Ada Hikmah di Balik Kurang Kerjaan

2

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KeseHaRian, tentang Opini, tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Satu triwulan sudah berlalu. Pekerjaan yang diemban makin kesini makin terasa sepi. Waktu luang jadi semakin banyak.

Jabatan tambahan sebagai PPK sudah tidak lagi dipanggulkan ke pundak. Kegiatan yang diwenangkan pun tidak ada rupa fisik maupun konsultansi. Hanya verifikasi dan survey lapangan, lalu menyampaikan draft rekomendasi kepada pimpinan dan bupati. Selesai.

Meski kesibukan saat berhadapan dengan desa dan masyarakatnya cukup menyita waktu dalam kurun tertentu, namun tekanan yang ada jauh berbeda. Tak ada lagi makian dan caci ketidakpuasan, pula sms dengan bahasa tak sopan. Tak ada pula komplain tengah malam atau pemanggilan menghenyakkan pikiran dari aparat. Semua sirna seiring alphanya penugasan itu.

Aktifitas berkurang, rejeki pun berkurang. Minimal hari segi honor yang kali ini rupanya mengadopsi pola yang berbeda. Jika dahulu hanya diberikan untuk 1 paket pekerjaan, sebanyak apapun jumlah yang dibebankan, kini sepertinya lebih manusiawi dan tentu menggiurkan. Dibayar penuh sesuai beban kerja. Layak dan impas dengan semua pengorbanan.
Sepertinya…

Namun jika pikiran mau dibawa ke sisi yang positif, ada banyak hikmah yang bisa diambil di balik kurang kerjaannya saya kali ini.

Pertama, soal waktu luang tadi. Ada aktifitas menulis yang kembali bisa dilakoni secara rutin dan menyenangkan pikiran. Ada senda gurau dengan anak-anak selepas kerja lantaran bisa pulang tepat waktu. Ada juga olah raga yang hampir selalu disempatkan saban hari, pagi saat libur dan sore usai bekerja.

Kedua, soal beban, pikiran dan kesehatan. Hal yang saling berkaitan dan mempengaruhi. Setidaknya kini tak lagi diganggu dering telepon meski saat perjalanan pulang ke rumah, atau saat leyeh-leyeh memandang langit, bisa dirasakan penuh nikmat atas kuasa-Nya. Utamanya tentu, gula darah bisa lebih stabil meski yang namanya berat badan otomatis naik lagi. Kampret dah.

Ketiga, jalan-jalan.
Dalam arti sebenarnya tapi. Meski harus dibungkus dalam kedok koordinasi ke tingkat Desa/Kelurahan. Dulu, mana sempat. Pagi teng nyampe kantor, telepon ruangan berdering, menghadap pimpinan, lanjut aktifitas lain hingga jam pulang menjelang. Kini ? Ayo kabur…
Istilah lainnya, menikmati pekerjaan laiknya hobby.

Keempat dan terakhir, tentu saja Touring.
Hehehe… sejatinya tak sebanding dengan definisi asli, namun rasanya eman kalo beli motor baru hasil jerih payah ngayah selama 4 tahun di Jalan Lingkungan, kalo tak dibawa touring jauh ke lingkup pekerjaan. Eh…
Meski raungan knalpot XMax tak segarang Scorpio terdahulu, namun bicara soal kenyamanan berkendara, tentu jauh lebih baik.
Yang membedakan hanya soal latar belakang objek foto saja. Jika dulu selalu dijejali paving natural dan juga warna merah, kini lebih natural dan lapang. Jalan raya.

Jadi biarpun kini lebih banyak tampak kurang kerjaan, namun yang namanya hidup, harus tetap bisa kita nikmati. Ya nggak ?

My Last Day

2

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang Opini

Menonton beberapa film lama diantara waktu senggang jam kerja kantoran, cukup membuatku terpekur diam. Ingat pada kehidupanku dan sakit yang kuderita.

Diabetes

Perubahan gula darah yang mampu membunuh siapapun pengidapnya secara diam-diam, kelak akan membuka pintu bagi belasan penyakit tingkat tinggi lainnya, dan aku secara pribadi yakin tak akan mau mengalami itu semua di usia yang sangat muda.

