Anak Hukum itu pintar ya ?

10

Category : tentang KHayaLan

‘Mas, 1+1 jadinya brapa ?’ ‘tergantung pada siapa situ nanya…’ sahut seorang mantan mahasiswa fakultas Hukum yang lulus dengan predikat cumlaude.

‘loh maksudnya bagemana Mas ?’

‘Kalo situ nanya ke ahli matematika ya jawabannya pasti dua (2). Kalo nanya ke ahli ekonomi, jawabannya ya tergantung suku bunga bank terakhir. Minimal harus lebih besar dari dua (2). Malah kalo nanya ke sepasang suami istri, jawabannya bisa tiga (3), empat (4) bahkan lebih, tergantung kesiapan mereka berdua. :p’

‘Kok bisa gitu Mas ?‘ ‘Ya iyalah masa Ya iyadong ? segala sesuatu yang terjadi atau yang dipertanyakan itu gak bisa disamakan pola jalan pemikirannya dengan matematika, dimana 1+1=2. Perlu ditelusuri terlebih dahulu siapa, bagaimana dan latar belakang pendidikan orang yang bersangkutan.’

‘Kok saya makin gak ngerti ya Mas ?’ ‘Gini loh, satu masalah sederhana bisa saja berubah menjadi rumit ketika masalah tersebut disodorkan pada banyak orang. Malah yang sebenarnya gampang ditebak, malah bisa dibelokkan kesana sini atas dasar alasan tertentu, tergantung pintarnya si pelaku. Tergantung pada bidang yang sering mereka geluti dan pahami.’

‘Trus saya musti nanya kemana Mas tentang 1+1 jadinya brapa ?’ ‘lha ? situ sendiri emangnya ndak bisa ?’ si mantan mahasiwa balik bertanya.

‘Ndak Mas, saya orang yang gak pernah belajar.’ ‘Ndak pernah belajar apa ndak mau belajar ? beda loh…’ timpal si mantan mahasiswa lagi.

‘Tepatnya ndak pernah mau blajar. Hehehe…’ ‘Trus maksudnya nanya 1+1 jadinya brapa itu bagemana ?’ tanyanya lagi.

‘Gini loh… waaaah saya jadi ikut-ikutan kata-kata Mas tadi. Hehehe… Anak saya yang baru sekolah TK tadi pagi nanya, Pak 1+1 itu jadinya brapa ? Lantaran saya ndak tau ya nanya ke Mas aja. Kan katanya Mas itu lulusan terbaik ?’

‘ealah… ta’pikir tadi itu situ mau nguji saya… ampuuunnn Tuhan….’

‘Ternyata lulusan ilmu Hukum itu pintar-pintar ya Mas ? hehehe…’

Apa sih tugasnya Pengacaranya itu ?

12

Category : tentang Opini

Tergelitik setiap kali mendengar pendapat seorang perwakilan tim kuasa hukum dari seorang pejabat yang ditenggarai sebagai tersangka kasus korupsi hingga terakhir pembunuhan aktivis Munir. Si kuasa hukum dengan ringannya membantah semua tuduhan dengan mengatakan bahwa kliennya itu ndak terlibat lah, ndak kenal lah, gaptek lah, atau malah gak menjaga privacynya sendiri. Padahal si oknum yang dicurigai itu salah seorang pejabat disebuah badan penting dalam pemerintahan lho.

Apalagi yang lucu, ada pula yang membantah tidak tau kalo suara yang terekam dalam sadapan telepon adalah suaranya sendiri, sampe-sampe pak Hakimnya merasa kecewa dan amat sangat menyayangkan kalo negeri ini memiliki mental pejabat yang dengan suara sendirinya saja tidak tau.

Pengacaranya pun begitu. Kukuh bahwa si klien tak bersalah, bahkan sangat bersih untuk kasus yang ditimpakan padanya. Apa sih tugas seorang pengacara itu ? membela klien sih iya. Tapi kalo si klien emang bener bersalah, bukannya ini yang harus diluruskan ? mungkin memperingan hukuman yang bakalan dikenakan, dengan sejauh mana si pengacara bisa mengungkapkan kebenaran dan pembelaan pada diri seorang kliennya. Barangkali saja si klien melakukan hal tersebut atas keterpaksaan atau motivasi tertentu.

Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Seorang pengacara cenderung mengatakan kliennya tak bersalah, padahal sekian banyak bukti sudah diungkap kebenarannya. Tak jarang si klienpun menyuap beberapa pihak sehingga kasusnya dipeti eskan atau malah ia dibebaskan. Makanya gak nalahin kalo pak Made Suwindha nyaranin, jangan sampe berurusan dengan pengadilan deh…. 🙂