#HPjadul HP iPaq 6515 Mobile Messsenger Jaman Old

Category : tentang TeKnoLoGi

Melanjutkan kesuksesan PDA Phone Jaman Old yang dibesut brand ternama HP Hewlett Packard lewat seri iPaq 6365, setahun kemudian kembali meluncurkan seri 6515 yang dijual dengan status Upgrade pada beberapa spesifikasi yang dianggap penting.
Salah satu diantaranya adalah OS.

Dengan dibekalinya sistem operasi Windows Mobile for PocketPC Second Edition membuat HP iPaq 6515 jadi sedikit lebih nyaman untuk digunakan meski dalam jangka lama sekalipun. Apalagi dengan tambahan keyboard qwerty di bawah layar, menjadikan seri ini digadang-gadangi sebagai Mobile Messenger Terbaik pada Jaman Old.
Konsekuensinya, dimensi layar jadi terpotong bujursangkar, lumayan menyulitkan bagi pengguna lama dalam operasional perangkat, utamanya pada aplikasi yang memang di-setup sesuai standar baku dimensi layar sebelumnya.

Selain melakukan peningkatan sistem operasi, salah satu jeroan yang pula di-Upgrade adalah lensa kamera pada sisi belakang ponsel yang sudah mencapai 1,3 MP lengkap dengan LED Flash serta kecepatan prosesor 400 MHz.

Tidak lama pasca 6515 dirilis, seiring diperkenalkannya sistem operasi Windows Mobile 5.0 pada khalayak publik, seri ini dirilis kembali lewat seri 6915 yang sedikitnya memiliki 4 varian lain di berbagai belahan negara.
Disandingkan dengan seri sebelumnya, perangkat ini jauh lebih ringan lagi dari segi bobot serta menghilangkan tonjolan antena pada bodi sehingga jauh lebih nyaman saat dimasukkan ke saku baju.

#HPjadul, #HP, #iPaq, #6515, #6915, #PDA, #Phone, #Windows

#HPjadul HP iPaq 6365 PDA Phone Elegan Jaman Old

Category : tentang TeKnoLoGi

Ketika pasar global mulai diramaikan dengan kehadiran PDA Phone, sebuah perangkat konvergensi yang memiliki kemampuan kerja juga telepon voice, HP Hewlett Packard yang saat itu sudah secara rutin meluncurkan perangkat PDA lewat iPaq series mencoba peruntungan, masuk pada segmen yang sama melalui seri iPaq 6365 dengan spesifikasi yang sudah sedikit lebih baik ketimbang para kompetitornya.

Dilihat dari daleman, setidaknya HP iPaq 6365 sudah mendukung konektivitas Wifi dan Bluetooth plus kapasitas dan daya tahan batere yang lebih baik. Meski dari besaran internal memory bisa dikatakan masih sangat terbatas, hanya 64 MB.
Untuk lebih mendukung produktivitas kerja penggunanya, dalam paket penjualan disertai pula keypad add-on opsional yang dapat dilekatkan di sisi bawah ponsel.

Penampilan HP iPaq 6365 ini cukup elegan pada jaman old. Ditambah tonjolan antenna pada sisi kiri atas, mengingatkan kita pada seri-seri ponsel terdahulu lengkap dengan tambahan konektivitas InfraRed, dibalut sisi gelap sebagai tone khas perwajahan.
Dari sisi dimensi jadi sedikit bulky pada saat digenggam, namun masih tergolong lebih ringan ketimbang perangkat O2 XDA II yang mengandung unsur logam.

Sayangnya kelemahan perangkat ini masih sama dengan pendahulunya. Potensi kehilangan data saat batere ponsel habis sampai titik Nol persen. Gegaranya ya sistem operasi yang masih mengadopsi versi pertama. Baru terpecahkan ketika para geek yang tergabung pada Forum XDA Developers berupaya merilis Second Edition bagi semua Windows Phone untuk mengatasi persoalan kehilangan data tersebut.

#HPjadul #HP #iPaq #6365 #PDA #Phone #Windows

Android HP Slate 7 ?

