Indonesiaku… Ada Apa Denganmu ?

8

Category : tentang Opini

Layar televisi di negeri ini selama hampir sepekan terakhir dipenuhi dengan tayangan-tayangan ekslusif yang mengungkapkan kebobrokan para aparat hukum yang begitu mudahnya diatur oleh cukong-cukong bengal. Benar-benar membuat miris hati kecil sebagian besar rakyat Indonesia.

Sebenarnya program acara hiburan bisa jadi salah satu pengobat penat disela krisis kepercayaan masyarakay kepada Pemerintahnya saat ini. Sayangnya para pencipta Sinetron masih asyik dengan ketololan mereka menyusun plot cerita yang membosankan dan berulang-ulang naik turun gak jelas arahnya, hingga saya pribadi lebih memilih mematikan layar televisi ketimbang diracuni oleh pembodohan terencana dan penurunan daya pikir saya akan klepemilikan akal sehat.

Menelusuri beberapa portal penyedia berita di ranah dunia maya, hal yang sama tetap saya temui, kendati masih ada beberapa cerita lalu yang tercecer dan seakan terlupakan berkat kesaktian dan kehebatan Kakek Anggodo dalam berargumen dan menyusun kronologis kisah cintanya dengan pihak Kepolisian dan Kejaksaan dalam usaha membunuh lembaga superbodi KPK…

Melihat aksi ndagelan ini saya jadi ingat dengan beberapa karya besar sinema di luar sana. Beberapa kemungkinan Konspirasi yang terungkap dalam peristiwa pembunuhan Presiden John F Kennedy yang dibintangi Kevin Costner. Semua mampu dimentahkan dan akhirnya diputuskan, kasus akan dibuka kembali pada tahun 2015 nanti.

Kesaktian Anggodo juga mengingatkan saya pada karya besar trilogy Godfather. Mafioso yang mampu mengatur mereka yang berkepentingan. ‘I’m gonna make him an offer he can’t refuse’

InDonesiaku

Bedanya, sang Godfather selalu berusaha menjalankan bisnisnya secara legal…

Kembali pada negeri ini, kita atau katakanlah media secara perlahan seperti melupakan sebagian besar permasalahan yang pernah menghias headline news mereka. Penantian akan perwujudan Program 100 hari Pemerintahan SBY-Boediono atau kinerja Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, karut marutnya penanganan bencana gempa Sumatera Barat, musnahnya hampir satu lingkup Sidoarjo lantaran lumpur Lapindo atau bahkan barangkali Tetangga kita Malaysia, bakalan lebih aktif secara diam-diam mengklaim lebih banyak budaya yang kita miliki sebagai warisan leluhur terdahulu, sementara kita disini disibukkan oleh urusan Korupsi yang seakan tidak pernah terselesaikan.

Negeri ini masih sibuk dengan dirinya sendiri. Entah kemana larinya semua julukan yang pernah kita sandang. Macan Asia, Negeri yang ramah, gemah ripah loh jinawi…

Rupanya kita masih gemar untuk bermimpi…

Sensasi FaceBookers Evan Brimob

13

Category : tentang Opini

Evan Brimob merupakan salah seorang dari 12 juta FaceBookers negeri ini yang melek dengan teknologi. Tak hanya situs pertemanan ini saja yang ia miliki, namun juga situs yang sebelumnya booming namun mulai ditinggalkan, Friendster.

Tak ada yang istimewa dari profil yang tertera dalam Info yang bersangkutan. Seorang jejaka kelahiran 1986 dan berzodiak sama dengan saya, Aries. Satu zodiak yang biasanya memiliki gejolak emosi yang tinggi, saya akui itu. Memiliki teman hingga mencapai angka 800an orang, salut saya katakan, lantaran tidak banyak aparat penegak hukum yang mampu bergaul dan bergelut di dunia maya.

Evan Info

Evan Brimob mulai beken setelah salah satu update statusnya mengatakan “polri gak butuh masyarakat… tapi masyarakat yg butuh polri…. maju terus kepolisian indonesia, telan hidup2 cicak kecil…..”