Namun apa yang kusaksikan pada kisah-kisah sendu dalam film lama tadi, benar-benar membuatku berpikir keras, kira-kira jika aku diberikan waktu sehari lagi oleh-NYA sebelum ajal menjemput, apa yang akan kulakukan kelak ?

Mengajak anak-anak bermain dan berkata bahwa aku sangat menyayangi mereka dan juga istri dan orang tuaku ? Atau menangisi semua kesalahan yang pernah kuperbuat hingga Ia hanya memberikan sehari lagi waktu untuk bersama orang-orang yang kucintai ?

Maka saat ini pun aku mulai banyak merenung dan berharap bahwa hari terakhir itu tak akan pernah tiba. Karena tak pernah kubayangkan hidup anak-anak dan istri tanpaku. Tanpa kehadiran Bapaknya yang nakal dan jahil. Apa jadinya mereka kelak jika aku tak ada ?

Teringat juga akan satu pendapat bahwa sehebat-hebatnya atau sepenting-pentingnya posisimu dalam satu perusahaan, saat engkau sakit hingga tak mampu mengambil lagi rutinitas itu, maka perusahaan akan dengan segera mencari penggantimu, untuk bisa menjalankan perusahaan dengan baik. Bahwa ternyata kita tak sepenting atau sehebat yang kita pikirkan. Maka pulanglah, dan ajak anak anak bermain…

Tuhan (ternyata) Tidak Tidur

Category : tentang Opini

Sebetulnya agak kaget juga saat berita itu didapatkan beberapa waktu lalu. Pikiran secara otomatis bertanya tanya… tersangkut kasus apakah gerangan.

Seperti biasa, GooGLe pun disusuri. Hasilnya mengejutkan. Ranah itu rupanya tersentuh juga pada akhirnya. Tapi yang mengejutkan tentu saja status yang kini telah disandang.

Tuhan (ternyata) Tidak Tidur… bathinku. dan pada akhirnya pula, aku mempercayai hal itu.

Mungkin memang benar kata kata orang tua. Bahwa ketika kita tidak menghormati lingkungan, kelak lingkunganpun yang akan menghukum. Entah dalam bentuk apa.

Yang pasti, kini sudah ada satu cermin lagi. Yang bisa digunakan untuk berkaca bagi diri sendiri. Setidaknya untuk bersikap lebih bijak dan tetap pada jalurnya. Meskipun penderitaan itu seakan tiada henti mendera. Dalam waktu yang panjang pula.

Aku bersyukur. Masih bisa melihat anak anak tumbuh hingga tidur dalam lelapnya.

Aku bersyukur. Masih bisa mengajak orang tua untuk menikmati liburan dan rekreasinya.

Aku bersyukur. Masih bisa mendampingi istri dalam berumah tangga dan menjaga keluarga.

dan Aku bersyukur… bahwa Tuhan (ternyata) Tidak Tidur

Luangkan sedikit waktu untuk Keluarga, Kawan

7

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang Opini

Kabar duka datang dari seorang rekan yang baru saja saya kenal beberapa bulan terakhir. Rekan yang bagi saya tergolong sedikit bicara, terlihat sangat shock dengan keadaan yang menimpanya. Bisa jadi karena faktor kedekatan yang teramat sangat menyebabkannya demikian terpukul. Kepergian sang ibu membuatnya kehilangan semangat dalam melanjutkan hari-harinya.

Kabar duka bukan hanya sekali ini saya alami. Setidaknya ada 12 (dua belas) orang yang mampu saya ingat dari anggota keluarga yang pergi sejak tahun 1984. Nenek, kakek, paman, uwak, hingga adik sepupu pun pernah memberikan banyak kenangan sepanjang hidupnya. Pukulan paling dalam diberikan saat kepergian adik sepupu yang seumuran, 16 Desember 2003. Sehari pasca saya melakukan Resign dari tempat kerja. Malam terakhir itu hanya sedikit yang sempat kami bicarakan, dan esoknya ia telah pergi.

Saya masih ingat, saat itu saya merasa sangat menyesal. Karena sepanjang perjalanan kami, sangat sedikit ingatan yang mampu direkam. Ketiadaan media digital merupakan salah satu alasannya. Untuk alasan itulah, tahun 2004 saya memutuskan untuk membeli kamera digital pertama dan berusaha mengabadikan setiap momen dan aktifitas hampir semua saudara, termasuk keluarga kecil kami.

