Android Ponsel Android

Category : tentang TeKnoLoGi

Lima tahun lalu, saat masih setia mendampingi mentor pengadaan Pak Made Sudarsana bersama Kabag Pembangunan yang kini menjadi Kepala Dinas Cipta Karya ke event event LPSE, untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan Android dan ponsel Android. Kalo gak salah, perangkat satu ini masih tergolong rilis awal, pionir yang memulai peruntungan dengan menjual sistem operasi besutan Google.

Samsung Galaxy Spica I5700 dengan versi Androidnya, Eclair.

Dibandingkan dengan perangkat yang sedang ngeTrend saat itu, godaan Android jauh lebih menarik hati. Sehingga hanya berselang enam bulan kemudian, saya berkenalan dengan perangkat Android pertama yang dimiliki, Samsung Galaxy Ace S5830. Lewat perangkat inilah, satu persatu tulisan yang ada di halaman Android blog ini lahir dan berkembang lebih jauh.

Empat tahun kemudian, rasa cinta saya pada Android dan ponsel Android ternyata masih utuh, sementara beberapa kawan sudah mulai berpindah ke lain sistem, merasa lebih nyaman dengan iOS besutan Apple. Mengapa ? Mungkin karena fleksibilitasnya yang mudah melakukan aksi ‘copy paste’ ke perangkat lainlah yang membuat kesetiaan itu ada. Meski sempat pula mencicipi iOS yang hingga kini masih saya pegang lewat iPhone 4 cdma.

Android Ponsel

Terhitung belasan perangkat Android yang pernah dicoba dalam periode tersebut. Beberapa diantaranya bahkan masih aktif digunakan hingga hari ini.
– Samsung Galaxy Ace S5830 – dijual kembali
– HTC Flyer milik LPSE – dikembalikan
– HTC One V kenang-kenangan dari HTC Road to Bali – slot sim card rusak, hanya berfungsi layaknya iPod
– Samsung Galaxy Tab 7+ – dihibahkan pada Intan
– Samsung Galaxy Note 10.1 milik LPSE – dikembalikan saat mendapat promosi ke Cipta Karya
– Samsung Galaxy Note II – digunakan Istri hingga kini
– Samsung Galaxy Note III – perangkat utama
– AccessGo 4E – dihibahkan pada ipar
– Nokia X – dihibahkan pada Ibu
– HP Voice Tab 7 – digunakan MiRah
– Samsung Galaxy Note Neo – uji coba aplikasi Pantau
Belum termasuk yang pernah singgah seperti Axioo Pico Pad, Samsung Galaxy Tab 7, Samsung Galaxy Tab 10, Samsung Galaxy Tab 8.9, HTC Sensation XE, Sony XPeria P, Samsung Galaxy Prime, Asus Fonepad 6, Samsung Nexus S, Acer Iconia,  Samsung Galaxy Y, Samsung Galaxy S 5.0 wifi, Samsung Galaxy Tab 7 #2, Samsung Galaxy Pocket, Samsung Galaxy Note, Vandroid T2, Samsung Galaxy Tab 7.7, Cross A20 hingga beberapa Emulator yang diinstalasi pada perangkat PC.

Dari kesemua perangkat yang pernah dijajal tadi, tentu ada satu hal yang kemudian menjadi kesimpulan saat ini. Bahwa apapun perangkatnya, apapun merek dan serinya, Android yang diusung tetap sama. Yang membedakan hanyalah spek hardware yang digunakan dan versi OS dan segala kelebihannya.

Ini mengingatkan saya pada perangkat PocketPC yang satu dasa warsa lalu telah saya kenali lewat beberapa perangkat. Dari T-Mobile, O2, Audiovox dan lainnya. Jadi sebetulnya gak ada kekhawatiran lagi ketika diminta untuk mengeksplorasi sebuah perangkat Android yang berasal dari berbagai vendor tadi.

Akan tetapi makin kesini, ada beberapa standar baku yang kemudian saya tetapkan sebagai syarat minimal dalam pembelian ataupun pemilihan ponsel Android untuk kepuasan bagi si pengguna ponsel kedepannya.

Pertama, besaran Memory RAM Minimal 1 GB. Memang berapapun RAM yang dibekali pada setiap ponsel Android, belum sekalipun saya merasakan memory sisa yang lega. Maksimal kisaran 500 hingga 700 MB, itupun saat ponsel berada dalam posisi standby. Akan tetapi dengan besaran Memory RAM sebesar minimal 1 GB ini, beberapa permainan ataupun aplikasi yang membutuhkan resources besar, saya kira gak akan menjadi satu masalah lagi.

Kedua, besaran memory Internal Storage minimal 16 GB. Bagi yang gemar menginstalasi aplikasi maupun permainan berukuran besar, saya yakin bakalan menemukan kendala penyimpanan saat jumlahnya mencapai belasan. Gak akan muat, sehingga diwajibkan menghapus beberapa aplikasi yang sekiranya tidak terpakai, mengingat secara umum yang saya ketahui, besaran memory Internal Storage akan dibagi dua terlebih dahulu untuk memberikan ruang bagi aplikasi dan data. Sangat lega jika internal Memory yang dimiliki berada pada besaran itu.

Jenis Layar TFT atau lebih baik lagi, Amoled dsb. Silahkan bandingkan dengan layar IPS yang biasanya digunakan pada perangkat Android murah, dari vendor lokal hingga branded macam HP. Saya yakin bagi kalian yang sudah nyaman dengan layar berjenis TFT bakalan merasa terganggu dengan penggunaan IPS, utamanya saat perangkat di lihat dari sudut pandang samping.

Dengan adanya Tiga standar minimal tersebut, saya yakin secara besaran budget yang harus disediakan, memang cukup besar. Namun sebanding dengan kepuasan penggunaan perangkat dengan umur lebih dari setahun. Seperti halnya beberapa perangkat yang hingga kini masih tangguh untuk digunakan. Samsung Tab 7+ dan angkatannya.

Pilih-Pilih Ponsel Android High-End Premium (5 juta-an ke-Atas)

Category : tentang KHayaLan

Kategori teratas dari Pilihan Ponsel Android dengan kisaran harga 5 juta keatas, saya punya pilihan level High-End alias Premium yang biasanya juga merupakan ponsel Flagship dari masing-masing brand. Best of the Best of the Best-nya.

Untuk spesifikasinya, ya gag usah ditanya lagi deh. Rata-rata sudah menggunakaan prosesor Quad bahkan Octa Core atau Delapan Inti, RAM 3 GB yang terbesar sejauh ini, Internal Memory ada pada besaran maksimal 32 GB, dan resolusi Kamera yang mumpuni. Ditambah beragam kemampuan tambahan yang menjadi jualan dan andalan bagi calon pembelinya.

Saingan semua alternatif di level High-End ini cuma satu. IPhone. Mengingat secara kisaran harga, hanya ponsel berbasis iOS ini saja yang ditawarkan di pasar Indonesia dengan kisaran harga tersebut. Jadi, pilihan boleh jadi makin lebar. Sedang Lumia series dari Nokia, boleh saja dikesampingkan dahulu mengingat masih banyak fitur didalamnya yang dibatasi untuk menunjang aktifitas sehari-hari. Entah nanti kalau versi Windows Phone-nya mencapai versi 10 yah.

Oke, apa saja pilihannya ? Yuk kita lirik…

Sony menyajikan seri Xperia Z2, yang meskipun sudah merilis penggantinya yang baru yaitu Z3, namun secara spesifikasi yang tidak meningkat terlalu jauh rasanya Z2 masih jadi Best Price untuk ponsel besutan Jepang ini. Spesifikasinya tidak jauh berbeda dengan standar diatas.

Samsung menyajikan seri Galaxy Note 3 yang diperkenalkan pada kuartal ketiga tahun 2013 lalu. Sama halnya dengan Sony, seri pembaharuan Note 4 sebetulnya sudah hadir saat ini, namun dengan harga yang nyaris menyamai sepeda motor, rasanya sih Note 3 masih pantas untuk dipilih. Apalagi secara rupa dan spesifikasi tidak terlalu jauh signifikan perbedaannya.