Ya, inilah imbas dari kemelut yang terjadi selama sepekan terakhir. Perseteruan ‘Cicak melawan Buaya’ yang kendati istilah tersebut telah dipinta untuk tidak digunakan lagi, namun publik tetap saja mengingat sebagai tanda arogansi seorang oknum penegak hukum di negeri ini.

Respon yang diberikan atas update status Evan Brimob ini tentu saja beragam. Dari yang Pro terhadap Cicak, tentu saja mengecam pernyataan sang empunya status. Sebaliknya dari pihak yang Pro terhadap Buaya, ya mengamini-nya…

Perseteruan ini mengingatkan saya pada saat negara Tetangga kita, Malaysia mengklaim beberapa warisan budaya yang kita miliki. Di salah satu Forum terdapat beberapa Thread khusus yang difungsikan kedua pihak (remaja Indonesia dengan remaja Malaysia) untuk saling mengejek dan mencaci satu sama lain.

Saya sendiri hanya senyum-senyum saja dibuatnya. Buang-buang energi untuk meladeni orang-orang kaya’gini tentu saja.

Untuk situs pertemanan FaceBook, jika kita tidak menyukai status yang diungkap oleh seorang ‘teman’ ya tinggal di ‘Hide’ saja orang tersebut dari daftar Beranda/Home, update status terakhir. Jika yang bersangkutan membuat pernyataan yang bodoh menurut akal sehat yang kita miliki, kita bisa melakukan tindakan Black List atau bahkan menganggapnya sebagai Spam. Tindakan paling mudah adalah memecat yang bersangkutan dari daftar Pertemanan yang kita miliki.

Sebagai seorang FaceBookers, sah-sah saja Evan mengutarakan pendapatnya seperti itu, yang barangkali sudah mendapatkan pembelokan pola pikir saat pendidikan ataupun obral obrol sejawatnya saat ini. Tapi tetap saja membuat kita mengelus dada…

Sumber dan Perkembangan Terakhir

Evan Profile

Info tentang update status Evan Brimob ini saya dapatkan dari seorang rekan sesama FaceBookers, Agustinus Tri Laksono yang memberikan link menuju Thread Kaskus. Selanjutnya informasi yang bersangkutan (Evan Brimob) saya dapatkan dari link yang tertera pada Thread, menuju akun seorang FaceBookers Maquis Spanish’s. Kebetulan maquis sempat menyadap isi akun si oknum Brimob, dari foto profil, respon status hingga status infonya.

Kabar terakhir, akun Evan Brimob telah di-nonaktifkan dari situs pertemanan FaceBook. Kehilangan ini direspon oleh para ‘pendukung” Evan dengan membuat satu group “Evan Brimob di Benci Rakyat Indonesia” yang hingga pk. 8.10 Wita tadi sudah memiliki keanggotaan 187 FaceBookers. Dari group pula, terdapat link menuju sebuah media online koran radar, yang menaikkan headline ‘akibat FB, Evan Brimob mencari Sensasi’.

…ada apa dengan Negeriku ?

1

Category : tentang KeseHaRian

…belum habis kejengkelanku akibat perseteruan negeri ini dengan tetangga sebelah yang mengklaim berbagai budaya milik kami sebagai warisan budaya mereka…
…belum habis kedongkolanku dengan pertarungan buaya yang ingin memangsa cicak rasanya penuh dengan dendam pribadi…
…belum habis kekagetanku akibat gempa yang menggoncang tanah kelahiranku beberapa waktu lalu…

…bencana itu kembali memporakporandakan negeriku…

…Sumatera Barat luluh lantak…
…menghancurkan mimpi-mimpi kami…

…dan kami hanya bisa diam…terpekur… ada apa dengan negeriku ?

