Memantau Penghinaan terhadap Bali, Nyepi dan Hindu di akun FaceBook

Category : tentang KeseHaRian

Tempo hari sebelum hari raya Nyepi, saya masih sempat menyampaikan beberapa kalimat ungkapan hati, berkaitan dengan upaya penghinaan terhadap Bali, Nyepi maupun Hindu yang terpantau di akun FaceBook setiap kali Tahun Baru Caka datang.

Sudah biasa sebenarnya.

Lihat saja di halaman blog ini, ada beberapa tulisan yang dipublikasi dengan tema serupa. 2-4 tahun lalu.
Trus, kini masih ada ?

Tentu saja. Wong ndak semua bisa berpikiran sama kok. Dan sebagaimana pohon, tunas baru selalu bermunculan dengan kedewasaan dan pemahaman toleransi yang berbeda. Atau kalau mau, baca saja media cetak pasca Nyepi kemarin. Ada tuh beritanya.

Tapi iseng-iseng, saya mencoba memantau kembali, akun akun FaceBook mana saja yang tertangkap melakukan penghinaan ini. Dengan menggunaan kata kunci seperti (maaf) ‘Fuck Bali’, ‘Fuck Hindu’, ‘Fuck Nyepi’ atau dengan kata domestik (lagi-lagi maaf) ‘Bali Bangsat’, ‘Hindu Bangsat’, atau ‘Nyepi Bangsat’.

Ternyata dari beberapa hasil pencarian, rupanya tidak tertutup pada akun facebook di lokal domestik saja. Tapi ada juga yang dari akun FaceBook mancanegara. Dengan berbagai latar belakang alasannya. Bahkan meski tanpa melalui kata, ada juga kok akun lokal baik itu semeton Hindu dan juga umat lain, yang melakukan pelecehan akan pelaksanaan Nyepi itu sendiri.
Yuk lihat hasilnya.

Untuk

Hate Speech FB Lokal 01

Hate Speech FB Lokal 02

Hate Speech FB Lokal 03

Hate Speech FB Lokal 04

Hate Speech FB Lokal 05

Hate Speech FB Lokal 06

Hate Speech FB Lokal 07

Hate Speech FB Lokal 08

Hate Speech FB Lokal 09

Hate Speech FB Lokal 10

akan tetapi ada juga yang lewat BBM

Hate Speech BBM

makna nyepi

Hate Speech FB Makna 02

Hate Speech FB Makna 01

Hate Speech FB Makna 03

Hate Speech FB Makna 04

atau Blog

Hate Speech BloG

dan mancanegara

Hate Speech FB Manca 01

Hate Speech FB Manca 02

Hate Speech FB Manca 03

Hate Speech FB Manca 04

Hate Speech FB Manca 05

By the way, beberapa kawan yang tempo hari mempermasalahkan sempat mengungkapkan harapannya agar Pemerintah Daerah bisa membuat semacam aturan atau Perda terkait Penghinaan ini. Tujuannya ya tentu menindaklanjuti ke upaya berikutnya, agar jangan sampai terulang kembali di tahun berikutnya. tapi ya… namanya juga komen di akun FaceBook. rasanya ndak akan berlanjut lah ide ide itu…

Mengenal Barong Landung

2

Category : tentang iLMu tamBahan

Lima sosok tinggi besar itu tampak berjalan beriringan ditengah keramaian umat Hindu yang berjejal, beradu padu suara gambelan Batel, saat matahari masih bersemu merah diujung timur sana.

Barong Landung. Merupakan salah satu wujud susuhunan yang dikeramatkan oleh umat Hindu di Bali, dipuja sebagai simbol sejarah yang sangat kelam di masa lalu.  Sebuah Pralingga sekaligus perisai bagi desa-desa yang terancam kegeringan. Ditarikan sepanjang jalan desa dengan harapan dapat menimbulkan energi gaib, semacam tenaga baru, seperti yang dilakukan Dewa Siwa dengan tarian dandawa-nya untuk mengembalikan roh kehidupan.

Ada banyak versi cerita yang dapat diungkap untuk mengetahui sejarah keberadaan Barong Landung di tanah Bali. Salah satunya seperti yang diceritakan oleh Pande Ketut Wena (BaliPost/2005).

