Hujan yang dinanti tak kunjung deras

Category : tentang KHayaLan

Panas menyengat yang menaungi langit Kota Denpasar selama beberapa bulan terakhir seakan sirna dalam sekejap. Disapu mendung dan sapaan guntur nun jauh disana. Meski hanya sebentar, paling tidak sudah bisa meredam makian ribuan manusia yang ada dibawahnya.

Bau tanah yang dibasahi air dari langit mulai terasa, hawa udara pun sudah mulai bisa membalur raga. Sejuk dan nyaman. Sayangnya hanya sebentar.

Butir-butir hujan tampaknya tak lagi deras. Bisa jadi sang dewa belum berkenan membaginya pada kota ini. Ataukah ada kekuatan lain yang bicara dan menghentikan semuanya ?

Hujan di Bulan Januari

5

Category : tentang KeseHaRian

Dibanding tahun lalu, cuaca Kota Denpasar kini cukup dingin dan menyegarkan. Tapi bukan lantaran hawanya sudah ketularan kota Bandung atau Kintamani, namun hujan dari gerimis hingga deras kini mulai rutin turun ke tanah seakan menjawab keluh kesah penduduknya yang tempo hari ditiban panas dan gerah berkepanjangan.

Namun yang namanya manusia, diberi ini salah, diberi itu juga salah. Maka maklumlah jika terkadang Tuhan beserta para dewanya juga sekali waktu pernah kebingungan lantaran sifat manusia yang gag pernah puas ini. Termasuk saat menjawab dengan adanya hujan pun, manusia tetap mengeluh dan berkepanjangan. Baik dari gerutu, amarah, geregetan hingga update status. *eh

Hujan deras yang mengguyur Kota Denpasar pun lalu menjadi kambing hitam akan cucian yang lama belum jua kering. Bahkan matahari yang diharapkan bisa memberikan bantuannya, seakan ikut bersembunyi dan menarik selimutnya ketimbang tampil dengan riang di langit sana. Tak hanya itu, hujanpun kemudian dituduh sebagai biang kerok kemacetan. Karena gara-gara hujan, semua manusia yang berpunya di seantero Kota Denpasar mendadak mengeluarkan kendaraan roda empat dan enamnya untuk mengakses sejumlah tempat aktifitas agar tak kuyup dan jatuh sakit. Maka bisa ditebak jika jalanan penuh dengan kendaraan mewah hingga pas-pasan, baik saat hujan mendera maupun saat hujan mereda.

Bagi para petugas kebersihan, Hujan pun merupakan salah satu kambing hitam dalam menghantarkan sampah ke tempat umum ataupun jalan raya. Bahkan hujan dan airnya yang mewabah, mampu memindahkan sampah yang berasal dari sungai ke area lain yang tak diharapkan atau diramalkan sebelumnya. Maka makin bertambah pula caci maki dan kritik membangun yang disampaikan dalam bentuk update status berbagai jejaring sosial lengkap dengan gambar ilustrasi.

Lain hal lagi, hujan pun kemudian menjadi sumber dari segala sumber untuk banjir yang menggenang di jalan raya, ataupun perumahan. Untuk kasus yang satu ini caci maki dan kritik tadipun makin jelas terucap, terlihat dan terbaca lantaran melibatkan banyak orang yang merasa menjadi senasib sepenanggungan.

Namun jika saja kita boleh menoleh kearah lain, semua hal diatas bukan lah hujan yang menjadi penyebab. Jalanan yang menjadi riuh dan macet bukannya disebabkan oleh ulah manusianya juga yang begitu pongah mengendarai mobil meski didalamnya hanya berisikan satu orang saja, sementara anggota keluarga lainnya mengendarai mobil lainnya dengan arah aktifitas berlainan pula ? ataukah boleh mengkambinghitamkan pemerintah yang tidak menggiatkan sarana angkutan umum sehingga manusianya lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi kemanapun mereka pergi ?

Begitu juga dengan sampah. Jika saja kita jeli mau membuang sampah pada tempatnya, bukan dijalanan, saluran got ataupun sungai, tentu tumpukan itu takkan sampai meluber ke tempat yang kerap kita kunjungi. Meski kalo lagi-lagi bicara tentang pemerintah, sepertinya kurang tanggap juga dalam menangani persoalan sampah yang kian hari kian menggunung. Akhirnya lantaran tak jua beres, sampahpun jadi tumpah kemana-mana.

Dan jikapun kita bicara banjir, sudahkah kita menyadari bahwa tak bagus untuk membeton semua lahan basah yang dulunya begitu indah dengan terasering dan subaknya ? namun lantaran pemerintah memberlakukan pajak tinggi meski tahu bahwa lahan tersebut tak produktif, ya apa mau dikata ? mending sekalian dibeton dan disewakan untuk sebagian membayar pajak, bukan ? ataukah pemerintah lupa bahwa tak semua lahan yang kelak akan dibeton bisa diberi ijin seenaknya hanya dengan menyelipkan sejumlah besar amplop didalam map atau rekening ? sialnya lagi, si pemohon ijinpun seakan lupa dengan resapan air yang sebenarnya penting untuk dipertimbangkan dalam desain mereka dan baru tersadar ketika mereka mengalaminya sendiri.