PanDe Baik menyayangkan aksi Buaya pongah menginjak cicak

1

Category : tentang Opini, tentang PeKerJaan

Satu bulan terakhir media cetak maupun televisi tak ketinggalan dunia maya dipenuhi cerita heroik perlawanan cicak melawan buaya, satu perumpamaan yang dicetuskan oleh seorang petinggi negeri ini ketika merasa posisinya tersudutkan (atas dasar  tindakan penyadapan telepon si buaya) oleh anak didiknya sendiri dalam hal ini adalah si cicak.  Saya pribadi memang tidak terlalu mengikuti alur cerita yang dilakoni hingga lembaga dimana si petinggi yang mengatakan diri mereka adalah buaya telah menetapkan orang-orang yang berada di pihak cicak sebagai tersangka atas tindakannya yang menyalahi wewenang. Hmm… saya kok sepertinya mencium satu ketidakberesan dari keputusan itu…

Sebagai seorang oknum Pegawai Negeri Sipil yang kerap dicurigai oleh masyarakat sekitar, jangankan melongok pada lembaga sekelas dan sebesar itu… di kelas saya sebagai staf saja perseteruan dan konflik seperti diatas kerap terjadi kok. Yah, tulisan saya kali ini cukup sebagai perumpamaan sajalah.

Dalam skala besar, cicak dan buaya adalah dua pihak yang memiliki kewenangan berbeda berupaya saling mengontrol namun satu tujuan berada dalam satu payung negara. Dalam skala kecil bisa saya gambarkan bahwa ada dua peran yang berbeda pula dalam melakukan pemeriksaan hasil kemajuan pekerjaan fisik pada satu payung dinas atau instansi, berdasarkan kebijakan terakhir. Satunya bernama Tim Penilai atau Pengendali, satunya lagi Direksi teknis selaku pengawas Kegiatan secara langsung.

Konflik antara dua peran tersebut seharusnya tidak terjadi berhubung masih berada dalam satu payung kedinasan dan memiliki tujuan yang sama yaitu menghasilkan pekerjaan fisik yang berkualitas. Sayangnya tidak semua oknum yang terlibat didalamnya memiliki visi dan misi yang sama untuk mewujudkan tujuan yang saya katakan tadi.

Katakanlah jika oknum tersebut berada di pihak Tim Penilai atau Pengendali, merasa dirinya memiliki wewenang dalam mengambil keputusan apakah kemajuan satu pekerjaan fisik bisa diterima atau tidak untuk ditindaklanjuti ketahap pembayaran, si oknum lantas memanfaatkan atau menyalahgunakan wewenang yang ia miliki untuk meminta sejumlah materi kepada Rekanan jika tidak ingin dihambat.

Berangkat dari tudingan diatas yang kerap diarahkan pada seluruh anggota Tim Penilai atau Pengendali, saya sebagai salah satunya merasa tidak keberatan apabila telepon yang kami gunakan disadap oleh lembaga lain (dan baru belakangan diketahui) untuk membuktikan apakah tudingan tersebut benar atau tidak. Mengapa ? Jika saya merasa bahwa saya memang tidak pernah melakukan satu hal yang menyimpang dari wewenang, mengapa harus takut dan marah ? Justru momen seperti ini akan saya gunakan untuk membuktikan apakah saya merupakan salah satu oknum yang menyalahgunakan wewenang yang diberikan atau tidak.

Sayangnya ya lagi-lagi gak semua oknum memiliki pemikiran yang sama, ada juga yang marah-marah dan balik menuding yang bukan-bukan kearah pihak lain hanya untuk sekedar mengatakan kepada publik ‘saya ini bersih loh…

Tinggallah kini publik yang kebingungan… bagaimana mungkin negeri ini akan terbebas dari korupsi jika para petingginya (yang berwenang untuk itu) masih saling menjatuhkan satu sama lain dan melepas ‘tersangka’ yang sebenarnya…

Kemanakah kalian wahai Wakil Rakyat ?

