layar ponsel. Lupa, tempo hari dapat unduhan dari mana.
Seingat saya, bukan dari halaman lokal mengingat subtitle yang ada menggunakan bahasa Melayu.

Sinopsis ataupun jalan cerita, bisa baca di halaman Wikipedia. Cukup lengkap meski penerjemahannya agak aneh menurut saya. Tapi sudah mewakili kok.
Jadi saya ndak akan cerita lebih lanjut soal ini.

Untuk bisa Menikmati Sekuel atau kisah lanjutan Ada Apa Dengan Cinta yang dihadirkan pada tahun 2002 silam, mirip kek menanti kiriman ponsel Google Pixel.
Musti cari-cari ke banyak link, halaman penyedia film gratisan di dunia maya, namun yang dijumpai hanyalah sejumlah janji palsu. Meskipun pada akhirnya dapat, ya memang musti ditebus oleh darah dan air mata. Hehehe…

Tahun 2002. Saya lupa saat itu saya ada dimana.
Keknya masih berkutat dengan aplikasi AutoCad 2000 di sejumlah Konsultan seantero Kota Denpasar.
Waktu itu malah nda kepikiran mau nonton film, lantaran status masih Jomblo.
Kalo ndak salah sih ya.

Tahun 2016. Secara niat sebetulnya besar. Tapi situasi keknya nda mendukung untuk nonton di bioskop, secara waktu juga sudah nda sempat lagi.
Maka ya upaya pencarian link unduhan, sangat didamba sejak awal. dan seperti yang sudah saya sampaikan di awal, hasilnya cuma janji-janji palsu dimana yang ditemukan rata-rata video iklan aplikasi Line, yang diulang-ulang sepanjang 2 jam lamanya. Kampret memang.

Puas. dan Hebat.
Sang Produser emang keren.
Terlepas dari dukungan teknologi Drone masa kini yang membuat produksi film jadi lebih mudah dalam mengambil gambar, saya suka semuanya. Alur cerita yang mudah dipahami, eksplorasi budaya dan objek wisata yang tak biasa, hingga CLBK yang diharapkan ya emang kek nanggung dan digantung gitu demi kesopanan dan moral cerita yang diangkat.
Tentu akan berbeda alur jika film ini diproduksi oleh para produser Shitnetron atau film horror lokal dengan jualan paha dan dada seksi. Bisa jadi bukan indahnya alam dan dialog yang didapat, tapi full adegan ranjang. Ups… Maaf.

Butuh waktu berkali-kali untuk bisa menyerap semua detail yang ditawarkan sepanjang film. Itu pula salah satu keuntungan bisa menikmatinya melalui layar ponsel. Mau dimulai dari adegan mana pun, ya asik asik aja. Selain pula mampu membendung air mata yang tadinya diancam turun oleh salah satu staf saya di kantor. He…

Menonton Ada Apa Dengan Cinta ? #2 sedikit banyak mengingatkan saya pada dua film atau produksi lain yang melibatkan sang aktor utama, Nicholas Saputra diluar Ada Apa Dengan Cinta (2002), yaitu Gie (2005) diproduksi oleh Produser dan Sutradara yang sama, dan Nic & Mar (2015) yang menjadi bagian dari mobile drama aplikasi Line.
Demikian halnya versi AADC.
Kental banget suasana dan karakternya.

Entah apakah hanya perasaan saya saja, yang menilai bahwa Ada Apa Dengan Cinta ? #2 ini mirip banget kesannya dengan Gie, saat dialog Rangga dan Cinta yang menggunakan Ejaan baku bahasa kita, Indonesia. atau aksi Rangga di New York yang segaris dengan Nic & Mar. Entah ya menurut kalian…

dan sangat wajar, bila Ada Apa Dengan Cinta ? #2 bisa jadi pengobat rindu mereka, generasi remaja kelahiran 80/90an, yang dulu kental dan akrab dengan buku, novel dan surat cinta, kini beralih pada email, sms bahkan aplikasi semacam Line, untuk menjalani kisah cinta masing-masing sebagaimana yang dilakoni Rangga dan Cinta.
Sayapun tak malu untuk mengakui bahwa Ada Apa Dengan Cinta ? #2 pada akhirnya merupakan salah satu film favorit saya hingga kini masih saya simpan dalam storage ponsel untuk dinikmati saat pikiran dan suasana hati dalam posisi menggalau.
Cukup ampuh untuk mengobati segala kerinduan pada kekasih hati, saat jauh.

Bagaimana menurut kalian ?