HTC menyajikan seri One M8 yang diperkenalkan setahun lalu dengan spesifikasi standar diatas dengan sedikit pertimbangan minus yaitu terkait kapasitas batere yang hanya 2600 mAh saja. Memiliki Dual Camera depan Ultra Pixel dan 5 MP kamera depan untuk menyalurkan hobi Selfie bagi para loyalis sejatinya. Satu lagi pertimbangan yang mungkin agak berat dijadikan rekomendasi yaitu soal harga yang lebih tinggi lagi dari Samsung Galaxy Note 4. Fiuuuh…

LG menyajikan seri G3 versi 4G LTE, satu-satunya pilihan dijalur frekuensi terbaru. Ada sih pilihan lainnya yang lebih unik seperti seri G Flex yang punya layar melengkung, namun secara spesifikasi tampaknya G3 4G ini memiliki pilihan yang jauh lebih baik.

Lenovo menyajikan seri Vibe Z2 Pro dengan spesifikasi serupa standar diatas namun dengan kapasitas batere setara TabletPC, 4000 mAh.

Oppo menyajikan seri Find 7 dengan spesifikasi sesuai standar diatas. Namun jangan salah dengan namanya, layar yang dijual bukanlah 7″ namun hanya 5,5″ saja. He…

Untuk brand lainnya, terpantau tidak merilis ponsel Android di kisaran harga ini. Resiko besar mungkin anggapan mereka.

Dari beberapa alternatif yang disampaikan diatas, barangkali hanya LG G3 4G saja yang menarik untuk dipinang mengingat secara frekuensi jaringan yang dimiliki sepertinya kelak akan menjadi standar menarik bagi pengguna Android yang menginginkan akses Internet kecepatan tinggi guna mendukung kinerja dan produktifitas mereka. Namun bukan tidak mungkin, beberapa nama besar macam Samsung atau Sony sedang menyiapkan ponsel andalan mereka di jaringan yang sama untuk berkompetisi lebih jauh lagi.
Kalian siap ?

Pilih-Pilih Ponsel Android Level Menengah (3,5 hingga 5 juta-an)

Category : tentang KHayaLan

Masuk dalam kategori Level Menengah, Tips memilih ponsel Android dengan rentang harga di kisaran 3,5 hingga 5 juta-an rupiah, memiliki alternatif jauh lebih kompetitif, baik spek maupun keunggulan yang ditawarkan. Beberapa diantaranya malah merupakan ponsel Flagship yang setahun lalu ditawarkan dengan harga fenomenal.

Spesifikasi yang umum pada kategori ini biasanya memiliki besaran RAM 2 GB, prosesor Quad Core, 16 GB Internal Storage dan layar lebar. Apa saja pilihannya ? Yuk kita tengok…

Sony menyajikan seri Xperia Z Ultra yang diperkenalkan bulan September 2013 lalu, salah satu ponsel Flagship yang memiliki spek sebagaimana diatas plus layar 6,4″. Lebih mirip TabletPC Android sebetulnya.

Samsung menyajikan seri Galaxy Note 3 Neo N7500 yang memiliki spesifikasi menengah yaitu RAM 2 GB, prosesor Enam inti dan pengurangan lebar layar dari sang kakak, hanya sekitaran 5,25″ saja.

HTC menyajikan seri Desire 816 dengan spesifikasi dibawah rata-rata diatas, yaitu RAM 1,5 GB, 8 GB Internal Memory, layar 5,5″ dan prosesor Quad Core 1,6 GHz. Perkiraan saya sih seri 816 bakalan jadi spek terendah yang ada dalam kategori ini.

LG menyajikan seri G2 yang juga merupakan salah satu ponsel Flagship di akhir tahun 2013 lalu. Dengan spesifikasi RAM 2 GB, 16 GB Internal Memory, prosesor 2,2 GHz, layar 5,2″ dan daya batere 3000 mAh. Kalau tidak salah sih ya, dalam seri ini diperkenalkan juga teknologi ketuk layar untuk mengaktifkan ponsel.

Oppo menyajikan seri N1 Mini yang dikenal dengan teknologi kamera putarnya yang mampu memfungsikannya sebagai dua kamera, depan dan belakang untuk mendukung kebutuhan Selfie pengguna. Spesifikasinya masih setara diatas namun dengan kapasitas batere yang cukup terbatas. Meski bukan ponsel pertama yang mengadopsi teknologi kamera putar (dulu ada ponsel Samsung yang punya fitur serupa), namun untuk saat ini N1 merupakan satu-satunya ponsel Android papan menengah yang mengadopsi teknologi ini.

Asus menyajikan seri Padfone S dengan spesifikasi serupa diatas, namun dengan besaran Internal Storage yang menggoda iman, 32 GB. Lumayan lega untuk menyimpan banyak video didalamnya.

Huawei menyajikan seri Ascend P7 dengan spesifikasi yang pula tidak jauh berbeda dengan standar diatas.

dan untuk brand Lenovo, Acer juga Xiaomi kalau tidak salah belum mempunyai pilihan pada rentang harga ini.

Untuk pilihan terbaik ada dua alternatif yang bisa dipertimbangkan, pertama Sony Xperia Z Ultra dengan layar lebarnya demi kenyamanan beraktifitas dan menonton video, dan Samsung Galaxy Note 3 Neo dengan teknologi Stylus tambahan built in untuk membantu aktifitas kerja bagi pekerja yang produktif.

Secara brand, keduanya punya jaminan mutu tentu saja.

Pilih-Pilih Ponsel Android Standar Minimal (2 hingga 3,5 juta-an)

2

Category : tentang KHayaLan

Pada kategori pertama ini, saya akan pilihkan beberapa Rekomendasi dari berbagai merek ponsel yang ada, namun lebih mengerucut pada pemain branded. Seperti Samsung, Sony, LG, HTC, Lenovo, Oppo, Asus, Acer dan Huawei. Apa saja itu ? Yuk kita mulai.

Untuk ponsel Android pada rentang harga 2 hingga 3,5 juta-an dengan kategori Standar Minimal RAM 1 GB adalah sebagai berikut :

Samsung menyajikan seri Galaxy Grand II dengan spesifikasi RAM 1,5 GB, prosesor Quad Core 1,3 GHz layar 5,2″ dan kapasitas batere 3000 mAh.

Sony menyajikan seri Xperia T2 Ultra Dual dengan spesifikasi RAM 1 GB, prosesor Quad Core 1,4 GHz layar 6″ dan kapasitas batere 3000 mAh.

HTC menyajikan seri Desire 616 dengan spesifikasi RAM 1 GB, prosesor Octa Core 1,4 dan layar 5″. Sayangnya hanya 2, yaitu Internal Storage tergolong Mini alias 4 GB, sangat riskan meski terdapat eksternal memory dan batere masih menggunakan kapasitas 2000 mAh.

LG menyajikan seri G3 Stylus dengan spesifikasi RAM 1 GB, prosesor Quad Core 1,3 GHz, layar 5,5″ dan kapasitas batere 3000 mAh. Nilai plusnya ada pada bonus stylus yang diberikan, namun jenis dan fungsinya tidak sama dengan Stylus yang ada pada seri Note-nya Samsung ataupun HTC terdahulu. Pun demikian dengan penempatan stylus yang tidak built in pada ponsel.

Lenovo menyajikan seri Vibe X2 dengan spesifikasi RAM 2 GB, prosesor Quad Core 2,0 GHz, Internal Storage lumayan menggoda 32 GB dan masih pula bisa ditambahkan dengan eksternal memory, layar 5 inchi namun daya batere yang masih standar, 2300 mAh.

Asus menyajikan seri Zenfone 6 dengan RAM 2 GB, layar lebar 6″ dan Internal Storage yang lega 16 GB plus kapasitas batere 3300 mAh, yang sayangnya secara prosesor masih menggunakan Dual Core 1,6 GHz.

Acer menyajikan seri Liquid E700 dengan RAM 2 GB, Internal Memory 16 GB dan prosesor Quad Core 1,2 GHz, Layar 5″ dan batere 3000 mAh.