1

Category : tentang Opini

Tergelitik menonton tayangan layar televisi yang menampilkan seremonial pelantikan para anggota dewan kita yang terhormat, sangat jauh dari apa yang negeri ini miliki. Pada saat pengambilan sumpah tersebut jelas-jelas mereka diharapkan tetap berpegang teguh pada undang-undang yang berlaku dan tetap menyuarakan aspirasi rakyat yang  mereka wakili namun kenyataannya tak seindah impian…

Belum lagi lima tahun berlalu, belum lagi usai masa jabatan mereka, hari ini sudah bisa kita lihat bagaimana perilaku sesungguhnya. Saat bencana menerpa Situ Gintung begitu banyak para wakil rakyat melalui parpol mereka dengan sigap mendirikan tenda bantuan, berkoar menyampaikan sumbangan dan lain sebagainya… Kini ketika gempa melanda negeri ini kembali atau banjir diberbagai daerah, tak satupun dari mereka yang mau menampakkan hidungnya. Apa sebab ? karena kini mereka sudah ‘jadi’ tidak lagi berstatus dicalonkan lagi…

DPR

Sungguh kasihan nasibmu kawan… Jika dahulu tragedi Situ Gintung orang berlomba menengok, menjalankan misi kemanusiaan dan berlomba menjadi yang pertama, kini ketika tragedi kembali hadir tak seorangpun mau membantu…

Saya jadi teringat pada masa lalu, masa dimana salah seorang warga kami begitu berambisi untuk menjadi seorang anggota dewan. Dari baju kaos, stiker hingga spanduk bertuliskan inisial namanya disebarluaskan begitu mencolok. Ketika dilingkungan kami mengadakan satu acara yang melibatkan warga secara masal, si rekan dengan pongahnya berkoar mengatakan jika ia telah menyumbangkan sekian ratus nasi bungkus agar warga tak kelaparan saat acara berlangsung hingga selesai. Kata-kata itu terus terdengar ditelinga kami hingga acara selesai. Haruskan sedemikian seriusnya ?

Tingkah laku sebaliknya si rekan lakukan ketika ia tak masuk dalam daftar jadi ‘bakal calon salah satu parpol. Ia tak lagi loyal, ia tak lagi berkoar, bahkan cenderung mengibarkan bendera putih pertanda golput untuk mengungkapkan rasa kekecewaannya. Hilang sudah segala image yang ia ciptakan jauh sebelumnya…

Andaikan saja masyarakat kita beneran pintar, tidak hanya senang dan tertawa-tawa ketika dianggap sudah pintar oleh para politisi dan petinggi, mungkin ini semua bisa menjadi pembelajaran untuk lima tahun yang akan datang, haruskan kita memilih mereka lagi ? atau karena sudah tidak ada pilihan lain lagi ?

Katanya ProFesionaL ?

1

Category : tentang Opini, tentang PeKerJaan

Seorang rekan kantor yang sejak dulu saya curigai memiliki kelainan pada otaknya kerap mengatakan pada kami, “Semestinya kita ini bekerja dan diperlakukan secara Profesional…” Begitu terus sedari pertama saya menginjakkan kaki di kantor ini. Ya, bisa dikatakan sudah hampir lima tahun saya mengabdi sebagai pegawai negeri yang artinya selama lima tahun pula pikiran saya dicekoki oleh kata-kata mutiara yang gak jelas alasan dan penerapannya itu.

Mau tahu kenapa rekan saya selalu berusaha menekankan kata ‘Profesional’ dalam setiap usahanya ? karena ia menuntut bahwa setiap pekerjaan yang ia lakukan dihargai dengan lembaran kertas merah, entah oleh sesama rekan, atasan hingga rekanan.

Padahal kami ini pegawai negeri loh. Yang notabene sudah mendapatkan gaji setiap bulannya plus insentif sebagai sumber dana tambahan agar kami bekerja lebih giat, diluar dana-dana lain yang tak resmi macam amplop misalnya. Ups… Kelepasan. Sori, yang amplop tadi mbok ya jangan dipercaya gituh…

Eh, kira-kira apa maksudnya sih kata ‘Profesional’ itu sebenarnya ? apa si rekan sudah mengetahuinya sebelum ia mengatakannya setiap kali diberikan atau dilimpahkan pekerjaan ?