“Bersumber pada kisah Sri Jaya Pangus, raja Bali dari dinasti Warmadewa, dimana kerajaannya berpusat di Panarojan, tiga kilometer di sebelah utara Kintamani yang dituduh telah melanggar adat yang sangat ditabukan saat itu, yakni telah dengan berani mengawini putri Cina yang elok bernama Kang Cing Wei. Meski tidak mendapatkan berkat dari pendeta kerajaan, Mpu Siwa Gama, sang raja tetap ngotot tidak mau mundur. Akibatnya, sang pendeta marah, lalu menciptakan hujan terus menerus, hingga seluruh kerajaan tenggelam.

Dengan berat hati sang raja memindahkan kerajaannya ke tempat lain, kini dikenal dengan nama Balingkang (Bali + Kang), dan raja kemudian dijuluki oleh rakyatnya sebagai Dalem Balingkang. Sayang, karena lama mereka tidak mempunyai keturunan, raja pun pergi ke Gunung Batur, memohon kepada dewa di sana agar dianugerahi anak. Namun celakanya, dalam perjalanannya ia bertemu dengan Dewi Danu yang jelita. Ia pun terpikat, kawin, dan melahirkan seorang anak lelaki yang sangat kesohor hingga kini, Maya Danawa.

Sementara itu, Kang Cing Wei yang lama menunggu suaminya pulang, mulai gelisah, Ia bertekad menyusul ke Gunung Batur. Namun di sana, di tengah hutan belantara yang menawan, iapun terkejut manakala menemukan suaminya telah menjadi milik Dewi Danu. Ketiganya lalu terlibat pertengkaran sengit.

Dewi Danu dengan marah berapi-api menuduh sang raja telah membohongi dirinya dengan mengaku sebelumnya sebagai perjaka. Dengan kekuatan gaibnya, Dalem Balingkang dan Kang Cing Wei dilenyapkan dari muka bumi ini. Oleh rakyat yang mencintainya, kedua suami istri — Dalem Balingkang dan Kang Cing Wei — itu lalu dibuatkan patung yang dikenal dengan nama Stasura dan Bhati Mandul. Patung inilah kemudian berkembang menjadi Barong Landung.”

Akan tetapi Barong Landung ternyata lebih dari sekadar kisah sejarah. Ia bukan saja perkawinan lahiriah, tetapi juga budaya. Pernik-pernik budaya Cina seperti pis bolong, patra cina, barong sae, telah lama dikawinkan dengan budaya Bali, bahkan dalam bidang filsafat telah pula melahirkan paham Siwa Budha yang terus memperkaya tradisi agama Hindu sampai sekarang di Bali.

Barong berasal dari Tatwa Kanda Pat Bhuta, tepatnya adalah duwe dari Sang Catur Sanak yang mengambil wujud rwa bineda, dua sifat yang berbeda dari laki-perempuan, siang-malam, panas-dingin, dan sebagainya. Yang cair misalnya, kalau dipanaskan oleh api akan menguap ke langit (I Bapa), sedangkan api akan mengendap ke bumi (I Meme). Langit sendiri akan menurunkan hujan untuk menyuburkan bumi dan melahirkan kehidupan.

Kemungkinan besar Barong Landung adalah perwujudan I Bapa dan I Meme. I Bapa sebagai langit diwujudkan dengan warna hitam (Jro Gde), simbol dari Dewa Wisnu yang memelihara dunia, sekaligus Dewa Air yang menghanyutkan segala noda dunia, dan menjadi tirta penglukatan bagi umat manusia. Sedangkan I Meme atau Ibu Bumi (Jro Luh) berwarna putih sebagai Iswara yang sering juga disebut Siwa, maha pelebur segala noda sekaligus sebagai tempat penciptaan. Jadi, Jro Luh adalah Ibu Bumi yang mengandung, memelihara, dan akan mengembalikan lagi isi dunia ke dalam perutNya ketika waktunya telah tiba.

Dalam Barong Landung, undagi sepertinya sengaja membuat wujud yang sangat menyeramkan dengan harapan dapat mengimbangi kedahsyatan roh-roh jahat yang sering mengganggu kehidupan di desa-desa. Barong Landung bukanlah sekadar penghias pura, ia adalah duwe dengan segala perwujudannya yang sangat keramat. Dibuat pada dewasa ayu kilang-kilung, dari kayu bertuah seperti pule, jaran, waruh teluh, kepah, kapas, dan “dihidupkan” dengan ritual prayascita serta di-plaspas untuk menghapuskan papa klesa secara sekala niskala. Di sini, ia pun diberi pedagingan berupa perak, emas, dan tembaga, juga pudi mirah (sejenis permata) yang dipasangkan di ubun-ubun lengkap dengan rerajahan-nya — ang, ung, dan mang.

