Lokasi Terbaik dan Strategis Untuk Menginap di Hotel Singapore

Category : tentang PLeSiran

Singapore telah menjadi destinasi wisata yang terpopuler beberapa tahun belakangan ini. Gak hanya karena harga tiket ke Singapore yang murah, tapi juga karena disana terdapat berbagai macam tempat wisata yang luar biasa. Seperti contohnya Universal Studio Singapore, Merlion Park, Little India dan masih banyak lagi.
Namun, jika anda tidak berhati-hati dalam memilih tempat anda menginap, resikonya liburan anda akan berantakan. Persiapan yang matang sebelum liburan sangat penting disini, mulai dari cari tiket pesawat ke Singapore, lokasi wisata yang akan anda kunjungi, hingga tempat menginap yang nyaman selama anda bermalam disana.

Dari beberapa hotel di Singapore yang terkenal, kami telah merangkum daerah dan hotel yang strategis dan nyaman untuk bermalam. Penasaran apa saja? Ini dia list hotel di Singapore sebagai referensi anda:

Pulau Sentosa (Sentosa Island)

Pulau ini merupakan daerah yang sangat terkenal di Singapore karena disini terdapat tempat wisata yang sangat popular, yaitu Universal Studio Singapore, Maddam Taussad, dan lain-lain. Pulau ini terletak di daerah selatan Singapore.
Karena basicnya pulau ini adalah Resort, maka harga hotel disini juga bisa dibilang cukup mahal. Beberapa hotel di daerah ini adalah Hard Rock Hotel, Le Meridian Hotel, Michael Hotel, Festive Hotel, Amara Sanctuary Resort, dan masih banyak lagi

Kawasan Marina

Pada dasarnya daerah ini merupakan daerah pusat bisnis (Central Business District) yang banyak dipadati oleh penduduk, tapi karena di daerah ini terdapat banyak tempat menarik jadi banyak turis yang lebih memilih menetap di daerah ini.
Terdapat hotel dengan berbagai bintang, mulai dari bintang 3 sampai bintang 5.
Mereka rata-rata menjual lokasi hotel mereka yang strategis dan menghadap ke Marina Bay, sehingga pemandangan yang diberikan memang sangat indah terutama pada malam hari. Pada malam hari, anda bisa melihat cahaya dari bintang-bintang di langit yang berlandaskan penerangan gedung-gedung bercahaya membuat pemandangannya tak terkalahkan.
Beberapa hotel yang terkenal di daerah ini adalah Marina Bay Sands, Marina Mandarin Hotel, Cariton Hotel, Raffles Hotel, dan masih banyak lagi.

Orchard Road

Anda belum afdol kalau ke Singapore tapi gak mampir ke daerah Orchard Road. Tempat ini adalah surganya belanja, jadi buat kalian yang membawa pacar diharapkan hati-hati dompet anda bakal kurang gizi, hehe. Hampir di sepanjang jalan terdapat mall-mall mewah dan toko-toko pernak-pernik yang bisa anda jadikan oleh-oleh.
Tempat ini juga terkenal dengan hotel-hotel di daerah ini karena biasanya orang-orang setelah berbelanja ingin langsung ke hotel tanpa ribet membawa barang-barang mereka ke penginapan. Salah satu tempat yang paling popular di jadikan tempat menginap adalah apartement Lucky Plaza yang bisa disewa perharian.
Beberapa hotel yang paling terkenal di daerah ini adalah Shangri-La Hotel, Holiday Inn Singapore, Mandarin Orchard Singapore, Grand Hyatt Singapore, Singapore Marriot Hotel, dan masih banyak lagi.

Ketiga daerah diatas adalah top 3 daerah yang paling digemari oleh wisatawan untuk menginap. Sebenarnya masih banyak lagi hotel di Singapore dan lokasi yang bisa dijadikan tempat menetap dan biasanya harga hotelnya juga jauh lebih murah dibandingakan daerah diatas, diantaranya adalah : Little India, Chinatown, Bugis, dan lain-lain. Pastikan anda sudah memperkirakan budget untuk hotel di Singapore tempat anda menginap nanti, jadi anda bisa mencari informasi hotel sesuai dengan isi kantong.

Kalau anda gak mau report memilih hotel, tempat wisata dan akomodasi lainnya, mungkin anda bisa menyewa jasa paket tour yang terpercaya. Sekarang banyak sekali penyedia jasa onlive travel yang murah-murah dan berkualitas bagus.

Semoga aritkel ini bisa menjadi referensi bagi anda yang berencana liburan ke Singapore dalam waktu dekat. Jika ada pertanyaan anda bisa comment dibawah, atau ingin sekedar sharing juga silahkan. Selamat berlibur!