Iseng saya nyari arti kata ‘Profesional’ pada mbah Google, ada dua yang paling menarik saya dapatkan. Berikut intinya :

Untuk kategori tenaga PNS, ‘Profesional’ itu bisa diartikan sebagai tenaga yang memiliki technical dan manager skill yang mampu mendukung kinerja dan etos kerja PNS sebagai abdi negara dan masysarakat. PNS itu dituntut dapat melaksanakan pembangunan dan pelayanan terhadap masyarakat dengan sebaik mungkin.

Adapun ciri-ciri PNS yang ‘Profesional’ adalah PNS yang mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawab, serta memiliki pengetahuan dan keterampilan manejerial dasar sesuai dengan kedudukannya.

Kedua adalah resume dari sebuah buku yang kebetulan memiliki arti mirip dengan kerja ‘Profesional’ yaitu 8 Etos kerja unggulan :
1. Kerja adalah Rahmat; bekerja tulus penuh syukur
2. Kerja adalah Amanah; bekerja benar penuh tanggung jawab
3. Kerja adalah Panggilan; bekerja tuntas penuh integritas
4. Kerja adalah Aktualisasi; bekerja keras penuh semangat
5. Kerja adalah Ibadah; bekerja serius penuh kecintaan
6. Kerja adalah Seni; bekerja cerdas penuh kreativitas
7. Kerja adalah Kehormatan; bekerja unggul penuh ketekunan
8. Kerja adalah Pelayanan; bekerja paripurna penuh kerendahan hati

Nah, bercermin dari kedua hasil diatas, dalam hati kecil saya pribadi, hingga kinipun saya masih bertanya-tanya, apakah rekan saya tadi itu sudah melaksanakan ‘Profesionalisme’nya sebagai PNS minimal dengan memberlakukan 8 Etos kerja tadi ? Trus apakah pantas kalo rekan saya itu menuntut agar lingkungan menghargainya secara ‘Profesional’ sedangkan ia sendiri belum mampu memberikan ‘Profesionalisme’nya secara baik dan utuh ?

Apalagi kalo saya membaca tambahan pada awal resume buku tersebut perihal Etos Kerja Bangsa kita saat ini :
1. Suka mengeluh, banyak menuntut, egois
2. Bekerja seenaknya, kepedulian kurang, gemar mencari kambing hitam
3. Kerja serba tanggung, suka menunda-nunda, manipulatif
4. Malas, disiplin buruk, dan stamina kerja rendah
5. Pengabdian minim, sense of belonging tipis, gairah kerja kurang
6. Terjebak rutinitas, menolak perubahan, kurang inisiatif, kurang kreatif
7. Mutu pekerjaan rendah, bekerja asal-asalan, cepat merasa puas
8. Jiwa melayani rendah, merasa diri sudah hebat, arogan dan sok

Jujur saja, secara pribadi saya tak menutup mata bahwa bisa jadi saya adalah salah satu oknum yang masih menjunjung tinggi etos kerja suka mengeluh dengan mutu pekerjaan yang rendah, mustinya ditambah satu point lagi, yaitu ‘lebih suka mojok untuk nge-BLoG saat jam kerja…’. Nah kalo beneran ditambahkan, maka inilah saya yang sebenarnya. Huahahaha…..

Balik ke rekan saya tadi, hingga kinipun saya masih merasa geli sendiri tiap kali ia menekankan kata ‘Profesional’ dan berusaha menuntut imbalan dalam setiap pekerjaan yang dilimpahkan padanya dengan cara apapun.

Sebenarnya sih bisa saja begitu, tapi dengan syarat ya duit gaji bulanan dan insentifnya ya dikembalikan pada negara. Jadi ia dibayar sesuai dengan kualitas pekerjaan yang dihasilkan. Mau Mau Mau ?