Huawei menyajikan seri Honor 3X dengan spesifikasi RAM 2 GB, prosesor Quad Core 1,7 GHz, layar 5,5″ dan batere 3200 mAh.

Oppo sendiri kalo tidak salah gag ada melepas seri di kisaran ini, namun diluar semua brand tadi ada satu alternatif ponsel Android lagi yang belakangan lagi Booming. Yaitu…

Xiaomi Redmi Note dengan spesifikasi RAM 2 GB, prosesor Octa Core 1,7 GHz, layar 5,5″ dan batere 3200 mAh. Menggiurkan bukan ?

Nah, dari beberapa alternatif ponsel Android diatas dengan rentang harga 2 hingga 3,5 juta-an rupiah, kategori Standar Minimal penggunaan, yang paling menarik dilirik tentu saja Xiaomi Redmi Note yang katanya lagi sih, patut disandingkan dengan ponsel mumpuni bernama iPhone. Namun yang kemudian menjadi pertanyaan selanjutnya adalah soal Layanan Purna Jualnya.

Jika kalian yakin dengan kualitas dan layanannya, kenapa musti ragu ?

Berburu Ponsel Android Best Buy Level Atas

1

Category : tentang TeKnoLoGi

Berbeda dengan dua tulisan sebelumnya yang menyasar pangsa pasar level Pemula dan Menengah, untuk kisaran papan atas agaknya sulit dalam menentukan pilihan, karena disini sasaran yang dituju memang berbeda segmen. Namun karena topik masih menggunakan istilah ‘Best Buy’, sudah tentu yang namanya persoalan harga tetap menjadi pertimbangan utama.

Namun apabila angka 7 jutaan keatas masih terlalu mahal untuk disandingkan dengan sebuah perangkat ponsel yang notabene memiliki fungsi utama bertelepon dan sms, barangkali pilihan yang ada jadi lebih mengerucut. Meski ada juga beberapa vendor yang memilih untuk menjual ponsel seri flagship mereka (istilah yang digunakan untuk menyebut perangkat termutakhir dari vendor branded), dengan harga dibawah rentang tersebut.

Misalkan pilihan pertama, lagi-lagi Samsung lewat perangkat Galaxy Note II yang menyajikan spesifikasi standar ponsel Android mahal mencakup kecepatan prosesor Quad Core atau empat inti 1,6 GHz, 2 GB RAM, 16 GB Internal Storage dan lebar diagonal layar 5,5 inchi. Plus daya tahan batere 3.100 mAh, cukup untuk bertahan hidup selama 1,5 hingga 2 hari dalam pemakaian normal. Salah satu kelebihan yang ditawarkan oleh seri yang satu ini adalah dukungan Pen Stylus dimana layar yang digunakan merupakan hasil kerjasama dengan pihak pengembang hardware desain grafis Wakom.

Pilihan kedua datang dari Sony Xperia Z (entah seri apa yang kelak digunakan untuk mengungguli kemampuan pendahulunya ini) yang menawarkan kemampuan daya tahan outdoor seperti debu, air dan goncangan atau jatuh, serta resolusi kamera mumpuni 13 MegaPixel. Ditambah dukungan akan permainan sekelas Playstation, konsol games ternama milik Sony.

Pilihan ketiga datang dari LG Nexus 4 miliknya yang memang secara khusus dikembangkan bersama Google namun berharga paling terjangkau dari semua alternatif pilihan yang sudah dan kelak akan saya sebut sebagai pilihan ponsel Android papan atas. Meski berharga paling murah diantara semua, untuk spesifikasi hardware bisa dikatakan setara Galaxy Note II miliknya Samsung.

Pilihan terakhir datang dari HTC One + yang memiliki harga jual setara Sony Xperia Z namun memiliki spesifikasi sedikit dibawah standar tadi, yaitu pada opsi besaran RAM yang hanya 1 GB saja. Sedangkan opsi 2 GB, hanya mampir pada seri HTC One yang dibanderol di kisaaran 7,5 juta rupiah. Wiiihh… Namun positifnya, secara internal Storage merupakan yang terbesar dari semua seri, yaitu 64 GB taanpa dukungan eksternal memory lagi.

Sedangkan alternatif pilihan yang datang dari vendor lokal adalah Oppo Find 5 yang memiliki spesifikasi dan harga jual setara LG Nexus 4. Sisanya, gag ada lagi.

So, dari tiga pemaparan yang sudah saya sampaikan sebelumnya, kira-kira mau menyasar pilihan yang mana ?

Berburu Ponsel Android Best Buy Level Menengah

1

Category : tentang TeKnoLoGi

Melanjutkan tulisan sebelumnya yang mencoba untuk memberikan rekomendasi perangkat ponsel Android Best Buy, berikut saya ambil untuk level kelas Menengah dengan kisaran harga 1,5 hingga 3,5 jutaan.

Pada rentang harga ini, spesifikasi yang barangkali bisa ditawarkan sejauh ini adalah besaran prosesor Dual Core 1 GHz, RAM 1 GB dan 8 GB Internal Storage. Selebihnya bisa jadi dimensi lebar diagonal layar 4 inchi, kamera 5 MP dan kapasitas batere 1.800 mAh. Cukup untuk bertahan seharian penuh dalam kondisi pemakaian normal.

Pilihan pertama, bisa dilihat dari milik Samsung Galaxy Grand I9082 yang menawarkan besaran layar 5 inchi, prosesor Dual Core 1,2 GHz, 1 GB RAM dan 8 GB Intetnal Storage, plus kapasitas batere 2.100 mAh. Khusus untuk pasar Indonesia, seri Grand diluncurkan dalam versi Duos atau Dual Sim card GSM-GSM, yang kabarnya merupakan versi murah bentukan Galaxy Note II yang fenomenal itu.

Pilihan kedua datang dari Sony Xperia L, dengan kemampuan setara Samsung Galaxy Grand, namun berlayar sedikit lebih kecil meski masih diatas standar diatas, 4,3 inchi. Plus kapasitas daya batere 1.750 mAh. Untuk harga jual, Sony berada dibawah angka 3 juta rupiah.

Pilihan ketiga datang dari HTC One SC, salah satu varian dari One series, yang ditawarkan dengan dual jaringan, CDMA (3G) dan GSM (2G) dengan spesifikasi sedikit dibawah standar, yaitu pada item Internal Storage yang hanya sebesar 4 GB saja. Dan Serupa dengan spesifikasi tersebut, alternatif kedua pada pilihan ketiga ini datang dari miliknya LG lewat Optimus L9 dengan tambahan lebar layar 4,7 inchi plus daya batere diatas 2.000 mAh.

Sedangkan alternatif pilihan yang datang dari vendor lain diluar empat nama diatas, ada Oppo Find Way, Huawei Ascend P1, Lenovo S890 dan Acer Liquid E2. Dimana rata-rata memiliki spesifikasi serupa perangkat milik LG Optimus L9, terkecuali yang disebutkan terakhir sudah mengadopsi prosesor Quad Core dengan harga jual yang cukup terjangkau.

Android, iOS, BlackBerry atau Windows Phone ?

5

Category : tentang TeKnoLoGi

Setahun lalu, tepatnya diawal bulan, saya sempat menurunkan ulasan topik yang sama namun dalam versi yang sedang trend saat itu. Kini saya mencoba untuk menurunkannya kembali sebagai alternatif pilihan bagi kawan semua, dalam memilih sistem operasi yang kini makin berkembang pesat bagi perangkat mobile phone dan tabletpc di awal tahun 2013.

Android. Kini sistem operasi ini merupakan Raja dari semua sistem operasi perangkat ponsel dan tabletpc yang beredar di seluruh penjuru dunia. Hal yang wajar jika Kawan mengetahui sebabnya. Ya, Android digawangi oleh sekian banyak vendor dan operator yang siap memperebutkan kue keuntungan penjualan yang kian hari kian menggoda saja. Bahkan beberapa nama yang dahulu sempat turun naik dari tingkat penjualan, kini mulai merangkak naik mengalahkan nama-nama branded lainnya. Katakan saja Samsung, Huawei dan Sony.