Kamar 932 Hotel Borobudur Jakarta

Category : tentang PLeSiran

Untuk kelas sebuah hotel di DKI Jakarta, Hotel Borobudur kalo boleh saya cari persamaannya mirip dengan Grand Bali Beach yang ada di Sanur Bali.
Fasilitasnya tergolong lengkap. Areanya luas. Sehingga mereka yang menginap bisa memanfaatkan area taman dan jogging track untuk berolahraga atau menikmati waktu luang dengan optimal.

Kami berdua, saya dan sepupu menempati kamar nomor 954 sementara pimpinan diberikan sebuah kamar yang spesial, setidaknya menurut petugas di front office berhubung kamar dengan satu bed sebagaimana yang Beliau minta kebetulan penuh per hari kemarin. Sembari menunggu tamu yang akan check out, Ibu Kadis kami diberikan kamar sementara dan begitu ada kamar kosong, akan dikontak kembali. Done.

Kamar 932 menjadi spesial, dijelaskan karena secara luasan sedikit lebih besar ketimbang lainnya, dengan fasilitas shower dan bathub yang juga berbeda jenis dengan kamar lainnya. Posisi ada di tengah bangunan di depan lorong kaca menuju lift.
dan Kamar itu memang benar-benar “spesial”.
Setidaknya menurut putrinya Ibu yang selama ini tinggal di Jakarta, malam itu diajak menginap bareng untuk menemani aktifitas Beliau diluar agenda kerja.

Menjadi “Spesial” karena rupanya kamar 932 tersebut ada ‘penunggunya’. Ya. Serius.
A D A P E N U N G G U N Y A.

Edan bener.
Yang melihat ya putrinya Ibu.
Yang kelihatannya ketularan kemampuan melihat dari suaminya. Hiy…

Jadi pas tengah malam, yang bersangkutan terbangun gegara merasa gak enak feeling. Langsung ketakutan melihat sosok wanita berbaju putih duduk di kursi meja tulis pojokan ruangan. Setelah itu melayang dan nemplok di plafond kamar.
Praktis dia gak bisa tidur lagi dan pindah tempat ke bed satunya dimana si Ibu berada.
Dikira kangen ya si Ibu lanjut tidur sambil meluk putrinya.
Baru cerita pas pagi hari, dan ngotot minta Check Out hari itu juga.
Kebetulan deh… hehehe…
Tapi sebenernya si Ibu sempat juga merasakan hal yang sama di sore hari sebelumnya. Saat memilih untuk beristirahat tanpa AC, ruangan malah terasa jauh lebih dingin. Agak kebingungan, namun pikiran masih bisa positif dan mengabaikannya. Baru ngeh setelah denger cerita si anak. Hiy…

Tapi ya ngomong-ngomong soal ‘penunggu’ ya setahu saya rata-rata hotel besar pasti punya cerita yang sama. Katakanlah Grand Bali Beach tadi.
Ada satu kamar yang memang tidak dijual atau ditawarkan kepada tamu lantaran memang khusus diperuntukkan bagi Ratu Kanjeng Roro Kidul. Pernah baca di Intisari. Begitu juga Pelabuhan Ratu di Jogja.
Wajar sih ya.
Dan penunggu ini bisa jadi datangnya dari ‘tumbal’ tak sengaja yang mati saat pembangunan gedung atau memang ada dari sononya.

Jadi ingat cerita memetwitnya Winar. Hehehe…

Nikmati Liburan Akhir Pekan, Berburu Hotel lewat Traveloka

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang TeKnoLoGi

Dua tahun terakhir rasanya saya lebih suka melewatkan waktu libur di akhir pekan dengan cara menginap di obyek wisata tertentu atau penginapan terdekat dari lokasi wisata yang beken dikenal dekat dekat rumah. Tentu dengan mengajak anak-anak serta, ikut dalam misi liburan, refreshing suasana dan menebus rasa bersalah karena hingga kini, saya belum pernah mengajak keluarga berwisata ke luar daerah, di sela perjalanan dinas yang saya lakukan selama ini.
Sebagaimana yang sering dilakukan oleh ratusan PNS di luar sana.

Maka Bedugul, Ubud, hingga obyek wisata Air Panas Penebel pun coba dilakoni satu persatu.

Meski tidak di setiap akhir pekan, berhubung terkendala agenda, biaya dan juga kesempatan, namun minimal momen tertentu kami upayakan bisa dimanfaatkan dengan baik.
Libur panjang, Lebaran atau Libur sekolah, coba disempatkan sekali dua untuk bersantai sejenak dua hari satu malam tanpa beban.
Membunuh ponsel dan menikmati Quality Time bersama keluarga.