Pemikiran ini sempat saya lontarkan pada rekan saya tersebut. Hasilnya ? ia memilih ngeloyor pergi dan memusuhi saya hingga kini. Wuahahahaha….

> selama ini PanDe Baik memang selalu berusaha untuk melawan arus sedikit demi sedikit, agar yang namanya idealisme itu tetap terjaga. Walaupun ada kalanya kita musti ikut arus agar tak hancur dihantam gelombang maha besar… contohnya ya menghabiskan jam kerja dikantor cuman untuk nge-BLoG. Huahahaha…. Dibanding saya kabur pulang ato nyari kamar short time serta membuat rekaman video 3gp ? <

Mau Mau Mau ?

pssstt… mau AmPLop gak ?

4

Category : tentang PeKerJaan

Pertengahan November 2008 lalu, saya sempat ditanya oleh salah seorang Rekanan yang sudah biasa mengambil kegiatan fisik dan terjun langsung di birokrasi pemerintahan untuk mengurus segala sesuatunya.

Dia menanyakan seberapa jauh idealisme saya selaku bagian dari sebuah Tim Pemeriksa (sekumpulan tenaga teknis dan administrasi yang dilimpahkan wewenang oleh satu instansi untuk memeriksa kemajuan, kelengkapan dan persyaratan lainnya sebagai dasar pengajuan Thermyn dalam setiap kegiatan secara intern).

Saya sih nyengir kuda aja saat ditanya begitu. ‘Emang kenapa sih ?’ saya balik bertanya…

Dia mencoba mengingatkan saya pada kejadian akhir tahun 2007 lalu dimana saya bersama dua rekan waktu itu diminta oleh pimpinan menjadi bagian dari Tim Pemeriksa Intern pada instansi kami. Ya hanya kami bertiga. Nah, saat saya turun sendirian mewakili unit kerja bersama wakil dari unit-unit lain, saya sempat tidak menyetujui satu pekerjaan di Kecamatan Kuta Utara, padahal Rekanan yang mengerjakan sudah diuber waktu untuk pencairan Thermyn. Jika tidak diajukan ya hangus, kira-kira begitu.

Akhirnya pada saat kami makan siang, salah seorang anggota dari Rekanan tersebut berusaha memberikan amplop sebagai tanda ‘DeaL’ agar saya mau menandatangani Berita Acara Pemeriksaan kegiatan tersebut. Dengan halus saya katakan, ‘maaf, mungkin sebaiknya pekerjaan itu diselesaikan lebih dulu sebagaimana mestinya.’ Ya, saya menolaknya waktu itu. Kenapa ?

Prinsip saya, ketika saya diberikan kepercayaan penuh oleh pimpinan untuk memeriksa kegiatan secara mendetail terutama bidang fisik yang barangkali seringkali luput dari pengamatan langsung pimpinan, maka saya harus melaksanakannya dengan penuh dedikasi. Sehingga saat saya ditanyakan perihal satu dua kegiatan yang saya periksa, Pimpinan mendapatkan gambaran lebih jelas dan tentunya akurat serta dapat dipertanggungjawabkan saat diminta melakukan inspeksi secara bersama-sama ke lapangan.

Bukan apa-apa. Bagi saya kepercayaan Pimpinan adalah yang paling utama dari segala hal. Minimal saya takkan khawatir dengan image dan kredibilitas saya dimata pimpinan juga rekan kerja, sehingga harapan saya tentunya siapapun rekan kerja saya nanti, takkan canggung dalam meminta tolong, memerintahkan atau malah berdiskusi tentang satu dan lain hal.

Memang saya akui, menjadi idealis dalam hal ini tentu saja banyak hal yang tak menyenangkan. Pertama dijauhi oleh rekan kerja yang memiliki ‘kepentingan’ pada kegiatan tersebut dan menyebut saya sebagai manusia yang MuNaFik…
Kedua tentu saja saya menjadi bahan pembicaraan oleh Rekanan yang tak menyukai idealisme saya tersebut, sambil menambah-nambahi cerita tentang saya yang memaksa meminta sejumlah uang, baru mau menandatangani Berita Acara tersebut. Yah, terserahlah apa maunya mereka. Toh rekan kerja sekaligus Pimpinan juga Rekanan lain yang lebih pantas menilainya.