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Kalo beneran HP Slate 7 dibanderol 1,6 jutaan, siap”nabung deh… #Android Dual Core RAM 1 GB layar 7″

Terkait info HP Slate 7, seandainya berkaca pada kasus #Android Nexus 7, rasanya susah bisa ngedapetin harga sesuai pasarannya di luar… Tablet #Android Nexus 7 kalo gag salah dibanderol murah, sekitar 2,8 Juta, tapi di Indonesia harganya masih diatas itu… 2 faktor yg menyebabkan harga pasar Tablet #Android Nexus 7 begitu tinggi, al. cukai dan stok yg terbatas, sementara permintaan tinggi. Tapi kalo gag salah http://blibli.com sempat nawarin harga 2,9 juta di awal”dulu… Beneran gag yah ? *Tablet #Android Nexus 7

Sebetulnya ada banyak stok Tablet dengan spek serupa, namun harga kisaran 1/1,5 jutaan… Tapi berhubung merek lokal/china,agak was”juga… Sedang Brand HP/Hewlett Packard bolehlah jadi jaminan mutu. Meski masih ragu, apakah Slate 7 bakalan dukung Voice macam GalTab 7 atau tidak?

Tadi sempat hunting di YouTube, nemu juga bbrapa video yang nayangin info Hands on HP Slate 7 #Android. Diluar prosesor, ternyata HP Slate 7 punya spek serupa Nexus 7-nya Google, termasuk minus dukungan 3G. Tapi yang keren, HP Slate 7 didukung Beats Audio seperti halnya Smartphone milik HTC

Selain itu, untuk bodi juga gag tebel”amat seperti gambarnya, lebih ramping pula ketimbang Nexus 7

AnDroid panDe Baik HP Slate 7

Nilai plus dari HP Slate 7 adalah keberadaan lensa kamera 3,2 MP yang meski standar, tapi setidaknya bisa mengabadikan gambar. Sayangnya, HP merupakan pemain baru di #Android, belum jelas apakah mereka bakalan menurunkan Update OS nantinya. Sandingkan dengan Nexus 7 yang dijamin oleh Google untuk urusan Update OS. So, pilihan kini ada ditangan masing”

Mau pilih Harga ? atau Spek dan Dukungan vendor ?

Windows Mobile, Symbian dan Android. What’s Next ?

4

Category : tentang TeKnoLoGi

Mengenali satu persatu dari ketiga sistem operasi besar diatas rupanya membutuhkan waktu yang cukup lama bagi blog www.pandebaik.com. Sebenarnya dari ketiga diatas, Symbian 1rst Edition merupakan sistem operasi ponsel pertama yang saya kenal dan gunakan, tepatnya pada perangkat Nokia 7650 atau yang dikenal dengan sebutan ponsel artis. Windows Mobile baru saya kenal untuk pertama kali pada tahun 2005, setelah menanam angan selama dua tahun lamanya.

Jika mau dirunut dari awal, sistem operasi perangkat mobile ponsel yang paling pertama ingin saya coba dan miliki adalah Palm. Kalo gag salah pada bulan April tahun 2003, InfoKomputer sempat menurunkan topik Perangkat Konvergensi yang  menyajikan beragam ponsel pintar dari sistem operasi Palm, Windows Mobile, Symbian UIQ, Linux dan Nokia Communicator. Mengapa saya pilih Palm ? karena dari sekian banyak pilihan perangkat, hanya perangkat Palm-lah yang harganya paling terjangkau. Namun sayang, faktor kesulitan untuk mendapatkannya perangkatnya merupakan hambatan pertama. Dan yang paling membuat saya merasa ilfil adalah, penjelasan dari seorang teman yang sudah sejak lama menggunakan perangkat Palm menjelaskan bahwa Palm tidak mampu melakukan aktifitas Multitasking (melakukan beberapa aktifitas pekerjaan dalam satu waktu/bersamaan).