Jro Gde atau yang kami kenal dengan sebutan Ratu Gede, memiliki tubuh hitam, rambut lurus lebat, mata sipit, gigi jongos, dan memakai keris. Sedangkan Jro Luh bertubuh ramping, putih seperti layaknya wanita Cina, dan memakai kebaya Cina. Kedua tangan kiri barong ini ditekuk ke pinggang, yang oleh pengamat kebatinan diyakini sebagai sikap pengendalian diri, mengingat kiri sama artinya dengan pengiwa. Lawan pengiwa adalah penengen — tangan kanan, yang sengaja dibuat lurus sebagaimana jalan kebenaran.

Di beberapa tempat di Bali (salah satunya lingkungan kami, Banjar Taensiat) ada juga Barong Landung yang lebih lengkap dari pada yang hanya sepasang saja, tetapi ada yang diberi peran seperti Mantri, Galuh, Limbur, Patih dan sebagainya. Selain sebagai Sesuhunan dan dipuja secara berkala, Barong landung terkadang juga dipakai sebagai anggota dalam pementasan yang membawakan lakon Arja (terutama didaerah Badung) dan diiringi dengan gamelan Batel.

Barong Landung yang ada di lingkungan kami berjumlah 5 (lima), dipuja setiap rahinan Kajeng Kliwon yang jatuh setiap 15 hari sekali. Secara berkala melakukan perjalanan (istilahnya Melancaran)  keliling desa dengan harapan seperti yang telah dipaparkan diatas, serta melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang disucikan seperti Beji dan Pasih (pantai) sebelum Hari Raya Nyepi dan juga Pura Dalem BonKeneng (jalan Ratna) setiap rahinan Manis Kuningan.

Mari Mengenal Wayang Kulit

9

Category : tentang InSPiRasi

Wayang kurang lebih berasal dari Bayang. Bayang-bayangan kulit yang ditatah dengan nilai seni tinggi inilah yang ditonton orang dari balik layar dengan bantuan suluh lampu belencong, bergerak menghidupkan satu lakon diiringi lantunan gender, membuat orang bersorak sorai, bertepuk tangan, mencemooh terkadang menangis. Inilah Wayang Kulit.

Wayang hingga saat ini dipandang sebagai warisan Indonesia Purba –Pra Hindu, dimana baik tanah Jawa maupun Bali, Wayang telah dikenal dengan baik. Di Jawa Barat, dikenal adanya Wayang Golek yang terbuat dari kayu, dipentaskan tanpa kelir dan mengambil lakon dari ceritera Islam. Di Jawa Timur terdapat pula Wayang Klitik atau Krucil, terbuat dari kayu pipih dan mengambil ceritera Damarwulan. Ada juga Wayang Tingul dimana serupa dengan Wayang Golek hanya tanpa badan, digerakkan dengan memasukkan tangan kedalamnya dan juga Wayang Wong dimana Manusia-lah yang menjadi Wayangnya.

Pertunjukan Wayang Kulit biasanya sangat erat kaitannya dengan upacara Ruwatan atau upacara sakral yang berhubungan dengan kehidupan manusia sejak lahir, hidup dan mati. Sebuah pertunjukan Wayang Kulit merupakan satu pertunjukan teater yang lengkap dimana berbagai unsur seni berpadu didalamnya. Seni suara, sastra, seni rupa, gerak / tari dan juga drama. Peran sutradara, koreografer dan sekaligus pemain diborong sang Dalang. Tak mengherankan apabila seorang Dalang harus memiliki segudang Pengetahuan baik Filsafat, Agama, Hukum dan berbagai aspek kehidupan serta mampu merangkum semuanya dalam satu aktualitas yang segar. Apalagi jika iramu dengan lelucon yang mengocok perut penonton atau melagukan nyanyian yang meneteskan air mata. Disini pula letak perbedaannya dengan Dalang Jawa. Dalang Bali mengerjakan semuanya.