Adalah Traveloka. Satu diantara banyak pilihan aplikasi yang saya manfaatkan untuk mencari tahu hotel atau penginapan yang ada di sekitaran lokasi atau obyek wisata yang ingin kami kunjungi.
Dengan memasukkan tujuan destinasi juga waktu menginap, Traveloka akan memberikan sejumlah hasil berdasarkan tingkat kepopuleran review dari mereka yang sebelumnya pernah memanfaatkan aplikasi untuk melakukan hal serupa.
Bila dibutuhkan, tersedia beberapa pilihan filter lanjutan diantaranya kisaran biaya, fasilitas yang diharapkan ada, hingga nilai review atau kelas dan bintangnya.
Cukup memuaskan kok hasilnya.

Namun untuk langkah pemesanan hotel, saya lebih suka menghubungi nomor kontaknya langsung ketimbang memesannya lewat aplikasi Traveloka. Secara harga biasanya dapat lebih murah lewat negosiasi, pula info fasilitas bisa lebih akurat didapat. Karena dalam versi web terkadang semua hal tersebut jarang diUpdate sesuai kondisi terbaru. Termasuk soal ketersediaan kamar.
Untuk dapat melakukannya, kita bisa memanfaatkan halaman Google, mencari tahu nomor kontak berdasar nama hotel atau penginapan yang dituju. Termasuk peta lokasi yang dapat dihubungkan dengan Maps milik Google agar tidak tersesat saat waktu keberangkatan tiba.

Ada beragam kesan dan tips yang saya dapatkan kemudian. Setelah berproses dan menikmati hasil buruan sendiri.
Bahwa untuk kebutuhan refreshing suasana, kelak kami akan memilih akomodasi terdekat dari obyek wisata yang diinginkan. Agar bisa lebih pagi mencapai lokasi tanpa macet dan halanga lainnya.
Sedangkan untuk kebutuhan bersantai, kami akan memilih paket yang menyediakan fasilitas kamar double atau family room, atau satu villa dengan menyertakan kedua orang tua ikut serta. Secara tenaga mereka bisa dimanfaatkan juga untuk menjaga anak-anak disela aktifitas di lokasi. Hehehe…

Lorin Hotel, 13.14 PM

Category : tentang PLeSiran

Suasana Kota Solo tak ubahnya Batam, kota terakhir yang saya kunjungi tahun lalu. Lalu lintasnya tak begitu ramai. Kanan kiri pandangannya pun sepintas tampak sama. Yang membedakan hanya tanah merahnya saja.

Pengemudi taksi Golden Bird yang kusewa sejak mendarat di Bandara Adi Sumarmo pun bercerita, bahwa lokasi hotel yang nanti dituju sebetulnya gak begitu jauh dari bandara. Sekitar 10 menitan saja dengan melalui dua daerah, Boyolali dan Karanganyar, lalu belok kiri, nyampe dah.

Solo kota kecil. Kata si Bapak yang asli Solo itu, gak banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi kalo disandingkan dengan Bali. Saran Beliaunya, saya diminta mampir ke jalan Slamet Riyadi, tempat mangkalnya Bus berTingkat dan kereta api Uap yang bakalan mengajak kita keliling kota Solo. Bisa gak ya ambil waktu disela kesibukan nanti ?

Peserta sudah banyak yang menanti di depan hotel. Ini karena jadwal check in belum bisa diakses mengingat panitia kegiatan masih jalan jalan keluar. Harus menunggu sekitar dua jam-an lagi. Yo wis… harus jalan dulu kalo mau selamet.

Perut sudah mulai lapar. Snack Time yang diberikan awak pesawat barusan sepertinya belum bisa mengganjal. Usai menitipkan tas ransel di lobby, kakipun mulai gatal menyusuri trotoar jalan seputaran hotel, dan mata menangkap tulisan ‘Soto 100 Meter lagi’ nun jauh disana. Aha, gak jauh jauh rupanya.

Di jalanan Solo ternyata masih bisa menyeberang jalan secara sembarangan seperti di jalanan rumah. Belum diatur dalam satu jembatan penyeberangan layaknya Jakarta atau serempak di persimpangan layaknya Singapura. Jadi makin keenakan deh.

Kawan kawan rombongan Satker dari Provinsi Bali baru saja tiba. Suasana jadi sedikit cair berkat candaan mereka yang menyapa akrab sejak berpapasan di jalan tadi. Ternyata mereka mengirimkan Tim lengkap tanpa kehadiran sang PPK, pak Kadek Sutika. Kawan sekamar saat Rakor di Manado tahun lalu. Rencananya sih kali ini saya bakalan sekamar dengan Bapak Agus Yudi, Satker dari Bangli itu.