Bersua ‘Nic & Mar’

Category : tentang Opini

Kisah pertemuan dua insan yang telah berstatus mantan, dengan ‘terpaksa’ terjalin kembali di Eropa Paris, berkat Line.
Sounds familiar ?

Kisah serupa pernah digulirkan tahun 2014 lalu menyambung epic lama di blantika film remaja Indonesia. Salah satu aktor yang terlibat masih sama dengan kedua kisah diatas. Nicholas Saputra.

Pemeran tokoh Gie yang sampai sekarang masih saya sukai penampilannya ini, melalui debut awal tahun 2002an lalu lewat ‘Ada Apa Dengan Cinta’ yang beradu akting dengan aktris beken Dian Sastro.
Cerita ini kemudian berlanjut dua belas tahun kemudian dalam bentuk mini drama besutan Line, aplikasi mobile messenger yang mengandalkan nomor ponsel macam Whatsapp, bukan PIN macam BBM. Namun didalamnya memiliki fitur pencarian berdasarkan Nama pengguna sehingga dimungkinkan untuk menemukan dan berbicara dengan seseorang, mantan sekalipun.
Selama lawan bicara menggunakan aplikasi yang sama.
Yang sayangnya, bagi pengguna yang pernah menggunakan Line lalu berstatus mantan karena tidak lagi menggunakan Line, daftar nama yang bersangkutan tetap muncul dalam pencarian, namun tidak akan mendapatkan respon apa-apa ketika dikontak melalui jalur aplikasi yang sama. Kasian banget bagi yang berharap banyak. *he-em

Balik pada kisah ‘Nic & Mar’, saya menemukannya secara tidak sengaja di halaman berbagi video, YouTube pertengahan Maret lalu. Inginnya sih mengunduh beberapa film Indonesia lama yang disajikan full durasi, tapi nyasarnya malah ke serial mini drama ini yang di-update setiap hari Kamis dan Jumat malam.

Nic & Mar PanDe Baik Line

Konsep jualannya mungkin mirip dengan kisah mini drama ‘Ada Apa Dengan Cinta’ yang dirilis tahun 2014 lalu, atau kisah ‘Malam Minggu Miko’ nya Raditya Dika yang memang hanya edar dalam versi YouTube, namun bisa dikatakan alur cerita, permainan musik latar dan pengambilan gambarnya, sesuai dengan harapan banyak penggemar film Indonesia yang sudah familiar dengan sosok Nicholas Saputra.

Adapun lawan main Nicholas Saputra yang berperan sebagai Nic dalam kisah ini adalah Mariana Renata yang berperan sebagai Mar.

Kisah ini dimulai dari perjalanan Nic di Paris yang kebingungan mencari referensi terkait kota yang ia kunjungi, dengan bertanya pada kawan dalam group Line. Salah satu alternatif solusi yang ditawarkan adalah menjumpai Mar, sang mantan kekasih yang telah sepuluh tahunan berpisah dan secara kebetulan bekerja di Paris. Pertemuan yang dijalani sebagai teman lama ini kemudian berkembang lagi menjadi satu hubungan yang berbeda dari sebelumnya.

Nic & Mar PanDe Baik Line 1

Hingga malam ini, ada empat episode yang bisa dinikmati dari cerita ‘Nic & Mar’ melalui channel Line Indonesia di halaman YouTube. Ditambah dua video musik yang melatarbelakangi kisah dengan tajuk ‘Far Away’ dan ‘When You Are Near’, sangat cocok dinikmati bagi kalian yang sudah mulai gerah dengan kehadiran Shitnetron dan sejenisnya di layar televisi.
agar bisa menontonnya secara berulang, saran saya video diatas bisa diunduh dengan menggunakan aplikasi TubeMate pada ponsel Android atau YouTube Downloader pada perangkat PC.

Saya yakin kalian bakal menyukai dan menunggu episode kelanjutan dari kisah ‘Nic & Mar’ ini, yang tentu bisa dikunjungi lagi Jumat malam nanti. Apalagi kisah ini diturunkan hanya dalam durasi yang singkat. Sekitar 6-7 menitan setiap episodenya.

Penasaran ? Mampir aja di halaman Line Indonesia, playlist ‘Nic & Mar’.

Mengintip Aplikasi/Games Buatan Developer Lokal

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Jaminan ketersediaan ratusan bahkan ribuan aplikasi dan games kini kerap menjadi jualan perangkat ponsel maupun tabletpc yang masuk golongan smart, entah itu Android berharga murah hingga sekelas iPad sekalipun. Meski memang tak semua aplikasi atau games tersebut dapat dicoba dengan gratis tanpa membeli.