Banyak waktu berharga yang kemudian dapat terdokumentasikan dengan baik. Semua itu disimpan agar satu saat nanti dapat kami buka dan kenang. Mungkin itu sebabnya ketika kematian Kakek Februari 2009 lalu, kesedihan itu tidak terlalu terasa bagi saya pribadi. Beberapa keinginannya mampu saya penuhi sebelum ia pergi. Saya pun dapat dengan tenang mengabadikan perjalanan Beliau.

Meluangkan sedikit waktu untuk keluarga, barangkali hanya satu dari sekian banyak keinginan kecil saya pada hidup. Menikmati waktu selagi mereka semua masih ada dan merekamnya dalam bentuk gambar statis dan dinamis adalah rutinitas yang pada akhirnya biasa kami lakukan antar satu dan lainnya. Jika itu dapat dilakukan, saya yakin takkan ada rasa penyesalan dikemudian hari ketika mereka pergi.

Kematian adalah satu hal yang tidak dapat kita pinta dari-NYA. Yang dapat kita lakukan hanyalah pasrah dan berserah. Jangan terlalu larut pada kesedihan. Karena hidup akan tetap berjalan.

Untuk Rekan saya, Pande Jaucher. Manfaatkan waktumu Kawan, kuatkan diri agar tetap dapat berbuat positif dan selalu berusaha untuk menolong sesama. Karena jika waktu itu akan tiba, takkan ada yang dapat mengembalikannya lagi.

Apa Ukuran sebuah Hidup yang Bahagia ?

7

Category : tentang KHayaLan, tentang Opini

Kira-kira apa yang menjadi ukuran dapat membuat anda merasakan bahagia dalam hidup ?

Seandainya melajang, apakah pacar yang cantik dan seksi ? punya waktu luang untuk dugem atau interaksi sosial lainnya ? menunggangi motor gres atau mobil yang lagi trend ? Teman-teman yang dekat dan loyal ?

Seandainya pula telah berkeluarga, apakah karir yang sukses menjadi satu-satunya tujuan ? mobil mewah barangkali ? uang yang melimpah ? atau malah rumah indah nan megah ?

Bagi saya pribadi sih, itu bukan ukuran untuk membuat saya bahagia dalam menjalani hidup. Tapi kalo untuk sekedar menjadi alternatif pendukung, ya tentu saja itu semua ada didalamnya. Trus apa dong yang paling penting bagi saya agar bisa bahagia dan jauh lebih menikmati hidup ?

KeLuarga tentu. Dalam hal ini hubungan saya dengan Istri dan anak, serta tentunya yang berikut adalah dengan Orang Tua dan Mertua.

Sebegitu simpel dan sederhana ? gak juga sih.

Karena untuk menyatukan keluarga dalam suasana cinta kasih sangat sulit diwujudkan.

Lihat saja keluar jendela. Ada pasangan suami istri yang bertengkar dan ujung-ujungnya berakhir pada penganiayaan. Ada juga pertikaian antara anak dan orang tua yang berakhir pada pembunuhan atau malah berdebat di pengadilan. Yang paling sering tampil dilayar kaca tentu perselingkuhan artis musik yang berakhir pada gugatan cerai.

Adalah mudah untuk mencapai karir tinggi. Tinggal kita bermain fair play jika memungkinkan dan giat tentunya. Siapapun bisa. Mobil mewah atau rumah megah ? masih bisa dengan jalan kredit ataupun pinjaman. Pacar yang cantik dan seksi ? silahkan mengadakan sayembara seperti halnya Syekh Pujiono diwaktu lalu, dijamin dapet yang sesuai. Tapi membuat keluarga yang rukun dan damai ?

hmmm…. Jangankan menyatukan tujuh kepala dalam satu keluarga (suami, istri, anak, orang tua dan mertua), menyatukan persepsi pasangan suami istri saja masih sulit dilakukan setiap orang. Ada Ego yang berbicara, ada kepentingan, ada keinginan, ada harapan pula.

Secara pribadi, keluarga yang rukun damai bisa pula menjadi ukuran pantas tidaknya seseorang menjadi pemimpin. Mengapa ? yah, wajar aja. Karena jika seseorang yang berkeluarga tak berhasil menanamkan kepercayaan dan rasa cinta pada internal keluarga, bagaimana nantinya kalo berhadapan dengan masyarakat ataupun kelompok yang bertentangan ? yang tentunya jauh lebih banyak kepala, lebih banyak ego dan kepentingan.