Terlepas dari IdeaLisme tadi, saya juga dicandai ‘apa gak sayang tuh amplopnya ditolak ?’

Saya malahan balik nembak dia, ‘trus kalo seumpama amplop saya ambil tapi kegiatan tetep tak mau saya tandatangani, apa Rekanan mau diperlakukan begitu ?’

Yah, memang selama ini saya selalu berusaha untuk tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Apalagi kalo itu sudah berurusan dengan uang dan pekerjaan. Cukuplah keanehan saya terungkap dalam bentuk BLoG ini, yang kata seorang rekan kerja ‘BLoGGer itu hanyalah orang yang kurang kerjaan aja.’ Hihihi…. Kini rekan saya itu sudah menduduki kursi jabatan EseLon, tapi pendapatnya tentang keanehan saya rupanya masih tetap sama. ‘Maaf Pak Oka Parmana, saya kutip kata-katanya kembali kali ini.’

Terkait AmPLop yang disodorkan tadi, seumpama saja saya menerima dan mengubah pendirian saya akan ketidaksetujuan tadi, maka pelan tapi pasti, runtuhlah semua kepercayaan yang selama ini diberikan pada saya. Itu semua saya yakini akan sangat sulit mengembalikannya…

Siapa sih yang tak tertarik jika seandainya dalam amplop ada lima sampe sepuluhan lembar uang merah. Barangkali kalo dikumpulkan hingga lima enam kali, cukup untuk membeli sebuah gadget dambaan saya selama ini. Tapi apa mau menggadaikan kepercayaan yang telah saya kumpulkan sedari awal bekerja ?

Come on. Jika kita jeli melihat jauh kesekeliling, sangat jarang saya lihat sebuah keluarga yang dipimpin oleh seorang Ayah, terus menerus mendapatkan uang ini itu yang tak semestinya ia terima, atau berusaha memaksakan keinginannya untuk tumpukan AmPLoP, memiliki anak istri yang tetap berada pada jalurnya. Dalam arti, kalo tidak tersandung dengan Narkoba, minimal ada hasrat perselingkuhan yang kelak akan menghabiskan harta kekayaannya dalam waktu singkat.

Barangkali Tuhan juga berkehendak lain, bukan hanya dituntut mengembalikan sejumlah uang yang tak seharusnya diterima, tapi malah jauh lebih banyak. Ancaman KPK dan penjara ? Kesehatanpun akhirnya jadi taruhan. Nah, apa mau dihadapkan dengan keadaan begitu ?

Bertindak jujur, sebagaimana mestinya dan tetap baik pada siapapun, jauh lebih berarti dari semua gemerlap mobil terbaru atau bahkan segala sesuatu yang wah….

Semoga saja apa yang saya rintis dan yakini, dapat selalu saya lakukan hingga esok hari…..

> Pikiran ini terlintas dalam pikiran PanDe Baik, setelah salah seorang rekan bertanya, sejauh apa kemajuan saya setelah empat tahun mengabdi pada negara ? Tentu ditinjau dari segi materi. Tidak ada tentu saja. Mobil Kijang, masih milik orang tua. Motor Tiger yang saya miliki sudah mencapai usia 11 tahun. Laptop ? saya beli dari uang pinjaman bank untuk biaya kuliah pasca, tak sampai seperempatnya saya ambil, sisanya ya dipas-paskan untuk biaya kuliah…

‘Kamu itu Aneh, kata rekan saya itu. ‘Beberapa temanmu malah sudah bisa memiliki motor baru bahkan mobil. Kenapa gak ikutan ?’

Hmmm…. Kali ini saya hanya bisa terdiam dan termenung…. <

Ah, Sudahlah !