Ternyata Perlu waktu dua tahun setelahnya, untuk bisa menjajal perangkat berbasis Windows Mobile layar sentuh tepatnya pada awal tahun 2005. Itupun dengan membeli perangkat T-Mobile MDA II yang merupakan varian dari O2 XDA II secara Second di gerai ponsel seputaran Kota Denpasar. Saat memanfaatkan pdaphone O2 inilah, saya lantas mulai berkenalan dengan perangkat sejenis lainnya seperti Audiovox Thera, Windows Mobile layar sentuh dengan frekuensi CDMA  dan tentu saja O2 Xphone iim yang hingga kini masih saya simpan, merupakan salah satu perangkat berbasis Windows Mobile Smartphone non layar sentuh.

Perangkat mobile dengan sistem operasi Symbian, tepatnya lewat ponsel Nokia N73 ME merupakan andalan saya berikutnya beberapa saat menjelang kelahiran putri kecil kami, MiRah GayatriDewi. Perangkat inilah yang banyak berperan dalam melahirkan video dan foto kelahirannya hingga kini. Bersamaan dengan perangkat Symbian ini, sayapun kembali berkenalan dengan perangkat berbasis Windows Mobile PocketPC atau yang berlayar sentuh tepatnya dalam 2 (dua) varian. O2 XDA Atom dengan frekuensi GSM, dan AudioVox PPC 6700 dengan frekuensi CDMA. Sayang, dalam perjalanan kedua perangkat ini saya jual kembali guna nambah-nambahi uang SPP kuliah pasca Sarjana saya semester terakhir.

Android. Merupakan sistem operasi dari perangkat mobile milik mbah Google merupakan yang terakhir saya kenal. Tepatnya sejak pertengahan bulan Maret lalu. Bisa jadi, ini merupakan puncak kedua saya dalam melakukan eksplorasi perangkat secara mendalam pasca Windows Mobile terdahulu. Berkenalan dengan Samsung Galaxy ACE S5830 benar-benar membuat hidup saya jauh berbeda dengan sebelumnya. Yang paling kentara adalah mobile internet secara full time alias unlimited bersama XL (promo mode ON). Dengan perangkat ini pulalah blog www.pandebaik.com secara drastis menurunkan liputan Review perangkat dan aplikasi secara terus menerus dalam kurun waktu satu bulan lebih lamanya. Mumpung lagi hangat-hangatnya.

Lantas, What’s Next ? apa selanjutnya ?

Jika ngomongin iPhone, jujur saja dengan budget bekal gaji yang saya dapatkan sebagai PNS rasanya bisa dikatakan hanyalah sebuah mimpi indah. Nominal Budget yang diperlukan untuk dapat memiliki serta mengeksplorasi sebuah perangkat iPhone sungguh teramat mahal. Beum lagi untuk mencoba puluhan aplikasi impian yang rupanya berbayar, berbanding terbalik dengan perangkat Android. Demikian halnya dengan Windows Phone yang rata-rata banderolnya masih diatas rata-rata.

Bagaimana dengan BlackBerry ? atau Symbian layar sentuh ? Enggak deh. Lagipula berkat bantuan beberapa Emulator/Simulator perangkat BlackBerry dan juga Symbian berlayar sentuh, saya tak lagi dituntut untuk membeli perangkatnya secara langsung, karena ternyata aplikasi yang mampu dijalankan pada perangkat NoteBook tersebut berfungsi sama maknyusnya dengan perangkat yang sesungguhnya, meski masih ada beberapa keterbatasan. Disamping itu, keberadaan dua perangkat ini bisa dikatakan sudah biasa ada di lingkungan saya sebagai seorang PNS. Jadi kalopun ingin tahu lebih jauh, tinggal pinjam pakai, dijajal atau diwawancanda eh wawancara.

Lantas apa dong yang ingin dioprek selanjutnya ?

WebOS.