Melesatnya Android ke lini terdepan tentu tak lepas dari kegigihan sang pengembang yaitu Google dalam membuat inovasi demi inovasi baru untuk melengkapi fungsi dan fitur teknologi terkini yang dikembangkan oleh masing-masing vendor demi menjawab tantangan serta kebutuhan para pengguna dan penggila teknologi yang kian haus aktifitas. Jika setahun lalu versi 2.3 GingerBread merupakan yang terbanyak digunakan oleh sejumlah perangkat berbasiskan Android, kini versi 4.0 Ice Cream Sandwich sepertinya sudah menjadi standar baku perilisan perangkat terbaru, meski beberapa diantaranya malah sudah mencoba dan mendapatkan opsi UpGrade ke versi yang lebih baik 4.1 ber-code name Jelly Bean.

Dengan makin berkembangnya teknologi yang dibesut oleh sejumlah vendor, operator serta sang pemilik Android, maka tidak heran jika kemajuan yang dihasilkan pun cukup jauh dari setahun lalu. Adapun Ukuran yang diberikan tak lagi kisaran tahun atau semester, namun sudah tahap bulan. Dimana kecanggihan yang dijejalkan dalam perangkat ponsel dan tabletpc berbasiskan Android sudah mencakup prosesor empat inti atau Quad Core, kapasitas standar internal storage sebesar 4 GB, besaran Memory RAM 2 GB, hingga resolusi layar dan kamera HD. Belum termasuk dengan tambahan stylus pen yang kini dikenal dengan istilah Note series yang siap memberikan presisi inputing yang lebih baik ketimbang penggunaan teknologi yang sama enam tujuh tahun yang lalu. Bahkan kabarnya kedepan sedang dikembangkan beberapa teknologi lagi, diantaranya yang mampu melakukan panggilan telepon saat ponsel didekatkan pada telinga pengguna.

Berpengaruhnya Android di pasar dunia, makin lengkap dengan masuknya perangkat mobile phone dan tabletpc di semua lini, dari harga yang terjangkau atau menengah kebawah hingga kelas premium dengan suntikan teknologi terkini. Sudah begitu, ketiadaan perbedaan yang mendasar antara sejumlah kelas tersebut, menjadikan Android tetap menarik untuk dilirik. Katakan saja dukungan ribuan aplikasi siap pakai dari pasar aplikasi Google Play serta jaminan untuk mengalihfungsikan perangkat menjadi mobile hotspot merupakan jualan utama dari semua vendor yang hadir dengan menggunakan Android sebagai sistem operasi utama.

iOS AnDroid BB Windows Phone PanDe Baik

Jika Android mengambil porsi hingga setengah lebih kue penjualan ukuran Global, maka seperempatnya harus cukup puas diambil oleh iOS, sistem operasi unix yang dikembangkan oleh perusahaan ternama Aplle. Hingga saat ini, sistem operasi iOS yang telah dirilis ke pasar sudah mencapai versi 6.0. membawa banyak perubahan terutama berkaitan dengan aplikasi SIRI, voice assistant yang kini banyak dijiplak oleh pengembang lainnya, termasuk Android dan Samsung.

Pada tahun 2012 lalu, Apple terpantau merilis dua pasang perangkat sekaligus, baik di awal dan juga akhir tahun. Pecahnya tradisi yang dahulu selalu dipegang oleh Apple dengan merilis satu perangkat tiap tahunnya, tak pelak menimbulkan prasangka bahwa langkah ini diambil lantaran persaingan dari sistem operasi dan vendor lain, berkembang sangat cepatnya. Maka pasarpun dikejutkan dengan dirilisnya perangkat TabletPC iPad 3 (new iPad) dan iPad 4, ditambah seri ponsel iPhone 4S dan iPhone 5. Sayangnya, meski teknologi yang diusung tergolong canggih dan terkini, urusan harga yang masih tinggi di langit, rasanya agak susah jika mengharapkan Apple mampu menarik konsumen sebanyak perangkat Android.

Turunnya sang inovator terbaik seperti yang diklaim banyak pihak dan media ke posisi kedua tingkat global, menyebabkannya harus bersaing ketat dengan brand lain yang maju dengan mengandalkan sistem operasi Android termasuk vendor china sekelas Huawei. Meski demikian, pembuktian perolehan hingga 25% penjualan pada tahun 2012 lalu tetap ditenggarai memiliki fanboy sejati yang tetap akan menanti kemajuan demi kemajuan teknologi yang kini sedang dikembangkan oleh Apple.

Jatuh bangun perusahaan pengembang sistem operasi asal Canada, Research In Motion RIM lewat perangkat BlackBerry, lumayan banyak mengundang kecaman dan dugaan sedari awal tahun 2012, bahwa mereka akan bangkrut dalam waktu dekat. Apalagi tempo hari sedikit demi sedikit perusahaan melakukan PHK terhadap ribuan karyawannya untuk dapat menekan cost akibat tingkat penjualan yang makin menurun. Penyebabnya sederhana. BlackBerry tak mampu ikut bersaing menyajikan teknologi terkini pada perangkat yang dirilisnya selama setahun terakhir. Jualannya masih sama, yaitu BlackBerry Messenger yang diklaim diminati banyak orang. Sayang, dalam prakteknya tidak demikian.

Melorotnya nama BlackBerry ke peringkat ketujuh tingkat global dan disalip oleh nama-nama sekelas Sony maupun HTC, membuat RIM selaku pengembang utama ponsel pintar berbadan gembul ini, mau tak mau mengikuti arus teknologi berlayar sentuh dan dalam waktu dekat bakalan merilis seri 10-nya. Salah satu yang kabarnya bakalan diandalkan dalam seri tercanggihnya ini adalah terintegrasinya BlackBerry Messenger versi 7, yang mampu mengakomodir fitur voice call (layaknya Skype), antar pengguna BlackBerry, termasuk yang masih mengadopsi sistem operasi versi lama. Ditambah fitur jejaring sosial, sms dan email dalam satu akses yang sama.

Selain itu, terdapat pula kemudahan pengoperasian dan meminimalkan delay yang terjadi, sehingga pengguna dijanjikan bakalan mendapat banyak pengalaman baru jika dibandingkan perangkat BlackBerry model lama.

Ditambah beberapa fitur yang menjadi standar baru dan disematkan pada tekologi layar sentuhpun ikut serta menjadi jualannya kali ini, sehingga klaim dari sang pengembang, kelak BlackBerry versi 10 ini bakalan diturunkan dan bersaing dengan iPhone dan Android. Tak lupa penggunaan prosesor Dual Core, kamera beresolusi besar plus keberadaan kamera depan, bakalan mengubah image yang selama ini tertanam di pikiran pengguna, akan segala keterbatasan yang dimiliki BlackBerry sejauh ini. Kabarnya pada akhir Januari 2013, BlackBerry bakalan merilis dua perangkat mutakhirnya, diikuti empat lainnya selama tahun yang sama.

Jika setahun lalu nama Windows Phone masih tenggelam oleh terangnya ketiga nama perangkat diatas, di tahun 2013 kali ini bisa dikatakan bakalan menjadi puncak titik balik sistem operasi buatan Microsoft untuk bersaing dan memperebutkan tahta tiga besar. Untuk memuluskan jalannya, dua vendor besar yang sejak awal dengan setia berkolaborasi, siap menjadi pionir dan pendahulu. Nokia dan HTC.

Nama Nokia selama ini memang sudah hampir bisa diidentikkan dengan perangkat Windows Phone, meski bayang-bayang Symbian dan Asha series, masih melekat erat dibenak sebagian besar pengguna teknologi mobile phone. Kerjasama antara Nokia dengan pihak Microsoft sempat pula dianggap sebagai pengambilan keputusan dengan jalan yang salah. Seiring berjalannya waktu, mereka seakan ingin membuktikan sekali lagi pada pasar gobal, bahwa pengorbanan memang diperlukan untuk bisa kembali menjadi sang raja.