Tapi siapa sangka jika diantara ratusan bahkan ribuan aplikasi yang tersedia dalam application market masing-masing perangkat pintar tersebut ada juga yang produksi dalam negeri alias dikembangkan oleh developer lokal. Mau tahu apa saja serta fungsi atau gunanya ? yuk kita intip beberapa.

Kategori Travel/Transportasi ; Indonesia FlightBoard. Aplikasi ini dikembangkan oleh Trustudio dalam pasar Android dengan fungsi menyediakan jadwal penerbangan beberapa maskapai di Indonesia dari 25 bandara yang telah terdaftar. Kami yakin aplikasi ini akan sangat membantu mobilitas Kawan yang sering bepergian keluar daerah. Jadwal Kereta Api. Jika Kawan sering bepergian menggunakan alat transportasi kereta api maka aplikasi ini wajib untuk dimiliki. Layanan utamanya adalah memberikan informasi jadwal kereta api Non KRL untuk kelas Eksekutif, bisnis, Ekonomi dan Wisata sesuai dengan yang ada di website KAI. Selain itu tersedia pula opsi pemesanan tiket via call centre. Komutta. Apabila dua aplikasi tadi melingkupi beberapa wilayah transportasi, untuk yang satu ini hanya dapat dinikmati bagi pengguna yang berada di wilayah Jakarta saja. Namun tak mengkhusus pada satu jenis alat, aplikasi ini mencakup informasi transportasi publik seperti bus Trans Jakarta, Kereta Api, Mini Bus, Taksi hingga Angkot, lengkap dengan call center semua operator.

Kategori Kuliner. Toresto. Merupakan cara baru berburu makanan dan restoran lewat aplikasi mobile. Toresto dikembangkan oleh GITS Indonesia yang kini telah tersedia di banyak platform yaitu Android, iOS, S40, Symbian, Windows Phone an S40 Touch. Sedikitnya tersedia lebih dari 2400 data 2400 tempat makan baik di Bandung maupun Jakarta. Kabarnya untuk wilayah kota lainnya akan dikembangkan demi memudahkan perburuan kuliner. Masak Apa. Apabila aplikasi tadi lebih mengarah pada lokasi restoran terdekat dari posisi pengguna, Masak Apa lebih menyasar pada panduan resep dan tips memasak harian bagi pengguna yang memiliki hobi memasak. Informasi yang disajikan cukup lengkap baik tutorial dalam bentuk teks bacaan maupun video langkah pembuatan.
Kategori Hiburan. iCineplex. Sesuai namanya, aplikasi ini diperuntukkan bagi penggemar film yang ingin mendapatkan update jadwal tayang serta revies film terkini di bioskop terdekat meliputi Cineplex 21 dan Blitzmegaplex. IndoTV. Jika Kawan lebih menyukai menonton layar televisi ketimbang bioskop, barangkali aplikasi ini jauh lebih bermanfaat untuk digunakan. Informasi yang disajikan meliputi jadwal tayang TV kabel maupun publik di Indonesia, lengkap dengan streaming yang membutuhkan koneksi internet saat menjalankannya. Fungsi lain yang disediakan dalam aplikasi ini adalah fitur pencarian dan reminder atau alarm, agar Kawan tak ketinggalan menonton tayangan favorit. Gamelan DJ. Merupakan aplikasi musik yang mengkombinasikan alat musik tradisional (gamelan saron) dan modern (DJ mix). Aplikasi ini merupakan yang pertama dikembangkan oleh Kowplink Studio dan baru bisa diakses melalui pasar aplikasi Android. Rencananya dalam waktu dekat, aplikasi ini bakalan dikembangkan bagi beberapa platform lainnya.

Kategori Edukasi. FisikaMu SMA X. Bagi Kawan yang ingin belajar tentang ilmu Fisika Dasar, tersedia aplikasi yang dikembangkan oleh Enthrean Guardian, yang menyasar pada materi sesuai kurikulum yang diberikan pada kelas X atau tahun pertama ilmu Fisika diberikan pada jenjang sekolah. Tersedia dalam dua versi, Semester I dan 2 dimana masing-masing menyediakan materi, contoh soal dan pembahasan, latihan soal tiap Bab, dan Tes Semester, dengan materi lebih kompleks dan spesifik. Try Out Plus SD dan SMP. Aplikasi ini dikembangkan oleh PT. Alphasoft yang tersedia dalam berbagai pilihan platform, dari desktop Windows, Android, BlackBerry dan juga iOS. Materi yang disampaikan berupa pertanyaan yang kerap diujiankan, berjenjang mulai kelas I SD hingga kelas IX (SMP). Akan berguna bagi anak-anak usia sekolahan untuk mendalami pengetahuan yang mereka dapatkan.