Kalau tidak salah perangkat mobile berbasis WebOS sebenarnya sudah diperkenalkan pada publik sekitar tahun 2009/2010 lalu oleh Palm lewat Palm Pre. Sayangnya kemunculan Palm Pre seolah terlewatkan begitu saja oleh publik pasca dirilisnya iPhone 3G/3GS  yang memang fenomenal itu. Palm yang kemudian diakusisi oleh Hewlett Packard HP, kemudian merilis kembali perangkat mobile berbasis WebOS lewat ponsel berwajah serupa namun bernama beda. HP Pre 3 dan HP Veer. Kabarnya sistem operasi ini tak jauh berbeda dengan iOS yang diadopsi iPhone dan Android tentu saja.

Hanya saja, (lagi-lagi) mengingat faktor harga yang masih tergolong tinggi untuk ukuran PNS seperti saya, agaknya impian ini tidak mampu saya wujudkan dalam waktu dekat. Apalagi kabarnya, belum banyak aplikasi yang mendukung keberadaan sistem operasi mobile yang satu ini.  Tapi ya semoga saja bisa bertambah baik dalam waktu dekat. Jadi ya tunggu saja bagaimana kelanjutannya. Hehehe…

Mengagumi ProBook 4320s Menganaktirikan Compaq CQ40

12

Category : tentang TeKnoLoGi

Ada perasaan aneh dan juga kasihan ketika saya memutuskan untuk menonaktifkan notebook (baca:laptop) Compaq CQ40 sementara waktu. Bagaimana tidak, ni notebook sudah satu setengah tahun menemani hari-hari, terutama setelah terselesaikannya Thesis Pasca Sarjana serta menggantikan posisi Acer 4520 terdahulu.

Sejak saya resmi bergabung di LPSE Badung beberapa waktu lalu, sebagai tenaga yang didaulat untuk menjadi Admin Agency, saya pun berhak mendapatkan bantuan satu notebook yang serupa dengan milik Admin System, untuk menunjang pekerjaan saya selama bertugas. NoteBook itu HP ProBook 4320s.

Dibandingkan dengan dua notebook yang (pernah) saya miliki,  jujur saja saya jauh lebih suka desain Compaq CQ40 yang memang jauh lebih elegan dan dinamis. Disamping itu bisa jadi lantaran saya sudah jauh lebih familiar menggunakannya ketimbang ProBook ini.

Secara prosesor, Compaq CQ40 yang menyandang AMD Turion dan kartu Grafis Ati Radeon plus memory (RAM) 2GB, secara kinerja ternyata kalah jauh dengan HP ProBook 4320s. Jelas saja saya maklum, wong ni ProBook sudah menyandang prosesor intel core 3 atau yang dikenal dengan istilah i3 plus memory 3GB meski tanpa bantuan kartu grafis.

Saya katakan demikian setelah mencoba menjalankan beberapa aplikasi tingkat tinggi yang rata-rata mensyaratkan spesifikasi tertentu agar bisa berjalan dengan baik. Katakanlah AutoCAD, Photoshop CS4 atau games lama Need For Speed UnderCover.

Jika saat saya menggunakan Compaq CQ40, memerlukan masa tunggu yang lumayan lama (hitungan 7-10 detik) untuk menyatakan bahwa aplikasi siap digunakan, tidak demikian halnya dengan ProBook. Demikian pula dengan start up awal sistem operasi yang terasa begitu jelas perbedaannya.

Dilihat dari efek panas yang diciptakan ketika dipangku saat dinyalakan, Compaq CQ 40 bisa dikatakan lebih baik ketimbang Acer lama saya, namun ProBook malah jelas jauh lebih baik lagi. Entah karena bahan metal yang digunakan untuk melapisi bodi notebook secara keseluruhan ataukah memang faktor perbedaan penggunaan prosesor ?

Butuh waktu lama untuk bisa menyesuaikan diri dengan baik dalam menggunakan ProBook. Mengingat begitu banyak hal yang masih tersimpan didalam notobook lama. Dari data dan foto pribadi, dokumen kantor, multimedia dan juga hasil donlot, setting akun email, bookmark browser hingga beberapa aplikasi yang kerap digunakan dan jujur saja saya lupa dapat dari mana.