Lumia series, merupakan brand jualan Nokia sejak bekerja sama dengan pihak Microsoft. Di tahun 2012 lalu, Nokia merilis beberapa series yang sayangnya masih dikecam banyak pihak lantaran penggunaan material ponsel yang menimbul kan bunyi saat ditekan. Kini, mereka hadir kembali dengan mengusung sistem operasi Windows Phone versi 8 dengan memanfaatkan material yang lebih baik dan solid.

Banyak Teknologi yang berusaha diperkenalkan Nokia terutama yang memang sudah berjaya di era Symbian terdahulu, seperti Nokia Maps. Selain itu terdapat pula fitur Applications Store yang mampu digunakan dalam multi platform Windows Phone. Belum lagi pemanfaatan lensa kamera Carl Zeiss nampaknya sudah menjadi keharusan dalam setiap seri yang bakalan diluncurkan dalam waktu dekat.

Tak seperti Nokia, nama HTC dan kolaborasinya dengan pihak Microsoft, bisa dikatakan sudah berlangsung sejak lama. Tepatnya saat era Windows Mobile dirilis ke pasar satu dasa warsa lalu. Hubungan ini terus berlanjut meski tingkat penjualannya makin menurun, hingga kemudian HTC tampil sebagai nama vendor setelah merekrut beberapa operator ternama, diantaranya O2.

Dalam usahanya kali ini, HTC tampaknya ingin meneruskan hegemoni seri X yang memang didirilis ke pasar pengguna demi menjawab tantangan multimedia dan kecepatan, demi bersaing dengan nama lain. Meski nama HTC hanya mampu meraih posisi keenam tingkat global, namun bisa dikatakan tak satupun seri mereka dapat dikategorikan sebagai ponsel murah. Itu sebabnya nama HTC kurang mampu menjangkau kalangan menengah kebawah seperti halnya para pesaingnya.

Mengandalkan nama besar milik Nokia dan HTC, Windows Phone kali ini tentu saja patut ditunggu. Bahkan bukan tidak mungkin bakalan merebut sedikit dari pasar Android yang kini sudah mulai berjalan stagnan lantaran kesamaan perangkat yang dirilis oleh beragam vendor. Kehadirannya bak kuda hitam yang siap menjatuhkan para lawan lewat jualan multimedia dan kemudahan pengoperasian.

Semua pilihan sudah disiapkan sejak awal tahun 2013, jadi kini tinggal menyerahkannya pada pengguna. Mau memilih Android, iOS, BlackBerry atau Windows Phone ?

HTC One V, Hero dari kelas Menengah

Category : tentang TeKnoLoGi

One Series, merupakan ponsel Android generasi terbaru dari HTC, sebuah brand ternama asal Taiwan, yang rencananya bakalan masuk di berbagai lini pasar secara bertahap. Setidaknya ada dua seri yang mendapat kesempatan pertama untuk hadir dihadapan publik. HTC One X dan HTC One V.
Untuk seri pertama yang kami sebut diatas merupakan perangkat high-end milik HTC yang memiliki kekuatan prosesor empat inti dengan harga jual yang tergolong tinggi pula untuk ukuran budget rata-rata orang Indonesia. Sedang yang terakhir, merupakan perangkat Android milik HTC kelas Menengah dan ditawarkan dengan harga jual yang lebih bersahabat.

Di rentang harga yang sama, One V bakalan bersaing dengan perangkat Samsung Galaxy W, Sony Xperia U dan LG L7 yang notabene memiliki spesifikasi jauh lebih baik. Lantas jualan apa yang mampu dipersiapkan oleh HTC untuk menghadapi para kompetitornya kali ini ? yuk simak paparannya.

Memiliki desain unibodi yang sedikit melengkung di sisi bawah perangkat, sempat mengingatkan kami pada perangkat HTC Hero dan Salsa yang dahulu sempat tampil di awal perkenalan sistem operasi Android pada publik. Tampaknya tujuan pembentukan ini adalah untuk memudahkan pengguna saat melakukan pembicaraan atau bisa jadi demi memberi ruang pada kisi kisi speaker yang terletak di belakang bodi. Yang meskipun dalam kondisi tergeletak diatas meja, suara sound ataupun nada panggil masih dapat terdengar dengan baik.

Desain perangkat seperti ini tentu saja memiliki satu kelemahan yang barangkali kelak bakalan sedikit merepotkan pengguna, terutama jika ingin melepaskan batere yang memang tidak akan mampu dilakukan. Desain yang sama, terlihat pada perangkat Tablet milik HTC, Flyer dimana untuk menyematkan kartu sim card dan juga memory eksternal, pengguna cukup menggeser sedikit penutup yang berada di lekukan bawah perangkat.

Secara penampilan luar, HTC One V tergolong minimalis. Di sekeliling bodi, hanya terdapat dua tombol fisik yaitu Power dan Volume, ditambah dua buah port, audio dan charger micro usb. Sedangkan untuk akses operasional ponsel, terdapat tiga tombol haptic atau sentuh yang berfungsi sebagai Back, Home dan Multitask. Tiadanya tombol sentuh Pilihan yang biasanya dihadirkan pula pada perangkat Android lainnya, cukup menyusahkan pengguna untuk mengakses sejumlah opsi Pilihan pada beberapa aplikasi tertentu.

Masuk kedalam pengoperasian, Pengguna disuguhkan dengan tampilan baru pada bilah menu di sisi bawah layar Homescreen dimana tampilan icon yang akan hadir dalam setiap halaman depan, dapat dikustomisasi sesuai keinginan pengguna seperti halnya perangkat iOS. Selain itu, terdapat pula fitur pengelompokkan aplikasi ataupun games kedalam folder terpisah yang lagi-lagi mengadopsi teknologi yang sama. Serta tambahan tombol sentuh Multitasking yang dapat dimanfaatkan untuk menutup aplikasi atau games secara permanen dengan cara menggesernya kearah samping kanan dari tampilan.

Demikian halnya saat melakukan aktivasi perangkat pertama kali, pengguna akan diberikan Bonus berupa space sebesar 25 GB pada akun Dropbox secara gratis selama masa aktif 2 tahun. Sekedar informasi bahwa Dropbox merupakan salah satu bagian dari teknologi Cloud Computing, dimana penyimpanan file dapat dilakukan di awan (dunia maya), Sehingga dapat diakses dari manapun dan kapanpun dibutuhkan.

Untuk fitur incoming calls setidaknya ada tiga teknologi yang disematkan didalam perangkat HTC One V ini. Yaitu ‘Quite ring on pickup’ fitur untuk menonaktifkan nada panggil saat ponsel diambil oleh pengguna, ‘Pocket Mode’ fitur untuk mengeraskan nada panggil saat berada didalam tas atau saku, dan ‘Flip for Speaker’ fitur aktivasi Speaker mode dengan cara membalikkan perangkat.

Pada pengaturan Display atau layar terdapat opsi untuk memperbesar dimensi huruf atau font yang dipergunakan, ditambah opsi pengaturan LED Flash untuk mengatur datangnya notifikasi bagi enam fitur utama. Missed Call, sms/mms, email, Voice mail, Reminders dan Alarms.

Sedangkan dalam pengaturan Daftar Kontak, terdapat opsi untuk melakukan pemblokiran panggilan pada nama-nama yang diinginkan sehingga pengguna tak lagi repot menginstalasi aplikasi tambahan hanya untuk melakukan fungsi tersebut. Menarik bukan ?

Mengusung sistem operasi Android terkini versi 4.0.3 Ice Cream Sandwich dipadu dengan User Interface HTC Sense 4.0, tampaknya lumayan menghabiskan resources Memory RAM, dimana dalam kondisi default perangkat lebih sering menyisakan ruang dibawah 100 MB dari 512 MB yang tersedia. Ini jelas sedikit merepotkan saat perangkat akan digunakan untuk beraktifitas multitasking mencakup office applications dan lainnya. Mungkin itu pula sebabnya bahwa sistem Caroussel yang biasanya hadir pada UI dan Menu HTC lainnya, kini dihilangkan demi menghemat memory RAM yang tersisa.