Seorang Dalang didampingi pembantunya yang disebut dengan Ketengkong atau Pengabih. Tugas utamanya adalah mempersiapkan wayang mana saja yang akan naik ke pentas kelir. Tentu saja sang Ketengkong ini harus paham pula dengan rencana ceritera yang dilakoni sang Dalang. Wayang-wayang ini biasanya diletakkan dan disimpan dalam sebuah Keropak atau kotak kayu yang dinamakan Gedog.

Pendamping Dalang lainnya adalah Penabuh Gender. Jumlahnya bisa dua (sepasang), empat atau lebih. Ini dilakukan apabila untuk mengiringi lakon yang dibawakan membutuhkan gambelan Batel, gambelan –musik tradisional Bali-  yang biasanya digunakan pula pada sebuah pertunjukan Barong.

Tak mengherankan apabila syarat untuk menjadi seorang Dalang itu tidaklah gampang. Dia mesti cakap atau paling tidak hafal dengan tetabuhan gender, bisa pula menyanyikan lagu kekawin, pupuh atau kidung, serta tahu tembang tertentu untuk jenis wayang yang tertentu pula. Dalang juga Harus pandai berbahasa Kawi (bahasa Jawa Kuno) pun Bahasa Bali, Karena dalam setiap peran yang menggunakan Bahasa Kawi, diterjemahkan pula dalam Bahasa Bali oleh sang Punakawan. Mesti pula hafal berbagai lakon, filsafat agama Hindu serta Ilmu keBathinan. Sebab disamping sebagai seorang seniman, seorang Dalang biasanya berlaku pula sebagai seorang Rohaniawan, karena itulah disebut Pemangku atau Mangku Dalang –yang menyelesaikan upacara pensucian orang, ruwatan atau untuk keperluan upacara lainnya. Terkait Punakawan, silahkan baca kembali tulisan lama saya terkait Mengenal Punakawan dalam Wayang Kulit ya.

Persiapan untuk melakukan sebuah Pertunjukan Wayang Kulit tidak bisa sembarangan dilakukan, karena sudah baku sejak Wayang itu dikenal. Pamungkah adalah adegan dimana seorang Dalang mulai membuka peti kotak kayu atau Gedog Wayang, mengambilnya satu persatu. Dilanjutkan dengan Peguneman atau permusyawaratan antar beberapa tokoh yang akan mengambil peran dalam ceritera, Pemahbah saat dimana sang dalang mengucapkan rangkaian wacana memohon ijin pada Tuhan serta Bethara Bethari agar tidak terkena kutukannya, Lelampahan atau pertunjukan utama sesuai alur ceritera dan diakhiri dengan Pamempenan atau menyimpan kembali Wayang-wayang yang telah diampilkan kedalam keropak atau Gedog Wayang yang didahului  dengan upacara menghaturkan sesajen dan memohon air suci atau yang dikenal dengan Tirtha Wayang.

Pertunjukan Wayang Kulit yang mengambil lakon Mahabharata disebut dengan Wayang Parwa, dimana hanya membutuhkan atau diiringi 2 (dua) gender Wayang besar dan kecil. Sebaliknya Wayang Kulit yang mengambil lakon Ramayana yang disarati dengan “pemain” golongan Wenara atau Kera, harus mendapatkan iringan yang jauh lebih meriah. Karena itu diperlukan 2 (dua) pasang gender Wayang, sepasang kendang krumpungan lanang dan wadon, sebuah kempul atau kempluk, sebuah ricik atau cengceng cenik, sebuah atau lebih Suling dan sebuah Kajar. Dalam perkembangannya, kebutuhan akan gambelan pengiring ini makin meriah dengan adanya gambelan gong lengkap atau abarung seperti yang kerap dipertunjukkan oleh Dalang Nardayana atau yang lebih dikenal sebagai Wayang CenkBlonk.

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1933

4

Category : tentang DiRi SenDiri

Mengenal Hari Raya Nyepi ; Tahun Baru Caka 1933

2

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang Opini

Pagi itu terasa lengang, hari berlalu seakan tak bernafas. Panas terik yang berasa makin menyengat tak pupuskan tawa ceria kami asyik bermain disepanjang jalan.

