Blue Eyes Café Menghujat Hindu ?

9

Category : tentang Opini

Tampaknya cara-cara lama untuk memprovokasi Umat Hindu lewat status pada Jejaring Sosial FaceBook belum jua bisa hilang. Cerita kali ini datangnya dari halaman Blue Eyes Café, sebuah tempat nongkrong yang beken di kalangan remaja dan kalangan ‘berpunya’ yang berlokasi di By Pass Ngurah Rai Sanur Bali.

FUCK HINDU

Kurang lebih begitu status yang dilontarkan sang Admin halaman Blue Eyes Café pagi tadi. Status ini secara kebetulan tertangkap basah oleh seorang pengguna akun FaceBook lainnya dan berinisiatif untuk menyimpan tampilan halaman sebagai bukti otentik, untuk selanjutnya dikonfirmasi balik. Sayangnya, status tersebut dengan segera dihapus oleh si Admin halaman.

Bisa ditebak, bukti screenshot yang menampilkan halaman Beranda/Home dengan status dari Blue Eyes Café tersebut langsung beredar dimana-mana. Saya sendiri mendapatkannya dari sebuah Thread KasKus yang sepertinya merupakan sumber pertama cerita ini. Seperti bisaa, saya pribadi mencoba menulusuri kronologisnya.

Per 1 Januari 2010, tampaknya akun Page Blue Eyes Café masih terlihat aman tentram. Beberapa pengguna akun FaceBook masih sempat meninggalkan beberapa pertanyaan seputar event atau kegiatan Blue Eyes Café terakhir. Kondisi tersebut segera berubah ketika Arief Ridwan Nur meminta pertanggungjawaban Admin halaman atas kebenaran status yang dilepas pagi tadi dengan menyisipkan halaman Thread KasKus yang saya maksud diatas tadi. Dan selayaknya kasus provokasi atau penghujatan Agama Hindu lainnya, komentar dan pertanyaan dari pengguna akun FaceBook lainpun mulai banyak tampil di halaman depan.

Meski demikian, Guz Ari Adnyana tampaknya mencoba untuk memberikan klarifikasi terkait halaman Blue Eyes yang baru. Hal ini didukung pula oleh pernyataan Yantee Aja Deyh yang mengatakan bahwa halaman Blue Eyes Café merupakan halaman milik Blue Eyes saat masih dikelola oleh Manajemen Lama. Sedangkan halaman Blue Eyes yang dikelola Manajemen Baru, menggunakan nama Blue Eyes Bali.

Terlepas dari benar tidaknya perubahan halaman lantaran perubahan Manajemen Blue Eyes, apapun status yang dilepas di halaman lama, sebenarnya masih merupakan tanggung jawab dari Blue Eyes. Jikapun memang menganggap bahwa halaman itu sudah tidak berlaku lagi, seharusnya Pihak Blue Eyes dengan segera menghapus atau menutup halaman dan memberitahukan ‘anggota’nya untuk dengan segera berpindah ke halaman yang baru.

Saya menyadari bahwa sebuah halaman atau akun FaceBook sangat rentan akan percobaan pembajakan dari Hacker ataupun sekedar orang iseng seperti yang terjadi pada akun teman saya, Gede Suwartana sore kemarin. Bisa jadi lantaran user ID yang bisaanya menggunakan alamat email bisa ditemukan dengan mudah di halaman Info, dan menggunakan password  tanggal lahir atau tanggal yang spesial dan mudah ditebak, penipuan ataupun provokasi dengan dalih penjatuhan Citra, persaingan bisnis atau apapun itu bisa dilakukan dengan mudah. Namun tetap saja pihak Blue Eyes tetap harus bertanggung jawab, mengingat sifatnya yang merupakan fasilitas publik.

Mumpung belum melebar jauh, sudah sepatutnya pihak Blue Eyes Café baik dari manajemen lama maupun pihak manajemen baru Blue Eyes Bali, wajib menanggapi kasus Penghujatan terhadap Agama Hindu kali ini secara bijak dan menyelesaikannya dengan baik-baik. Mengingat keberadaan Blue Eyes Café yang notabene berada di Bali, dimana umat Hindu merupakan mayoritas penduduk asli, dan pepatah lama seharusnya masih digunakan ‘Dimana Bumi diPijak, disitu Langit diJunjung’.

Jikapun Blue Eyes Café atau Blue Eyes Bali lantas lepas tangan dan menganggap bahwa ini hanyalah sebuah percobaan provokasi dengan dalih penjatuhan citra ataupun persaingan bisnis lantas tidak berbuat apa-apa terhadap halaman lama ataupun tidak memberi tanggapan dan permintaan maaf di Media atas keteledoran mereka, mungkin sudah saatnya bagi para remaja atau kalangan ‘berpunya’ yang kerap nongkrong ditempat tersebut, bisa lebih mempertimbangkan lagi keputusan mereka untuk bermain-main disitu.