Tidak hanya itu, minimnya memory storage yang tersedia pada internal ponsel, meskipun diatas kertas memiliki spesifikasi 4 GB internal storage (3 GB shared), terpantau saat kami melakukan uji coba pengiriman data melalui koneksi Bluetooth. Rupanya untuk besaran storage yang disediakan pada internal perangkat hanya sekitar 95 MB saja, sehingga kami agak mengalami kesulitan saat berusaha mengirimkan file atau data yang memiliki kapasitas lebih dari volume yang disediakan, meskipun telah dilakukan penghapusan data storage ponsel secara permanen.

Dari hasil uji Benchmark yang kami lakukan pada perangkat One V dengan tiga aplikasi berbeda, terpantau nilai sebesar 2767 untuk uji dengan AnTuTu, 2018 untuk uji dengan Quadrant dan 3259 untuk uji dengan DX Toolbox. Skor tersebut rata-rata berada jauh dibawah Samsung Galaxy S dan Galaxy Tab seri pertama yang memiliki spesifikasi setara. Entah mengapa.

Namun diluar semua kelemahan dan kelebihan dalam pengoperasian diatas, sebenarnya ada dua inovasi Teknologi yang diadopsi oleh HTC One V yang patut kita acungi jempol.

Pertama ada Beats Audio. Seperti halnya perangkat HTC lainnya pasca seri Sensation XE, kualitas sound yang apik bakalan dihadirkan demi memuaskan hasrat pengguna Android yang kerap mendengarkan musik di kala senggang. Untuk itulah kabarnya HTC telah resmi mengakuisisi Beats untuk melengkapi portofolio mereka. Sayangnya, pada headset yang disertakan dalam paket pembelian, tak lagi menyertakan logo Beats yang telah menjadi jaminan mutu bagi penikmat Audio.

Saat kami uji dengan memainkan beberapa karya orkestra milik Yanni hingga musisi tradisional Gus Teja, terasa benar megahnya audio yang disemburkan dari lubang speaker di sisi belakang bodi. Apalagi saat headset ditancapkan kedalam port 3,5”, makin terdengar mantap tanpa pecah meski volume sudah dimaksimalkan.
Inovasi teknologi kedua, ada ‘Simultaneous HD video and image recording. Selain kualitas Audio yang nyaris sempurna, salah satu kebanggaan yang coba ditawarkan HTC pada ponsel Androidnya kini adalah kemampuan untuk melakukan perekaman video berkualitas HD 1280p 30 fps, sembari mengambil gambar yang mampu melakukan face dan smile detection secara bersamaan dengan mengandalkan resolusi lensa 5 MP ditambah lampu LED Flash.

Selain itu tersedia pula fitur Continuous Shot, dimana lensa kamera dapat melakukan pengambilan gambar secara kontinyu hingga 20 frame tanpa jeda untuk mengabadikan objek bergerak demi mendapatkan tampilan terbaiknya. Teknologi serupa tampaknya juga ditanamkan pada perangkat One X yang tentu saja memiliki banyak kemampuan lebih lainnya.

Untuk memudahkan pengguna memilih sejumlah effect saat pengambilan gambar, pada layar capture telah disediakan opsi untuk mengakses semua fasilitas tersebut secara cepat, meliputi Distortion, Vignette, Dots, Mono, Country, Vintage, Grayscale, Sepia, Solarize dan Posterize. Sedang untuk mode Scene selain Panorama, terdapat pula opsi pengambilan objek secara group dan Close Up.

Demi mendukung dua kemampuan dashyat perangkat ponsel Android tersebut, HTC membekali perangkat One V dengan daya sebesar 1500 mAh. Dengan kapasitas ini, perangkat mampu melakukan Talk Time hingga 10 jam lamanya. Sedang untuk kebutuhan standby dengan penggunaan normal, dalam satu kali charge mampu bertahan hingga satu setengah hari.

Dengan kisaran harga 2,9 juta rupiah, besaran prosesor satu inti 1 GHz tampaknya memang masih tergolong mahal untuk ditebus. Sementara beberapa kompetitor seperti yang disebutkan diatas tadi, sudah mengusung besaran 1,4 GHz hingga Dual Core demi memuaskan kinerja yang diharapkan oleh pengguna. Namun bagi Kawan yang mengutamakan kedua terobosan inovasi teknologi pada fitur Multimedia seperti yang kami sebutkan diatas, agaknya HTC One V bisa dijadikan alternatif pilihan berikutnya.

Tips #Ngandroid Seputar Brand HTC

Category : tentang TeKnoLoGi

  • Barusan sempat mengantar ipar yang akhirnya memilih #Android HTC Sensation XE ketimbang BlackBerry Apollo sebagai ponsel pilihannya
  • Sekedar informasi bhw HTC Sensation XE merupakan salah satu #Android varian dari Sensation Series yang mengusung prosesor dual core 1,5 GHz
  • HTC Sensation XE yang kami dapatkan tadi rupanya masih dibundling dengan Headset bersuara mantap milik Beats hasil kembangan dr.dre
  • Kabarnya untuk Sensation XE yang diproduksi Mei, gag lagi dibundling dengan Headset Beats untuk menekan harga jual ke konsumen
  • Sekedar informasi lagi bahwa Beats telah resmi diakuisisi oleh HTC demi mendapatkan konsep headset yang berkualitas
  • Secara spesifikasi ternyata HTC Sensation XE boleh juga tuh, layar 4,3″, Procie dual core 1,5 GHz, 768 MB RAM dan 4 GB internal Storage
  • @nilamsarri HTC tuh produk Taiwan, tapi jangan ragukan soal kualitasnya… Ini bukan brand lokal loh
  • Bagi yang belum kenal siapa itu HTC, wajar saja sih menduga”ini brand lokal atau china, padahal kalo digali lebih jauh, dijamin kagum 🙂
  • HTC itu brand/vendor asal Taiwan. Merupakan pemain lama di dunia telekomunikasi…
  • Apakah ada yg mengenal nama O2, T Mobile, iPaq, atau Orange? Mereka ini merupakan brand ternama yg dulu merilis PDA berbasis Windows Mobile
  • Masa”jaya perangkat ini berkisar Tahun 2003/2007, bahkan nama Sony Ericsson pun pernah merilis perangkat sejenis di awal rilis Xperia series
  • Nah, ceritanya pada masa itu, satu”nya vendor yang dipercaya untuk memproduksi Handhelds PDA adalah HTC
  • Sedang beberapa nama”yg disebutkan tadi adalah nama Operator luar yg bekerja sama dengan pihak HTC untuk merilis PDA berbasis Windows Mobile
  • HTC sendiri baru merasa pede merilis Handhelds dengan menggunakan nama sendiri di tahun 2006/2007
  • Itu sebabnya ketika masa”jaya Windows Mobile, banyak perangkat yang memiliki desain dan rupa yang sama namun diusung oleh vendor yg berbeda
  • Uniknya,meski nama pasaran PDA waktu itu bergantung pd operator/vendor yg berkontrak dgn HTC, trnyata smua memiliki Codename tertentu dr HTC
  • Sebagai contoh, codename HTC Universal dikemas dalam tiga merek yang berbeda, O2 XDA EXECUTIVE , DOPOD 900 dan T-MOBILE PRO
  • Trus ada saja produk HTC Blue Angel yang dikenal sebagian masyarakat Indonesia sebagai O2 XDA IIs dan AUDIOVOX 6600 CDMA
  • Sony Ericsson Xperia X1 yg berbasiskan Windows Mobile 6.1 memiliki codename HTC Kovsky
  • dan di lini #Android ada Google Nexus One yang fenomenal memiliki codename HTC Passion
  • Nama HTC baru mulai berkibar kencang saat merilis ponsel berbasis Windows Phone dan akhirnya #Android
  • HTC bisa dikatakan merupakan perangkat yg berkelas dan dikenal memiliki harga jual yang mahal, tapi itu sepadan dengan spec yang ditawarkan
  • Untuk HTC Sensation XE tadi dapetnya di angka 5,2 jt, nilai yang sama dengan Tablet Samsung GalTab 7+ paket promo
  • Sudah dijawab ya 🙂 RT @shaadillah itu tp buatan cina kan min? Masi ragu #HTC
  • @shaadillah tarung Samsung vs HTC di Indonesia, dimenangkan oleh Samsung, karena mampu masuk pasar #Android murah
  • Harga Jual, paling murah itu kisaran 2,2 juta kalo gag salah utk #Android prosesor 600 MHz RT
  • @shaadillah kelemahan yg fatal apa min? #HTC
  • Kabarnya sih HTC Sensation series ini bakalan dapet Upgrade OS #Android ke versi 4.0 ICS, tapi tadi tak liat sih masih pake 2.3 Roti Jahe
  • Kalo soal dimensi layar masih kurang lebar, silahkan hunting HTC Sensation XL, #Android 4,7″ dengan spec yang sama
  • Bagi yang tergolong Die Hard #Android HTC, mending nungguin One Series yang sudah mengusung OS 4.0 ICS dan prosesor dual core
  • Ah iya, kemaren dulu sempat punya pengalaman gag enak dengan HTC, kebetulan kantor kami mengadakan 6 biji TabletPC Android 7″
  • Yang datang itu HTC Flyer dengan spec paling tinggi saat itu. Saya salah satu yang dapat jatah Tablet lantaran memang dibutuhkan saat mobile
  • Sayangnya satu bulan pertama pemakaian, HTC Flyer yang saya gunakan mati total, pasca transfer data dari tablet ke Notebook
  • Setelah dikirim ke Jekardah 3 mingguan, Flyer dah normal kembali. Sayangnya, bulan ketiga mati total kembali terjadi, entah kenapa bs begitu
  • Uniknya tablet tsb baru bisa nyala setelah saya diamkan dari sore sampai esok paginya. Gag ada ngeCharge atau tindakan lainnya
  • Hal ini sempat dilaporkan lewat halaman FB milik HTC yang tempo hari lagi gencar”nya promo HTC One series
  • Akhirnya ketimbang bermasalah lagi, tu Tablet tak kembalikan ke kantor yang kemudian dipindahtangan ke rekan lain *fiuh
  • Tapi secara spec dan fitur, HTC Flyer harus diakui jauh lebih baik ketimbang Samsung GalTab 7 versi awal, banyak pengalaman baru yg didapat
  • Termasuk salah satunya fitur Pen Stylus milik HTC yang kini diadopsi pula oleh Samsung lewat Galaxy Note 5″ dan Galaxy Note #2 10.1″
  • Dibalik ‘HTC One Road to Bali the Final’