Nyepi adalah satu-satunya hari yang paling kami nanti saat kecil dulu. Hari dimana kami bisa lepas bermain sejak pagi hingga sandya kala tanpa harus diganggu raungan motor dan laju kencangnya mobil dijalan depan rumah, walau sesekali harus kabur ke segala arah menghindari hardikan para Pecalang yang tampak garang di kejauhan. Malam haripun biasanya kami lalui dengan duduk bersenda gurau dikegelapan tanpa penerangan secuil pun.

Berjalan menyusuri sepanjang jalan Nangka dari ujung Selatan hingga Utara sepertinya tak pernah memberi rasa lelah sedikitpun karena para tetangga selalu siap menyambut kami dengan segelas kopi dan beberapa penganan. Nyepi tidaklah sesepi yang dibayangkan orang.

Hari Raya Nyepi adalah hari  yang dirayakan oleh Umat Hindu setiap kali mereka menyambut Tahun Baru yang disebut pula sebagai Tahun Baru Caka. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (kesembilan) yang dipercaya merupakan hari penyucian dewa-dewa di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka. Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi atau senyap). Hari Raya Nyepi merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan / kalender Caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Berbeda dengan perayaan tahun Baru lainnya,  Tahun Baru Caka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktifitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandara Udara Internasional, Rumah Makan, Perhotelan (dalam teorinya namun tidak dalam prakteknya) namun tidak berlaku untuk rumah sakit.

Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuwana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuwana Agung/macrocosmos/alam semesta). Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali

Melasti, Tawur (Pecaruan), dan Pengrupukan

Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) di arak ke pantai atau danau, karena pantai  atau danau merupakan sumber air suci (tirta amerta) yang diharapkan dapat menyucikan segala leteh/mala (kotor) di dalam diri manusia dan alam.

Sehari sebelum Nyepi yaitu pada “tilem sasih kesanga” (bulan mati yang kesembilan), umat Hindu melaksanakan upacara Bhuta Yadnya di segala tingkatan masyarakat, mulai dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan dan seterusnya, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (sesajian) menurut kemampuannya. Bhuta Yadnya ini masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang) dan Tawur Agung (besar).

Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Bhuta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima) warna berjumlah 9 tanding/paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Bhuta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Bhuta Raja, Bhuta Kala dan Bhatara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.

Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Bhuta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus di Bali, pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Bhuta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Bhuta Kala dari lingkungan sekitar.

Puncak acara Nyepi

Keesokan harinya, yaitu pada Purnama Kedasa (bulan purnama kesepuluh), tibalah Hari Raya Nyepi. Pada hari ini suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktifitas seperti biasa. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan “Catur Brata” Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan(tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu,  juga melaksanakan tapa,brata,yoga dan semadhi.

Demikianlah untuk masa baru, benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam tahun baru Caka pun, dasar ini dipergunakan, sehingga semua yang kita lakukan berawal dari tidak ada,suci dan bersih. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga ( menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).

Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru. Kebiasaan merayakan hari raya dengan berfoya-foya, berjudi, mabuk-mabukan adalah sesuatu kebiasaan yang keliru dan mesti diubah.

Ngembak Geni (Ngembak Api)

Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Caka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada “pinanggal ping kalih” (tanggal 2) sasih kedasa (bulan kesepuluh). Pada hari ini Tahun Baru Caka tersebut memasuki hari kedua. Umat Hindu bersilaturahmi dengan keluarga besar dan tetangga, saling maaf memaafkan satu sama lain.

Ogoh-Ogoh Gagah Dahulu dan Kini

9

Category : tentang InSPiRasi

Mengunjungi Bali belumlah lengkap jika belum menyempatkan diri untuk menonton arak-arakan Ogoh-Ogoh yang dilaksanakan setiap Tilem Sasih Kesanga atau Malam sebelum Umat Hindu merayakan Tahun Baru Caka yang dikenalpula dengan istilah Nyepi. Sebagai sa;ah satu produk seni Budaya Bali, Ogoh-ogoh hingga kini telah banyak mengalami perkembangan. Baik dari bahan dan cara pembuatannya, hingga penokohan atau makna yang dibawakannya.