Praktis, semua data pribadi yang dahulu mengambil space setengah harddisk notebook lama, secara bertahap dipindahkan ke ProBook yang ternyata punya space yang tidak jauh berbeda. Itu sebabnya, Compaq CQ40 yang dahulu begitu saya banggakan, kini malah adem tersimpan dalam tas yang dahulu menjadi teman setianya.

Nokia seri lama PLUS nama baru

3

Category : tentang TeKnoLoGi

Agaknya Nokia memang sudah kehabisan stok buat menamakan seri ponsel yang dirilis belakangan ini, yang rata-rata diberikan embel-embel tambahan seperti Xpress Music, Music Edition, White Edition, Black Edition, 8GB, Slide, Classic, Prism, Luna dan tentu yang terbaru Fold.

Untuk lima embel-embel pertama yang disebutkan biasanya merupakan penambahan satu dua item dari rilis seri sebelumnya seperti perubahan warna chasing bodi, peningkatan memori luar yang disertakan maupun penambahan kapasitas memori internalnya.

Untuk yang embel-embel Slide, biasanya sih dirilis barengan dengan yang desain batangan, tentu saja yang tampak jelas berbeda ya perihal desain tadi. Biasanya untuk tipe yang Slide dirilis jauh lebih mumpuni dibanding desain batangan tadi.

Sedang untuk empat embel-embel terakhir, biasanya sih baik desain dan fiturnya beda jauh dengan seri dengan nomor sama sebelumnya.

6600-200.jpg

Mungkin saja ini sebagai strategi pemasaran aja, berhubung nomor seri lainnya kurang menggigit pabila dipake sebagai ponsel rilis barunya.

Hanya saja, pernah gak ya terpikirkan mengapa angka 4 blom pernah digunakan oleh Nokia dalam rilis seri ponselnya ?

Kabarnya di beberapa negara Asia (yang merupakan pangsa pasar terbesar brand ini), angka 4 apabila dilafalkan mirip dengan arti kata mati dalam kosa kata bahasa yang sama.

Itu sebabnya mengapa angka 4 blom pernah sekalipun dirilis oleh Nokia sebagai nomor serinya yang terbaru.

Nokia 5300 Simpel buat dikantongin

1

Category : tentang TeKnoLoGi

Ha… sejak punya blog rasa-rasanya tiap kali ngliat sodara ataupun rekan nenteng ponsel baru, membuat otak gak sabar untuk mereview ponsel tersebut dengan cara tersendiri. Yah, kali aja ada yang tertarik dengan tipe tersebut, sehingga bisa mempertimbangkannya kembali usai mampir ke blog ini. Kali ini seorang ponakan yang baru lulus SD, diberikan hadiah ponsel Nokia 5300 oleh orang tuanya, mengganti seri lama 3610 dari merek sama, milik sang ortu dahulu.

n5300-1.jpg

Ponsel dengan konstruksi sliding ini pertama kali dikenalkan sekitar bulan September 2006 lalu (udah lama juga ya ?), dalam jajaran ponsel musik berbarengan dengan sang adik, Nokia 5200 yang punya kekurangan dalam banyak hal. Mengadopsi Nokia series 40, yang artinya sangat terbatas apabila sang pemilik menginginkan penambahan aplikasi penting macamnya spreadsheet atau hiburan lainnya. Hanya saja, lantaran dalam hal ini si pemakai baru naik tingkat dari sekolah dasar, maka keperluannya paling banter ya sms, nelpon, jepret kamera, ringtones, bagi-bagi video dan juga nge-games. Akan berbeda halnya dengan saudaranya yang punya konstruksi putar, Nokia 5700, yang udah melek Symbian 60.