Kategori Utility. Nefron. Merupakan aplikasi lokal pendeteksi SMS iklan/percobaan penipuan bagi perangkat Android. Fungsinya cukup sederhana, yaitu mencegah SMS iklan/percobaan penipuan untuk masuk ke ponsel berdasarkan nomor yang tidak dikenal dalam daftar kontak. Namun tentunya isi SMS akan diReview terlebih dahulu sebelum diblokir dan masuk kedalam daftar spam. KoinKuLator. Bagi Kawan yang pernah membaca review aplikasi Expense Manager beberapa waktu lalu, kami yakin fungsi KoinKulator tak akan asing lagi. Dikembangkan oleh Mreunionlabs, memiliki kemampuan untuk melakukan pencatatan keuangan, pemasukan dan pengeluaran yang dilakukan secara rutin, untuk melihat seberapa jauh pos transaksi yang dilakukan.

Kategori Games. Pandava Series. Merupakan rangkaian game Legenda Indonesia dari Creacle Game Studio, Yogyakarta. Tersedia hanya dalam Nokia Ovi Store, Pandava Series menyediakan 4 buah game dengan judul masing-masing : Arjuna the Archer, Bima the Conqueror, Nakula Sadewa in The Labyrinth, dan The Legend of Gatotkaca for Mobile. Keempat game ini kental dengan unsur budaya dan mengangkat empat tokoh pahlawan legenda di Indonesia. Untuk saat ini, yang telah dirilis secara resmi adalah Arjuna The Archer dan Bima the Conqueror. Sedangkan dua lainnya sedang berada dalam proses pengembangan. Panjat Pinang. Game ini dikerjakan oleh delapan orang mahasiswa Amikom di basecamp Amikom Game dev, daerah Candi Gebang selama 2 minggu. Mengambil tema panjat pinang yang kerap digelar saban 17 Agustusan, games ini kelihatannya telah diunduh hingga jumlah ribuan. Sangat Lumayan untuk ukuran aplikasi buatan Lokal. Ular Tangga. Masih dari developer yang sama, Ular Tangga merupakan salah satu game klasik yang dapat dimainkan berdua dengan kawan lain atau melawan ponsel. Mengadopsi bentukan awal Ular Tangga dari angka 1 hingga 100 dimana Ular berfungsi untuk menurunkan pengguna ke angka yang lebih kecil, dan Ular berlaku sebaliknya.

Apakah Kita Sudah Merdeka ?

1

Category : tentang Opini

“Apa Makna 17 Agustus bagimu ?”

Adalah satu pertanyaan kuiz yang dilontarkan oleh akun @BlogDokter bekerjasama dengan akun lain, 16 Agustus 2012 pukul 7 malam kemarin. Tanpa berpikir banyak, sayapun mengetikkan kalimat…

‘17 Agustus tuh Gag berarti apa”, Korupsi masih marak, Kemiskinan dieksploitasi, Kampanye juga masih SARA’

Jujur, saya sedikit kecewa dengan perilaku para pejabat di Negara kita saat ini. Perilaku korup yang gag mampu dihentikan meski Reformasi telah berjalan selama empat belas tahun, Hukum yang berlaku seakan-akan terbentur tembok tinggi dan gag mampu menggapai semua pelaku kriminal berdasi dan jas mewah, atau keadilan yang katanya berlaku bagi seluruh Rakyat, malah diperjualbelikan seenaknya didepan mata.

Kasus per kasus yang masuk ke meja aparat selalu dinilai dengan uang, seberapa banyak yang mampu kita berikan sebagai ‘bargaining atas keinginan untuk bisa dipermudah atau bahkan dihindari. Belum lagi soal kemiskinan yang dieksploitasi demi banyak kepentingan, entah itu pencitraan, iklan media bahkan kampanye pilkada. Kini malah dipenuhi isu SARA dan itu dilegalkan walaupun secara terselubung.

Miris tentu.

Menyaksikan kemegahan perayaan ajang bergengsi Olympiade 2012 yang dilaksanakan di London sana sepertinya sudah cukup untuk mengingatkan mata ribuan publik Indonesia akan terpuruknya prestasi kita pada Sea Games beberapa waktu lalu, baik secara spirit olahraga maupun pelaksanaan dan pegelaran yang dihelat sebagai tuan rumah. Korupsi, Korupsi dan Korupsi. Seperti tiada habisnya, bahkan hingga pembangunan sarana prasaranapun digerogoti sedemikian rupa.