Jika pada era tahun 90an, Ogoh-ogoh yang dibuat umumnya berwujud makhluk-makhluk menyeramkan dimana rangkanya dibuat dari dari bambu lalu dibungkus dengan kertas, kain atau benang pada bagian-bagian tertentu, maka pada tahun terakhir, jelas sangat jauh berbeda. Tak hanya dari segi rangka, bahkan secara keseluruhan Ogoh-ogoh lebih banyak dibuat dari bahan Gabus. Selain ringan, Kelebihannya lantaran Gabus lebih mudah dipahat dan dibuat menjadi macam-macam bentuk yang diinginkan tanpa memerlukan banyak waktu dan tenaga seperti halnya merakit bambu. Sayangnya secara finansial, penggunaan Gabus tentu jauh lebih banyak memerlukan modal ketimbang merakit bambu dan kertas.

Secara penokohan pun bisa dikatakan sangat jauh berbeda. Siapa sih masyarakat Bali seputaran Kota Denpasar ataupun Sekaa Teruna Teruni yang bisa melupakan Ogoh-ogoh dengan figur Shincan tiga atau empat tahun yang lalu ? atau bahkan figur kenakalan anak-anak Negeri Tetangga Upin & Ipin ? ada juga yang mengambil figur Sangut Delem bahkan sang pedangdut ngeborpun ada.

Padahal secara makna, Ogoh-ogoh yang biasanya diarak keliling desa ini tidak lepas dari aktifitas Ritual, dalam hal ini kaitan upacara Bhutayadnya menjelang hari suci Nyepi. Ogoh-ogoh baru akan dihadirkan segera setelah usai pelaksanaan upacara. Diiringi suara gambelan –musik tradisional Bali- yang bertalu-talu ditingkah riuh rendah suara para pengarak. Semua itu mengandung makna untuk mengusir roh-roh jahat dari Desa yang bersangkutan. Maka itu sebabnya, perwujudan dari Ogoh-ogoh dibuat menyeramkan sebagai simbolisasi sifat-sifat keserakahan, ketamakan dan keangkaramurkaan.

Seiring perkembangan jaman, memang tidak salah sih jika profil ogoh-ogoh dibuat agak melenceng. Bahkan ada juga yang diselipi sindiran bagi para penguasa atau pejabat yang korup hingga yang berusaha untuk menyampaikan keluh kesah masyarakat secara vulgar. Wong roh jahat jaman edan begini tak lagi berbentuk menyeramkan, ada juga yang gagah, perlente bahkan berdasi. Hehehe…

Sayangnya Image ogoh-ogoh perlahan makin memudar seiring perilaku pengarak yang kerap bersentuhan dengan minum minuman keras atau bahkan kerap memicu perkelahian antar pengarak. Jiwa muda lebih banyak berbicara disini. Meski pada tahun lalu, Ogoh-ogoh sempat pula dilombakan oleh Walikota Denpasar untuk menarik minat wisatawan dan juga kreatifitas para generasi muda yang diharapkan tidak melulu berlaku negatif.

Sekedar Informasi, untuk tahun 2011 prosesi pengarakan ogoh-ogoh sedianya jatuh pada hari Jumat malam tanggal 4 Maret mendatang. Jadi, bagi kalian yang penasaran dan ingin menyaksikannya langsung, silahkan meluangkan waktunya dari sekarang.

(sebagian kecil dari sumber materi diatas saya ambil  dari buku Pesta Kesenian Bali Copyright Cita Budaya 1991 dan Ilustrasi Foto saya ambil dari besutannya Pak Ian Sumantika via FaceBook)

Blue Eyes Café Menghujat Hindu ?

9

Category : tentang Opini

Tampaknya cara-cara lama untuk memprovokasi Umat Hindu lewat status pada Jejaring Sosial FaceBook belum jua bisa hilang. Cerita kali ini datangnya dari halaman Blue Eyes Café, sebuah tempat nongkrong yang beken di kalangan remaja dan kalangan ‘berpunya’ yang berlokasi di By Pass Ngurah Rai Sanur Bali.

FUCK HINDU

Kurang lebih begitu status yang dilontarkan sang Admin halaman Blue Eyes Café pagi tadi. Status ini secara kebetulan tertangkap basah oleh seorang pengguna akun FaceBook lainnya dan berinisiatif untuk menyimpan tampilan halaman sebagai bukti otentik, untuk selanjutnya dikonfirmasi balik. Sayangnya, status tersebut dengan segera dihapus oleh si Admin halaman.

