PanDe Baik berDuka

7

Category : tentang KeseHaRian

Atas meninggalnya Pande Ketut Nadhi, pekak dari pihak Ibu di banjar Titih. Pada hari Selasa, 3 Februari 2009 jam 03.30 dini hari, di ruang ICU RS Wangaya Denpasar. Semoga IDA SANG HYANG WIDHI WASA Selalu berkenan memberikan ketegaran pada kami yang ditinggalkannya.

We Love You GrandPa.

(PanDe Baik dan keluarga)

SeLamat Jalan PeKaK KeRoK

3

Category : tentang KeseHaRian

Siapapun gak bakalan bisa memastikan kapan tepatnya seseorang akan kembali pada-NYA.

Saya mengenal BeLiau tepatnya pertengahan tahun 2004 lalu. Saat saya mulai menjalani hari-hari sebagai pengabdi di negeri ini.

Pak Wayan Subrata. Saya mengenalnya sebagai sosok yang bersahabat dan setia pada pekerjaan yang diembankan padanya. Perangainya sangat mirip dengan kakek saya. Tak heran, selama BeLiau berada disekitar saya, seakan saya sedang berada dekat kakek sendiri.

Perawakannya mirip dengan tokoh Semar yang bijak di acara Ria Jenaka jaman TVRI masih di layar item putih dahulu. Yang paling saya hafalkan dari BeLiau ini ya kalo lagi berhadapan dengan makhluk yang bernama wanita. Kata-katanya polos namun sedikit nyerempet ke bau-bau vulgar. Khasnya kakek-kakek kalo lagi deket cewek sexy. He…

Pak Wayan Subrata. Merupakan orang yang paling pertama tahu adanya ‘cinlok’ antara saya dengan ALit. Satu-satunya yang masih gadis diruangan itu. Paling heboh kalo BeLiau ini berusaha menceritakan kembali masa-masa ‘backstreets’ saya dengan ALit. Gadis yang selalu menjadi buah bibir kalo saya lagi berkunjung ke ruangan lainnya. Menjadi orang yang pertama pula menyetujui (diruangan itu) dan menganjurkan hubungan saya dengan ALit bisa berlanjut sampai ke jenjang pernikahan.

Tak banyak yang saya ketahui tentang BeLiau ini. Dari apa yang saya tahu, bisa dikatakan tujuhpuluhlima persennya saya tahu dari ALit. Tentang sifatnya yang ngemong bagi pegawai yang berusia muda. Tentang dirinya yang menganggap secara sepihak, merupakan pekak (kakek) dari semua pegawai diruangan yang saya tempati. Tentang kegembiraannya saat tahu bahwa ia akan beneran menjadi seorang kakek dirumahnya sendiri.

Yang saya tahu sejak awal menjadi pegawai adalah, apabila saya memerlukan sesuatu (map, kertas, cd kosong, hingga uang tunai untuk membeli sesuatu yang tidak ia ketahui bentuknya), saya tinggal mengatakan padanya. Paling lambat ya esok pagi harinya, saya sudah mendapati apa yang saya pinta padanya. Ya, BeLiau adalah bendahara barang dan alat tulis di ruangan kami.

Ada banyak foto BeLiau yang saya abadikan dari kamera digital milik pribadi. Dari tangkil dan sembahyang bareng ke Pura Puncak Sinunggal, liburan akhir tahun ke Pura Gunung Salak dan ikut terjebak bersama tiga rekan lainnya selama setengah jam didalam lift yang macet, hingga berburu jaket di Pasar Turi Surabaya. Termasuk diantaranya saat berada didalam pesawat Adam Air yang gagal terbang trus pindah ke pesawat lain. Semuanya masih tersimpan rapi di cd pocket yang saya miliki.

Memang, ini untuk kali pertama saya merasakan manfaat dari alasan utama saya membeli kamera digital sekitar tiga tahun lalu itu. Walopun hanya sebatas kamera pocket, yang ukurannya bisa masuk ke saku baju tanpa ketahuan orang lain, tapi alasan utama saya membelinya adalah bisa mengabadikan foto/gambar orang-orang yang saya cintai untuk saya simpan dan kenang satu saat nanti. Ini dilatarbelakangi oleh rasa menyesal karena tak sempat memiliki kenangan bersama saudara terdekat yang ternyata lebih dahulu meninggalkan saya.