    Category : tentang TeKnoLoGi

    Semua berawal dari akun Twitter. Tepatnya saat akun Liburan Yogya menanyakan contact person komunitas Android Bali kepada admin Bale Bengong yang merekomendasikan akun saya sebagai salah satu yang bisa dihubungi.

    Adalah Bapak Arya Dhiratara, perwakilan dari PT Sistech Kharisma yang kemudian menindaklanjuti hubungan lewat kontak telepon sekaligus menjelaskan maksud rencana gelaran HTC One Road to Bali sesi the Final, dalam kaitan promo perangkat HTC One X yang selama ini saya ketahui dari akun FaceBook HTC Indonesia. Dalam kontak tersebut, sayapun diminta untuk mencari lima Kawan dari komunitas Android Bali untuk ikut serta dalam gelaran tersebut.

    Setelah menimbang-nimbang dengan admin BaliDroid Community, Aryaputra Pande yang selama ini hanya sempat kontak lewat dunia maya, pada akhirnya diputuskan untuk menawarkan kesempatan ini pada empat kawan lainnya, mengingat admin satu ini belum bisa memastikan kesanggupannya.

    Lewat dua posting khusus, didapatlah nama-nama Kawan Droid dari Kadek Suantara aka Chymenk, Rahaji, Gus Tulank dan Didi Suprapta. Sayangnya saat tanggal gelaran telah diberitahukan, beberapa nama yang berhasil dihimpun tersebut secara mendadak memilih mengundurkan diri lantaran berbagai alasan. Untuk menggantikan nama Gus Tulank, rupanya admin Aryaputra bersedia menggantikannya. Nama Didi Suprapta kemudian diganti oleh mas Arieef Abi yang menyatakan baru bisa mengikuti gelaran pasca jam kerja. Sedang Rahaji yang menyatakan pengunduran dirinya satu jam sebelum kegiatan, sempat membuat saya kebingungan mencari penggantinya.

    Adapun Rai Rahmayuda yang sempat dihubungi menyatakan tidak bisa ikut serta lantaran hajatan pernikahan sepupunya. Dan Made Dedi yang menjadi pilihan terakhir mengingat lokasi kerja yang bersangkutan ada di dekat gelaran, berusaha dihubungi lewat akun whatsapp dan sms serta menyatakan kesediaannya. Oke, jumlah peserta pun telah komplit. Maka berangkatlah saya menuju lokasi gelaran dengan memberi spare waktu satu jam untuk perjalanan.

    Macet. Padat merayap. merupakan satu kondisi yang tidak mampu saya perkirakan sebelumnya. Jalan Imam Bonjol yang saya lalui sedari perempatan Teuku Umar hingga Nakula bisa dikatakan tak memberi ruang jalan yang berarti bagi para pengemudi kendaraan roda empat. Bersyukur keputusan untuk mengendarai Scorpio Merah mampu membelah jalanan dengan cepat hingga saya hanya mengalami telat sepuluh menit dari Rencana awal.

    Berkenalan dengan HTC One X. Saat berkesempatan untuk memegang secara langsung jujur saja tidak ada sentuhan surprise yang dirasakan mengingat secara kebetulan tampilan ini memang sudah pernah dialami sebelumnya. Tepatnya ketika meReview HTC Sensation XE beberapa waktu lalu. Namun untuk tingkat kecerahan layar yang bagi saya hampir menyamai Retina Display-nya New iPad, tentu patut saya acungi jempol. Sesi perburuan foto yang diselenggarakan pasca proses Registrasipun saya lalui dengan setengah hati, mengingat pendeknya waktu perkenalan lebih banyak saya gunakan untuk mengoprek perangkat.

    Setelah mengambil beberapa gambar (termasuk gambar vas bunga yang pada akhirnya memberikan peluang besar), secara perlahan saya memulai aktifitas oprek dengan mengeksplorasi satu persatu fitur serta kemampuan fotografi HTC One X yang begitu dibanggakan dalam gelaran kali ini. Dilanjutkan pula dengan uji Benchmark menggunakan aplikasi AnTuTu dan Quadrant. Minimnya sinyal koneksi yang saya dapatkan sepanjang gelaran, membuat proses uji kecepatan hanya berhasil saya lakukan pada AnTuTu saja. Sebagai tanda bukti aktifitas tersebut, beberapa rekaman gambar layar yang tampil saya ambil dengan cara lama, menekan dua tombol secara bersamaan (Power dan Home). Satu cara yang biasanya dilakukan untuk perangkat berbasis Android ICS. Sedikit mencontek cara pengambilan gambar yang dilakukan oleh perangkat iOS.

    Sesi makan malam saya lalui dengan pendekatan pada mas Denny dari Sinar Gadget Shop terkait keinginan saya meminjam beberapa perangkat Android dalam tujuannya melakukan Review, sekaligus menanyakan bagaimana pendapatnya terkait Review HTC Sensation XE yang saya tulis di media Koran Tokoh beberapa waktu lalu. Tak lupa meluruskan sedikit salah pendapat dengan perwakilan dari Sistech Kharisma Regional Bali terkait masalah yang kami alami pada 4 perangkat dari 6 HTC Flyer milik LPSE Badung.