Bisa ditebak, bukti screenshot yang menampilkan halaman Beranda/Home dengan status dari Blue Eyes Café tersebut langsung beredar dimana-mana. Saya sendiri mendapatkannya dari sebuah Thread KasKus yang sepertinya merupakan sumber pertama cerita ini. Seperti bisaa, saya pribadi mencoba menulusuri kronologisnya.

Per 1 Januari 2010, tampaknya akun Page Blue Eyes Café masih terlihat aman tentram. Beberapa pengguna akun FaceBook masih sempat meninggalkan beberapa pertanyaan seputar event atau kegiatan Blue Eyes Café terakhir. Kondisi tersebut segera berubah ketika Arief Ridwan Nur meminta pertanggungjawaban Admin halaman atas kebenaran status yang dilepas pagi tadi dengan menyisipkan halaman Thread KasKus yang saya maksud diatas tadi. Dan selayaknya kasus provokasi atau penghujatan Agama Hindu lainnya, komentar dan pertanyaan dari pengguna akun FaceBook lainpun mulai banyak tampil di halaman depan.

Meski demikian, Guz Ari Adnyana tampaknya mencoba untuk memberikan klarifikasi terkait halaman Blue Eyes yang baru. Hal ini didukung pula oleh pernyataan Yantee Aja Deyh yang mengatakan bahwa halaman Blue Eyes Café merupakan halaman milik Blue Eyes saat masih dikelola oleh Manajemen Lama. Sedangkan halaman Blue Eyes yang dikelola Manajemen Baru, menggunakan nama Blue Eyes Bali.

Terlepas dari benar tidaknya perubahan halaman lantaran perubahan Manajemen Blue Eyes, apapun status yang dilepas di halaman lama, sebenarnya masih merupakan tanggung jawab dari Blue Eyes. Jikapun memang menganggap bahwa halaman itu sudah tidak berlaku lagi, seharusnya Pihak Blue Eyes dengan segera menghapus atau menutup halaman dan memberitahukan ‘anggota’nya untuk dengan segera berpindah ke halaman yang baru.

Saya menyadari bahwa sebuah halaman atau akun FaceBook sangat rentan akan percobaan pembajakan dari Hacker ataupun sekedar orang iseng seperti yang terjadi pada akun teman saya, Gede Suwartana sore kemarin. Bisa jadi lantaran user ID yang bisaanya menggunakan alamat email bisa ditemukan dengan mudah di halaman Info, dan menggunakan password  tanggal lahir atau tanggal yang spesial dan mudah ditebak, penipuan ataupun provokasi dengan dalih penjatuhan Citra, persaingan bisnis atau apapun itu bisa dilakukan dengan mudah. Namun tetap saja pihak Blue Eyes tetap harus bertanggung jawab, mengingat sifatnya yang merupakan fasilitas publik.

Mumpung belum melebar jauh, sudah sepatutnya pihak Blue Eyes Café baik dari manajemen lama maupun pihak manajemen baru Blue Eyes Bali, wajib menanggapi kasus Penghujatan terhadap Agama Hindu kali ini secara bijak dan menyelesaikannya dengan baik-baik. Mengingat keberadaan Blue Eyes Café yang notabene berada di Bali, dimana umat Hindu merupakan mayoritas penduduk asli, dan pepatah lama seharusnya masih digunakan ‘Dimana Bumi diPijak, disitu Langit diJunjung’.

Jikapun Blue Eyes Café atau Blue Eyes Bali lantas lepas tangan dan menganggap bahwa ini hanyalah sebuah percobaan provokasi dengan dalih penjatuhan citra ataupun persaingan bisnis lantas tidak berbuat apa-apa terhadap halaman lama ataupun tidak memberi tanggapan dan permintaan maaf di Media atas keteledoran mereka, mungkin sudah saatnya bagi para remaja atau kalangan ‘berpunya’ yang kerap nongkrong ditempat tersebut, bisa lebih mempertimbangkan lagi keputusan mereka untuk bermain-main disitu.

Aisyah Putri Prayudi tambah panjang Daftar Hitam ‘Mengusik Hindu’

21

Category : tentang Opini, tentang TeKnoLoGi

Rasanya baru kemarin status FaceBook seorang iBnu Rachal Farhansyah dipermasalahkan Umat Hindu lantaran dianggap mengusik hari suci Nyepi. Atau Barangkali ada yang ingat dengan kelakuan Julianto Madura yang tak kalah kontroversialnya ? Kini jelang hari Raya Galungan dan Kuningan muncul lagi kasus yang sama.