Terakhir saya jumpa BeLiau, sekitar awal Desember tahun lalu. Waktu itu perubahan pada fisiknya sudah tampak dengan jelas. Perubahan akibat Diabetes yang dideritanya dan diketahuinya sekitar 2 tahun belakangan ini. Badannya jauh lebih kurus dan layu. Sampai-sampai saya mengingatkannya untuk berpuasa (mengurangi) mengkonsumsi nasi dan makanan lain seperti halnya dilakukan oleh Bapak saya dahulu.

BeLiau tetap memaksakan dirinya untuk masuk kantor dan bekerja seperti biasa, tak mendengarkan nasehat Istrinya yang melarangnya berangkat sendirian. Dari daerah Cengkok – Ulun Uma Abiansemal ke pusat kota Denpasar. Bahkan saya bersama tiga rekan lain, sempat berhenti sebentar didepan rumahnya saat kami melakukan pengukuran dan survey kondisi ruas jalan tersebut untuk usulan tahun 2009 ini.

Tak ada yang mengira.

Awal tahun, kami mendengar kabar bahwa PakYan Subrata dirawat di RS Tabanan, karena diagnosa awal sakit pinggang. Yang ternyata merupakan rembetan dari Diabetes yang BeLiau derita ke arah kolesterol dan Kanker Hati. Kamipun membesuknya secara bergantian. Tak ketinggalan, saya dan ALit (yang kini menjadi Istri saya dan memberikan putri kecil yang cantik seperti Ibunya) ikut menengok pada Jumat sore 9 Januari, sepulang kantor. Membawa serta putri kami agar BeLiau bisa melihat langsung hasil hitungan penjumlahan yang jadi bahan guyon kami beberapa waktu lalu. 1+1=3. Serta menitipkan semangat dan pesan agar BeLiau mau menguatkan diri semampunya.

Rupanya Tuhan berkehendak lain. Kabar duka yang saya dengar hari Senin pagi, begitu menginjakkan kaki di ruangan, cukup membuat shock dan terpekur diam. Pak Wayan Subrata telah berpulang di usia 53 tahun….

Saya langsung berinisiatif mengabarkannya pada semua rekan yang barangkali masih berada dirumah atau dijalan, juga kepada rekan-rekan yang telah dimutasi ke unit kerja lainnya. Tak lupa mengabarkannya pula kepada Istri saya.

Terhitung hari selasa kemarin, Pak Wayan Subrata telah menjalani upacara pengabenan. Sayang, akibat kurangnya koordinasi antar ruangan, kami tak bisa ikut serta melihat BeLiau untuk terakhir kalinya. Barangkali kerinduan saya pada sosok kakek yang bersahabat ini, hanya bisa saya lakukan dengan membuka dan melihatnya sejenak, foto yang saya abadikan dengan kamera digital saat menengoknya Jumat lalu. Masih tersimpan dengan baik di laptop. Dua benda yang selalu menemani kemanapun saya pergi.

SeLamat JaLan Pak Wayan SubRaTa. PeKaK KeRoK yang pernah mengisi hari-hari kami.

Salam dari PuSat KoTa DenPasar

> Ini tulisan pertama, saat PanDe Baik nge-BLoG lagi setelah sekitar dua – tiga mingguan absen. Hanya berkutat dengan tugas kuliah dan Usulan Proposal Thesis. Tapi, posting BLoG tetep bisa jalan dua – tiga hari sekali, thanks to SCHEDULE Post yang saya terapkan sejak enam bulan lalu. Jadi kelihatannya saya tetap rajin posting kan ? He… ini pula yang lantas menimbulkan kecurigaan seorang rekan sekalis atasan saya dikantor. Pak Oka Parmana….. “….katanya sibuk bikin tugas, tapi kok isi BLoG tetap bisa terupdate ? Kamuh nge-BLoG tiap hari yah ??? ” He….. <

Keputusan-NYA yang Terbaik

Category : tentang KHayaLan

– dedikasi minggu ini, untuk Memade Nik yang akhirnya berpulang tanggal 9 Juli 2007 tepatnya jam 9 malam waktu setempat.Meninggalkan suami serta 5 orang anak dan 7 orang cucu, serta keluarga besar Pande Tainsiat.

Tak banyak kata yang bias terungkap, hanya mata yang sayu dan berair tertunduk lesu karena kehilangan sosok yang keibuan.
Kamipun berkabung…

Upacara pengabenan akan dilangsungkan pada hari minggu besok, tanggal 15 Juli 2007, langsung berlanjut hingga pagi untuk Ngelanus.

Ah, Memade…
Semua berlalu begitu cepat hingga Memade menyusul saudara yang lain kembali pada Yang Esa….