Yah, ini sih cuman pendapat saya pribadi saja loh. Keluarga adalah nomor satu. Sedangkan alternatif yang saya sebutkan pada awal tadi hanyalah sebagai pendukung. Bagaimana dengan Anda ?

> PanDe Baik saat menulis posting ini ditemani MiRah GayatriDewi yang sudah mulai belajar merangkak dan juga Istri yang selalu setia untuk diajak bertukar pikiran. Ohya, sound backgroundnya, lagu anak-anak yang dinyanyikan oleh Tasya saat ia kecil dahulu. ‘Ambilkan bulan Bu…. Yang slalu bersinar dilangit….. Untuk menemani tidurku yang lelap……’ <

Salam dari PuSat KoTa DenPasar

Mempelajari Hidup dari Media

Category : tentang KeseHaRian

Saban hari ada saja hal yang dapat dilihat dibaca maupun dirasakan. Adanya kepedihan karena kebenaran tak jua dimunculkan ke permukaan, rasa sakit karena merasakan hal senasib, kegembiraan lantaran apa yang disukai akhirnya datang hingga renungan yang mampu kerutkan kening usai menelan informasi yang dilemparkan kedunia nyata.

Herannya, ada saja pengulangan-pengulangan kisah yang mungkin seharusnya tak terjadi lagi.

Mungkin saja orang-orang seperti ini tak mampu tahankan rasa inginnya akan sesuatu, namun malas mendapatkan dengan usaha keras, so shortcut jadi pilihan.
Seperti kata Bang Iwan Fals ‘Ingin adalah sumber Derita’.

Apa yang dituliskan setiap hari oleh puluhan media cetak dari berbagai macam kepentingan, hobi. kehidupan sosial, hingga pemberitaan visual segala macam kekerasan penindasan luapan jiwa tertuang begitu gamblang sejak dibukanya keran kebebasan pers dalam menyuarakan isi hati rakyatnya.

Korupsi makin menjadi, segala anggaran dipotong sana sini demi kepentingan segelintir anggota Dewan yang Terhormat untuk alasan kunjungan kerja sampe studi banding, daripada merelakan segepok duit yang disodorkan untuk menekan harga bahan pokok yang kian hari makin menanjak saja.

Kehidupan sosialpun tak lagi nyaman tentram.
Segala daya upaya tuk memenangkan persaingan hingga rela menjual harga diri demi menaikkan rating sang pecundang ke tampuk paling tinggi, makin mengubah perwajahan keseharian yang bagi sebagian orang dengan sangat terpaksa harus dilewati.

Hey, nobody cares…

Sebegitunya media sudah mencoba menampilkan segala kebobrokan mental figur yang ada didalamnya tak jua membuat satu perubahan kecil untuk menjadi lebih baik, lebih sabar, nrimo kata orang Jawa. Yang ada dalam pikiran bagaimana agar keinginan bisa seperti makan cabe. Langsung terasa pedasnya.

Yah, kata orang Hindu Bali, inilah Rwa Bhineda. Ada yang baik dan berusaha untuk selalu jujur dan ada juga yang gak peduli dengan tetangga sebelah maupun orang-orang yang tak beruntung masih bergelut dengan sampah demi masa depan mereka.

Sesungguhnya pembelajaran dari media cetak maupun visual sudah mampu gantikan segala ajaran norma sekaligus aturan tak tertulis dalam bermasyarakat, karir maupun tujuan lahir kedunia ini. Satu perubahan kecil pada hati nurani setiap orang yang berjalan dibumi ini sungguh dinanti. Namun lagi-lagi beralasan akan kemajuan teknologi, waktu semakin sempit lantas melupakan arti saling hormat menghormati dan toleransi antar umat beragama.

Padahal semakin banyak pula media hingga perseorangan yang berusaha untuk menyadarkan betapa indahnya hidup tanpa hal-hal yang membebani pikiran setiap malam. Hidup bukan lagi untuk memperbaiki citra diri yang semakin memburuk saja. Semua seakan sirna oleh kemewahan dan kepuasan.

* * *

Untuk orang-orang yang aku cintai dan kupikirkan setiap malam menjelang tidur. Semoga kalian mengerti kegelisahan ini.