    Memenangkan HTC One V. Oke, Dewandra Djelantik sang fotografer ternama yang sejak sore tadi memberikan Tips dan Trik pengambilan gambar dengan kamera ponsel, rupanya teman satu sekolahan SMP yang jujur saja agak penasaran juga ingin saya ketahui latar belakangnya. Mengingat nama Dewandra hanya saatu saja yang saya kenal. Ternyata feeling saya tepat. Di gelaran kali ini, selain menjadi narasumber, yang bersangkutan menjadi salah satu dewan juri yang didaulat untuk menilai hasil jepretan gambar baik yang dilakukan oleh kelompok Finalis maupun Umum. Entah karena unsur KKN tadi ataukah memang benar gambar yang saya ambil lebih menarik minat ketimbang yang lainnya, sayapun akhirnya memenangkan perangkat Android HTC One V, salah satu dari empat One series yang diposisikan pada level menengah. Padahal jujur saja, saya pribadi sudah mengikhlaskan ponsel tersebut dimenangkan oleh Peserta lainnya dan memilih untuk melakukan pengujian terhadap One X setelah mengambil empat gambar termasuk sesi Sunset yang ancur minah.

    Berikut gambar vas bunga yang ada di meja pinggiran area makan malam hotel The Seminyak, diambil dengan menggunakan lensa HTC One X, kemudian cropping sedikit agar lebih enak dilihat komposisinya, diberikan efek menggunakan aplikasi Photo Editor miliknya Samsung Galaxy Tab 7+ (ups) dan dikirim kembali ke perangkat One X untuk diUpload ke meja Panitia. Hehehe…

    Terakhir ada Goodie Bags dari HTC yang berisikan satu bolpoin, satu jam meja dan satu baju kaos yang langsung diserahterimakan pada MiRah dan ibunya. Saya ? cukup HTC One V-nya saja. ;p

    Lantas, bagaimana hasil oprek dua perangkat Android HTC One X dan HTC One V yang berhasil saya lakukan disela gelaran acara HTC One road to Bali the Final ? tunggu saja hasilnya di media cetak Koran Tokoh. ?

    HTC One Road to Bali the Final

    1

    Category : tentang TeKnoLoGi

    Matahari belum sampai menampakkan sinar senjanya saat kami menginjakkan kaki di pelataran parkir pojokan The Seminyak, jalan Kayu Aya Seminyak Kuta jumat sore kemarin. Tampak booth HTC berdiri dengan megahnya di pinggiran pantai lengkap dengan panggung kecil dan beberapa tempat duduk yang telah diatur dengan rapi dan dijaga oleh beberapa security. Setelah menyapa dan berbasabasi, kamipun dihampiri oleh mas Arya Dhiratara yang secara khusus mengundang kami untuk hadir dalam helatan HTC One Road to Bali the Final.

    Adapun kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari promo produk HTC terbaru Android One series yang cukup fenomenal, mengingat salah satu dari empat seri yang dirilis mengadopsi besaran prosesor empat inti ditambah penggunaan sistem operasi versi 4.0 Ice Cream Sandwich. Kegiatan yang dimotori oleh Sistech Kharisma selaku distributor resmi vendor HTC di Indonesia berlangsung tidak kurang selama periode 16 Mei hingga 13 Juli 2012 di 12 venue seluruh Indonesia. Bali sendiri kalau tidak salah mendapat dua kali kesempatan roadshow termasuk sesi Final kali ini.

    Saat Registrasi berlangsung kami sempat disapa oleh beberapa Droiders yang berasal dari kota Yogyakarta dan Makassar yang secara kebetulan merupakan para pemenang photo competition yang digelar semasa promo. Tak hanya itu diantara peserta ada juga perwakilan dari Sistech Kharisma Regional Bali dan mas Denny yang hadir dari Sinar Gadget Shop, sebuah counter ponsel ternama di bilangan jalan Imam Bonjol Denpasar. Sebagai informasi, SGS inilah yang tempo hari sempat meminjamkan perangkat HTC Sensation XE untuk diReview lewat media cetak Koran Tokoh.

    Usai proses Registrasi, gelaran dibuka oleh Bapak Rudy Lai pimpinan PT. Sistech Kharisma selaku penyelenggara kegiatan, yang menyatakan Terima Kasihnya kepada para finalis yang telah ikut serta dalam event HTC One Road to Bali the Final di Seminyak kali ini. Dilanjutkan dengan memperkenalkan secara sepintas kemampuan handal yang dimiliki oleh perangkat HTC One X, salah satu dari One Series Android yang dirilis dengan memanfaatkan OS ICS.

    Sesuai rencana yang disampaikan sebelumnya lewat email, bahwa akan ada sesi photo competition bagi para finalis menggunakan perangkat HTC One X dimana peserta akan memperebutkan hadiah utama perangkat yang sama. Tampak Semua peserta yang hadir dari Finalis pemenang photo competition HTC kemudian dibagi menjadi tiga kelompok kecil untuk mendapatkan pencerahan tips dan trik pengambilan gambar dari seorang fotografer ternama di Bali, Dewandra Djelantik. Sedangkan kami, peserta dari kategori umum (media dan komunitas) digabung menjadi satu kelompok khusus untuk diikutsertakan dalam kompetisi untuk memperebutkan perangkat level menengah, HTC One V.

    Perburuan objek pun dimulai. Dari tiga kelompok yang ada, telah disiapkan tiga orang model yang diposisikan di tiga venue seputaran hotel, yang kemudian dirolling setelah batasan waktu yang ditentukan bagi masing-masing kelompok habis. Kalo gag salah ingat, satu model berada di area jembatan cinta di sisi belakang panggung, satu model berada di jajaran gazebo dekat area makan malam dan satu lainnya berada di pinggiran pantai dekat lokasi Registrasi. Sedang kami, peserta kategori umum lebih diberi kebebasan untuk mengambil objek foto diseputaran hotel termasuk ketiga model yang telah dipersiapkan tersebut.

    Pasca tiga sesi foto tadi, ada satu sesi foto tambahan yang secara langsung dibimbing oleh Dewandra Djelantik, fotografer ternama yang rupanya masih teman satu sekolahan SMP dengan saya (:p) untuk mengambil gambar Sunset yang memang telah dinanti-nanti oleh para finalis, mengingat Kuta merupakan lokasi yang ideal untuk bisa mengabadikannya. Ada beberapa tips yang diberikan untuk sesi terakhir kali ini, diantaranya trik pengambilan gambar yang membutuhkan kehati-hatian agar tidak menimbulkan flare atau sinar merah yang berlebih pada objek, pula sudut pengambilan gambar berdasarkan spesifikasi khusus dari lensa yang dimiliki oleh perangkat HTC One X.

    Sembari sesi upload hasil foto serta proses penjurian berlangsung, peserta dihidangkan menu makan malam dan live music, yang ternyata membutuhkan waktu cukup lama mengingat hasil gambar yang telah diambil tadi lumayan membuat bingung para penilai untuk memutuskan dua terbaik diantaranya. Adapun masing-masing peserta dari kategori finalis diharapkan menyerahkan empat gambar yang diambil dari tiga model dan sesi sunset, sedangkan umum cukup satu gambar yang kami anggap terbaik. Lalu Hasilnya ?

    Untuk kelompok Finalis, dimenangkan oleh Arnold Arief peserta dari Bandung yang mengambil gambar sunset lengkap dengan obyek Nelayan dan pancing yang diperangkan oleh model, sedangkan untuk kategori umum dimenangkan oleh *ehem PanDe Baik lewat foto vas bunga di meja pinggiran yang diambil secara gag sengaja ditambah sedikit efek menggunakan aplikasi Photo Ediitor. Surprise tentu saja.

    Gelaran acara HTC One Road to Bali the Final ini pada akhirnya ditutup dengan sesi foto bersama seluruh Peserta disertai pembagian Goodie Bag dari HTC sebagai kenang-kenangan.

    —–
    Ini adalah press release dari blog www.pandebaik.com sebagai rasa Terima Kasih telah mengundang BaliDroid Community ke ajang HTC One Road to Bali the Final, namun jika ingin tau bagaimana rasanya hadir di perhelatan tersebut, simak tulisan selanjutnya yah…

    *foto-foto diambil dari album Gathering HTC ONE Road to Bali the Final – 13 Juli 2012 yang dijepret langsung oleh admin Aryaputra Pande