Apakah Kita sudah bisa menganggap bahwa Indonesia sudah merdeka ?

Fatwa haram bersliweran, turun atas perintah dan himpitan kepentingan golongan tertentu. Tanpa dasar. Mengakibatkan banyaknya kebutuhan umat lain ikut teramputasi tanpa ampun. Merokok diharamkan. Membeli Premium diharamkan. Bahkan menonton Lady Gaga pun ikut-ikutan diharamkan. Sangat Naif apabila mereka yang menyatakan Haram tidaknya Lady Gaga malah tidak mengakui adanya live show pornoaksi didepan mata yang jelas-jelas jauh lebih merusak moral generasi muda. Ormas melakukan aksi sweeping setiap bulan Ramadhan, bulan suci yang dikatakan penuh berkah. Sementara mereka seakan lupa bahwa Indonesia adalah negara yang ber-Bhineka Tunggal Ika, Pluralisme yang kini mulai diinjak-injak dan dilupakan.

Apakah Kita sudah bisa menganggap bahwa Indonesia sudah merdeka ?

Terserah bagaimana kalian mengartikannya. Bisa saja dengan jawaban klise penuh kata-kata indah ala para pejabat kita, mengingat arti perjuangan para pendahulu dan sebagainya, namun apakah mereka mengingatnya saat menerima amplop atau melakukan deal-deal pembagian fee proyek bahkan uang suap?

Maaf, ini hanyalah tumpahan kekesalan saya pada perilaku para pejabat yang setiap hari menghiasi headline media cetak yang seakan tak kapok jua meski sudah dihadapkan pada nama Tuhan-Nya.

Semoga kita bisa lebih memaknai Hari Kemerdekaan Indonesia ini dengan lebih bijak.

SM*SH HITs

9

Category : tentang Opini

“…You know me so well …Girl i need you …Girl i love you …Girl i heart you”

Jujur saja, pertama kali saya mendengar Reffrain lagu ini yang langsung terlintas adalah sebuah BoyBand beranggotakan cowok-cowok abegeh dari luar sana, yang nge-dance kompak, penuh dengan nuansa cerah dan tentu saja teriakan para gadis. Masih belum ngeh saat sebuah stasiun televisi swasta heboh banget menampilkan mereka sebagai pamungkas acara. eh kecele abis rupanya…

BoyBand. Mesti dikecam namun sangat menggoda. Kemunculan mereka kabarnya dibenci namun diam-diam dicinta. Begitu kira-kira tulisan sebuah media cetak beberapa hari lalu. Bahkan beberapa musisi metal sempat melontarkan kritikan pedas terkait gaya panggung dan karya-karya yang lahir dari para remaja tanggung tersebut.

SM*SH (dibaca jadi SMASH kali ya ?) muncul ditengah-tengah kebosanan generasi muda Indonesia akan lagu-lagu melayu yang mendayu kendati penampilan mereka rada-rada metal. Satu hal yang bagus saya kira, bisa memberi warna pada blantika musik Indonesia awal tahun 2011 ini.

Sayangnya ditengah hysteria fans, banyak komentar ataupun berita miring yang dikaitkan dengan SM*SH. Salah satu yang paling pedas barangkali soal ‘meniru’.

Di Korea sana kabarnya sudah ada satu BoyBand yang jua menggunakan nama sama dengan debut mereka sejak tahun 2008 lalu. Iseng saya cari di Google Images, hasilnya ada dua BoyBand dengan nama sama namun beda kelahiran. Hehehe… SM*SH Korea itu beranggotakan 5 (lima) abegeh kurus berwajah Vic Shou Meteor Garden sedang SM*SH ala Indonesia itu beranggotakan 6 (enam) abegeh berwajah menggemaskan (kata cewek-cewek abegeh rumah) yang salah satunya berambut putih ala Bang Buyung. *eh

Entah apa maksudnya menyamakan nama dengan BoyBand asal Korea tersebut (bisa jadi juga gaya tampil, cara dance dan lain-lain).

SM*SH bukanlah BoyBand pertama yang lahir di negeri ini. Kalau tidak salah jaman dulu itu (hihihi…) sudah ada yang namanya ME dengan lagu ‘Inikah Cinta’ atau BoyBand sekumpulan Model Cover Boy majalah remaja yang juga berumur jagung. Ngerilis dua tiga album trus gag kedengeran lagi.