Jika dibandingkan dengan series 40 lainnya, ponsel ini tergolong memakai interface terbaru, artinya ada modus siaganya dilayar depan (wallpaper), yang mampu menampilkan ikon-ikon kecil, sebagai tanda item menu yang paling sering diakses. Ini bisa merupakan gangguan bagi mereka yang masih suka narsis, memampang foto manisnya diri sendiri, jelas tak indah jika harus terganggu oleh tampilan siaga aktif tersebut. Tentu saja ini bisa di non-aktifkan kok.J

n5300-2.jpg

Desain sliding artinya pada bagian utama, hanya menampilkan dua tombol akses menu, tombol navigasi dan tentu saja tombol sambung-putus, dan berhubung ponsel ini didedikasikan sebagai ponsel musik, ada tambahan 3 tombol akses musik disisi kiri bodinya. Sedang bagian yang kedua berisikan keypad numerik, yang tentu memberikan keleluasaan layar yang sudah 262K plus resolusi Qvga (240×320 pixel). Lebih besar dibanding ponsel dengan desain batangan macamnya 6275i. Namun desain sliding khas Nokia memang blom bisa menyamai brand lain yang terkenal dengan ketipisan bodinya walopun mengadopsi bentuk sliding, seperti Samsung.

0805-015.jpg

Harga baru tipe ini ada dikisaran 1,5 juta, sudah mendapatkan ponsel dengan kamera 1,3 MP, plus tambahan memori eksternal MicroSD, dengan memori internalnya sendiri cukup lapang yaitu 30MB. Dalam rentang harga segitu, salah satu saingannya dari saudara sendiri adalah tipe 6300 yang punya desain batangan, namun dikenal dengan ketipisan bodinya, plus kamera 2MP dan tentu saja layar warna yang udah 16bit. Tentu saja jauh lebih kinclong buat melihat foto diri. Hanya saja, kalo mau dibandingkan antara sesamanya tadi, jelas ponsel Nokia 5300 ini jauh lebih enak digenggam bagi mereka yang memiliki genggaman tangan kecil, plus lebih simpel jika diselipkan di saku baju.

Hmmm.. ponsel ini pernah liat dimana yah ?

Category : tentang TeKnoLoGi

Invasi ponsel China kenegeri ini layaknya penyerbuan pasukan AS ke Irak tempo hari, tiada henti dan hilang satu berganti yang lain. Tujuannya tetap satu jua.

Dilihat dari segi fitur yang ditawarkan maupun beragam kecanggihan teknologi masa kini yang dibalut dengan harga murah, ponsel China agaknya mulai mengambil sebagian potongan kue yang dahulu dijatah untuk brand-brand kelas dua sekaligus mengancam mereka, macamnya Samsung, LG, Motorola apalagi Philip.

ponsel-mc-njipla.jpg

Apalagi kalo hingga ke tahap desain yang meniru plek desain ponsel brand ternama macamnya Nokia dan juga Sony Ericsson, yang duluan ngetop, wah wah wah, dijamin laris bagi mereka yang mengutamakan harga murah, sudah mendapatkan tampang ponsel dengan desain te o pe, tak jarang sudah berlayar sentuh pula.

ponsel-mc-psp.jpg

Herannya makin kesini nyatanya penjiplakan desain bukannya makin surut, eh malah ada yang jauh lebih ancur, njiplak rupa game console PSP buatan Sony, yang walopun tujuannya tetap mengadopsi game (Nintendo) pada ponselnya terkesan malah memaksakan perwajahan keypad dan tombol lainnya.

Yang lantas keseringan menimbulkan tanda tanya dikepala kalo ngliat rilis baru ponsel China, eh ‘pernah liat dimana yah, desain ponsel seperti ini ?’ Halah…

Samsung S179

5

Category : tentang TeKnoLoGi

Ini sebagai jawaban bagi Adi Tirto Sabarno yang baru niat beli Samsung SCH S179
CDMA….

***
Samsung S179 ?

Hmm… make ni handset kurang lebih 3 bulanan.dijual karena mau nikah tapi minim dana. lumayan buat nambah-nambah.