Lobby depan Lorin Hotel gak jauh beda dengan suasana Sanur Paradise yang ada di persimpangan Hangtuah, lagi lagi gak berasa berada di luar kota.
Jadi ya semoga saja waktu bisa berlalu cepat selama beraktifitas disini.
Sudah gak sabar menunggu waktu pulang.

Empat Video Van Der Spek Menampar Bali

1

Category : tentang InSPiRasi, tentang KeseHaRian

Menarik, Sangat Menarik tentu saja…

Menyaksikan satu persatu dari empat video tentang praktek Penipuan di Bali yang direkam secara diam-diam oleh Van Der Spek, seorang turis dari Belanda yang berprofesi sebagai Wartawan/Jurnalis sebuah media di negaranya, cukup membuat miris dada akan perilaku orang Bali yang tak lagi dikenal jujur dan ramah pada wisatawan. Semua hanyalah sebuah kamuflase yang dibalut oleh keserakahan akan uang.

Ya, uang kini sudah bagaikan Dewa dan menjadi segalanya…

Padahal jikapun diperhatikan jauh lebih dalam, rasanya Orang Bali pelan tapi pasti seakan sudah mulai melupakan ajaran agama yang sejak kecil ia baca, pelajari dan lakukan. Misalkan saja Tri Kaya Parisudha, Berpikir, Berkata dan Berbuat yang Baik…

Dengan bukti yang kini sudah dapat dilihat secara luas, apakah perilaku Orang Bali (meski hanya oknum, namun siapa peduli ?) sudah jauh dari keyakinan akan Karma Phala ?

Sangat disayangkan tentu saja, apabila praktek-praktek baik penilangan polisi atau pemeriksaan cukai yang berujung damai dengan uang yang dinikmati untuk kepentingan pribadi, atau penukaran uang yang dipenuhi praktek kecurangan plus iming-iming hadiah padahal itu sudah diatur sebelumnya ?

Entah harus berkata apa jika sudah terdokumentasi begini…

Video Van Der Spek Bali

Namun salute untuk si turis Belanda… Meskipun pada kenyataannya begitu banyak pula perilaku turis yang tidak sopan saat beraktifitas di Bali, setidaknya empat video ini (bisa jadi mungkin lebih) bisa mengingatkan kita bahwa di jaman teknologi modern dimana lensa kamera tak lagi hanya berada dalam perangkat dimaksud atau dibadan ponsel, semua aktifitas yang kita lakukan mampu terekam dengan baik, disengaja ataupun tidak. Tapi apabila yang namanya etos kerja, prinsip menghormati dll tetap dijunjung oleh semua kalangan pekerja swasta maupun negeri dimanapun mereka berada, saya yakin gag bakalan ada yang seperti ini, meski satu dua bisa saja bernasib apes saat mencoba mempraktekkannya.

Ngomong-ngomong, dengan adanya bukti otentik seperti ini apakah pihak terkait yang merasa tertampar tidak akan melakukan perubahan baik sistem maupun mental oknumnya ? Inilah yang patut dipertanyakan kali ini.

Misalkan saja seperti penilangan polisi yang berujung damai, apakah tidak ada cara lain yang lebih memudahkan masyarakat yang melanggar aturan lalu lintas melakukan proses yang aman, tanpa pemborosan waktu, biaya dan tenaga ?

Saat kami diskusi dengan kawan-kawan seruangan kantor, ada banyak ide yang disampaikan terkait ini. Memperbanyak sosialisasi proses pengurusan tilang dimana kabarnya ada yang bisa dibayarkan lewat atm, sehingga yang bersangkutan tak perlu lagi repot ke pengadilan ? Entah dicetak besar, lalu ditempelkan di masing-masing pos polisi ? Atau pembayaran melalui pemotongan pulsa, mengingat kini ponsel rata”sudah dipegang oleh masyarakat hingga menengah ke bawah ?

Demikian halnya aksi Money Changer yang saya yakin, saya pun pernah menjadi korban saat melakukan penukaran mata uang dollar beberapa waktu lalu. Dan kini, video milik Van Der Spek telah membukakan mata akan pentingnya memeriksa kembali sekian banyak lembaran uang yang ditukar, langsung ditempat itu juga…

Semua hal yang dahulunya punya peluang untuk melakukan praktek kecurangan, saya yakin ada cara yang bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi yang kini semakin berkembang, meski yang namanya otak manusia tetap saja mencari celah bagaimana agar praktek tersebut bisa kembali dilakukan.

Kini saya masih berharap, akan ada video dari Van Der Spek yang kelima, enam, tujuh dan seterusnya, apakah itu mengungkap praktek pungli di birokrasi pemerintahan terkait pengajuan ijin, pembayaran pajak atau bahkan yang ada kaitannya dengan pengadaan barang jasa…

*colek LPSE dan ULP Badung *uhuk