Hysteria para Fans akan BoyBand Indonesia SM*SH pun sempat mengingatkan saya dengan BoyBand asal Irlandia ‘BoyZone’ atau BackStreets Boys, Westlife dan sejenisnya yang sempat booming di awal dekade 2000an lalu. Namun yang paling mirip barangkali malah jauh kebelakang lagi, di tahun 1990an. Apalagi kalo bukan New Kids On The Block. Saya yakin, para Bapak dan Ibu muda masa kini yang berumuran 30-40 tahun dijamin kenal nama yang satu ini.

BoyBand jadul yang kini gosipnya sedang berusaha untuk tampil kembali (tentu dengan wajah penuh cambang dan perut yang mulai tampak menggelayut), merupakan salah satu panutan yang disegani oleh para penerusnya. Apalagi anggotanya masih berusaha eksis hingga kini. Bahkan lewat sebuah majalah film, saya baca salah satunya bakalan ikut ambil bagian dibidang acting. Wah…

Balik ke topik SM*SH, jujur saja, saya pribadi gag terlalu peduli dengan kemunculan mereka. Bisa jadi lantaran selera yang sudah mulai terlihat jadul dan gag mengikuti perkembangan jaman di bidang music tanah air. Jangankan SM*SH, nama-nama baru seperti ST12, Wali, Armada atau apalah itu malah membuat saya kebingungan dengan karya mereka yang mana. Satu sama lain terlihat sama. Hanya mengikuti seingatnya saja.

Tapi saya salut dengan eksistensi mereka yang berusaha tampil di jalur BoyBand. Sebuah jalur yang barangkali emoh untuk dilirik dalam rentang lima tahun terakhir. Setidaknya reffrain lagu mereka ‘I Heart You’ seperti yang tersebut diatas, minimal bisa menggoyang MiRah GayatriDewi, putri saya yang berusia 3 tahun itu untuk ikut-ikutan menyanyi sehafalnya.

“…I know you so well …Girl i need you …Girl i love you …Girl i heart you”

Help Salary President – Koin Untuk Presiden

3

Category : tentang Opini

Gara-gara mengeluh (padahal sebetulnya hanya mengungkapkan fakta :p), Presiden Republik Indonesia Bapak Susilo Bambang Yudhoyono kembali didemo oleh rakyatnya, begitu berita media beberapa hari terakhir. Seakan belum jua sadar bahwa kebiasaan Beliau untuk mengeluh didepan rakyat lebih banyak mengundang kecaman. Alih-alih mendapatkan simpati dari rakyat, malah Beliau dijuluki sebagai Presiden Lebay.

Ditengah bencana alam dan tingginya harga bahan pokok di pasaran, Beliau mengeluhkan gaji yang tak naik selama kurun waktu 7 (tujuh) tahun kepemimpinan, seakan lupa bahwa masih banyak pe-er dan persoalan lain yang jauh lebih penting untuk dikatakan. Tapi ya  wajar sih, wong yang namanya tanggung jawab sebagai seorang Presiden ya tidak bisa disamakan dengan gaji seorang karyawan toko biasa atau pendapatan rata-rata rakyat Indonesia.

Meski begitu, tipikal Pemimpin yang diharapkan oleh sekian juta rakyat Indonesia, saya yakin memiliki jiwa yang mau berdiri di garis terdepan ketika rakyat masih dilanda susah dan kemiskinan. Atau pemimpin yang tak peduli dengan politik pencitraan, memilih mengabdi dan bekerja untuk rakyat dalam arti sebenarnya.

Saya pribadi sesungguhnya tidak keberatan dengan keluhan Beliau, asal disampaikan pada saat yang tepat. Misalkan saja, saat para Wakil Rakyat minta kenaikan Anggaran untuk plesiran, atau malah kenaikan gaji, tunjangan ini itu, dan tetek bengek lainnya yang kerap malah menomorduakan kepentingan lain bangsa ini. Saya yakin, jika Pak Presiden ‘Berani’ menyampaikannya saat para Wakil Rakyat meminta tambahan dana ini itu, rakyat dijamin bakalan mendukung sepenuhnya.

Help Salary Presiden atau yang dikenal dengan Koin untuk Presiden barangkali hanya salah satu jawaban yang bisa diberikan oleh Rakyat kepada pemimpinnya sebagai rasa bangga dan turut serta memiliki. Mereka tak sampai hati jika Pak Presiden mengeluhkan gajinya ketika dipertanyakan soal apa yang telah Beliau lakukan pada negeri ini. Hal serupa pernah pula dilakukan rakyat ketika Prita mengeluhkan pelayanan sebuah Rumah Sakit (yang katanya) Internasional lewat email, lantas dituntut membayar sejumlah uang untuk kerugian yang diakibatkan lantaran usaha untuk pencemaran nama baik. Aksi yang sama dengan maksud yang berbeda.