Jatuh cinta karena bodi tipis, trus ekonomis lantaran ada kamera walo masih VGA dan
juga slot memori eksternal. hanya saja diluar kelebihan tadi nyatanya banyak
kekurangan yang harus dipertimbangkan.

ukuran, agak sulit bagi mereka yang memiliki jari besar seperti saya. salah pencet
terus.frekuensi, single band emang masih bisa make Flexy tapi sinyalnya putus-putus harus
nyari tempat yang pas dan gak geser-geser. maklum, kalo bukan Nokia, rata-rata
emang begitu adatnya.

Java ?gak mendukung. yang didukung malah BREW layaknya ponsel-ponsel Korea (kyocera
misalnya), dan sialnya aplikasi ato games yang mendukung BREW sangat minim malah
susah nyarinya.

Gak bisa sembarangan ganti ringtone (nambah dari luar).selain emang cuman mendukung Poliphonic karena file MP3 gak bisa diset jadi Ringtone, untuk memasukkan dan ngeset file midi jadi ringtonepun harus make bantuan Kabel Data plus softwarenya yang gak include dijual dalam Box. jadi harus beli sendiri.Kabel Data seharga 75ribu dibeli dari Distributor Samsung.Software gak disediakan dalam bentuk cd tapi harus didonlot sendiri ke websitenya
Samsung.Jadi untuk ngoprek isi handset ya seperti make Nokia PCSuite.

Layar terbatas pada ukuran 128×128 pixel dimana untuk gambar depan hanya bisa
dibuatkan pas ukuran 128×96 pixel kalo ndak salah.itu karena sisa pixel pada ukuran vertikal harus dipotong untuk list hitam bagian atas dan bawah yang gak bisa diubah (diotak-atik)

Gambar/foto yang berada pada kartu memori eksternalpun gak bisa diset jadi
wallpaper ato gambar depan tadi, tapi harus dicopy/move terlebih dahulu ke memori internal yang besarnya cuman 7 MB.

Hasil rekaman video emang bagus, tapi dalam format MJPG. itu artinya sulit untuk dinikmati kembali pada handset merk lain atopun pada PC, lantaran codec-nya sangat susah dicari.Ini termasuk susah pula untuk di-convert agar bisa ditonton di player.

Demikian pula untuk kamera, hasilnya tergolong bagus untuk kelas VGA.tapi kalo mau dipindah ke PC, terlebih dulu harus dicopy/move ke kartu memori eksternal dulu, baru dipindah dengan bantuan card reader.tapi kalo dah punya kabel data, ini bukan masalah lagi.

Pada pembelian gak dapet kartu memori eksternal, jadi harus beli sendiri.

Jadi secara total keseluruhan, kalo mau ditotal harus punya budget sekitar 1,5 juta.1,15 juta buat handset.100 ribu buat kartu MicroSD 512 MB.75 ribu untuk kabel data.dan 50 ribu minimal buat ngedonlot software. sisanya mungkin buat mencari file Games ato aplikasi yang mendukung BREW atopun Codec Videonya.

Dengan harga segitu, mending ditambah dikit biar bisa dapet Nokia 6275i seperti
yang dipake sekarang.

selain kekurangan diatas tadi sudah tercover oleh Nokia 6275i artinya gak ditemukan
lagi keribetan tersebut, dalam box penjualan juga sudah ada memory eksternal MicroSD 256 MB. ini bisa diganti baru dicoba sampe 1 GB aja.

So, secara pribadi agak nyesel juga ngebeli Samsung S179, karena dengan harga yang selisih sedikit bisa ngedapetin Nokia 6275i yang sangat jauh lebih memuaskan.udah Bluetooth, IrDa, Kamera 2MP, memori internal 20MB, eksternal sampe 1 GB belum bermasalah, layar lebar (240×320 pixel) plus warna 265K. Kekurangannya cuman 1, slot memori gak hotswap seperti halnya Samsung, tapi harus ngebuka batere terlebih dahulu. tapi selama PC sudah terdapat Bluetooth eksternal, ya gak perlu buka-buka batere lagi. cukup pake Nokia PCSuite yang sudah include dalam bentuk cd didalam box
penjualan.

Semoga informasi ini berguna.Terima kasih.