Aisyah Putri Prayudi, seorang gadis Muslim yang berdomisili di seputaran Denpasar Bali ini, kedapatan melontarkan Status bernada ekstrem. Kabarnya Status ini dibuat gara-gara ada Pecalang yang bikin hatinya emosi, menutup jalan didepan rumahnya.

‘dsar org hindu BALI !suka bkin macet jalan + nutup*jalan ! nyusain tau ! prasaan org islam gg sgtunya’

Bisa ditebak, hanya dalam hitungan hari, halaman wall FaceBook yang bersangkutan sudah dipenuhi “teguran” oleh umat yang dimaki. Seperti biasa, ada juga halaman Group yang berkeinginan untuk mengusir  yang bersangkutan dari Bali.

Saya pribadi tidak terlalu heran dengan emosi gadis muda ini. Maklum, yang namanya darah muda ya memang gag pernah memikirkan yang namanya efek dunia maya yang mampu diakibatkan hanya gara-gara ‘update status’ secuil itu. Yang penting dilontarkan, ya selesai. Tapi dalam kenyataannya ya gag segampang itu.

Saya juga maklum apabila ada Umat lain yang merasakan emosi lantaran Pecalang setempat menutup satu ruas jalan hanya karena terdapat upacara adat umat Hindu disekitaran situ. Namun yang perlu diingat adalah tidak hanya umat Hindu yang berlaku demikian. Coba saja melintas di perempatan Polda Bali baik dari arah timur maupun barat, hari jumat siang. Atau melintas di hari Minggu pagi di perempatan jalan Kepundung – Surapati.  Semua itu dilakukan, tentu untuk memberikan kenyamanan pada Umat dalam menjalankan ibadahnya sesuai Agama yang dianut.

Dengan beragamnya suku, agama hingga budaya di Negeri ini, saya juga pada akhirnya dapat memaklumi bahwa ada sebagian kecil Umat yang merasa tidak puas dengan keberadaan, eksistensi budaya yang disandang Umat lainnya. Bisa jadi lantaran yang namanya Toleransi ataupun usaha untuk saling hormat-menghormati antar Umat beragama, tidak lagi dimiliki walaupun untuk ukuran seorang gadis muda seperti Aisyah Putri Prayudi ini, saya yakin semua itu diajarkan dan selalu ditanamkan setiap hari oleh para guru di sekolahannya. Kecuali yang bersangkutan menerimanya ‘masuk kuping kanan, keluar kuping kiri’ alias gag mudeng. Hehehe…

Maka dari itu, apabila kelak kita semua menghadapi kasus yang sama lagi, entah itu datangnya dari Umat sendiri atau Umat lain di halaman FaceBook, saya hanya bisa menyarankan satu hal penting yang bisa dilakukan ketimbang mencaci maki dan membuang energi terlalu banyak untuk satu hal yang tidak berguna.

Laporkan saja yang bersangkutan sebagai SPAM ke pihak FaceBook. Caranya cukup mudah, cari dan klik tulisan ‘Report/Block this Person’ yang biasanya berada di pojok kiri bawah halaman wall’, dan pilih yang sesuai dengan kesalahan yang bersangkutan. Setelah itu, Lupakan semuanya. Biarkan saja orang lain yang menilai, atau “TUHAN-NYA” yang memberikan hukuman. Karena toh dalam semua ajaran agama, juga UUD 1945 yang kini sudah mulai terlupakan oleh sebagian besar Generasi Muda bangsa ini macam Mbak Aisyah Putri Prayudi, mencaci maki Umat lain (walaupun dalam keadaan Emosi), bagaimanapun juga tidak dapat dibenarkan.

By the way, yang sedikit membuat saya terheran-heran adalah keberadaan daftar saudara  (Siblings) yang ia miliki, ternyata ada juga loh yang menganut agama Hindu, yang notabene ia maki dalam statusnya itu. Kira-kira ni gadis Muslim punya otak gag ya ? :p

Mari Berhenti Mengeluh melalui Status FaceBook, budayakan Status Positif. Gunakan akunmu dengan Bijak. Selamat Merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan kawan-kawan…