“Saatnya kita sebagai rakyat membantu kesulitan Beliau dengan menyumbangkan koin cinta SBY Rp.100”

Wah, kalau saja di Denpasar ada yang mau berkenan menyampaikan koin-koin tersebut pada Pak Presiden secara langsung (bukan dituker dengan uang kertas), saya yakin MiRah putri saya, Rela membuka celengan kecilnya untuk disisihkan demi Pemimpin Negara yang kami kagumi ini.

5-1 ? 3-0 ah…

7

Category : tentang Opini

Semua pendukung TimNas Sepak Bola Indonesia boleh-boleh saja menganggap bahwa yang patut dikambinghitamkan atas kekalahan Indonesia 3-0 oleh Malaysia, Minggu 26 Desember Malam lalu, adalah sabotase laser yang ditujukan kepada Kiper Indonesia oleh Suporter Malaysia. Namun yang seharusnya patut kita catat dan akui adalah, kemampuan Malaysia secara perseorangan, memang sungguh Mantap. Dari Penyerang utama hingga Penjaga Gawang. Bahkan, untuk seorang awam seperti saya, permainan mereka sungguh luar biasa. Inilah yang dinamakan berjuang hingga titik darah penghabisan.

Sejak pertandingan semifinal lalu, penjaga gawang TimNas Indonesia saya lihat hampir selalu mementalkan bola yang seharusnya ia tangkap dengan gagah berani dan lindungi, agar tak mengoyak jaring gawang. Setidaknya begitu yang saya baca dari sebuah komik Bola bertajuk Shoot. Bahkan dalam angan-angan saya malam itu, sudah seharusnyalah penjaga gawang Indonesia, harus mampu dan berani seperti halnya penjaga gawang Malaysia yang begitu sigap menangkap bola.

Jujur, ini adalah kali pertama saya begitu antusias dengan yang namanya Sepak Bola. Entah apa sebabnya, sejak pertama Piala AFF ini bergulir, saya jadi rajin memantau berita, perkembangan hingga pertandingan Timnas Indonesia dalam setiap laganya. Padahal tidak demikian saat perhelatan Piala Dunia beberapa waktu lalu.

Sayangnya, beberapa hari  pra Final leg pertama di Bukit Jalil Malaysia lalu, saya sempat merasa malu sendiri dengan ‘jumawa’nya sebagian besar media dan pendukung TimNas. Okelah, kalo itu yang namanya Nasionalisme. Namun jika rasa percaya diri yang sudah terlalu berlebihan, bisa jadi hanya rasa sombong yang tersisa.

Setiap hari, setiap jam, setiap saat pemberitaan selalu soal TimNas. Entah profil para pemain, siapa istrinya, orang tuanya, penggemarnya hingga ‘klaim’ parpol yang berusaha mengambil momen keberhasilan TimNas menggulung semua lawannya yang notabene dilakukan di kandang sendiri. Merayakan sih boleh-boleh saja, namun kalau sampai mengklaim bahwa kita akan bisa menang mudah 5-1 melihat pada statistik dan sua dengan Malaysia saat penyisihan lalu, lantas apa yang bisa kita katakan saat Malaysia memutar balikkan kenyataan 3-0 terlepas dari ketidaksportifan suporter mereka ?

Saya merasa pemberitaan dan klaim yang sudah terlalu over, malah membuat kita semakin takabur dan cenderung menggampangkan sesuatu. Setidaknya begitu yang sepatutnya kita petik dari petuah orang tua terdahulu. Mendukung boleh saja, asal jangan terlalu. Karena apapun yang sudah melewati kata terlalu, dijamin gak mengenakkan hasilnya. Biasa-biasa saja lah…

Malaysia sudah berusaha untuk menunjukkan kejengahan mereka dengan menjatuhkan Indonesia 3-0. Kehirukpikukannya bahkan menenggelamkan rencana Launching peresmian unit LPSE Badung yang hingga minggu malampun masih kami benahi. Kini kesempatan yang kita miliki hanya satu kali. Jika kita masih terlena dengan semua pemberitaan dan puja puji itu, mungkin kini sudah saatnya bagi Indonesia untuk mencari 11 anak bangsa yang punya bakat dalam Sepak Bola dan kontrol emosi tanpa campur tangan banyak media terutama infoTAIment.  Salam Hormat bagi TimNas kami yang akan berlaga malam ini…