Hujan, Hujan… turun salah… tidak turun pun salah…

Boros Bensin di Musim Hujan

5

Category : tentang KeseHaRian

Apabila dilihat dari skenario musim di Indonesia, bahan pelajaran saat sekolah dasar dahulu, bulan-bulan berakhiran –ber bisa dikatakan merupakan awal dari musim hujan, musim yang dinanti-nanti untuk menyejukkan tanah pertiwi. Sayangnya untuk setahun terakhir skenario itu tak lagi berlaku. Entah karena efek dari pemanasan global yang kabarnya mampu mengacaukan dua musim -hujan dan kemarau- di Indonesia atau ada unsur lain yang menyebabkannya demikian.

Di Bali, tanah kelahiran saya, hujan tampaknya tak lagi mematuhi aturan atau skenario guru-guru Geografi terdahulu. mereka turun secara mendadak bahkan pada bulan-bulan yang seharusnya angin dan terik matahari menyatu. Tak jarang hujan turun saat matahari tampak benderang diatas sana.

Hujan bisa jadi merupakan anugerah bagi mereka yang membutuhkannya atau malah memanfaatkannya. Selain dapat menyejukkan suasana halaman rumah, hujan dinanti untuk ditampung dalam bak air berukuran besar pada daerah-daerah yang kesulitan air. Meski demikian, hujan bagi saya merupakan salah satu penyebab borosnya penggunaan bensin/premium sebagai bahan bakar, lantaran memaksa sebagian masyarakat menggunakan kendaraan roda empatnya sebagai sarana transportasi. Termasuk saya.

Berkendara roda empat selama satu minggu lantaran cuaca yang tak menentu, ternyata cukup menguras isi dompet dibanding berkendara dengan motor Tiger pulang pergi kantor yang hingga kini belum jua diganti. Walaupun untuk kecepatan laju kendaraan sudah diatur seefisien mungkin. 20 hingga 40 km/jam.

Yah, mungkin ini yang namanya resiko yang harus kami tanggung pasca pemindahan kantor ke areal Puspem badung yang notabene berjarak 9 hingga 10 kilometer dari tempat tinggal…

Akhirnya Hujan Mengguyur Denpasar

Category : tentang KeseHaRian

Baru juga sehari memposting kenapa Kota Denpasar jarang banget hujannya, eh Tuhan langsung ngasi jawaban dengan mengguyur deras kota Denpasar dari pagi tadi.
Melihat genangan air, menambah sejuk suasana hati yang udah adem lantaran gembira hujan turun pada saat dibutuhkan.Hanya saja kemacetan tak bisa dihindari saat hujan turun diujung selatan jalan Melati, yang hingga perempatan Kayumas Kelodpun iring-iringan kendaraan masih mepet.

Suasana macet nyatanya tak hanya terjadi lantaran hujan yang turun pagi tadi.
Tapi juga masih berlaku hingga siang menjelang diareal yang sama entah apa penyebabnya, hanya kali ini makin meluas dan memanjang saja antreannya.
Ditambah diseputaran Gajah Mada yang lumayan membuat mumet isi kepala apalagi kalo denger bunyi klakson tiada henti padahal udah tahu gak bisa kemana-mana.

Diperparah tingkah laku pengendara sepeda motor yang seenaknya ‘nganggoang keneh pedidi’ meliuk disekitaran kendaraan roda empat tak peduli dengan tegangnya sang pengemudi mobil berusaha agar tak terjadi tabrakan ato kecelakaan. Walaaaaahhh…

Hujan

Category : tentang KHayaLan

Mengguyur kota Denpasar selama umat Hindu merayakan hari raya kemenangan Dharma atas Adharma, Galungan kemarin.
Hingga jumat pagipun tanah masih basah dan cuacapun juga masih mendung.Walopun sempat was2 saat di jalan nanti karena kmana2 mengendarai sepeda motor, namun satu hal lain dari turunnya hujan tetap mampu membawa kesejukan bagi umat-Nya.

Hujan : Simbol Kebingungan

Category : tentang KHayaLan

Pagi ini, hujan kembali turun dengan derasnya.
Setelah dua hari lalu, hujan turun tanpa memakai tahap gerimis, namun langsung lebat, membuat hati bertanya-tanya, ada apa dengan alamku ?
Jika bulan-bulan ini, seharusnya menurut ramalan cuaca jaman Pak Harto, badai angin sudah berakhir, dan musim kemaraupun tiba.
Namun selama tahun terakhir, berapa kali sih, ramalan tadi bisa tepat adanya ?Kondisi alam Indonesia telah berubah seiring turunnya sang penguasa tahun 98 lalu.
Segala keserakahan dari para birokrat, mulai terlihat hasilnya hari ini.
Longsor maupun bencana alam lainnya, hingga kasusLumpur Lapindo yang hingga hari ini belum juga bisa diselesaikan.

Perubahan cuaca juga sepaham dengan perubahan kondisi kesehatan manusia.
Siapa sangka jika orang yang tadinya segar bugar, setengah jam kemudian sudah menjadi mayat, akibat serangan jantung ato terlena dengan angin duduk.
Siapa sangka jika sakit itu bisa berpindah-pindah namun secara medis tak ada masalah yang berarti. Sangkaan dokter tentu kecapekan, pegel-pegel ato malah pengaruh cuaca ?Masa sih, sakit bisa berpindah-pindah ?