Btw, pasca malam ini, mungkin sudah saatnya kita (terutama para pejabat dan tentu saja pak presiden) kembali terfokus pada semua korban bencana yang sudah mulai terlupakan. Mentawai, Wasior, Merapi hingga bahkan lumpur Lapindo yang tak jua diundang makan oleh Ical Bakrie…

Menikmati Jatah Sisa Penghobi (nonton) Film

12

Category : tentang KeseHaRian

Entah satu kebetulan atau tidak, sehari setelah publikasi tulisan Sialnya Penghobi (nonton) Film, saya dihubungi pihak ZeeneMax Gatsu yang kemudian menyatakan bahwa akun saya telah dipindahkan ke ZeeneMax lain dan menutup Rental Video pilihan terakhir saya tersebut. Masih ada sekitar 21 judul yang bisa dinikmati hingga tanggal 8 Agustus nanti. Seakan tidak ingin membuang kesempatan, saya segera meluncur ke salah satu ZeeneMax terdekat dan mencoba kembali berburu film sebagai bahan tontonan berikutnya.

ZeeneMax rupanya memberikan opsi jumlah maksimal yang boleh dipinjam dalam sekali waktu yaitu 8 judul film. Dari kuota yang diperbolehkan saya memutuskan untuk membaginya dalam beberapa jenis tema yaitu lokal dengan tema serius, lokal yang saya duga bakalan asal-asalan, komedi luar serupa aktingnya Adam Sandler barangkali, film box office rilis dua tiga tahun lalu dan satu dua film baru.

Jujur, saya sempat tidak percaya ketika melihat begitu banyak pilihan film lokal Indonesia yang diproduksi selama dua tahun terakhir. Sayangnya kendati secara kuantitas jumlahnya cukup lumayan, saya yakin tidak demikian halnya dengan kualitas film tersebut, baik ditinjau dari tema ataupun sinopsis singkat yang tertera di cover belakang film. Rata-rata masih berkiprah pada jenis Horror (yang berkembang menjadi pengumbar syahwat) seperti Kain Kafan Perawan atau Raped By Saitan dan jenis komedi (yang lebih banyak meniru film sejenis produksi luar).

Dari banyaknya pilihan tersebut, saya mengambil ‘Cinta Setaman’ yang menampilkan Lukman Sardi, Nicholas Saputra dan Slamet Rahardjo yang sekiranya saya duga sebagai salah satu karya lokal yang ‘agak’ serius. Sebaliknya yang agak ‘kurang serius dengan tema, saya memilih ‘Air Terjun Pengantin’ dengan alasan sederhana, penasaran dengan penampilan para aktrisnya. Hehehe… ada juga ‘Serigala Terakhir’ yang kabarnya punya tema Action menarik.

Untuk tema komedi produksi luar saya memilih ‘Run FatBoy Run’ sebuah film yang sebetulnya memiliki tema sederhana namun dipilih gara-gara ‘yang sempat saya tonton hanya sebagian saat beristirahat malam disela pendidikan LPSE kemarin. Penasaran juga ingin tau cerita awalnya. Hehehe… Pada awalnya saya pikir film ini merupakan film lama yang tidak masuk dalam hitungan box office, lha ternyata ketemua jua di ZeeneMax kali ini.

Entah karena keteledoran penjaga atau bisa jadi karena saya ceroboh tidak memeriksa kembali film pesanan yang diambil, satu film lama yang sebenarnya ingin saya tonton adalah si Bajak Laut Carribbean jilid 3. Akan tetapi yang diberikan malah sebuah film Thriller berjudul Séance. Baru nyadar pada saat melakukan aksi copy film kedalam hard disk laptop. Sempat bingung juga jadinya.

Ada juga ‘Paranormal Activity’ yang saya ambil atas review filmnya Eka Dirgantara di midnightshadow.info bersama ‘3 Idiot’ sebuah film India yang kabarnya punya kualitas diatas rata-rata. Ditambah satu film dokumenter milik grup band Slank yang dahulu pernah menjadi musisi favorit, tepatnya album yang dirilis sebelum Minoritas.

Delapan buah film minus satu yang tidak diharapkan sudah siap menjadi bahan tontonan seorang Penghobi (nonton) Film dalam waktu dekat. Mau menontonnya bareng ?

Untukmu Indonesiaku

2

Category : tentang KuLiah

Yudisium Pasca Sarjana

Yudisium Teknik

WisuDa